Tampilkan postingan dengan label Cetiya Oenang Hermawan Jambi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cetiya Oenang Hermawan Jambi. Tampilkan semua postingan

Senin, November 12, 2018

Memperingati Hari Kelahiran Se Mien Fo

JAMBI – Sejak pukul 07.00 Wib ratusan umat Buddha Jambi, merayakan hari kelahiran Dewa Se Mieng Fo di Maha Cetiya Oenang Hermawan, di Jalan Makalam, No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi (11/11-2018).

Upacara Hari Kelahiran Se Mien Fo (dewa empat wajah) yang dipimpin langsung oleh mama Ai Rin (71) yang sengaja didatangkan dari Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa [Lihat video: Prosesi Memperingati Hari Kelahiran Se Mien Fo].

Mama Ai Rin (nama Thailand Anothai Kamonwathin) adalah pendiri kuil Nam Hai Kwan Se Im, satu-satunya tempat peribatan terlengkap di Indonesia, yang terletak di desa Cibutun RT. 43 RW. 12, Blok Citaringgul Desa Kertajaya/ Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kehadiran Mama Ai Rin atas undangan pengurus Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi untuk memimpin upacara memperingati hari kelahiran Se Mien Fo (dewa empat wajah) yang jatuh pada Minggu, 11 Nopember 2018.

Dalam kepercayaan umat Buddha, Dewa Se Mieng Fo atau yang dikenal dengan Dewa Catur Muka merupakan dewa yang pertama kali lahir di jagad raya. Oleh karna itu, peringatan kelahiran dewa Muka Empat menjadi hal yang sangat istimewa bagi pengikutnya.

Dalam proses memperingati kelahiran Dewa yang dalam bahasa Thailand dikenal dengan nama Maha Brahma ini dilangsungkan dalam prosesi sembahyang. Berbagai sajian pun tertata di altar depan patung Dewa Catur Muka. Seperti berbagai aneka buah-buahan, serta panganan vegetarian.

Prosesi ibadah berlangsung khusyuk. Bagi pengikut Maha Cetya Oenang, ada yang istimewa dalam perayaan kali ini. Pasalnya, prosesi ibadah dipimpin langsung oleh mama Ai Rin. Seorang spiritual asal Thailand yang sudah tidak asing lagi.

Seusai upacara sembahyang Hari Kelahiran Se Mien Fo, semua umat di bressing oleh mama Ai Rin.

Menurut penuturan Ketua Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia ( MBMI ) Provinsi Jambi Darma Pawarta Oenang (Hasan), bahwa, setiap tanggal 15 setiap bulan, Cap Go (Penanggalan Imlek) malam jumat kliwon ada ribuan umat yang datang beribadah, mereka datang dari berbagai peloksok tanah air, “Untuk dapat menghadiri Mama Ai Rin tidaklah semudah yang kita bayangkan!, karena Mama Airin banyak kegiatan di kuil Nam Hai Kwan Se Im dan di undang umat ke daerah lainya.” Ujar Hasan. (Romy)

* https://www.facebook.com/makinjambi

Minggu, November 11, 2018

Mama Ai Rin Mandikan Rupang Se Mien Fo (四面佛像)

JAMBI - Sehari sebelum upacara perayaan Hari Kelahiran Se Mien Fo terlebih dahulu rupang Se Mien Fo/ Dewa empat muka “Phak Phom” dibersihkan. Karena tidak sembarangan orang yang boleh memandikan rupang Se Mien Fo,! Maka sebelum prosesi permandian di mulai, terlebih dahulu, Mama Ai Rin melakukan ritual/ sembahyang di depan altar Phak Phom “Se Mien Fo” untuk meminta ijin dan restu siapa yang akan ditujuk Phak Phom “Se Mien Fo” untuk memandikan rupangnya, bahwa Mama Ai Rin yang langsung lakukan pemandian rupang Se Mien Fo (Dewa empat muka), dibantu oleh dua orang asisten yang dibawa dari kuil Nam Hai Kwan Se Im di Desa Cibutun RT. 43 RW. 12, Blok Citaringgul Desa Kertajaya/ Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat (10/11-2018).

Di dalam catatan sutra Buddha alam Pathana Jhana Bhumi terdapat 3 alam yaitu alam Brahma Parisajja, Brahma Purohita dan alam Maha Brahma. "Se Mien Fo" yang juga kita kenal sebagai Maha Brahma Sahampati, dalam bahasa Thailand dikenal sebagai "Phra Phom Sin Nei/ Pah Pong" penguasa dari alam Maha Brahma yang merupakan alam tertinggi dalam alam Pathana Jhana Bhumi dan merupakan penguasa alam semesta. Dewa Brahma dipanggil sebagai "Se Mien Fo" karena kewelas asihannya yang sangat besar kepada seluruh makhluk hidup, bukan hanya kepada manusia tetapi seluruh makhluk yang berwujud dan tidak berwujud sehingga ia yang dari seorang Dewa kemudian mencapai ke-Bodhi-an. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi

Minggu, Oktober 28, 2018

Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi Adakan Pindapatta

JAMBI - 6 Bhiksu dari sangha agung melatih diri menerima pemberian orang (umat),
untuk menjadi seorang bhiksu tidaklah semudah apa yang kita bayangkan, karena para bhiksu mesti mengikuti peraturan-peraturan kedisiplinan yang tidak bisa dilanggar setiap bhiksu.

