Tampilkan postingan dengan label Tahun Baru Imlek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tahun Baru Imlek. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 08, 2016

Hujan Mengguyur Kota Jambi Tidak Menghalangi Warga Sembahyang Imlek Di Kelenteng Siu San Teng

 
JAMBI, ayojambi.com - Ratusan warga keturunan Tionghoa Jambi melakukan sembahyang bersama menyambut tahun Imlek 2567/ 2016 yang jatuh pada 8 Februari 2016 (Cia Gwe Ciu It) di Kelenteng Siu San Teng “寿山亭”Jambi.

Warga keturunan Tionghoa di Kota Jambi tampak khusyuk mengikuti sembahyang Imlek 2567 baik di Kelenteng-kelenteng maupun di Vihara-vihara.
Seperti di Kelenteng Siu San Teng, ribuan cahaya lilin yang dinyalakan sejak Senin (8/2-2016) dini hari pun menambah kekhusyukan dalam melaksanakan sembahyang guna mengucap syukur atas karunia yang diberikan Thian “上帝” (Tuhan) dan Kongco (roh suci) Fuk Tek Cen Sen 福德正神 yang selama setahun dan berharap agar di tahun baru ini senantiasa memberikan karunia yang baik.

Ratusan warga keturunan Tionghoa yang berasal dari berbagai wilayah di kota Kota Jambi ini mengikuti sembahyang di Kelenteng Siu San Teng, yang berada di kawasan kampung manggis Jambi.

"Selain itu, sembahyang ini juga ditujukan untuk memohon keselamatan dan rezeki kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini, warga yang pekerja tentunya berharap supaya sukses dalam pekerjaannya, yang berdagang memohon agar dagangannya laris."

Mengenai di tahun Imlek 2567 yang merupakan tahun Monyet Api Ramalan untuk Shio Kambing di tahun 2016 memperkirakan bahwa prospek pengembangan kehidupan Anda akan cerah di tahun 2016; namun Anda harus menggunakan kemampuan dan rasa optimisme Anda untuk mencapai keuntungan itu. Tetap berfokus pada tujuan Anda semula, diiringi dengan kesabaran pada tahun 2016 ini.

Namun demikian, Robin mengatakan, saat ini yang diharapkan agar bangsa Indonesia bisa terhindar dari berbagai bencana, sehingga masyarakat dapat mencari nafka sesuai dengan bidang masing-masing dan diharapkan juga masyarakat bisa lebih mawas diri. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Kamis, Februari 19, 2015

Imlek 2566 Kongzeli, Barongsai Kunjungi Rumah Warga

 
 
JAMBI, ayojambi.com – Perayaan Tahun Baru Imlek 2566 Kongzeli rasanya kurang bila tanpa adanya atraksi Barongsai [Lihat Gambar: Barongsai].
Untuk menyemarakkan tahun baru Imlek ke 2566 tahun ini, atraksi Barongsai dari perkumpulan Hok Liong Sai dan Yayasan Kesejahteraan Sentosa (YKS) di kota Jambi tidak hanya dapat dinikmati di kelenteng-kelenteng atau pusat perbelanjaan saja, tetapi juga dirumah-rumah. Selain menjemput angpau, atraksi barongsai juga menyimpan makna religius, yakni dipercayai dapat mengusir segala roh jahat dan mendatangkan keberuntungan (rejeki).

Selain dapat menjumpai berbagai pernak pernik imlek dirumah warga, atraksi Barongsai  dijalanan juga menjadi hiburan tersendiri bagi warga masyarakat.

Perkumpulan Barongsai yang diberi nama Hok Liong Sai di kota Jambi, sejak pagi tadi mendatangi rumah-rumah warga untuk menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru Imlek 2566 Kongzeli.

Atraksi tersebut sangat ditunggu oleh warga Tionghoa yang merayakan imlek, juga merupakan hiburan tersendiri bagi masyarakat menyaksikannya. Liuk-liuk dan tarian yang digerakan pemain barongsai membuat siapa saja yang menyaksikan akan tersa kagum.

Seperti kata Rudi Lidra dan Berlianta Eliamsya (Lie Tjin Hai), setiap tahun rumahnya selalu dikunjungi rombongan Barongsai, karena Rudi dan Berlianta Eliamsya mempercayai bahwa Barongsai sarat dengan pesan-pesan religius dan yakni dapat mengusir segala roh jahat dan mendatangkan keberuntungan, “setiap tahun baru imlek, rombongan barongsai selalu datang kerumah-rumah warga untk menyampaikan ucapan selamat tahun baru imlek dan sekaligus untuk mengusir segala roh jahat dan mendatangkan keberuntungan.” (Romy)
* www.ayojambi.com/

Umat Khonghucu Sembahyang Imlek Di Kelenteng Siu San Teng Jambi

 
JAMBI, ayojambi.com - Ratusan warga keturunan Tionghoa yang beragama Khonghucu di Jambi [Lihat Gambar: Sembahyang Imlek 2566] melakukan sembahyang bersama menyambut tahun Imlek 2566 Kongzeli yang jatuh pada 19 Februari 2015 (Cia Gwe Ciu It) yang digelar di Kelenteng-Kelenteng Kota Jambi (19/2-2015).
ngikuti sembahyang Imlek 2566 baik di kelenteng-kelenteng, Littang maupun di rumah masing-masing.

Cahaya lilin yang mereka nyalakan sejak Minggu (19/2) dini hari pun menambah kekhusyukan dalam melaksanakan sembahyang guna mengucap syukur atas karunia yang diberikan Thian Kong (Tuhan) dan para Kongco (para roh suci) selama setahun lalu dan berharap agar di tahun baru nanti senantiasa diberi karunia yang baik.

Ratusan warga keturunan Tionghoa yang berasal dari berbagai wilayah di kota Kota Jambi ini mengikuti sembahyang di Kelenteng Siu San Teng, kawasan kampung manggis Jambi.

Tina mengatakan, sembahyang bersama keluarga ini ditujukan untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat yang telah diberikan selama ini, kata Tina pelajar yang menuntut ilmu di negara jiran (Malaysia).

"Selain itu, sembahyang ini juga ditujukan untuk memohon keselamatan dan rezeki kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini, warga yang pekerja tentunya berharap supaya sukses dalam pekerjaannya, yang berdagang memohon agar dagangannya laris," katanya.

Mengenai di tahun Imlek 2566 yang merupakan tahun Kambing Kayu, manusia harus bersabar, karena setiap kali kita menanam, belum tentu bisa panen langsung, kita mestu menunggu 6 bulan kemudian.

