Kamis, Februari 26, 2009

Sukses Dhamma Talk 2009

JAMBI – Ribuan warga Tionghoa, Rabu (25/2) kemarin malam menghadiri Dhamma Talk yang diselenggarakan oleh Jaya Manggala, Dhamma Talk bertajuk mengubah nasib menjadi lebih baik, sukses, dan bahagia, acara digelar di Abadi Convention Center (ACC) mulai pukul 18.00 WIB.

Dhamma Talk adalah untuk mengisi dhamma. Selain itu, juga sebagai suatu pencerahan kepada umat. Itu agar umat dapat hadir memeroleh nasihat dari dua bhikku.

Menurut Sekretaris Vihara Jaya Manggala dr Erdiyanto, mengatakan bahwa kegiatan Dhamma Talk yang dihadiri dua bhikku dari luar Jambi, yakni YM Biku Uttamo Mahathera dari Vihara Samaggi Phala (Blitar) dan YM Biku Sri Pannavaro Mahathera dari Vihara Mendut (Jawa Tengah). “Dua bhikku tersebut sering mengisi kegiatan serupa, tidak hanya nasional, namun hingga internasional,”.

Lanjut Erdiyanto, yang hadir dalam acara Dhamma Talk malam ini (25/2) diperkirakan lebih dari 1600 orang, panitia telah menyediakan kursi lebih dari 1600. (Rom)

Pengobatan Gratis

PEMBERITAHUAN :
Pengobatan Gratis untuk menderita penyakit
Folio, Lumpuh dan Pemasangan kaki palsu
Pendaftaran dari 26 Februari sampai 7 Maret 2009
Tempat pendaftaran Yayasan Buddha Amitabha Jambi
Jalan Halim Perdana Kusuma, Telp (0741) 7552661
Atau ayojambi.com 085266457320
Pengobatan dilaksanakan pada 8 Maret 2009
Di lantai 5 Yayasan Buddha Amitabha Jambi
Pengobatan dilakukan oleh 5 orang dokter ahli dari India

Rabu, Februari 25, 2009

Habitat Harimau Jambi Menipis

JAMBI - Menurut Didy Wurdjanto, insiden mengamuknya harimau Sumatera yang menyebabkan beberapa orang korban tewas, secara hukum bukan kesalahan sang harimau. Pasalnya harimau tersebut mengamuk karena habitatnya diganggu.

Buktinya, kawasan hutan disekitar tempat kejadian yang merupakan habitat binatang buas tersebut telah banyak yang dibuka menjadi kawasan perkebunan masyarakat dan perusahaan swasta serta praktek illegal logging.

Ada dugaan kondisi itu berakibat semakin menyempitnya wilayah tempat binatang dilindungi tersebut mencari makan.

Sementara Harimau Sumatera (Salma) yang berhasil ditangkap BKSDA beberapa waktu lalu, kemungkinan besar akan kembali dilepaskan kehabitatnya. Salma yang sempat menerkam korban manusia itu, karena anak Salma diduga kuat ada yang mengambil. Hingga kini pelaku penangkapan anak Harimau tersebut masih dalam pengusutan Tim BKSDA Jambi.

Menurut catatan BKSDA Jambi, keganasan hariamau Sumatera ini merupakan kali kelima di Kabupaten Muarojambi, dengan jumlah enam korban tewas.

Kejadian pertama tanggal 24 Januari di Desa Pematang Raman, KecamatanKumpeh Ilir, Kabupaten Muaro Jambi, dengan memangsa seorang korban bernama Raba'i. Kemudian terjadi 28 Januari di hutan Desa Sungai Gelam, dengan memangsa dua korban, Suyut dan Imam Mujianto.

Sedangkan untuk ketiga kalinya, terjadi pada Rabu 4 Februari 2009 malam lalu sekitar pukul 22.30 WIB, di Desa Mekarsari, Kecamatan KumpeIlir, korbannya Sutiyono (36). Namun nasib Sutiyono sedikit lebih beruntung. Ia selamat dari maut dan hanya mengalami luka cakaran dibagaian paha dan tanganya. (Wan)

Ilegal Logging Marak

JAMBI - Praktek illegal logging di HP Sungai Gelam yang luasnya sekitar 50 ribu hektar itu kini menjadi sasaran dari para penjarah. Sementara HP tersebut merupakan habitat sekitar 20 ekor Harimau Sumatera.

