Tampilkan postingan dengan label Kabut Asap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kabut Asap. Tampilkan semua postingan

Kamis, Oktober 29, 2015

Surat Sepanjang 50 M Untuk Jokowi dari Para Perempuan Jambi



Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Jambi 3 bulan lebih.

Tak kuat dengan kondisi itu, warga Jambi tengah menggalang seribu tanda tangan surat untuk Presiden Jokowi. Panjang surat dinyatakan mencapai 50 meter.

"Ini merupakan bentuk kekesalan kami akan bencana kabut asap yang terus menyusahkan kami dan anak-anak kami," ujar Poppy, Inisiator aksi, Rabu (28/10/2015).
Menurut dia, surat untuk Presiden itu digagas atas inisiatif bersama yang kebanyakan adalah para perempuan di Jambi.

"Ini juga sebagai bentuk protes, pemerintah terkesan lamban, sampai sekarang asap pun belum teratasi," kata dia.

Ia menyatakan, banyak kalangan ibu rumah tangga, pekerja kantor hingga ibu-ibu PNS di Jambi mendukung upaya tersebut.

Kaum ibu, merupakan salah satu warga yang paling terpukul, apalagi ketika melihat anak-anaknya sesak napas karena asap.

Sehingga dari kekesalan mereka, surat yang dibuat dari terpal sepanjang 50 meter tersebut, akan dibubuhi 1.000 tanda tangan dari masyarakat Jambi yang ingin berpartisipasi dalam aksi.

Poppy juga menjelaskan, surat yang nanti akan tertanda tangani oleh 1.000 tanda tangan akan segera dikirim ke Presiden Jokowi.

"Kita targetkan sore ini akan mendapat 1.000 tanda tangan tersebut, nah kalau sudah lengkap segera kita kirim sore ini ke istana negara ditujukan kepada Presiden Jokowi," singkatnya

http://jambi.tribunnews.com/2015/10/28/newsvideo-surat-sepanjang-50-m-untuk-jokowi-dari-para-perempuan-jambi
* www.ayojambi.com/

Senin, Oktober 26, 2015

Langit Kota Jambi Menguning

Langit di atas Kota Jambi menguning. Akibat pekatnya kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi, Senin (26/10), langit di Kota Jambi bewarna kuning, yang berakibat berkurangnya jarak pandang [Pesan saya kepada Yth Presiden RI].

Sejak Senin pagi Kota Jambi memang telah diselimuti kabut asap. Bahkan siswa sekolah mesti dipulangkan lebih awal akibat pekatnya kabut asap yang berbahaya bagi kesehatan.
Pantauan Tribunjambi.com di Jalan Hayam Wuruk, Jelutung, Kota Jambi kendaraan yang lalu lalang mesti menghidupkan lampu kendaraannya akibat minimnya jarak pandang.

"Masya Allah, langitnya bewarna kuning, gelap. Sepertinya ini karena kabut asap yang semakin pekat," kata Arif satu diantara warga.

"Kok jadi kuning begini, jadi seram nian," kata warga lain.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jambi bahkan mencatat jarak pandang di Kota Jambi tercatat hanya 200 meter sejak pagi tadi, meski sempat naik menjadi 400 meter.

http://jambi.tribunnews.com/2015/10/26/masya-allah-langit-kota-jambi-menguning
* www.ayojambi.com/

Kebanyakan Hirup Asap Bisa Bikin Stres

Sudah lebih dari dua bulan, jutaan warga di Sumatera dan Kalimantan terpapar asap akibat terbakarnya hutan dan lahan. Kabut asap adalah ancaman serius bagi kesehatan seluruh organ tubuh [Pesan saya kepada Yth Presiden RI].

Asap bisa mengiritasi salaput lendir di hidung, mulut, dan tenggorokan, menimbulkan radang, dan memunculkan reaksi alergi.
Asap kebakaran juga menimbulkan infeksi, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga pneumonia atau radang paru.

"Kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi juga berkurang sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi," jelas Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P Senin (7/9/2015).

Asap memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru kronis, seperti bronkitis atau paru obstruktif kronik.
Menurut Tjandra, kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan menyebabkan orang mudah lelah dan mengalami kesulitan bernapas.

"Berbagai penyakit kronik di berbagai organ tubuh, seperti jantung, hati, ginjal juga dapat saja memburuk. Sebab, dampak tidak langsung kabut asap dapat menurunkan daya tahan tubuh dan juga menimbulkan stres," ungkap Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan ini.