Namun demikian, Robin mengatakan, saat ini yang diharapkan agar bangsa Indonesia bisa terhindar dari berbagai bencana, sehingga masyarakat dapat mencari nafka sesuai dengan bidang masing-masing dan diharapkan juga masyarakat bisa lebih mawas diri. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Kamis, Februari 14, 2013

Makin Kelenteng Sai Che Tien Gelar “Po Un”

JAMBI – Mulai hari ini Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien menggelar Po Un (memperbaiki nasib). Po Un sudah menjadi tradisi bagi etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu. Meski ada perbedaan tata cara pelaksanaannya di masing-masing kelenteng, namun tujuanya sama yakni untuk memperbaiki nasib satu tahun kedepan.
Menurut Rohaniawan Majelis Tinggi Agama Khonghucu (MATAKIN) Provinsi Jambi, The Lien Teng  di Kelenteng Majelis Agama Khonghucu (MAKIN) Sai Che Tien di Jalan Koni 4, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Rabu (13/2-2013) pagi,  prosesi Po Un bisa dilakukan setelah shen ming turun dari langit, cia gwek ce shi (tanggal 4 bulan 1 penanggalan imlek).  “Po Un ini bertujuan untuk memohon berkah  dan memperbaiki nasib di tahun ular air, setiap peserta Po Un cukup membawa pakaian sehari-hari digunakan baik miliknya maupun anggota keluarga yang hendak mengikuti prosesi Po Un,”kata Lien Teng.

Dikatakannya, “Po Un” merupakan tradisi yang telah mendarah daging dikalangan etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu.” Jadi, bagi umat Khonghucu selalu menggelar ritual tersebut di kelenteng. katanya.
Dari beberapa ritual Po Un yang telah dilakukan, kata Rohaniawan Matakin Jambi tentunya ada perbedaan antara ritual Po Un yang digelar kelenteng  dimasing-masing dengan kelenteng lainnya, namun semuanya tetap satu tujuan yakni memohon berkah,  keselamatan dan memperbaiki nasib.

Ritual ini, sambung Rohaniawan Matakin Jambi, etnis Tionghoa sejak ribuan tahun silam hingga sekarang masih mempertahankan ritual tersebut, saat ini warga Tionghoa tetap menggelar acara tersebut. Masing-masing orang yang dilahirkan memiliki chiong. Maka chiong inilah yang harus dicocokkan dengan shio setiap orang dan shio disetiap tahunnya.

“Ada beberapa shio yang bertentangan dengan shio Ular Air pada tahun 2013 ini. Maka, orang yang memiliki shio yang bertentangan tersebut harus ikut dalam ritual Po Un ini,” katanya.

Orang yang memiliki shio ada yang chiong dengan thai sui, go kui dan lainnya. Maka agar menghindari musibah ataupun kesialan pada tahun Ular air ini, maka mereka harus mengikut upacara Po Un dengan melakukan sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para roh suci shen ming yang terdapat di kelenteng dengan membawa sejumlah persyaratan (sesajen) untuk melewati rintangan tahun ini.

Sementara itu Aheng salah satu warga yang setiap tahun mengikuti prosesi Po Un mengatakan, ‘’Meski tidak chiong, terkadang setiap shio ada hal yang bersifat negatif. Maka, kami sekeluarga selalu mengikuti Po Un rutin tiap tahun. Disamping itu juga untuk berjaga-jaga biar tidak ketiban sial,” kata Aheng yang tinggal di Kawasan Koni ini.

Tahapannya biasanya seperti ini :
Semua persembahan diatas akan disusun diatas altar. 2. Lalu Rohaniawan akan menjalankan ritualnya, baca mantra sambil menggelilingi altar meliwati jembatan sebanyak 12 kali sambil menyebut kuwe ah (maksudnya liwatlah). Selanjutnya baju di stempel pada bagian pundak dan baju yang telah distempel ini nantinya akan dipakai yang bersangkutan selama 3 hari berturut, setelah itu, membakar semua kertas sembahyang yang udah di berkati dengan doa. Terakhir, Wajik (ketan), Mie Sua dan Telor dikasih warna merah dibawa pulang lalu dimasak dan dimakan bersama-sama, sedangkan kertas Hu (ada 2 jenis) yang agak besar untuk ditempelkan di pintu masuk rumah, yang agak kecil memanjang untuk dibawa (boleh letakan didalam dompet).

Mengenai biaya, lebih kurang Rp. 200.000 perkeluarga, peserta Po Un hanya membawa pakaian yang dipakai sehari-hari, sedangkan sesajian telah disediakan pihak kelenteng berdasarkan biaya yang dipungut oleh panitia.

1. Hio (gaharu) dan lilin merah.
2. Satu piring kecil untuk mie sua.
3. Satu mangkok wajik ketan.
4. Telor dikasih warna merah.
5. Satu set gambar orang-orangan terbuat dari kertas, terdiri dari laki-laki (ortu) wanita  (ibu) dan anak laki-laki maupun perempuan.
6. Semua kertas sembahyang ini. (poin 1-6 disediakan oleh pihak panitia). 
7. Nama yang bersangkutan berikut tanggal lahir, jam kelahiran untuk dibacakan oleh Rohaniawan.
8. Baju tiap-tiap anggota keluarga yang mau di Po Un.

Makna Po Un Dikalangan Umat Khonghucu

JAMBI - Tradisi Po Un sudah dilakukan jaman nenek moyang etnis Tionghoa sejak ribuan tahun silam (sebelum masehi) di China. Tradisi tersebut sampai detik ini masih tetap dimempertahankan warga Tionghoa yang beragama Khonghucu, maka setiap awal tahun baru Imlek di setiap kelenteng tetap menggelar acara tersebut. Po Un yang dimaksud adalah Po artinya melindungi dan Un artinya nasib (nasib baik). Biasanya hal ini dilakukan setelah para suci shen ming turun dari langit, Cia Gwek Ciu Shi (tanggal 4 bulan 1 penanggalan imlek). Mereka yang beragama Khonghucu mempercayai bahwa setiap orang yang lahir memiliki chiong / kias dari masing-masing shio. Maka chiong inilah yang harus disesuaikan dengan shio setiap orang dan shio setiap tahunnya berbeda-beda, seperti tahun ini jatuh pada tahun Ular Air yang chiong dengan Shio Ular Air adalah, shio Babi ciong Ular Air, shio Anjing ciong Tai Sui, shio Kambing ciong Song Un (tidak boleh menghadiri/ melihat mayat), Shio Ayam ciong Go Kui (Hantu), shio Kerbau ciong (Peh Houw/ Macan Putih), Kerinci ciong Thien Kauw (Anjing Langit).


Setiap tahun, prosesi Po Un dilakukan di Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien yang dipimpin langsung oleh pembina Khonghucu Jambi, Lim Tek Chong.

Proses Po Un dilakukan mulai tanggal Cia Gwek Ciu Shi (tanggal 4 bulan 1 penanggalan imlek) yang jatuh pada tanggal 13 Februari 2013.

Hampir disetiap kelenteng pada menggelar prosesi Po Un, ritual tersebut sudah menjadi salah satu tradisi rutin dilakukan warga Tionghoa yang menganut agama Khonghucu. Meskipun ada perbedaan dalam tatacara pelaksanaan di masing-masing kelenteng, namun tujuanya sama yakni untuk meminta keselamatan.


