Tampilkan postingan dengan label Liong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liong. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 25, 2013

Ribuan Warga Kota Jambi Tumpah Ruah Saksikan Karnaval Ca Go Meh


Jambi - Ribuan warga dari berbagai etnis tumpah ruah di Kelurahan Talang Jauh, Kecamatan Jelutung, untuk menyaksikan perayaan puncak Festival Cap Go Meh 2013, yang diadakan oleh umat Khonghucu, Jambi, sejak sore Minggu (24/2).
Berbagai atraksi yang tidak dapat dilakukan sembarang orang, seperti menusukan benda tajam kebagian tubunya, juga atraksi melompati kobaran api dan ritual keagamanan mewarnai kegiatan tersebut, diantaranya adalah Barongsai dan arak-arakan kursi tandu (joli) para roh suci shen ming.

Dalam kegiatan itu, sedikitnya ada puluhan shen ming ikut ambil bagian dalam diarak berkeliling dari satu kelenteng ke kelenteng lainnya oleh beberapa orang yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural.

"Selain keliling kelenteng, mereka juga masuk ke rumah-rumah warga Tionghoa untuk singgah dan mendoakan tuan rumah agar mendapat rezeki dan kesehatan," ujar warga RT 03, Kelurahan Talangjauh, yang hadir dalam perayaan itu.

Menurut warga, selain pemandu shen ming, masih ada dua atau tiga orang lagi yang dipercaya juga memiliki kekuatan supranatural dalam rombongan memandu roh suci shen ming itu.

Beberapa khi tong/ tatong, biasanya berjalan dalam kondisi tidak sadar, karena jasad mereka sudah dirasuki oleh roh suci, namun mereka dapat memberikan petunjuk kebaikan melalui pembacaan mantera atau kertas hu, katanya lagi.

Para khi tong/ tatung ini membawa sejenis bola-bola berduri dengan tali rantai dan senjata tajam seperti pedang (alat perang yang dipergunakan masing-masing dimasa hidup). Sesekalai ia membenturkan punggungnya dengan bandul berduri sehingga membuat kulit punggungnya terkelupas.

Bahkan, khi tong// tatung yang lainnya menusuk kulit pipinya dengan sejenis besi panjang hingga tembus ke pipi sebelahnya. Di ujung besi yang tembus diletakkan buah-buahan seperti pisang/ apel dan jeruk.

Mereka juga melakukan atraksi melompati api yang sedang berkobar yang sengaja diletakkan ditengah jalan perlintasan rombongan karnaval.

Dalam kegiatan itu, dihadiri oleh Anggota DPR RI dari Jambi H. A. Bakri HM, Wakil Gubernur Jambi Fachrori Umar, Danrem 042/Gapu Kolonel INF Eko Budi. S, Kajaksaan Tinggi, FKUB Provinsi Jambi, Kakanwil Kemenag Provinsi Jambi, Wakil Walikota Jambi Sum Indra, Pengadilan Negeri Jambi dan Bupati Tanjung Jabung Timur Zumi Zola, , dan unsur Muspida lainya.
Wakil Gubernur Jambi Facrori Umar dalam sambutan kegiatan itu mengatakan, apa yang ditampilkan oleh para umat Khonghucu ini adalah kekayaan budaya kita bersama yang patut dijaga dan dilestarikan.

"Inilah wujud keragaman budaya kita di Jambi ini, dan ini patut kita jaga bersama agar tetap lestari," katanya sambil mengucapakan selamat kepada ribuan umat Khonghucu yang berdesakkan di Kelenteng Makin Hok Kheng Tong.

Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Provinsi Jambi, Darman Wijaya mengaku perayaan Cap Go Meh tahun in lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya.

Menurut dia, ramainya umat yang datang menyaksikan kegiatan itu sebagai pertanda tidak ada lagi rasa ragu dan takut dalam diri umat Khonghucu di Jambi dalam merayakan kegiatan keagamaan mereka.

"Kegiatan Cap Go Meh ini lebih ramai dari tahun sebelumnya. Ini berkaitan dengan telah ditetapkannya agama Khonghucu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia, sehingga umat Khonghucu Jambi tidak usah takut dan ragu dalam merayakan ritual keagamaan, sebab segala kegiatan itu kini telah berlandasi undang-undang. Sekarang agama Khonghucu sudah setara dengan agama lain di Indonesia," paparnya. (Romy)

http://ayojambi

Lautan Manusia Menyaksikan Malam Cap Go Me

Malam ini di Jalan Pangeran Diponegoro Kota Jambi akan menjadi lautan manusia, Minggu (24/2/2013). Ribuan orang bersukacita menyaksikan atraksi arak-arakan para roh suci (shen ming) yang turun dari berbagai kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) disertai tarian Barongsai dan Liong (naga). Inilah kirab ritual yang digelar Makin Kelenteng Leng Chun Keng, Kelenteng Makin Sai Che Tien dan Makin Kelenteng Hok Kheng Tong.
Dalam perayaan Cap Go Me, juga menampilkan atraksi Keng Kian (menusuk benda tajam kebagian tubuh) dan melompati api. Antusiasme semakin menjadi-jadi ketika ratusan kembang api dinyalakan guna memeriahkan malam dibulan purnama ini. Padatnya pengunjung di kawasan Makin Kelenteng Hok Keng Tong pada acara Malam perayaan Cap Go Me, membuat banyak warga masih tertahan di luar dan tidak dapat memasuki halaman kelenteng, untuk mengatasi masalah tersebut agar seluruh pengunjung dapat menyaksikan aktifitas yang berada di dalam lingkungan kelenteng, maka panitia pelaksana menyediakan layar lebar di luar arena kegiatan. (Romy)

Minggu, Februari 24, 2013

Yang Menarik Dari Malam Cap Go Me

 JAMBI, ayojambi.com – Malam Cap Go Me/ malam tanggal 15 imlek merupakan berakhirnya perayaan Tahun Baru Imlek, pada malam tersebut maupun sehari sebelum diberbagai daerah di tanah air pada adakan acara malam Cap Go Me. Ada karnaval lampion, umbul-umbul, arak-arakan kim sin para roh suci (shen ming), atraksi barongsai, liong dan yang tidak kalah seru adalah atraksi menyiksa diri dari para tatung/ kitong dengan benda tajam.
Perayaan malam Cap Go Me setiap tahun di Jambi dipusatkan dikawasan Koni, pada malam itu ribuan warga masyarakat Jambi tumpah ruah baik di beberapa kelenteng yang adalah karnaval maupun menyaksikan dari jalan-jalan yang dilalui rombongan karnaval.

Cap Go Me menjadi pusat perhatian warga masyarakat Kota Jambi, pasalnya pusat kegiatan perayaan malam Cap Go Me di Jambi, Minggu (24/2-2013). Arak-arakannya kim sin (patung shen ming) mulai pukul 17.60, setelah berbagai ritual dilakukan di Kelenteng MAKIN Leng Chun Keng dan Kelenteng MAKIN Sai Che Tien, selanjutnya kedua rombongan menuju ke Makin Kelenteng Hok Kheng Tong. Perayaan Cap Go Me ini murni dilaksanakan oleh para penganut kepercayaan Khonghucu Jambi.