Pada Minggu (28/10-2018), puluhan umat Buddha kota Jambi sejak pukul 8 pagi di telah berkumpul di halaman Maha Cetiya Oenang Hermawan di Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, walaupun kondisi pagi itu cuaca tidak bersahabat namun mereka tetap berkumpul untuk berdana kepada bhiksu sangha agung.

Para Bhikku dari negara singa putih Thailand membawa patta yang dalam bahasa India adalah Pali, yang berarti mangkuk dengan menyusuri jalan-jalan untuk menerima dharma dari umat berupa makanan, minuman, kebutuhan sehari-hari sepanjang jalan, 6 bhiksu menerima pemberian beragam keperluan dari umat.

Mereka berjalan di aspal yang kasar, berlobang-lobang dan dibawah tidak bersahabat dengan kaki telanjang, namun wajah mereka tetap terlihat begitu sabar terpancar dari para bhikku sepanjang jalan menyusuri jalan-jalan sambil menenteng patta, sedangkan muda-mudi yang berada di sisi kanannya menenteng baskom.

Penganut agama Buddha asal Thailand ini dari Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia ( MBMI ) tengah melakukan pindapatta, yaitu sebuah tradisi bagi umat Buddha untuk melakukan dharma kepada para bhiksu dengan cara memberikan makanan atau obat-obatan yang dimasukan ke dalam patta.

Sampai berita ini diturunkan, pindapattan masih berlangsung di kawasan Pasar Jambi. (Romy)

Senin, November 13, 2017

Maha Cetiya Oenang Hermawan Memperingati Hari Kelahiran Se Mien Fo


JAMBI - Supranatural mama Airin kembali mengunjungi Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi untuk merayakan hari kelahiran Se Mien Fo (dewa empat wajah).

Sejak pukul 08.00 Wib Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi berlokasi di Jalan Makalam, No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi menggelar upacara Hari Kelahiran Se Mien Fo (dewa empat wajah) yang dipimpin langsung oleh mama Ai Rin (70) yang sengaja didatangkan dari Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa.

Mama Ai Rin (nama Thailand Anothai Kamonwathin) adalah pendiri kuil Nam Hai Kwan Se Im, satu-satunya tempat peribatan terlengkap di Indonesia, yang terletak di desa Cibutun RT. 43 RW. 12, Blok Citaringgul Desa Kertajaya/ Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kehadiran Mama Ai Rin atas undangan pengurus Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi untuk memimpin upacara memperingati hari kelahiran Se Mien Fo (dewa empat wajah) pada Minggu, 12 Nopember 2017.

Berhubung pada hari kelahiran Se Mien Fo (dewa empat wajah), Mama Ai Rin tengah melakukan ritual di kuil Nam Hai Kwan Se Im di lokasi pesisir pantai Pelabuhanratu.

Menurut penuturan ketua Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia (MBMI) provinsi, Jambi Darma Pawarta Oenang (Hasan), setiap tanggal 15 setiap bulan, Cap Go (Penanggalan Imlek) malam jumat kliwon ada ribuan umat yang datang beribadah, mereka datang dari berbagai peloksok tanah air, “Untuk dapat menghadiri Mama Ai Rin tidaklah mudah, karena Mama Airin banyak kegiatan di kuil Nam Hai Kwan Se Im.” Ujar Hasan. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi

Minggu, November 20, 2016

Mama Ai Rin Mandikan Air Suci Ke Umat Di Cetiya Oenang Hermawan Jambi

JAMBI, Ayojambi.com – Hari Minggu merupakan hari istimewa bagi umat Buddha di Kota Jambi, karena mereka mendapatkan pemandian air suci yang sengaja di bawa oleh Mama Airin dari Thailand yang tidak asing lagi, pemandian air suci dilakukan di Maha Cetya Oenang Hermawan dalam perayaan menyambut hari kelahiran Se Mien Fo (四面佛).

Kehadirannya di Maha Cetya Oenang yang berlokasi di Jalan Makalam, Rt 18, No. 10, Kelurahan Cempaka Putih Jelutung pada Minggu (20/11=2016) merupakan kali ke tujuh. Meski tidak asing lagi, namun kehadirannya sudah sangat dinanti-nantikan oleh umat di Jambi [Lihat Gambar: Mama Ai Rin Memimpin Prosesi Blessing].
Mama Ai Rin (nama Thailand Anothai Kamonwathin) adalah pendiri kuil Nam Hai Kwan Se Im, satu-satunya tempat peribatan terlengkap di Indonesia, yang terletak di desa Cibutun RT. 43 RW. 12, Blok Citaringgul Desa Kertajaya/ Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Usai mengikuti sembahyang, mama Ai Rin juga memimpin prosesi blessing atau pemberkatan atau membuka aura bagi umat Jambi. Di mana prosesi ini dilakukan dengan memandikan umat Buddha dengan air suci yang didoakan dengan campuran bunga, air suci itu sengaja di bawa dari Pelabuhan Ratu,

Mandi air suci itu, dipercaya umat Buddha mampu membersihkan diri seseorang. "Termasuk untuk murah rezeki, kerukunan keluarga dan meningkatkan kesehatan," kata Darma Pawarta Oenang (Hasan).