Po Un adalah salah satu tradisi yang telah menjadi darah daging dikalangan umat Khonghucu. Jadi, warga Tionghoa yang beragama Khonghucu selalu mengikuti ritual tersebut di kelenteng-klenteng setiap tahunnya. Ritual ini bertujuan untuk memohon keselamatan dan nasib baik kepada Tien (baca Tuhan), bagi yang ingin mengikuti prosesi Po Un, cukup dengan membawa pakaian bekas yang akan digunakan sehari-hari oleh umat yang bersangkutan.

Selanjutnya bahwa dari beberapa ritual yang telah dilakukan di kelenteng maupun tempat-tempat lainnya, semua itu ada perbedaan dalam pelaksanaan dari masing-masing penyelenggara (kelenteng). (Romy)

Rabu, Februari 13, 2013

Po Un Untuk Memohon Keselamatan

JAMBI - Hampir disetiap kelenteng menggelar prosesi Po Un, ritual tersebut sudah menjadi salah satu tradisi bagi warga Tionghoa. Tradisi tersebut sudah ada sejak jaman nenek moyang masyarakat Tionghoa, meskipun ada perbedaan dalam tatacara pelaksana di masing-masing kelenteng, ada yang hanya membawa pakaian lalu di stempel saja tanpa yang bersangkutan mengikuti ritual (asal-asalan yang penting bagi mereka adalah tanda jasa alias angpao), selain itu ada juga pihak ketiga yang tidak berkaitan mengikuti tradisi warga Tionghoa tanpa mengikuti etika.

Menurut Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) kelenteng “Sai Che Tien”, The Kien Peng (Darmadi Tekun), berlokasi di Rt. 02 Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, bahwa “Ritual ini bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Tie Kong (Tuhan) dan peserta yang hendak Po Un membawa pakaian yang akan digunakan oleh umat seusai mengikuti dalam ritual Po Un”.

Tambah Darmadi, “Po Un adalah salah satu tradisi yang telah mendarah daging dikalangan umat Khonghucu. Jadi, warga Tionghoa yang beragama Khonghucu selalu menggelar ritual tersebut di kelenteng-kelenteng setiap tahun”. katanya.

Pada hal tujuan Po Un, yakni memohon keselamatan kepada Penguasa Alam Semesta (Tuhan). “Ada beberapa shio yang bertentangan dengan shio Macan yang jatuh tepat pada 2013 ini. Maka, orang yang memiliki shio yang bertentangan tersebut harus ikut dalam ritual Po Un ini,” katanya.

Selanjutnya bahwa dari beberapa ritual yang telah dilakukan di kelenteng maupun tempat-tempat lainnya, semua itu ada perbedaan dalam pelaksanaan dari masing-masing penyelenggara (kelenteng).

Bahwa ritual tersebut sudah dilakukan sejak ribuan tahun silam (sebelum masehi) oleh umat Khonghucu di China. Sehingga untuk mempertahankan ritual tersebut, sampai saat ini warga Tionghoa tetap menggelar acara tersebut. Mereka percaya bahwa setiap orang yang lahir memiliki chiong/ kias dari masing-masing shio. Maka chiong inilah yang harus dicocokkan dengan shio setiap orang dan shio setiap tahunnya, seperti tahun ini jatuh pada tahun Ular Air, jadi yang chiong dengan shio Ular Air adalah shio Babi, terus shio Anjing ciong Tai Sui, shio Kambing ciong Song Un (tidak boleh menghadiri/ melihat mayat), shio Ayam ciong Go Kui (Hantu), shio Kerbau ciong (Peh Houw/ Macan Putih), Kerinci ciong Thien Kauw (Anjing Langit).
 
Dalam tradisi Tionghoa kuno dikenal sebuah upacara Po Un. Banyak kalangan salah tafsir dikira sama dengan Ci Suak. Padahal dua hal yang berbeda sama sekali. Po = menambah, Un =  energi, artinya Un Gie (menambah energi). Karena itu mestinya dilakukan hanya pada orang yang habis kena jiong (sengkala). (Romy)

Makin Sai Che Tien Gelar Upacara Po Un

JAMBIMajelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kelenteng Sai Che Tien yang beralamat di Jalan Pangeran Diponegoro, Lorong Koni IV, Rt. 01, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jetung, kota Jambi, di Kelenteng tersebut setiap tahun selalu mengelar upacara yang dikenal dengan sebutan Po Un, di kelenteng Sai Che Tioen terdapat sebuah Kim Sin (shen min) yang dikenal dengan sebutan “Hok Hie Te Sien” atau “Sien Kong”, shen ming tersebut juga dikenal sebagai dewa obat atau dewa pencipta Pat Kwa (8 Trigram).

Sejak Rabu (13/2) pagi, puluhan kepala rumah tangga atau yang diwakili salah satu keluarga hadir di kelenteng Makin Sai Che Tien untuk mengikut upacara Po Un yang dipimpin langsung oleh Rohaniawan Lim Tek Chong dari negara tirai bambu, Po Un tahun ini diikuti lebih kurang seratus kepala keluarga (kk) dan dilaksanakan dari 13 hingga 10 Februari 2013, bagi warga yang hendak Po Un sebelumnya harus mendaftarkan diri dengan cara memberikan nama-nama yang bersangkutan berikut data lain seperti tanggal lahir, jenis kelamin dan jam lahir, serta membawa baju satu lembar yang dipakai sehari-hari, sedangkan beberapa sesajen disediakan Makin Kelenteng Sai Che Tien, peserta Po Un wajib ikut dalam prosesi upacara, dapat diwakili oleh salah satu keluarganya.

Prosesi Po Un dimulai pukul 09.00 hingga pukul 15.00 dengan membaca nama, tanggal kelahiran, jam kelahiran dan shio yang bersangkutan dihadapan shin ming (baca dewa red) Hok Hie Te Sien atau Sien Kong terus mengelilingi altar shen ming sebanyak 12 kali putaran.

Menurut penuturan Lim Tek Chong, bahwa, “Manusia lahir, hidup dan meninggal merupakan takdir dari sang pencipta alam semesta, namun perjalanan seseorang maupun nasib seseorang tergantung dari perilakunya sehari-hari”, sedangkan prosesi Po Un adalah untuk membuang kiat atau sial yang terdapat pada diri yang bersangkutan.

Selanjutnya ujar Lim Tek Chong, perjalanan seseorang di tahun Ular Air, ada bulan yang baik dan ada pula bulan yang kurang baik, maka kita mesti memohon kepada Yang Maha Esa serta memohon agar para shin beng memberikan perlindungan dan memberikan berkah yang baik bagi keluarga maupun yang bersangkutan.