Didy menegaskan, kalau korban Ali (50) dan Deri bin Mat Ali (17) merupakan buruh pelaku illegal logging milik cukong kayu Her. "kami sudah melaporkan hal ini kepada Gubernur Jambi dan Polda Jambi untuk segera ditindak lanjuti. Pembukaan lahan hutan tanaman industri (HTI) di Sungai Gelam oleh PT WKS juga berdampak negative terhadap habitat Harimau Sumatera," ujarnya.

Disebutkan, pihak BKSDA Jambi kini kesulitan dalam mencegah pembalakan liar di Provinsi Jambi karena personil dan biaya terbatas. Pihaknya juga meminta Dinas Kehutanan Provinsi Jambi dan Polda Jambi aktif dalam merazia praktek illegal logging di HP yang ada di Provinsi. (Wan)

Senin, Februari 23, 2009

Perambah Hutan Di Terkam Harimau

JAMBI - Akibat tidak mengindahkan larangan Pemerintah untuk melakukan penebangan hutan secara liar (illegal logging), Minggu (22/2) malam salah satu penebang liar asal Lampung yang bernama Choiri (20) menjadi santapan malam si Raja Hutan.

“merasa tempatnya diganggu sekelompok penebang liar kembali diamuki si raja hutan”

Saat Choiri tengah menebang pohon dengan menggunakan Chain saw di kawasan Desa Merang kilometer 10 Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi secara tiba-tiba korban langsung diterkam harimau jantan, sedangkan teman korban tidak ada yang berani menolong dan pada melarikan diri.

Dalam sebulan terakhir, Harimau Sumatera telah memangsa enam orang warga dan melukai dua warga lainnya.

Menurut Kepala Balai Konserfasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi, fenomena serangan Harimau yang terjadi diduga disebabkan oleh tiga hal, pertama, usia harimau yang sudah tidak produktif lagi untuk berburu, kedua, akibat habitatnya diganggu, karena praktek illegal logging, ketiga, karena anaknya diambil oleh manusia yang tidak punya perasaan.

Untuk mencegah serangan susulan dari Harimau, pihak BKSDA Jambi memusnahkan Sawmill dan pondok agar tidak dipergunakan lagi oleh penebang liar, selain itu juga ditemukan kayu illegal sebanyak tujuh puluh kubik lebih.

Sampai berita ini diturunkan petugas gabungan dari organisasi Pecinta Satwa, petugas BKSDA, Polhut dan Polres Muarojambi masih berupaya mencari jasad korban. (Rom)

Minggu, Februari 22, 2009

Warga Lampung Korban Harimau

JAMBI - Si Raja Hutan kembali meminta korban di Sungai Gelam, Pal 7 Pancuran perbatasan antara Jambi Palembang, kali ini yang menjadi korban keganasan harimau adalah anak dan bapak. Kedua korban tersebut bekerja sebagai pekerja Illegal Logging di Desa Sungai Gelam, Kabupaten Muarojambi, keduanya baru tiba di Jambi dua minggu yang lalu.

Kronologis kejadian, dimana 7 orang perambah hutan tengah istirahat di pondok (camp) yang sekaligus sebagai tempat tinggal mereka, pada malam naas tersebut pintu pondok tidak mereka kunci, hingga dengan mudah sang harimau masuk, yang jadi sasaran pertama adalah Deri (18), begitu melihat anaknya menjadikan santapan si raja hutan Alianto terus lari keluar pondok, jatuh ke parit (sungai) dan berhasil menyeberangi parit sambil berteriak minta tolong, detik itu juga harimau langsung menerkam korban.

Sedangkan teman korban pada melarikan diri. Tutur Gani (saksi mata) yang sepondok dengan korban, waktu itu sedang tidur, begitu mendengar kegaduhan langsung bangun sekilas melihat sedang memangsa Deli tanpa pikir-pikir Gani memilih langkah seribu mengikut rekan-rekannya.