Dijelaskan Hasan, peringatan hari kelahiran Dewa Catur Muka rutin dirayakan setiap tahun yang dipercaya sebagai hari kelahiran sang Dewa. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Senin, Oktober 17, 2016

Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi Rayakan Kathina 2560 BE

JAMBI, Ayojambi.com – Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi menggelar Pindapatta Minggu Pagi (16/10)  tersebut diikuti oleh puluhan umat Buddha di kota Jambi. Mulai pukul 08.30 WIB, umat Buddha kota Jambi sudah berkumpul membentuk barisan tepat dihalaman cetiya yang berada di Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Masing masing mereka memegang bingkisan berupa berbagai kebutuhan pokok Bhikkhu Sangha [Lihat Foto: Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi Rayakan Kathina 2560 BE]
Lalu, Bhikku yang berasal dari Thailand keluar dari Cetiya sambil membawa patta. Umat yang hadirpun lalu memasukkan bingkisan yang mereka bawa ke dalam patta. Ini merupakan merupakan tradisi yang dilakukan oleh Buddha dan murid Buddha
sejak ratusan tahun lalu dan masih bertahan hingga saat ini. 

Pindapatta yang digelar oleh Cetiya Oenang Hermawan kali ini merupakan rangkaian ritual perayaan hari raya Kathina Puja 2560 BE/ 2016, salah satu acara yang digelar adalah pindapatta yang merupakan kegiatan yang selalu dilakukan oleh para Bhikkhu pada hari Kathina. Ini karna menjelang hari Kathina, Bhikkhu Sangha harus melewati masa Vassa selama tiga bulan. Setelah berhasil melalui masa Vassa, barulah para Bhikku melakukan pindapatta yang bertujuan untuk memperoleh jubah baru. Ini merupakan ritual yang selalu dilakukan oleh Bhikku Sangha setiap tahun pada hari Kathina,”ujar Hasan, ketua pengurus Maha Cetiya Oenang Hermawan disela sela
kesibukannya kemarin (16/10-2016).

Umat yang datang bebas untuk memberikan dana. Bisa berupakan berbagai kebutuhan Bhikku seperti jubah, obat obatan, makanan, minuman hingga angpao yang nantinya digunakan oleh Bhikkhu dalam kehidupan sehari hari mereka.

Para Bhikkhu yang hadir sebagian besar telah fasih menggunakan bahasa Indonesia. Ini karna sebagian besar mereka berdiam diri di Vihara-Vihara yang ada di Indonesia. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Bhiksu Pindapatta Keliling Kampung

JAMBI, Ayojambi.com – Hari Minggu yang cerah, puluhan umat Buddha telah berkumpul sejak pukul 8 pagi di Maha Cetiya Oenang Hermawan di Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, mereka berkumpul untuk mengadakan pindapatta menyambut Hari Raya Kathina 2560 BE/ 2016 mereka telah berdatangan sejak pukul 07.00 di Maha Cetiya Oenang Hermawan untuk berdana kepada bhikkhu sangha agung [Lihat Foto: Bhiksu Pindapatta Keliling Kampung].
Para Bhikku Thailand membawa patta yang dalam bahasa India adalah Pali, yang berarti mangkuk dengan menyusuri halaman kampung-kampung untuk menerima dharma berupa makanan, minuman, kebutuhan sehari-hari dari umat di sepanjang jalan, 4 Bhiksu menerima pemberian beragam keperluan dari umat (16/10-2016).

Mereka berjalan di aspal yang kasar, berlobang-lobang dan dibawah teriknya sinar matahari dengan kaki telanjang, namun wajah mereka terlihat sabar terpancar dari para bhikku sepanjang jalan menyusuri jalan-jalan sambil menenteng patta (sejenis mangkok), sedangkan anak muda yang berada di sisi kanannya menenteng baskom.

Penganut agama Buddha asal Thailand ini dari Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia ( MBMI ) tengah melakukan pindapatta, yaitu sebuah tradisi bagi umat Buddha untuk melakukan dharma kepada para bhiksu dengan cara memberikan makanan atau obat-obatan yang dimasukan ke dalam patta.

