Tampilkan postingan dengan label Litang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Litang. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juni 07, 2013

Matakin Harus Independen Dalam Pilwako Kota Jambi

JAMBI,ayojambi.com - Suasana pemilihan Walikota Jambi semakin hangat, pertarungan melalui reklame, spanduk maupun melalui berbagai media semakin semarak. Segala janji perubahan untuk merubah nasib masyarakat Jambi lima tahun kedepanpun dilontarkan.
Meski cawako telah memiliki dukungan dari beberapa partai politik (Parpol), mereka  masih terus menjalin komunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat untuk menduduki posisi Walikota Jambi pada Pilwako Jambi yang dilaksanakan pada 29 Juni 2013.

Para kandidatpun mulai menebarkan pesona, sembari mengumbar janji-janji yang sangat indah. Isu berobat murah, pendidikan gratis, anti korupsi, mewujudkan supremasi hukum dan setumpuk janji manis, semanis madu yang diuraikan para tim sukses, bahkan segala cara mendatangkan tokoh-tokoh masyarakat maupun alim ulama dengan cara jebakan.

Yang jadi pertanyaannya, benarkah dalam pilwako secara langsung dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat,?

Bukan rahasia umum lagi, untuk bisa bertarung, para kandidat harus memiliki dukungan dari partai politik (parpol), atau biasa disebut dengan istilah perahu. Untuk mendapatkan perahu ini saja, kandidat harus mengeluarkan uang hingga miliaran rupiah. Para kandidat diperkirakan harus menyiapkan dana minimal Rp 30 miliar. Lalu jika mereka menang, apakah benar-benar akan menepati janji-janjinya.? Atau berusaha untuk mengembalikan modal yang telah dihabiskan selama masa mensosialisasikan diri sampai hari pemungutan suara.

Maka para kandidat dan tim suksesnya melakukan upaya untuk mengalang suara melalui berbagai tempat, seperti tempat-tempat ibadah, pada hal kita mengetahui, tempat ibadah dilarang untuk melakukan kegiatan yang bersifat politik praktis. Keputusan itu tertuang dalam keputusan KPU Kota Jambi Nomor : 07/076/KPU-Kota-005.435384/2013. http://kpu-jambikota.go.id/node/128

Sedangkan menurut Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Pusat, Ws, Wawan Wiratma, Khonghucu yang dibawah naungan Matakin dilarang untuk ikut berpolitik dan Matakin harus bersifat Independen. Ini untuk menghindari persepsi negatif, bahwa Matakin mendukung kandidat tertentu. Berdasarkan Anggaran Dasar (AD) Matakin Pusat BAB XIV, Pasal 21, tentang Hubungan Dengan Organisasi Lain, ayat 21.2 Majelis bersifat independen dan tidak berafiliasi dengan/ atau kepada organisasi sosial politik manapun, baik di dalam maupun di luar negeri.

Dalam peraturan AD/ART Matakin tentang sudah ada ketentuan larangan terlibat dalam politik praktis, jika umat Khonghucu secara pribadi ingin mendukung itu urusan mereka, namun tidak melibatkan nama Khonghucu/ Matakin didalamnya. Ujar Wawan Wiratma (RM/sumber net)

Link:
http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://www.youtube.com/my_videos

Kamis, April 04, 2013

孔子学院在波罗的海

孔子画像、红色中国结、彩纸风筝这些传统的中国工艺品高高地挂在立陶宛的维尔纽斯和爱沙尼亚的塔林孔子学院办公室的墙上,透着浓厚的中国文化气息。虽然波罗的海三国总人口不过600万,短短四年时间里已有三所中国孔子学院陆续在当地的大学落户,除了上述两所,第三所孔子学院,由拉脱维亚大学和中国华南师大合作,去年9月刚刚开始招生。
孔子学院是中国国家对外汉语教学领导小组办公室(简称汉办)主导的,自称为非政治性的对外汉语教学和文化推广机构。自2004年在韩国首尔成立第一所孔子学院起,据汉办统计,截至2011年,在全球的105个国家已有358所孔子学院,500个孔子课堂,注册学员达50多万人。

如此快的发展速度令人叹服,但孔子学院的发展也自始至终伴随着争议和批评。孔子学院的办学原则是,“政府支持、民间运作”,以及“中外合作、内生发展”,在很多国家,特别是西方国家,它常常被当地的媒体和公众质疑为是中国政府输出意识形态和所谓“软实力”的工具,而抱以戒备之心。在波罗的海地区,这样的质疑因其特殊的历史背景而更为敏感和微妙。

