JAMBI – Perayaan Sejit Shen Ren (Dewa) Penjaga Hutan ramai dihadiri kaum hawa, walaupun lokasi ibadah terletak sembilan kilo meter dari kota Jambi. Mereka ada yang datang berombongan, ada juga yang datang dengan mengunakan jasa tukang ojek.
Kehadiran umat kota Jambi di Kelenteng Sam Leng Keng yang berlokasi arah menuju Tangkit, Rt. 19, Kelurahan Talang Bakung, Kecamatan Jambi Selatan, kota Jambi untuk ikut sembahyang Sejit Ong Seng Kong. Ong Seng Kong merupakan sosok yang sangat penyayang hutan rimba, Ong Seng Kong juga pernah bermukim dikawasan Sembagsel (Jambi-Palembang) masa lalu.
Hasil pantauan dilapangan, Rabu (13/3) sejak pukul 10.00 berbagai kaum hawa mulai berdatangan untuk mengikuti prosesi ritual memperingati hari ulang tahun, umumnya kaum hawa pada membawa berbagai sesajian.
Terlihat Rudy Lidra selaku ketua Klenteng Sam Leng Keng dari pagi sibuk melayani umat yang silih berganti datangi kelenteng.
Menurut Rudy Lidra yang dikenal sebagai ketua Perkumpulan Hakka Jambi, sesibuk apapun, jika waktunya sembahyang, maka segala pekerjaan mesti ditinggalkan, “Kita jangan tau hanya bekerja setiap hari, kalau waktunya sembahyang, semua pekerjaan sementara ditinggalkan”. Ujar Rudy Lidra.
Menurut legenda asal muasal Sejit Ong Seng Kong yang sebelum dititis menjadi Sen Ming adalah sesosok manusia yang dikenal sangat menyayangi hutan belantara yang hijrah dari Tiongkok ke Indonesia bermukimss didaerah antara Jambi dan Palembang, beliau rela bermukim didalam hutan, agar bisa merawat hutan yang tidak terawat oleh manusia bahkan menghabiskan waktu seorang diri didalam rimba yang terdapat di pulau Sumatera, bahkan sampai Ong Seng Kong wafat dan dikebumikan didaerah Bayunglincir (Sumsel) sedangkan rohnya dititis menjadi shen ren.
Prosesi seperti biasanya, diawali dengan memohon izin kepada Tie Kong (Tuhan red) untuk dapat melaksanakan ritual perayaan hari ulang tahun sang dewa Ong Seng Kong dengan persembahan sesajen kepada Kun Ciong (pengawal para shen ren).
Setelah itu baru memasuki tahap kedua yaitu prosesi sembahyang memperingati she jit Ong Seng Kong dengan membacakan Ci Bun (sejenis laporan untuk dewa yang bersangkutan). (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi
JAMBI – Setelah lima hari perayaan Tahun Baru Imlek 2570 kongzili, ratusan umat Khonghucu di Kota Jambi silih berganti mendatangi Klenteng “Hok Kheng Tong” yang terletak di Jalan Koni IV, Rt. 02, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, kehadiran umat Khonghucu tersebut untuk untuk mengikuti prosesi upacara perayaan Sejit Roh Suci Shen Ren “Cheng Cui Co She” Qing Shui Zu Shi (Hok Kian = Ching Cui Co Su) atau yang lebih dikenal dengan nama sebutan “Co She Kong”, yang dilakukan pada Minggu (10/2-2019) pagi.
Mereka datang bersama keluarga maupun anak untuk sembahyang di Klenteng Hok Kheng Tong.
Upacara sembahyang langsung dipimpin oleh Lim Tek Chu taoshe dari Tiongkok upacara mulai dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 13.00.
