Tampilkan postingan dengan label 新年祝福. 红灯笼. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 新年祝福. 红灯笼. Tampilkan semua postingan

Minggu, Februari 24, 2013

Yang Menarik Dari Malam Cap Go Me

 JAMBI, ayojambi.com – Malam Cap Go Me/ malam tanggal 15 imlek merupakan berakhirnya perayaan Tahun Baru Imlek, pada malam tersebut maupun sehari sebelum diberbagai daerah di tanah air pada adakan acara malam Cap Go Me. Ada karnaval lampion, umbul-umbul, arak-arakan kim sin para roh suci (shen ming), atraksi barongsai, liong dan yang tidak kalah seru adalah atraksi menyiksa diri dari para tatung/ kitong dengan benda tajam.
Perayaan malam Cap Go Me setiap tahun di Jambi dipusatkan dikawasan Koni, pada malam itu ribuan warga masyarakat Jambi tumpah ruah baik di beberapa kelenteng yang adalah karnaval maupun menyaksikan dari jalan-jalan yang dilalui rombongan karnaval.

Cap Go Me menjadi pusat perhatian warga masyarakat Kota Jambi, pasalnya pusat kegiatan perayaan malam Cap Go Me di Jambi, Minggu (24/2-2013). Arak-arakannya kim sin (patung shen ming) mulai pukul 17.60, setelah berbagai ritual dilakukan di Kelenteng MAKIN Leng Chun Keng dan Kelenteng MAKIN Sai Che Tien, selanjutnya kedua rombongan menuju ke Makin Kelenteng Hok Kheng Tong. Perayaan Cap Go Me ini murni dilaksanakan oleh para penganut kepercayaan Khonghucu Jambi.

Sejak Sabtu, berbagai persiapan kegiatan telah dilakukan oleh masing-masing kelenteng sebagai peserta karnaval, kegiatannya antara lain berupa parade lampion, atraksi barongsai, liong arak-arakan tandu (joli) kim sin (patung dewa), arak-arak Cap Go Me belangsung di sepanjang Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, yang jaraknya lebih dari lima kilo.

Atraksi budaya karnaval Cap Go Me dalam perayaan ini, mengarak sejumlah shen ming diantaranya kim sin “Hok Hie Te Sien, Go Hu Tua Lang Kong” dari Kelenteng Makin Sai Che Tien, terus kim sin “Che Liong Kong/Sun Ping Sing He” dari Makin Kelenteng Leng Chun Keng, ada juga partisipasi dari rumah ibadah Lam Tien Tong menurunkan kim sin “Tai Sang Lau Chin, Go Lui, Mau San Co Se” sedangkan kim sin dari Makin Kelenteng Hok Kheng Tong adalah “Cheng Cui Co Se, Kwan Seng Tai Te, Hien Tien Siong Te, Leng Hu Tua Lang.” dan Chi Kong (dewa Mabuk)

Penampilkan pawai barongsay dan liong dari sejumlah kelenteng, arak-arakan tandu/joli para shen ming di malam Cap Go Me diselenggarakan pada hari ke-15 perayaan Imlek itu akan mengitari kawasan Koni di Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, menuju ke Kelenteng Ceng Hong Lau di Kelurahan Budiman, Kecamatan Jambi Timur, yang jaraknya sekitar lima kilo.

Acara Cap Go Me, di hadiri Anggota DPR RI, Wakil Gubernur Jambi, Danrem 042/ Gapu, Kakanwil Hukum dan Ham Provinsi Jambi, Kejaksaan Tinggi Jambi, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Jambi dan Wakil Walikota Jambi, Dandim 0415?batanghari Jambi, Pengadilan Negeri Jambi, beserta undangan lainnya.(Romy)

Kelenteng, Matakin, Matakin Jambi, Makin Jambi, Khonghucu, Matakin Indonesia, miou, Confucius, Litang, Kelenteng Jambi, Hok Liong Sai, Barongsai, Liong, 恭賀新禧﹐ 萬事如意, 新年祝福. 红灯笼

Banyak kalangan yang tidak tahu bahwa perayaan Imlek dan pereayaan malam Cap Go Me dapat dilakukan bebas berasal dari mana, awalnya banyak pihak yang menolak Imlek bersama, dan ada kalangan tertentu yang tidak menginginkan perayaan Imlek dan Cap Go Me dilakukan di Indonesia dengan meminta pemerintah orde baru melarang semua kegiatan yang bersifat etnis Tionghoa.
Kebebasan keturunan etnis Tionghoa masih terus dikebiri oleh pemerintah rezim Orde Baru dengan menerapkan penggunaan istilah dikotomi pribumi dan non pribumi. Kebijakan Inpres No. 14 Tahun 1967 telah melarang semua bentuk ekspresi keagamaan dan adat Tionghoa di ruang publik. Kondisi-kondisi inilah yang menyulut api sentimen pribumi vs Tionghoa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang akhirnya memuncak pada kerusuhan Mei 1998.

Barulah angin segar mulai menyapa keturunan etnis Tionghoa setelah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menduduki tampuk kepemimpinan RI pasca Reformasi. Dengan wawasan kebangsaan Gus Dur mencabut semua peraturan yang mendiskriminasikan kaum Tionghoa dengan mengeluarkan PP. No. 6 Tahun 2000. Bahkan, Gus Dur memberikan apresiasi dengan menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur Nasional, sebagaimana hari raya agama-agama lainnya. Inilah wujud keberpihakan Gus Dur terhadap eksistensi etnis Tionghoa. Menurut Gus Dur, etnis Tionghoa adalah sama dengan etnis-suku bangsa yang lain, seperti Jawa, Batak, Papua, Arab, India, Jepang dan Eropa yang sudah sejak lama hidup dan menjadi bagian dari warga negara Indonesia.

Sejak kepemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, kembali mendapatkan kebebasan dalam merayakan tahun baru Imlek, yaitu di mulai pada tahun 2000. Dimana, Presiden Abdurrahman Wahid secara resmi mencabut Inpres Nomor 14/1967. Serta menggantikannya dengan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya).