Tahun ini jatuh pada tahun Ular Air, yang chiong dengan shio Babi ciong Ular Air, shio Anjing ciong Tai Sui, shio Kambing ciong Song Un (tidak boleh menghadiri/ melihat mayat), Shio Ayam ciong Go Kui (Hantu), shio Kerbau ciong (Pe Ho/ Macan Putih), Kerinci ciong Tien Kao. (Romy)

Selasa, Februari 12, 2013

Atraksi Barongsai dan Liong Bagi Hadiah Di Mal Trona Jambi

JAMBI - Tiga ekor Barongsai (kucing barong) dan seekor Naga (liong), kemarin menghebohkan pusat perbelanjaan Trona Jambi di Jalan Jenderal Sudirman, Jambi. Barongsai berwarna merah, putih dan kuning berkeliling diantara stan-stan yang ada di pusat perbelanjaan tersebut.
Rombongan Barongsai didampingi Liong mengeliling ke setiap stan dari lantai dasar hingga ke lanta tiga diiringi musik pengiring. Ketiga Barongsai berlenggak-lenggok sambil memberikan hormat ketiap pengunjung Mal Trona Jambi dengan cara kepala Barongsai angguk-angguk. Selanjutnya, pengunjung bahkan anak-anak memasukan angpao ke mulut si Barongsai.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu acara yang rutin dilakukan di pusat perbelanjaan Trona Jambi untuk memeriahkan Tahun Baru Imlek 2564, Senin kemarin (11/2-2013). Sebelum mengelilingi mal, ketiga Barongsai dan Liong tersebut melakukan atraksi di depan pelataran mal.


Suara genderang ditabuh mengiringi Barongsai dan Liong pun bersemangat menghibur pengunjung mal yang sengaja datang untuk menyaksikan acara tahunan dan Barongsai menebarkan semangat Tahun Baru Imlek kepada seluruh pengunjung. Tidak sedikit pengunjung mal siang itu mengabadikan atraksi Barongsai dengan kamera hp maupun pengunjung membawa kamera poket.

Dengan antusias anak-anak pun saling berebut mendekati Barongsai yang sedang beraksi sambil mengikuti rombongan dari belakang.

Santi, salah satu pengunjung mal juga mengaku cukup terhibur. Sebab di lain mal menurut Santi tidak ada hiburan Barongsai dan Liong.

Selain itu melakukan atraksi-atraksi, Liong (naga) memberikan puluhan hadiah imlek kepada para pengunjung di pelataran mal, terlihat betapa bahagianya pengunjung yang bisa menyambut hadiah yang diuntalkan Liong kepada pengunjung, tak sedikit yang berebutan sesama pengunjung.

Kehadiran Barongsai dan Liong selain mengibur pelanggan mal, khususnya masyarakat Tionghoa mempercayai bahwa kesenian Barongsai dan Liong dapat mengusir aura buruk terhadap lingkungan tempat tinggal, kantor, kelenteng dan mal/ pusat perbelanjaan.

Konon ceritanya, ada beberapa versi sejarah Barongsai dimasa Dinasti Qing, di salah satu wilayah China ada monster yang mengganggu penduduk sehingga menimbulkan keresahan dan ketakutan dikalangan penduduk. Pada saat itulah muncul Singa (Barongsai) datang untuk menghalau monster tersebut. Akhirnya, monster kalah dan lari ketakutan.

"ternyata monster mau balas dendam dan masyarakat pada kebingungan, akhirnya mereka buat kostum menyerupai Barongsai seperti yang sering kita jumpai sekarang berhasil menyingkirkan monsternya." (Romy)

Minggu, Februari 10, 2013

Imlek Memberi Makna Kesatuan dan Kerukunan

Bupati Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Zumi Zola yang hadir bersama istrinya Sherin di open house Imlek yang digelar pengusaha Robin mengatakan, sangat bahagia dapat bertemu dengan seluruh masyarakat yang hadir di kegiatan tersebut. "Ini adalah wujud dari kerukunan dalam masyarakat, silaturahmi di tengah masyarakat harus terus dilestarikan dan dijaga," ungkapnya kepada Tribun, Minggu (10/2).
Zumi menambahkan, bahwa Imlek memiliki nilai yang berharga, karena dengan adanya Imlek telah memberi makna kesatuan dan kerukunan. "Ini bukti tidak adanya perpecahan karena suku di tengah-tengah masyarakat. Lihatlah semuanya duduk satu meja dan menyantap makanan yang sama, " ujarnya.

http://jambi.tribunnews.com/2013/02/10/zumi-zola-imlek-memberi-makna-kesatuan-dan-kerukunan

Barongsai Jambi Dari Rumah Ke Rumah

JAMBI - Perayaan Tahun Baru Imlek 2564 di Jambi dimeriahkan oleh atraksi barongsai dari Perkumpulan Hok Liong Sai Jambi. Uniknya atraksi tersebut dilakukan dari rumah ke rumah.
Atraksi dari rumah ke rumah yang digelar Minggu (10/2/2013) pagi, tersebut disambut antusias warga Tionghoa. Tidak sedikit warga memberikan angpao setiap barongsai menyambangi mereka. Aksi memukau dari barongsai ini juga menghibur warga etnis lain.

Di Jambi, atraksi barongsai setiap Imlek merupakan sebuah tradisi dan sebagai lambang pembauran warga Jambi. Aksi ini terbukti mampu menghibur warga non Tionghoa.

Para pemain barongsai dengan lincah melompat sambil menggerakkan kepala barongsai dengan iringan tabuhan gong khas Tionghoa.

Setiap barongsai dihiasi jumbai-jumbai agar tampak menarik dengan aneke warna, seperti hijau, merah, kuning dan lainnya, sedangkan pemainnya juga mengenakan pakaian khusus dengan warna yang sama dengan barongsai yang mereka mainkan.

Pertunjukan barongsai tersebut juga bukan sekedar menghibur warga, tetapi mengandung makna doa selamat bagi penghuni rumah yang dikunjunginya sehingga lebih sukses di tahun yang baru dan barongsai dipercayai masyarakat Tionghoa sebagai sarana menolak bala/ bencana.

"Menurut kepercayaan Tionghoa, kunjungan barongsai ke rumah-rumah warga itu merupakan ritual menolak bala bencana," (Romy)

Imlek Perayaan Agama yang Sudah Membudaya

JAMBI - Imlek tidak hanya dirayakan umat Khonghucu, tetapi juga kebanyakan warga keturunan Tionghoa di berbagai belahan dunia. Di dalamnya terkandung nilai-nilai religi dan sosial yang begitu kental, berbagai macam aksesori berwarna merah menyala, seperti lampion, lilin, hio, barongsai, pohon jeruk yang dihiasi angpau banyak dijumpai di super market, mini market dan toko-toko, asesoris tersebut untuk menyemarakan Tahun Baru Imlek yang tahun ini jatuh pada 10 Februari 2013.
Bagi masyarakat Tionghoa di belahan dunia mana pun, Imlek atau Tahun Baru China merupakan perayaan yang begitu di-nanti-nantikan. Betapa besar arti Imlek bagi mereka, tidak sekadar sebagai sarana perenungan untuk memperbaiki diri, tetapi juga momen yang paling afdol untuk memohon kehidupan yang lebih baik kepada Sang Pencipta, serta mendoakan para leluhur. "Kalau ada kekurangan dan kesalahan diperbaiki dan kalau ada keburukan sebaiknya dibuang.,"

Umumnya warga Tionghoa menjadikan Imlek sebagai momentum introspeksi diri dan pengharapan untuk nasib yang lebih baik pada masa depan. Menurut sejarahnya, tradisi merayakan Imlek yang tahun ini menginjak tahun ke-2564 itu telah dimulai sejak zaman Dinasti Han pada 551 sebelum masehi (SM). Pada masa itu agama Khonghucu diakui sebagai agama negara.