Prosesi upacara terbagi dua tahap, yakni tahap pertama adalah sembahyang menghadap altar Tien (Tuhan), tahap kedua baru sembahyang di altar Roh Suci Shen Ren “Cheng Cui Co She” atau “Co She Kong”. Tahap demi tahap diikuti oleh segenap pengurus klenteng Hok Kheng Tong beserta para Lo Cu (panitia), semua prosesi dilakukan pengurus dengan kusuk dan seusai tahapan pertama umat Khonghucu, setengah jam kemudian, prosesi upacara kedua dilanjutkan didalam altar klenteng, yakni di altar Cheng Cui Co She (Co She Kong). Sebagaimana biasanya berbagai sesajen terbentang di atas meja segi empat berwarna merah, sesajian ada yang dibawa oleh masing-masing umat sendiri.
Seusai sembahyang tersebut, sesajen-sesajen yang ada di altar lalu dimasak, kemudian dimakan bersama. Tradisi makan bersama ini, menurut kepercayaan umat Khonghucu, dengan memakan makanan dari hasil sembahyang ulang tahun para Roh Suci Shen Ren, diri mereka akan mendapatkan perlindungan dari mahluk-mahluk yang berniat jahat.
Co She Kong berasal dari Propinsi Hok Kian, Kabupaten Yong Chun, China. Nama panggilan sehari-hari adalah Chen Zhao Ying (Hok Kian = Tan Ciao Eng). Beliau dilahirkan pada tanggal 6 bulan 11 Imlek, tahun 1044 M, pada zaman Dinasti Song (960-1279 M), dimasa Pemerintahan Kaisar Ren Zhong tahun keempat.
Chen Zhao Ying mahir dalam bidang pengobatan dan mendatangkan hujan bagi penduduk di sekitar An Xi (An Hui) & Xia Men (E Meng). Beliau sering membantu penduduk yang miskin dalam masalah pengobatan dan suka menolong orang-orang membangun jembatan. Di dekat gua tempat beliau bertapa terdapat sumber air yang jernih, yang bernama Qing Shui Yan (Ching Cui Giam) yang berarti Cadas Air Bersih. Dengan air jernih dan meditasi di gua ini Chen Zhao Ying mengobati orang-orang yang meminta pertolongannya. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi
JAMBI – Mulai hari ini Sai Che Tien menggelar Po Un (memperbaiki nasib). Po Un sudah menjadi tradisi bagi etnis Tionghoa yang. Meski ada perbedaan tata cara pelaksanaannya di masing-masing klenteng, namun tujuanya sama yakni untuk memperbaiki nasib satu tahun kedepan.
Menurut, The Lien Teng di Klenteng Sai Che Tien di Jalan Koni 4, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Sabtu (6/2-2019) malam, prosesi Po Un bisa dilakukan setelah shen ming turun dari langit, cia gwek ce shi (tanggal 4 bulan 1 penanggalan imlek). “Po Un ini bertujuan untuk memohon berkah dan memperbaiki nasib di tahun Babi Tanah, setiap peserta Po Un cukup membawa pakaian sehari-hari digunakan baik miliknya maupun anggota keluarga yang hendak mengikuti prosesi Po Un,”kata Lien Teng.
Dikatakannya, “Po Un” merupakan tradisi yang telah mendarah daging dikalangan etnis Tionghoa yang beragama Khonghucu.” Jadi, bagi umat Khonghucu selalu menggelar ritual tersebut di klenteng. katanya.
Dari beberapa ritual Po Un yang telah dilakukan, kata Rohaniawan Matakin Jambi tentunya ada perbedaan antara ritual Po Un yang digelar klenteng dimasing-masing dengan klenteng lainnya, namun semuanya tetap satu tujuan yakni memohon berkah, keselamatan dan memperbaiki nasib.
Ritual ini, sambung The Lien Teng, etnis Tionghoa sejak ribuan tahun silam hingga sekarang masih mempertahankan ritual tersebut, saat ini warga Tionghoa tetap menggelar acara tersebut. Masing-masing orang yang dilahirkan memiliki chiong. Maka chiong inilah yang harus dicocokkan dengan shio setiap orang dan shio disetiap tahunnya.