Setelah Gus Dur mencabut inpres tersebut, Megawati presiden selanjutnya mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang isinya menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Perayaan Cap Go Me merupakan rangkaian upacara terakhir dari tahun baru Imlek, pada hari itu keluarga yang merayakan kembali menggelar sesaji di altar abu leluhur, bisa juga di meja biasa bagi yang tidak lagi memelihara abu leluhur. (Romy)

Para Shen Ming Bertemu Untuk Merayakan Malam Cap Go Me




JAMBI, ayojambi.com - Puluh roh suci (shen ming) akan berkumpul di Kelenteng Makin Hok Kheng Tong malam ini (24/2), Mereka akan ambil bagian dalam arak-arak sepanjang jalan raya. Inilah merupakan tradisi etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu atas jasa mantan Presiden RI yang ke empat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967. Inpres yang dikeluarkan oleh Soeharto ketika awal berkuasa pada tahun 1967 itu melarang kaum Tionghoa merayakan pesta agama dan adat istiadat di depan umum dan hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga.
Gus Dur mencabut larangan inpres itu karena dianggap diskriminatif padahal perlembagaan negara UUD 1945 menjamin perlindungan semua warga. Kalau yang lain bisa ke masjid, gereja, atau ke makam untuk ziarah, kenapa orang Tionghoa tidak boleh ke kelenteng? demikian alasan Gus Dur. Setelah Gus Dur mencabut inpres tersebut, Megawati presiden selanjutnya mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang isinya menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Malam ini di Jalan Pangeran Diponegoro Kota Jambi akan menjadi lautan manusia, Minggu (24/2/2013). Ribuan orang bersukacita menyaksikan atraksi arak-arakan para roh suci (shen ming) yang turun dari berbagai kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) disertai tarian Barongsai dan Liong (naga). Inilah kirab ritual yang digelar Makin Kelenteng Leng Chun Keng, Kelenteng Makin Sai Che Tien dan Makin Kelenteng Hok Kheng Tong.

"Kami bergerak dari satu kelenteng ke kelenteng lain untuk memeriahkan malam Cap Go Me.” Selama Orde Baru berkuasa, komunitas etnis Tionghoa dilarang mengekspresikan kebudayaan mereka. ”Jangankan bikin kirab, pasang hio di depan rumah saja dilarang,” ujar The Po Lai, Sekretaris Makin Sai Che Tien.

Setelah Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melepas kekangan itu, etnis Tionghoa pun bebas mengekspresikan tradisi dan kebudayaan mereka, termasuk menggelar kirab budaya cap go me. Dengan adanya perayaan cap go me, kata Po Lai, kelenteng menjadi semarak. (Romy)

Makin Hok Kheng Tong Lakukan Sembahyang Goan Siao Cui

JAMBI – Perayaan Cap Go Me merupakan rangkaian upacara sembahyang terakhir dari tahun baru Imlek, pada hari itu keluarga yang merayakan kembali menggelar sesaji di altar abu leluhur, maupun di klenteng. Sesaji untuk acara Cap Go Me lebih sederhana bila dibandingkan saat tahun baru Imlek.
Di Kelenteng Hok Kheng Tong Jambi, siang tadi (24/2), mengadakah sembahyang bersama menyambut datangnya Cap Go Me yang dipimpin oleh Rohaniawan Matakin Provinsi Jambi, The Lien Teng.

Bagaimana perayaan Cap Go Me di Jambi,? pesta goan siao di Jambi selain pawai Lampion atau Tanglung, atraksi barongsai, liong dan arak-arakan kim sin para suci shen ming (patung dewa) keliling kampung-kampung, namun sebelum acara tersebut dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan sembahyang Goan Siao di Makin Kelenteng Hok Kheng Tong.

Ketua Matakin Provinsi Jambi, menyampaikan pesan kepada seluruh umat Khonghucu di Jambi agar tidak usah ragu-ragu lagi untuk melakukan sembahyang di Kelenteng-Kelenteng, maupun melakukan pemberkatan Pernikahan di Kelenteng, karena Khonghucu kini sudah setara dengan agama lain di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Repubrik Indonesia Nomor 55 tahun 2007, bahwa tempat ibadah umat Khonghucu adalah Miao, Littang dan Kelenteng adalah tempat ibadah, pendidikan agama umat Khonghucu, maka dengan ini kami sangat mengharapkan agar di Provinsi Jambi tidak ada Sinkretisme/ pengabungan beberapa agama. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 jo Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/ atau Penodaan Agama (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 3, Tambahan Negara Republik Indonesia Nomor 2727). Selain itu bagi umat Khonghucu yang KTPnya masih beragama lain dapat segera mengantikan dengan KTP Khonghucu.

Disamping itu bagi umat Khonghucu di Provinsi Jambi yang anaknya masih sekolah di sekolah-sekolahan sudah dapat pendidikan keagaman mulai dari SD hingga SMA dan saat ini di Provinsi Jambi telah berdiri 9 Kelenteng yang menjadi MAKIN dan ada puluhan lainnya segera mengajukan SK ke MATAKIN Pusat.

Selain itu, kami harapkan kepada umat Khonghucu di Provinsi Jambi jika ada oknum yang melakukan intimidasi maupun mengancam, segera melaporkan kepada Matakin Provinsi Jambi maupun Matakin Kota Jambi.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, Matakin Provinsi Jambi dan Kota Jambi mengajak para pengusaha dan umat Khonghucu Jambi agar dapat mengulurkan tangan untuk membantu saudara-saudara kita yang tengah mengalami musibah kebanjiran di Provinsi Jambi dan kota Jambi, bantuan dalam bentuk dana maupun kebutuhan sehari-hari.

Sebelum kami akhiri, perkenankanlah kami menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada mantan Presiden RI yang ke empat, Almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang telah mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967. ditindaklanjuti Presiden RI ke lima, Ibu Megawati Soekarnoputri mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang isinya menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Serta Peraturan Pemerintah Repubrik Indonesia Nomor 55 tahun 2007, bahwa tempat ibadah umat Khonghucu adalah Miao, Littang dan Kelenteng, maka dengan ini kami sangat mengharapkan agar di Provinsi Jambi tidak ada Sinkretisme/ pengabungan agama. Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 jo Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/ atau Penodaan Agama (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 3, Tambahan Negara Republik Indonesia Nomor 2727).  (Romy)

Para Shen Ming Bertemu Untuk Merayakan Malam Cap Go Me

JAMBI, ayojambi.com - Puluh roh suci (shen ming) akan berkumpul di Kelenteng Makin Hok Kheng Tong malam ini (24/2), Mereka akan ambil bagian dalam arak-arak sepanjang jalan raya. Inilah merupakan tradisi etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu atas jasa mantan Presiden RI yang ke empat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967. Inpres yang dikeluarkan oleh Soeharto ketika awal berkuasa pada tahun 1967 itu melarang kaum Tionghoa merayakan pesta agama dan adat istiadat di depan umum dan hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga.
Gus Dur mencabut larangan inpres itu karena dianggap diskriminatif padahal perlembagaan negara UUD 1945 menjamin perlindungan semua warga. Kalau yang lain bisa ke masjid, gereja, atau ke makam untuk ziarah, kenapa orang Tionghoa tidak boleh ke kelenteng? demikian alasan Gus Dur. Setelah Gus Dur mencabut inpres tersebut, Megawati presiden selanjutnya mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang isinya menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Malam ini di Jalan Pangeran Diponegoro Kota Jambi akan menjadi lautan manusia, Minggu (24/2/2013). Ribuan orang bersukacita menyaksikan atraksi arak-arakan para roh suci (shen ming) yang turun dari berbagai kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) disertai tarian Barongsai dan Liong (naga). Inilah kirab ritual yang digelar Makin Kelenteng Leng Chun Keng, Kelenteng Makin Sai Che Tien dan Kelenteng Makin Hok Kheng Tong.