Karena itu, tidak heran jika Imlek kemudian meluas tidak hanya sebagai perayaan keagamaan tetapi juga menjadi budaya masyarakat Tionghoa, makna itu menyangkut berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Pada perayaan hari besar itu warga Tionghoa memanfaatkannya untuk merekatkan kembali jalinan kekeluargaan. Anggota-anggota keluarga yang tinggal saling berjauhan biasanya berkumpul bersama untuk merayakan Imlek.

Biasanya warga merayakan Imlek dengan ritual sembahyang dan makan bersama. Doa-doa yang dipanjatkan tidak lepas dari permohonan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik (layak) pada masa mendatang. Tak kalah penting adalah acara saling bersilaturahmi dan berkunjung ke rumah sanak saudara dan tetangga terdekat.

Biasanya pada momen imlek itu orang yang lebih tua memberikan angpau kepada mereka yang lebih muda atau belum menikah. Beragam kue tradisional khas China juga disajikan sebagai pelengkap kemeriahan Tahun Baru Imlek.

Perayaan Imlek yang kerap dimeriahkan pula dengan berbagai atraksi-atraksi seni tradisional China seperti barongsai, liong (naga), wushu, wayang China (potehi), Imlek ditutup dengan perayaan malam Cap Go Meh. (Romy)

Imlek Diwarnai Pembagian Angpao

JAMBI - Minggu (10/02) suasana perayaan tahun baru Imlek 2564, atau yang lebih dikenal dengan tahun baru Imlek bagi umat Khonghucu berlangsung berlangsung meriah. Nampak sejumlah kegiatan dipusatkan di kelenteng (bio-bio), yang juga diwarnai dengan pembagian angpao.
Sesuai dengan inti ajaran Khonghucu adalah cinta kasih dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui momen ini umat diajak untuk mengembangkan rasa cinta kasih terhadap sesama. Begitu juga dengan cinta kasih kepada lingkungan hidup. “Untuk itu ciptakan suasana kehidupan yang harmonis kepada saudara-saudara dan tetangga-tetangga kita agar tercipta susana yang rukun dan damai.”

Cinta kasih menurutnya tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ungkapan saja. Tetapi juga dalam perbuatan kita, yaitu saling memberi pertolongan kepada orang lain, membantu sudara-sudara kita yang susah serta menghindari sifat kekerasan dan selalu menonjolkan kekuasaan.

Dimana menjelang satu hari tahun baru Imlek, pada Minggu (10/02) di berbagai kelenteng dan rumah-rumah, Umat Khonghucu melaksanakan sembahyang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa (Tien), dan juga melaksanakan sembahyang terhadap leluhur.

Untuk sembahyang leluhur dilaksanakan pada siang hari dan dilakukan di rumah masing-masing, tetapi ada juga yang di rumah abu. Adapun makna sembahyang ini adalah sebagai kelanjutan laku bakti dari anak-anak dan cucu-cucu keturunanya kepada orang tua mereka yang telah tiada.

“Sebab budi orang tua tidak mampu dibalas selama beliau-beliau masih hidup. Maka dilanjutkan dengan upacara sembahyang leluhur pada saat-saat hari raya atau pada hari-hari peringatan.”

Selanjutnya pada malam hari saat-saat menjelang hari tahun baru ada sembahyang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa (YME), untuk mengucap syukur atas rahmat perlindunganNya sepanjang tahun. Dan juga bermohon rahmat dan perlindunganNya sepanjang tahun yad yang tinggal beberapa saat akan kita masuki.

Dimana permohonan tersebut untuk pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. “Dan Secara umum sembahyang malam tersebut dilaksanakan di kelenteng-kelenteng maupun lithang serta secara pribadi dapat dilaksanakan di rumah masing-masing.”

Tradisi Angpao Di Tahun Baru Imlek

Sejak lama, warna merah melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa. Warna merah menunjukkan kegembiraan, semangat yang pada akhirnya akan membawa nasib baik.
Angpao sendiri adalah dialek Hokkian, arti harfiahnya adalah bungkusan/amplop merah. Sebenarnya, tradisi memberikan angpao sendiri bukan hanya monopoli tahun baru Imlek, melainkan di dalam peristiwa apa saja yang melambangkan kegembiraan seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain2, angpao juga akan ditemukan.

Angpao pada tahun baru Imlek mempunyai istilah khusus yaitu “Ya Sui”, yang artinya hadiah yang diberikan untuk anak-anak berkaitan dengan pertambahan umur/ pergantian tahun. Di zaman dulu, hadiah ini biasanya berupa manisan, bonbon dan makanan. Untuk selanjutnya, karena perkembangan zaman, orang tua merasa lebih mudah memberikan uang dan membiarkan anak-anak memutuskan hadiah apa yang akan mereka beli. Tradisi memberikan uang sebagai hadiah Ya Sui ini muncul sekitar zaman Ming dan Qing. Dalam satu literatur mengenai Ya Sui Qian dituliskan bahwa anak2 menggunakan uang untuk membeli petasan, manisan. Tindakan ini juga meningkatkan peredaran uang dan perputaran roda ekonomi di Tiongkok di zaman tersebut.

Angpao apakah disebut angpao di zaman dulu? Bagaimana bentuknya?
Tidak. Uang kertas pertama kali digunakan di Tiongkok pada zaman Dinasti Song, namun baru benar2 resmi digunakan secara luas di zaman Dinasti Ming. Walaupun telah ada uang kertas, namun karena uang kertas nominalnya biasanya sangat besar sehingga jarang digunakan sebagai hadiah Ya Sui kepada anak-anak.

Di zaman dulu, karena nominal terkecil uang yang beredar di Tiongkok adalah keping perunggu (wen atau tongbao). Keping perunggu ini biasanya berlubang segi empat di tengahnya. Bagian tengah ini diikatkan menjadi untaian uang dengan tali merah. Keluarga kaya biasanya mengikatkan 100 keping perunggu buat Ya Sui orang tua mereka dengan harapan mereka akan berumur panjang.

Jadi, dari sini dapat kita ketahui bahwa bungkusan kertas merah (angpao) yang berisikan uang belum populer di zaman dulu.