Menurut Gani "waktu embah (baca harimau) masuk, pintu tidak tertutup, kejadian begitu cepat hingga tidak terpikir apa yang mesti dilakukan, selain menyelamatkan diri" imbuhnya.

Jenazah kedua korban setelah divisum langsung dibawa kekampung halamannya di Masuji, Bandar Lampung dengan mobil ambulane untuk dimakamkan.

Selain itu begitu mendapatkan informasi harimau sumatera kembali meminta korban kepa Kepala Balai Konserfasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi langsung mengumpulkan tim dan data-data, terus meluncur ke tempat kejadian perkara. (tim)

TSK Pembunuh Berhasil Ditangkap Petugas

JAMBI – Teka-teki siapa dibalik pembunuhan seorang laki-laki tanpa identitas yang ditemukan warga telah tidak bernyawa lagi di kebun pisang, Sabtu (21/2) kemarin.
Dalam tempo singkat setelah ditemukan jasad korban, petugas Poltabes Jambi berhasil menciduk pelaku pembunuhan yang tengah sembunyi disebuah rumah tidak jauh dari lokasi penemuan mayat.
Menurut pengakuan tersangka dihadapan petugas, tersangka nekat menghabisi nyawa korban lantaran merasa kesal dengan ulah korban yang mengambil minuman keras (miras) milik tersangka saat sedang ada pesta organ tunggal.
Tersangka menghabisis nyawa korban dengan cara menyabet dan menikam tubuh korban dengan sebilah parang.
Hanya tempo sekitar enam jam petugas Poltabes Jambi berhasil mengungkap kasus pembunuhan, Pelakunya diketahui bernama Syamsudin alias Wawan (33) warga Rt 16, Kelurahan Solok Sipin, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi.
Pelaku ditangkap Polisi disebuah rumah di lokalisasi lumpun bambu, lorong Sakura Rt 29 Kelurahan Solok Sipin, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi atau sekitar satu kilometer dari lokasi kejadian perkara.
Menurut penuturan tersangka, ia nekat menghabisi nyawa korban lantaran kesal melihat korban seenaknya mengambil minuman keras (miras) milik tersangka di acara pesta Orga Tunggal dilokalisasi lumpun bambu.
Menurut keterangan Kasat Reskrim Poltabes Jambi, Kompol Bambang Hermanto, tersangka pembunuh yang bernama Syamsudin alias Wawan berhasil diamankan petugas beserta tiga orang saksi, yakni Astuti, Emy dan Dahrul. (Tim)

Mayat Korban Pembunuhan

Jambi – Warga Koya Jambi kembali digemparkan dengan berita penemuan sesosok mayat pria yang diduga sebagai korban pembunuhan.

Kemarin Sabtu (21/2) warga dilingkungan Rt. 28 Kelurahan Solok Sipin, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi digemparkan dengan penemuan sesosok mayat laki-laki tanpa identitas.

Mayat tersebut ditemukan warga disebuah kebun pisang dalam keadaan sangat menganaskan, ditubuh korban dipenuhi luka bacokan senjata tajam hingga usus korban terburai keluar.

Ciri mayat tersebut, diperkirakan berusia 37 tahun, mengenakan jaket warna hitam tanpa pakaian dalam, mayat tersebut ditemukan warga dikebun pisang yang tidak jauh dari pemukiman warga.

Petugas Poltabes Jambi yang mendapatkan laporan dari warga setempat langsung meluncur kelokasi kejadian untuk melakukan olah TKP.

Petugas menemukan beberapa luka sabetan senjata tajam dibagian tubuh korban, diantaranya bagian perut, dada kiri dan punggung korban.

Menurut beberapa warga yang berada dilokasi kejadian mengatakan, bahwa sekitar pukul 02.30 subuh, mereka mendengar ada suara ribut-ribut dan derap langkah orang berlari, namun mereka tidak ada yang berani keluar.

Menurut keterangan Kasat Reskrim Poltabes Jambi, Kompol Bambang Hermanto, untuk mengetahui sebab-sebab kematian korban, petugas membawa mayat korban yang belum diketahui identitas ke Rumah Sakit Raden Mattaher Jambi untuk di otopsi. (Tim)

Rabu, Februari 18, 2009

Nasabah Bank Century Kembali Meminta Uang Mereka

JAMBI – Puluhan Nasabah Bank Century Cabang Jambi, Rabu (18/2) kembali ke bank buat menanyakan perihal uang mereka yang di depositokan di bank tersebut.