"Kami bergerak dari satu kelenteng ke kelenteng lain untuk memeriahkan malam Cap Go Me.” Selama Orde Baru berkuasa, komunitas etnis Tionghoa dilarang mengekspresikan kebudayaan mereka. ”Jangankan bikin kirab, pasang hio di depan rumah saja dilarang,” ujar The Po Lai, Sekretaris Makin Sai Che Tien.

Setelah Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melepas kekangan itu, etnis Tionghoa pun bebas mengekspresikan tradisi dan kebudayaan mereka, termasuk menggelar kirab budaya cap go me. Dengan adanya perayaan cap go me, kata Po Lai, kelenteng menjadi semarak. (Romy)

Sabtu, Februari 23, 2013

Tiga Makin Akan Meriahkan Kirap Cap Go Meh di Kota Jambi

JAMBI – Tiga Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) di Kota Jambi akan meriahkan Malam Perayaan Cap Go Meh yang akan digelar besok (6/2/2013), selain kirab roh suci shen ming (dewa) ada juga pertunjukan barongsai dan liong dalam Festival malam Cap Go Meh di Jalan Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.
Tahun ini diperkirakan pengunjung yang ingin menyaksikan Festival Cap Go Meh akan mencapai ribuan orang, masyarakat akan datang untuk melihat langsung di pawai.

Sehari sebelum perayaan malam Cap Go Meh yang akan digelar Tiga Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kota Jambi, pagi tadi bertempat di Makin Kelenteng Hok Kheng Tong diadakan sembahyang dihadapan altar Tie Kong (Tuhan), upacara tersebut dipimpin Pembina Khonghucu, Lim Tek Chong dari China.

Setiap tahun sebelum perayaan malam Cap Go Meh, Makin Kelenteng Hok Kheng Tong senantiasa melakukan sembahyang dihadapan Tie Kong (Tuhan) dengan membaca So Bun (baca pemberitahuan) kepada Tio Kong sekaligus mengundang kehadiran para roh suci shen ming.

Seusai itu, para pengurus mempersiapkan berbagai perlengkapan untuk perayaan Cap Go Meh esok (24/2), selain itu di Makin Sai Che Tien dan Makin Leng Chun Keng juga telah mempersiapkan berbagai keperluan perayaan.

Besok sore masing-masing kelenteng, diantaranya pemindahan Kim Sin (patung roh suci) dinaikan ke kursi tandu (joli). Selain itu ada tradisi tang ki tolak penolak bala yang dikenal dengan sebutan tatung, serta parade lampion, arak-arakan umbul-umbul dari masing Makin dengan rute Koni IV melintasi Jalan Pangeran Diponegoro-Koni I-Kelenteng Cheng Hong Lao dan kembali ke kelenteng Hok Kheng Tong (pusat perayaan cap go meh). festival malam Cap Go Meh juga dimeriahkan pesta kembang api di masing-masing kelenteng.

Menurut jadwal acara besok, sekitar pukul 17.30 peserta festival mendatangi Makin Hok Kheng Tong diiringi tandu (joki) roh suci shen ming dan kitong/ tatung yang telah dirasuki roh shen ming dari masing-masing kelenteng. Setelah karvanal dimulai, masyarakat akan dihibur oleh 2 biduanita dari Kepulauan Riau (Batam). Romy

Minggu, Februari 10, 2013

Imlek Memberi Makna Kesatuan dan Kerukunan

Bupati Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Zumi Zola yang hadir bersama istrinya Sherin di open house Imlek yang digelar pengusaha Robin mengatakan, sangat bahagia dapat bertemu dengan seluruh masyarakat yang hadir di kegiatan tersebut. "Ini adalah wujud dari kerukunan dalam masyarakat, silaturahmi di tengah masyarakat harus terus dilestarikan dan dijaga," ungkapnya kepada Tribun, Minggu (10/2).
Zumi menambahkan, bahwa Imlek memiliki nilai yang berharga, karena dengan adanya Imlek telah memberi makna kesatuan dan kerukunan. "Ini bukti tidak adanya perpecahan karena suku di tengah-tengah masyarakat. Lihatlah semuanya duduk satu meja dan menyantap makanan yang sama, " ujarnya.

http://jambi.tribunnews.com/2013/02/10/zumi-zola-imlek-memberi-makna-kesatuan-dan-kerukunan

Barongsai Jambi Dari Rumah Ke Rumah

JAMBI - Perayaan Tahun Baru Imlek 2564 di Jambi dimeriahkan oleh atraksi barongsai dari Perkumpulan Hok Liong Sai Jambi. Uniknya atraksi tersebut dilakukan dari rumah ke rumah.
Atraksi dari rumah ke rumah yang digelar Minggu (10/2/2013) pagi, tersebut disambut antusias warga Tionghoa. Tidak sedikit warga memberikan angpao setiap barongsai menyambangi mereka. Aksi memukau dari barongsai ini juga menghibur warga etnis lain.

Di Jambi, atraksi barongsai setiap Imlek merupakan sebuah tradisi dan sebagai lambang pembauran warga Jambi. Aksi ini terbukti mampu menghibur warga non Tionghoa.

Para pemain barongsai dengan lincah melompat sambil menggerakkan kepala barongsai dengan iringan tabuhan gong khas Tionghoa.

Setiap barongsai dihiasi jumbai-jumbai agar tampak menarik dengan aneke warna, seperti hijau, merah, kuning dan lainnya, sedangkan pemainnya juga mengenakan pakaian khusus dengan warna yang sama dengan barongsai yang mereka mainkan.

Pertunjukan barongsai tersebut juga bukan sekedar menghibur warga, tetapi mengandung makna doa selamat bagi penghuni rumah yang dikunjunginya sehingga lebih sukses di tahun yang baru dan barongsai dipercayai masyarakat Tionghoa sebagai sarana menolak bala/ bencana.