“Ada beberapa shio yang bertentangan dengan shio Babi Tanah pada tahun 2019 ini. Maka, orang yang memiliki shio yang bertentangan tersebut harus ikut dalam ritual Po Un ini,” katanya.
Orang yang memiliki shio ada yang chiong dengan thai sui, go kui dan lainnya. Maka agar menghindari musibah ataupun kesialan pada tahun Ular air ini, maka mereka harus mengikut upacara Po Un dengan melakukan sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para roh suci shen ming yang terdapat di kelenteng dengan membawa sejumlah persyaratan (sesajen) untuk melewati rintangan tahun ini.
Tahapannya biasanya seperti ini :
Semua persembahan diatas akan disusun diatas altar. 2. Lalu Rohaniawan akan menjalankan ritualnya, baca mantra sambil menggelilingi altar meliwati jembatan sebanyak 12 kali sambil menyebut kuwe ah (maksudnya liwatlah). Selanjutnya baju di stempel pada bagian pundak dan baju yang telah distempel ini nantinya akan dipakai yang bersangkutan selama 3 hari berturut, setelah itu, membakar semua kertas sembahyang yang udah di berkati dengan doa. Terakhir, Wajik (ketan), Mie Sua dan Telor dikasih warna merah dibawa pulang lalu dimasak dan dimakan bersama-sama, sedangkan kertas Hu (ada 2 jenis) yang agak besar untuk ditempelkan di pintu masuk rumah, yang agak kecil memanjang untuk dibawa (boleh letakan didalam dompet).
1. Hio (gaharu) dan lilin merah.
2. Satu piring kecil untuk mie sua.
3. Satu mangkok wajik ketan.
4. Telor dikasih warna merah.
5. Satu set gambar orang-orangan terbuat dari kertas, terdiri dari laki-laki (ortu) wanita (ibu) dan anak laki-laki maupun perempuan.
6. Semua kertas sembahyang ini. (poin 1-6 disediakan oleh pihak panitia).
7. Nama yang bersangkutan berikut tanggal lahir, jam kelahiran untuk dibacakan oleh Rohaniawan.
8. Baju tiap-tiap anggota keluarga yang mau di Po Un. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi
JAMBI - Perayaan Tahun Baru Imlek ke 2570 di Kota Jambi, di sambut antusias oleh ribuan umat Khonghucu se-kota Jambi (05/2-2019).
Sejak dinihari tadi, belasan klenteng di kota Jambi telah dibuka untuk memberikan pelayanan terhadap umat yang hendak lakukan sembahyang Imlek.
Warga berharap, di tahun yang baru ini, kehidupan akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya dan keluarga akan diberikan kesejahteraan serta kesehatan.
Sejak pukul 00.00 dini hari tadi, belasan klenteng di kota Jambi sudah dipadati ribuan warga Tionghua yang mayolitas beragama Khunghucu untuk memanjatkan doa.
Seperti yang dilakukan para umat Khonghucu di klenteng Siu San Teng (寿山亭), klenteng terbesar di kota Jambi yang terletak dikawasan Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, kota Jambi.
Ribuan warga berdatangan ke klenteng untuk melakukan sembahyang, diiringi doa menyambut perayaan tahun baru Imlek.
Aroma gahayu yang semerbak harumnya tercium dari depan gerbang klenteng diiringi terangnya puluhan lilin berwarna merah dari berbagai ukuran Sebagai ungkapan rasa syukur di tahun Babi.
Sembahyang ini sudah dilakukan umat Khonghucu sejak ribuan tahun silam secara turun temurun setiap perayaan Imlek.
Warga berharap semoga di tahun yang baru ini, kehidupan akan lebih baik dan umat akan diberikan kesejahteraan serta kesehatan. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi
JAMBI – Sejak pukul 07.00 Wib ratusan umat Buddha Jambi, merayakan hari kelahiran Dewa Se Mieng Fo di Maha Cetiya Oenang Hermawan, di Jalan Makalam, No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi (11/11-2018).