Para Nasabah Bank Century Cabang Jambi, sejak pukul 09.00 WIB menemui pihak bank, tertutup untuk untuk para wartawan yang hendak meliput, tampaknya belum berbuah hasil, ujar Yuli salah satu nasabah via sms “belum selesai” sedangkan hasil korfirmasi dengan Kim Lan via handphone, bahwa tampaknya ada kesepakatan bersama antara nasabah dengan pihak Bank Century, nasabah meminta uang deposuto mereka dikembalikan saja tanpa disertai suku bunga deposito, dari pihak Bank akan diteruskan ke Bank Century Pusat, hasilnya tunggu hari Senin (23/2). ROM


Catatan : Diperkirakan orang Jambi yang memasukan uang ke Deposito Bank Century lebih dari 80 orang, namun mereka tidak ada yang berani menonjolkan diri.

Yayasan Buddha Amitabha Kembali Gelar Api Homa 火烘

JAMBI – Selasa (17/2) malam Yayasan Buddha Amitabha Jambi kembali mengelar ritual Api Homa di Jalan Pangeran Diponegoro (Seberang Yayasan Buddha Amitabha Jambi), dimana satu hari sebelumnya telah dilakukan Api Homa ditempat yang sama.

Makna Api Homa adalah mempersembahkan makanan minuman kepada arwah orangtua, keluarga atau leluhur yang berada dialam kegelapan, seperti, dunia dihuni oleh manusia sedangkan alam baka dihuni oleh arwah/ roh yang telah wafat. Masing-masing mempunyai kebutuhan, manusia yang membutuhkan makanan atau minuman untuk bertahan hidup, demikian juga dengan mahkluk-mahkluk yang ada dialam kegelapan.

Kebutuhan mereka layaknya kebutuhan manusia, seperti makanan dan minuman, namun bila manusia makanan dan minuman, dimakan atau diminum sedangkan mahluk (arwah) hanya mengambil intisari dari makanan ataupun minuman didalam makanan/ minuman yang dipersembahkan anak maupun keluarganya. Selain itu kita (manusia) tidak dapat melihat mereka (mahluk halus), terkecuali jikalau mempunyai indra keenam (orang pintar/paranormal).

Oleh karena itu sebagai keturunan yang soleh/ soleha mempunyai kewajiban untuk memberikan mereka baik sebagai orangtua, keluarga maupun leluhur kita yang disana. Salah satu cara untuk mengirimkan kebutuhan mahluk/ arwah dengan cara api homa. Yang hadir dalam acara athasila atau api homa dari Singapure, Jakarta, Palembang, Medan, Kabupaten Tanjungjabung Barat dan Kota Jambi. (Rom)

Atthasila 八關齋戒 Delapan Sila

JAMBI – Sejak pukul 08.00 pagi, ratusan Umat Buddha dari berbagai daerah menghadiri Atthasila 八關齋戒 atau delapan sila yang diselenggarakan di Yayasan Buddha Amithaba Jambi di Jalan Halim Perdana Kusuma, Rt. 07 No. 19. Jambi.

Sekitar dua ratus lima puluh peserta yang mengikuti Atthasila, Umat yang mengikuti Atthasila dari Singapure, Jakarta, Sumatera Utara (medan), Sumatera Selatan (palembang), Kabupaten Tanjungjabung Barat (tungkal) dan kota Jambi,

Atthasila 八關齋戒 atau delapan sila merupakan pengembangan dari pancasila Buddhis.

Atthasila berisikan latihan untuk membantu seseorang terlepas dari berbagai kebutuhan terhadap wewangian, perhiasan, hiburan serta hal-hal yang bersifat memanjakan nafsu.
Salah satu latihan atthasila adalah dengan tidak makan setelah lewat tengah hari. Orang yang melaksanakan atthasila diperkenankan makan pada pagi dan siang hari saja. Sedangkan pada sore hari, ia harus berpuasa makanan. Ia hanya dapat minum teh ataupun kopi serta beberapa jenis minuman tertentu selain susu.