Sejak Sabtu, berbagai persiapan kegiatan telah dilakukan oleh masing-masing kelenteng sebagai peserta karnaval, kegiatannya antara lain berupa parade lampion, atraksi barongsai, liong arak-arakan tandu (joli) kim sin (patung dewa), arak-arak Cap Go Me belangsung di sepanjang Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, yang jaraknya lebih dari lima kilo.

Atraksi budaya karnaval Cap Go Me dalam perayaan ini, mengarak sejumlah shen ming diantaranya kim sin “Hok Hie Te Sien, Go Hu Tua Lang Kong” dari Kelenteng Makin Sai Che Tien, terus kim sin “Che Liong Kong/Sun Ping Sing He” dari Makin Kelenteng Leng Chun Keng, ada juga partisipasi dari rumah ibadah Lam Tien Tong menurunkan kim sin “Tai Sang Lau Chin, Go Lui, Mau San Co Se” sedangkan kim sin dari Makin Kelenteng Hok Kheng Tong adalah “Cheng Cui Co Se, Kwan Seng Tai Te, Hien Tien Siong Te, Leng Hu Tua Lang.” dan Chi Kong (dewa Mabuk)

Penampilkan pawai barongsay dan liong dari sejumlah kelenteng, arak-arakan tandu/joli para shen ming di malam Cap Go Me diselenggarakan pada hari ke-15 perayaan Imlek itu akan mengitari kawasan Koni di Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, menuju ke Kelenteng Ceng Hong Lau di Kelurahan Budiman, Kecamatan Jambi Timur, yang jaraknya sekitar lima kilo.

Acara Cap Go Me, di hadiri Anggota DPR RI, Wakil Gubernur Jambi, Danrem 042/ Gapu, Kakanwil Hukum dan Ham Provinsi Jambi, Kejaksaan Tinggi Jambi, Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Jambi dan Wakil Walikota Jambi, Dandim 0415?batanghari Jambi, Pengadilan Negeri Jambi, beserta undangan lainnya.(Romy)

Kelenteng, Matakin, Matakin Jambi, Makin Jambi, Khonghucu, Matakin Indonesia, miou, Confucius, Litang, Kelenteng Jambi, Hok Liong Sai, Barongsai, Liong, 恭賀新禧﹐ 萬事如意, 新年祝福. 红灯笼

Banyak kalangan yang tidak tahu bahwa perayaan Imlek dan pereayaan malam Cap Go Me dapat dilakukan bebas berasal dari mana, awalnya banyak pihak yang menolak Imlek bersama, dan ada kalangan tertentu yang tidak menginginkan perayaan Imlek dan Cap Go Me dilakukan di Indonesia dengan meminta pemerintah orde baru melarang semua kegiatan yang bersifat etnis Tionghoa.
Kebebasan keturunan etnis Tionghoa masih terus dikebiri oleh pemerintah rezim Orde Baru dengan menerapkan penggunaan istilah dikotomi pribumi dan non pribumi. Kebijakan Inpres No. 14 Tahun 1967 telah melarang semua bentuk ekspresi keagamaan dan adat Tionghoa di ruang publik. Kondisi-kondisi inilah yang menyulut api sentimen pribumi vs Tionghoa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang akhirnya memuncak pada kerusuhan Mei 1998.

Barulah angin segar mulai menyapa keturunan etnis Tionghoa setelah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menduduki tampuk kepemimpinan RI pasca Reformasi. Dengan wawasan kebangsaan Gus Dur mencabut semua peraturan yang mendiskriminasikan kaum Tionghoa dengan mengeluarkan PP. No. 6 Tahun 2000. Bahkan, Gus Dur memberikan apresiasi dengan menjadikan tahun baru Imlek sebagai hari libur Nasional, sebagaimana hari raya agama-agama lainnya. Inilah wujud keberpihakan Gus Dur terhadap eksistensi etnis Tionghoa. Menurut Gus Dur, etnis Tionghoa adalah sama dengan etnis-suku bangsa yang lain, seperti Jawa, Batak, Papua, Arab, India, Jepang dan Eropa yang sudah sejak lama hidup dan menjadi bagian dari warga negara Indonesia.

Sejak kepemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, kembali mendapatkan kebebasan dalam merayakan tahun baru Imlek, yaitu di mulai pada tahun 2000. Dimana, Presiden Abdurrahman Wahid secara resmi mencabut Inpres Nomor 14/1967. Serta menggantikannya dengan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya).

Setelah Gus Dur mencabut inpres tersebut, Megawati presiden selanjutnya mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang isinya menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Perayaan Cap Go Me merupakan rangkaian upacara terakhir dari tahun baru Imlek, pada hari itu keluarga yang merayakan kembali menggelar sesaji di altar abu leluhur, bisa juga di meja biasa bagi yang tidak lagi memelihara abu leluhur. (Romy)

Para Shen Ming Bertemu Untuk Merayakan Malam Cap Go Me




JAMBI, ayojambi.com - Puluh roh suci (shen ming) akan berkumpul di Kelenteng Makin Hok Kheng Tong malam ini (24/2), Mereka akan ambil bagian dalam arak-arak sepanjang jalan raya. Inilah merupakan tradisi etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu atas jasa mantan Presiden RI yang ke empat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967. Inpres yang dikeluarkan oleh Soeharto ketika awal berkuasa pada tahun 1967 itu melarang kaum Tionghoa merayakan pesta agama dan adat istiadat di depan umum dan hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga.
Gus Dur mencabut larangan inpres itu karena dianggap diskriminatif padahal perlembagaan negara UUD 1945 menjamin perlindungan semua warga. Kalau yang lain bisa ke masjid, gereja, atau ke makam untuk ziarah, kenapa orang Tionghoa tidak boleh ke kelenteng? demikian alasan Gus Dur. Setelah Gus Dur mencabut inpres tersebut, Megawati presiden selanjutnya mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang isinya menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Malam ini di Jalan Pangeran Diponegoro Kota Jambi akan menjadi lautan manusia, Minggu (24/2/2013). Ribuan orang bersukacita menyaksikan atraksi arak-arakan para roh suci (shen ming) yang turun dari berbagai kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) disertai tarian Barongsai dan Liong (naga). Inilah kirab ritual yang digelar Makin Kelenteng Leng Chun Keng, Kelenteng Makin Sai Che Tien dan Makin Kelenteng Hok Kheng Tong.

"Kami bergerak dari satu kelenteng ke kelenteng lain untuk memeriahkan malam Cap Go Me.” Selama Orde Baru berkuasa, komunitas etnis Tionghoa dilarang mengekspresikan kebudayaan mereka. ”Jangankan bikin kirab, pasang hio di depan rumah saja dilarang,” ujar The Po Lai, Sekretaris Makin Sai Che Tien.

