Tampilkan postingan dengan label Imlek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Imlek. Tampilkan semua postingan

Rabu, Februari 13, 2013

Po Un Untuk Memohon Keselamatan

JAMBI - Hampir disetiap kelenteng menggelar prosesi Po Un, ritual tersebut sudah menjadi salah satu tradisi bagi warga Tionghoa. Tradisi tersebut sudah ada sejak jaman nenek moyang masyarakat Tionghoa, meskipun ada perbedaan dalam tatacara pelaksana di masing-masing kelenteng, ada yang hanya membawa pakaian lalu di stempel saja tanpa yang bersangkutan mengikuti ritual (asal-asalan yang penting bagi mereka adalah tanda jasa alias angpao), selain itu ada juga pihak ketiga yang tidak berkaitan mengikuti tradisi warga Tionghoa tanpa mengikuti etika.

Menurut Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) kelenteng “Sai Che Tien”, The Kien Peng (Darmadi Tekun), berlokasi di Rt. 02 Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, bahwa “Ritual ini bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Tie Kong (Tuhan) dan peserta yang hendak Po Un membawa pakaian yang akan digunakan oleh umat seusai mengikuti dalam ritual Po Un”.

Tambah Darmadi, “Po Un adalah salah satu tradisi yang telah mendarah daging dikalangan umat Khonghucu. Jadi, warga Tionghoa yang beragama Khonghucu selalu menggelar ritual tersebut di kelenteng-kelenteng setiap tahun”. katanya.

Pada hal tujuan Po Un, yakni memohon keselamatan kepada Penguasa Alam Semesta (Tuhan). “Ada beberapa shio yang bertentangan dengan shio Macan yang jatuh tepat pada 2013 ini. Maka, orang yang memiliki shio yang bertentangan tersebut harus ikut dalam ritual Po Un ini,” katanya.

Selanjutnya bahwa dari beberapa ritual yang telah dilakukan di kelenteng maupun tempat-tempat lainnya, semua itu ada perbedaan dalam pelaksanaan dari masing-masing penyelenggara (kelenteng).

Bahwa ritual tersebut sudah dilakukan sejak ribuan tahun silam (sebelum masehi) oleh umat Khonghucu di China. Sehingga untuk mempertahankan ritual tersebut, sampai saat ini warga Tionghoa tetap menggelar acara tersebut. Mereka percaya bahwa setiap orang yang lahir memiliki chiong/ kias dari masing-masing shio. Maka chiong inilah yang harus dicocokkan dengan shio setiap orang dan shio setiap tahunnya, seperti tahun ini jatuh pada tahun Ular Air, jadi yang chiong dengan shio Ular Air adalah shio Babi, terus shio Anjing ciong Tai Sui, shio Kambing ciong Song Un (tidak boleh menghadiri/ melihat mayat), shio Ayam ciong Go Kui (Hantu), shio Kerbau ciong (Peh Houw/ Macan Putih), Kerinci ciong Thien Kauw (Anjing Langit).
 
Dalam tradisi Tionghoa kuno dikenal sebuah upacara Po Un. Banyak kalangan salah tafsir dikira sama dengan Ci Suak. Padahal dua hal yang berbeda sama sekali. Po = menambah, Un =  energi, artinya Un Gie (menambah energi). Karena itu mestinya dilakukan hanya pada orang yang habis kena jiong (sengkala). (Romy)

Makin Sai Che Tien Gelar Upacara Po Un

JAMBIMajelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kelenteng Sai Che Tien yang beralamat di Jalan Pangeran Diponegoro, Lorong Koni IV, Rt. 01, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jetung, kota Jambi, di Kelenteng tersebut setiap tahun selalu mengelar upacara yang dikenal dengan sebutan Po Un, di kelenteng Sai Che Tioen terdapat sebuah Kim Sin (shen min) yang dikenal dengan sebutan “Hok Hie Te Sien” atau “Sien Kong”, shen ming tersebut juga dikenal sebagai dewa obat atau dewa pencipta Pat Kwa (8 Trigram).