中国的社会主义制度和执政党共产党在当地是公众避讳的话题,因为波罗的海三国在上世纪90年代初摆脱了前苏联的统治、宣布独立,对当地人来说,那段历史是黑暗的。在近半个世纪统治中,前苏联对该地区进行了人口清洗、文化侵略和移民策略。在上世纪80年代末伴随前苏联经济政治体制的瓦解,以爱沙尼亚为代表发生了“歌唱革命”的大规模非暴力抗议,成为其取得独立的导火索。当年集会传唱的很多民歌以及三国的民间舞蹈习俗在今天合被联合国教科文组织列为非物质文化遗产。

由于历史原因,当地人对中国的看法容易先入为主,爱沙尼亚大学塔林孔子学院中方院长林可在接受笔者采访时说。他从1983年起就进行对外汉语教学,2010年来到塔林后,他发现当地人对中国的了解主要来自当地媒体或者欧洲主流媒体的介绍,其意见往往是批评为主。“我不是说不可以批评。但很多批评是带偏见的,”林可说。

意识形态的差异不可避免地可能引起中方和外方合作的摩擦。在波罗的海,孔子学院依附于当地大学的东亚系,承担当地学生的中文教学。但孔子学院的教学、教材、以及外事理念是服从于汉办的。林可说,孔子学院的公开活动是不能违背中外两方法律的。

塔林大学东亚和人文学院的中文教师葛佳(Katja Koort)重温了孔子学院成立不久的一次小插曲。2010年底中国诗人刘晓波获得诺贝尔和平奖,葛佳所在学院组织了相关座谈会邀请孔子学院中方代表参加。葛佳说林可院长接到通知后不是很愉快,他出席了活动,但全程没有发言。林可说,这样的活动让孔子学院中方的立场很尴尬。

爱沙尼亚塔图大学的中国专家林西华(Märt Läänemets)认为,孔子学院除了其学术功能,“是中国在世界提升其形象的重要工具,是中国软实力策略的一部分。”林西华说十年前爱沙尼亚人对中国的印象更简单也更积极。虽然中国是社会主义体制,但不可否认中国的经济影响力。但近几年,人们对中国观点更加批判。因为大家获得了更多的关于中国的信息,其中有争议性的是关于中国政治方面的信息。人们意识到这和欧洲的民主制度差别很大。比如爱沙尼亚人关注西藏问题源于他们那段前苏联统治的经历,但中国很难理解他们。

葛佳说塔林大学在推广东亚文化时,自愿学习日语的学生多于中文的。除了日本的流行文化比如动画片对爱沙尼亚年轻人产生强烈的吸引力,一个根本原因是日本和欧洲民主体制的同一性。葛佳说,对于她们70年代出生经历前苏联统治的爱沙尼亚人,民主和权利这样的话题会让他们热血沸腾。

不过,也有外国学者认为孔子学院没有政治目的,就是为了教汉语和介绍中国文化。塔林大学前校长瑞恩•罗德(Rein Raud)促成孔子学院在塔林大学落户。他说,中国成为第二大经济体后,爱沙尼亚政府看到了更多和中国经济合作的契机。而越来越多的爱沙尼亚年轻人也选择到中国去旅游。因此,2008年罗德陪同爱沙尼亚教育部长访问中国后,开始和汉办商议开办孔子学院,并于2010年9月和广西大学成功签约。“中国开放了,全世界对其文化也更感兴趣,”他说。

另一方面,波罗的海地区为中国进一步融入欧洲提供了机遇。这三个小国实行开放的经济、文化政策,被认为是通往欧洲的门户。特别是爱沙尼亚,不但加入了欧盟,还是三国唯一加入欧元区的国家。其IT业很发达,风靡全球的语音通话软件Skype便是当地人发明的,这里也是近年吸引外国直接投资最密集的欧洲国家。

立陶宛维尔纽斯大学孔子学院中方院长王丽英在接受笔者采访时说,这些小国离中国远、人口少,但不是不重要;加深了解才能促进文化交流。在立陶宛维尔纽斯市现在大概有40家中国餐馆,华人越来越多,有的还扎了根。因此,维尔纽斯孔子学院也为了方便华人孩子学习中文开了课,她说。

总体上,波罗的海三国还不如西欧那么发达,缺乏稳定的资金来源来帮助当地学生学习东亚文化。 外方大学愿意和孔子学院合作的原因之一是中方会有直接的资金投入。两位孔子学院的院长说,当地孔子学院每年约8万美金的活动经费以及教材均由汉办承担。本来合同约定,中外双方给孔子学院的投资比例是各50%。但现实中,外方一般没有现金投入,其投资通过人员和场地设施支持来折算。

除了主要承担当地大学的中文课程,孔子学院也设了对社会开放的夜校和不同主题的文化课、如书法、茶艺、武术班等。据笔者从维尔纽斯和塔林孔子学院了解到的情况,对社会开放的课程每班有十几个学生左右,总共的学员不超过100个,其收费按照当地消费水平每学期每人大概一百多欧元。最后这些学费都回流到孔子学院的活动经费中。此外,孔子学院也在积极推动当地中、小学的中文教育,给予一定的教师和资金支持。比如塔林大学孔子学院给爱沙尼亚中部城市威延第(Viljandi)和西部岛屿萨若玛(Saaremaa)的中学都派了中文老师。