"Menurut kepercayaan Tionghoa, kunjungan barongsai ke rumah-rumah warga itu merupakan ritual menolak bala bencana," (Romy)

Imlek Perayaan Agama yang Sudah Membudaya

JAMBI - Imlek tidak hanya dirayakan umat Khonghucu, tetapi juga kebanyakan warga keturunan Tionghoa di berbagai belahan dunia. Di dalamnya terkandung nilai-nilai religi dan sosial yang begitu kental, berbagai macam aksesori berwarna merah menyala, seperti lampion, lilin, hio, barongsai, pohon jeruk yang dihiasi angpau banyak dijumpai di super market, mini market dan toko-toko, asesoris tersebut untuk menyemarakan Tahun Baru Imlek yang tahun ini jatuh pada 10 Februari 2013.
Bagi masyarakat Tionghoa di belahan dunia mana pun, Imlek atau Tahun Baru China merupakan perayaan yang begitu di-nanti-nantikan. Betapa besar arti Imlek bagi mereka, tidak sekadar sebagai sarana perenungan untuk memperbaiki diri, tetapi juga momen yang paling afdol untuk memohon kehidupan yang lebih baik kepada Sang Pencipta, serta mendoakan para leluhur. "Kalau ada kekurangan dan kesalahan diperbaiki dan kalau ada keburukan sebaiknya dibuang.,"

Umumnya warga Tionghoa menjadikan Imlek sebagai momentum introspeksi diri dan pengharapan untuk nasib yang lebih baik pada masa depan. Menurut sejarahnya, tradisi merayakan Imlek yang tahun ini menginjak tahun ke-2564 itu telah dimulai sejak zaman Dinasti Han pada 551 sebelum masehi (SM). Pada masa itu agama Khonghucu diakui sebagai agama negara.

Karena itu, tidak heran jika Imlek kemudian meluas tidak hanya sebagai perayaan keagamaan tetapi juga menjadi budaya masyarakat Tionghoa, makna itu menyangkut berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Pada perayaan hari besar itu warga Tionghoa memanfaatkannya untuk merekatkan kembali jalinan kekeluargaan. Anggota-anggota keluarga yang tinggal saling berjauhan biasanya berkumpul bersama untuk merayakan Imlek.

Biasanya warga merayakan Imlek dengan ritual sembahyang dan makan bersama. Doa-doa yang dipanjatkan tidak lepas dari permohonan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik (layak) pada masa mendatang. Tak kalah penting adalah acara saling bersilaturahmi dan berkunjung ke rumah sanak saudara dan tetangga terdekat.

Biasanya pada momen imlek itu orang yang lebih tua memberikan angpau kepada mereka yang lebih muda atau belum menikah. Beragam kue tradisional khas China juga disajikan sebagai pelengkap kemeriahan Tahun Baru Imlek.

Perayaan Imlek yang kerap dimeriahkan pula dengan berbagai atraksi-atraksi seni tradisional China seperti barongsai, liong (naga), wushu, wayang China (potehi), Imlek ditutup dengan perayaan malam Cap Go Meh. (Romy)

Imlek Diwarnai Pembagian Angpao

JAMBI - Minggu (10/02) suasana perayaan tahun baru Imlek 2564, atau yang lebih dikenal dengan tahun baru Imlek bagi umat Khonghucu berlangsung berlangsung meriah. Nampak sejumlah kegiatan dipusatkan di kelenteng (bio-bio), yang juga diwarnai dengan pembagian angpao.
Sesuai dengan inti ajaran Khonghucu adalah cinta kasih dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui momen ini umat diajak untuk mengembangkan rasa cinta kasih terhadap sesama. Begitu juga dengan cinta kasih kepada lingkungan hidup. “Untuk itu ciptakan suasana kehidupan yang harmonis kepada saudara-saudara dan tetangga-tetangga kita agar tercipta susana yang rukun dan damai.”

Cinta kasih menurutnya tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ungkapan saja. Tetapi juga dalam perbuatan kita, yaitu saling memberi pertolongan kepada orang lain, membantu sudara-sudara kita yang susah serta menghindari sifat kekerasan dan selalu menonjolkan kekuasaan.

Dimana menjelang satu hari tahun baru Imlek, pada Minggu (10/02) di berbagai kelenteng dan rumah-rumah, Umat Khonghucu melaksanakan sembahyang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa (Tien), dan juga melaksanakan sembahyang terhadap leluhur.

Untuk sembahyang leluhur dilaksanakan pada siang hari dan dilakukan di rumah masing-masing, tetapi ada juga yang di rumah abu. Adapun makna sembahyang ini adalah sebagai kelanjutan laku bakti dari anak-anak dan cucu-cucu keturunanya kepada orang tua mereka yang telah tiada.

“Sebab budi orang tua tidak mampu dibalas selama beliau-beliau masih hidup. Maka dilanjutkan dengan upacara sembahyang leluhur pada saat-saat hari raya atau pada hari-hari peringatan.”

Selanjutnya pada malam hari saat-saat menjelang hari tahun baru ada sembahyang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa (YME), untuk mengucap syukur atas rahmat perlindunganNya sepanjang tahun. Dan juga bermohon rahmat dan perlindunganNya sepanjang tahun yad yang tinggal beberapa saat akan kita masuki.

Dimana permohonan tersebut untuk pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. “Dan Secara umum sembahyang malam tersebut dilaksanakan di kelenteng-kelenteng maupun lithang serta secara pribadi dapat dilaksanakan di rumah masing-masing.”

Tradisi Angpao Di Tahun Baru Imlek

Sejak lama, warna merah melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa. Warna merah menunjukkan kegembiraan, semangat yang pada akhirnya akan membawa nasib baik.
Angpao sendiri adalah dialek Hokkian, arti harfiahnya adalah bungkusan/amplop merah. Sebenarnya, tradisi memberikan angpao sendiri bukan hanya monopoli tahun baru Imlek, melainkan di dalam peristiwa apa saja yang melambangkan kegembiraan seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain2, angpao juga akan ditemukan.

Angpao pada tahun baru Imlek mempunyai istilah khusus yaitu “Ya Sui”, yang artinya hadiah yang diberikan untuk anak-anak berkaitan dengan pertambahan umur/ pergantian tahun. Di zaman dulu, hadiah ini biasanya berupa manisan, bonbon dan makanan. Untuk selanjutnya, karena perkembangan zaman, orang tua merasa lebih mudah memberikan uang dan membiarkan anak-anak memutuskan hadiah apa yang akan mereka beli. Tradisi memberikan uang sebagai hadiah Ya Sui ini muncul sekitar zaman Ming dan Qing. Dalam satu literatur mengenai Ya Sui Qian dituliskan bahwa anak2 menggunakan uang untuk membeli petasan, manisan. Tindakan ini juga meningkatkan peredaran uang dan perputaran roda ekonomi di Tiongkok di zaman tersebut.