Sejak Rabu (13/2) pagi, puluhan kepala rumah tangga atau yang diwakili salah satu keluarga hadir di kelenteng Makin Sai Che Tien untuk mengikut upacara Po Un yang dipimpin langsung oleh Rohaniawan Lim Tek Chong dari negara tirai bambu, Po Un tahun ini diikuti lebih kurang seratus kepala keluarga (kk) dan dilaksanakan dari 13 hingga 10 Februari 2013, bagi warga yang hendak Po Un sebelumnya harus mendaftarkan diri dengan cara memberikan nama-nama yang bersangkutan berikut data lain seperti tanggal lahir, jenis kelamin dan jam lahir, serta membawa baju satu lembar yang dipakai sehari-hari, sedangkan beberapa sesajen disediakan Makin Kelenteng Sai Che Tien, peserta Po Un wajib ikut dalam prosesi upacara, dapat diwakili oleh salah satu keluarganya.

Prosesi Po Un dimulai pukul 09.00 hingga pukul 15.00 dengan membaca nama, tanggal kelahiran, jam kelahiran dan shio yang bersangkutan dihadapan shin ming (baca dewa red) Hok Hie Te Sien atau Sien Kong terus mengelilingi altar shen ming sebanyak 12 kali putaran.

Menurut penuturan Lim Tek Chong, bahwa, “Manusia lahir, hidup dan meninggal merupakan takdir dari sang pencipta alam semesta, namun perjalanan seseorang maupun nasib seseorang tergantung dari perilakunya sehari-hari”, sedangkan prosesi Po Un adalah untuk membuang kiat atau sial yang terdapat pada diri yang bersangkutan.

Selanjutnya ujar Lim Tek Chong, perjalanan seseorang di tahun Ular Air, ada bulan yang baik dan ada pula bulan yang kurang baik, maka kita mesti memohon kepada Yang Maha Esa serta memohon agar para shin beng memberikan perlindungan dan memberikan berkah yang baik bagi keluarga maupun yang bersangkutan.

Tahun ini jatuh pada tahun Ular Air, yang chiong dengan shio Babi ciong Ular Air, shio Anjing ciong Tai Sui, shio Kambing ciong Song Un (tidak boleh menghadiri/ melihat mayat), Shio Ayam ciong Go Kui (Hantu), shio Kerbau ciong (Pe Ho/ Macan Putih), Kerinci ciong Tien Kao. (Romy)

Rabu, Februari 06, 2013

Imlek Bukan Hari Raya Agama Buddha

Kutipan dari: Bhagavant.com --
Pada tanggal 7 Pebruari yang lalu, suku bangsa Tionghoa di seluruh dunia merayakan perayaan Tahun Baru China atau disebut Tahun Baru Imlek. Begitu juga masyarakat Indonesia khususnya dari keturunan etnis Tionghoa juga merayakan Tahun Baru Imlek. Sudah enam tahun sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 TENTANG HARI TAHUN BARU IMLEK tertanggal 9 April 2002, perayaan Tahun Baru Imlek telah dirayakan secara bebas. Namun sayang, nampaknya masih banyak orang, khususnya di Indonesia, yang salah memahami perayaan Tahun Baru Imlek sebagai hari perayaan keagamaan khususnya menganggap sebagai perayaan dalam agama Buddha.
Kesalahpahaman mengenai anggapan bahwa Imlek adalah perayaan agama Buddha oleh sebagian besar orang, khususnya di Indonesia, didasari oleh kurangnya informasi yang benar dan melekatnya stigma dan sikap penyamarataan bahwa warga keturunan etnis Tionghoa pastilah beragama Buddha, Tao atau Kong Hu Chu, dan agama Buddha adalah agama khusus warga keturunan etnis Tionghoa. Sehingga ketika umat Buddha Indonesia yang sebagian besar adalah berlatar belakang keturunan etnis Tionghoa merayakan tradisi Tionghoa, dalam hal ini perayaan Imlek, maka sebagian besar orang beranggapan bahwa Imlek adalah hari raya agama Buddha. Padahal tidak demikian.

Secara singkat, Imlek sendiri merupakan suatu perayaan tradisi menyambut musim semi dan berakhirnya musim dingin yang dilakukan oleh suku bangsa Tionghoa di Tiongkok (China), yang dalam perkembangannya ditetapkan sebagai hari penggantian tahun.