当地孔子学院的活动推广主要依靠Facebook,因为波罗的海地区几乎人人都用Facebook。大家在上面上看到孔子学院的中秋节活动,或者播放中国的电影就会进行转发并参加。塔林大学孔子学院的Facebook粉丝目前有280个,维尔纽斯大学的有550多个,拉脱维亚大学的有40几个。“汉办鼓励推行中国的现代文化,介绍中国现当代政治、经济、文化。但内容很多,我们只能一点一点做,”王丽英说。

即使出任维尔纽斯孔子学院的中方院长,王丽英依然延续着她之前在辽宁大学进行的中国古代史的教学工作。她现在的对象是当地的学生。在课堂上她鼓励学生提问,可以讨论任何关于中国的话题,但还是觉得当地学生比较沉闷。有时她会遇到一些关于中国现在发生的有争议性的问题,她会说中国是个大国,什么情况都可能发生。“我们没有必要避讳那些关于自然灾难、社会矛盾和政治丑闻的报道。中国在变化,虽然比较慢,”她说。

“如果我们告诉学生中国是完美的,那没人能相信,”维尔纽斯大学孔子学院的中文教师和项目负责人卫丽玛(Vilma Šniukštaitė)说。一般来讲,当地人对中国的文化社会没有全面的了解,大家会提到低廉的中国商品。她说,这是因为大家缺乏直接接触中国的机会。卫丽玛本人在维尔纽斯大学中国方向毕业后拿到去中国的奖学金在中国学习了两年,她的中文很流利。她提到2012年他们组织夏令营带学生去中国。这些学生回来后,提升了语言能力也更全面地了解了中国。

有趣的是,真正对中国文化感兴趣、学习中文的学生往往积极地看待中国、过滤对有关中国的负面消息。立陶宛大一学生葛丽泰(Guta Flipovic)参加了维尔纽斯孔子学院的夏令营去了沈阳和北京,她吃惊于沈阳的现代化程度,喜欢北京的颐和园,感触最深的是和普通的中国人比如出租车司机的交流,觉得现实中的中国并不和她平时看到的新闻报道一致。

还有没去过中国的学生,获得了对中国一边倒似的印象。“中国是发达国家,中国是很富有的国家。我将来要到中国学习经济学,因为中国非常成功。”17岁的立陶宛高中生张龙(Lucas Marozas)用带着京腔的流利中文说。他学习了四年半的中文,最早靠中文学习软件,然后在中学和孔子学院上中文班。他天天在网上看中央电视台和新华社新闻来练习口语并获得关于中国的信息。

学习中国山水画十多年,用中国水墨绘制当地风景并成功举行画展的维尔纽斯画家多利亚•托克萨特(Dolia Doksaite)目前在孔子学院教授中国书画课。“对我来说最重要的是中国文化的深度。中国就像一壶开水,表面在沸腾,底下是平静的,”她说。

巫楠为2012年哈佛尼曼学员,现为自由撰稿人。

http://cn.nytimes.com/article/china/2013/03/26/cc26confucius/

Selasa, April 02, 2013

Makin Leng Chun Keng Rayakan Sejit Kwan Tek Chun Ong Secara Sederhana

JAMBI, ayojambi.com – Perayaan Sejit Kwan Tek Cun Ong di Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Leng Chun Keng di Jalan Koni I, Rt. 3, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, hari ini, (2/4-2013).
Menyambut sejit (ulang tahu) shen ming “Kwan Tek Chun Ong” dilaksanakan secara sederhana, pasalnya kelenteng MAKIN Leng Chun Keng sedang melakukan selesai, maka sejit Kwan Tek Chun Ong tahun sama seperti tahun lalu diperingati secara sedehrana tanpa mengundang Majelis Agama Khongsucu Indonesia (MAKIN) yang ada di kota Jambi.

Tampak ada tiga shen ming hadir dalam perayaan sejit Kwan Tek Chun Ong untuk memberikan pelayanan kepada umat Khonghucu, kehadiran ketiga shen ming dengan cara merasuki kitong yang dikenal dengan sebutan tatung.

Walaupun perayaan Kwan Tek Chun Ong selaksanakan secara sederhana, namun tidak mengurangi niat umat Khonghucu melakukan sembahyang.

Kata, Lim Yong Siang, Pengurus Makin Leng Chun Keng, “Bangunan kelenteng Leng Chun Keng belum selesai, maka kita hanya adakan sembahyang sejit Kwan Tek Chun Ong secara sederhana dan kita tidak banyak mengundang Makin-Makin yang ada di Jambi’, selanjutnya kata Lim Yong Siang, mudah-mudahan tahun depan kelenteng sudah selesai dibangun agar bisa menampung lebih banyak umat yang datang sembahyang, ujar Yong Siang disela kesibukan sembahyang.

