Tampilkan postingan dengan label Banjir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Banjir. Tampilkan semua postingan

Minggu, November 08, 2015

Drainase tak Berfungsi, Rumah Warga jadi Kebanjiran

Foto : Istimewa
Berharap hujan turun untuk menghilangkan penderitaan akibat kabut asap malah menjadi bencana baru. Sejak beberapa hari ini hujan mengguyur di sejumlah wilayah yang mengakibatkan beberapa rumah warga tergenang.
Pantauan di Kecamatan Kota Baru, Jumat (6/11) sekitar pukul 10.00, beberapa wilayah kebanjiran akibat hujan deras. Ini disebabkan tidak berfungsinya drainase sehingga air meluap ke rumah warga. Drainase tak berfungsi karena tersumbat sampah. "Setiap tahun daerah kami terus menjadi langganan banjir. Makanya kalau hujan lebat sebentar saja pasti banjir," ujar Irhan, Ketua RT 13 Kecamatan Kota Baru.

Ia mengatakan, tak sedikit beberapa warga mengungsi ke tempat keluarga mereka akibat rumah mereka kebanjiran. "Kalau sudah banjir pasti mengosongkan rumah, langsung ngungsi," ucap Irhan.

"Masalah kita ini kondisi drainase tidak mampu nampung debit dari jalan atas depan SPBU itu. Kalau dari atas ngalirnya besar ya pasti banjir. Kemudian sampe sekarang solusi dari pihak PU belum ada, padahal sudah berapa kali mereka lakukan pemantauan, tapi tidak diperbaiki," ungkapnya.

Camat Kota Baru, Feriadi mengatakan musibah banjir setiap tahun menjadi langganan bagi warganya di Kecamatan Kota Baru. "Banjir sekarang sama seperti tahun lalu, hujan tidak seberapa tapi dampaknya besar. Memang banjirnyo tidak lamo, tapi lumayan jugo biso sampe warga mengungsi," terangnya.

Menurutnya wilayah yang sering terancam banjir di Bagan Pete, Arwana, Pagar Drum dan beberapa titik di Paal 5. "Wilayah itu sangat rentan banjir. Sama halnya daerah di pinggiran anak sungai Kenali, kalau sudah meluap habis rumah warga," ungkapnya.

Penyebab banjir akibat parit yang sudah tidak mampu lagi menampung aliran air hujan yang besar. Untuk antisipasi banjir terus merugikan warganya, ia pun intruksikan kepada Lurah untuk mengimbau warga bergotong royong bersihkan drainase tersumbat.

"Imbauan kepada masyarakat adalah bagaimana mereka bisa lebih sadar diri dengan sampah. Karena sampah ini sangat besar berpengaruh menahan air di parit-parit itu. Untuk antisipasi barang elektronik diamankan, karena bahaya kalau kena air," katanya. (Kur)

http://jambi.tribunnews.com/2015/11/07/drainase-tak-berfungsi-rumah-warga-jadi-kebanjiran/
* www.ayojambi.com/

Jumat, Maret 01, 2013

Matakin Jambi Suplay Bantuan Korban Banjir Di Danau Sipin

JAMBI - Soridalitas umat Khonghucu melalui Majelis Tingga Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota Jambi menyampaikan bantuan sosial kepada warga Danau Sipin yang tempat tinggalnya terkena dampak banjir.
Banjir yang masih merendam sebagian tempat tinggal warga di Kota Jambi, sejak beberapa pekan lalu sudah mulai surut, tingginya air tidak separah kemarin-kemarin. Dari dampak banjir di Kota Jambi ini mambuat ribuan masyarakat Kota Jambi terpaksa harus mengungsi ke posko yang disediakan oleh pemerintah setempat maupun pihak swasta, saat ini mereka sudah kembali kerumah masing-masing seperti warga dikawasan Danau Sipin.