Penanggalan Imlek di Tiongkok dimulai sejak tahun 2637 SM, sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Penanggalan Imlek sebutan asalnya adalah He Lek, yakni Penanggalan Dinasti Ke / Hsia (2205-1766 SM) yang pertama kali mengenalkan penanggalan berdasarkan matahari, dan penetapan tahun barunya bertepatan dengan tibanya musim semi. Dinasti Sing/Ien (1766-1122 SM) menetapkan tahun barunya mengikuti Dinasti He, yakni akhir musim dingin.

Dari penjelasan di atas jelas bahwa Imlek berawal dari sebuah tradisi menyambut musim semi, dan tidak ada kaitannya dengan perayaan keagamaan manapun. Dengan demikian, Imlek dapat dirayakan secara lintas agama, khususnya mereka yang berlatar belakang keturunan etnis Tionghoa.

Salah satu acara dalam perayaan Imlek adalah ”sembahyang” leluhur. Acara ”sembahyang” leluhur ini rupanya diartikan oleh warga keturunan etnis Tionghoa yang beragama non-Buddhis, non-Tao dan non-Kong Hu Chu sebagai acara berdoa memohon rejeki kepada para leluhur sehingga mereka menganggap bahwa hal tersebut bertentangan dengan ajaran agama mereka. Karenanya, banyak umat Kristen maupun Muslim keturunan etnis Tionghoa yang meninggalkan tradisi perayaan Imlek.

Berbeda dengan umat agama lain, umat Buddha keturunan etnis Tionghoa memandang acara ”sembahyang” leluhur sebagai suatu penghormatan kepada para leluhur dan bukan meminta rejeki kepada para leluhur. Jadi istilah ”sembahyang” yang tepat bukanlah berarti berdoa meminta kepada leluhur, tetapi justru menghormati dan mendoakan para leluhur. Dan menghormati mereka yang patut dihormat adalah salah satu wujud dari pelaksanaan Dhamma (Kebenaran).

Dengan demikian, meskipun Imlek bukan merupakan hari raya agama Buddha namun umat Buddha yang berlatar belakang keturunan etnis Tionghoa dapat dengan bebas merayakan Imlek.

Selamat Tahun Baru Imlek bagi yang merayakannya.

sumber http://www.bhagavant.com/home.php?link=news&n_id=96

Senin, Februari 06, 2012

Ribuan Masyarakat Jambi Meriahkan Malam Cap Go Meh

JAMBI - Perayaan Malam Cap Go Meh di Kota Jambi yang digelar Senin (6/2/2012) malam oleh Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) “Hok Khneg Tong”, Makin “Leng Chun Keng” dan Makin “Sai Che Tien” berlangsung meriah. Acara ini juga membuat jalan Pangeran Diponegoro dan kawasan koni Jambi macet total.
Pada acara tersebut ditampilkan barisan umbul-umbul kebesaran shen ming, lantera (teng long), atraksi liong, barongsai, puluhan kitong (tatung) dan sembilan kursi tandu untuk tempat duduk shen ming (dewa) serta hiburan artis dari Batam yang dipersembahkan oleh pengurus Makin Hok Kheng Tong Jambi.

Ada juga penampilan dari penampilan Roh Suci Ci Kung (dewa mabuk) dengan tingkah laku yang membuat penonton tertawa. Ribuan warga kota Jambi hadir menyaksikan acara tersebut.

Wakil Ketua Makin Hok Keng Tong, Berlianta Eliamsya (Lie Chin Hai), mengatakan bahwa malam Cap Go Meh ini adalah acara penutup rangkain kegiatan Imlek selama 15 hari, dalam pengertian Cap Go=15, Meh=Malam, maka Cap Go Meh kita lakukan pada malam hari sesuai dengan namanya “Cap Go Meh”.

"Dengan hadirnya tahun baru Naga Air mari kita tingkatkan persatuan dan kesatuan serta mendukung program kerja pemerintah dalam membangun Kota Jambi.” Berlianta.