Setelah Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melepas kekangan itu, etnis Tionghoa pun bebas mengekspresikan tradisi dan kebudayaan mereka, termasuk menggelar kirab budaya cap go me. Dengan adanya perayaan cap go me, kata Po Lai, kelenteng menjadi semarak. (Romy)

Makin Hok Kheng Tong Lakukan Sembahyang Goan Siao Cui

JAMBI – Perayaan Cap Go Me merupakan rangkaian upacara sembahyang terakhir dari tahun baru Imlek, pada hari itu keluarga yang merayakan kembali menggelar sesaji di altar abu leluhur, maupun di klenteng. Sesaji untuk acara Cap Go Me lebih sederhana bila dibandingkan saat tahun baru Imlek.
Di Kelenteng Hok Kheng Tong Jambi, siang tadi (24/2), mengadakah sembahyang bersama menyambut datangnya Cap Go Me yang dipimpin oleh Rohaniawan Matakin Provinsi Jambi, The Lien Teng.

Bagaimana perayaan Cap Go Me di Jambi,? pesta goan siao di Jambi selain pawai Lampion atau Tanglung, atraksi barongsai, liong dan arak-arakan kim sin para suci shen ming (patung dewa) keliling kampung-kampung, namun sebelum acara tersebut dilaksanakan, terlebih dahulu diadakan sembahyang Goan Siao di Makin Kelenteng Hok Kheng Tong.

Ketua Matakin Provinsi Jambi, menyampaikan pesan kepada seluruh umat Khonghucu di Jambi agar tidak usah ragu-ragu lagi untuk melakukan sembahyang di Kelenteng-Kelenteng, maupun melakukan pemberkatan Pernikahan di Kelenteng, karena Khonghucu kini sudah setara dengan agama lain di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Repubrik Indonesia Nomor 55 tahun 2007, bahwa tempat ibadah umat Khonghucu adalah Miao, Littang dan Kelenteng adalah tempat ibadah, pendidikan agama umat Khonghucu, maka dengan ini kami sangat mengharapkan agar di Provinsi Jambi tidak ada Sinkretisme/ pengabungan beberapa agama. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 jo Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/ atau Penodaan Agama (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 3, Tambahan Negara Republik Indonesia Nomor 2727). Selain itu bagi umat Khonghucu yang KTPnya masih beragama lain dapat segera mengantikan dengan KTP Khonghucu.

Disamping itu bagi umat Khonghucu di Provinsi Jambi yang anaknya masih sekolah di sekolah-sekolahan sudah dapat pendidikan keagaman mulai dari SD hingga SMA dan saat ini di Provinsi Jambi telah berdiri 9 Kelenteng yang menjadi MAKIN dan ada puluhan lainnya segera mengajukan SK ke MATAKIN Pusat.

Selain itu, kami harapkan kepada umat Khonghucu di Provinsi Jambi jika ada oknum yang melakukan intimidasi maupun mengancam, segera melaporkan kepada Matakin Provinsi Jambi maupun Matakin Kota Jambi.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, Matakin Provinsi Jambi dan Kota Jambi mengajak para pengusaha dan umat Khonghucu Jambi agar dapat mengulurkan tangan untuk membantu saudara-saudara kita yang tengah mengalami musibah kebanjiran di Provinsi Jambi dan kota Jambi, bantuan dalam bentuk dana maupun kebutuhan sehari-hari.

Sebelum kami akhiri, perkenankanlah kami menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada mantan Presiden RI yang ke empat, Almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang telah mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967. ditindaklanjuti Presiden RI ke lima, Ibu Megawati Soekarnoputri mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang isinya menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Serta Peraturan Pemerintah Repubrik Indonesia Nomor 55 tahun 2007, bahwa tempat ibadah umat Khonghucu adalah Miao, Littang dan Kelenteng, maka dengan ini kami sangat mengharapkan agar di Provinsi Jambi tidak ada Sinkretisme/ pengabungan agama. Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 jo Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/ atau Penodaan Agama (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1965 Nomor 3, Tambahan Negara Republik Indonesia Nomor 2727).  (Romy)

Para Shen Ming Bertemu Untuk Merayakan Malam Cap Go Me

JAMBI, ayojambi.com - Puluh roh suci (shen ming) akan berkumpul di Kelenteng Makin Hok Kheng Tong malam ini (24/2), Mereka akan ambil bagian dalam arak-arak sepanjang jalan raya. Inilah merupakan tradisi etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu atas jasa mantan Presiden RI yang ke empat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Intruksi Presiden (Inpres) No 14/1967. Inpres yang dikeluarkan oleh Soeharto ketika awal berkuasa pada tahun 1967 itu melarang kaum Tionghoa merayakan pesta agama dan adat istiadat di depan umum dan hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga.
Gus Dur mencabut larangan inpres itu karena dianggap diskriminatif padahal perlembagaan negara UUD 1945 menjamin perlindungan semua warga. Kalau yang lain bisa ke masjid, gereja, atau ke makam untuk ziarah, kenapa orang Tionghoa tidak boleh ke kelenteng? demikian alasan Gus Dur. Setelah Gus Dur mencabut inpres tersebut, Megawati presiden selanjutnya mengeluarkan Keppres No 19/2002 yang isinya menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.

Malam ini di Jalan Pangeran Diponegoro Kota Jambi akan menjadi lautan manusia, Minggu (24/2/2013). Ribuan orang bersukacita menyaksikan atraksi arak-arakan para roh suci (shen ming) yang turun dari berbagai kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) disertai tarian Barongsai dan Liong (naga). Inilah kirab ritual yang digelar Makin Kelenteng Leng Chun Keng, Kelenteng Makin Sai Che Tien dan Kelenteng Makin Hok Kheng Tong.

"Kami bergerak dari satu kelenteng ke kelenteng lain untuk memeriahkan malam Cap Go Me.” Selama Orde Baru berkuasa, komunitas etnis Tionghoa dilarang mengekspresikan kebudayaan mereka. ”Jangankan bikin kirab, pasang hio di depan rumah saja dilarang,” ujar The Po Lai, Sekretaris Makin Sai Che Tien.

Setelah Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur melepas kekangan itu, etnis Tionghoa pun bebas mengekspresikan tradisi dan kebudayaan mereka, termasuk menggelar kirab budaya cap go me. Dengan adanya perayaan cap go me, kata Po Lai, kelenteng menjadi semarak. (Romy)

Sabtu, Februari 23, 2013

Tiga Makin Akan Meriahkan Kirap Cap Go Meh di Kota Jambi

JAMBI – Tiga Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) di Kota Jambi akan meriahkan Malam Perayaan Cap Go Meh yang akan digelar besok (6/2/2013), selain kirab roh suci shen ming (dewa) ada juga pertunjukan barongsai dan liong dalam Festival malam Cap Go Meh di Jalan Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.
Tahun ini diperkirakan pengunjung yang ingin menyaksikan Festival Cap Go Meh akan mencapai ribuan orang, masyarakat akan datang untuk melihat langsung di pawai.

Sehari sebelum perayaan malam Cap Go Meh yang akan digelar Tiga Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kota Jambi, pagi tadi bertempat di Makin Kelenteng Hok Kheng Tong diadakan sembahyang dihadapan altar Tie Kong (Tuhan), upacara tersebut dipimpin Pembina Khonghucu, Lim Tek Chong dari China.

Setiap tahun sebelum perayaan malam Cap Go Meh, Makin Kelenteng Hok Kheng Tong senantiasa melakukan sembahyang dihadapan Tie Kong (Tuhan) dengan membaca So Bun (baca pemberitahuan) kepada Tio Kong sekaligus mengundang kehadiran para roh suci shen ming.