Yang Diperbolehkan dalam Atthasila

  1. Sehubungan pelaksanaan Atthasila, apakah jenis makanan dan minuman yang masih diperbolehkan untuk dikonsumsi?
  2. Apakah pemakaian gel perapi rambut dan dasi masih diperkenankan?
  3. Apakah perbedaan pelaksanaan Atthasila pada hari biasa dengan hari Uposatha?

Ada beberapa jenis makanan yang masih bisa dikonsumsi setelah tengah hari (jam 12.00), misalnya saja teh/kopi manis, madu, permen, dan juga coklat. Hanya saja perlu diingat bahwa minuman (dan makanan -red) itu hendaknya tidak mengandung susu.
Sebenarnya untuk Atthasila masih terkait juga dengan pengendalian diri. Sedangkan pengendalian diri, salah satunya adalah, yaitu : Indriya-samvara (pengendalian indera dalam menanggapi objek). Di dalam latihan pengendalian diri, seyogyanya pemakaian sesuatu tidak dimaksudkan untuk meningkatkan lobha, dosa, moha.
Minuman, juga ada ketentuannya, antara lain : tidak mengandung partikel sisa bila berbentuk juice. Dan buah yang diperbolehkan untuk juice bagi komunitas Bhikkhu tertentu adalah yang bukan tergolong grain. Yang termasuk grain, adalah The great fruit, antara lain: palmyra, kelapa, nangka, breadfruit, bottle gourd, white gourd, muskmelon, semangka, squash

Apabila hal ini menjadi tuntutan hidup karena pekerjaan, maka pada hari pelaksanaan sila masih bisa digunakan walau tidak harus dengan bau atau warna yang menyolok. Atau, kalau ingin lebih mudah, lakukanlah atthasila pada hari yang tidak terikat dengan segala wewangian maupun perhiasan.

Seseorang yang mempunyai sakit maag juga dapat tetap melaksanakan atthasila. Jika terasa lapar, ia dapat minum teh manis. Ia bahkan dapat minum madu murni sehingga ia dapat terhindar dari sakit maag.
Latihan atthasila yang bukan merupakan keharusan ini sangat baik dijadikan tambahan latihan pengendalian diri oleh para umat Buddha di waktu yang memungkinkan. Biasanya, saat melaksanakan atthasila, ia membaca paritta kebaktian terlebih dahulu di pagi hari dan membaca atthasila beserta artinya.

Sejak saat itu, ia telah bertekad melaksanakan atthasila. Ada baiknya, juga dapat meminta tuntunan atthasila kepada bhikkhu yang tinggal di vihara terdekat. Apabila ia ingin menghentikan latihan atthasila, pada pagi hari ia membaca paritta kebaktian dan mengucap lima sila atau pancasila Buddhis (Rom & berbagai narasumber)

Selasa, Februari 17, 2009

Ritual Api Homa 火烘

JAMBI - Pepatah mengatakan banyak cara untuk menuju Roma, demikian juga dalam hal mengirimkan do'a-do’a maupun mengirimkan persembahan kepada arwah orangtua, leluhur maupun keluarga yang telah tiada.

Bagaikan pohon yang berguguran daun sebagai tanda memasuki musim gugur dan musim dingin selalu bisa berubah warna, pemandangan musim gugur berubah menjadi lebih berwarna dan berlimpah ruah.

Sejak pukul 15.30, ratusan umat Buddha telah menghadiri lokasi upacara Fang Shen dan Api Homa di Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Dengan sabar umat Buddha menanti kehadiran Bhiksu Hai Tao yang akan memimpin prosesi upacara Fang Shen atau pelepasan satwa kehabitan aslinya (alam bebas) dan Api Homa.

Upacara lebih awal satu jam dari perencanaan panitia, karena pada hari tersebut terdapat dua acara, yakni Fang She dan Api Homa. Sekitar pukul 16.00 seusai Fang Shen, dilanjuti upacara Api Homa yang dipimpin Bhiksu Hai Tao dari Taiwan.

