Tampilkan postingan dengan label 恭賀新禧﹐ 萬事如意. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 恭賀新禧﹐ 萬事如意. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 10, 2014

Perayaan Imlek Nasional 2565 Kembali Di Hadiri Presiden RI

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didampingi Ny Ani Yudhoyono serta Wakil Presiden Boediono yang didampingi Ny Herawati Boediono menghadiri perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2565/ 2014 di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Selatan, Jumat (07/2/201), sore.
Acara yang Perayaan Tahun Imlek 2565 Tingkat Nasional tahun  ini digelar oleh Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) bertema "Pemimpin Sejati Berpegang Pada Cinta Kasih dan Kebenaran, Bukan Pada Keuntungan".

Presiden menilai bangsa Indonesia makin kokoh dalam kebersamaan antara etnis,  menghormati berbagai berbedaan, dan tidak saling mengganggu dan terpisahkan perbedaan etnis dan agama.

Hadir bersama Ibu Negara Hj. Ani Yudhoyono, Presiden didampingi Wakil Presiden Boediono dan Ibu Herawati Boediono, sejumlah  menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, pimpinan lembaga negara, perwakilan negara sahabat, dan sekitar 5000 undangan dan umat Khonghucu dari berbagai daerah. Tampak pula, Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahja Purnama (Ahok) turut hadir.

Perayaan Imlek ke - 15 ini dihadiri  Perayaan ini diselenggarakan oleh "Majelis Tinggi Agama Khongucu Indonesia" (MATAKIN) sejak tahun 2000, yang mulai dilakukan sejak Presiden Gus Dur, kemudian Megawati dan SBY.

Sebelumnya, Ketua Matakin Wawan Wiratma menyampaikan harapan penganut Khonghucu kepada Presiden dalam acara perayaan Imlek hari ini. Menurut Wawan, umat Khonghucu berharap pemerintah membentuk Ditjen Agama Khonghucu di Kementerian Agama.

"Bolehlah kami memiliki Ditjen Agama Khonghucu sendiri, setara dengan ditjen yang telah dimiliki saudara-saudara kami lainnya. Tidak berlebihan harapan-harapan kami, dan saya harapkan pula seluruh umat Khonghucu berkontribusi menjaga kerukunan antar-umat beragama," ujar Wawan.

Presiden Minta Ditjen Khonghucu di Kemenag Segera Dibentuk
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merespons baik usulan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) mengenai pembentukan Direktorat Jenderal Khonghucu di Kementerian Agama. Presiden berharap pembentukan Ditjen Khonghucu bisa segera diwujudkan.

"Saya merespons baik usulan dari Matakin tadi dan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Agung Laksono) sebagai Menteri Agama ad interim agar direspons dengan baik usulan mendirikannya Ditjen Khonghucu. Mudah-mudahan tidak dalam waktu lama bisa diwujudkan," kata Presiden saat menghadiri Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2565 Kongzili di Jakarta Convention Center. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Sabtu, Februari 01, 2014

Pengusaha Kopi Open House Bersama Karyawan

JAMBI – Salah satu tradisi di hari raya Imlek adalah menyampaikan uacapan kepada keluarga maupun pimpinan perusahaan tempat bekerja, seperti tahun baru imlek 2565 dimana ratusan karyawan dan karyawati perusahaan Kopi AAA Jambi silaturrahmi kerumah Hidayat yang berlokasi di kawasan Payo Selincah Jambi.
Open House untuk kalangan pejabat itu sudah biasa kita temui, namun Open House untuk kalangan bahwa boleh dibilang jarang sekali kita temukan.

Ratusan karyawan karyawati Kopi AAA Jambi disuguhi berbagai makanan dan minuman yang sengaja disediakan oleh Hidayat, seusai santap makanan maupun minuman mereka ramai bernyanyi (karaoke) di ruangan yang telah disediakan perusahaan Kopi terbesar di Jambi.

Selain Karyawan tampak Danrem 042/ Garuda Putih Jambi, Kolonel Kav Marsudi Utomo, S. Sos, Kasrem Letkol Inf Lilik. S beserta rombongan. Sambil menyampaikan Gong Xi Fa Chai Marsudi Utomo disambut Hidayat beserta sang istri.

Selain rombongan Korem 042/ Garuda Putih Jambi, tampak hadir juga beberapa instansi maupun tokoh-tokoh ulama dalam open house yang dilakukan di pabrik Kopi AAA Jambi. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Keluarga Besar Robin Open House Bersama Yatim Piatu

JAMBI - Setiap Tahun Baru Imlek/ Yin Li Xin Nian (Chinese New Year) yang tahun ini jatuh pada hari Jumat, 31 Januari Februari 2014 (Cia Gwee Che It).
Untuk merayakan Imlek 2565, keluarga besar Pengusaha Galangan Kapal Jambi PT Naga Cipta Central menggelar open house (silaturahmi). Ratusan anak yatim piatu, anak cacat, panti Jompo yang datang ke galangan kapal di Jalan Talang Duku, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi didampingi oleh pengasuh mereka.

Robin merupakan salah satu tokoh Tionghoa yang berprofesi sebagai pengusaha PT. Naga Cipta Central yang setiap tahun mengadakan open house untuk anak yatim piatu, anak penyandang cacat maupun panti jompo serta masyarakat dari kalangan bawah."Kalau ada open house, di sini rame dikunjungi warga," kata keluarga Robin, Jumat (31/1/2014). Selain itu warga juga disuguhi atraksi Hok Liong Sai yang sengaja di undang keluarga Robin (李静基), tidak hanya itu, setiap anak yatim piatu, anak penyandang cacat maupun panti jompo yang hendak pulang diberikan angpao (amplop merah yang berisi sejumlah uang kertas) termasuk pengasuh.

Tahun ini merupakan tahun yang istimewa, pasalnya Bupati Tanjung Jabung Timur Zomi Zola ambil bagian dalam pembagian Angpao kepada anak yatim, anak yatim piatu, anak panti asuhan dan panti Jompo.

Maka tidak heran sejak pagi hari ratusan anak yatim piatu, anak penyandang cacat maupun panti jompo pada datang dari daerah kumpeh dengan bus yang disediakan keluarga Robin (李静基), mereka berduyun-duyun mendatangi kantor Robin sembil menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek.

Menurut beberapa warga yang sedang mengantre, acara ini diselenggarakan tiap tahun, bahkan saat lebaran Robin sekeluarga yang terkenal sebagai raja kapal itu juga mengadakan open house. Puluhan warga antusias mengantre sejak pagi sembari menikmati makanan dan es krim untuk sarapan.

