Tampilkan postingan dengan label Po Un. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Po Un. Tampilkan semua postingan

Minggu, Februari 10, 2019

Klenteng Sai Che Tien Gelar “Po Un” 保運

JAMBI – Mulai hari ini Sai Che Tien menggelar Po Un (memperbaiki nasib). Po Un sudah menjadi tradisi bagi etnis Tionghoa yang. Meski ada perbedaan tata cara pelaksanaannya di masing-masing klenteng, namun tujuanya sama yakni untuk memperbaiki nasib satu tahun kedepan.

Menurut, The Lien Teng  di Klenteng Sai Che Tien di Jalan Koni 4, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Sabtu (6/2-2019) malam,  prosesi Po Un bisa dilakukan setelah shen ming turun dari langit, cia gwek ce shi (tanggal 4 bulan 1 penanggalan imlek).  “Po Un ini bertujuan untuk memohon berkah  dan memperbaiki nasib di tahun Babi Tanah, setiap peserta Po Un cukup membawa pakaian sehari-hari digunakan baik miliknya maupun anggota keluarga yang hendak mengikuti prosesi Po Un,”kata Lien Teng.

Dikatakannya, “Po Un” merupakan tradisi yang telah mendarah daging dikalangan etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu.” Jadi, bagi umat Khonghucu selalu menggelar ritual tersebut di klenteng. katanya.

Dari beberapa ritual Po Un yang telah dilakukan, kata Rohaniawan Matakin Jambi tentunya ada perbedaan antara ritual Po Un yang digelar klenteng  dimasing-masing dengan klenteng lainnya, namun semuanya tetap satu tujuan yakni memohon berkah,  keselamatan dan memperbaiki nasib.

Ritual ini, sambung The Lien Teng, etnis Tionghoa sejak ribuan tahun silam hingga sekarang masih mempertahankan ritual tersebut, saat ini warga Tionghoa tetap menggelar acara tersebut. Masing-masing orang yang dilahirkan memiliki chiong. Maka chiong inilah yang harus dicocokkan dengan shio setiap orang dan shio disetiap tahunnya.

“Ada beberapa shio yang bertentangan dengan shio Babi Tanah pada tahun 2019 ini. Maka, orang yang memiliki shio yang bertentangan tersebut harus ikut dalam ritual Po Un ini,” katanya.

Orang yang memiliki shio ada yang chiong dengan thai sui, go kui dan lainnya. Maka agar menghindari musibah ataupun kesialan pada tahun Ular air ini, maka mereka harus mengikut upacara Po Un dengan melakukan sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para roh suci shen ming yang terdapat di kelenteng dengan membawa sejumlah persyaratan (sesajen) untuk melewati rintangan tahun ini.

Tahapannya biasanya seperti ini :
Semua persembahan diatas akan disusun diatas altar. 2. Lalu Rohaniawan akan menjalankan ritualnya, baca mantra sambil menggelilingi altar meliwati jembatan sebanyak 12 kali sambil menyebut kuwe ah (maksudnya liwatlah). Selanjutnya baju di stempel pada bagian pundak dan baju yang telah distempel ini nantinya akan dipakai yang bersangkutan selama 3 hari berturut, setelah itu, membakar semua kertas sembahyang yang udah di berkati dengan doa. Terakhir, Wajik (ketan), Mie Sua dan Telor dikasih warna merah dibawa pulang lalu dimasak dan dimakan bersama-sama, sedangkan kertas Hu (ada 2 jenis) yang agak besar untuk ditempelkan di pintu masuk rumah, yang agak kecil memanjang untuk dibawa (boleh letakan didalam dompet).

1. Hio (gaharu) dan lilin merah.
2. Satu piring kecil untuk mie sua.
3. Satu mangkok wajik ketan.
4. Telor dikasih warna merah.
5. Satu set gambar orang-orangan terbuat dari kertas, terdiri dari laki-laki (ortu) wanita  (ibu) dan anak laki-laki maupun perempuan.
6. Semua kertas sembahyang ini. (poin 1-6 disediakan oleh pihak panitia).
7. Nama yang bersangkutan berikut tanggal lahir, jam kelahiran untuk dibacakan oleh Rohaniawan.
8. Baju tiap-tiap anggota keluarga yang mau di Po Un. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi

Kamis, Maret 08, 2018

占碑庙宇狮子殿春节期间举行大众保运法会

 
占碑是华人传统文化非常浓厚,没分过年过节在庙宇都会举办各种活动,在30多年来华文受禁锢,但传统习俗还是源源不断地流传。在农历正月初十(25/2)上午,占碑哥尼区狮子殿庙举行大众保运法会,邀请来了中国道士林绎主持法会 [Lihat Video: Ritual Po Un (保運)].

逾500多人参与盛会。法会肃穆庄严,每位要求保运信众要求绕神坛及走独木桥以表尊重12生肖,确保接受保运者,祈保在狗年里,身心安康,吉祥如意,生意兴隆,心想事成。本报记者明光报道/Romy

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20180308/416845.shtml
* https://www.facebook.com/makinjambi

Kamis, Februari 22, 2018

Sai Che Tien Gelar Ritual Po Un


JAMBI – Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Klenteng Sai Che Tien Jambi 占碑獅子殿” yang terletak di Jalan Pangeran Diponegoro, Lorong Koni IV, Rt. 01, Kelurahan Talang Jauh, Kecamatan Jetung, kota Jambi, di Klenteng tersebut sebuah Kim Sin (dewa) yang dikenal dengan Hok Hie Te Sien atau Sien Kong, dewa tersebut juga dikenal sebagai dewa obat, dewa pencipta Bagua [Noton Video: Sai Che Tien Gelar Ritual Po Un].
Selasa pagi (20/2) puluhan kepala rumah tangga atau yang diwakili salah satu keluarga hadir di klenteng Makin Sai Che Tien untuk mengikut upacara Po Un yang dipimpin langsung oleh Lim Tek Cuh Taoshe (中國道士林绎取) dari negara tirai bambu, Po Un tahun ini diikuti lebih kurang seratus kepala keluarga (kk) dan dilaksanakan dari 20 Februari hingga 15 Maret 2018, bagi warga yang hendak Po Un sebelumnya harus mendaftarkan diri dengan menyebutkan nama lengkap, tanggal kelahiran, jam kelahiran dan shio serta membawa baju satu lembar, sedangkan beberapa sesajen disediakan Makin Klenteng Sai Che Tien, peserta Po Un wajib ikut dalam prosesi upacara, dapat diwakili oleh salah satu keluarganya.

Prosesi Po Un dimulai pukul 09.00 hingga pukul 15.00 dengan membaca nama, tanggal kelahiran, jam kelahiran dan shio yang bersangkutan dihadapan dewa Hok Hie Te Sien atau Sien Kong terus mengelilingi altar sang dewa sebanyak 12 putaran.

Menurut penuturan Sai Kong, Lim Tek Cuh, bahwa, “Manusia lahir, hidup dan meninggal merupakan takdir dari sang pencipta alam semesta, namun perjalanan seseorang maupun nasib seseorang tergantung dari perilakunya sehari-hari”, sedangkan prosesi Po Un adalah untuk membuang kiat atau sial diri yang bersangkutan.

Selanjutnya ujar Lim Tek Cuh, perjalanan seseorang di tahun Anjing, ada bulan yang baik dan ada pula bulan yang kurang baik, maka kita mesti memohon kepada Yang Maha Esa serta memohon agar para dewa memberikan perlindungan dan memberikan berkah yang baik bagi keluarga maupun yang bersangkutan.