Sampai berita ini diturunkan, pindapattan masih berlangsung di kawasan Pasar Jambi. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Jumat, Juli 01, 2016

佛教僧人及沙弥在占碑千年佛塔静坐禅修


 
 
2016年6月20日,10多位来自 Manikaya佛教理事会7位僧人,从早至晚上,在占碑千年佛塔 群遗址其中之Candi Tinggi,和Candi Gumpung,举行诵经念佛,,围绕佛寺走一圈,坐禅进修活动.
  占碑的佛塔早在公元664年唐朝就已建设,成为室利威查雅王朝国王祭拜的重地。
  印尼国家历史文物研究中心在1981年开始对其遗址进行调查研究,发现约有80处佛塔遗址被埋于地下,此后陆续对4个遗址进行挖掘,
  显示出这是印尼古代马来王朝在亚洲的一所最大型的佛教学府,占地2612公顷,因为是学府,其建筑格式与日惹的婆罗浮屠完全不同,其中包括了师生的生活区和祭拜区。
  关爱占碑佛塔群学会组织创办人蔡邦胜居士,对占碑佛塔遗址,他做了大量的工作及宣传等活动,并也使佛塔群一带民间的生计激活了起来,此外促使了也海内外的考古专家到这里进行考察等活动.他对弘扬占碑佛塔遗址,功不可没.
本报记者明光报道Romy供图.

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20160701/275570.shtml
* www.ayojambi.com/

Rabu, Juni 22, 2016

Peserta Pabbajja Semanera Melepas Jubah


JAMBI, Ayojambi.com – Setelah menjalani pelatihan yang diberikan Bhikkhu dari Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia (MBMI) yang dipimpin Guru Besar Acara Pabbajja yakni Bhante Upajjaya. Ketua Acara Pabbajja Samanera sementara di Maha Cetiya Oenang Hermawan, Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi dari tanggal 12 sampai 22 Juni 2016 [Lihat ALbum: Samanera Melepas Jubah].
Selama mengikuti latihan para peserta berkewajiban mengikuti peraturan layaknya hidup sebagai seorang Bhikkhu seperti hidup secara mandiri, mulai dari nginap di cetiya/vihara, bangun pagi membersihkan tempat tidur, mandi, makan, cuci piring, cuci pakaian, bersihkan kamar mandi, mengepel lantai cetiya, semua itu mereka lakukan sendiri.

Pada siang tadi (22/6-2016) secara resmi acara Pabbajja Samanera ditutup oleh Bhikkhu Buddha Mahanikaya Indonesia (MBMI) dengan melepasan Jubah Samanera, dengan pelepasan jubah Samanera, maka secara resmi mereka (peserta Pabbajja Samanera) kembali sebagai masyarakat biasa.

Kegiatan Pabbajja Samanera ini untuk pertama kalinya dilaksanakan di Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi diikuti 11 orang peserta, dari usia terkecil 8 tahun dan usia tertua 58 tahun.

Acara berjalan lancar yang diisi dengan puja, kelas, meditasi, bhaakti sosial dan meditasi.

Upacara pelepasan diwarnai dengan kesan-pesan mengenai manfaat-manfaat pabajja serta kesan-kesan dari orangtua maupun wali peserta. ”Sebelum mengikuti Pabbaja Samanera ini, peserta harus mendapat persetujuan keluarga maupun wali dengan catatan peserta berbadan sehat. pasalnya, kehidupan yang dijalani peserta selama 10 hari seperti para Bhikkhu umumnya mulai dari puasa serta meninggalkan semua yang bersifat keduniawian.”

Menurut ibu Alfredick Louis, Suryanti Lo pabbajja adalah kegiatan yang positif untuk membimbing anak agar bisa hidup mandiri dan bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dalam ajaran sang Buddha. Ujar Suryanti Lo. (Romy) * www.ayojambi.com/

Bhikkhu dan Samanera Meditasi di Candi Muaro Jambi

JAMBI, Ayojambi.com – Salah satu agenda pembinaan terhadap Samanera (calon bhikkhu) dari Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi adalah melakukan meditasi. Lokasi meditasi adalah candi bekas tempat pendidikan para Bhikkhu, yaitu itu Candi Muaro Jambi yang terletak di Desa Muara Jambi, Keca¬matan Marosebo, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.
Kompleks Percandian Muara Jambi merupakan percandian peninggalan agama Buddha terluas di Indonesia, dengan luas sekitar 12 kilometer persegi. Candi yang dipercaya sebagai peninggalan budaya abad XI ini pertama kali ditemukan tentara Inggris sekitar 1820. Kawasan percandian Muarojambi ini diperkirakan dulunya merupakan pusat pembelajaran agama Budha di dunia dan juga budaya secara luas, termasuk mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.

Sebelum meditasi di Candi Gumpung, para Bhikkhu dan Samanera melakukan meditasi di Candi Muaro Jambi merupakan tempat suci bagi umat Buddha, Senin, 20 Juni 2016. acara diawali menggeliling Candi Tinggi sambil membaca Parita sebanyak 3 putaran, setelah itu mereka lakukan hal yang sama ditingkat atas.

Selanjutnya para Bhikkhu dan Samanera melakukan meditasi di Candi Gumpung yang tidak jauh dari Candi Tinggi, meditasi dilakukan sampai malam hari.