Bencana banjir yang merendam sebagian rumah warga di Kota Jambi ini, membuat Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota merasa perlu melakukan bakti sosial melalui Kelenteng Makin Po Seng Tai Te yang dikenal kelenteng “Hua Liong Kiong”. Hua Liong Kiong adalah salah satu tempat ibadah umat Khonghucu tertua yang terletak di Rt. 23, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, Kelenteng yang didirikan sejak tahun 1904, hingga kini masih berdiri kokoh.

Bantuan akan disalurkan di Kelenteng Makin Po Sheng Tai Te yang dikenal "Hua Liong Kiong ". di Rt. 23, 39 dan 40, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, bantuan disalurkan melalui salah Makin di Danau Sipin, di Kelenteng Makin Po Sheng Tai Te bantuan itu dibagikan kepada warga yang mengalami musibah banjir.

Penyaluran bantuan langsung Matakin Jambi melalui jalur darat menuju Kelenteng Po Sheng Tai Te. terus bantuan ini langsung diserahkan oleh ketua Matakin Jambi, Darman Wijaya didampingi para pengurus Matakin Jambi dan kota kepada warga setempat disaksikan oleh ketua Rt setempat.

Menurut Ketua Matakin Provinsi Jambi, Darman Wijaya, bantuan ini merupakan solidalitas umat Khonghucu di Jambi, “Walaupun sedikit terlambat dalam menyalurkan bantuan ini, berhubung beberapa hari lalu Matakin dan Makin di Jambi banyak kegiatan yang tidak bisa ditunda,” maka pada hari ini bantuan baru bisa serahkan kepada warga yang sangat membutuhkan bantuan tersebut. (Romy)

Matakin Jambi Bantu Korban Banjir di Danau Sipin

JAMBI – Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota, menyalurkan bantuan langsung kepada 235 Kepala Keluarga (KK) di Rt 24,39 dan 40, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, berupa air mie instant. Sebanyak 235 Kepala Keluarga (KK), Jumat (1/3) pagi.
Beberapa waktu yang lalu para pengurus inti Matakin Jambi dan Kota melakukan tinjauan langsung ke lokasi banjir (25/2) sambil mendata jumlah korban banjir di Danau Sipin.

Darman Wijaya selaku ketua Majelis Tingga Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi mengatakan pihaknya memberi bantuan dengan hati ikhlas dan tidak ada unsur politis. ”Ini sebagai bentuk rasa kepedulian umat Khonghucu di desa ini, masing-masing keluarga mendapatkan satu dus mie instan,” ujar Darman Wijaya yang didampingi pengurus Matakin Jambi dan Kota.

Tambah Darman Wijaya, kami harapkan bantuan ini dapat meringankan korban banjir yang selama ini rumahnya kebanjiran, sehingga warga tidak bisa melakukan aktifitas untuk mencari nafkah. Walau kecil tapi seluruh warga dapat menikmatinya,” jelasnya dihadapan sejumlah wartawan yang ikut rombongan. (Romy)

Selasa, Februari 26, 2013

Pengurus Matakin Jambi Mengunjungi Lokasi Banjir

Banjir masih merendam Kota Jambi. Banjir yang terjadi sejak beberapa hari terakhir ini tampak mulai ada tanda-tanda surut, bahkan tinggi tidak separah kemarin.
Sebelum nya ribuan masyarakat Kota Jambi mengungsi ke posko yang disediakan oleh pemerintah, kini mereka telah kembali kerumah masing-masing seperti dikawasan Danau Sipin.

Bencana banjir yang merendam sebagian Kota Jambi ini, membuat Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota melakukan kunjungan ke kelenteng Hua Liong Kiong yang dikenal shen ming utama “Po Seng Tai Te”. Hua Liong Kiong adalah salah satu tempat ibadah Khonghucu tertua yang terletak di Rt. 03, Kelurahan Legok, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi, Kelenteng yang didirikan sejak tahun 1904, hingga kini masih berdiri kokoh.