Kemungkinan tahun depan, Kelenteng Leng Chun Keng yang di renovasi total bisa menjadi salah satu objek wisata religi di Kota Jambi, karena bentuk bangunannya dirancang sedemikian, mulai dari pintu masuk langsung ada shen men (dewa pintu), tiang Naga dan sepasang Singa di kiri kanan pintu utama memiliki nilai historis.

Pintu gerbang masuk ke dalam kompleks Kelenteng Leng Chun Keng dengan bentuk bangunan, ornamen dan warna oriental yang khas, dirancang oleh asitektur dari china dan bahan-bahannyapun di datang dari China. (Romy)

http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/

Kamis, Maret 28, 2013

Makin Sai Che Tien Kembali Lakukan Po Un

JAMBI,ayojambi – Prosesi Po Un yang ditutup akhir bulan Februari lalu di Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien, Kamis kemarin (28/3-201), dibuka kembali, mengingat ada beberapa umat yang tertinggal saat Po Un dilakukan bulan Februari oleh Pembina Rohaniawan Lim Tek Ching yang sengaja datang ke Jambi untuk dilakukan Po Un kepada empat kepala keluarga (KK).
Setelah itu Rohaniawan Lim Tek Ching kembali ke Sumsel (Palembang) untuk memimpin upacara sembahyang sejit Nan Hai Kwan Im.

Fisik Lim Tek Ching termasuk cukup kuat, berangkat dari Palembang 27 Maret 2013, pukul 20.00 malam, tiba di Jambi pukul 04.00 dini hari, istrirahat sebentar langsung melakukan upacara Pu Un untuk empat kepala keluarga yang tertinggal, setelah itu Lim Tek Ching kembali ke Palembang, “Untuk memberikan pelayanan kepada umat Khonghucu di Jambi, mau tidak mau saya mesti lakukan, apa lagi umat yang tertinggal setiap tahun mengikuti Po Un di Kelenteng MAKIN Sai Chen Tien’ ujar Lim Tek Chong di dampingi Sekretaris Makin Sai Che Tien, Hendro Thantro. (RM)

Hari Besar Kongzi 2492


Senin, Maret 18, 2013

Kelenteng Makin Kuang Leng Miau Rayakan Shejit Ong Seng Kong

JAMBI, ayojambi.com – Ratusan kaum hawa menghadiri ritual Perayaan Hari Ulang Tahun Dewa Ong Seng Kong di Kelenteng Kuang Leng Miau dibilangan Jalan Brigjen Katamso, Lorong Sriwijaya Rt. 12 Kelurahan Kasang, Kecamatan Jambi Timur dan sekaligus melakukan Kho Kun (sedekah) yang dipersembahkan kepada mahluk atau roh yang gentayangan berupa sesajian.
Hasil pantauan ayojambi.com, Senin pagi (18/03) sejak memasuki kawasan lorong Sriwijaya terdengar bunyi suara tambur serta semerbak aroma wewangian hio (gaharu) diiringi kaum ibu berdatangan kelenteng Kuang Leng Miuo (calon Majelis Agama Khonghucu Indonesia yang disingkat MAKIN), kedatangan kaum hawa tersebut untuk mengikuti prosesi ritual memperingati hari ulang tahun shen ming serta prosesi kho kun, umumnya kaum hawa pada membawa putra maupun putri mereka.

Kelenteng Kuang Leng Miau adalah warisan dari Almarhum Apek Macan yang awalnya hanya sebuah rumah ibadah pribadi milik Almarhum Apek macan yang didirikan pada tahun 1952 dan dibangun menjadi permanen oleh masyarakat Tionghoa di Jambi pada 2004 yang lalu.

Prosesi seperti biasanya, diawali dengan memohon izin kepada Tie Kong (Tuhan red) untuk dapat melaksanakan ritual perayaan hari ulang tahun sang dewa Ong Seng Kong dan kho kun persembahan sesajen kepada para pengawal shen ming dan arwah (roh) yang tidak diurusi oleh pihak keluarga, upacara dipimpin oleh seorang rohaniawan dari Matakin Provinsi Jambi, The Lien Teng dengan membaca So Bun (sejenis mantera pemberitahuan/ undangan red.