Candi merupakan tempat pendidikan para Bhikkhu.
Candi Muaro Jambi merupakan buktinya, bahwa istimewa Candi Muaro Jambi. Dahulu kala digunakan sebagai tempat pendidikan Bhikkhu untuk mendalami ajaran Buddha. (Romy)* www.ayojambi.com/

Senin, Juni 20, 2016

Dharmasanti Waisak 2560/TB Diakhiri Pelepasan Lampion Harapan

JAMBI, Ayojambi.com – Puncak perayaan Dharmasanti Waisak 2560 diselenggara oleh Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi yang digelar di Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Minggu (19/6). Acara yang dimulai pukul 18.00 WIB dihadiri ratusan umat Buddha [Lihat Gambar: Dharmasanti Waisak 2560/TB].

Perayaan Dharmasanti, merupakan rangkaian terakhir Hari Waisak, yang diselenggarakan oleh Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi setiap tahunnya.
Menurut panitia, Bahwa kegiatan ini baru kali pertama dilaksanakan di Maha Cetiya Oenang Hermawan bertepatan dengan Pabbajja Samanera (Pelatihan Menjadi Bhikkhu) yang dilaksanakan beberapa waktu lalu.

Selain itu, Minggu (19/6) pagi, 12 Bhikkhu dan 11 Samanera melakukan Pindapatta keliling kota Jambi dengan berjalan kaki sepanjang 4KM. Mereka menjalani salah satu tradisi yang disebut Pindapatta yang didahului oleh para Bhikkhu dengan cara berjalan kaki dengan kepala tertunduk sambil membawa Patta (mangkok makanan) untuk menerima persembahan dana makanan, obat2an, amplop merah berisi uang (angpao) dari umat sepanjang jalan guna menunjang kehidupan mereka.

Seusai mengikuti serangkaian acara Dharmasanti Waisak, umat mengikuti Bhakte (Bhikkhu) untuk melepaskan Lampion Harapan di Langit Kota Jambi. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Minggu, Juni 19, 2016

Pindapatta, Melatih Diri Menghargai Pemberian Orang

JAMBI, Ayojambi.com - Minggu pagi (19/6) ke sebelasan peserta Pabbajja Samanera kembali menjalani ujian berjalan di bawah terik matahari tanpa alas kaki sejauh lebih kurang 4 kilometer, mereka berjalan kaki tanpa mengunakan alas kaki bersamaan dengan para Bhikkhu dari Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia ( MBMI ) Pusat [Lihat Gambar : Cetiya OenangHermawan Jambi Adakan Pindapatta].
Mereka menjalani salah satu tradisi yang disebut Pindapatta yang didahului oleh para Bhikkhu dengan cara berjalan kaki dengan kepala tertunduk sambil membawa Patta (mangkok makanan) untuk menerima persembahan dana makanan, obat2an, amplop merah berisi uang (angpao) dari umat sepanjang jalan guna menunjang kehidupan mereka.

Mereka keluar dari Maha Cetiya Oenang Hermawan dengan berjalan kaki menelusuri jalan HMO Bafadha, simpang Royal, jalan Gajah Mada, jalan Gatot Subroto, jalan Veteran, Dr. Wahidin, terus ke jalan Mr. M. Roem, Dr. Sam Ratulangi, selanjutnya melintasi Raden Matthaher dan kembali ke Maha Cetiya Oenang Hermawan.
Sepanjang jalan umat yang ingin berdana telah menyiapkan dananya yang akan diberikan kepada Bhikkhu dan Samanera. Kemudian dana berupa makanan ,buah-buahan dan lain-lain) dimasukkan kedalam patta para Bhikkhu/ Samanera.

Makanan yang campur aduk itulah yang akan dimakan oleh para Bhikkhu dan Samanera setelah mereka kembali ke cetiya, tanpa merasa jijik atau tidak suka pada makanan yang diberikan oleh umat, bagi seorang Bhikkhu dan Samanera makanan itu hanyalah untuk kelangsungan hidup, bukan untuk kenikmatan.

Darma Pawarta Oenang (Hasan) peserta Pabbajja Samanera, menjelaskan, Pindapatta merupakan tradisi yang telah berlangsung selama ribuan tahun silam. Pada hari tertentu, para Bhikkhu melatih diri dengan cara menjalani kehidupan sehari-hari secara sederhana, belajar menghargai pemberian orang lain, menyadari bahwa hidup ini adalah bergantung satu sama lain. Mereka juga melatih kesadaran serta merenungkan fungsi utama makan adalah untuk memenuhi kebutuhan jasmani, bukan mencari kenikmatan dunia. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Rabu, Juni 15, 2016

Cetiya Oenang Hermawan Jambi Adakan Pabbajja Samanera

JAMBI, Ayojambi.com – Untuk kali pertama Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi mengadakan “Pabbajja Samanera” yeng lebih dikenal dengan sebutan Melatih Diri Menjadi Bhikkhu dari tanggal 12 sampai 22 Juni 2016, di Maha Cetiya Oenang Hermawan, Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Pabbajja (Penahbisan) Samanera (calon Bhikkhu) 沙彌和尚 diikuti puluhan umat Buddha di Jambi [Lihat Foto : Pabbajja Samanera].
Satu per satu peserta calon Samanera harus merelakan rambut mereka dipotong (plonco), dan mereka berkewajiban untuk mengikuti segala peraturan yang sehari-hari dilakukan oleh senior mereka (Bhikkhu). Pemotongan rambut diawali dari pihak keluarga secara simbolis, stelah itu baru di plonco oleh para Bhikkhu.