Akibat banjir, membuat para petinggi umat Khonghucu di Provinsi Jambi dan Kota Jambi melakukan kunjungan ke kelenteng tua yang ada di danau sipin, adapun pengurus Matakin Jambi yang ikut dalam rombongan, terdiri dari Ketua Matakin Jambi, Darman Wijaya, wakil ketua Matakin, Alex Sujanto, Wakil Ketua Bidang Sosial dan Humas, Berlianta Eliamsya (Lie Tjin Hai), dan Ketua Matakin Kota Jambi, Darmadi Tekun didampingi wakil ketua Matakin Kota, Huwanda Desswandhy.

Menurut Darman Wijaya selaku ketua Matakin di Provinsi Jambi, sudah sewajarnya melakukan peninjauan terhadap rumah ibadah umat Khonghucu di Jambi, sebagai bentuk solidaritas antar warga yang ada dilingkungan kelenteng Hua Liong Kiong (Romy)

Sabtu, Februari 16, 2013

Manfaat Banjir Menangkul Ikan Di Sungai

Tuhan Maha Adil, mengirimkan banjir besar selama beberapa minggu kepada masyarakat Jambi, Tuhan juga memberikan Nikmat-Nya dari banjir tersebut. Nikmat tersebut dimanfaatkan masyarakat yang tinggal dipinggiran sungai yakni, banyaknya ikan yang bisa mereka tangkap.
Sungai Batanghari merupakan sungai terpanjang dan terbesar di pulau sumatera. Dengan keberadaan sungai ini terkadang memberikan ancaman bagi masyarakat ribuan masyarakat yang tinggal disekitar bantaran sungai. Namun, ancaman itu, banyak nikmatnya yang diperoleh masyarakat dari banjir itu.

Satu di antara ancaman yang ditimbulkan Sungai Batanghari adalah banjir yang melanda pada awal Desember 2012 hingga minggu kedua Februari 2013. Tujuh dari delapan kecamatan di Batanghari tergenang dengan naiknya permukaan air. Beberapa fasilitas umum terendam. Bahkan banyak kebun warga yang terendam dan gagal panen karenanya.

Menangkul merupakan metoda menangkap ikan dengan jala kecil yang dibuat berbentuk alat mekanis tradisional. Sehingga tangkul cukup mudah digunakan seorang diri. Model dan ukuran tangkul juga beragam. Ada yang persegi, ada juga yang panjang. Kalau persegi menggunakan tuas tangkai bambu dan tuas pengungkitnya. Sementara yang bentuknya panjang hanya digunakan menggunakan kedua tangan.

"Setiap menurunkan tangkul saja sudah bisa mendapatkan ikan terkadang 1 ons sampai 3 ons."

Begitu mudahnya menangkap ikan menggunakan tangkul di musim air surut ini, setiap menurunkan tangkul, tidak sampai  semenit, ikan sudah bisa ditangkul. Begitulah masyarakat dan nelayan yang sibuk menangkul dipinggir sungai atau dialiran air sisa banjir. (Romy)

Sabtu, Januari 19, 2013

Banjir Hingga 2 Meter, 700 Orang Dievakuasi di Pluit

JAKARTA, KOMPAS.com - Banjir merendam kawasan Jakarta Utara, Sabtu (19/1/2013), mulai dari 40 cm hingga dua meter. Sejumlah kawasan yang teredam banjir tercatat di Waduk Pluit, Pluit Permai, Pluit Murni, Pantai Mutiara, PLTU Muara Karang, kawasan Penjaringan, Muara Baru, hingga Teluk Gong. Di daerah tersebut sejumlah akses tranportasi lumpuh.
"Hari ini kita turunkan personil 150 orang, dan 10 perahu karet. Evakuasi sampai siang ini masih berjalan. Masih banyak warga yang perlu dievakuasi," ujar Prabandya Operasi Kostrad Mayor Infantri M. Asmi di lokasi, Sabtu.