Untuk mengurangi dampak buruk kabut asap, khususnya pada bayi, ibu hamil, orang lanjut usia, anak-anak, dan pengidap penyakit kronis, Menteri Kesehatan Nila F Moelok meminta pemerintah daerah menyediakan rumah singgah (shelter).

Dalam shelter tersebut, kondisi udara diatur dengan adanya penjernih udara. Kementrian Kesehatan juga mengirimkan tenda isolasi ke Palangkaraya, Kalimantan.

Rumah singgah dan tenda isolasi tersebut menjadi lokasi evakuasi bagi warga yang tidak bisa berlindung di rumah mereka sendiri dari kabut asap.

http://jambi.tribunnews.com/2015/10/26/kebanyakan-hirup-asap-bisa-bikin-stres
* www.ayojambi.com/

Kabut Asap Menyebar Luas, Tinggal Daerah ini yang Belum Terkena Asap

Sebaran asap dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan telah menyebar luas.

Sebaran asap sangat tergantung pada arah angin. Berdasarkan pantauan satelit Himawari dari BMKG pada Minggu (25/10/2015) pukul 08.30 Wib, lebih dari tiga per empat wilayah Indonesia tertutup asap tipis hingga tebal [Pesan saya kepada Yth Presiden RI].
Hanya Jawa Tengah, DIY, sebagian Jawa Timur, NTT, Sulut, Maluku Utara dan bagian utara Papua saja yang tidak tertutup asap.

Asap tebal masih mengepung beberapa daerah. Pada pukul 09.00 Wib, jarak pandang di Padang 200 m berasap, Pekanbaru 1.000 m berasap, Jambi 900 m berasap, Palembang 200 m berasap, Pontianak 800 m berasap, Ketapang 200 m berasap, Palangkaraya 100 m berasap, dan Banjarmasin 400 m berasap.

"Pasokan asap dari hotspot juga masih besar. Hotspot pantauan satelit Terra & Aqua pada Minggu pagi ada 1.187 hotpsot. Kualitas udara (PM10) di Pekanbaru 570 berbahaya, Jambi 518 Berbahaya, Palembang 325 Sangat Tidak Sehat, Pontianak 169 Tidak Sehat, Banjarbaru 73 Sedang, Samarinda 147 Sedang, dan Palangkaraya 1.511 Berbahaya. Hampir dua bulan lamanya warga di Riau, Jambi dan Palangkaraya terkepung asap level Berbahaya," kata Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam rilisnya, Minggu (25/10/2015).

Sesungguhnya asap tipis di menutup langit Jakarta sudah berlangsung sejak Jumat (23/10/2015) hingga sekarang. Partikel halus dari asap tipis ini melayang di atmosfer pada ketinggian sekitar 1.000-3.000 meter. Pada pagi hari kelihatan lebih tebal karena bercampur dengan kabut atau uap air.

Masyarakat tidak ada yang perlu khawatir dengan adanya sebaran asap tipis dari kebakaran hutan dan lahan tersebut. Sifatnya temporer, yang mudah berubah setiap saat tergantung pada arah dan kecepatan angin. Kualitas udara di Jakarta saat ini masih normal hingga sedang. Justru asap kendaraan bermotor yang lebih berbahaya bagi kesehatan.

http://jambi.tribunnews.com/2015/10/26/kabut-asap-menyebar-luas-tinggal-daerah-ini-yang-belum-terkena-asap
* www.ayojambi.com/

Surat Terbuka Warga Riau Untuk Menkes: "Bu Menteri, ini soal nyawa lho!"

Kepada Yth: Menkes Nila F Moeloek

Selamat pagi Bu Menteri Kesehatan. Sehatkan? Bagaimana udara rumah Ibu di Jakarta sana? Pasti segar ya.

Sedari kecil saya dididik orang tua untuk selalu berkata santun dan sopan. Tapi apa yang Ibu katakan tentang kami para korban asap, sungguh sudah keterlaluan! Kebangetan! Gak punya perasaaan!
Sudah dua kali Ibu Menteri menyakiti hati kami.

Pertama, saat Ibu mengatakan bahwa kualitas udara di Riau masih belum berbahaya. Padahal beberapa hari sebelumnya, BNPB menyatakan bahwa kualitas udara kami sudah jauh melewati level berbahaya. Bagaimana bisa seorang Menkes tidak mendapat informasi valid kesehatan suatu Provinsi, apalagi menyangkut ancaman kesehatan bagi 6,3 juta manusia yang ada di dalamnya. Bu Menteri, kami sedang setengah mati di sini, tapi engkau seperti setengah hati di sana.