Pemberian angpao apakah punya makna tersendiri?
Orang Tionghoa menitik beratkan banyak masalah pada simbol-simbol, demikian pula halnya dengan tradisi Ya Sui ini. Sui dalam Ya Sui berarti umur, mempunyai lafal yang sama dengan karakter Sui yang lain yang berarti bencana. Jadi, Ya Sui bisa disimbolkan sebagai “mengusir/meminimalkan bencana” dengan harapan anak2 yang mendapat hadiah Ya Sui akan melewati 1 tahun ke depan yang aman tenteram tanpa halangan berarti.

Siapa yang wajib memberikan angpao dan berhak menerima angpao?
Di dalam tradisi Tionghoa, orang yang wajib dan berhak memberikan angpao biasanya adalah orang yang telah menikah, karena pernikahan dianggap merupakan batas antara masa kanak2 dan dewasa. Selain itu, ada anggapan bahwa orang yang telah menikah biasanya telah mapan secara ekonomi. Selain memberikan angpao kepada anak-anak, mereka juga wajib memberikan angpao kepada yang dituakan.

Bagi yang belum menikah, tetap berhak menerima angpao walaupun secara umur, seseorang itu sudah termasuk dewasa. Ini dilakukan dengan harapan angpao dari orang yang telah menikah akan memberikan nasib baik kepada orang tersebut, dalam hal ini tentunya jodoh. Bila seseorang yang belum menikah ingin memberikan angpao, sebaiknya cuma memberikan uang tanpa amplop merah.

Namun tradisi di atas tidak mengikat. Sekarang ini, pemberikan angpao tentunya lebih didasarkan pada kemapanan secara ekonomi, lagipula makna angpao bukan sekedar terbatas berapa besar uang yang ada di dalamnya melainkan lebih jauh adalah bermakna senasib sepenanggungan, saling mengucapkan dan memberikan harapan baik untuk 1 tahun ke depan kepada orang yang menerima angpao tadi. (Yahoogroups/ Budaya Tionghoa)

Sabtu, Februari 09, 2013

Makna Hari Raya Imlek (#3-habis)

Angpau adalah amplop berwarna merah didalamnya berisi uang, biasanya uang yang masih baru dan terdiri dari 2 lembar. Uang tersebut digunakan untuk modal kerja, untuk keperluan sekolah, membeli sesuatu yang dicita-citakan dan sebagainya. Pada hari raya Imlek apabila keadaan memungkinkan bisa memasang mercon menunjukkan kegembiraan karena rejekinya meledak, bagi keluarga yang mampu dapat dirayakan dengan mengundang barongsai ( wushi atau xingshi ) untuk disaksikan sanak saudara dan kerabat yang datang berkunjung ke rumah. Mengundang barongsai mempunyai makna mengundang rejeki, menolak bala.
Tari liong (wulong) atau barongsai pada mulanya adalah prosesi pengurusan bala, saat ini sudah bergeser sebagai pertunjukkan kesenian yang tinggi mutunya yang patut ditonton bahkan telah dipertandingkan di tingkat Internasional.

Pada tanggal 8 malam, bagi umat Khonghucu dan penganut kepercayaan tradisional, menyelenggarakan sembahyang Tie Kong (Tuhan). Perayaan dan tradisi kunjung berkunjung berlangsung sampai dengan tanggal 15 dan pada malam 15 diadakan pesta capgo meh (yuan xiao jie). Pada perayaan cap go meh rumah-rumah memasang lampion warna warni, diselenggarakan juga karnaval dan hiburan panggung, kaum muda mudi keluar rumah membeli makanan, melihat lampion dan lain-lain. Makanan yang khas pada hari ini adalah lontong cap go meh.

Setelah pesta cap go meh selesai, maka acara kunjung mengunjungi selesai, masyarakat kembali lagi mengerjakan pekerjaannya untuk 1 tahun lamanya, khusus bagi petani, saat ini adalah momentum yang tepat untuk mulai bertanam, menabur bibit ikan bandeng dan lain-lain. Kaum pedagang mulai giat dengan usahanya, karena tahun sudah berganti, rejekipun berubah dan meningkat. Sekian

Makna Hari Raya Imlek (#2)

Menyambut hari raya Imlek biasanya tiap keluarga membersihkan rumah terutama pada bagian dapur karena dapur merupakan bagian dari rumah yang berjasa dalam memberi kehidupan rumah tangga. Orang tua menyiapkan pakaian baru untuk anak-anaknya dan juga untuk pembantu, sopir dan pekerja lainnya di rumah.
Menyiapkan makanan, kue, kolang-kaling, agar-agar, manisan, lauk pauk, daging, ikan bandeng dan buah-buahan termasuk kue Cina atau kue keranjang. Kue ini biasanya dikirim juga kepada orang tua, mertua, paman atau orang yang dituakan sebagai rasa hormat.

Tiga hari sebelum hari raya Imlek, didaerah pemukiman masyarakat Tionghoa biasanya diadakan pasar malam, dimana diperjual belikan keperluan hari raya baik untuk sembahyang maupun makan.

Rumah tangga tidak menyapu didalam rumah, maknanya agar rejeki tidak terbuang, juga mempunyai makna walaupun hanya sapu tetap perlu istirahat satu hari dalam satu tahun. Apabila terpaksa harus menyapu, maka sampahnya tidak dibuang sampai hari kedua Imlek.

Tepat hari raya Imlek semua berpakaian baru dan rapi, anak-anak memberi hormat dengan cara adat Tionghoa (pai-pai) pada orang tua, kakek, nenek, kemudian pada kakaknya dengan ucapan selamat panjang umur, murah rejeki dan lain-lain. Pembantu dan pekerja di rumah juga mengucapkan selamat pada majikannya, orang tua memberi angpau (hong bau) pada anak-anak dan pada pekerja di rumah, kepada anak-anak didoakan dan diberi nasehat agar rajin belajar, pandai, enteng jodoh dan lain-lain.