Angpao apakah disebut angpao di zaman dulu? Bagaimana bentuknya?
Tidak. Uang kertas pertama kali digunakan di Tiongkok pada zaman Dinasti Song, namun baru benar2 resmi digunakan secara luas di zaman Dinasti Ming. Walaupun telah ada uang kertas, namun karena uang kertas nominalnya biasanya sangat besar sehingga jarang digunakan sebagai hadiah Ya Sui kepada anak-anak.

Di zaman dulu, karena nominal terkecil uang yang beredar di Tiongkok adalah keping perunggu (wen atau tongbao). Keping perunggu ini biasanya berlubang segi empat di tengahnya. Bagian tengah ini diikatkan menjadi untaian uang dengan tali merah. Keluarga kaya biasanya mengikatkan 100 keping perunggu buat Ya Sui orang tua mereka dengan harapan mereka akan berumur panjang.

Jadi, dari sini dapat kita ketahui bahwa bungkusan kertas merah (angpao) yang berisikan uang belum populer di zaman dulu.

Pemberian angpao apakah punya makna tersendiri?
Orang Tionghoa menitik beratkan banyak masalah pada simbol-simbol, demikian pula halnya dengan tradisi Ya Sui ini. Sui dalam Ya Sui berarti umur, mempunyai lafal yang sama dengan karakter Sui yang lain yang berarti bencana. Jadi, Ya Sui bisa disimbolkan sebagai “mengusir/meminimalkan bencana” dengan harapan anak2 yang mendapat hadiah Ya Sui akan melewati 1 tahun ke depan yang aman tenteram tanpa halangan berarti.

Siapa yang wajib memberikan angpao dan berhak menerima angpao?
Di dalam tradisi Tionghoa, orang yang wajib dan berhak memberikan angpao biasanya adalah orang yang telah menikah, karena pernikahan dianggap merupakan batas antara masa kanak2 dan dewasa. Selain itu, ada anggapan bahwa orang yang telah menikah biasanya telah mapan secara ekonomi. Selain memberikan angpao kepada anak-anak, mereka juga wajib memberikan angpao kepada yang dituakan.

Bagi yang belum menikah, tetap berhak menerima angpao walaupun secara umur, seseorang itu sudah termasuk dewasa. Ini dilakukan dengan harapan angpao dari orang yang telah menikah akan memberikan nasib baik kepada orang tersebut, dalam hal ini tentunya jodoh. Bila seseorang yang belum menikah ingin memberikan angpao, sebaiknya cuma memberikan uang tanpa amplop merah.

Namun tradisi di atas tidak mengikat. Sekarang ini, pemberikan angpao tentunya lebih didasarkan pada kemapanan secara ekonomi, lagipula makna angpao bukan sekedar terbatas berapa besar uang yang ada di dalamnya melainkan lebih jauh adalah bermakna senasib sepenanggungan, saling mengucapkan dan memberikan harapan baik untuk 1 tahun ke depan kepada orang yang menerima angpao tadi. (Yahoogroups/ Budaya Tionghoa)

Sabtu, Februari 09, 2013

Makna Hari Raya Imlek (#3-habis)

Angpau adalah amplop berwarna merah didalamnya berisi uang, biasanya uang yang masih baru dan terdiri dari 2 lembar. Uang tersebut digunakan untuk modal kerja, untuk keperluan sekolah, membeli sesuatu yang dicita-citakan dan sebagainya. Pada hari raya Imlek apabila keadaan memungkinkan bisa memasang mercon menunjukkan kegembiraan karena rejekinya meledak, bagi keluarga yang mampu dapat dirayakan dengan mengundang barongsai ( wushi atau xingshi ) untuk disaksikan sanak saudara dan kerabat yang datang berkunjung ke rumah. Mengundang barongsai mempunyai makna mengundang rejeki, menolak bala.
Tari liong (wulong) atau barongsai pada mulanya adalah prosesi pengurusan bala, saat ini sudah bergeser sebagai pertunjukkan kesenian yang tinggi mutunya yang patut ditonton bahkan telah dipertandingkan di tingkat Internasional.

Pada tanggal 8 malam, bagi umat Khonghucu dan penganut kepercayaan tradisional, menyelenggarakan sembahyang Tie Kong (Tuhan). Perayaan dan tradisi kunjung berkunjung berlangsung sampai dengan tanggal 15 dan pada malam 15 diadakan pesta capgo meh (yuan xiao jie). Pada perayaan cap go meh rumah-rumah memasang lampion warna warni, diselenggarakan juga karnaval dan hiburan panggung, kaum muda mudi keluar rumah membeli makanan, melihat lampion dan lain-lain. Makanan yang khas pada hari ini adalah lontong cap go meh.

Setelah pesta cap go meh selesai, maka acara kunjung mengunjungi selesai, masyarakat kembali lagi mengerjakan pekerjaannya untuk 1 tahun lamanya, khusus bagi petani, saat ini adalah momentum yang tepat untuk mulai bertanam, menabur bibit ikan bandeng dan lain-lain. Kaum pedagang mulai giat dengan usahanya, karena tahun sudah berganti, rejekipun berubah dan meningkat. Sekian

Makna Hari Raya Imlek (#2)

Menyambut hari raya Imlek biasanya tiap keluarga membersihkan rumah terutama pada bagian dapur karena dapur merupakan bagian dari rumah yang berjasa dalam memberi kehidupan rumah tangga. Orang tua menyiapkan pakaian baru untuk anak-anaknya dan juga untuk pembantu, sopir dan pekerja lainnya di rumah.
Menyiapkan makanan, kue, kolang-kaling, agar-agar, manisan, lauk pauk, daging, ikan bandeng dan buah-buahan termasuk kue Cina atau kue keranjang. Kue ini biasanya dikirim juga kepada orang tua, mertua, paman atau orang yang dituakan sebagai rasa hormat.

Tiga hari sebelum hari raya Imlek, didaerah pemukiman masyarakat Tionghoa biasanya diadakan pasar malam, dimana diperjual belikan keperluan hari raya baik untuk sembahyang maupun makan.

Rumah tangga tidak menyapu didalam rumah, maknanya agar rejeki tidak terbuang, juga mempunyai makna walaupun hanya sapu tetap perlu istirahat satu hari dalam satu tahun. Apabila terpaksa harus menyapu, maka sampahnya tidak dibuang sampai hari kedua Imlek.