Bagi yang ingin ikut Po Un (保運) dapat hubungi Rohaniawan The Lien Teng (鄭連丁) Hp: 0813 6613 2661 (Romy)* https://www.facebook.com/makinjambi

Kamis, Februari 02, 2017

Po Un “补运” Di Kelenteng Sai Che Tien Jambi

JAMBI - Lim Tek Chong taoshe dari Tiongkok kembali memberikan pelayan Po Un “补运” kepada umat Khonghucu Jambi di Jalan Koni, Rt 2, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Setiap awal Tahun Baru Imlek, umat Khonghucu Jambi mengikuti ritual Po Un 补运 di Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien 占碑狮仔殿孔教庙 (1/2-2017), tujuan Po Un 补运 adalah untuk memohon Berkah dan Keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ujar The Lien Teng, “Po Un adalah salah satu tradisi yang telah mendarah daging dikalangan umat Khonghucu di Tiongkok. Maka, bagi warga yang beragama Khonghucu setiap tahun selalu menggelar ritual tersebut di kelenteng-kelenteng”. katanya. Tujuan Po Un, untuk memohon kepada Tuhan dan para suci sen ren (dewa-dewi) agar terhindar dari jiong (konflik) dengan Tai Sui pada tahun-tahun tertentu
Dari pantauan di lapangan, prosesi Pu Un yang dilakukan di Kelenteng Sai Che Tien Jambi berbeda dangan Po Un di tempat-tempat lain, jika di Kelenteng Sai Che Tien, setiap peserta atau perwakilan dari keluarga Po Un wajib mengikuti taoshe keliling altar sebanyak 12 putaran, sedangkan di tempat lain, peserta cukup bawa baju, lalu di stempel selesai.

Menurut salah satu peserta dari kawasan Payo Selincah yang telah mengikuti Po Un sebanyak empat kali menyatakan, prosesi di kelenteng ini jauh berbeda dengan kelenteng-kelenteng lainnya, di kelenteng lain baju kita hanya dikipas-kipas saja, tanpa adanya ritual keliling altar, “Di kelenteng lain Po Un, pakaian kita hanya dikipas-kipas saja”, ujar warga tersebut.

Boleh dibilang peserta Po Un merasa capek, karena peserta mesti keliling altar roh suci Nabi Fu Xi sebanyak 12 kali, namun peserta juga merasa puas lantaran bisa langsung ikut dalam prosesi Po Un yang memakan waktu lebih dari 2 jam. (Romy)

Sesajian untuk ritual Po Un, biasanya yang harus disiapkan adalah :
1. Dupa / hio dan lilin merah (disediakan pihak panitia).
2. Satu mangkok wajek (disediakan pihak panitia).
3. Telor ayam dikasih warna merah (disediakan pihak panitia).
4. Sejumlah kertas hu (disediakan pihak panitia).
5. Satu bungkus bunga Mie Swa (disediakan pihak panitia).
6. Baju tiap-tiap anggota keluarga yang mau di Po Un (dibawa oleh warga yang mau Po Un).
7. Gambar bentuk orang dewasa (kepala keluarga) wanita (ibu) dan anak laki-laki maupun perempuan.
8. Kertas warna pink bertulisan nama-nama yang mau Po Un, mulai dari kepala keluarga, istri, anak laki-laki/ perempuan serta keluarga yang ikut dalam rumah seperti kakek/Nenek/Kakak dan lain sebagainya berikut tanggal kelahiran (shio). Seusai mengelilingi altar lalu taushe (saikong) membaca satu persatu nama Po Un, tidak boleh serentak seperti penyelenggara lainnya.

Tahapannya berikutnya adalah :
1, Semua persembahan dimasukan ke dalam keranjang plastik dan disusun diatas meja merah.
2. Lalu taushe (saikong) membaca mantera (mengudang para shen ming (dewa-dewi), untuk awal Po Un, upacara ini bisa memakan waktu lebih kurang dua jam, selanjutanya hanya memakan waktu 1 jam.
3. Setiap peserta Po Un berkewajiban untuk mengikuti tahapan demi tahapan dengan mengitari altar utama, yakni Hoo Hie Tee Shien (Nabi Fu Xi) dan melintasi jembatan yang terbuat dari kayu sambil menyebut Kuwei (bahasa Hokkien) liwatlah. Seusai prosesi panitia menstempel lambang para suci pada bagian pundak baju/ pakaian, baju yang distempel ini dipakai oleh para peserta Po Un selama 3 hari berturut.
4. Setelah itu, maka tinggal membakar semua kertas sembahyang yang udah di berkati.
5. Terakhir peserta membawa pulang semuanya, baju untuk dipakai, Mie Swa dimasak dan dimakan bersama telor merah (melambangkan panjang umur).
6. Kertas Hu untuk dipakai oleh peserta. (Romy)

Jumat, Februari 12, 2016

Po Un (Kias) Untuk Memohon Berkah dan Keselamatan Keluarga

JAMBI, ayojambi.com – Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien, Jumat (12/2-2016 pagi, melakukan ritual Po Un (kias) 保運 untuk memohon Berkah dan Keselamatan, prosesi Po Un dilakukan selama 3 hari dipimpin oleh Lim Tek Chong Taoshe “中國道士林澤宗”dari Tiongkok di Jalan Koni, Rt 2, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi [Lihat Foto: Prosesi Po Un di Pinpim oleh Lim Tek Chong Taushe dari Tiongkok].
Perayaan imlek bagi umat Khonghucu di Kota Jambi tidak hanya bermakna kebahagiaan. Tetapi yang terpenting adalah, bagaimana umat Khonghucu meningkatkan ketaatan kepada sang pencipta.

Melalui salah satunya ritual Po Un, ritual keagamaan yang rutin dilaksanakan setiap tahun di MAKIN Sai Che Tien Jambi “印尼占碑省獅仔殿廟宇”. Dimulai empat hari pasca Imlek hingga menjelang Cap Go Meh mendatang.

Po Un bagi umat Khonghucu merupakan sebuah upacara metolak balak. Bagi Umat Khonghucu, selain sebagai bentuk ke taatan kepada sang pencipta. Ritual ini juga diyakini mampu menghindarkan seseorang dari balak di tahun Monyet (ciong).

Seperti terlihat pada Jumat (12/2) pagi di Kelenteng Sei Che Tien. Sejak pukul 09.00 WIB, puluhan umat terlihat khusuk mengikuti proses Po Un yang dipimpin oleh Lim Tek Chong Taoshe dari Tiongkok dengan doa-doa yang dipanjatkan di depan altar para suci Hok Hie Tee Shien (Nabi Fu Xi 伏羲).

Hasil pantauan di lapangan, setiap umat Khonghucu yang ikut prosesi “Po Un” wajib membawa pakaian sehari-hari, sedangan sesajian lain telah dipersiapkan oleh pihak kelenteng (panitia po un), seperti Mie Sua, Ketan Merah (Wajik), Telor Merah, Kim Cua (kertas sembahyang), bentuk gambar terbuat dari kertas diantaranya kepala keluarga, istri dan anak laki-laki maupun perempuan. Setiap peserta Po Un mengikuti Taoshe mengeliling dupikat jembatan sebanyak 12 kali dengan membawa sesajian, sedangkan sesajian seperti Mie Sua, Ketan Merah (Wajik), Telor Merah sebagai simbol panjang umur. baju yang distempel ini nantinya akan dipakai selama 3 hari berturut.