Seusai itu, para pengurus mempersiapkan berbagai perlengkapan untuk perayaan Cap Go Meh esok (24/2), selain itu di Makin Sai Che Tien dan Makin Leng Chun Keng juga telah mempersiapkan berbagai keperluan perayaan.

Besok sore masing-masing kelenteng, diantaranya pemindahan Kim Sin (patung roh suci) dinaikan ke kursi tandu (joli). Selain itu ada tradisi tang ki tolak penolak bala yang dikenal dengan sebutan tatung, serta parade lampion, arak-arakan umbul-umbul dari masing Makin dengan rute Koni IV melintasi Jalan Pangeran Diponegoro-Koni I-Kelenteng Cheng Hong Lao dan kembali ke kelenteng Hok Kheng Tong (pusat perayaan cap go meh). festival malam Cap Go Meh juga dimeriahkan pesta kembang api di masing-masing kelenteng.

Menurut jadwal acara besok, sekitar pukul 17.30 peserta festival mendatangi Makin Hok Kheng Tong diiringi tandu (joki) roh suci shen ming dan kitong/ tatung yang telah dirasuki roh shen ming dari masing-masing kelenteng. Setelah karvanal dimulai, masyarakat akan dihibur oleh 2 biduanita dari Kepulauan Riau (Batam). Romy

Selasa, Februari 12, 2013

Atraksi Barongsai dan Liong Bagi Hadiah Di Mal Trona Jambi

JAMBI - Tiga ekor Barongsai (kucing barong) dan seekor Naga (liong), kemarin menghebohkan pusat perbelanjaan Trona Jambi di Jalan Jenderal Sudirman, Jambi. Barongsai berwarna merah, putih dan kuning berkeliling diantara stan-stan yang ada di pusat perbelanjaan tersebut.
Rombongan Barongsai didampingi Liong mengeliling ke setiap stan dari lantai dasar hingga ke lanta tiga diiringi musik pengiring. Ketiga Barongsai berlenggak-lenggok sambil memberikan hormat ketiap pengunjung Mal Trona Jambi dengan cara kepala Barongsai angguk-angguk. Selanjutnya, pengunjung bahkan anak-anak memasukan angpao ke mulut si Barongsai.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu acara yang rutin dilakukan di pusat perbelanjaan Trona Jambi untuk memeriahkan Tahun Baru Imlek 2564, Senin kemarin (11/2-2013). Sebelum mengelilingi mal, ketiga Barongsai dan Liong tersebut melakukan atraksi di depan pelataran mal.


Suara genderang ditabuh mengiringi Barongsai dan Liong pun bersemangat menghibur pengunjung mal yang sengaja datang untuk menyaksikan acara tahunan dan Barongsai menebarkan semangat Tahun Baru Imlek kepada seluruh pengunjung. Tidak sedikit pengunjung mal siang itu mengabadikan atraksi Barongsai dengan kamera hp maupun pengunjung membawa kamera poket.

Dengan antusias anak-anak pun saling berebut mendekati Barongsai yang sedang beraksi sambil mengikuti rombongan dari belakang.

Santi, salah satu pengunjung mal juga mengaku cukup terhibur. Sebab di lain mal menurut Santi tidak ada hiburan Barongsai dan Liong.

Selain itu melakukan atraksi-atraksi, Liong (naga) memberikan puluhan hadiah imlek kepada para pengunjung di pelataran mal, terlihat betapa bahagianya pengunjung yang bisa menyambut hadiah yang diuntalkan Liong kepada pengunjung, tak sedikit yang berebutan sesama pengunjung.

Kehadiran Barongsai dan Liong selain mengibur pelanggan mal, khususnya masyarakat Tionghoa mempercayai bahwa kesenian Barongsai dan Liong dapat mengusir aura buruk terhadap lingkungan tempat tinggal, kantor, kelenteng dan mal/ pusat perbelanjaan.

Konon ceritanya, ada beberapa versi sejarah Barongsai dimasa Dinasti Qing, di salah satu wilayah China ada monster yang mengganggu penduduk sehingga menimbulkan keresahan dan ketakutan dikalangan penduduk. Pada saat itulah muncul Singa (Barongsai) datang untuk menghalau monster tersebut. Akhirnya, monster kalah dan lari ketakutan.

"ternyata monster mau balas dendam dan masyarakat pada kebingungan, akhirnya mereka buat kostum menyerupai Barongsai seperti yang sering kita jumpai sekarang berhasil menyingkirkan monsternya." (Romy)

Senin, Februari 11, 2013

Barongsai Hibur Pengunjung Mal Trona Jambi

JAMBI – Setiap hari kedua perayaan Tahun Baru Imlek, Mal Trona Jambi di Jalan Jnderal Sudirman menghadirkan Barongsai dan Liong (Naga) dari perkumpulan Hok Liong Sai untuk menghibur para pelanggan belanja di Tahun Baru Imlek 2564, Senin (11/2/2013).
Barongsai beserta Liong (Naga) yang dihadirkan khusus merayakan Tahun Baru Imlek 2564 menjadi hiburan bagi pengunjung Mal Trona Jambi.

Pertunjukan Barongsai dan Liong menjadi perhatian pengunjung yang merayakan liburan sambil berbelanja di Mal Trona Jambi.

Ujar ibu Santy yang sengaja datang untuk melihat pertunjukan Barongsa bersama anak-anaknya, "Senang banget bisa melihat atraksi Barongsai yang tampil setahun sekali di Trona Jambi," kata Ibu Santy, di sela-sela menyaksikan tarian Barongsai dan Liong dari Hok Liong Sai.

Tarian Barongsai dan Liong mulai dari pukul 16.00 sore di pelataran Mal Trona Jambi, ternyata para pengunjung Mal Trona Jambi telah mempersiapkan angpao/ uang yang dimasukan ke amplop warna merah dan angapao tersebut dimasukan ke mulut Singa (barongsai).

Barongsai selain sebagai kesenian hiburan, juga dipercayai masyarakat Tionghoa bisa menetralisir aura negatif dan juga sebagai penolak bala.

Atraksi Barongsai dan Liong berakhir pukul 18.00 wib, bagi warga yang belum sempat menyaksikan Atraksi Barongsai, besok (12/-2-2013 dapat menyaksikan di Trophy Square di kawasan Payo Selincah Jambi, mulai pukul 15.00 wib (Romy)

Minggu, Februari 10, 2013

Imlek Memberi Makna Kesatuan dan Kerukunan

Bupati Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) Zumi Zola yang hadir bersama istrinya Sherin di open house Imlek yang digelar pengusaha Robin mengatakan, sangat bahagia dapat bertemu dengan seluruh masyarakat yang hadir di kegiatan tersebut. "Ini adalah wujud dari kerukunan dalam masyarakat, silaturahmi di tengah masyarakat harus terus dilestarikan dan dijaga," ungkapnya kepada Tribun, Minggu (10/2).
Zumi menambahkan, bahwa Imlek memiliki nilai yang berharga, karena dengan adanya Imlek telah memberi makna kesatuan dan kerukunan. "Ini bukti tidak adanya perpecahan karena suku di tengah-tengah masyarakat. Lihatlah semuanya duduk satu meja dan menyantap makanan yang sama, " ujarnya.

http://jambi.tribunnews.com/2013/02/10/zumi-zola-imlek-memberi-makna-kesatuan-dan-kerukunan

Barongsai Jambi Dari Rumah Ke Rumah

JAMBI - Perayaan Tahun Baru Imlek 2564 di Jambi dimeriahkan oleh atraksi barongsai dari Perkumpulan Hok Liong Sai Jambi. Uniknya atraksi tersebut dilakukan dari rumah ke rumah.
Atraksi dari rumah ke rumah yang digelar Minggu (10/2/2013) pagi, tersebut disambut antusias warga Tionghoa. Tidak sedikit warga memberikan angpao setiap barongsai menyambangi mereka. Aksi memukau dari barongsai ini juga menghibur warga etnis lain.