Ujar Robin (李静基), setiap tahun baru Imlek, keluarga kita senantiasa mengadakan open house untuk kalangan warga masyarakat, terutama dari anak yatim piatu, anak penyandang cacat maupun panti jompo. Open house tersebut merupakan amanah dari orangtua “Kita tidak membeda-bedakan golongan yang datang menyampaikan ucapan tahun baru Imlek dan untuk tahun ini kita sediakan seribu angpao untuk warga”.

Robin juga kerap memberikan sejumlah uang yang dimasukan kedalam amplop warna merah (angpao) untuk warga yang datang. "Iya suka ngasih angpao buat warga yang datang.” Ujar Robin.

Bagi2 Angpao kepada anak yatim, yatim piatu dan anak panti asuhan maupun anak dari keluarga tidak mampun, itu pantas kita ajungkan jempol.

Ibarat pepatah mengatakan “Berikan makan kepada orang yang tidak mampu dan dirikan tempat berteduh maupun tempat ibadah, maka Tuhan Yang Maha Esa akan memberikan pahala kepadanya” (Romy) * www.ayojambi.com/

Jumat, Januari 31, 2014

Semarak menyambut Tahun Baru Imlek 2565

JAMBI - Menyambut Perayaan Tahun Baru Imlek 2565 merupakan sebuah momentum yang harus dirayakan bersama, karena perayaan tahun baru setahun hanya sekali, tinggal bagaimana masyarakat tionghoa merayakannya.
Tahun Baru Imlek yang lebih dikenal sebagai Tahun Baru Tionghoa tanggal 31 Januari 2014 atau Lunar Kalender Imlek Chia Gwee Chui It 2565, penyambutan kedatangan tahun baru imlek sudah terlihat sejak pukul 00.00 dini hari (31/1), umat Khonghucu mulai berdatangan ke tempat-tempat ibadah Kelenteng seperti di Kelenteng Siu San Teng yang berlokasi di kampung manggis, Rt 10 Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Mereka datang bersama keluarga sambil membawa aneka sajian diantaranya buah-buahan segar.

Berdasarkan hasil pantauan ayojambi.com, Jumat (31/01) dini hari, ratusan umat Khonghucu Jambi sudah mendatangi kelenteng terbesar di Kota Jambi untuk sembahyang bersama keluarga.

Antusias umat Khonghucu di Jambi untuk merayakan tahun baru Imlek sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan penuhnya tempat peribadatan di kelenteng untuk melakukan sembahyang memperingati moment tahunan sambil memanjatkan doa agar tahun Kuda Kayu memberikan kesejahteraan, kesehatan dan usaha lancar.

Ujar pengurus Kelenteng Siu San Teng, "Mereka (umat) sudah datang sejak jam 12 malam, terus ramai hingga siang. Biasanya jam 1 (siang) ke atas baru mulai sepi," katanya.

Imlek yang kini dirayakan masyarakat Khonghucu sebagai hari besar keagamaan (Tahun Baru China) awalnya adalah sebagai penanda awal masa bercocok tanam. Oleh sebab itu, Imlek bisa dilihat dari sudut pandang agama dan juga kebudayaan. Sedangkan Cap Go Meh merupakan satu kesatuan dari Imlek, yang merupakan puncak perayaan Tahun Baru masyarakat Tiongkok yang beragama Khonghucu.

Di Indonesia, perayaan Imlek sebelumnya dilarang. Baru di Era Presiden Abdurrahmad Wahid alias Gus Dur masyarakat Tionghoa di Indonesia diperbolehkan merayakannya. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Minggu, Januari 26, 2014

Sambut Imlek Umat Khonghucu Bersihkan Kelenteng

JAMBI - Menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2565 berbagai kelenteng di Jambi mulai mempersiapkan diri.

Seperti yang terlihat di Kelenteng MAKIN Sai Che Tien dan Kelenteng MAKIN Leng Chun Keng di Kawasan Koni IV, Kelurahan Talang Jauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.

Berbagai persiapan mulai dilakukan pada hari Sabtu dan Minggu (25-26/1-2014), seperti membersihkan Kim Sin para suci Sen Ming (patung dewa dewi) dari debu dan kotoran lainnya.

Secara perlahan, satu demi satu Kim Sin diturunkan dari altar lalu dibersihkan dengan menggunakan arak putih agar kualitas ornamen kayu tidak cepat rusak.

Sebelum membersihkan Kim Sin (patung) tentu saja dilakukan acara sembahyang guna meminta izin kepada para Sen Ming (dewa-dewa yang terdapat didalam kelenteng). Setelah dibersihkan patung-patung dewa kemudian dikembalikan ke posisi semula.

Untuk menambah keindahan bangunan kelenteng ini juga dipasangi aneka hiasan lampion dengan berbagai bentuk dan ukuran, pemasangan lampion merupakan tradisi warga keturunan china yang beragama Khonghucu menjelang perayaan imlek yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

Dengan kegiatan bersih-bersih kelenteng dan pemasangan aneka lampion, diharapkan perayaan imlek di Jambi akan semakin semarak, sehingga umat Khonghucu yang berdoa pun akan semakin khusyuk dalam menjalankan ibadahnya.

Warga Khonghucu Jambi berharap, tahun baru imlek yang merupakan tahun Kuda Kayu nantinya dapat lebih mendatangkan kemakmuran serta keselamatan bagi bangsa dan negara. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Minggu, Februari 24, 2013

Yang Menarik Dari Malam Cap Go Me

 JAMBI, ayojambi.com – Malam Cap Go Me/ malam tanggal 15 imlek merupakan berakhirnya perayaan Tahun Baru Imlek, pada malam tersebut maupun sehari sebelum diberbagai daerah di tanah air pada adakan acara malam Cap Go Me. Ada karnaval lampion, umbul-umbul, arak-arakan kim sin para roh suci (shen ming), atraksi barongsai, liong dan yang tidak kalah seru adalah atraksi menyiksa diri dari para tatung/ kitong dengan benda tajam.
Perayaan malam Cap Go Me setiap tahun di Jambi dipusatkan dikawasan Koni, pada malam itu ribuan warga masyarakat Jambi tumpah ruah baik di beberapa kelenteng yang adalah karnaval maupun menyaksikan dari jalan-jalan yang dilalui rombongan karnaval.