Menurut Rohaniwan Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) klenteng “Sai Che Tien”, The Lien Teng 鄭連丁, bahwa “Ritual ini bertujuan untuk meminta keselamatan dengan membawa pakaian yang akan digunakan oleh umat Khonghucu tersebut”.

Tambah The Lien Teng, “Po Un adalah salah satu tradisi yang telah mendarah daging dikalangan umat Khonghucu di China. Maka, bagi warga yang beragama Khonghucu selalu menggelar ritual tersebut di kelenteng-kelenteng setiap tahun”. katanya.

Bahwa ritual tersebut sudah dilakukan sejak ribuan tahun silam (sebelum masehi) oleh umat Khonghucu di China, “Hanya dilakukan oleh agama Khonghucu”. Sehingga untuk mempertahankan ritual tersebut, sampai saat ini warga Tionghoa tetap menggelar acara tersebut. Mereka percaya bahwa setiap orang yang lahir memiliki chiong/ kias dari masing-masing shio. Maka chiong inilah yang harus dicocokkan dengan shio setiap orang dan shio setiap tahunnya, tahun ini adalah shio Monyet Api yang chiong dengan shio berat dengan Harimau Putih, dan Anjing, Babi, Naga, Kerinci dan Tikus.
 
Dalam tradisi Tionghoa kuno dikenal sebuah upacara Po Un. Banyak kalangan salah tafsir dikira sama dengan Ci Suak. Padahal dua hal yang berbeda sama sekali. Po = menambah, Un = Un Gie = energi (menambah energi). Karena itu mestinya dilakukan hanya pada orang yang habis kena jiong (sengkala). (Romy)
* www.ayojambi.com/

Minggu, Maret 15, 2015

Lim Tek Chong Taoshe Pimpin Po Un Untuk Memohon Berkah

 Po Un selain diikuti umat biasa, juga diikuti wakil ketua MATAKIN 
Prov Jambi Alex Sujanto beserta istri dan wakil ketua
 Perkumpulan ANKE Edyson beserta istri
Wakil ketua MATAKIN Prov Jambi Alex Sujanto
 Wakil ketu Perkumpulan ANKE Edyson
 
JAMBI, ayojambi.com - Puluhan umat Khonghucu mengikuti ritual Po Un terakhir di Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kelenteng Sai Che Tien Jambi (15/3), Untuk memenuhi permintaan umat di Jambi, Lim Tek Chong Taoshe sengaja datang dari Sumatera Selatan (Palembang), prosesi Po Un ini adalah terakhir dilakukan di Jambi, maka sebanyak 23 kepala keluarga mengikuti ritual sejak pukul 09.30 WIB di Jalan Koni, Rt 2, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi [Lihat Gambar; Po Un di Kelenteng Sai Che Tien Jambi].
Antara puluhan peserta Po Un, terdapat wakil ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN Alex Sujanto beserta istri dan wakil ketua Perkumpulan Aneka Kesejahteraan (ANKE) Edyson beserta istri mengikuti tahapan Po Un dengan mengelilingi altar Nabi Khonghucu (Fu Xi) sebanyak 12 putaran. 

Menurut Alex Sujanto, tahun ini agak terlambat mengikuti Po Un, “Biasanya sudah mengikuti Po Un awal Imlek”, karena awal imlek sedang berada diluar daerah bersama keluarga.

Po Un selain diikuti umat dari Jambi, juga ada peserta yang sengaja datang dari luar daerah, seperti datang dari Pakanbari (Riau) dan Selat Panjang (kepri), mereka setiap tahun selalu mengikuti ritual tersebut di Jambi serta mereka memandang Po Un yang dipimpin Lim Tek Chong Taoshe dari China berbeda dengan Po Un yang diselenggara oleh pihak lain. Tradisi Po Un tersebut sudah ada sejak jaman nenek moyang masyarakat Tionghoa yang beragama Khonghucu, meskipun ada perbedaan dalam tatacara pelaksana di masing-masing kelenteng, namun tujuanya sama yakni untuk meminta keselamatan. (Romy) 
* www.ayojambi.com/

Sabtu, Februari 28, 2015

Lim Tek Chong Taoshe Kembali Gelar Ritual Po Un Di Jambi

碑明山廟廟落成及神明進宮典禮
JAMBI, ayojambi.com – Pembina Khonghucu Jambi, Lim Tek Chong taoshe dari Tiongkok harus bolak balik Jambi Palembang untuk melayani umat Khonghucu yang akan mengikuti ritual Po Un. Karena banyaknya permintaan untuk mengikuti prosesi Po Un, maka Lim Tek Chong harus kembali ke Jambi setelah sempat 2 hari melayani umat Khonghucu di kota pempek (sumsel) [Lihat Gambar: Prosesi Po Un].

Tugas seorang rohaniawan tidak seenak yang kita bayangi, karena seorang rohaniwan mempunyai tanggung jawab untuk melayani umat setiap saat dibutuhkan, seperti Lim Tek Chong taushe selama sebulan penuh memberikan pelayanan kepada umat Khonghucu di Jambi dan Palembang (Sumsel). Lim Tek Chong ke Indonesia bertepatan 3 hari setelah Imlek 2566, 22 Februari 2015. Bahkan saking membludaknya peserta Po Un, untuk makan saja tidak ada waktu buat Lim Tek Chong taushe.

Prosesi Po Un yang benar hanya diselenggarakan Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN KELENTENG) Sai Che Tien, sejak Senin pagi (23/2-2015), tujuan Po Un untuk meminta keselamatan.

Hasil pantauan di lapangan, setiap umat Khonghucu yang ikut prosesi “Po Un” wajib membawa pakaian, sedangan sesajian lain telah dipersiapkan oleh pihak kelenteng, seperti Mie Swa, Ketan Merah (Wajik), Telor Merah, Kim Cua (kertas sembahyang), bentuk gambar terbuat dari kertas diantaranya kepala keluarga, istri dan anak laki-laki maupun anak perempuan. Setiap peserta Po Un mengikuti Tao She mengeliling duplikat jembatan sebanyak 12 kali dengan membawa sesajian, sedangkan sesajian seperti Mie Sua, Ketan Merah (Wajik), Telor Merah sebagai simbol panjang umur. baju yang distempel ini nantinya akan dipakai selama 3 hari berturut.

Menurut Rohaniwan Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kelenteng “Sai Che Tien”, The Lien Teng, berlokasi di Rt. 02 Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, bahwa “Ritual ini bertujuan untuk meminta keselamatan dengan membawa pakaian yang akan digunakan oleh umat Khonghucu tersebut”.

Tambah The Lien Teng, “Po Un adalah salah satu tradisi yang telah mendarah daging dikalangan umat Khonghucu di China. Maka, bagi warga yang beragama Khonghucu selalu menggelar ritual tersebut di kelenteng-kelenteng setiap tahun”. katanya.

Selanjutnya bahwa dari beberapa ritual yang telah dilakukan di kelenteng, ada perbedaan pelaksanaan dari masing-masing kelenteng, namun tujuannya sama yakni memohon keselamatan. “Ada beberapa shio yang bertentangan dengan shio Kambing vs Kerbau yang jatuh tepat pada 2015 ini. Maka, orang yang memiliki shio yang bertentangan tersebut harus ikut dalam ritual Po Un ini,” katanya.