Ada sebelas Bhikkhu dari Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia ( MBMI ) yang dipimpin oleh Phramaha Bhodiwongsa Jarn (Ratcha Pandit Thailand)
Ketua Acara Pabbajja Samanera sementara di Maha Cetiya Oenang Hermawan yang diadakan pada tanggal 11 sampai 22 Juni 2016. Yang khusus untuk pencukuran rambut para calon Samanera, mereka terlihat sangat berhati-hati saat pencukuran berlangsung. Para peserta tampak sangat menikmati acara tersebut. Untuk diketahui, samanera adalah posisi atau tingkat yang harus dilalui sebelum seseorang menjadi Bhikkhu. Samanera merupakan panggilan untuk laki-laki. “ namun kedudukannya sama, yaitu harus mengikuti sila-sila yang diajarkan oleh sang Buddha.”

Selama mengikuti latihan para peserta berkewajiban mengikuti peraturan layaknya hidup sebagai seorang Bhikkhu seperti hidup secara mandiri, mulai dari nginap di cetiya/vihara, bangun pagi membersihkan tempat tidur, mandi, makan, cuci piring, cuci pakaian, semua itu mereka lakukan sendiri.

Peserta Pabbajja Samanera tertua adalah Ketua Maha Cetiya Oenang Hermawan, Darma Pawarta Oenang (温福山) 58 tahun dan yang termuda adalah Alfredick Louis 8 tahun. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Minggu, Juni 05, 2016

Keluarga Besar Cetiya Oenang Hermawan Gelar Jalan Santai Keluarga Sehat

JAMBI, Ayojambi.com – Dalam rangka memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak 2560BE/ 2016 Keluarga Besar Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi mengadakan Gerak Jalan Santai (5/6-2016) [Lihat Gambar: Gerak Jalan Santai].

Gerak jalan santai dilepas oleh Pembimas Agama Buddha Kementerian Agama Provinsi Jambi, peserta terdiri dari puluhan umat Buddha Provinsi Jambi, dengan rute start dari halaman Cetiya Oenang Hermawan, jalan Makalan No. 10 Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi melintasi jalan Gatot Subroto, terus ke Raden Mattaher, Husni Thamrin, jembatan Makalam terus melintasi jalan HMO Bafadha dan kembali ke Cetiya Oenang Hermawan Jambi.

Dalam sambutannya baik Pembimas Buddha sangat mengapresiasi kegiatan ini serta mengharapkan agar kedepannya dapat selalu dilaksanakan serta ditingkatkan tentunya untuk selalu menumbuhkan kebersamaan dan kerukunan serta menumbuhkan budaya hidup sehat. Gerak jalan santai keluarga sehat ini diakhiri dengan pembagian berbagai doorprise dari panitia (MultiMedia).

Minggu, November 16, 2014

Tempat Ibadah “Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa”

Keberadaan tempat ibadah “Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa”, satu-satunya tempat peribatan terlengkap di Indonesia, yang berlokasi di Kampung Cibutun RT. 43 RW. 12, Blok Citaringgul Desa Kertajaya/Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi Jabar.
Tempat ibadah tersebut dibangun oleh seseorang kebangsaan Thailand bernama Anothai Kamonwathin, yang kini telah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) selama 35 Tahun lalu dengan nama kebesarannya yaitu Mama “Ai Rin” (67 tahun).

Mama Airin merupakan satu-satunya penggagas pendirian pembangunan tempat ibadah yang diberi nama Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa, tempat ibadah tersebut didirikan pada tanggal 08 Agustus Tahun 2000.

Tempat ibadah Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa selain dikenal tempat ibadah juga di kenal sebagai "Kawasan Wisata Pantai Pelabuhanratu”, yang strategis dengan suasana laut lepas dan panorama sangat indah, tenteram, dan nyaman, membuat para pengunjung betah sambil refreshing melapas lelah bersama keluarga untuk menghilangkan kejenuhan dalam aktifitas keseharian bekerja. Tempat Mama AI Rin tersebut yang berbukit dan memiliki tangga ratusan tahapan menuju puncak  “Padepokan Ibu Ratu Pantai Laut Selatan”.

Berdasarkan paparan tersebut di atas, menurut Mama Airin setiap tanggal 15 setiap bulan, Cap Go (Penanggalan Imlek) malam jumat kliwon ramai dikunjungi umat yang sengaja datang dari berbagai daerah maupun manca negara. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi Memperingati Hari Kelahiran Se Mien Fo

JAMBI, ayojambi.com – Sejak pukul 07.00 Wib Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi berlokasi di Jalan Makalam, No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi menggelar upacara Hari Kelahiran Se Mien Fo (dewa empat wajah) yang dipimpin langsung oleh mama Ai Rin (67) yang sengaja didatangkan dari Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa [Lihat foto: Prosesi Memperingati Hari Kelahiran Se Mien Fo].
Mama Ai Rin (nama Thailand Anothai Kamonwathin) adalah pendiri kuil Nam Hai Kwan Se Im, satu-satunya tempat peribatan terlengkap di Indonesia, yang terletak di desa Cibutun RT. 43 RW. 12, Blok Citaringgul Desa Kertajaya/ Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Kehadiran Mama Ai Rin atas undangan pengurus Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi untuk memimpin upacara memperingati hari kelahiran Se Mien Fo (dewa empat wajah) yang jatuh pada Minggu, 9 Nopember 2014.