Cap Go Me menjadi pusat perhatian warga masyarakat Kota Jambi, pasalnya pusat kegiatan perayaan malam Cap Go Me di Jambi, Minggu (24/2-2013). Arak-arakannya kim sin (patung shen ming) mulai pukul 17.60, setelah berbagai ritual dilakukan di Kelenteng MAKIN Leng Chun Keng dan Kelenteng MAKIN Sai Che Tien, selanjutnya kedua rombongan menuju ke Makin Kelenteng Hok Kheng Tong. Perayaan Cap Go Me ini murni dilaksanakan oleh para penganut kepercayaan Khonghucu Jambi.

Sejak Sabtu, berbagai persiapan kegiatan telah dilakukan oleh masing-masing kelenteng sebagai peserta karnaval, kegiatannya antara lain berupa parade lampion, atraksi barongsai, liong arak-arakan tandu (joli) kim sin (patung dewa), arak-arak Cap Go Me belangsung di sepanjang Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, yang jaraknya lebih dari lima kilo.

Atraksi budaya karnaval Cap Go Me dalam perayaan ini, mengarak sejumlah shen ming diantaranya kim sin “Hok Hie Te Sien, Go Hu Tua Lang Kong” dari Kelenteng Makin Sai Che Tien, terus kim sin “Che Liong Kong/Sun Ping Sing He” dari Makin Kelenteng Leng Chun Keng, ada juga partisipasi dari rumah ibadah Lam Tien Tong menurunkan kim sin “Tai Sang Lau Chin, Go Lui, Mau San Co Se” sedangkan kim sin dari Makin Kelenteng Hok Kheng Tong adalah “Cheng Cui Co Se, Kwan Seng Tai Te, Hien Tien Siong Te, Leng Hu Tua Lang.” dan Chi Kong (dewa Mabuk)

Penampilkan pawai barongsay dan liong dari sejumlah kelenteng, arak-arakan tandu/joli para shen ming di malam Cap Go Me diselenggarakan pada hari ke-15 perayaan Imlek itu akan mengitari kawasan Koni di Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, menuju ke Kelenteng Ceng Hong Lau di Kelurahan Budiman, Kecamatan Jambi Timur, yang jaraknya sekitar lima kilo.

Acara Cap Go Me, di hadiri Anggota DPR RI, Wakil Gubernur Jambi, Danrem 042/ Gapu, Kakanwil Hukum dan Ham Provinsi Jambi, Kejaksaan Tinggi Jambi, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Jambi dan Wakil Walikota Jambi, Dandim 0415?batanghari Jambi, Pengadilan Negeri Jambi, beserta undangan lainnya.(Romy)

Kelenteng, Matakin, Matakin Jambi, Makin Jambi, Khonghucu, Matakin Indonesia, miou, Confucius, Litang, Kelenteng Jambi, Hok Liong Sai, Barongsai, Liong, 恭賀新禧﹐ 萬事如意, 新年祝福. 红灯笼

Banyak kalangan yang tidak tahu bahwa perayaan Imlek dan pereayaan malam Cap Go Me dapat dilakukan bebas berasal dari mana, awalnya banyak pihak yang menolak Imlek bersama, dan ada kalangan tertentu yang tidak menginginkan perayaan Imlek dan Cap Go Me dilakukan di Indonesia dengan meminta pemerintah orde baru melarang semua kegiatan yang bersifat etnis Tionghoa.
Kebebasan keturunan etnis Tionghoa masih terus dikebiri oleh pemerintah rezim Orde Baru dengan menerapkan penggunaan istilah dikotomi pribumi dan non pribumi. Kebijakan Inpres No. 14 Tahun 1967 telah melarang semua bentuk ekspresi keagamaan dan adat Tionghoa di ruang publik. Kondisi-kondisi inilah yang menyulut api sentimen pribumi vs Tionghoa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang akhirnya memuncak pada kerusuhan Mei 1998.

Barulah angin segar mulai menyapa keturunan etnis Tionghoa setelah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menduduki tampuk kepemimpinan RI pasca Reformasi. Dengan wawasan kebangsaan Gus Dur mencabut semua peraturan yang mendiskriminasikan kaum Tionghoa dengan mengeluarkan PP. No. 6 Tahun 2000. Bahkan, Gus Dur memberikan apresiasi dengan menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur Nasional, sebagaimana hari raya agama-agama lainnya. Inilah wujud keberpihakan Gus Dur terhadap eksistensi etnis Tionghoa. Menurut Gus Dur, etnis Tionghoa adalah sama dengan etnis-suku bangsa yang lain, seperti Jawa, Batak, Papua, Arab, India, Jepang dan Eropa yang sudah sejak lama hidup dan menjadi bagian dari warga negara Indonesia.

Sejak kepemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, kembali mendapatkan kebebasan dalam merayakan tahun baru Imlek, yaitu di mulai pada tahun 2000. Dimana, Presiden Abdurrahman Wahid secara resmi mencabut Inpres Nomor 14/1967. Serta menggantikannya dengan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya).

Setelah Gus Dur mencabut inpres tersebut, Megawati presiden selanjutnya mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang isinya menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Perayaan Cap Go Me merupakan rangkaian upacara terakhir dari tahun baru Imlek, pada hari itu keluarga yang merayakan kembali menggelar sesaji di altar abu leluhur, bisa juga di meja biasa bagi yang tidak lagi memelihara abu leluhur. (Romy)

Para Shen Ming Bertemu Untuk Merayakan Malam Cap Go Me




JAMBI, ayojambi.com - Puluh roh suci (shen ming) akan berkumpul di Kelenteng Makin Hok Kheng Tong malam ini (24/2), Mereka akan ambil bagian dalam arak-arak sepanjang jalan raya. Inilah merupakan tradisi etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu atas jasa mantan Presiden RI yang ke empat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967. Inpres yang dikeluarkan oleh Soeharto ketika awal berkuasa pada tahun 1967 itu melarang kaum Tionghoa merayakan pesta agama dan adat istiadat di depan umum dan hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga.
Gus Dur mencabut larangan inpres itu karena dianggap diskriminatif padahal perlembagaan negara UUD 1945 menjamin perlindungan semua warga. Kalau yang lain bisa ke masjid, gereja, atau ke makam untuk ziarah, kenapa orang Tionghoa tidak boleh ke kelenteng? demikian alasan Gus Dur. Setelah Gus Dur mencabut inpres tersebut, Megawati presiden selanjutnya mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang isinya menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Malam ini di Jalan Pangeran Diponegoro Kota Jambi akan menjadi lautan manusia, Minggu (24/2/2013). Ribuan orang bersukacita menyaksikan atraksi arak-arakan para roh suci (shen ming) yang turun dari berbagai kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) disertai tarian Barongsai dan Liong (naga). Inilah kirab ritual yang digelar Makin Kelenteng Leng Chun Keng, Kelenteng Makin Sai Che Tien dan Makin Kelenteng Hok Kheng Tong.