Tepat hari raya Imlek semua berpakaian baru dan rapi, anak-anak memberi hormat dengan cara adat Tionghoa (pai-pai) pada orang tua, kakek, nenek, kemudian pada kakaknya dengan ucapan selamat panjang umur, murah rejeki dan lain-lain. Pembantu dan pekerja di rumah juga mengucapkan selamat pada majikannya, orang tua memberi angpau (hong bau) pada anak-anak dan pada pekerja di rumah, kepada anak-anak didoakan dan diberi nasehat agar rajin belajar, pandai, enteng jodoh dan lain-lain.

Selanjutnya makananpun dihidangkan, setelah selesai makan maka keluarga menuju ke rumah orang tua atau orang yang dituakan untuk menyampaikan ucapan selamat. Makanan, kue-kue kecil, agar-agar, manisan dan lain-lain disiapkan dimeja untuk menjamu tamu yang datang berkunjung. Makanan yang dihidangkan masing-masing mempunyai maknanya antara lain : buah atep ( kolang kaling ) agar kehidupan mantep, manisan cerme agar tokonya reme, agar-agar berbentuk bintang agar rejeki dan kariernya terang seperti bintang, kue keranjang berarti tidak kekurangan sesuatu dan apabila tamu tersebut membawa anak, maka anak tersebut diberi angpau (hong bao) juga.
Sambung....3 habis

Makna Hari Raya Imlek (#1)

Hari Raya Imlek (yinli xin nian) jatuh pada tanggal 1 bulan 1 tahun Imlek (cia gwee che it) bertepaan dengan pergantian tahun Imlek yang berdasarkan perhitungan lunar (peredaran bulan) yang dikombinasikan dengan perhitungan berdasarkan peredaran matahari dan pergantian musim dari musim dingin ke musim semi, maka penanggalan Imlek ini banyak digunakan petani dan nelayan yang pekerjaannya sangat tergantung dan berhubungan dengan alam dan musim, maka kalender ini juga disebut nungli (nongli) yang artinya kalender untuk petani. Bila kita perhatikan bahwa menjelang hari raya Imlek biasanya turun hujan, panen buah-buahan seperti duku, rambutan, mangga, manggis, durian dan lain-lain, juga panen ikan bandeng, udang dan hasil laut lainnya.
Imlek diartikan memasuki musim semi di belahan bumi bagian utara, maka disebut sebagai pesta musim semi. Musim semi mempunyai makna meninggalkan musim yang dingin, gelap dengan pohon-pohon yang gundul, memasuki musim yang hangat, terang dengan pohon yang bersemi. Di Indonesia berarti memasuki musim tanam menyongsong musim hujan yang merata.

Hari raya Imlek bukan saja dirayakan oleh umat Khonghucu, melainkan dirayakan oleh masyarakat Tionghoa yang beragama lain dan kepercayaan, karena mempunyai makna pengucapan syukur atas berkat dan kelimpahan pada tahun yang lalu dan permohonan berkat dan pertolongan Tuhan Yang Maha Esa ditahun yang akan datang, maka Imlek bisa disebut sebagai hari pengucapan syukur kepaya Tien (Tuhan).

Bagi umat Khonghucu biasanya melakukan ibadah (sembahyang) di kelenteng-kelenteng, miao tang atau littang untuk bersembahyang dan menyerahkan darma berupa uang atau beras untuk pengurus rumah ibadah dan fakir miskin, ibadah bisa juga dilaksanakan tepat pada hari raya Imlek. Kebaktian dengan tema Imlek. Sambung......

Makna Dibalik Perayaan Tahun Baru Imlek "Khongculek"

Sejak ditetapkannya Tahun Baru Imlek sebagai salah satu hari libur nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Kepres No.19/2002 tertanggal 9 April 2002, maka setiap tiba datangnya Tahun Baru Imlek kita mulai merasakan suasana yang berbeda dan melihat berbagai macam pernak-pernik atau hiasan khas Imlek yang dijual khususnya di daerah perkotaan, orang juga mulai sibuk melakukan berbagai macam persiapan baik dalam lingkungan keluarga, di pusat-pusat perbelanjaan maupun di berbagai tempat ibadah.
Tahun Baru Imlek pada tahun ini jatuh bertepatan dengan tanggal 10 Februari 2013 (Cia Gwee Ciu It 2564 Imlek). Saat ini orang lebih merasakan suasana yang lebih meriah dan memiliki kebebasan untuk mengekpresikan kegembiraan dalam merayakannnya.

Perayaan Tahun Baru senantiasa diidentikan dengan pertunjukan barongsai atau bagi-bagi angpau (hungpao) khususnya dilakukan oleh mereka yang  merayakan Tahun Baru Imlek.Suasana ini tidak dapat kita jumpai sebelumnya, setidaknya lebih dari tiga dasawarsa sejak adanya kebijakan pemerintah pada saat itu yang membatasi perayaan hari-hari keagamaan khususnya bagi orang-orang Tionghoa yang hanya diperbolehkan pada lingkungan keluarga saja; seperti tercantum dalam Inpres No.14/1967 yang sudah dianulir pada masa almarhum Presiden Gusdur.

Meskipun sebenarnya perayaan Tahun Baru Imlek sebelumnya juga dapat dirayakan secara umum seperti sekarang ini. Sejak bergulirnya era reformasi, kebebasan beragama dan berekpresi di Indonesia nampaknya terlihat lebih nyata, hal ini sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia yang multikultur dan multi etnis serta distunjang oleh adanya kesadaran dari aparat birokrat saat ini yang mulai menyadari hal ini meskipun belum seluruhnya, karena masih ada saja oknum yang mempersulit dan terkesan diskriminatif dalam memberikan pelayanan terhadap etnis terntentu. Seluruh penduduk Indonesia mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga Negara. Termasuk diantaranya adalah hak kebebasan dalam beragama dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya masing-masing, karena hal tersebut jelas dijamin oleh Undang-undang Dasar pasal 29.

Sudah barang tentu perayaan Tahun Baru Imlek saat ini bukan lagi menjadi milik satu golongan tertentu saja (Tionghoa. Pen.), melainkan sudah menjadi milik seluruh bangsa di dunia.