Berhubung pada hari kelahiran Se Mien Fo (dewa empat wajah), Mama Ai Rin tengah melakukan ritual di kuil Nam Hai Kwan Se Im di lokasi pesisir pantai Pelabuhanratu.

Menurut penuturan Darma Pawarta Oenang (Hasan), selaku ketua Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi, setiap tanggal 15 setiap bulan, Cap Go (Penanggalan Imlek) malam jumat kliwon ada ribuan umat yang datang beribadah, mereka datang dari berbagai peloksok tanah air, “Untuk dapat menghadiri Mama Ai Rin tidaklah mudah, karena Mama Airin banyak kegiatan di kuil Nam Hai Kwan Se Im.” Ujar Hasan. (Romy)

Sabtu, November 15, 2014

Mama Ai Rin Mandikan Rupang Se Mien Fo (四面佛)

JAMBI, ayojambi.com – Sebelum upacara memperingati Hari Kelahiran Se Mien Fo (四面佛) terlebih dahulu rupang Se Mien Fo/ Dewa Empat Muka “Phak Phom”. Tidak sembarangan orang yang boleh memandikan rupang Se Mien Fo,! Maka sebelum prosesi permandian di mulai, terlebih dahulu, Mama Ai Rin melakukan sembahyang di depan altar Phak Phom “Se Mien Fo” untuk meminta ijin dan restu siapa yang akan ditujuk Phak Phom “Se Mien Fo” untuk memandikan rupangnya, ternyata Mama Ai Rin mendapatkan bisikan gaib, bahwa Mama Ai Rin yang mesti mandikan rupang Se Mien Fo langsung [Lihat foto: Mandi Rupang Se Mien Fo], lantaran yang lain dianggap Se Mien Fo belum bersih dirinya “Setiap orang/ umat yang hendak memandikan rupang Se Mien Fo (Dewa empat muka) terlebih dahulu wajib membersihkan diri dari segala makanan bernyawa, tidak boleh melakukan hubungan suami istri.
Di dalam catatan sutra Buddha alam Pathana Jhana Bhumi terdapat 3 alam yaitu alam Brahma Parisajja, Brahma Purohita dan alam Maha Brahma. "" Se Mien Fo "" yang juga kita kenal sebagai Maha Brahma Sahampati, dalam bahasa Thailand dikenal sebagai "Phra Phom Sin Nei/Pah Pong" penguasa dari alam Maha Brahma yang merupakan alam tertinggi dalam alam Pathana Jhana Bhumi dan merupakan penguasa alam semesta. Dewa Brahma dipanggil sebagai "Se Mien Fo" karena kewelas asihannya yang sangat besar kepada seluruh makhluk hidup, bukan hanya kepada manusia tetapi seluruh makhluk yang berwujud dan tidak berwujud sehingga ia yang dari seorang Dewa kemudian mencapai ke-Bodhi-an.

Phra Phom "Se Mien Fo" memiliki kesaktian yang tidak terbatas, keistimewaan dari Phra Phom ialah menawarkan pertolongan kepada orang yang dengan tulus bersujud dan berdoa kepada-Nya dari seluruh arah serta keyakinan penuh, dan Dia akan dengan senang hati mengabulkan permintaan mereka sehingga terlihat semua hal yang dilakukan manusia adalah adil dan bijaksana.

Phra Phom memiliki empat muka yang melambangkan empat masa penciptaan, delapan telinga yang welas kasih mendengarkan doa dari seluruh makhluk hidup.

Hari Ulang Tahun ”Se Mien Fo” diadakan pada tanggal 09 November setiap tahunnya. Dan ini merupakan hari kelahiran Phak Phom yang sangat dikeramatkan. Berbagai sesajen yang perlu disediakan, adalah :

Bunga 7 warna, Bi Phang, Kacang Potong, Kelapa Muda yang kedua ujungnya sudah dikupas, Air Putih dan Tebu yang masih utuh. Ember yang berisi air kelapa muda dicampur dengan susu bubuk (air kelapa adalah air yang murni dari buah-buahan) serta handuk baru dan gayung yang baru.

Untuk beberapa sesajian diatas merupakan sesajian yang penting dalam upacara besar hari kelahiran ”Se Mien Fo” selebihnya jika hendak mempersembahkan sesajian lain juga boleh, misalnya patung – patung gajah, buah – buahan seperti nenas, apel, pear, jeruk, pepaya Bangkok, dan sebagainya.