"Kami bergerak dari satu kelenteng ke kelenteng lain untuk memeriahkan malam Cap Go Me.” Selama Orde Baru berkuasa, komunitas etnis Tionghoa dilarang mengekspresikan kebudayaan mereka. ”Jangankan bikin kirab, pasang hio di depan rumah saja dilarang,” ujar The Po Lai, Sekretaris Makin Sai Che Tien.

Setelah Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melepas kekangan itu, etnis Tionghoa pun bebas mengekspresikan tradisi dan kebudayaan mereka, termasuk menggelar kirab budaya cap go me. Dengan adanya perayaan cap go me, kata Po Lai, kelenteng menjadi semarak. (Romy)

Makin Hok Kheng Tong Lakukan Sembahyang Goan Siao Cui

JAMBI – Perayaan Cap Go Me merupakan rangkaian upacara sembahyang terakhir dari tahun baru Imlek, pada hari itu keluarga yang merayakan kembali menggelar sesaji di altar abu leluhur, maupun di klenteng. Sesaji untuk acara Cap Go Me lebih sederhana bila dibandingkan saat tahun baru Imlek.
Di Kelenteng Hok Kheng Tong Jambi, siang tadi (24/2), mengadakah sembahyang bersama menyambut datangnya Cap Go Me yang dipimpin oleh Rohaniawan Matakin Provinsi Jambi, The Lien Teng.

Bagaimana perayaan Cap Go Me di Jambi,? pesta goan siao di Jambi selain pawai Lampion atau Tanglung, atraksi barongsai, liong dan arak-arakan kim sin para suci shen ming (patung dewa) keliling kampung-kampung, namun sebelum acara tersebut dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan sembahyang Goan Siao di Makin Kelenteng Hok Kheng Tong.

Ketua Matakin Provinsi Jambi, menyampaikan pesan kepada seluruh umat Khonghucu di Jambi agar tidak usah ragu-ragu lagi untuk melakukan sembahyang di Kelenteng-Kelenteng, maupun melakukan pemberkatan Pernikahan di Kelenteng, karena Khonghucu kini sudah setara dengan agama lain di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Repubrik Indonesia Nomor 55 tahun 2007, bahwa tempat ibadah umat Khonghucu adalah Miao, Littang dan Kelenteng adalah tempat ibadah, pendidikan agama umat Khonghucu, maka dengan ini kami sangat mengharapkan agar di Provinsi Jambi tidak ada Sinkretisme/ pengabungan beberapa agama. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 jo Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/ atau Penodaan Agama (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 3, Tambahan Negara Republik Indonesia Nomor 2727). Selain itu bagi umat Khonghucu yang KTPnya masih beragama lain dapat segera mengantikan dengan KTP Khonghucu.

Disamping itu bagi umat Khonghucu di Provinsi Jambi yang anaknya masih sekolah di sekolah-sekolahan sudah dapat pendidikan keagaman mulai dari SD hingga SMA dan saat ini di Provinsi Jambi telah berdiri 9 Kelenteng yang menjadi MAKIN dan ada puluhan lainnya segera mengajukan SK ke MATAKIN Pusat.

Selain itu, kami harapkan kepada umat Khonghucu di Provinsi Jambi jika ada oknum yang melakukan intimidasi maupun mengancam, segera melaporkan kepada Matakin Provinsi Jambi maupun Matakin Kota Jambi.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, Matakin Provinsi Jambi dan Kota Jambi mengajak para pengusaha dan umat Khonghucu Jambi agar dapat mengulurkan tangan untuk membantu saudara-saudara kita yang tengah mengalami musibah kebanjiran di Provinsi Jambi dan kota Jambi, bantuan dalam bentuk dana maupun kebutuhan sehari-hari.

Sebelum kami akhiri, perkenankanlah kami menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada mantan Presiden RI yang ke empat, Almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang telah mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967. ditindaklanjuti Presiden RI ke lima, Ibu Megawati Soekarnoputri mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang isinya menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Serta Peraturan Pemerintah Repubrik Indonesia Nomor 55 tahun 2007, bahwa tempat ibadah umat Khonghucu adalah Miao, Littang dan Kelenteng, maka dengan ini kami sangat mengharapkan agar di Provinsi Jambi tidak ada Sinkretisme/ pengabungan agama. Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 jo Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/ atau Penodaan Agama (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 3, Tambahan Negara Republik Indonesia Nomor 2727).  (Romy)

Para Shen Ming Bertemu Untuk Merayakan Malam Cap Go Me

JAMBI, ayojambi.com - Puluh roh suci (shen ming) akan berkumpul di Kelenteng Makin Hok Kheng Tong malam ini (24/2), Mereka akan ambil bagian dalam arak-arak sepanjang jalan raya. Inilah merupakan tradisi etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu atas jasa mantan Presiden RI yang ke empat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967. Inpres yang dikeluarkan oleh Soeharto ketika awal berkuasa pada tahun 1967 itu melarang kaum Tionghoa merayakan pesta agama dan adat istiadat di depan umum dan hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga.
Gus Dur mencabut larangan inpres itu karena dianggap diskriminatif padahal perlembagaan negara UUD 1945 menjamin perlindungan semua warga. Kalau yang lain bisa ke masjid, gereja, atau ke makam untuk ziarah, kenapa orang Tionghoa tidak boleh ke kelenteng? demikian alasan Gus Dur. Setelah Gus Dur mencabut inpres tersebut, Megawati presiden selanjutnya mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang isinya menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Malam ini di Jalan Pangeran Diponegoro Kota Jambi akan menjadi lautan manusia, Minggu (24/2/2013). Ribuan orang bersukacita menyaksikan atraksi arak-arakan para roh suci (shen ming) yang turun dari berbagai kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) disertai tarian Barongsai dan Liong (naga). Inilah kirab ritual yang digelar Makin Kelenteng Leng Chun Keng, Kelenteng Makin Sai Che Tien dan Kelenteng Makin Hok Kheng Tong.

"Kami bergerak dari satu kelenteng ke kelenteng lain untuk memeriahkan malam Cap Go Me.” Selama Orde Baru berkuasa, komunitas etnis Tionghoa dilarang mengekspresikan kebudayaan mereka. ”Jangankan bikin kirab, pasang hio di depan rumah saja dilarang,” ujar The Po Lai, Sekretaris Makin Sai Che Tien.