Setelah itu baru memasuki tahap kedua yaitu prosesi sembahyang memperingati HUT roh suci Ong Seng Kong dengan membacakan Ci Bun (sejenis laporan untuk dewa yang bersangkutan), selanjutnya baru memasuki upacara Kho Kun atau yang dikenal dengan sebutan kho kun dalam dan kho kun luar, yang dimaksud dengan kho kun dalam yaitu mempersembahan berbagai jenis makanan, buah-buahan dan Kim Cua (kertas sembahyang red) kepada para pengawal Sang Dewa yang ada didalam klenteng tersebut, seusai prosesi didalam baru melakukan khu kun diluar untuk para mahluk atau roh yang meninggal tidak tidak diurusi oleh pihak keluarganya, maupun meninggal tidak wajar seperti meninggal dunia gantung diri, kecelakaan, dibunuh orang dan lain sebagainya, maka perlu diadakan kho kun atau sedekahkan makanan dan lain-lain sebagainya kepada arwah (roh) yang tidak terurus. (Romy)

Sejarah Shen Ming Ong Seng Kong

JAMBI, ayojambi.com - Menurut cerita asal muasal roh suci Ong Seng Kong sebelum dititis menjadi dewa adalah sesosok manusia yang dikenal sangat menyayangi hutan yang hijerah dari Tiongkok ke Indonesia bermukim dikwasan antara Jambi dan Palembang, beliau rela bermukim didalam hutan untuk merawat hutan yang tidak dirawat oleh manusia bahkan menghabiskan waktu seorang diri didalam rimba yang terdapat di pulau Sumatera, bahkan sampai Ong Seng Kong wafat dan dikebumikan di kawasan Bayunglincir (Sumsel) kemudian rohnya dititis menjadi roh suci “shen ming”.
Mengingat jasa-jasa Ong Seng Kong yang begitu besar terhadap alam semesta maka masyarakat di Tiongkok membuatkan Kim Sin (Patung) yang merupakan wajah Ong Seng Kong dan dibuatkan altarnya untuk disembahyangkan masyarakat Tionghoa yang berhutang budi pada beliau dimasa lampau.

Perayaan shejit Ong Seng Kong tidak saja dirayakan di Kelenteng Calon Makin Kuang Leng Miuo di Jalan Brigjen Katamso, Lorong Sriwijaya Rt. 12 Kelurahan Kasang, Kecamatan Jambi Timur. Namun pada hari yang sama shejit Ong Seng Kong juga diperingati di Kelenteng Sam Liong Kiong yang terletak di Rt. 19 No. 76, Kelurahan Talang Bakung, Kecamatan Jambi Selatan, kota Jambi.

Kata Yap Seng Kim juru masak di kelenteng-kelenteng kepada reporter ayojambi.com, (18/3), menurut penuturan bahwa sangat meragukan keberadaan makam Ong Seng Kong yang kabarnya dikebumikan di Bayung Lincir, karena jika memang ada pastilah warga pada kesana. Namun tidak dapat dipungkiri memang Ong Seng Seng adalah seorang pencinta hutan, dan Ong Seng Kong pernah bermukim di Jambi pada masa lalu, selanjutntya ujar Seng Kim legenda tersebut telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. (Romy)

Minggu, Maret 17, 2013

Persiapan Sejit Ong Seng Kong

JAMBI. ayojambi.com - Ratusan kaum hawa bakal menghadiri ritual Perayaan Hari Ulang Tahun shen ming Ong Seng Kong di calon Kelenteng MAKIN Kuang Leng Miau yang beralamat di Jalan Brigjen Katamso, Lorong Sriwijaya Rt. 12 Kelurahan Kasang, Kecamatan Jambi Timur dan sekaligus melakukan Kho Kun (sedekah) yang dipersembahkan kepada mahluk atau roh yang gentayangan berupa sesajian.
Kelenteng Kuang Leng Miau adalah warisan dari Almarhum Apek Macan yang awalnya hanya sebuah rumah ibadah milik pribadi Almarhum Apek macan yang didirikan pada tahun 1952 dan dibangun menjadi permanen oleh masyarakat Tionghoa di Jambi pada 2004 yang lalu.

Hasil pantauan ayojambi.com, Minggu (17/03), sejak pukul 10.00 para locu (panitia) mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk upacara sembahyang besok hari (1/3), para socu mengikuti rohaniawan Matakin Jambi, The Lien Teng sembahyang. Memohon izin kepada Tie Kong (Tuhan red) untuk dapat melaksanakan ritual perayaan hari ulang tahun sang dewa Ong Seng Kong yang jatuh pada kalender lunar Jie Gwee Jiu Jit/ 19 Maret 2013.

Selasa, Maret 05, 2013

Pasca Banjir, Matakin Jambi Kembali Bantu Warga Danau Sipin

JAMBI – Air sungai batanghari telah surut, ribuan warga telah kembali kerumah masing sebelumnya mereka (warga) harus mengungsi ke tenda-tenda yang disediakan oleh pemerintah daerah sebagai tempat penampungan sementara. Walaupun warga yang terkena banjir sudah kembali kerumah masing-masing, namun mereka tidak sepenuhnya bisa melakukan aktifitas sebagaimana mestinya, karena warga mesti memperbaiki rumah merekan yang terendam air maupun membersihkan rumah mereka pasca banjir.
Mengingat beban yang di derita warga cukup berat, serta ada permintaan dari empat ketua rukun tetangga yaitu Rt, 24, 25, 26 dan 36 di desa Danau Sipin, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi.