Asmi menerangkan, hingga siang ini sudah lebih dari 700 warga yang dievakuasi. Sebelumnya para warga bertahan di lantai dua rumah mereka. Salah seorang warga yang tinggal di Apartemen Laguna, Pluit, mengaku baru mengungsi hari ini. Menurutnya ketinggian air meningkat sejak semalam

"Banjir di sini semalam naik. Tempat lain pada surut, kok kita malah naik. Jadi baru banyak yang ngungsi tadi pagi," ujar Yanti.

Di depan Apartemen tersebut, terang Yanti ketinggian air mencapai dada orang dewasa. Warga pun kini hilir mudik di sekitar Emporium Pluit Mal yang tidak terendam banjir. Warga hingga saat ini masih membutuhkan perahu karet.

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/01/19/15070613/

Selasa, November 06, 2012

Cara Unik Jokowi Pimpin Simulasi Banjir

JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memiliki cara tersendiri dan unik dalam menggelar apel atau pengarahan gubernur. Kesan formal tidak tampak terlihat. Justru yang muncul kesan komunikatif dan santai.
Hal ini tampak apel siaga banjir yang digelar di Monas pada Selasa (6/11/2012) pagi. Jokowi dengan gayanya yang santai, langsung menginstruksikan peserta apel untuk menggelar simulasi daripada harus panjang lebar mendengarkan instruksi yang memakan waktu berjam-jam.

Dalam Apel tersebut, Jokowi meminta beberapa personel dari Tim Reaksi Cepat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Perusahaan Listrik Negara (PLN), Perusahaan Daerah Air Minun (PDAM) Jaya, Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) melakukan simulasi penanganan banjir dan evakuasi korban banjir.

Hanya tujuh menit Jokowi menyampaikan arahan. Setelah itu, dia meminta empat personel tim reaksi cepat Satpol PP untuk maju ke depan melakukan evakuasi korban banjir.

"Saya mau minta tim reaksi cepat Satpol PP empat orang ke depan. Nanti kalau ada banjir larinya secepat sekarang ini ya," kata Jokowi kepada petugas Satpol PP itu. Kemudian, Jokowi langsung memimpin roleplay tersebut.

"Ayo coba, kalau ada banjir di Bukit Duri, kemudian ada korban pingsan di pinggir kali. Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Jokowi kepada empat petugas Satpol PP tersebut.

Kemudian, keempat petugas Satpol PP itu melakukan pertolongan pertama kepada salah satu petugas kebersihan Monas yang berakting menjadi korban banjir Bukit Duri. Setelah itu, korban banjir itu diangkat oleh keempat petugas itu dan ditidurkan di atas trotoar.

Setelah puas 'bermain-main' dengan Satpol PP, Jokowi kemudian meminta dua petugas dari PLN dan dua petugas PDAM Jaya untuk maju ke depan menghadapnya. Dia juga menanyakan apa yang dilakukan PLN dan PDAM Jaya bila terjadi banjir di Kampung Melayu.

"Coba PLN dan PDAM, kalau ada banjir di Kampung Melayu, apa yang akan dilakukan PLN?" tanya Jokowi kepada petugas PLN.

Petugas PLN itu pun kemudian memperagakan dengan berbicara di HT.

"Itu kamu ngapain itu?" tanya Jokowi kepada petugas PLN.

"Sedang di-calling ke wilayah untuk matikan aliran listrik," jawab petugas PLN.

"Kalau digantikan ada ganti gensetnya tidak?" tanya Jokowi.

"Ada gardu bergeraknya, Pak," jawab petugas PLN.

Selanjutnya, Jokowi bertanya kepada petugas PDAM terkait response time PDAM.

"Kalau PDAM apa yang dilakukan kalau banjir? Langsung bawa air atau koordinasi? Berapa menit air datang ke lokasi?" tanya Jokowi.

Petugas PDAM itu menjawab, response time mereka tiba di lokasi adalah sekitar tiga puluh menit. Jokowi pun meyakini PDAM kembali dengan nada sedikit mengancam, namun santai.

"Setengah jam? Bener ya, saya cek betul setengah jam. Saya catet ini. Setengah jam harus sampai di lokasi. Saya catet lho, hati-hati lho ya," kata Jokowi.