Selanjutnya makananpun dihidangkan, setelah selesai makan maka keluarga menuju ke rumah orang tua atau orang yang dituakan untuk menyampaikan ucapan selamat. Makanan, kue-kue kecil, agar-agar, manisan dan lain-lain disiapkan dimeja untuk menjamu tamu yang datang berkunjung. Makanan yang dihidangkan masing-masing mempunyai maknanya antara lain : buah atep ( kolang kaling ) agar kehidupan mantep, manisan cerme agar tokonya reme, agar-agar berbentuk bintang agar rejeki dan kariernya terang seperti bintang, kue keranjang berarti tidak kekurangan sesuatu dan apabila tamu tersebut membawa anak, maka anak tersebut diberi angpau (hong bao) juga.
Sambung....3 habis

Makna Hari Raya Imlek (#1)

Hari Raya Imlek (yinli xin nian) jatuh pada tanggal 1 bulan 1 tahun Imlek (cia gwee che it) bertepaan dengan pergantian tahun Imlek yang berdasarkan perhitungan lunar (peredaran bulan) yang dikombinasikan dengan perhitungan berdasarkan peredaran matahari dan pergantian musim dari musim dingin ke musim semi, maka penanggalan Imlek ini banyak digunakan petani dan nelayan yang pekerjaannya sangat tergantung dan berhubungan dengan alam dan musim, maka kalender ini juga disebut nungli (nongli) yang artinya kalender untuk petani. Bila kita perhatikan bahwa menjelang hari raya Imlek biasanya turun hujan, panen buah-buahan seperti duku, rambutan, mangga, manggis, durian dan lain-lain, juga panen ikan bandeng, udang dan hasil laut lainnya.
Imlek diartikan memasuki musim semi di belahan bumi bagian utara, maka disebut sebagai pesta musim semi. Musim semi mempunyai makna meninggalkan musim yang dingin, gelap dengan pohon-pohon yang gundul, memasuki musim yang hangat, terang dengan pohon yang bersemi. Di Indonesia berarti memasuki musim tanam menyongsong musim hujan yang merata.

Hari raya Imlek bukan saja dirayakan oleh umat Khonghucu, melainkan dirayakan oleh masyarakat Tionghoa yang beragama lain dan kepercayaan, karena mempunyai makna pengucapan syukur atas berkat dan kelimpahan pada tahun yang lalu dan permohonan berkat dan pertolongan Tuhan Yang Maha Esa ditahun yang akan datang, maka Imlek bisa disebut sebagai hari pengucapan syukur kepaya Tien (Tuhan).

Bagi umat Khonghucu biasanya melakukan ibadah (sembahyang) di kelenteng-kelenteng, miao tang atau littang untuk bersembahyang dan menyerahkan darma berupa uang atau beras untuk pengurus rumah ibadah dan fakir miskin, ibadah bisa juga dilaksanakan tepat pada hari raya Imlek. Kebaktian dengan tema Imlek. Sambung......

Makna Dibalik Perayaan Tahun Baru Imlek "Khongculek"

Sejak ditetapkannya Tahun Baru Imlek sebagai salah satu hari libur nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Kepres No.19/2002 tertanggal 9 April 2002, maka setiap tiba datangnya Tahun Baru Imlek kita mulai merasakan suasana yang berbeda dan melihat berbagai macam pernak-pernik atau hiasan khas Imlek yang dijual khususnya di daerah perkotaan, orang juga mulai sibuk melakukan berbagai macam persiapan baik dalam lingkungan keluarga, di pusat-pusat perbelanjaan maupun di berbagai tempat ibadah.
Tahun Baru Imlek pada tahun ini jatuh bertepatan dengan tanggal 10 Februari 2013 (Cia Gwee Ciu It 2564 Imlek). Saat ini orang lebih merasakan suasana yang lebih meriah dan memiliki kebebasan untuk mengekpresikan kegembiraan dalam merayakannnya.

Perayaan Tahun Baru senantiasa diidentikan dengan pertunjukan barongsai atau bagi-bagi angpau (hungpao) khususnya dilakukan oleh mereka yang  merayakan Tahun Baru Imlek.Suasana ini tidak dapat kita jumpai sebelumnya, setidaknya lebih dari tiga dasawarsa sejak adanya kebijakan pemerintah pada saat itu yang membatasi perayaan hari-hari keagamaan khususnya bagi orang-orang Tionghoa yang hanya diperbolehkan pada lingkungan keluarga saja; seperti tercantum dalam Inpres No.14/1967 yang sudah dianulir pada masa almarhum Presiden Gusdur.

Meskipun sebenarnya perayaan Tahun Baru Imlek sebelumnya juga dapat dirayakan secara umum seperti sekarang ini. Sejak bergulirnya era reformasi, kebebasan beragama dan berekpresi di Indonesia nampaknya terlihat lebih nyata, hal ini sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia yang multikultur dan multi etnis serta distunjang oleh adanya kesadaran dari aparat birokrat saat ini yang mulai menyadari hal ini meskipun belum seluruhnya, karena masih ada saja oknum yang mempersulit dan terkesan diskriminatif dalam memberikan pelayanan terhadap etnis terntentu. Seluruh penduduk Indonesia mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga Negara. Termasuk diantaranya adalah hak kebebasan dalam beragama dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya masing-masing, karena hal tersebut jelas dijamin oleh Undang-undang Dasar pasal 29.

Sudah barang tentu perayaan Tahun Baru Imlek saat ini bukan lagi menjadi milik satu golongan tertentu saja (Tionghoa. Pen.), melainkan sudah menjadi milik seluruh bangsa di dunia.

Namun hal tersebut tidak terlepas dari latar belakang sejarah asal muasal Tahun Baru Imlek itu sendiri yang berkaitan erat dengan sistim penanggalan Imlek/ Yinli/ Khongculek/ Kongzili. Misalnya penetapan tahun pertama dari Tahun Baru Imlek adalah dihitung sejak tahun pertama kelahiran Nabi Kongzi (baca Kungtze) yakni tahun 551 Sebelum masehi. Bagi mereka yang beragama Khonghucu (Rujiao), merayakan Tahun Baru Imlek bukan hanya sekedar untuk merayakan tradisi untuk menyambut datangnya musim semi saja, melainkan mengandung suatu makna religius yang sangat mendalam. (Romy)

Tahun Baru Imlek dan Lampion

Bagi orang Tionghoa secara tradisi berlaku dua penanggalan Gongli 公历 atau Yangli 阳历 yaitu kalender umum (Masehi/Calender Gregorian) dan Nongli 农历/ Imlek atau Yinli 阴历. Kalender Gregorian berdasarkan perhitungan peredaran Matahari disebut juga Kalender Baru atau Xingli 新历, sedang Kelender Yinli berdasarkan perhitung peredaran Bulan, maka disebut juga Moon/Lunar Calender. Yinli ini dihitung mulai lahirnya Khonghucu pada tahun 551SM. Jadi tahun 2013 + 551 sama dengan Tahun Imlek/ Yinli tahun 2564. Sehingga kadangkala oleh orang Tionghoa dalam dialek Hokkian disebut Kongcu-lek.
Tahun baru Imlek atau yang biasa disebut Shincia dengan logat Hokkian atau Chunjie 春节dalam Mandarin adalah hari pertama penggantian tahun dari penanggalan Imlek. Hari raya ini dirayakan sejak hari pertama hingga hari ke 15 bulan satu imlek. Tahun 2013 ini jatuh pada tanggal 10 Pebruari, mulai hari ini disebut Tahun Ular Air.