Akhirnya warga Desa Danau Sipin mendapatkan bantuan, berupa mie instant masing-masing KK 1 dus dari Majelis Tingga Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota Jambi.

Kami sangat mengharapkan uluran tangan dari semua pihak yang peduli. Karena selama banjir kami tidak bisa bekerja disebabkan seluruh lahan pertanian tempat kami cari nafka terendam banjir. Umumnya warga disini bekerja sebagai petani. Kalau lahan terendam terpaksa menganggur dan tidak berpenghasilan,” ujar Yuliana (30)

Pasca bencana banjir yang merendam sebagian rumah warga di Kota Jambi ini beberapa waktu yang lalu, membuat MATAKIN Provinsi Jambi dan Kota perlu melakukan bantuan kepada warga yang terkena musibah banjir. Salah satu progran kerja Matakin yaitu bakti sosial melalui Makin-Makin, diantaranya Makin Po Seng Tai Te yang dikenal kelenteng “Hua Liong Kiong” kelenteng tersebut berada di Danau Sipin sejak tahun 1904. Hua Liong Kiong adalah salah satu tempat ibadah umat Khonghucu cukup tua di Rt. 23, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, sampai saat ini masih berdiri kokoh.

Darman Wijaya selaku Ketua Matakin Provinsi Jambi, mengatakan bantuan mie instan ini merupakan solidalitas umat Khonghucu di Jambi, ”Bantuan ini tulus dari umat Khonghucu dan tidak ada unsur politis. Maka kami perlu sampaikan langsung bantuan kepada yang bersangkutan, kami memberikan langsung dengan kupon yang telah disebarkan oleh ketua Rt setempat kepada keluarga yang rumahnya terendam.” (Romy)

Jumat, Maret 01, 2013

Matakin Jambi Suplay Bantuan Korban Banjir Di Danau Sipin

JAMBI - Soridalitas umat Khonghucu melalui Majelis Tingga Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota Jambi menyampaikan bantuan sosial kepada warga Danau Sipin yang tempat tinggalnya terkena dampak banjir.
Banjir yang masih merendam sebagian tempat tinggal warga di Kota Jambi, sejak beberapa pekan lalu sudah mulai surut, tingginya air tidak separah kemarin-kemarin. Dari dampak banjir di Kota Jambi ini mambuat ribuan masyarakat Kota Jambi terpaksa harus mengungsi ke posko yang disediakan oleh pemerintah setempat maupun pihak swasta, saat ini mereka sudah kembali kerumah masing-masing seperti warga dikawasan Danau Sipin.

Bencana banjir yang merendam sebagian rumah warga di Kota Jambi ini, membuat Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota merasa perlu melakukan bakti sosial melalui Kelenteng Makin Po Seng Tai Te yang dikenal kelenteng “Hua Liong Kiong”. Hua Liong Kiong adalah salah satu tempat ibadah umat Khonghucu tertua yang terletak di Rt. 23, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, Kelenteng yang didirikan sejak tahun 1904, hingga kini masih berdiri kokoh.

Bantuan akan disalurkan di Kelenteng Makin Po Sheng Tai Te yang dikenal "Hua Liong Kiong ". di Rt. 23, 39 dan 40, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, bantuan disalurkan melalui salah Makin di Danau Sipin, di Kelenteng Makin Po Sheng Tai Te bantuan itu dibagikan kepada warga yang mengalami musibah banjir.

Penyaluran bantuan langsung Matakin Jambi melalui jalur darat menuju Kelenteng Po Sheng Tai Te. terus bantuan ini langsung diserahkan oleh ketua Matakin Jambi, Darman Wijaya didampingi para pengurus Matakin Jambi dan kota kepada warga setempat disaksikan oleh ketua Rt setempat.

Menurut Ketua Matakin Provinsi Jambi, Darman Wijaya, bantuan ini merupakan solidalitas umat Khonghucu di Jambi, “Walaupun sedikit terlambat dalam menyalurkan bantuan ini, berhubung beberapa hari lalu Matakin dan Makin di Jambi banyak kegiatan yang tidak bisa ditunda,” maka pada hari ini bantuan baru bisa serahkan kepada warga yang sangat membutuhkan bantuan tersebut. (Romy)

Matakin Jambi Bantu Korban Banjir di Danau Sipin

JAMBI – Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota, menyalurkan bantuan langsung kepada 235 Kepala Keluarga (KK) di Rt 24,39 dan 40, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, berupa air mie instant. Sebanyak 235 Kepala Keluarga (KK), Jumat (1/3) pagi.
Beberapa waktu yang lalu para pengurus inti Matakin Jambi dan Kota melakukan tinjauan langsung ke lokasi banjir (25/2) sambil mendata jumlah korban banjir di Danau Sipin.