Beberapa hari kemudian Ibu meralat pernyataan. Kemudian mengakui bahwa kualitas udara Riau sudah berbahaya dan langsung mengirim bantuan obat-obatan. Pernyataan itu sangat telat namun kami coba memaafkan.

Tapi kemarin, kenapa Ibu mengeluarkan pernyataan bodoh lagi. Ibu mengatakan bahwa masker yang paling tepat penggunaannya saat asap adalah masker biasa. Itu lho, yang warnanya hijau dan harganya seribu perak. Bukan jenis N95.

Apakah Ibu pernah mencoba, memakai masker hijau ketika partikel asap sampai jelas nyata terlihat depan mata? Sakit Bu! Sakitnya sampai ke paru-paru saat asap menyelinap masuk dari masker hijau itu. JELAS masker itu bukan standart saat kualitas udara sudah merusak seperti saat ini.

Lalu mengapa dari kemarin-kemarin, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan banyak pakar kesehatan, merekomendasikan masker N95 saat terjadi bencana? Bagaimana bisa statment para ahli, yang menyangkut keselamatan banyak nyawa, bisa saling berbeda.

Bu Menteri, ini soal nyawa lho! Tolong jangan bercanda. Kalau Ibu selaku pemerintah tak sanggup memberikan kami masker standart bencana, ngaku aja! Jangan berdalih dengan statment membodohi.

Tapi itu bukan kalimat paling menyakitkan. Ini Bu, saya kutip dari salah satu portal berita, kalimat dari b*c*tmu itu:

''Dijelaskan Nila, penggunan masker N95 lebih tepat pada saat terjadi bencana atau kejadian luar biasa,''.

Astaga Bu Menkes, apakah 57 ribu nyawa rakyat Riau yang sudah bertumbangan ini, belum cukup membuka mata hatimu?!? Apakah engkau punya cucu Bu, yang harus termengap-mengap mencari udara segar setiap saat? Apakah engkau pernah, akan tidur dan bangun tidur, harus berdamai dengan asap yang ada di mana-mana? Apakah engkau pernah, merasakan 24 jam, siang dan malam, hanya menghirup asap! asap! dan asap!

Statmentmu begitu santai Bu Menteri. 'Rakyat kalo ada asap, masuk rumah ya'. Kalo cuma itu, ketua RT kami pun biasa ngomong begitu, tapi Ibu itu sekelas Menteri Lho....! *Saya gagal paham.

Ayolaaaaah Bu, anda itu seorang Menteri Kesehatan. Bahkan tugas dalam sumpah jabatan, Anda bertanggungjawab menjaga kesehatan setiap warga negara Indonesia. Kami tidak sedang sakit Bu, tapi sudah sekarat karena azab asap. Bukan sehari dua hari, ini sudah lebih dua bulan!

Pernyataan Anda seolah ingin menutup kebobrokan pelayanan kesehatan selama Riau ditetapkan tanggap darurat bencana. Tapi mengapa harus mengeluarkan pernyataan yang menyakiti hati rakyat Bu?

Bu Menteri, jelaskan kepada kami, saat rakyat ingin berobat karena asap, mengapa tenda-tenda penanganan darurat bencana, ada di lapangan terbuka. Hellloooooo Bu Menteri, kita sedang menghadapi asap, bukan gempa. Asap masuk ke tenda-tenda. Gak layak Bu. Gak layak!

Jelaskan pada kami, bagaimana bisa obat kadaluarsa diberikan kepada korban asap? Mengapa untuk rawat inap pasien terdampak asap, masih dipungut bayaran? Mengapa tidak ada woro-woro tentang bahayanya partikel asap, sehingga anak-anak yang tidak sekolah, justru berkeliaran di jalan-jalan. Mereka sedang mengantar nyawa.

Bu Menkes, Anda itu seorang Menteri Kesehatan. Pernahkah anda mengunjungi korban-korban di lokasi bencana asap?? Ini sudah lebih dua bulan anak-anak kami tidak sekolah. Puskesmas kami diserbu pasien. Bayi-bayi, anak-anak, orang tua lanjut usia dan kami semua yang ada di Riau, harus hidup dalam udara berkualitas berbahaya. Tidak adakah terketuk pintu hatimu, untuk mengunjungi kami di sini?