Menurut salah satu peserta dari kawasan Kasang yang kali pertama mengikuti prosesi Po Un menyatakan, prosesi di kelenteng ini jauh berbeda dengan kelenteng-kelenteng lainnya, di kelenteng lain baju kita hanya dikipas-kipas saja, tanpa adanya ritual keliling altar, “Kita baru tahun ini ikut ritual, tahun-tahun sebelumnya dilakukan Po Un di kelenteng lain, yang mana pakaian kita hanya dikipas-kipas saja”, ujar warga tersebut yang enggan di sebut jati dirinya.

Boleh dibilang peserta Po Un merasa capek, karena mesti keliling altar Dewa Fu Xi sebanyak 12 kali, namun peserta juga merasa puas lantaran bisa langsung ikut dalam prosesi Po Un yang memakan waktu lebih dari 1 jam. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Jumat, Februari 27, 2015

占碑庙宇狮子殿春节期间举行大众保运法会



  林宗泽道士主持法会
 女众信徒在抱着拜祭品绕神坛
男众信徒在祭拜后绕独木桥
【本报占碑讯】农历正月初六(24/2)至初八(26/2)日,占碑哥尼区狮子殿庙举行大众保运法会,邀请来了中国道士林宗泽主持法会。逾500多人参与盛会。法会肃穆庄严,每位要求保运信众要求绕神坛及走独木桥以表尊重12生肖,确保接受保运者,祈保在羊年里,身心安康,吉祥如意,生意兴隆,心想事成 Hk/ Romy

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20150227/197209.shtml
* www.ayojambi.com/

Rabu, Februari 25, 2015

Melirik Prosesi Po Un Pasca Imlek Di MAKIN Sai Che Tien Jambi (Tahap Ke 4)

 
 
JAMBI, ayojambi.com  - Setiap awal Tahun Baru Imlek, umat Khonghucu Jambi mengikuti ritual Po Un 补运 di Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien 占碑狮仔殿孔教庙, Po Un 补运 untuk memohon Berkah dan Keselamatan dipimpin oleh Lim Tek Chong Taoshe dari China, prosesi Po Un dilakukan selama 3 hari di Jalan Koni, Rt 2, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi [Lihat Gambar Po Un Tahap Ke 4].
Perayaan imlek bagi umat Khonghucu di Kota Jambi tidak hanya bermakna kebahagiaan. Tetapi yang terpenting adalah, bagaimana umat Khonghucu meningkatkan ketaatan kepada sang pencipta.

Melalui salah satunya ritual Po Un, ritual keagamaan yang rutin dilaksanakan setiap tahun di MAKIN Sai Che Tien Jambi. Dimulai empat hari pasca Imlek hingga menjelang Cap Go Meh mendatang.

Po Un bagi umat Khonghucu merupakan sebuah upacara metolak balak. Bagi Umat Khonghucu, selain sebagai bentuk ke taatan kepada sang pencipta. Ritual ini juga diyakini mampu menghindarkan seseorang dari balak di tahun kambing (ciong).

Seperti terlihat pada Selasa (24/2) malam di Kelenteng MAKIN Sei Che Tien. Sejak pukul 18.00 WIB, puluhan umat terlihat khusuk mengikuti proses Po Un yang dipimpin oleh Lim Tek Chong Taoshe dari Tingkok dengan doa-doa yang dipanjatkan di depan altar para suci Hok Hie Tee Shien (Nabi Khonghucu Fu Xi).

Ritual Po Un dilakukan 3 kali sehari, pagi, sore dan malam hari. Malam hari lebih ramai dari pagi maupun sore, lantaran malam hari banyak peserta telah pulang dari kerja.

Seperti terlihat Selasa malam, Lim Tek Chong Taoshe sambil membacakan doa, di ruangan kelenteng, lalu mengeliling altar Fu Xi, dibelakangya di ikuti 36 peserta Po Un (kepala Keluarga/ KK). Mereka berjalan berbaris, dengan langkah hati-hati sambil membawa nampan plastik warna merah yang berisi berisi pakaian, telur berwarna merah, Mie Swa, Wajik ketan dan sesajen lainnya.

Peserta mengikuti Lim Tek Chong berjalan melintasi jembatan kecil sebanyak 12 kali. Sesuai dengan 12 shio dengan 60 unsur. Jadi shio apapun di tahun ini kita berdoa agar terhindar dari balak.

Po Un yang dilakukan MAKIN Sai Che Tien berbeda dengan tempat lain, di Sai Che Tien peserta hanya dikenakan biaya perkepala keluarga (KK), 1 kepala keluarga boleh yang 4 orang (suami, istri dan 2 anak), bahkan ada keluarga peserta lebih dari 7 orang, biaya tetap 1, biaya tersebut sudah mencakup perlengkapan Po Un, sedangkan tempat lain peserta Po Un tidak usah hadir, cukup bawa pakaian, lalu membayar biaya Po Un, yang dikutip perorangan. Bukan perkepala keluarga, 3 hari kemudian jemput pakaiannya (pakaian hanya di cap/stempel saja). Bisa jadi penyelenggara tersebut mencari kekayaan atas penderitaan umat!. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Senin, Februari 23, 2015

Tradisi Po Un Sudah Jadi Darah Daging Dikalangan Umat Khonghucu

JAMBI, ayojambi.com – Tradisi Po Un (bahasa Hokkian) sudah menjadi darah daging dikalangan umat beragama Khonghucu sejak ribuan tahun silam (sebelum masehi) sejak jaman nenek moyang di China. PO UN yang dimaksud adalah PO artinya melindungi dan UN artinya nasib (melindungi nasib). Setiap orang tentunya mengharapkan agar dapat hidup dengan rasa aman, mempunyai keluarga yang sejahtera, usaha lancar dan murah rejeki serta terhindar dari segala malapetaka [Lihat Gambar: Prosesi Po Un].
Itulah sebabnya sampai saat ini warga Tionghoa tetap menggelar acara ritual Po Un tersebut setiap tahunnya yang sudah menjadi salah satu tradisi bagi kalangan umat Khonghucu. Biasanya Ritual ini dilakukan setelah para suci Shen Ming (Dewa-Dewi) turun dari langit, Cia Gwek Tjiu Shi (tanggal 4 bulan 1 penanggalan imlek kongzeli).

Hampir disetiap kelenteng menggelar prosesi Ritual Po Un. Meskipun ada perbedaan dalam tatacara pelaksanaan di masing-masing kelenteng, namun tujuannya sama yakni untuk meminta keselamatan. Sebenarnya prosesi Po Un mesti dilakukan orang yang tepat yakni Taoshe (Saikong) dari Tiongkok (China).

Menurut kepercayaan budaya Tionghoa (Khonghucu), bahwa setiap orang yang lahir memiliki chiong / kias dari masing-masing shio. Maka chiong inilah yang harus dicocokkan dengan shio setiap orang dan shio setiap tahunnya, seperti tahun 2015 ini adalah Tahun Shio Kambing Kayu yang chiong dengan Shio Kerbao.

Jadi Ritual Po Un ini sebenarnya dilakukan untuk menjaga keselarasan manusia dengan alam semesta, sebab adakalanya manusia yang merupakan bagian dari alam semesta ini berada dalam posisi yang tidak harmonis dengan pergerakan alam semesta yang besar ini. Hal ini bisa dilihat bahwa pada saat melakukan Po Un ada formasi yang dihitung berdasarkan perbintangan atau shio yang ciong dimana setiap tahunnya berubah-rubah.