Setelah Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melepas kekangan itu, etnis Tionghoa pun bebas mengekspresikan tradisi dan kebudayaan mereka, termasuk menggelar kirab budaya cap go me. Dengan adanya perayaan cap go me, kata Po Lai, kelenteng menjadi semarak. (Romy)

Sabtu, Februari 23, 2013

Tiga Makin Akan Meriahkan Kirap Cap Go Meh di Kota Jambi

JAMBI – Tiga Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) di Kota Jambi akan meriahkan Malam Perayaan Cap Go Meh yang akan digelar besok (6/2/2013), selain kirab roh suci shen ming (dewa) ada juga pertunjukan barongsai dan liong dalam Festival malam Cap Go Meh di Jalan Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.
Tahun ini diperkirakan pengunjung yang ingin menyaksikan Festival Cap Go Meh akan mencapai ribuan orang, masyarakat akan datang untuk melihat langsung di pawai.

Sehari sebelum perayaan malam Cap Go Meh yang akan digelar Tiga Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kota Jambi, pagi tadi bertempat di Makin Kelenteng Hok Kheng Tong diadakan sembahyang dihadapan altar Tie Kong (Tuhan), upacara tersebut dipimpin Pembina Khonghucu, Lim Tek Chong dari China.

Setiap tahun sebelum perayaan malam Cap Go Meh, Makin Kelenteng Hok Kheng Tong senantiasa melakukan sembahyang dihadapan Tie Kong (Tuhan) dengan membaca So Bun (baca pemberitahuan) kepada Tio Kong sekaligus mengundang kehadiran para roh suci shen ming.

Seusai itu, para pengurus mempersiapkan berbagai perlengkapan untuk perayaan Cap Go Meh esok (24/2), selain itu di Makin Sai Che Tien dan Makin Leng Chun Keng juga telah mempersiapkan berbagai keperluan perayaan.

Besok sore masing-masing kelenteng, diantaranya pemindahan Kim Sin (patung roh suci) dinaikan ke kursi tandu (joli). Selain itu ada tradisi tang ki tolak penolak bala yang dikenal dengan sebutan tatung, serta parade lampion, arak-arakan umbul-umbul dari masing Makin dengan rute Koni IV melintasi Jalan Pangeran Diponegoro-Koni I-Kelenteng Cheng Hong Lao dan kembali ke kelenteng Hok Kheng Tong (pusat perayaan cap go meh). festival malam Cap Go Meh juga dimeriahkan pesta kembang api di masing-masing kelenteng.

Menurut jadwal acara besok, sekitar pukul 17.30 peserta festival mendatangi Makin Hok Kheng Tong diiringi tandu (joki) roh suci shen ming dan kitong/ tatung yang telah dirasuki roh shen ming dari masing-masing kelenteng. Setelah karvanal dimulai, masyarakat akan dihibur oleh 2 biduanita dari Kepulauan Riau (Batam). Romy

Minggu, Februari 10, 2013

Imlek Memberi Makna Kesatuan dan Kerukunan

Bupati Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Zumi Zola yang hadir bersama istrinya Sherin di open house Imlek yang digelar pengusaha Robin mengatakan, sangat bahagia dapat bertemu dengan seluruh masyarakat yang hadir di kegiatan tersebut. "Ini adalah wujud dari kerukunan dalam masyarakat, silaturahmi di tengah masyarakat harus terus dilestarikan dan dijaga," ungkapnya kepada Tribun, Minggu (10/2).
Zumi menambahkan, bahwa Imlek memiliki nilai yang berharga, karena dengan adanya Imlek telah memberi makna kesatuan dan kerukunan. "Ini bukti tidak adanya perpecahan karena suku di tengah-tengah masyarakat. Lihatlah semuanya duduk satu meja dan menyantap makanan yang sama, " ujarnya.

http://jambi.tribunnews.com/2013/02/10/zumi-zola-imlek-memberi-makna-kesatuan-dan-kerukunan

Barongsai Jambi Dari Rumah Ke Rumah

JAMBI - Perayaan Tahun Baru Imlek 2564 di Jambi dimeriahkan oleh atraksi barongsai dari Perkumpulan Hok Liong Sai Jambi. Uniknya atraksi tersebut dilakukan dari rumah ke rumah.
Atraksi dari rumah ke rumah yang digelar Minggu (10/2/2013) pagi, tersebut disambut antusias warga Tionghoa. Tidak sedikit warga memberikan angpao setiap barongsai menyambangi mereka. Aksi memukau dari barongsai ini juga menghibur warga etnis lain.

Di Jambi, atraksi barongsai setiap Imlek merupakan sebuah tradisi dan sebagai lambang pembauran warga Jambi. Aksi ini terbukti mampu menghibur warga non Tionghoa.

Para pemain barongsai dengan lincah melompat sambil menggerakkan kepala barongsai dengan iringan tabuhan gong khas Tionghoa.

Setiap barongsai dihiasi jumbai-jumbai agar tampak menarik dengan aneke warna, seperti hijau, merah, kuning dan lainnya, sedangkan pemainnya juga mengenakan pakaian khusus dengan warna yang sama dengan barongsai yang mereka mainkan.

Pertunjukan barongsai tersebut juga bukan sekedar menghibur warga, tetapi mengandung makna doa selamat bagi penghuni rumah yang dikunjunginya sehingga lebih sukses di tahun yang baru dan barongsai dipercayai masyarakat Tionghoa sebagai sarana menolak bala/ bencana.

"Menurut kepercayaan Tionghoa, kunjungan barongsai ke rumah-rumah warga itu merupakan ritual menolak bala bencana," (Romy)

Imlek Perayaan Agama yang Sudah Membudaya

JAMBI - Imlek tidak hanya dirayakan umat Khonghucu, tetapi juga kebanyakan warga keturunan Tionghoa di berbagai belahan dunia. Di dalamnya terkandung nilai-nilai religi dan sosial yang begitu kental, berbagai macam aksesori berwarna merah menyala, seperti lampion, lilin, hio, barongsai, pohon jeruk yang dihiasi angpau banyak dijumpai di super market, mini market dan toko-toko, asesoris tersebut untuk menyemarakan Tahun Baru Imlek yang tahun ini jatuh pada 10 Februari 2013.
Bagi masyarakat Tionghoa di belahan dunia mana pun, Imlek atau Tahun Baru China merupakan perayaan yang begitu di-nanti-nantikan. Betapa besar arti Imlek bagi mereka, tidak sekadar sebagai sarana perenungan untuk memperbaiki diri, tetapi juga momen yang paling afdol untuk memohon kehidupan yang lebih baik kepada Sang Pencipta, serta mendoakan para leluhur. "Kalau ada kekurangan dan kesalahan diperbaiki dan kalau ada keburukan sebaiknya dibuang.,"

Umumnya warga Tionghoa menjadikan Imlek sebagai momentum introspeksi diri dan pengharapan untuk nasib yang lebih baik pada masa depan. Menurut sejarahnya, tradisi merayakan Imlek yang tahun ini menginjak tahun ke-2564 itu telah dimulai sejak zaman Dinasti Han pada 551 sebelum masehi (SM). Pada masa itu agama Khonghucu diakui sebagai agama negara.