Upacara Hari Kelahiran Se Mien Fo (dewa empat wajah) yang dipimpin langsung oleh mama Ai Rin (71) yang sengaja didatangkan dari Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa [Lihat video: Prosesi Memperingati Hari Kelahiran Se Mien Fo].
Mama Ai Rin (nama Thailand Anothai Kamonwathin) adalah pendiri kuil Nam Hai Kwan Se Im, satu-satunya tempat peribatan terlengkap di Indonesia, yang terletak di desa Cibutun RT. 43 RW. 12, Blok Citaringgul Desa Kertajaya/ Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Kehadiran Mama Ai Rin atas undangan pengurus Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi untuk memimpin upacara memperingati hari kelahiran Se Mien Fo (dewa empat wajah) yang jatuh pada Minggu, 11 Nopember 2018.
Dalam kepercayaan umat Buddha, Dewa Se Mieng Fo atau yang dikenal dengan Dewa Catur Muka merupakan dewa yang pertama kali lahir di jagad raya. Oleh karna itu, peringatan kelahiran dewa Muka Empat menjadi hal yang sangat istimewa bagi pengikutnya.
Dalam proses memperingati kelahiran Dewa yang dalam bahasa Thailand dikenal dengan nama Maha Brahma ini dilangsungkan dalam prosesi sembahyang. Berbagai sajian pun tertata di altar depan patung Dewa Catur Muka. Seperti berbagai aneka buah-buahan, serta panganan vegetarian.
Prosesi ibadah berlangsung khusyuk. Bagi pengikut Maha Cetya Oenang, ada yang istimewa dalam perayaan kali ini. Pasalnya, prosesi ibadah dipimpin langsung oleh mama Ai Rin. Seorang spiritual asal Thailand yang sudah tidak asing lagi.
Seusai upacara sembahyang Hari Kelahiran Se Mien Fo, semua umat di bressing oleh mama Ai Rin.
Menurut penuturan Ketua Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia ( MBMI ) Provinsi Jambi Darma Pawarta Oenang (Hasan), bahwa, setiap tanggal 15 setiap bulan, Cap Go (Penanggalan Imlek) malam jumat kliwon ada ribuan umat yang datang beribadah, mereka datang dari berbagai peloksok tanah air, “Untuk dapat menghadiri Mama Ai Rin tidaklah semudah yang kita bayangkan!, karena Mama Airin banyak kegiatan di kuil Nam Hai Kwan Se Im dan di undang umat ke daerah lainya.” Ujar Hasan. (Romy)
JAMBI - Sehari sebelum upacara perayaan Hari Kelahiran Se Mien Fo terlebih dahulu rupang Se Mien Fo/ Dewa empat muka “Phak Phom” dibersihkan. Karena tidak sembarangan orang yang boleh memandikan rupang Se Mien Fo,! Maka sebelum prosesi permandian di mulai, terlebih dahulu, Mama Ai Rin melakukan ritual/ sembahyang di depan altar Phak Phom “Se Mien Fo” untuk meminta ijin dan restu siapa yang akan ditujuk Phak Phom “Se Mien Fo” untuk memandikan rupangnya, bahwa Mama Ai Rin yang langsung lakukan pemandian rupang Se Mien Fo (Dewa empat muka), dibantu oleh dua orang asisten yang dibawa dari kuil Nam Hai Kwan Se Im di Desa Cibutun RT. 43 RW. 12, Blok Citaringgul Desa Kertajaya/ Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (10/11-2018).