Jadi tujuan Ritual Po Un biasanya adalah ritual untuk memperbaiki nasib dan memohon keselamatan dan berkah untuk satu tahun mendatang dari para suci Shen atau Dewa di kelenteng tersebut dengan membawa pakaian yang akan digunakan oleh umat yang ikut dalam ritual po un”.

Sesajian untuk ritual Po Un, biasanya yang harus disiapkan adalah ;

1. Dupa / hio dan lilin merah (disediakan pihak panitia).
2. Satu mangkok wajek (disediakan pihak panitia).
3. Telor ayam dikasih warna merah (disediakan pihak panitia).
4. Sejumlah kertas hu (disediakan pihak panitia).
5. Satu bungkus bunga Mie Swa (disediakan pihak panitia).
6. Baju tiap-tiap anggota keluarga yang mau di Po Un (dibawa oleh warga yang mau Po Un).
7. Gambar bentuk orang dewasa (kepala keluarga) wanita (ibu) dan anak laki-laki maupun perempuan.
8. Kertas warna pink bertulisan nama-nama yang mau Po Un, mulai dari kepala keluarga, istri, anak laki-laki/ perempuan serta keluarga yang ikut dalam rumah seperti kakek/Nenek/Kakak dan lain sebagainya berikut tanggal kelahiran (shio). Seusai mengelilingi altar lalu taushe (saikong) membaca satu persatu nama Po Un, tidak boleh serentak seperti penyelenggara lainnya.

Tahapannya berikutnya adalah:

1, Semua persembahan dimasukan ke dalam keranjang plastik dan disusun diatas meja merah.
2. Lalu taushe (saikong) membaca mantera (mengudang para shen ming (dewa-dewi), untuk awal Po Un, upacara ini bisa memakan waktu lebih kurang dua jam, selanjutanya hanya memakan waktu 1 jam.
3. Setiap peserta Po Un berkewajiban untuk mengikuti tahapan demi tahapan dengan mengitari altar utama, yakni Hoo Hie Tee Shien (Nabi Fu Xi) dan melintasi jembatan yang terbuat dari kayu sambil menyebut Kuwei (bahasa Hokkien) liwatlah. Seusai prosesi panitia menstempel lambang para suci pada bagian pundak baju/ pakaian, baju yang distempel ini dipakai oleh para peserta Po Un selama 3 hari berturut.
4. Setelah itu, maka tinggal membakar semua kertas sembahyang yang udah di berkati.
5. Terakhir peserta membawa pulang semuanya, baju untuk dipakai, Mie Swa dimasak dan dimakan bersama telor merah (melambangkan panjang umur).
6. Kertas Hu untuk dipakai oleh peserta. (Romy)

Po Un (Kias) Untuk Memohon Berkah dan Keselamatan

JAMBI, ayojambi.com - Puluhan umat Khonghucu mengikuti ritual Po Un di Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien, akan menyelenggra upacara Po Un dipimpin oleh, Lim Tek Chong Taoshe dari China, prosesi Po Un akan dilakukan mulai dari 23 Februari 2015 (Cia Gwee Ciu Go) mulai pukul 09.00 WIB di Jalan Koni, Rt 2, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Po Un dipimpin oleh Lim Tek Chong taoshe dari Anxi China, Lim Tek Chong setiap tahun sengaja datang untuk melakukan Po Un terhadap umat Khonghucu di Jambi dan Palembang [Lihat Gambar: Po Un].
Disetiap kelenteng ada menggelar prosesi Po Un, termasuk vihara-vihara yang tidak ada kaitan dengan tradisi Tionghoa (vihara identik dengan Buddha “Sidharta Buddha Gautama” yang berasal dari negara India).

Pada hari pertama prosesi Po Un diikuti sebanyak 22 kepala keluarga, ada umat yang sengaja datang dari Selat Panjang (kepri) karena ritual tersebut berbeda dengan yang diselenggara oleh pihak lain, Po Un sudah menjadi “Darah daging dikalangan umat Khonghucu”. Tradisi tersebut sudah ada sejak jaman nenek moyang masyarakat Tionghoa, meskipun ada perbedaan dalam tatacara pelaksana di masing-masing kelenteng, namun tujuanya sama yakni untuk meminta keselamatan. (Romy) 
* www.ayojambi.com/

Kamis, Maret 28, 2013

Makin Sai Che Tien Kembali Lakukan Po Un

JAMBI,ayojambi – Prosesi Po Un yang ditutup akhir bulan Februari lalu di Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien, Kamis kemarin (28/3-201), dibuka kembali, mengingat ada beberapa umat yang tertinggal saat Po Un dilakukan bulan Februari oleh Pembina Rohaniawan Lim Tek Ching yang sengaja datang ke Jambi untuk dilakukan Po Un kepada empat kepala keluarga (KK).
Setelah itu Rohaniawan Lim Tek Ching kembali ke Sumsel (Palembang) untuk memimpin upacara sembahyang sejit Nan Hai Kwan Im.

Fisik Lim Tek Ching termasuk cukup kuat, berangkat dari Palembang 27 Maret 2013, pukul 20.00 malam, tiba di Jambi pukul 04.00 dini hari, istrirahat sebentar langsung melakukan upacara Pu Un untuk empat kepala keluarga yang tertinggal, setelah itu Lim Tek Ching kembali ke Palembang, “Untuk memberikan pelayanan kepada umat Khonghucu di Jambi, mau tidak mau saya mesti lakukan, apa lagi umat yang tertinggal setiap tahun mengikuti Po Un di Kelenteng MAKIN Sai Chen Tien’ ujar Lim Tek Chong di dampingi Sekretaris Makin Sai Che Tien, Hendro Thantro. (RM)

Kamis, Februari 28, 2013

Hingga Kini Peserta Po Un Mencapai Ratusan KK

JAMBI – Hingga hari Kamis (28/2) peserta yang mengikuti prosesi Po Un (kias menolak bala) di Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien Jambi mencapai seratus kepala keluarga (KK), masing-masing kepala keluarga mewakili 5 jiwa, mereka datang ke Kelenteng Makin Sai Che Tien untuk mengikuti prosesi Po Un (kias) detik-detik terakhir.
Setiap perwakilan mesti mengikuti Lim Tek Ching, Taoshe mengelilingi altar Hok Hie Te Shien (nabi Fu Xi) sebanyak dua belas kali putaran, setiap putaran Taoshe membacakan berbagai mantera penolak bala, setelah meliwati jembatan Replika peserta diharuskan mengikuti Taoshe mengucapkan kalimat Kwe Ya (artinya LIWAT lah), makna ucapan itu, agar setiap orang bisa meliwati sehari-hari dan mewilati setiap bulan hingga akhir tahun dengan selamat tanpa ada alar melintang (Ciong).

Menurut Lim Tek Chong yang sengaja datang dari Provinsi Hok Kien, China, setiap awal tahun imlek, bahkan di China juga melakukan Po Un seperti ini, “Di China Po Un juga seperti yang dilakukan di Jambi,” Tambah Lim Tek Chong, setiap peserta Po Un mengikuti keliling altar shen ming sambil mengucapkan bahasa Hok Kien yaitu Kwe Ya, yang diartikan kita dapat meliwati segala lintangan tanpa ada gannguan (ciong).

Lim Tek Chong setiap awal tahun baru imlek diundang oleh Makin Sai Che Tien untuk memberikan pelayanan Pon Un kepada Umat Khonghucu di Provinsi Jambi. Namun selain di Jambi, umat Khonghucu di Sumsel juga ada mengundang beliau (Lim Tek Chong), maka empat hari di Jambi, empat hari di Palembang untuk melakukan Po Un.