Seusai dimandikan rupang Se Mien Fo (Dewa empat muka) di lappakai handuk bersih terus di hiasi bunga-bunga yang diuntai khusus didatangkan dari Thailand (Romy)
* www.ayojambi.com/

Jumat, November 14, 2014

Hari Kelahiran Se Mien Fo Dihadiri Mama Airin Dari Pantai Pelabuhan Ratu

JAMBI, ayojambi.com - Supranatural mama Airin kembali mengunjungi Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi untuk merayakan hari kelahiran Se Mien Fo (dewa empat wajah).
Mama Airin (nama Thailand Anothai Kamonwathin) adalah pendiri kuil Nam Hai Kwan Se Im, satu-satunya tempat peribatan terlengkap di Indonesia, yang terletak di desa Cibutun RT. 43 RW. 12, Blok Citaringgul Desa Kertajaya/ Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Mama Airin adalah seorang berkebangsaan Thailand bernama Anothai Kamonwathin, yang kini telah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dengan nama kebesarannya yaitu Ibu atau Mama “Airin”.

Kehadiran Mama Airin atas undangan pengurus Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi untuk memimpin upacara memperingati hari kelahiran Se Mien Fo (dewa empat wajah) yang jatuh pada Minggu, 9 Nopember 2014.

Berhubung pada hari kelahiran Se Mien Fo (dewa empat wajah), Mama Airin tengah melakukan ritual di kuil Nam Hai Kwan Se Im di lokasi pesisir pantai Pelabuhanratu.

Menurut penuturan Darma Pawarta Oenang (Hasan), selaku ketua Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi, setiap tanggal 15 setiap bulan, Cap Go (Penanggalan Imlek) malam jumat kliwon ada ribuan umat yang datang beribadah, mereka datang dari berbagai peloksok tanah air, “Untuk dapat menghadiri Mama Airin tidaklah mudah, karena Mama Airin banyak kegiatan di kuil Nam Hai Kwan Se Im.” Ujar Hasan.

Tambah Hasan, jika tidak ada halangan, besok pagi jam 9, Mama Airin akan lakukan pemandian rupang Se Mien Fo (dewa empat wajah). (Romy) 
* www.ayojambi.com/

Minggu, Oktober 26, 2014

Bhiksu Thailand Jalan Kaki Keliling Kampung

JAMBI, ayojambi.com – Sejak pagi hari, puluhan umat yang berbaris di halaman Maha Cetiya Oenang Hermawan di Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, mereka telah berdatangan sejak pukul 07.00 di Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi untuk berdana kepada bhikkhu sangha agung [Lihat Foto: Bhiksu Thailand Jalan Kaki Keliling Kampung].
Para Bhikku Thailand membawa patta yang dalam bahasa Pali (India,red) berarti mangkuk, menyusuri halaman kampung-kampung untuk mendapat dharma berupa makanan, minuman, kebutuhan sehari-hari dari umat. Di sepanjang jalan, 9 Bhiksu menerima pemberian ragam keperluan dari umat (26/10).

Mereka berjalan di aspal yang kasar, berlobang-lobang dan dibawah teriknya sinar matahari dengan kaki telanjang, namun terlihat wajah sabar terpancar dari para bhikku berjalan menyusur jalan sambil menenteng patta (sejenis mangkok), sedangkan anak muda yang berada di sisi kanannya menenteng kotak kardus.

Penganut agama Buddha asal Thailand ini sedang melakukan pindapatta, yaitu sebuah tradisi bagi umat Buddha untuk melakukan dharma kepada para bhiksu dengan cara memberikan makanan atau obat-obatan yang dimasukan ke dalam patta.

Di sepanjang jalan yang dilalui para bhikku tersebut, umat Buddha yang mengetahui segera menyiapkan makanan dan uang untuk berdharma. Seperti di Pasar Hongkong, pagi itu umat yang tahu segera berbaris di pinggir untuk menunggu lewatnya rombongan.

Dalam penjelasannya Ketua Maha Cetiya Oenang Hermawan, Darma Pawarta Oenang (Hasan) mengatakan bahwa untuk berdharma sebaiknya memberikan makanan dan kebutuhan sehari-hari. Hidup bhiksu di sokong dari umat, di sana terdapat catu pacaya atau empat kebutuhan yang harus disokong yaitu, jubah, makanan, obat, serta tempat tinggal." jelasnya.

Sedangkan di negara Thailand terdapat ribuan umat Buddha yang melakukan tradisi itu sejak lama. Di sana bhikku hidup tergantung dari dharmanya umat. Pindapatta yang dilakukan pagi tadi menempuh rute dari Maha Cetiya Oenang Hermawan di Kampung Manggis mengitari Madura menuju Jalan Kamboja, tembus ke Jalan Ekri, Lorong Gerobak, simpang empat Jelutung, Jalan Koni empat (depan pabrik kopi AAA) lalu menuju ke Budiman, Gang Lama, Lorong Duren, Pasar Baru, Lorong Mngga, Lorong Kuningan terus ke Tanjung Pinang, selanjutnya ke Rajawali, tembus ke Rumkit DKT, simpang Sado, terus ke Jalan Gatsu (Gatot Subroto) dan kembali ke Cetiya.

Sampai berita ini diturunkan, pindapattan masih berlangsung di kawasan Talang Banjar Jambi. (Romy)
* www.ayojambi.com/