Darman Wijaya selaku ketua Majelis Tingga Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi mengatakan pihaknya memberi bantuan dengan hati ikhlas dan tidak ada unsur politis. ”Ini sebagai bentuk rasa kepedulian umat Khonghucu di desa ini, masing-masing keluarga mendapatkan satu dus mie instan,” ujar Darman Wijaya yang didampingi pengurus Matakin Jambi dan Kota.

Tambah Darman Wijaya, kami harapkan bantuan ini dapat meringankan korban banjir yang selama ini rumahnya kebanjiran, sehingga warga tidak bisa melakukan aktifitas untuk mencari nafkah. Walau kecil tapi seluruh warga dapat menikmatinya,” jelasnya dihadapan sejumlah wartawan yang ikut rombongan. (Romy)

Kamis, Februari 28, 2013

Hingga Kini Peserta Po Un Mencapai Ratusan KK

JAMBI – Hingga hari Kamis (28/2) peserta yang mengikuti prosesi Po Un (kias menolak bala) di Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien Jambi mencapai seratus kepala keluarga (KK), masing-masing kepala keluarga mewakili 5 jiwa, mereka datang ke Kelenteng Makin Sai Che Tien untuk mengikuti prosesi Po Un (kias) detik-detik terakhir.
Setiap perwakilan mesti mengikuti Lim Tek Ching, Taoshe mengelilingi altar Hok Hie Te Shien (nabi Fu Xi) sebanyak dua belas kali putaran, setiap putaran Taoshe membacakan berbagai mantera penolak bala, setelah meliwati jembatan Replika peserta diharuskan mengikuti Taoshe mengucapkan kalimat Kwe Ya (artinya LIWAT lah), makna ucapan itu, agar setiap orang bisa meliwati sehari-hari dan mewilati setiap bulan hingga akhir tahun dengan selamat tanpa ada alar melintang (Ciong).

Menurut Lim Tek Chong yang sengaja datang dari Provinsi Hok Kien, China, setiap awal tahun imlek, bahkan di China juga melakukan Po Un seperti ini, “Di China Po Un juga seperti yang dilakukan di Jambi,” Tambah Lim Tek Chong, setiap peserta Po Un mengikuti keliling altar shen ming sambil mengucapkan bahasa Hok Kien yaitu Kwe Ya, yang diartikan kita dapat meliwati segala lintangan tanpa ada gannguan (ciong).

Lim Tek Chong setiap awal tahun baru imlek diundang oleh Makin Sai Che Tien untuk memberikan pelayanan Pon Un kepada Umat Khonghucu di Provinsi Jambi. Namun selain di Jambi, umat Khonghucu di Sumsel juga ada mengundang beliau (Lim Tek Chong), maka empat hari di Jambi, empat hari di Palembang untuk melakukan Po Un.

Berhubung semakin banyak yang mau ikut Po Un, maka Makin Sai Che Tien akan memperpanjang waktu Po Un hingga 1 Maret 2013 (besok terakhir). (Romy)

Selasa, Februari 26, 2013

Pengurus Matakin Jambi Mengunjungi Lokasi Banjir

Banjir masih merendam Kota Jambi. Banjir yang terjadi sejak beberapa hari terakhir ini tampak mulai ada tanda-tanda surut, bahkan tinggi tidak separah kemarin.
Sebelum nya ribuan masyarakat Kota Jambi mengungsi ke posko yang disediakan oleh pemerintah, kini mereka telah kembali kerumah masing-masing seperti dikawasan Danau Sipin.

Bencana banjir yang merendam sebagian Kota Jambi ini, membuat Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota melakukan kunjungan ke kelenteng Hua Liong Kiong yang dikenal shen ming utama “Po Seng Tai Te”. Hua Liong Kiong adalah salah satu tempat ibadah Khonghucu tertua yang terletak di Rt. 03, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, Kelenteng yang didirikan sejak tahun 1904, hingga kini masih berdiri kokoh.

Akibat banjir, membuat para petinggi umat Khonghucu di Provinsi Jambi dan Kota Jambi melakukan kunjungan ke kelenteng tua yang ada di danau sipin, adapun pengurus Matakin Jambi yang ikut dalam rombongan, terdiri dari Ketua Matakin Jambi, Darman Wijaya, wakil ketua Matakin, Alex Sujanto, Wakil Ketua Bidang Sosial dan Humas, Berlianta Eliamsya (Lie Tjin Hai), dan Ketua Matakin Kota Jambi, Darmadi Tekun didampingi wakil ketua Matakin Kota, Huwanda Desswandhy.