Di Jambi, atraksi barongsai setiap Imlek merupakan sebuah tradisi dan sebagai lambang pembauran warga Jambi. Aksi ini terbukti mampu menghibur warga non Tionghoa.

Para pemain barongsai dengan lincah melompat sambil menggerakkan kepala barongsai dengan iringan tabuhan gong khas Tionghoa.

Setiap barongsai dihiasi jumbai-jumbai agar tampak menarik dengan aneke warna, seperti hijau, merah, kuning dan lainnya, sedangkan pemainnya juga mengenakan pakaian khusus dengan warna yang sama dengan barongsai yang mereka mainkan.

Pertunjukan barongsai tersebut juga bukan sekedar menghibur warga, tetapi mengandung makna doa selamat bagi penghuni rumah yang dikunjunginya sehingga lebih sukses di tahun yang baru dan barongsai dipercayai masyarakat Tionghoa sebagai sarana menolak bala/ bencana.

"Menurut kepercayaan Tionghoa, kunjungan barongsai ke rumah-rumah warga itu merupakan ritual menolak bala bencana," (Romy)

Imlek Perayaan Agama yang Sudah Membudaya

JAMBI - Imlek tidak hanya dirayakan umat Khonghucu, tetapi juga kebanyakan warga keturunan Tionghoa di berbagai belahan dunia. Di dalamnya terkandung nilai-nilai religi dan sosial yang begitu kental, berbagai macam aksesori berwarna merah menyala, seperti lampion, lilin, hio, barongsai, pohon jeruk yang dihiasi angpau banyak dijumpai di super market, mini market dan toko-toko, asesoris tersebut untuk menyemarakan Tahun Baru Imlek yang tahun ini jatuh pada 10 Februari 2013.
Bagi masyarakat Tionghoa di belahan dunia mana pun, Imlek atau Tahun Baru China merupakan perayaan yang begitu di-nanti-nantikan. Betapa besar arti Imlek bagi mereka, tidak sekadar sebagai sarana perenungan untuk memperbaiki diri, tetapi juga momen yang paling afdol untuk memohon kehidupan yang lebih baik kepada Sang Pencipta, serta mendoakan para leluhur. "Kalau ada kekurangan dan kesalahan diperbaiki dan kalau ada keburukan sebaiknya dibuang.,"

Umumnya warga Tionghoa menjadikan Imlek sebagai momentum introspeksi diri dan pengharapan untuk nasib yang lebih baik pada masa depan. Menurut sejarahnya, tradisi merayakan Imlek yang tahun ini menginjak tahun ke-2564 itu telah dimulai sejak zaman Dinasti Han pada 551 sebelum masehi (SM). Pada masa itu agama Khonghucu diakui sebagai agama negara.

Karena itu, tidak heran jika Imlek kemudian meluas tidak hanya sebagai perayaan keagamaan tetapi juga menjadi budaya masyarakat Tionghoa, makna itu menyangkut berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Pada perayaan hari besar itu warga Tionghoa memanfaatkannya untuk merekatkan kembali jalinan kekeluargaan. Anggota-anggota keluarga yang tinggal saling berjauhan biasanya berkumpul bersama untuk merayakan Imlek.

Biasanya warga merayakan Imlek dengan ritual sembahyang dan makan bersama. Doa-doa yang dipanjatkan tidak lepas dari permohonan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik (layak) pada masa mendatang. Tak kalah penting adalah acara saling bersilaturahmi dan berkunjung ke rumah sanak saudara dan tetangga terdekat.

Biasanya pada momen imlek itu orang yang lebih tua memberikan angpau kepada mereka yang lebih muda atau belum menikah. Beragam kue tradisional khas China juga disajikan sebagai pelengkap kemeriahan Tahun Baru Imlek.

Perayaan Imlek yang kerap dimeriahkan pula dengan berbagai atraksi-atraksi seni tradisional China seperti barongsai, liong (naga), wushu, wayang China (potehi), Imlek ditutup dengan perayaan malam Cap Go Meh. (Romy)

Imlek Diwarnai Pembagian Angpao

JAMBI - Minggu (10/02) suasana perayaan tahun baru Imlek 2564, atau yang lebih dikenal dengan tahun baru Imlek bagi umat Khonghucu berlangsung berlangsung meriah. Nampak sejumlah kegiatan dipusatkan di kelenteng (bio-bio), yang juga diwarnai dengan pembagian angpao.
Sesuai dengan inti ajaran Khonghucu adalah cinta kasih dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui momen ini umat diajak untuk mengembangkan rasa cinta kasih terhadap sesama. Begitu juga dengan cinta kasih kepada lingkungan hidup. “Untuk itu ciptakan suasana kehidupan yang harmonis kepada saudara-saudara dan tetangga-tetangga kita agar tercipta susana yang rukun dan damai.”

Cinta kasih menurutnya tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ungkapan saja. Tetapi juga dalam perbuatan kita, yaitu saling memberi pertolongan kepada orang lain, membantu sudara-sudara kita yang susah serta menghindari sifat kekerasan dan selalu menonjolkan kekuasaan.

Dimana menjelang satu hari tahun baru Imlek, pada Minggu (10/02) di berbagai kelenteng dan rumah-rumah, Umat Khonghucu melaksanakan sembahyang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa (Tien), dan juga melaksanakan sembahyang terhadap leluhur.

Untuk sembahyang leluhur dilaksanakan pada siang hari dan dilakukan di rumah masing-masing, tetapi ada juga yang di rumah abu. Adapun makna sembahyang ini adalah sebagai kelanjutan laku bakti dari anak-anak dan cucu-cucu keturunanya kepada orang tua mereka yang telah tiada.

“Sebab budi orang tua tidak mampu dibalas selama beliau-beliau masih hidup. Maka dilanjutkan dengan upacara sembahyang leluhur pada saat-saat hari raya atau pada hari-hari peringatan.”

Selanjutnya pada malam hari saat-saat menjelang hari tahun baru ada sembahyang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa (YME), untuk mengucap syukur atas rahmat perlindunganNya sepanjang tahun. Dan juga bermohon rahmat dan perlindunganNya sepanjang tahun yad yang tinggal beberapa saat akan kita masuki.

Dimana permohonan tersebut untuk pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. “Dan Secara umum sembahyang malam tersebut dilaksanakan di kelenteng-kelenteng maupun lithang serta secara pribadi dapat dilaksanakan di rumah masing-masing.”