Di dalam catatan sutra Buddha alam Pathana Jhana Bhumi terdapat 3 alam yaitu alam Brahma Parisajja, Brahma Purohita dan alam Maha Brahma. "Se Mien Fo" yang juga kita kenal sebagai Maha Brahma Sahampati, dalam bahasa Thailand dikenal sebagai "Phra Phom Sin Nei/ Pah Pong" penguasa dari alam Maha Brahma yang merupakan alam tertinggi dalam alam Pathana Jhana Bhumi dan merupakan penguasa alam semesta. Dewa Brahma dipanggil sebagai "Se Mien Fo" karena kewelas asihannya yang sangat besar kepada seluruh makhluk hidup, bukan hanya kepada manusia tetapi seluruh makhluk yang berwujud dan tidak berwujud sehingga ia yang dari seorang Dewa kemudian mencapai ke-Bodhi-an. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi
JAMBI - 6 Bhiksu dari sangha agung melatih diri menerima pemberian orang (umat),
untuk menjadi seorang bhiksu tidaklah semudah apa yang kita bayangkan, karena para bhiksu mesti mengikuti peraturan-peraturan kedisiplinan yang tidak bisa dilanggar setiap bhiksu.
Pada Minggu (28/10-2018), puluhan umat Buddha kota Jambi sejak pukul 8 pagi di telah berkumpul di halaman Maha Cetiya Oenang Hermawan di Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, walaupun kondisi pagi itu cuaca tidak bersahabat namun mereka tetap berkumpul untuk berdana kepada bhiksu sangha agung.
Para Bhikku dari negara singa putih Thailand membawa patta yang dalam bahasa India adalah Pali, yang berarti mangkuk dengan menyusuri jalan-jalan untuk menerima dharma dari umat berupa makanan, minuman, kebutuhan sehari-hari sepanjang jalan, 6 bhiksu menerima pemberian beragam keperluan dari umat.
Mereka berjalan di aspal yang kasar, berlobang-lobang dan dibawah tidak bersahabat dengan kaki telanjang, namun wajah mereka tetap terlihat begitu sabar terpancar dari para bhikku sepanjang jalan menyusuri jalan-jalan sambil menenteng patta, sedangkan muda-mudi yang berada di sisi kanannya menenteng baskom.
Penganut agama Buddha asal Thailand ini dari Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia ( MBMI ) tengah melakukan pindapatta, yaitu sebuah tradisi bagi umat Buddha untuk melakukan dharma kepada para bhiksu dengan cara memberikan makanan atau obat-obatan yang dimasukan ke dalam patta.
Sampai berita ini diturunkan, pindapattan masih berlangsung di kawasan Pasar Jambi. (Romy)
9月24日(农历八月十五日)座落在占碑Jalan Pangeran Diponegoro, Lorong Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung,(AAA咖啡厂对面)福庆堂“清水祖師”公庙举行庆祝中秋节,邀请印尼占碑省福庆堂孔教会郑连丁学士在农历八月十四日(星期日)晚,主持中秋祭拜仪式,农历八月十五日上午举行朝拜佳节降临,中午举行犒赏内外神军餉、祭拜玄天上帝及观音菩萨等多位神明,祈求国泰民安、化灾解难、康宁永寿、丁财两旺。随后,是余兴节目,由巴淡岛男女歌手现唱,接着聚餐品尝占碑特色的中秋月饼。
JAMBI - Perayaan ulang tahun Kongco Huat Cu Kong di kelenteng Seng To Kheng di kawasan Lingkar Timur, Kelurahan Payo Selintah, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi.
Suasana meriah sejak pagi hari langsung terasa ketika memasuki area Kelenteng Seng To Kheng di kawasan Jalan Lingkar Timur, Kelurahan Payoselincah, Jambi Timur, hari ini (2/9-2018). Ribuan umat berdatangan untuk mengikuti sembahyang bersama memperingati hari ulang tahun (HUT) roh suci Tio Kong Seng Khun “Huat Cu Kong”
Shenren (bahasa mandarin) Tio Kong Seng Khun “Huat Cu Kong” merupakan shenren klenteng itu yang terdiri atas tiga dewa, yakni dewa dengan muka merah, muka hitam, dan muka hijau. “shenren itu merupakan dewa utama yang ada di altar kelenteng itu.”