Namun hal tersebut tidak terlepas dari latar belakang sejarah asal muasal Tahun Baru Imlek itu sendiri yang berkaitan erat dengan sistim penanggalan Imlek/ Yinli/ Khongculek/ Kongzili. Misalnya penetapan tahun pertama dari Tahun Baru Imlek adalah dihitung sejak tahun pertama kelahiran Nabi Kongzi (baca Kungtze) yakni tahun 551 Sebelum masehi. Bagi mereka yang beragama Khonghucu (Rujiao), merayakan Tahun Baru Imlek bukan hanya sekedar untuk merayakan tradisi untuk menyambut datangnya musim semi saja, melainkan mengandung suatu makna religius yang sangat mendalam. (Romy)

Tahun Baru Imlek dan Lampion

Bagi orang Tionghoa secara tradisi berlaku dua penanggalan Gongli 公历 atau Yangli 阳历 yaitu kalender umum (Masehi/Calender Gregorian) dan Nongli 农历/ Imlek atau Yinli 阴历. Kalender Gregorian berdasarkan perhitungan peredaran Matahari disebut juga Kalender Baru atau Xingli 新历, sedang Kelender Yinli berdasarkan perhitung peredaran Bulan, maka disebut juga Moon/Lunar Calender. Yinli ini dihitung mulai lahirnya Khonghucu pada tahun 551SM. Jadi tahun 2013 + 551 sama dengan Tahun Imlek/ Yinli tahun 2564. Sehingga kadangkala oleh orang Tionghoa dalam dialek Hokkian disebut Kongcu-lek.
Tahun baru Imlek atau yang biasa disebut Shincia dengan logat Hokkian atau Chunjie 春节dalam Mandarin adalah hari pertama penggantian tahun dari penanggalan Imlek. Hari raya ini dirayakan sejak hari pertama hingga hari ke 15 bulan satu imlek. Tahun 2013 ini jatuh pada tanggal 10 Pebruari, mulai hari ini disebut Tahun Ular Air.

Konon Kalender Imlek ini pertama kali diciptakan oleh Huangdi 黄帝/ Kaisar Kuning, Kaisar Pertama di Tiongkok (Kaisar Kuning/ 黄帝 huangdi tahun sebelum 2070 SM), yang dianggap Raja Agung dan Nabi bagi Agama Khonghucu. Kalender ini dilanjutkan oleh Kaisar berikutnya Xia Yu 夏禹 (kira- kira tahun 2070 SM-1600 SM) yang juga dianggap Nabi dalam Agama Khonghucu. Tapi dengan ditumbangkannya Kaisar Xia oleh Kaisar Shang 商 (tahun 1600-1046 SM) sistim kalender diganti. Tahun baru dimajukan satu bulan, sehingga yang semula Tahun Baru jatuh pada awal Musim Semi, menjadi jatuh pada akhir Musim Dingin. Dinasti Zhou周 menggantikan Shang pada tahun 1046 SM (berdiri hingga tahun 256 SM), sistim kalender ini diganti lagi, tahun barunya jatuh pada garis edar matahari pada titik 23,5 derajat Lintang Selatan atau pada tanggal 22 Desember penanggalan masehi, saat ini merupakan puncak musim dingin (dikenal dengan hari sembayang Onde atau 冬至dongzhi; ronde = butiran dibuat dari tepung ketan, dimakan bersama wedang jahe).

Selanjutnya setiap penggantian dinasti, seperti Qing, Han, sistim diganti juga. Hanya pada Dinasti Han (206SM-220M), kaisar Han Wu Di memerintahkan Kalender Imlek ini untuk kembali pada sistim Xia sama dengan yang digagaskan oleh Khonghucu. Untuk menghormati Nabi Khonghucu maka tahun kelahiran Khonghucu (551SM) ditetapkan sebagai Tahun ke 1/ pertama Imlek. Maka kini kalender Imlek adalah Tahun 2564 (2013Masehi). Sehingga dapat dikatakan bahwa perayaan Tahun Baru Imlek sebetulnya adalah Perayaan Umat Khonghucu.

Dalam Agama Khonghucu, Khonghucu (bahasa Indonesia)/ Kongzi 孔子/ Confusicus (Latin) diakui sebagai Nabi terakhir dari agama ini. Lahir pada hari ke 28 bulan 8 tahun 0001 Imlek (551SM). Perkiraan tanggal 1 imlek, rentang waktunya 15 hari kedepan dan 15 hari kebelakang dari 4 Pebruary Kalender Umum/masehi. Tiap 4 atau 5 tahun sekali ada bulan ke 13, untuk menggenapi agar perhitungan tersebut tidak berubah, disebut tahun kabisat (闰年 run nian). Hari Wafat Khonghucu (18-2-Imlek). Hari Genta Rohani (冬至 dongzhi) 22 Desember penaggalan masehi, Qingming (清明 5 April penanggalan masehi), Qing Di Gong 清帝公 (8/9- bulan 1 Imlek).

Agama Ru/ Khonghucu adalah agama humanisme, agama hubungan antar manusia, agama orang kudus. Agama Ru tidak terlepas dari pengaruh perkembangan kebudayaan orang Tionghoa. Dimana pada umumnya mereka percaya bahwa seseorang setelah meninggal maka rohnya akan meninggalkan jasadnya, jika orang tersebut adalah orang baik akan menjadi Roh baik dan jika orang ini hidupnya jahat akan menjadi Roh jahat. Dalam agama Ru yang disembah tidak hanya Nabi Khonghucu saja. Misalnya pada saat Qing Ming atau Ceng Beng (dialek Hokkian), umat agama Khonghucu mengadakan sembayangan kepada leluhurnya, nyekar membersihkan kuburan leluhur. Orang Tionghoa sudah menjadi tradisi memiliki Altar Sembayangan leluhur dirumah, biasanya yang disembayangi tidak hanya leluhur saja tetapi termasuk tokoh-tokoh sejarah yang dianggap kudus.

Lampion, konon berasal dari zaman dinasti Xi Han 西汉 (tahun 206 SM – 9 M) kira-kira 1800 tahun yang lalu, sudah menjadi tradisi setiap Hari Raya Imlek dipajang lampion-lampion di rumah-rumah atau perkarangan atau tempat umum misalnya di taman, kebun, jalan-jalan, lorong-lorong dan lain sebagainya. Lampion ini telah menjadi tradisi bagi orang Tionghoa sebagai simbol kebahagiaan, yang dipasang untuk event-event kegembiraan berwarna merah, dan lampion putih terbuat dari rangka bambu untuk simbol bela sungkawa. Dalam perkembangannya, lampion digambari dan dihiasi ornamen-ornamen macam-macam, dan huruf-huruf kaligrafi. Lampion ada yang terbuat dari kertas, kain, kulit binatang, dan dari bordiran-bordiran kain sutra dan lain-lain.