Tradisi Angpao Di Tahun Baru Imlek

Sejak lama, warna merah melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa. Warna merah menunjukkan kegembiraan, semangat yang pada akhirnya akan membawa nasib baik.
Angpao sendiri adalah dialek Hokkian, arti harfiahnya adalah bungkusan/amplop merah. Sebenarnya, tradisi memberikan angpao sendiri bukan hanya monopoli tahun baru Imlek, melainkan di dalam peristiwa apa saja yang melambangkan kegembiraan seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain2, angpao juga akan ditemukan.

Angpao pada tahun baru Imlek mempunyai istilah khusus yaitu “Ya Sui”, yang artinya hadiah yang diberikan untuk anak-anak berkaitan dengan pertambahan umur/ pergantian tahun. Di zaman dulu, hadiah ini biasanya berupa manisan, bonbon dan makanan. Untuk selanjutnya, karena perkembangan zaman, orang tua merasa lebih mudah memberikan uang dan membiarkan anak-anak memutuskan hadiah apa yang akan mereka beli. Tradisi memberikan uang sebagai hadiah Ya Sui ini muncul sekitar zaman Ming dan Qing. Dalam satu literatur mengenai Ya Sui Qian dituliskan bahwa anak2 menggunakan uang untuk membeli petasan, manisan. Tindakan ini juga meningkatkan peredaran uang dan perputaran roda ekonomi di Tiongkok di zaman tersebut.

Angpao apakah disebut angpao di zaman dulu? Bagaimana bentuknya?
Tidak. Uang kertas pertama kali digunakan di Tiongkok pada zaman Dinasti Song, namun baru benar2 resmi digunakan secara luas di zaman Dinasti Ming. Walaupun telah ada uang kertas, namun karena uang kertas nominalnya biasanya sangat besar sehingga jarang digunakan sebagai hadiah Ya Sui kepada anak-anak.

Di zaman dulu, karena nominal terkecil uang yang beredar di Tiongkok adalah keping perunggu (wen atau tongbao). Keping perunggu ini biasanya berlubang segi empat di tengahnya. Bagian tengah ini diikatkan menjadi untaian uang dengan tali merah. Keluarga kaya biasanya mengikatkan 100 keping perunggu buat Ya Sui orang tua mereka dengan harapan mereka akan berumur panjang.

Jadi, dari sini dapat kita ketahui bahwa bungkusan kertas merah (angpao) yang berisikan uang belum populer di zaman dulu.

Pemberian angpao apakah punya makna tersendiri?
Orang Tionghoa menitik beratkan banyak masalah pada simbol-simbol, demikian pula halnya dengan tradisi Ya Sui ini. Sui dalam Ya Sui berarti umur, mempunyai lafal yang sama dengan karakter Sui yang lain yang berarti bencana. Jadi, Ya Sui bisa disimbolkan sebagai “mengusir/meminimalkan bencana” dengan harapan anak2 yang mendapat hadiah Ya Sui akan melewati 1 tahun ke depan yang aman tenteram tanpa halangan berarti.

Siapa yang wajib memberikan angpao dan berhak menerima angpao?
Di dalam tradisi Tionghoa, orang yang wajib dan berhak memberikan angpao biasanya adalah orang yang telah menikah, karena pernikahan dianggap merupakan batas antara masa kanak2 dan dewasa. Selain itu, ada anggapan bahwa orang yang telah menikah biasanya telah mapan secara ekonomi. Selain memberikan angpao kepada anak-anak, mereka juga wajib memberikan angpao kepada yang dituakan.

Bagi yang belum menikah, tetap berhak menerima angpao walaupun secara umur, seseorang itu sudah termasuk dewasa. Ini dilakukan dengan harapan angpao dari orang yang telah menikah akan memberikan nasib baik kepada orang tersebut, dalam hal ini tentunya jodoh. Bila seseorang yang belum menikah ingin memberikan angpao, sebaiknya cuma memberikan uang tanpa amplop merah.

Namun tradisi di atas tidak mengikat. Sekarang ini, pemberikan angpao tentunya lebih didasarkan pada kemapanan secara ekonomi, lagipula makna angpao bukan sekedar terbatas berapa besar uang yang ada di dalamnya melainkan lebih jauh adalah bermakna senasib sepenanggungan, saling mengucapkan dan memberikan harapan baik untuk 1 tahun ke depan kepada orang yang menerima angpao tadi. (Yahoogroups/ Budaya Tionghoa)

Senin, Februari 06, 2012

Ribuan Masyarakat Jambi Meriahkan Malam Cap Go Meh

JAMBI - Perayaan Malam Cap Go Meh di Kota Jambi yang digelar Senin (6/2/2012) malam oleh Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) “Hok Khneg Tong”, Makin “Leng Chun Keng” dan Makin “Sai Che Tien” berlangsung meriah. Acara ini juga membuat jalan Pangeran Diponegoro dan kawasan koni Jambi macet total.
Pada acara tersebut ditampilkan barisan umbul-umbul kebesaran shen ming, lantera (teng long), atraksi liong, barongsai, puluhan kitong (tatung) dan sembilan kursi tandu untuk tempat duduk shen ming (dewa) serta hiburan artis dari Batam yang dipersembahkan oleh pengurus Makin Hok Kheng Tong Jambi.

Ada juga penampilan dari penampilan Roh Suci Ci Kung (dewa mabuk) dengan tingkah laku yang membuat penonton tertawa. Ribuan warga kota Jambi hadir menyaksikan acara tersebut.

Wakil Ketua Makin Hok Keng Tong, Berlianta Eliamsya (Lie Chin Hai), mengatakan bahwa malam Cap Go Meh ini adalah acara penutup rangkain kegiatan Imlek selama 15 hari, dalam pengertian Cap Go=15, Meh=Malam, maka Cap Go Meh kita lakukan pada malam hari sesuai dengan namanya “Cap Go Meh”.

"Dengan hadirnya tahun baru Naga Air mari kita tingkatkan persatuan dan kesatuan serta mendukung program kerja pemerintah dalam membangun Kota Jambi.” Berlianta.

Dimana rencana malam Cap Go Meh ini, Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus, Wakil Gubernur Jambi, Fachrori Umar, Danrem 042/ Gapu, Kolonel Kav Hasto PR Yuwono, Kapollda Jambi, Brigjen Pol Drs. Anang Iskandar, SH., MH, Walikota Jambi, dr.H.Rd.Bambang Priyanto, Wakil Walikota Jambi, M. Sum Indra, SE, Dandim 0415/ Batanghari, Letkol Ezi Suprayogi beserta unsur muspida kan hadir, namun ada rapat mendadak untuk persiapan penyambutan Presiden RI ke Jambi. Maka staf khusus Gubernur dan wakil Walikota, M. Sum Indra, SE yang hadir serta para tokoh masyarakat Tionghoa dan pengusaha pendukun acara Cap Go Meh. (Romy)

Di Jambi, Liong Datangi Rumah Umat Khonghucu

JAMBI - Lampu warna warni dan hiasan Lentera (Teng Long) mewarnai tiga Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) di Kota Jambi, yaitu Makin Hok Kheng Tong, Makin Sai Che Tien dan Makin Leng Chun Keng, tahun ini merupakan tahun yang agak lain dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, karena tahun ini sejumlah petinggi daerah ikut ambil bagian dalam perayaan Malam Cap Go Meh.
Cap Go Meh dirayakan 15 hari setelah Perayaan Tahun Baru Imlek, atau pada tanggal 15 bulan satu Imlek.