Prosesi sembahyang Huat Cu Kong tersebut juga dilakukan tiga tahap. Pertama sembahyang dilakukan di altar utama kelenteng yang menghadap Tien (Tuhan), selanjutnya di dalam altar Tio Kong Seng Khun “Huat Cu Kong” dan terakhir sembahyang Kho Kun Ciong (sembahyang untuk para pengawal shenren), kali ini upacara dipimpin The Lien Teng Taoshe.
Tanoto Kusumah, ketua Klenteng Seng To Kheng, menyatakan bahwa perayaan hari ulang tahun Huat Cu Kong, kita meminta kepada para suci (dewa) dapat melindungi negara, katanya.
Tujuan sembahyang, adalah memohon keselamat kepada Tien (Tuhan), “Kita memohon kepada Tuhan agar melindungi bangsa dan tanah air Indonesia dari segala bencana serta masyarakat sejahtera.” Imbuh Tanoto Kusumah diselah melayani tamu yang berdatangan.
Legenda: Sejarah Tio Kong Seng Khun/ Fuat Cu Kong : Tio Kong Seng Khun terdiri dari tiga taoshe/ saikong yang setiap hari mengeliling desa ke desa, mereka keliling untuk memberikan pemberkatan buat masyarakat. Pada suatu hari, mereka tengah melintasi sebuah desa yang sedang kepanikan, karena ada seekor ular raksasa jelmaan dari siluman, ular tersebut setiap tahun meminta korban manusia, apabila warga setempat tidak menyediakan anak laki-laki, maka ular itu akan mengobrak abrik seluruh desa.
Dari pada desa dihancurkan ular siluman, maka warga adakan undian untuk menyediakan anak laki-laki yang bakal dikorbankan buat santapan ular itu. Tiba giliran salah satu warga yang mana sebelumnya telah mengkorbankan anak laki-lakinya, maka warga tersebut tidak rela harus mengkorbankan satu-satunya cucu kesayangannya.
Tiga taoshe/ Saikong yang tiba di desa itu menanyakan apa yang telah menimpah penduduk, sehingga membuat penduduk menjadi ketakutan, maka wargapun mengatakan persoalan mereka kepada ketiga taoshe, oleh ketiga taoshe dianjurkan agar warga menyediakan berbagai sesajian, setelah semua keperluan taoshe telah lengkap, maka taoshe Tio Kong Seng Khun (shenrennya berwarna hitam) yang pertama berusaha menangkap ular siluman itu, ternyata ular itu susah untuk ditaklukan, maka Tio Kong Seng Khun dibantu oleh kedua rekannya yang bernama Siau Kong Seng Khun (shenrennya bewarna hijau) dan Chiong Kong Seng Khun (shenrennya berwarna merah).
Berkat bantuan kedua rekan Tio Kong Seng Khun akhirnya ular siluman dapat ditangkap, namun ular itu melakukan perlawanan dengan cara melilit sekujur tubuh Tio Kong Seng Khun, keduanya berusaha untuk saling mengalahkan, ternyata keduanya meninggal dalam pertempuran, pada saat itu juga Tio Kong Seng Khun dan ular siluman menjadi asap dan terbang ke angkasa, ular itu kini menjadi senjata andalan para taoshe.
Sembahyang dilakukan pukul 09.00-13.00 WIB, dilanjutkan jamuan makan bersama yang dihadiri tokoh-tokoh masyarakat dan pengusaha di Jambi, Jakarta dan Singapure. Tidak ketinggalan tamu-tamu diselingi hiburan karaoke.(Romy)
JAMBI - Masa bakti periode 2015-2018 kepengurusan wilayah Anxi Talang Banjar Jambi telah berakhir. Minggu malam (12/8-2018) dilakukan serah terima jabatan dari pengurus lama 鄭建平先生, 叶聪发先生 kepada pengurus baru 李建順主席, 李开源副主席 dan 李德春副主席 untuk 3 tahun kedepan periode 2018-2021.
Serah terima di aula serbaguna Klenteng Sai Che Tien (獅仔殿) Jambi, Jalan Koni 4, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.