Berhubung semakin banyak yang mau ikut Po Un, maka Makin Sai Che Tien akan memperpanjang waktu Po Un hingga 1 Maret 2013 (besok terakhir). (Romy)

Kamis, Februari 14, 2013

Makin Kelenteng Sai Che Tien Gelar “Po Un”

JAMBI – Mulai hari ini Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien menggelar Po Un (memperbaiki nasib). Po Un sudah menjadi tradisi bagi etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu. Meski ada perbedaan tata cara pelaksanaannya di masing-masing kelenteng, namun tujuanya sama yakni untuk memperbaiki nasib satu tahun kedepan.
Menurut Rohaniawan Majelis Tinggi Agama Khonghucu (MATAKIN) Provinsi Jambi, The Lien Teng  di Kelenteng Majelis Agama Khonghucu (MAKIN) Sai Che Tien di Jalan Koni 4, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Rabu (13/2-2013) pagi,  prosesi Po Un bisa dilakukan setelah shen ming turun dari langit, cia gwek ce shi (tanggal 4 bulan 1 penanggalan imlek).  “Po Un ini bertujuan untuk memohon berkah  dan memperbaiki nasib di tahun ular air, setiap peserta Po Un cukup membawa pakaian sehari-hari digunakan baik miliknya maupun anggota keluarga yang hendak mengikuti prosesi Po Un,”kata Lien Teng.

Dikatakannya, “Po Un” merupakan tradisi yang telah mendarah daging dikalangan etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu.” Jadi, bagi umat Khonghucu selalu menggelar ritual tersebut di kelenteng. katanya.
Dari beberapa ritual Po Un yang telah dilakukan, kata Rohaniawan Matakin Jambi tentunya ada perbedaan antara ritual Po Un yang digelar kelenteng  dimasing-masing dengan kelenteng lainnya, namun semuanya tetap satu tujuan yakni memohon berkah,  keselamatan dan memperbaiki nasib.

Ritual ini, sambung Rohaniawan Matakin Jambi, etnis Tionghoa sejak ribuan tahun silam hingga sekarang masih mempertahankan ritual tersebut, saat ini warga Tionghoa tetap menggelar acara tersebut. Masing-masing orang yang dilahirkan memiliki chiong. Maka chiong inilah yang harus dicocokkan dengan shio setiap orang dan shio disetiap tahunnya.

“Ada beberapa shio yang bertentangan dengan shio Ular Air pada tahun 2013 ini. Maka, orang yang memiliki shio yang bertentangan tersebut harus ikut dalam ritual Po Un ini,” katanya.

Orang yang memiliki shio ada yang chiong dengan thai sui, go kui dan lainnya. Maka agar menghindari musibah ataupun kesialan pada tahun Ular air ini, maka mereka harus mengikut upacara Po Un dengan melakukan sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para roh suci shen ming yang terdapat di kelenteng dengan membawa sejumlah persyaratan (sesajen) untuk melewati rintangan tahun ini.

Sementara itu Aheng salah satu warga yang setiap tahun mengikuti prosesi Po Un mengatakan, ‘’Meski tidak chiong, terkadang setiap shio ada hal yang bersifat negatif. Maka, kami sekeluarga selalu mengikuti Po Un rutin tiap tahun. Disamping itu juga untuk berjaga-jaga biar tidak ketiban sial,” kata Aheng yang tinggal di Kawasan Koni ini.

Tahapannya biasanya seperti ini :
Semua persembahan diatas akan disusun diatas altar. 2. Lalu Rohaniawan akan menjalankan ritualnya, baca mantra sambil menggelilingi altar meliwati jembatan sebanyak 12 kali sambil menyebut kuwe ah (maksudnya liwatlah). Selanjutnya baju di stempel pada bagian pundak dan baju yang telah distempel ini nantinya akan dipakai yang bersangkutan selama 3 hari berturut, setelah itu, membakar semua kertas sembahyang yang udah di berkati dengan doa. Terakhir, Wajik (ketan), Mie Sua dan Telor dikasih warna merah dibawa pulang lalu dimasak dan dimakan bersama-sama, sedangkan kertas Hu (ada 2 jenis) yang agak besar untuk ditempelkan di pintu masuk rumah, yang agak kecil memanjang untuk dibawa (boleh letakan didalam dompet).

Mengenai biaya, lebih kurang Rp. 200.000 perkeluarga, peserta Po Un hanya membawa pakaian yang dipakai sehari-hari, sedangkan sesajian telah disediakan pihak kelenteng berdasarkan biaya yang dipungut oleh panitia.

1. Hio (gaharu) dan lilin merah.
2. Satu piring kecil untuk mie sua.
3. Satu mangkok wajik ketan.
4. Telor dikasih warna merah.
5. Satu set gambar orang-orangan terbuat dari kertas, terdiri dari laki-laki (ortu) wanita  (ibu) dan anak laki-laki maupun perempuan.
6. Semua kertas sembahyang ini. (poin 1-6 disediakan oleh pihak panitia). 
7. Nama yang bersangkutan berikut tanggal lahir, jam kelahiran untuk dibacakan oleh Rohaniawan.
8. Baju tiap-tiap anggota keluarga yang mau di Po Un.

Makna Po Un Dikalangan Umat Khonghucu

JAMBI - Tradisi Po Un sudah dilakukan jaman nenek moyang etnis Tionghoa sejak ribuan tahun silam (sebelum masehi) di China. Tradisi tersebut sampai detik ini masih tetap dimempertahankan warga Tionghoa yang beragama Khonghucu, maka setiap awal tahun baru Imlek di setiap kelenteng tetap menggelar acara tersebut. Po Un yang dimaksud adalah Po artinya melindungi dan Un artinya nasib (nasib baik). Biasanya hal ini dilakukan setelah para suci shen ming turun dari langit, Cia Gwek Ciu Shi (tanggal 4 bulan 1 penanggalan imlek). Mereka yang beragama Khonghucu mempercayai bahwa setiap orang yang lahir memiliki chiong / kias dari masing-masing shio. Maka chiong inilah yang harus disesuaikan dengan shio setiap orang dan shio setiap tahunnya berbeda-beda, seperti tahun ini jatuh pada tahun Ular Air yang chiong dengan Shio Ular Air adalah, shio Babi ciong Ular Air, shio Anjing ciong Tai Sui, shio Kambing ciong Song Un (tidak boleh menghadiri/ melihat mayat), Shio Ayam ciong Go Kui (Hantu), shio Kerbau ciong (Peh Houw/ Macan Putih), Kerinci ciong Thien Kauw (Anjing Langit).


Setiap tahun, prosesi Po Un dilakukan di Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien yang dipimpin langsung oleh pembina Khonghucu Jambi, Lim Tek Chong.

Proses Po Un dilakukan mulai tanggal Cia Gwek Ciu Shi (tanggal 4 bulan 1 penanggalan imlek) yang jatuh pada tanggal 13 Februari 2013.

Hampir disetiap kelenteng pada menggelar prosesi Po Un, ritual tersebut sudah menjadi salah satu tradisi rutin dilakukan warga Tionghoa yang menganut agama Khonghucu. Meskipun ada perbedaan dalam tatacara pelaksanaan di masing-masing kelenteng, namun tujuanya sama yakni untuk meminta keselamatan.