Kegiatan Pawai Lentera (Teng Long) yang mengambil start di Klenteng Hok Kheng Tong menuju rute yang dituju adalah Jalan Pangeran Diponegoro - Jalan Koni I, terus menuju Klenteng Ceng Hong Lao dikawasan Budiman, Talangbanjar dan finish di Klenteng Hok Kheng Tong. Disepanjang jalan ratusan masyarakat Kota Jambi berbaur untuk menyaksikan atraksi dari barongsai, liong dan atraksi dari masing-masing kitong, satu persatu klenteng dikawasan koni dihampiri oleh rombongan pawai, selain

Berlianta Eliamsya (Lie Chin Hai), mengatakan, pawai lampion pada perayaan Festival Cap Go Meh 2012 merupakan agenda kegiatan dari tiga klenteng dikawasan Koni Jambi, “Festival lentera atau lampion merupakan agenda dari Makin Hok Keng Tong, Making Sai Che Tien dan Makin Leng Chun Keng” selanjutnya tambah bahwa, perayaan Cap Go Meh tahun ini Gubernur beserta unsur muspida tidak dapat hadir, kerena mereka ada rapat, kedatangan Presiden RI ke Jambi, namun kita tidak lupa mengucapkan terima kasih atas dukungan dari pemerintah provinsi Jambi serta Kapolda Jambi dan Korem 042/Gapu.

Pawai lampion yang merupakan satu di antara rangkaian kegiatan Festival Cap Go Meh ini memberikan dampak positif kepada masyarakat, karena banyaknya dihadiri masyarakat di sekitar Kota Jambi. (Romy)

Malam Ini, Ada Festival Malam Cap Go Meh Di Jambi

JAMBI, ayojambi.com – Malam ini kawasan Koni Jambi menjadi pusat perhatian warga masyarakat Kota Jambi, pasalnya pusat perayaan malam Cap Go Meh di Jambi, Senin (6/2/2012) malam. Arak-arakannya roh suci kim sin para shen ming (baca patung dewa red) dimulai pukul 17.30, sebelum Festival Cap Go Meh dimulai, terlebih dahulu MAKIN Leng Chun Keng dan Klenteng MAKIN Sai Che Tien adakan upacara mengundang shen ming (roh suci) datang dan menduduki kursi tandu (kio) yang telah disediakan pihak klenteng, setelah berbagai ritual dilakukan di Klenteng, selanjutnya kedua rombongan menuju Klenteng Hok Kheng Tong. Agenda Cap Go Me ini murni dilaksanakan oleh para penganut agama Khonghucu Jambi setiap tahunnya.
Sejak Senin pagi, berbagai persiapan kegiatan telah dipersiapkan oleh masing-masing klenteng, kegiatannya antara lain berupa cek lampu-lampu baterai untuk lampion, peralatan barongsai, liong, tandu kim sin (patung dewa).

Atraksi budaya karnaval Cap Go Meh dalam perayaan ini, mengarak kim sin roh suci dan menampilkan pawai barongsay dan liong dari sejumlah klenteng, arak-arakan Cap Go Me yang diselenggarakan pada hari ke-15 perayaan imlek itu akan mengitari kawasan Koni di Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, menuju ke Klenteng Ceng Hong Lau di Kelurahan Budiman, Kecamatan Jambi Timur. Dibeberapa lokasi para kitong (tatung) dan tandu kim sin akan melintasi api.

Festival Malam Cap Go Me Di Jambi, berbeda dengan perayaan Cap Go Meh didaerah lain yang kelap kali dilakukan pada siang hari, untuk Jambi festival Cap Go Meh setiap tahun dilakukan pada malam hari, agar lampion yang pasang lampu bisa menambah keindahan festival.

Disamping itu, Berlianta Eliamsya (Lie Chin Hai), mengatakan, panitia malam Cap Go Meh malam ini mendatangkan dua penyanyi dari Batam (Kepri) menghibur masyarakat yang tidak ikut dalam pawai karfanal, “Seperti tahun-tahun lalu, bagi masyarakat yang tidak ikut pawai lampion, akan dihibur artis dari Batam.”

Acara Cap Go Me malam ini, akan di hadiri Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus, Wakil Gubernur Jambi, Fachrori Umar, Danrem 042/ Gapu, Kolonel Kav Hasto PR Yuwono, Kapollda Jambi, Brigjen Pol Drs. Anang Iskandar, SH., MH, Walikota Jambi, dr.H.Rd.Bambang Priyanto, Wakil Walikota Jambi, M. Sum Indra, SE, Dandim 0415/ Batanghari, Letkol Ezi Suprayogi beserta unsur muspida dan para tokoh masyarakat maupun pengusaha di Jambi. (Romy)

Senin, Januari 23, 2012

Warga Sambut Kehadiran Barongsai Dirumah

JAMBI – Rasanya kurang lengkap, apabila perayaan Tahun Baru Imlek 2563 ini tidak dilengkapi atraksi Liong dan Barongsai (reflika Naga dan Singa).

Untuk menyemarakkan tahun baru Imlek ke 2563 yang jatuh pada hari Senin (23/1-2012) ini, atraksi Liong dan Barongsai dari perkumpulan Hok Liong Sai di Koni IV, Kota Jambi tidak hanya dapat dinikmati di klenteng-klenteng atau pusat perbelanjaan saja, namun memeka setiap tahun mengunjungi rumah-rumah. Selain menjemput angpau, atraksi barongsai juga menyimpan makna religius, yaitu dipercayai masyarakat Tionghoa dapat mengusir segala roh jahat dan mendatangkan keberuntungan (rejeki).
Selain dapat dijumpai berbagai pernak pernik imlek di rumah-rumah warga, atraksi Barongsai dan Liong dijalanan juga menjadi salah satu hiburan tersendiri bagi warga masyarakat. Bahkan ada warga yang mengilingi kemana perginya rombongan Liong dan Barongsai.

Sejak pukul 07.00 pagi (23/1) tadi, perkumpulan Hok Liong Sai, telah mendatangi rumah-rumah warga untuk menyampaikan ucapan “Selamat Tahun Baru Imlek 2563.

Atraksi tersebut sangat ditunggu oleh warga Tionghoa yang merayakan imlek, juga merupakan hiburan tersendiri bagi masyarakat yang kebetulan melintasi jalan itu, hingga menghentikan kendaraannya untuk menyaksikannya atraksi Liong dan Barongsai. Liuk-liuk dan tarian yang digerakan pemain Liong dan Barongsai membuat siapa saja yang menyaksikan akan terasa kagum.