恭請:台灣上海下濤法師 16 February 2009. 星期一. 傍晚四時放生, 晚上七時, 火烘在淨宗學會對面 Ceramah Arya Bhiksu "HAITAO" dari Taiwan

16 February 2009, Senin Pukul : 16.00 碑淨宗學會"五樓, 晚上七時心靈講座。

17 February 2009. Selasa, Pukul : 08.00 pagi.Atthasila 星期二, 早上八時. 八關齋戒在 "di YAYASAN "BUDDHA AMITABHA JAMBI " Lantai lima, Pukul : 19.00 Pembabaran Dharma

Jalan Halim Perdana Kusuma, Rt. 07 No. 19. Jambi Sumatra.Indonesia 36134

Fang Shen Pukul 19:00 Wib Ritual Api Homma

di Jalan Pangeran Diponegoro (Seberang Yayasan Buddha Amitabha Jambi)

Yayasan Amitabha Melepasan Satwa

JAMBI – Sebagai insan yang berbudi sudah selayaknya saling sayang menyayangi, baik terhadap sesama manusia maupun terhadap mahluk lain seperti satwa (hewan) dari kepunahan.

Untuk melestarikan maupun mengembang biakan satwa-satwa diantaranya ikan dan kura-kura dari kepunahan, kemarin (16/02) Bhiksu Hai Tao dari Taiwan bersama ratusan umat Buddha yang tergabung di Yayasan Amitabha Jambi melepaskan ratusan burung, ikan dan kura-kura kehabitan aslinya atau yang dikenal dengan sebutan Fang Shen (artinya Fang = Menyelamatkan, Shen = Nyawa). Adapun tujuan dari pelepasan satwa kehabitan aslinya, adalah untuk menjegah satwa-satwa tersebut dari kepunahan, sehingga satwa yang dilepaskan dapat berkembang biak.

Adapun lokasi pelepasan satwa dilakukan mulai pukul 16.00 di Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.

Manurut penuturan pengurus Yayasan Amitabha, Mei Mei, bahwa Fang Shen kelap kali banyak di salah artikan seperti menyembuhkan penyakit, memberikan rezeki & panjang umur. Sebenarnya semua itu sama sekali salah. Jadi pengertian Fang Shen yang sebenarnya adalah membantu mahluk hidup melepaskan dari penderitaan/keterikatan.

Maka dari itu sikap mahluk hidup tak pernah lepas dari rasa tolong menolong termasuk tumbuh-tumbuhan. Seandainya mereka bisa berbicara tolong jangan siksa saya dan janganlah membunuh diri saya.

Begitu pula dengan kehidupan manusia yang berprinsip yaitu sejahat-jahatnya itu manusia masih memiliki hati nurani atau pepatah lain mengatakan yaitu segalak-galaknya srigala masih mempunyai rasa cinta kasih.

Karena manusia tidak ada yang hidup sempurna dan juga tak pernah luput dari kesalahan dan dosa, maka dari itu sering kali mendengar pepatah yang bijaksana dari sang Buddha yaitu “ Sabhe Shanta Bhasantu Sukhitahta ( semoga semua mahluk hidup baik yang nampak maupun tak tampak hidup berbahagia ).

Senin, Februari 16, 2009

Peresmian klinik Sakyakirti Jambi

JAMBI - Vihara Sakyakirti Jambi merupakan vihara tertua di Kota Jambi, Minggu (15/2) memberikan pemeriksaan dan pengobatan secara cuma-cuma kepada warga Kota Jambi.

Sekitar pukul 07.00 ratusan masyarakat telah hadir di Vihara Sakyakirti untuk berobat, namun sebelum pengobatan dilakukan, terlebih dahulu Kepala Dinas Kesehatan Kota Jambi, dr. H. Sahliran Lubis meresmikan Poliklinik Sakyakirti di jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan jambi Timur, Kota Jambi.

Ujar dr. Jansin selaku penanggung jawab poliklinik Sakyakirti, seperti yang kita ketahui bersama, kesehatan merupakan hal yang tidah murah harganya terutama bagi saudara-saudara kita yang dari keluarga kurang mampu. Disisi lain, kesehatan merupakan faktor penting dalam meningkatkan produktivitas kita semua. Dengan kesehatan yang baik maka semakin produktiflah diri kita.