Ayolah Bu, datanglah ke Riau. Kalau Ibu tak ada uang, biarlah saya bayarkan. Saya yakin Bu, banyak sekali rakyat Riau bersedia membayarkan tiket Ibu. Tapi tolong, nanti jangan tinggal di hotel ya Bu. Mari coba sesekali hirup asap bersama kami di sini dan silahkan pakai masker kuemu yang warna hijau itu. Rasakan rasanya!

Bu Menkes, masyarakat di luar sana, pasti akan mengatakan kami lebay menghadapi bencana ini. Bayangkan saja, saat kami teriak-teriak meminta masker standart bencana dan mengabarkan bagaimana sakitnya menghirup partikel asap ini berhari-hari, Anda yang seorang Menteri Kesehatan dengan entengnya berkata ''Asap belum berbahaya dan maskernya cukup biasa saja, toh ini belum bencana luar biasa,''.

B*c*tmu BUuuuuu oh Buuuuuuu....Saya tak habis pikir, bagaimana bisa b*c*t seorang menteri kesehatan sekeji itu ?!?!?

Semoga Allah Swt selalu memberimu sehat Bu Menteri.

Salam
Afni Zulkifli, Ibu dari seorang Putri berusia 3,5 tahun
087780483113-085263990785

http://www.pkspiyungan.org/2015/10/surat-terbuka-warga-riau-untuk-menkes.html?m=1

Kamis, Oktober 22, 2015

Mau Tahu Rasanya Azab Asap, Pak Presiden?

Bak wabah penyakit mematikan, bencana kabut asap masih terus menerpa dan menjalar di banyak provinsi Pulau Sumatera serta Pulau Kalimantan.

Pemerintah pusat, legislatif maupun ekskutif, bukannya berpangku tangan.
Setidaknya sejak dua bulan ke belakang, Agustus 2015, kabut asap yang disebabkan pembakaran hutan dan lahan ini menjadi satu dari sekian banyak persoalan yang menjadi bahasan utama para pemangku kebijakan.

Namun, ketika para politikus di Senayan asyik beradu argumentasi di ruangan berpendingin, kala sang presiden dan pembantunya sibuk mengatur langkah,  korban justru semakin bertambah pula.

Tidak sedikit pihak yang meminta pemerintah untuk segera menetapkan serangan kabut asap sebagai bencana nasional, sehingga segala sumberdaya bisa dialokasikan  secara maksimal dan terstruktur untuk mengatasi masalah ini. Namun, sampai Rabu (21/10/2015), tuntutan itu belum terjawab.

Tak ayal, banyak pihak yang berupaya mengingatkan para pembesar Negara untuk segera menggelar aksi nyata—bukan sekadar  memperbincangkan bencana kabut asap atau bahkan menjadikannya komoditas politik.

Satu kritik pedas terebut, dilontarkan Afni Zulkifli melalui akun Facebook miliknya.

Pada kolom keterangan akunnya, Afni mengaku lulusan program Master Politik Universitas Riau. Secara ringkas, bernas, tapi menggigit, ia memberikan testimoni mengenai kehidupan warga di daerah bencana kabut asap.

Berikut tulisan Afni yang diunggah kea kun Facebooknya, Selasa (20/10/2015) :

Mau Tahu Rasanya Azab Asap, Pak Presiden?
Malam ini jelang berganti hari, pukul 23.15 WIB (20/10), asap menyerbu hingga ke kamar tidur. Seperti biasa, terbatuk-batuk karena tersedak asap. Untuk sedulur se Indonesia Raya yang tak berada di daerah bencana, mau tahu rasanya siksa azab asap? Kira-kira, beginilah deskripsi rasanya:

Saat dihirup, terasa ada serbuk-serbuk sisa kebakaran menusuk hidung. Pedas!

Lalu partikelnya terasa mengisi rongga paru-paru dengan kasar. Berat saat dihirup, lebih berat saat dilepas. Panas!

Sekali tarikan nafas (menghirup dan menghembuskannya kembali), butuh waktu beberapa detik. Harus perlahan,pelan-pelan, jika tak ingin dada terasa ditekan. Sesak Nafas..!!!

Dan itu saya rasakan di usia 30 tahun. Dan itu saya rasakan di kamar ber-AC.

Bagaimana dengan para bayi yang baru lahir? Bagaimana dengan para balita yang membutuhkan udara bersih untuk otak dan paru-paru mereka? Bagaimana dengan para lansia yang kerja jantungnya sudah melemah? Bagaimana dengan rakyat jelata yang tak punya AC di rumah mereka? Bagaimana dengan Putri kecil saya Hanina? Sebagaiseorang Ibu, saya sudah berupaya sekuat tenaga mengipas-ngipasdi dekat hidungnya, berharap udara berbahaya tak dihirupnya saat tidur. Tapi Hanina butuh bernafas. Udara berkualitas berbahaya itu, satu-satunya cara agar putri kecil saya tetap bernyawa.