Konon Kalender Imlek ini pertama kali diciptakan oleh Huangdi 黄帝/ Kaisar Kuning, Kaisar Pertama di Tiongkok (Kaisar Kuning/ 黄帝 huangdi tahun sebelum 2070 SM), yang dianggap Raja Agung dan Nabi bagi Agama Khonghucu. Kalender ini dilanjutkan oleh Kaisar berikutnya Xia Yu 夏禹 (kira- kira tahun 2070 SM-1600 SM) yang juga dianggap Nabi dalam Agama Khonghucu. Tapi dengan ditumbangkannya Kaisar Xia oleh Kaisar Shang 商 (tahun 1600-1046 SM) sistim kalender diganti. Tahun baru dimajukan satu bulan, sehingga yang semula Tahun Baru jatuh pada awal Musim Semi, menjadi jatuh pada akhir Musim Dingin. Dinasti Zhou周 menggantikan Shang pada tahun 1046 SM (berdiri hingga tahun 256 SM), sistim kalender ini diganti lagi, tahun barunya jatuh pada garis edar matahari pada titik 23,5 derajat Lintang Selatan atau pada tanggal 22 Desember penanggalan masehi, saat ini merupakan puncak musim dingin (dikenal dengan hari sembayang Onde atau 冬至dongzhi; ronde = butiran dibuat dari tepung ketan, dimakan bersama wedang jahe).

Selanjutnya setiap penggantian dinasti, seperti Qing, Han, sistim diganti juga. Hanya pada Dinasti Han (206SM-220M), kaisar Han Wu Di memerintahkan Kalender Imlek ini untuk kembali pada sistim Xia sama dengan yang digagaskan oleh Khonghucu. Untuk menghormati Nabi Khonghucu maka tahun kelahiran Khonghucu (551SM) ditetapkan sebagai Tahun ke 1/ pertama Imlek. Maka kini kalender Imlek adalah Tahun 2564 (2013Masehi). Sehingga dapat dikatakan bahwa perayaan Tahun Baru Imlek sebetulnya adalah Perayaan Umat Khonghucu.

Dalam Agama Khonghucu, Khonghucu (bahasa Indonesia)/ Kongzi 孔子/ Confusicus (Latin) diakui sebagai Nabi terakhir dari agama ini. Lahir pada hari ke 28 bulan 8 tahun 0001 Imlek (551SM). Perkiraan tanggal 1 imlek, rentang waktunya 15 hari kedepan dan 15 hari kebelakang dari 4 Pebruary Kalender Umum/masehi. Tiap 4 atau 5 tahun sekali ada bulan ke 13, untuk menggenapi agar perhitungan tersebut tidak berubah, disebut tahun kabisat (闰年 run nian). Hari Wafat Khonghucu (18-2-Imlek). Hari Genta Rohani (冬至 dongzhi) 22 Desember penaggalan masehi, Qingming (清明 5 April penanggalan masehi), Qing Di Gong 清帝公 (8/9- bulan 1 Imlek).

Agama Ru/ Khonghucu adalah agama humanisme, agama hubungan antar manusia, agama orang kudus. Agama Ru tidak terlepas dari pengaruh perkembangan kebudayaan orang Tionghoa. Dimana pada umumnya mereka percaya bahwa seseorang setelah meninggal maka rohnya akan meninggalkan jasadnya, jika orang tersebut adalah orang baik akan menjadi Roh baik dan jika orang ini hidupnya jahat akan menjadi Roh jahat. Dalam agama Ru yang disembah tidak hanya Nabi Khonghucu saja. Misalnya pada saat Qing Ming atau Ceng Beng (dialek Hokkian), umat agama Khonghucu mengadakan sembayangan kepada leluhurnya, nyekar membersihkan kuburan leluhur. Orang Tionghoa sudah menjadi tradisi memiliki Altar Sembayangan leluhur dirumah, biasanya yang disembayangi tidak hanya leluhur saja tetapi termasuk tokoh-tokoh sejarah yang dianggap kudus.

Lampion, konon berasal dari zaman dinasti Xi Han 西汉 (tahun 206 SM – 9 M) kira-kira 1800 tahun yang lalu, sudah menjadi tradisi setiap Hari Raya Imlek dipajang lampion-lampion di rumah-rumah atau perkarangan atau tempat umum misalnya di taman, kebun, jalan-jalan, lorong-lorong dan lain sebagainya. Lampion ini telah menjadi tradisi bagi orang Tionghoa sebagai simbol kebahagiaan, yang dipasang untuk event-event kegembiraan berwarna merah, dan lampion putih terbuat dari rangka bambu untuk simbol bela sungkawa. Dalam perkembangannya, lampion digambari dan dihiasi ornamen-ornamen macam-macam, dan huruf-huruf kaligrafi. Lampion ada yang terbuat dari kertas, kain, kulit binatang, dan dari bordiran-bordiran kain sutra dan lain-lain.

Lampion gaya Chuanchiu 泉州式灯笼
Lampion gaya Fuchuo 福州式灯笼-又称为伞灯
Lampion segi empat

Lampion ini sangat erat hubungannya dengan kehidupan orang Tionghoa, lampion digantung di Kelenteng-kelenteng, ruang tamu rumah, dan tempat lain seperti telah disebutkan diatas. Namun yang terbuat dari kertas dapat dikatakan dimulai sejak di Tiongkok ditemukannya teknik pembuatan kertas oleh Cailun 蔡伦 pada zaman dinasti Han Timur ( 东汉donghan tahun 25-220 M ). Lampion bagi orang Tionghoa tidak saja sebagai lampu penerangan atau lentra, tapi sudah menjadi simbol.

Namun yang paling menonjol adalah dipasang pada perayaan Shincia hingga Cap Go Meh. Tapi sejak zaman Han hingga Tang, lampion benar-benar sebagai simbol penyambutan hari raya imlek. Saat dinasti Ming Zhu Yuan Chang (tahun 1368 - 1644 M) pendiri dinasti ini, ketika memproklamirkan ibu kota negara di Nanjing diadakan Lampion air, dimana ribuan lampion diambangkan di aliran sungai Qinhuaihe 秦淮河. Kemudian setiap tahun diadakan pesta lampion, tapi sejak berdirinya Republik Tiongkok pesta ini memudar, sehingga ahli-ahli pembuat lampion juga berkurang, namun kini rupanya mulai digalakkan lagi.

Ada juga tradisi disaat hari raya imlek, membawa Lampion sebagai simbol untuk medambakan untuk mendapatkan anak lelaki atau putra, karena lafal kata Mandarin yang berdekatan yang mempunyai arti mendapat putra. Denglong 灯笼 – Tianding 添丁.

Pada zaman kuno di Tiongkok, setiap tahun pada permulaan dimulai masuk sekolah pada bulan 1 Imlek, sekolah-sekolah digantungi lampion-lampion yang disumbang oleh orangtua murid-murid, dan secara simbolik dinyalakan oleh kepala sekolah atau guru, disebut Kai’deng 开灯. Yang mempunyai makna murid-murid agar mempunyai masa depan yang cemerlang sepanjang hidupnya. Kemudian hari menjadi tradisi dilakukan setiap Tahun Baru Imlek hingga Cap Go Mek ( Hari 1 s/d 15 ).  Sumber net