Lampion gaya Chuanchiu 泉州式灯笼
Lampion gaya Fuchuo 福州式灯笼-又称为伞灯
Lampion segi empat

Lampion ini sangat erat hubungannya dengan kehidupan orang Tionghoa, lampion digantung di Kelenteng-kelenteng, ruang tamu rumah, dan tempat lain seperti telah disebutkan diatas. Namun yang terbuat dari kertas dapat dikatakan dimulai sejak di Tiongkok ditemukannya teknik pembuatan kertas oleh Cailun 蔡伦 pada zaman dinasti Han Timur ( 东汉donghan tahun 25-220 M ). Lampion bagi orang Tionghoa tidak saja sebagai lampu penerangan atau lentra, tapi sudah menjadi simbol.

Namun yang paling menonjol adalah dipasang pada perayaan Shincia hingga Cap Go Meh. Tapi sejak zaman Han hingga Tang, lampion benar-benar sebagai simbol penyambutan hari raya imlek. Saat dinasti Ming Zhu Yuan Chang (tahun 1368 - 1644 M) pendiri dinasti ini, ketika memproklamirkan ibu kota negara di Nanjing diadakan Lampion air, dimana ribuan lampion diambangkan di aliran sungai Qinhuaihe 秦淮河. Kemudian setiap tahun diadakan pesta lampion, tapi sejak berdirinya Republik Tiongkok pesta ini memudar, sehingga ahli-ahli pembuat lampion juga berkurang, namun kini rupanya mulai digalakkan lagi.

Ada juga tradisi disaat hari raya imlek, membawa Lampion sebagai simbol untuk medambakan untuk mendapatkan anak lelaki atau putra, karena lafal kata Mandarin yang berdekatan yang mempunyai arti mendapat putra. Denglong 灯笼 – Tianding 添丁.

Pada zaman kuno di Tiongkok, setiap tahun pada permulaan dimulai masuk sekolah pada bulan 1 Imlek, sekolah-sekolah digantungi lampion-lampion yang disumbang oleh orangtua murid-murid, dan secara simbolik dinyalakan oleh kepala sekolah atau guru, disebut Kai’deng 开灯. Yang mempunyai makna murid-murid agar mempunyai masa depan yang cemerlang sepanjang hidupnya. Kemudian hari menjadi tradisi dilakukan setiap Tahun Baru Imlek hingga Cap Go Mek ( Hari 1 s/d 15 ).  Sumber net

Jeruk Kim Kiet (Triphasia Trifolia) Hilang Dari Pasaran

JAMBI -Saat menjelang perayaan tahun baru Imlek, kita pasti akan melihat jeruk ini di mana-mana sehingga ia sering disebut sebagai 'jeruk Imlek' atau jeruk emas, padahal nama sebenarnya adalah jeruk Kim Kiet. Selain jeruk Kim Kiet yang ukuran besar-besar, ada pula jeruk Kim Kiet yang kecil-kecil. Keduanya adalah andalan setiap tahun menjelang perayaan Imlek.
Kenapa kedua jenis jeruk ini diminati saat menjelang Imlek adalah simbolisasinya. Buahnya bergerombol dalam satu dahan sehingga menyimbolkan kekeluargaan yang erat, rejeki yang melimpah karena warnanya yang kuning menyala bak bongkahan emas, dan rasanya manis. Sehingga selain disajikan untuk sesajen kepada shen ming (para suci) di kelenteng-kelenteng maupun di altar rumah, Kim Kiet juga menjadi elemen wajib hantar-hantaran Imlek antar keluarga maupun tetangga.

Jelang Imlek permintaan jeruk Kim Kiet ukuran kecil meningkat, namun apa yang mau dikata, buah-buahan jenis Kim Kiet dilarang impor dari Cina oleh Pemerintah.

Kim Kiet adalah salah satu produk yang dilarang impor oleh Pemerintah RI , Berdasarkan Surat Public Warning Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) No. KH.01.84.53.094 tertanggal 24 Juli 2007, selain Kim Kiet, yang lain yang kena imbas adalah buah Lie.

Pedagang buah-buahan dikawasan pasar Hongkong Jelutung Jambi pada mengeluh, karena salah satu buah-buahan yang di cari warga Tionghoa menjelang Imlek adalah jeruk Kim Kiet, ujar salah seorang pedagang yang minta tidak mencantumkan jati dirinya, mengatakan, “Katanya pasar bebas, kok jeruk dilarang impor.” Jeruk Kim Kiet kan tidak membahayakan orang seperti yang tercantum dalam larangan pemerintah.

Rasanya kurang abdol Imlek tahun ini tidak jeruk Kim Kiet (Triphasia Trifolia), sebagai pengantinya parcel yang jadi incaran warga (Romy).

Makna Tebu Menurut Agama Khonghucu

Banyak warga yang tidak paham tentang pemasangan batang tebu dirumah atau toko-toko, terutama dari kalangan generasi muda.
Menurut penuturan, Auw Jang Tjoe Boen/ Bratayana Ongkowijaya, SE, XDS, Ketua Bidang Organisasi dan Lintas Agama - DPP MATAKIN, Tebu dipergunakan masyarakat Tionghoa sebagai simbol keharmonisan, karena tanaman tebu bisa banyak memaknai dalam kehidupan manusia.

Seperti rasanya manisnya tebu, diharapkan dalam kehidupan dapat selalu manis seperti tebu. Hidupnya berumpun, menggambarkan agar manusia dapat rukun harmonis dalam keluarga maupun masyarakat. Batangnya beruas, menunjukkan bahwa kehidupan ada prosesnya setahap demi setahap. Dan tebu gampang hidup dan tahan cuaca (minim perawatan), menunjukkan bisa hidup mandiri serta tabah dalam dinamika hidup.

"Tebu (kam chia) dalam dialek Hokkian terdengar seperti terima kasih (kam Siah) dan itu menguntungkan. Sepasang tebu disandar di gerbang pintu masuk utama ke rumah, toko-toko atau kantor ketika merayakan Imlek.”

Tradisi pemasangan tebu di pintu masuk utama ke rumah, toko-toko dan kantor-kantor hanya dilakukan oleh warga Tionghoa yang beragama Khonghucu.

Selain itu, tahun baru Imlek dirayakan masyarakat keturunan Tionghoa diseluruh pelosok dunia, menurut penuturan Rohaniawan Khonghucu dari Matakin Provinsi Jambi, The Lien Teng, peredaran kalender setahun terdapat 365 hari, setiap hari masyarakat harus giat bekerja demi kelangsungan hidup, ada yang jadi petani, kuli pangkul/ bangunan, pejabat negara, peternak ikan/ ayam/ itik/ jadi nelayan, pegawai toko dan lain sebagainya, maka pada hari penghujung tahun disebut Long Lek Cui, di hari tersebut semua keluarga pada berkumpul serta makan-makan bersama keluarga untuk menyambut datangnya Long Lek Sing Nien “Tahun Baru Imlek”. (Romy)