Po Un adalah salah satu tradisi yang telah menjadi darah daging dikalangan umat Khonghucu. Jadi, warga Tionghoa yang beragama Khonghucu selalu mengikuti ritual tersebut di kelenteng-klenteng setiap tahunnya. Ritual ini bertujuan untuk memohon keselamatan dan nasib baik kepada Tien (baca Tuhan), bagi yang ingin mengikuti prosesi Po Un, cukup dengan membawa pakaian bekas yang akan digunakan sehari-hari oleh umat yang bersangkutan.

Selanjutnya bahwa dari beberapa ritual yang telah dilakukan di kelenteng maupun tempat-tempat lainnya, semua itu ada perbedaan dalam pelaksanaan dari masing-masing penyelenggara (kelenteng). (Romy)

Rabu, Februari 13, 2013

Po Un Untuk Memohon Keselamatan

JAMBI - Hampir disetiap kelenteng menggelar prosesi Po Un, ritual tersebut sudah menjadi salah satu tradisi bagi warga Tionghoa. Tradisi tersebut sudah ada sejak jaman nenek moyang masyarakat Tionghoa, meskipun ada perbedaan dalam tatacara pelaksana di masing-masing kelenteng, ada yang hanya membawa pakaian lalu di stempel saja tanpa yang bersangkutan mengikuti ritual (asal-asalan yang penting bagi mereka adalah tanda jasa alias angpao), selain itu ada juga pihak ketiga yang tidak berkaitan mengikuti tradisi warga Tionghoa tanpa mengikuti etika.

Menurut Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) kelenteng “Sai Che Tien”, The Kien Peng (Darmadi Tekun), berlokasi di Rt. 02 Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, bahwa “Ritual ini bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Tie Kong (Tuhan) dan peserta yang hendak Po Un membawa pakaian yang akan digunakan oleh umat seusai mengikuti dalam ritual Po Un”.

Tambah Darmadi, “Po Un adalah salah satu tradisi yang telah mendarah daging dikalangan umat Khonghucu. Jadi, warga Tionghoa yang beragama Khonghucu selalu menggelar ritual tersebut di kelenteng-kelenteng setiap tahun”. katanya.

Pada hal tujuan Po Un, yakni memohon keselamatan kepada Penguasa Alam Semesta (Tuhan). “Ada beberapa shio yang bertentangan dengan shio Macan yang jatuh tepat pada 2013 ini. Maka, orang yang memiliki shio yang bertentangan tersebut harus ikut dalam ritual Po Un ini,” katanya.

Selanjutnya bahwa dari beberapa ritual yang telah dilakukan di kelenteng maupun tempat-tempat lainnya, semua itu ada perbedaan dalam pelaksanaan dari masing-masing penyelenggara (kelenteng).

Bahwa ritual tersebut sudah dilakukan sejak ribuan tahun silam (sebelum masehi) oleh umat Khonghucu di China. Sehingga untuk mempertahankan ritual tersebut, sampai saat ini warga Tionghoa tetap menggelar acara tersebut. Mereka percaya bahwa setiap orang yang lahir memiliki chiong/ kias dari masing-masing shio. Maka chiong inilah yang harus dicocokkan dengan shio setiap orang dan shio setiap tahunnya, seperti tahun ini jatuh pada tahun Ular Air, jadi yang chiong dengan shio Ular Air adalah shio Babi, terus shio Anjing ciong Tai Sui, shio Kambing ciong Song Un (tidak boleh menghadiri/ melihat mayat), shio Ayam ciong Go Kui (Hantu), shio Kerbau ciong (Peh Houw/ Macan Putih), Kerinci ciong Thien Kauw (Anjing Langit).
 
Dalam tradisi Tionghoa kuno dikenal sebuah upacara Po Un. Banyak kalangan salah tafsir dikira sama dengan Ci Suak. Padahal dua hal yang berbeda sama sekali. Po = menambah, Un =  energi, artinya Un Gie (menambah energi). Karena itu mestinya dilakukan hanya pada orang yang habis kena jiong (sengkala). (Romy)

Makin Sai Che Tien Gelar Upacara Po Un

JAMBIMajelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kelenteng Sai Che Tien yang beralamat di Jalan Pangeran Diponegoro, Lorong Koni IV, Rt. 01, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jetung, kota Jambi, di Kelenteng tersebut setiap tahun selalu mengelar upacara yang dikenal dengan sebutan Po Un, di kelenteng Sai Che Tioen terdapat sebuah Kim Sin (shen min) yang dikenal dengan sebutan “Hok Hie Te Sien” atau “Sien Kong”, shen ming tersebut juga dikenal sebagai dewa obat atau dewa pencipta Pat Kwa (8 Trigram).

Sejak Rabu (13/2) pagi, puluhan kepala rumah tangga atau yang diwakili salah satu keluarga hadir di kelenteng Makin Sai Che Tien untuk mengikut upacara Po Un yang dipimpin langsung oleh Rohaniawan Lim Tek Chong dari negara tirai bambu, Po Un tahun ini diikuti lebih kurang seratus kepala keluarga (kk) dan dilaksanakan dari 13 hingga 10 Februari 2013, bagi warga yang hendak Po Un sebelumnya harus mendaftarkan diri dengan cara memberikan nama-nama yang bersangkutan berikut data lain seperti tanggal lahir, jenis kelamin dan jam lahir, serta membawa baju satu lembar yang dipakai sehari-hari, sedangkan beberapa sesajen disediakan Makin Kelenteng Sai Che Tien, peserta Po Un wajib ikut dalam prosesi upacara, dapat diwakili oleh salah satu keluarganya.

Prosesi Po Un dimulai pukul 09.00 hingga pukul 15.00 dengan membaca nama, tanggal kelahiran, jam kelahiran dan shio yang bersangkutan dihadapan shin ming (baca dewa red) Hok Hie Te Sien atau Sien Kong terus mengelilingi altar shen ming sebanyak 12 kali putaran.

Menurut penuturan Lim Tek Chong, bahwa, “Manusia lahir, hidup dan meninggal merupakan takdir dari sang pencipta alam semesta, namun perjalanan seseorang maupun nasib seseorang tergantung dari perilakunya sehari-hari”, sedangkan prosesi Po Un adalah untuk membuang kiat atau sial yang terdapat pada diri yang bersangkutan.

Selanjutnya ujar Lim Tek Chong, perjalanan seseorang di tahun Ular Air, ada bulan yang baik dan ada pula bulan yang kurang baik, maka kita mesti memohon kepada Yang Maha Esa serta memohon agar para shin beng memberikan perlindungan dan memberikan berkah yang baik bagi keluarga maupun yang bersangkutan.

Tahun ini jatuh pada tahun Ular Air, yang chiong dengan shio Babi ciong Ular Air, shio Anjing ciong Tai Sui, shio Kambing ciong Song Un (tidak boleh menghadiri/ melihat mayat), Shio Ayam ciong Go Kui (Hantu), shio Kerbau ciong (Pe Ho/ Macan Putih), Kerinci ciong Tien Kao. (Romy)

Minggu, Februari 12, 2012

Bolak Balik Jambi-Palembang Melayani Umat Khonghucu

JAMBI – Tugas seorang rohaniawan tidak seenak yang kita bayangi, karena seoran rohaniwan mempunyai tanggung jawab untuk melayani umat setiap saat dibutuhkan, seperti Lim Tek Chong taushe selama sebulan penuh memberikan pelayanan kepada umat Khonghucu di Jambi dan Palembang (Sumsel). Lim Tek Chong ke Indonesia bertepatan sehari sebelum tahun baru Imlek dan akan kembali ke China pada tanggal 22 Februari 2012.
Dalam dua hari ini, Lim Tek Chong memberikan pelayanan kepada puluhan umat Khonhucu yang mendatangi klenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien di kawasan Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, setiap hari Lim Tek Chong melakukan Po Un 2 babak, setiap babak pesertanya sebanyak 25 kepala keluarga (KK).