Seperti kata Chandra, warga Kamboja, setiap tahun rumahnya selalu dikunjungi rombongan Barongsai dan Liong, karena Chandra dan keluarga mempercayai bahwa Barongsai sarat dengan pesan-pesan religius yang diyakni dapat mengusir segala bentuk roh jahat serta mendatangkan keberuntungan sipemilik rumah, “setiap tahun baru Imlek, rombongan Barongsai selalu datang kerumah-rumah warga untk menyampaikan ucapan “Selamat Tahun Baru Imlek dan sekaligus untuk mengusir segala roh jahat yang terdapat dirumah-rumah dan juga diyakini dapat mendatangkan keberuntungan bagi warga.” (Rom-Yul)

Kamis, Februari 17, 2011

Serba Serbi Cap Go Me

Cap Go Me adalah "perayaan malam hari di bulan pertama" - Yuan Xiao Jie, tetapi di Indonesia lebih dikenal dgn nama Capgome (Capgo = 15) sebab ini dirayakan pada tanggal 15 bulan pertama dari kalender Imlek. Semasa dinasti Han, pada malam capgome tersebut, raja sendiri khusus keluar istana untuk turut merayakan bersama dgn rakyatnya. Capgome mulai dirayakan di Indonesia sejak pertengahan abad ke 17, ketika terjadi migrasi besar dari China Selatan.
Di barat Capgome dinilai sebagai pesta karnevalnya etnis Tionghoa, karena adanya pawai yang pada umumnya dimulai dari Klenteng. Nama Klenteng sekarang ini sudah dirubah orang menjadi Vihara yang sebenarnya merupakan sebutan bagi rumah ibadah agama Buddha.

Hal ini terjadi sejak pemerintah tidak mengakui keberadaannya agama Konghucu sebagai agama. Sedangkan sebutan nama Klenteng itu sendiri, bukannya berasal dari bahasa China, melainkan berasal dari bahasa Jawa, yang diambil dari perkataan "kelintingan" - lonceng kecil, karena bunyi-bunyiaan inilah yang sering keluar dari Klenteng, sehingga mereka menamakannya Klenteng. Orang Tionghoa sendiri menamakan Klenteng itu, sebagai Bio baca Miao

Capgome juga dikenal sebagai acara pawai menggotong joli Toapekong untuk diarak keluar dari Klenteng. Toapekong (Hakka=Taipakkung, Mandarin=Dabogong) berarti secara harfiah eyang buyut untuk makna kiasan bagi Dewa yang pada umumnya merupakan seorang kakek yg udah tua.

Capgome tanpa adanya barongsai dan liong (naga) rasanya tidaklah komplit. Tarian barongsay atau tarian singa yg juga dikenal dengan nama Shiwu. Sedangkan nama "barongsai" adalah gabungan dari kata Barong dlm bahasa Jawa dan Sai = Singa dalam bahasa dialek Hokkian. Singa menurut orang Tionghoa ini melambangkan kebahagiaan dan kegembiraan.

Ada dua macam jenis macam tarian barongsay yg satu lebih dikenal sebagai Singa Utara yang penampilannya lebih natural sebab tanpa tanduk, sedangkan Singa Selatan memiliki tanduk dan sisik jadi mirip dengan binatang Qilin.

Seperti layaknya binatang-binatang lainnya juga, maka barongsai juga harus diberi makan berupa Angpau yg ditempeli dengan sayuran selada air yang lazim disebut "Lay See". Untuk melakukan tarian makan laysee ini para pemain harus mampuan melakukan loncatan tinggi, sehingga ketika dahulu para pemain barongsai, hanya dimainkan oleh orang2 yg memiliki kemampuan silat - "Hokkian = kun tao" yang berasal dari bahasa Mandarin Quan Dao (Quan = tinju, Dao = jalan), tetapi sekarang lebih dikenal dgn kata Wu Shu, padahal artinya Wu Shu sendiri itu adalah seni menghentikan kekerasan.

Didepan barongsai selalu terdapat seorang penari lainnya yg menggunakan topeng sambil membawa kipas. Tokoh ini disebut "Sang badut" yg tugasnya sebagai pemandu untuk menggiring Barongsai ketempat yg ada angpauwnya.

Dahulu tarian barongsai adalah upacara ritual keagamaan untuk penolak bala, tetapi sekarang ada aliran modern yang tidak mengkaitkan dgn upacara keagamaan sama sekali, mereka menilai barongsai hanya sekedar asesories untuk nari atau media entertainment saja, seperti juga halnya dengan payung untuk tari payung, atau topeng dalam tarian topeng.

Barongsai sebenarnya sudah populer sejak zaman periode tiga kerajaan (Wu, Wei & Shu Han) tahun 220 - 280 Masehi. Pada saat itu ketika raja Song Wen sedang kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah Raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Panglimanya yg bernama Zhing Que mempunyai ide yang jenius dengan membuat boneka-bonek singa tiruan untuk mengusir pasukan raja Fan. Ternyata usahanya itu berhasil sehingga sejak saat ini mulailah melegenda tarian barongsai tersebut hingga kini.

Tarian naga (liong) disebut "Lungwu" dalam bahasa Mandarin. Binatang mitologi ini selalu digambarkan memiliki kepala singa, bertaring serigala dan bertanduk menjangan.

Naga di China dianggap sebagai dewa pelindung, yg bisa memberikan rejeki, kekuatan, kesuburan dan juga air. Air di China merupakan lambang rejeki, karena kebanyakan dari mereka hidup dari bercocok tanam, maka dari itu mereka sangat menggantungkan hidupnya dari air. Semua kaisar di Cina menggunakan lambang naga, maka dari itu mereka duduk di singgasana naga, tempat tidur naga, dan memakai pakaian kemahkotaan naga. Orang China akan merasa bahagia apabila mendapatkan seorang putera yang lahir di tahun naga.

Kita bisa melihat apakah ini naga lambang dari seorang kaisar ataukah bukan dari jumlah jari di cakarnya. Hanya kaisar yg boleh menggunakan gambar naga dengan lima jari di cakarnya, sedangkan untuk para pejabat lainnya hanya 4 jari. Bagi rakyat biasa yang menggunakan lambang naga cakarnya hanya boleh memiliki 3 jari saja. Naga itu memiliki tiga macam warna, hijau, biru dan merah, dari warna naga tersebut kita bisa melihat kesaktiannya, merah adalah yang paling sakti.

Pada umumnya untuk tarian naga ini dibuatkan naga yg panjangnya sekitar 35 m dan dibagi dalam 9 bagian, tetapi untuk menyambut tahun baru millennium di China pernah dibuat naga yang panjangnya 3.500 meter dan dimainkannya di atas Tembok Besar China.

Terutama di Jakarta dan sekitarnya rasanya kurang komplit apabila arak-arakan Capgome ini tanpa di iringi oleh para pemain musik "Tanjidor" yg menggunakan instrument musik trompet, tambur dan bajidor (Bedug). Orkes ini sudah dikenal sejak abad ke 18. Konon Valckenier gubenur Belanda pada saat itu sudah memiliki rombongan orkes tanjidor yg terdiri dari 15 orang pemain musik. Tanjidor biasanya hanya dimainkan oleh para budak2, oleh sebab itulah musik Tanjidor ini juga sering disebut sebagai "Sklaven Orkest"

Sumber: Budaya Tionghoa http://www.confucian.me/profiles/blogs/serba-serbi-cap-go-meh