Dimana rencana malam Cap Go Meh ini, Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus, Wakil Gubernur Jambi, Fachrori Umar, Danrem 042/ Gapu, Kolonel Kav Hasto PR Yuwono, Kapollda Jambi, Brigjen Pol Drs. Anang Iskandar, SH., MH, Walikota Jambi, dr.H.Rd.Bambang Priyanto, Wakil Walikota Jambi, M. Sum Indra, SE, Dandim 0415/ Batanghari, Letkol Ezi Suprayogi beserta unsur muspida kan hadir, namun ada rapat mendadak untuk persiapan penyambutan Presiden RI ke Jambi. Maka staf khusus Gubernur dan wakil Walikota, M. Sum Indra, SE yang hadir serta para tokoh masyarakat Tionghoa dan pengusaha pendukun acara Cap Go Meh. (Romy)

Di Jambi, Liong Datangi Rumah Umat Khonghucu

JAMBI - Lampu warna warni dan hiasan Lentera (Teng Long) mewarnai tiga Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) di Kota Jambi, yaitu Makin Hok Kheng Tong, Makin Sai Che Tien dan Makin Leng Chun Keng, tahun ini merupakan tahun yang agak lain dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, karena tahun ini sejumlah petinggi daerah ikut ambil bagian dalam perayaan Malam Cap Go Meh.
Cap Go Meh dirayakan 15 hari setelah Perayaan Tahun Baru Imlek, atau pada tanggal 15 bulan satu Imlek.

Kegiatan Pawai Lentera (Teng Long) yang mengambil start di Klenteng Hok Kheng Tong menuju rute yang dituju adalah Jalan Pangeran Diponegoro - Jalan Koni I, terus menuju Klenteng Ceng Hong Lao dikawasan Budiman, Talangbanjar dan finish di Klenteng Hok Kheng Tong. Disepanjang jalan ratusan masyarakat Kota Jambi berbaur untuk menyaksikan atraksi dari barongsai, liong dan atraksi dari masing-masing kitong, satu persatu klenteng dikawasan koni dihampiri oleh rombongan pawai, selain

Berlianta Eliamsya (Lie Chin Hai), mengatakan, pawai lampion pada perayaan Festival Cap Go Meh 2012 merupakan agenda kegiatan dari tiga klenteng dikawasan Koni Jambi, “Festival lentera atau lampion merupakan agenda dari Makin Hok Keng Tong, Making Sai Che Tien dan Makin Leng Chun Keng” selanjutnya tambah bahwa, perayaan Cap Go Meh tahun ini Gubernur beserta unsur muspida tidak dapat hadir, kerena mereka ada rapat, kedatangan Presiden RI ke Jambi, namun kita tidak lupa mengucapkan terima kasih atas dukungan dari pemerintah provinsi Jambi serta Kapolda Jambi dan Korem 042/Gapu.

Pawai lampion yang merupakan satu di antara rangkaian kegiatan Festival Cap Go Meh ini memberikan dampak positif kepada masyarakat, karena banyaknya dihadiri masyarakat di sekitar Kota Jambi. (Romy)

Malam Ini, Ada Festival Malam Cap Go Meh Di Jambi

JAMBI, ayojambi.com – Malam ini kawasan Koni Jambi menjadi pusat perhatian warga masyarakat Kota Jambi, pasalnya pusat perayaan malam Cap Go Meh di Jambi, Senin (6/2/2012) malam. Arak-arakannya roh suci kim sin para shen ming (baca patung dewa red) dimulai pukul 17.30, sebelum Festival Cap Go Meh dimulai, terlebih dahulu MAKIN Leng Chun Keng dan Klenteng MAKIN Sai Che Tien adakan upacara mengundang shen ming (roh suci) datang dan menduduki kursi tandu (kio) yang telah disediakan pihak klenteng, setelah berbagai ritual dilakukan di Klenteng, selanjutnya kedua rombongan menuju Klenteng Hok Kheng Tong. Agenda Cap Go Me ini murni dilaksanakan oleh para penganut agama Khonghucu Jambi setiap tahunnya.
Sejak Senin pagi, berbagai persiapan kegiatan telah dipersiapkan oleh masing-masing klenteng, kegiatannya antara lain berupa cek lampu-lampu baterai untuk lampion, peralatan barongsai, liong, tandu kim sin (patung dewa).

Atraksi budaya karnaval Cap Go Meh dalam perayaan ini, mengarak kim sin roh suci dan menampilkan pawai barongsay dan liong dari sejumlah klenteng, arak-arakan Cap Go Me yang diselenggarakan pada hari ke-15 perayaan imlek itu akan mengitari kawasan Koni di Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, menuju ke Klenteng Ceng Hong Lau di Kelurahan Budiman, Kecamatan Jambi Timur. Dibeberapa lokasi para kitong (tatung) dan tandu kim sin akan melintasi api.