Setiap babak memakan waktu lebih dari 2 jam, mulai jam 09.00 pagi hingga pukul 11.30, masing-masing perwakilan mengikuti Lim Tek Ching, taoshe mengelilingi altar Hok Hie Te Shien (Fu Xi) sebanyak 12 putaran, setiap putaran mewakili shio, waktu dan hari sambil membacakan mantera. Prosesi seperti ini belum pernah dilakukan ditempat ibadah lain, karena harus benar-banar menguasai berbagai mantera, mulai dari mengundang shen ming hingga membaca so bun penolakan bala.

Menurut Lim Tek Chong taoshe, kalau di Anke, China Po Un seperti ini, “Po Un juga seperti yang dilakukan disini (Jambi),” kita mesti mengelilingi altar shen ming dan altar 12 shio yang dipasang saat mau lakukan Po Un, tujuan ini, supaya tahun ini kita dapat meliwati lintangan tanpa ada gannguan ciong. (Romy)

http://www.ayojambi.com
http://www.makinjambi.com
http://www.confucian.me
http://multmedia.multiply.com

Kamis, Februari 02, 2012

Peserta Po Un Mencapai Ratusan KK

JAMBI – Hingga hari Kamis (2/2) peserta yang mengikuti prosesi Po Un di Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien sekitar seratus kepala keluarga (KK), paling sedikit kepala keluarga mewakili 5 jiwa, mereka datang ke Klenteng Makin Sai Che Tien untuk mengikuti prosesi Po Un (kias) berkat adanya informasi yang disampaikan oleh media koran daerah Jambi.
Setiap perwakilan wajib mengikuti Lim Tek Ching, Taoshe mengelilingi altar Hok Hie Te Shien (nabi FU XI) sebanyak dua belas putaran, setiap putaran Taoshe membacakan mantera, setelah meliwati jembatan duplikat peserta mengikuti Taoshe mengucapkan Kwe Ya (artinya LIWATlah), maksud ucapan tersebut agar setiap orang dapat meliwati sehari-hari dan mewilati setiap bulan hingga akhir tahun dengan selamat tanpa ada alar melintang (Ciong).

Menurut Lim Tek Chong Taoshe dari Provinsi Hok Kien, China, setiap awal tahun imlek, di China juga melakukan Po Un seperti ini, “Di China Po Un juga seperti yang dilakukan di Jambi,” Tambah Lim Tek Chong, setiap peserta Po Un mengikuti keliling altar sambil mengucapkan b ahasa Hok Kien yaitu Kwe Ya, yang diartikan kita dapat meliwati lintangan tanpa ada gannguan (ciong).


Lim Tek Chong setiap awal tahun sengaja diundang oleh Makin Sai Che Tien untuk memberikan pelayanan Pon Un kepada Umat Khonghucu di Provinsi Jambi. Namun selain di Jambi, umat Khonghucu di Sumsel juga ada mengundang beliau (Lim Tek Chong), maka empat hari di Jambi, hari di Palembang untuk melakukan Po Un.

Berhubung semakin banyak yang mau ikut Po Un, maka Makin Sai Che Tien akan mmemperpanjang waktu Po Un hingga 14 Februari 2012.

Kata Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) klenteng “Sai Che Tien”, Darmadi Tekun, bahwa, “Bahwa banyak yang datang mendaftar, maka Po Un kita perpanjangkan hingga 14 Februari 2012, mulai jam 09.00 WIB.”

“Po Un merupakan salah satu tradisi dari masyarakat Tionghoa di China sejak ribuan tahun silam, Po Un yang diartikan menambah energi (un gie).”

Menurut salah satu peserta Po Un, Abin mengatakan bahwa baru kali pertama ikut Po Un di Klenteng Sai Che Tien, biasanya beliau Po Un di tempat lain, Saya baca koran bahwa Po Un di klenteng Sai Che Tien setiap orang harus keliling jembatan duplikat sebanyak dua belas kali, maka hari ini (2/2) saya sempat melihat dan mengikuti prosesi Po Un yang lazim dilakukan orang Tiongkok beragama Khonghucu. (Romy)

http://www.ayojambi.com
http://www.makinjambi.com
http://www.confucian.me/
http://multmedia.multiply.com/

Minggu, Januari 29, 2012

Peserta Po Un Semakin Ramai

JAMBI – Dari hari ke hari peserta yang datang ke Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Sai Che Tien semakin ramai, mereka datang ke Klenteng Makin Sai Che Tien untuk mengikuti prosesi Po Un (kias) yang dipimpin oleh Taoshe, Lim Tek Ching dari Provinsi Hok Kien, China. Lim Tek Chong sengaja diundang oleh Makin Sai Che Tien untuk memberikan pelayanan Pon Un kepada Umat Khonghucu di Provinsi Jambi.
Sejak Po Un dimulai tanggal 26 hingga 28 Januari 2012, setiap puluhan warga Tionghoa mengikuti upacara, ada yang diwakili oleh sang istri, ada juga yang diwakili anaknya, setahap demi setahap mereka mengikuti dengan kusuk.

Peserta hari Sabtu ini (28/1) Po Un dilakukan dua kali, yakni pagi hari, jam 09.00 dan siang jam 14.00 WIB. Selanjutnya Po Un akan dilaksana pada 1 Februari mendatang. 29 hingga 31 Januari 2012, Lim Tek Chong taoshe ke Sumsel untuk acara yang sama.

Kata Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) klenteng “Sai Che Tien”, Darmadi Tekun, bahwa hari ini luar biasa yang mau ikut Po Un, karena tujuan dari Po Un adalah untuk memohon kepada Tien (Tuhan) melalui perantara roh suci Hok Hie Te Sien (Fu Xi) “Ritual ini bertujuan untuk meminta keselamatan dari Tien (Tuhan), peserta cukup membawa pakaian yang sehari-hari dipakai, boleh juga pakaian yang kepakai umat Khonghucu”.

“Po Un adalah salah satu tradisi dari jaman nenek moyang masyarakat Tionghoa di China, Po Un dilakukan umat Khonghucu di awal bulan imlek. Maka, bagi warga yang beragama Khonghucu selalu menggelar ritual itu di klenteng Sai Che Tien setiap tahunnya”. katanya.

Tambah Darmadi Tekun, bahwa ritual sudah dilakukan sejak ribuan tahun silam (sebelum masehi) oleh umat Khonghucu di China, “Po Un hanya dilakukan oleh umat yang agama Khonghucu saja”. Sehingga untuk mempertahankan ritual tersebut, sampai saat ini warga Tionghoa tetap menggelar acara tersebut. Mereka percaya bahwa setiap orang yang lahir memiliki chiong atau kias/ nasib yang berbeda-beda dari masing-masing shio.

Dalam tradisi Tionghoa kuno dikenal sebuah upacara Po Un. Banyak kalangan salah tafsir dikira sama dengan Ci Suak. Padahal dua hal yang berbeda sama sekali. Po = menambah, Un = Un Gie = energi (menambah energi). (Romy)