Karena itu, tidak heran jika Imlek kemudian meluas tidak hanya sebagai perayaan keagamaan tetapi juga menjadi budaya masyarakat Tionghoa, makna itu menyangkut berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Pada perayaan hari besar itu warga Tionghoa memanfaatkannya untuk merekatkan kembali jalinan kekeluargaan. Anggota-anggota keluarga yang tinggal saling berjauhan biasanya berkumpul bersama untuk merayakan Imlek.

Biasanya warga merayakan Imlek dengan ritual sembahyang dan makan bersama. Doa-doa yang dipanjatkan tidak lepas dari permohonan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik (layak) pada masa mendatang. Tak kalah penting adalah acara saling bersilaturahmi dan berkunjung ke rumah sanak saudara dan tetangga terdekat.

Biasanya pada momen imlek itu orang yang lebih tua memberikan angpau kepada mereka yang lebih muda atau belum menikah. Beragam kue tradisional khas China juga disajikan sebagai pelengkap kemeriahan Tahun Baru Imlek.

Perayaan Imlek yang kerap dimeriahkan pula dengan berbagai atraksi-atraksi seni tradisional China seperti barongsai, liong (naga), wushu, wayang China (potehi), Imlek ditutup dengan perayaan malam Cap Go Meh. (Romy)

Imlek Diwarnai Pembagian Angpao

JAMBI - Minggu (10/02) suasana perayaan tahun baru Imlek 2564, atau yang lebih dikenal dengan tahun baru Imlek bagi umat Khonghucu berlangsung berlangsung meriah. Nampak sejumlah kegiatan dipusatkan di kelenteng (bio-bio), yang juga diwarnai dengan pembagian angpao.
Sesuai dengan inti ajaran Khonghucu adalah cinta kasih dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui momen ini umat diajak untuk mengembangkan rasa cinta kasih terhadap sesama. Begitu juga dengan cinta kasih kepada lingkungan hidup. “Untuk itu ciptakan suasana kehidupan yang harmonis kepada saudara-saudara dan tetangga-tetangga kita agar tercipta susana yang rukun dan damai.”

Cinta kasih menurutnya tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ungkapan saja. Tetapi juga dalam perbuatan kita, yaitu saling memberi pertolongan kepada orang lain, membantu sudara-sudara kita yang susah serta menghindari sifat kekerasan dan selalu menonjolkan kekuasaan.

Dimana menjelang satu hari tahun baru Imlek, pada Minggu (10/02) di berbagai kelenteng dan rumah-rumah, Umat Khonghucu melaksanakan sembahyang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa (Tien), dan juga melaksanakan sembahyang terhadap leluhur.

Untuk sembahyang leluhur dilaksanakan pada siang hari dan dilakukan di rumah masing-masing, tetapi ada juga yang di rumah abu. Adapun makna sembahyang ini adalah sebagai kelanjutan laku bakti dari anak-anak dan cucu-cucu keturunanya kepada orang tua mereka yang telah tiada.

“Sebab budi orang tua tidak mampu dibalas selama beliau-beliau masih hidup. Maka dilanjutkan dengan upacara sembahyang leluhur pada saat-saat hari raya atau pada hari-hari peringatan.”

Selanjutnya pada malam hari saat-saat menjelang hari tahun baru ada sembahyang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa (YME), untuk mengucap syukur atas rahmat perlindunganNya sepanjang tahun. Dan juga bermohon rahmat dan perlindunganNya sepanjang tahun yad yang tinggal beberapa saat akan kita masuki.

Dimana permohonan tersebut untuk pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. “Dan Secara umum sembahyang malam tersebut dilaksanakan di kelenteng-kelenteng maupun lithang serta secara pribadi dapat dilaksanakan di rumah masing-masing.”

Tradisi Angpao Di Tahun Baru Imlek

Sejak lama, warna merah melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa. Warna merah menunjukkan kegembiraan, semangat yang pada akhirnya akan membawa nasib baik.
Angpao sendiri adalah dialek Hokkian, arti harfiahnya adalah bungkusan/amplop merah. Sebenarnya, tradisi memberikan angpao sendiri bukan hanya monopoli tahun baru Imlek, melainkan di dalam peristiwa apa saja yang melambangkan kegembiraan seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain2, angpao juga akan ditemukan.

Angpao pada tahun baru Imlek mempunyai istilah khusus yaitu “Ya Sui”, yang artinya hadiah yang diberikan untuk anak-anak berkaitan dengan pertambahan umur/ pergantian tahun. Di zaman dulu, hadiah ini biasanya berupa manisan, bonbon dan makanan. Untuk selanjutnya, karena perkembangan zaman, orang tua merasa lebih mudah memberikan uang dan membiarkan anak-anak memutuskan hadiah apa yang akan mereka beli. Tradisi memberikan uang sebagai hadiah Ya Sui ini muncul sekitar zaman Ming dan Qing. Dalam satu literatur mengenai Ya Sui Qian dituliskan bahwa anak2 menggunakan uang untuk membeli petasan, manisan. Tindakan ini juga meningkatkan peredaran uang dan perputaran roda ekonomi di Tiongkok di zaman tersebut.

Angpao apakah disebut angpao di zaman dulu? Bagaimana bentuknya?
Tidak. Uang kertas pertama kali digunakan di Tiongkok pada zaman Dinasti Song, namun baru benar2 resmi digunakan secara luas di zaman Dinasti Ming. Walaupun telah ada uang kertas, namun karena uang kertas nominalnya biasanya sangat besar sehingga jarang digunakan sebagai hadiah Ya Sui kepada anak-anak.