Festival Malam Cap Go Me Di Jambi, berbeda dengan perayaan Cap Go Meh didaerah lain yang kelap kali dilakukan pada siang hari, untuk Jambi festival Cap Go Meh setiap tahun dilakukan pada malam hari, agar lampion yang pasang lampu bisa menambah keindahan festival.

Disamping itu, Berlianta Eliamsya (Lie Chin Hai), mengatakan, panitia malam Cap Go Meh malam ini mendatangkan dua penyanyi dari Batam (Kepri) menghibur masyarakat yang tidak ikut dalam pawai karfanal, “Seperti tahun-tahun lalu, bagi masyarakat yang tidak ikut pawai lampion, akan dihibur artis dari Batam.”

Acara Cap Go Me malam ini, akan di hadiri Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus, Wakil Gubernur Jambi, Fachrori Umar, Danrem 042/ Gapu, Kolonel Kav Hasto PR Yuwono, Kapollda Jambi, Brigjen Pol Drs. Anang Iskandar, SH., MH, Walikota Jambi, dr.H.Rd.Bambang Priyanto, Wakil Walikota Jambi, M. Sum Indra, SE, Dandim 0415/ Batanghari, Letkol Ezi Suprayogi beserta unsur muspida dan para tokoh masyarakat maupun pengusaha di Jambi. (Romy)

Rabu, Februari 02, 2011

Imlek, Perayaan Musim Semi

Aslinya Imlek atau Sin Tjia adalah sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Cina yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru. Perayaan ini juga berkaitan dengan pesta para petani untuk menyambut musim semi. Perayaan ini dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama.
Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun depan mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.

Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka segala bentuk persembahannya adalah berupa berbagai jenis makanan. Idealnya, pada setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Di Cina, hidangan yang wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti "kemakmuran," "panjang umur," "keselamatan," atau "kebahagiaan," dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur.

Kue-kue yang dihidangkan biasanya lebih manis daripada biasanya. Diharapkan, kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Di samping itu dihidangkan pula kue lapis sebagai perlambang rezeki yang berlapis-lapis. Kue mangkok dan kue keranjang juga merupakan makanan yang wajib dihidangkan pada waktu persembahyangan menyambut datangnya tahun baru Imlek. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.

Ada juga makanan yang dihindari dan tidak dihidangkan, misalnya bubur. Bubur tidak dihidangkan karena makanan ini melambangkan kemiskinan.

Kedua belas hidangan itu lalu disusun di meja sembahyang yang bagian depannya digantungi dengan kain khusus yang biasanya bergambar naga berwarna merah. Pemilik rumah lalu berdoa memanggil para leluhurnya untuk menyantap hidangan yang disuguhkan.

Di malam tahun baru orang-orang biasanya bersantap di rumah atau di restoran. Setelah selesai makan malam mereka bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rezeki bisa masuk ke rumah dengan leluasa. Pada waktu ini disediakan camilan khas Imlek berupa kuaci, kacang, dan permen.

Pada waktu Imlek, makanan yang tidak boleh dilupakan adalah lapis legit, kue nastar, kue semprit, kue mawar, serta manisan kolang-kaling. Agar pikiran menjadi jernih, disediakan agar-agar yang dicetak seperti bintang sebagai simbol kehidupan yang terang.
Tujuh hari sesudah Imlek dilakukan persembahyangan kepada Sang Pencipta. Tujuannya adalah sujud kepadaNya dan memohon kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru dimasuki.

Lima belas hari sesudah Imlek dilakukan sebuah perayaan yang disebut dengan Cap Go Meh. Masyarakat keturunan Cina di Semarang merayakannya dengan menyuguhkan lontong Cap Go Meh yang terdiri dari lontong, opor ayam, lodeh terung, telur pindang, sate abing, dan sambal docang. Sementara di Jakarta, menunya adalah lontong, sayur godog, telur pindang, dan bubuk kedelai.

Pada waktu perayaan Imlek juga dirayakan berbagai macam keramaian yang menyuguhkan atraksi barongsai dan kembang api.