Menurut Darman Wijaya selaku ketua Matakin di Provinsi Jambi, sudah sewajarnya melakukan peninjauan terhadap rumah ibadah umat Khonghucu di Jambi, sebagai bentuk solidaritas antar warga yang ada dilingkungan kelenteng Hua Liong Kiong (Romy)

Senin, Februari 25, 2013

Ribuan Warga Kota Jambi Tumpah Ruah Saksikan Karnaval Ca Go Meh


Jambi - Ribuan warga dari berbagai etnis tumpah ruah di Kelurahan Talang Jauh, Kecamatan Jelutung, untuk menyaksikan perayaan puncak Festival Cap Go Meh 2013, yang diadakan oleh umat Khonghucu, Jambi, sejak sore Minggu (24/2).
Berbagai atraksi yang tidak dapat dilakukan sembarang orang, seperti menusukan benda tajam kebagian tubunya, juga atraksi melompati kobaran api dan ritual keagamanan mewarnai kegiatan tersebut, diantaranya adalah Barongsai dan arak-arakan kursi tandu (joli) para roh suci shen ming.

Dalam kegiatan itu, sedikitnya ada puluhan shen ming ikut ambil bagian dalam diarak berkeliling dari satu kelenteng ke kelenteng lainnya oleh beberapa orang yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural.

"Selain keliling kelenteng, mereka juga masuk ke rumah-rumah warga Tionghoa untuk singgah dan mendoakan tuan rumah agar mendapat rezeki dan kesehatan," ujar warga RT 03, Kelurahan Talangjauh, yang hadir dalam perayaan itu.

Menurut warga, selain pemandu shen ming, masih ada dua atau tiga orang lagi yang dipercaya juga memiliki kekuatan supranatural dalam rombongan memandu roh suci shen ming itu.

Beberapa khi tong/ tatong, biasanya berjalan dalam kondisi tidak sadar, karena jasad mereka sudah dirasuki oleh roh suci, namun mereka dapat memberikan petunjuk kebaikan melalui pembacaan mantera atau kertas hu, katanya lagi.

Para khi tong/ tatung ini membawa sejenis bola-bola berduri dengan tali rantai dan senjata tajam seperti pedang (alat perang yang dipergunakan masing-masing dimasa hidup). Sesekalai ia membenturkan punggungnya dengan bandul berduri sehingga membuat kulit punggungnya terkelupas.

Bahkan, khi tong// tatung yang lainnya menusuk kulit pipinya dengan sejenis besi panjang hingga tembus ke pipi sebelahnya. Di ujung besi yang tembus diletakkan buah-buahan seperti pisang/ apel dan jeruk.

Mereka juga melakukan atraksi melompati api yang sedang berkobar yang sengaja diletakkan ditengah jalan perlintasan rombongan karnaval.

Dalam kegiatan itu, dihadiri oleh Anggota DPR RI dari Jambi H. A. Bakri HM, Wakil Gubernur Jambi Fachrori Umar, Danrem 042/Gapu Kolonel INF Eko Budi. S, Kajaksaan Tinggi, FKUB Provinsi Jambi, Kakanwil Kemenag Provinsi Jambi, Wakil Walikota Jambi Sum Indra, Pengadilan Negeri Jambi dan Bupati Tanjung Jabung Timur Zumi Zola, , dan unsur Muspida lainya.
Wakil Gubernur Jambi Facrori Umar dalam sambutan kegiatan itu mengatakan, apa yang ditampilkan oleh para umat Khonghucu ini adalah kekayaan budaya kita bersama yang patut dijaga dan dilestarikan.

"Inilah wujud keragaman budaya kita di Jambi ini, dan ini patut kita jaga bersama agar tetap lestari," katanya sambil mengucapakan selamat kepada ribuan umat Khonghucu yang berdesakkan di Kelenteng Makin Hok Kheng Tong.

Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Provinsi Jambi, Darman Wijaya mengaku perayaan Cap Go Meh tahun in lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya.

Menurut dia, ramainya umat yang datang menyaksikan kegiatan itu sebagai pertanda tidak ada lagi rasa ragu dan takut dalam diri umat Khonghucu di Jambi dalam merayakan kegiatan keagamaan mereka.

"Kegiatan Cap Go Meh ini lebih ramai dari tahun sebelumnya. Ini berkaitan dengan telah ditetapkannya agama Khonghucu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia, sehingga umat Khonghucu Jambi tidak usah takut dan ragu dalam merayakan ritual keagamaan, sebab segala kegiatan itu kini telah berlandasi undang-undang. Sekarang agama Khonghucu sudah setara dengan agama lain di Indonesia," paparnya. (Romy)

http://ayojambi