Di zaman dulu, karena nominal terkecil uang yang beredar di Tiongkok adalah keping perunggu (wen atau tongbao). Keping perunggu ini biasanya berlubang segi empat di tengahnya. Bagian tengah ini diikatkan menjadi untaian uang dengan tali merah. Keluarga kaya biasanya mengikatkan 100 keping perunggu buat Ya Sui orang tua mereka dengan harapan mereka akan berumur panjang.

Jadi, dari sini dapat kita ketahui bahwa bungkusan kertas merah (angpao) yang berisikan uang belum populer di zaman dulu.

Pemberian angpao apakah punya makna tersendiri?
Orang Tionghoa menitik beratkan banyak masalah pada simbol-simbol, demikian pula halnya dengan tradisi Ya Sui ini. Sui dalam Ya Sui berarti umur, mempunyai lafal yang sama dengan karakter Sui yang lain yang berarti bencana. Jadi, Ya Sui bisa disimbolkan sebagai “mengusir/meminimalkan bencana” dengan harapan anak2 yang mendapat hadiah Ya Sui akan melewati 1 tahun ke depan yang aman tenteram tanpa halangan berarti.

Siapa yang wajib memberikan angpao dan berhak menerima angpao?
Di dalam tradisi Tionghoa, orang yang wajib dan berhak memberikan angpao biasanya adalah orang yang telah menikah, karena pernikahan dianggap merupakan batas antara masa kanak2 dan dewasa. Selain itu, ada anggapan bahwa orang yang telah menikah biasanya telah mapan secara ekonomi. Selain memberikan angpao kepada anak-anak, mereka juga wajib memberikan angpao kepada yang dituakan.

Bagi yang belum menikah, tetap berhak menerima angpao walaupun secara umur, seseorang itu sudah termasuk dewasa. Ini dilakukan dengan harapan angpao dari orang yang telah menikah akan memberikan nasib baik kepada orang tersebut, dalam hal ini tentunya jodoh. Bila seseorang yang belum menikah ingin memberikan angpao, sebaiknya cuma memberikan uang tanpa amplop merah.

Namun tradisi di atas tidak mengikat. Sekarang ini, pemberikan angpao tentunya lebih didasarkan pada kemapanan secara ekonomi, lagipula makna angpao bukan sekedar terbatas berapa besar uang yang ada di dalamnya melainkan lebih jauh adalah bermakna senasib sepenanggungan, saling mengucapkan dan memberikan harapan baik untuk 1 tahun ke depan kepada orang yang menerima angpao tadi. (Yahoogroups/ Budaya Tionghoa)

Turun Hujan, Tidak Menghalangi Open House Bagi Keluarga Robin

JAMBI – Hujan menyirami Kota Jambi sejak tengah malam (10/2) hingga siang tidak menjadi penghalang ribuan anak yatim, yatim piatu, panti penyandang cacat dan para penghuni panti jompo untuk menikmati Tahun Baru Imlek 2564 bersama keluarga besar Robin di Kabupaten Muarojambi.

Imlek tahun ini sangatlah meriah, dimana terdapat seorang pengusaha muda dari dok kapal PT. Naga Cipta Centralpagi melakukan open house bersama ribuan anak dan orangtua yang kurang beruntung selain lakukan open house keluarga Robin juga melakukan bagi-bagi ribuan angpao kepada anak yatim piatu, anak panti asuhan, anak penyandang cacat dan panti jompo di Talang Duku, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.

Beginilah suasana Imlek di keluarga besar Robin, pengusaha dok kapal di Jambi. Ribuan anak yatim piatu dan penyandang cacat, ikut serta menikmati kebahagiaan, sebagaimana orang tionghoa merayakan Imlek 2564.

Panti asuhan yang tampak hadir, diantaranya dari, Panti Asuhan Penyandang Cacat “Teratai Jaya”, Jalan Sersan Muslim RT. 24, Kelurahan The Hok, Kecamatan Jambi Selatan, kota Jambi, Panti Sosial Asuhan Anak Alyatama Jambi (PSAA), Jalan Sultan Hasannudin RT. 25, No. 03, Kelurahan Talang Bakung, Kecamatan Jambi Selatan, kota Jambi, Panti Asuhan Yayasan Kesejahteraan Anak (YKA), Jalan Sersan Syahwal, RT. 03, No. 103 Paal Merah Jambi dan Panti Asuhan Ainul Yakin, Jalan Batam, RT. 25, Kelurahan Lobak Bandung, Kecamatan Jelutung, kota Jambi dan panti Jompo Budi Luhur, kelurahan Paal V, Kecamatan Kota baru. Selain berbagi dengan orang tidak mampu, ini juga bertujuan untuk berbagi rezeki dengan sesama insan yang kurang mampu dan agar mereka bisa menikmatinya.
Tahun ini tidak terjadi desak-desakan seperti tahun lalu, mereka dijemput dari panti asuhan dengan bus besar, setelah selesai open house mereka diantar kembali ke panti, ribuan anak panti menikmati aneka hidangan yang beraneka ragam rasa, mulai dari es krim, es tebu, tekwan, martabak India, pempek, nasi lengkap dengan lauk pauk dan buah-buahan.

Usai makan bersama, satu persatu mereka menerima angpau atau amplop merah ysng berisi uang kertas yang sudah disiapkan keluarga besar Robin, dihari yang berbahagia ini.

Eko, salah seorang penyandang cacat, mengaku gembira dapat menerima angpau yang kedua kalinya dari keluarga Robin.

Sebelum membubarkan diri, ribuan anak yatim piatu dan penyandang cacat, disuguhi tarian barongsai yang sedang atraksi dan juga dihibur organ tunggal.

Bupati Tanjung Jabung Timur, Zumi Zola hadiri Imlek 2564 di Keluarga Robin beserta istri, Sherin. dalam moment ini menyumbangkan sebuah lagu yang berjudul "Yesterday", aplous pengunjung sangat meriah ketika keduanya menaiki panggung yang disediakan oleh panitia kegiatan.

Menurut Charles tahun Ular Air “Pada tahun ini mendapatkan keberkahan, kehidupan antar umat beragama dan bisa saling bahu membahu serta tidak melukai umat lain demi mewujudkan kedamaian di Jambi. Ujar Cherles. Sampai berita ini diturunkan, open house masih tetap berlangsung.

Umat Khonghucu Sembahyang Imlek Di Kelenteng

JAMBI - Ratusan warga keturunan Tionghoa yang beragama Khonghcu di Jambi melakukan sembahyang bersama menyambut tahun Imlek 2564 yang jatuh pada 10 Februari 2013 (Cia Gwe Ciu It) yang digelar di Kelenteng-Kelenteng Kota Jambi (10/2-2013).
Warga keturunan Tionghoa yang beragama Khonghucu di berbagai Provinsi Jambi tampak khusyuk mengikuti sembahyang Imlek 2564 baik di kelenteng-kelenteng, Littang maupun di rumah masing.