Perkumpulan Aneka Kesejahteraan (ANKE) Jambi (占碑安溪公会)adalah perkumpulan suku Hokkien (福建) terbesar di provinsi Jambi. “Keluarga Hokkian (福建) merupakan suku terbesar di Jambi yang jumlahnya ratusan ribu orang dengan adanya wadah ini selain untuk bersilaturahmi juga untuk saling bertukar pikiran dalam berbagai hal.”
Untuk memberikan pelayanan kepada warga Anxi di Jambi yang tersebar di wilayah Jambi, maka占碑安溪公会 membentuk 14 pengurus ranting (sio co/ 小组).
Lie Kien Sun 李建順先生 mengungkapkan, kedepannya kita harapkan pengurus yang terpilih dapat bekerja sama untuk memberikan pelayanan kepada warga Anxi yang bermukim di wilayah Talang Banjar Jambi. katanya.
Selain menceritakan tentang pelayanan, 李建順先生 juga menceritakan tentang Perkumpulan Anxi Jambi yang merupakan wadah silaturahmi antar masyarakat Hokkien yang berada di provinsi Jambi maupun diluar provinsi Jambi guna mempererat rasa kekeluargaan.
Ketua lama 鄭建平先生 menjelaskan, tentang perkumpulan sio co (小组) wilayah Talang Banjar Jambi bisa lebih baik dari masa baktinya. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi
JAMBI - Minggu, 5 Agustus 2018, Klenteng Tiong Gie Thong Jambi (占碑忠義堂) mengadakan perayaan sejit Kwan Seng Tee Kun 庆祝關聖帝君 yang diikuti ribuan umat, tokoh masyarakat dan pengusaha Jambi. Diantara yang hadir terdiri dari ketua Klenteng Sai Che Tien Jambi Darmadi Tekun, ketua Perkumpulan Marga Lie Jambi Berlianta Eliamsya, Wakil Ketua klenteng Hok Kheng Tong Lie Chie Guan, ketua klenteng Leng Chun Keng Lim Han Mong, ketua Perempuan Khonghucu Jambi Herwai, wakil ketua Perkumpulan Teo Chew Jambi Rozak.
Upacara sembahyang dipimpin oleh The Lien Teng Taoshe dibantu 2 orang asisten.
Selanjutnya pada malam harinya, pengurus klenteng Tiong Gie Thong mengadakan jamuan makan bersama atas suksesnya acara sembahyang perayaan sejit Kwan Seng Tee Kun, acara di hibur oleh penyanyi dari Jakarta, Surabaya dan Kalimantan.
Sebelum perayaan, ketua Tiong Gi Thong Jambi, Wu Jinlai atas nama seluruh dewan pengurus secara khusus menyambut kehadiran para tamu untuk berpartisipasi dalam perayaan itu, “Saya berharap yang terbaik untuk semua tamu.” Mengucapkan rasa syukur dan berdoa bagi masyarakat untuk mendapatkan perlindungan dari Tuhan (Tien), perdamaian dan kemakmuran nagi rakyat negara Indonesia, tidak ada bencana alam, dls.
Guan Gong (Hanzi : 关公, Hokkian : Kwan Kong) atau Guan, yang berarti ‘Paduka Guan’, adalah seorang panglima perang kenamaan yang hidup pada jaman Sam Kok (tahun 221 – 269 Masehi). Nama aslinya adalah Guan Yu (关羽) atau Guan Yun Chang (关云长). Oleh Kaisar Han, Ia diberi gelar Han Shou Ting Hou (漢夀亭侯) yang berarti ‘Marquis dari Han Shou’.
Guan Yu dipuja karena kesetiaan dan kejujuran. Dia adalah lambang teladan sifat ksatria sejati yang selalu menempati janji dan setia pada sumpahnya. Oleh sebab itu Guan Yu banyak dipuja di berbagai kalangan masyarakat, disamping klenteng-klenteng. (Romy)* https://www.facebook.com/makinjambi