Setelah itu, giliran personel Tagana dan Dinas PU DKI dipanggil ke hadapannya. Pertanyaan yang sama pun dilontarkan oleh Jokowi kepada keempat petugas DPU DKI.

"Bagaimana kalau ada banjir?" tanya Jokowi.

"Evaluasi dan mencatat informasi," kata petugas Tagana itu.

Kemudian, Jokowi bertanya kepada Dinas PU DKI dengan pertanyaan yang sama dengan sebelumnya. "Apa yang akan dilakukan saat banjir?" tanya Jokowi.

Petugas Dinas PU DKI menjawab akan melakukan koordinasi. Mendengar jawaban itu, Jokowi terdiam sebentar. Ia pun mengatakan, apabila banjir, petugas itu harus langsung bergerak jangan hanya sekadar mengumpulkan informasi.

"Kalau banjirnya datang tidak usah mengumpulkan informasi. Langsung saja bergerak cepat apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Koordinasi nanti kalau akan memberikan arahan apa yang dibutuhkan. Nanti kalau saya tanya lagi, jangan dijawab koordinasi lagi lho ya," kata Jokowi.

Kemudian, petugas Dinas PU DKI langsung menjawab akan menyediakan pompa.

"Nah, itu jawaban yang dari tadi saya tunggu-tunggu," kata Jokowi yang disambut tawa peserta apel.

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/11/06/21182425/

Selasa, Desember 28, 2010

Pemkot Jambi Tak Serius Tangani Banjir

JAMBI, KOMPAS.com - Kalangan DPRD Kota Jambi menilai Pemerintah Kota Jambi tak serius menangani persoalan banjir di daerah tersebut.
Ditemui di Jambi, Senin (27/12/2010) Wakil Ketua DPRD Kota Jambi RA Suwandi mengatakan, kondisi banjir di Kota Jambi semakin hari semakin parah.
Padahal, lima tahun sebelumnya, Kota Jambi jarang sekali atau bahkan tidak pernah mengalami banjir.

"Sekarang, baru hujan semalam saja, banjir sudah menggenang dimana-mana," ujarnya.
Menurut dia, banjir saat ini sangat sering terjadi. Dalam satu tahun bisa lebih dari tiga kali bencana banjir terjadi.

Bahkan di beberapa titik lokasi banjir menggenang sampai ketinggian satu meter lebih.
Lebih lanjut ia mengatakan, banjir di Kota Jambi lebih disebabkan sistem drainase yang amburadul.

Pemkot Jambi melalui Dinas Tata Kota sebagai instansi terkait terlalu mudah memberikan izin pengembangan perumahan yang justru banyak memakan kawasan resapan air didaerah tersebut.

"Ratusan hektare kawasan resapan air saat ini berubah menjadi lahan perumahan baru. Ironisnya, sistem drainase dibuat asal-asalan," katanya.

Anggota DPRD Kota Jambi Syafruddin Dwi Aprianto menambahkan, pihak yang paling dirugikan atas musibah tersebut adalah warga penghuni kawasan perumahan.

"Sebagian kawasan banjir saat ini adalah perumahan. Di salah satu lokasi perumahan bahkan ada yang sampai tanahnya longsor akibat tata kelola yang tidak baik," tuturnya.
Politisi asal PKS ini mendesak Pemkot Jambi segera meninjau ulang izin bangunan maupun perumahan yang ada di Kota Jambi.

Perlu ada pengawasan dan tinjauan yang ketat ketika akan mendirikan kawasan bangunan.

Pengembang juga harus memenuhi kebutuhan kawasan akan sistem drainase yang baik dan lengkap.

"Jika tidak ada dan tidak bisa memenuhi hal itu lebih baik izin dibatalkan saja," tambahnya.

http://regional.kompas.com/read/2010/12/27/21533281/Pemkot.Jambi.Tak.Serius.Tangani.Banjir