Cahaya lilin yang mereka nyalakan sejak Minggu (10/2) dini hari pun menambah kekhusyukan dalam melaksanakan sembahyang guna mengucap syukur atas karunia yang diberikan Thian Kong (Tuhan) dan para Kongco (para roh suci) selama setahun lalu dan berharap agar di tahun baru nanti senantiasa diberi karunia yang baik.

Ratusan warga keturunan Tionghoa yang berasal dari berbagai wilayah di kota Kota Jambi ini mengikuti sembahyang di Kelenteng Siu San Teng, kawasan kampung manggis Jambi.

Yanta mengatakan, sembahyang bersama ini ditujukan untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Mahaesa atas limpahan rahmat yang telah diberikan selama ini.

"Selain itu, sembahyang ini juga ditujukan untuk memohon keselamatan dan rezeki kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini, warga yang pekerja tentunya berharap supaya sukses dalam pekerjaannya, yang berdagang memohon agar dagangannya laris," katanya.

Disinggung mengenai di tahun Imlek 2564 yang merupakan tahun Ular Air, dia enggan memberikan komentar. "Kalau masalah itu, jangan tanyakan saya. Karena masing-masing memiliki penafsiran yang berbeda-beda," jelasnya.

Namun demikian, ? Yanta mengatakan, saat ini yang diharapkan agar bangsa Indonesia bisa terhindar dari berbagai bencana, sehingga masyarakat dapat mencari nafka sesuai dengan bidang masing-masing dan diharapkan juga masyarakat bisa lebih mawas diri. (Romy)

Sabtu, Februari 09, 2013

Makna Hari Raya Imlek (#3-habis)

Angpau adalah amplop berwarna merah didalamnya berisi uang, biasanya uang yang masih baru dan terdiri dari 2 lembar. Uang tersebut digunakan untuk modal kerja, untuk keperluan sekolah, membeli sesuatu yang dicita-citakan dan sebagainya. Pada hari raya Imlek apabila keadaan memungkinkan bisa memasang mercon menunjukkan kegembiraan karena rejekinya meledak, bagi keluarga yang mampu dapat dirayakan dengan mengundang barongsai ( wushi atau xingshi ) untuk disaksikan sanak saudara dan kerabat yang datang berkunjung ke rumah. Mengundang barongsai mempunyai makna mengundang rejeki, menolak bala.
Tari liong (wulong) atau barongsai pada mulanya adalah prosesi pengurusan bala, saat ini sudah bergeser sebagai pertunjukkan kesenian yang tinggi mutunya yang patut ditonton bahkan telah dipertandingkan di tingkat Internasional.

Pada tanggal 8 malam, bagi umat Khonghucu dan penganut kepercayaan tradisional, menyelenggarakan sembahyang Tie Kong (Tuhan). Perayaan dan tradisi kunjung berkunjung berlangsung sampai dengan tanggal 15 dan pada malam 15 diadakan pesta capgo meh (yuan xiao jie). Pada perayaan cap go meh rumah-rumah memasang lampion warna warni, diselenggarakan juga karnaval dan hiburan panggung, kaum muda mudi keluar rumah membeli makanan, melihat lampion dan lain-lain. Makanan yang khas pada hari ini adalah lontong cap go meh.

Setelah pesta cap go meh selesai, maka acara kunjung mengunjungi selesai, masyarakat kembali lagi mengerjakan pekerjaannya untuk 1 tahun lamanya, khusus bagi petani, saat ini adalah momentum yang tepat untuk mulai bertanam, menabur bibit ikan bandeng dan lain-lain. Kaum pedagang mulai giat dengan usahanya, karena tahun sudah berganti, rejekipun berubah dan meningkat. Sekian

Makna Hari Raya Imlek (#2)

Menyambut hari raya Imlek biasanya tiap keluarga membersihkan rumah terutama pada bagian dapur karena dapur merupakan bagian dari rumah yang berjasa dalam memberi kehidupan rumah tangga. Orang tua menyiapkan pakaian baru untuk anak-anaknya dan juga untuk pembantu, sopir dan pekerja lainnya di rumah.
Menyiapkan makanan, kue, kolang-kaling, agar-agar, manisan, lauk pauk, daging, ikan bandeng dan buah-buahan termasuk kue Cina atau kue keranjang. Kue ini biasanya dikirim juga kepada orang tua, mertua, paman atau orang yang dituakan sebagai rasa hormat.

Tiga hari sebelum hari raya Imlek, didaerah pemukiman masyarakat Tionghoa biasanya diadakan pasar malam, dimana diperjual belikan keperluan hari raya baik untuk sembahyang maupun makan.

Rumah tangga tidak menyapu didalam rumah, maknanya agar rejeki tidak terbuang, juga mempunyai makna walaupun hanya sapu tetap perlu istirahat satu hari dalam satu tahun. Apabila terpaksa harus menyapu, maka sampahnya tidak dibuang sampai hari kedua Imlek.

Tepat hari raya Imlek semua berpakaian baru dan rapi, anak-anak memberi hormat dengan cara adat Tionghoa (pai-pai) pada orang tua, kakek, nenek, kemudian pada kakaknya dengan ucapan selamat panjang umur, murah rejeki dan lain-lain. Pembantu dan pekerja di rumah juga mengucapkan selamat pada majikannya, orang tua memberi angpau (hong bau) pada anak-anak dan pada pekerja di rumah, kepada anak-anak didoakan dan diberi nasehat agar rajin belajar, pandai, enteng jodoh dan lain-lain.

Selanjutnya makananpun dihidangkan, setelah selesai makan maka keluarga menuju ke rumah orang tua atau orang yang dituakan untuk menyampaikan ucapan selamat. Makanan, kue-kue kecil, agar-agar, manisan dan lain-lain disiapkan dimeja untuk menjamu tamu yang datang berkunjung. Makanan yang dihidangkan masing-masing mempunyai maknanya antara lain : buah atep ( kolang kaling ) agar kehidupan mantep, manisan cerme agar tokonya reme, agar-agar berbentuk bintang agar rejeki dan kariernya terang seperti bintang, kue keranjang berarti tidak kekurangan sesuatu dan apabila tamu tersebut membawa anak, maka anak tersebut diberi angpau (hong bao) juga.
Sambung....3 habis