Poliklinik Sakyakirti hadir di Kota Jambi, sebagai solusi untuk mensukseskan wacana tersebut, Poliklinik Sakyakirti secara resmi dibuka untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi yang berkwalitas dengan biaya yang relatif terjangkau bagi masyarakat Kota Jambi yang kurang mampu.

Pelayanan Poliklinik Sakyakirti Jambi, saat ini hanya dilakukan seminggu dua kali, yakni setiap hari Sabtu, pukul 15.00 hingga 17.00 dan Minggu, pukul 09.00 hingga 12.00 dibawah pimpinan dokter Jansin.

Sedangkan menurut Ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi, Romo Balamitta, bahwa ide pendirian Poliklinik bermula dari Almarhum Romo Vryamitta, “beliau berangan-angan suatu ketika Vihara Sakyakirti dapat menfasilitasi pelayanan kesehatan buat masyarakat, khususnya bagi mereka yang kurang mampu”.

Pada kesempatan peresmian Poliklinik Sakyakirti, Minggu (15/2) sekaligus dilakukan pengobatan massal yang dihadiri lebih kurang 300 masyarakat Kota Jambi. Tujuh dokter memberikan melayani pengobatan massal, diantaranya, dr. Teddy Viriya, dr. Hendry, dr. Joni, dr. Mujiharto, dr. Lipinwati, dr. Raja Nilawati dan dr. Juliana.

Ujar Nurrahma (42), salah seorang warga yang ikut dalam pengobatan gratis mengatakan bahwa acara ini sangat membantu masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan. Ditambah dengan hadirnya klinik yang memang focus pada pasien kurang mampu dari semua kalangan masyarakat. “Kita berharap agar kegiatan pengobatan gratis ini bisa terus berlanjut,” harapnya

Selain itu, pengobatan massal disaksikan langsung oleh kepala Dinas Kesehatan Kota Jambi, dr. H. Sahliran Lubis dan didampingi Kepala Puskesmas Talangbanjar, dr Anita Theresia. (Rom)

Ritual Namaskara Seribu Buddha

JAMBI - Untuk mengikuti sifat Sang Buddha, Yayasan Buddha Amithaba menggelar Namaskara Seribu Buddha. Mereka melakukan sujud sebanyak 1000 kali sambil mengagungkan nama besar Sang Buddha. Ritual Ini memakan waktu cukup lama hingga setiap umat harus dilakukan sebanyak 4 tahap.

Namaskara Seribu Buddha dilaksanakan sehari penuh di Yayasan Amithaba Buddha Jambi yang terletak di Jalan Halim Perdana Kusuma No 19 Kota Jambi pada Sabtu (14/2) kemarin. Namaskara Seribu Buddha, di ikuti sekitar 200 umat Buddha.

Prosesi Namaskara Seribu Buddha dipimpin langsung oleh 3 Bhikku, para peserta (umat) terlihat khusuk bersujud tepat di hadapan rupang Sang Buddha.

Acara Namaskara seribu Buddha dimulai dengan kabaktian bersama dipimpin oleh Bhikku Wu Wen yang berasal dari Malaysia. Setelah kebaktian, dilanjutkan dengan bersujud bersama. Gerakan tersebut dilakukan sama sebanyak 1000 kali. Karna jumlah sujud yang dilakukan memakan waktu dan tenaga yang cukup banyak, maka ritual ini dilakukan sebanyak 4 tahap.

“Acara ini digelar dari pagi hingga malam hari. Karma jumlah sujud yang cukup banyak maka kita buat menjadi empat bagian. Jadi kita bisa istirahat dan makan siang untuk menambah tenaga,” ujar pengurus Yayasan Amitabha Jambi, Asiang.

Menurut Mei mei yang juga salah satu pengurus Yayasan bahwa ritual Namaskara seribu Buddha digelar setiap tahun setelah Cap Go Meh. Ini dilakukan agar umat bisa memperlajari dan memahami sifat-sifat kebaikan yang dimiliki oleh Sang Buddha. Selain itu, juga untuk memberikan penghormatan kepada seribu Buddha. “Sehingga kita bisa mempraktekkannya pada kehidupan kita sehari-hari,” ujarnya disela-sela istirahat. (tim)