Ada video balita kejang-kejang dan muntah-muntah, digotong oleh Ibunya yang begitu panik luar biasa. Itu video NYATA BUKAN REKAYASA di daerah Palangkaraya. Kabarnya di sana tingkat ISPU sudah melebihi 3.700. Padahal ISPU level berbahayaada di angka 300. Silahkan bayangkan bagaimana rasanya udara tercemar asap dengan tingkat polutan di angka 3.700..!

Riau pernah disebut kepala BNPB menyentuh level 900 saja sudah sesak, apalagi sampai di level 3.700.

Neraka seperti apa yang sedang dipertontonkan para penguasa dan pengusaha serakah perusak alam di negeri ini...?!?

Para balita bertumbangan menghuni bilik-bilik rumah sakit. Tubuh-tubuh mungil nan ringkih yang tak mengerti tentang hutan alam berubah jadi lahan sawit itu, harus sekarat setelah menghirup udara berkualitas berbahaya. Bukan sehari dua mereka bertahan, tapi sudah berbulan-bulan lamanya.

Andai kami para Ibu berteriak dan mencaci maki pemerintah yang kalian cintai, tolong maklumi. Ini soal HAK bernafas yang diberikan gratis oleh Tuhan dan DIRAMPAS PAKSA oleh tangan-tangan manusia serakah. Ini bencana yang harusnya bisa dihindari. Kami LAYAK dan SANGAT PANTAS UNTUK MARAH....!!!

Korban terpapar asap di Riau (data terbaru) sudah mencapai 77.665 orang. Helloooooo Indonesia, itu angka-angka berasal dari manusia semua. Mau berapa kuburan lagi yang harus digali, untuk disebut bahwa bencana asap tahun ini sudah menjadi sebuah TRAGEDI....?!? (*)


http://www.tribunnews.com/nasional/2015/10/21/warga-riau-mau-tahu-rasanya-azab-asap-pak-presiden

Kamis, Oktober 08, 2015

Presiden Jokowi Kembali Tunda Ke Jambi

JAMBI, ayojambi.com - Kedatangan presiden RI, Jokowi ke Jambi ditunda kembali. Penundaan ini dikarenakan kondisi Jambi masih diselimuti pekatnya kabut asap.
Sejumlah persiapan dilakukan, Presiden Joko Widodo kembali batal melakukan kunjungan kerja ke Jambi. Pernyataan resmi disampaikan langsung Kepala Bidang Media dan Analisis Berita Kantor Sekretaris Negara, Yudhi Wijayanto kepada sejumlah jurnalis di Bandara Sultan Thaha Jambi di dampingi Kapenrem 042/gapu, Mayor Inf Imam Syafei, kamis (8/10) siang.

Dari padang, Presiden beserta rombongan akan menggunakan helikopter super puma menuju Bandara Sultan Thaha Jambi. Presiden beserta rombongan akan menempuh jarak sekitar 1,5 jam dari Sumatera Barat.

Selanjutnya dari bandara Jokowi akan mengunjungi posko satgas karhutlah dan kabut asap dan ke lokasi kebakaran hutan dan lahan di Desa Manis Mato, Kabupaten Muaro Jambi Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi.. (Romy)

Jumat, Oktober 02, 2015

Umat Khonghucu Jambi Gelar Sembahyang Doa Minta Hujan

JAMBI, ayojambi.com – Dalam perayaan ulang tahun 生日 Kun Ce Tua Lang Kong 君子大人公 yang digelar Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) 孔教會 Kelenteng Lam Po Tong 南寶堂, Jambi, yang beralamat di Jalan Perdana Raya (belakang kantor DPRD Kota Jambi) Rt. 33, No. 19, Kelurahan Paal V, Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi [Lihat Gambae: Umat Khonghucu Jambi Gelar Sembahyang Doa Minta Hujan].
Umat Khonghucu Jambi menggelar sembahyang dan doa bersama, memohon agar segera turun hujan di Jambi. Sehingga dapat memadamkan kebakaran hutan dan menghilangkan tebalnya kabut asap yang melanda Kota Jambi hingga kini.

Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) mengajak seluruh umat Khonghucu Jambi maupun masyarakat umum memohon agar Jambi segera turun hujan.

”Hari ini kita, berdoa meminta hujan turun, agar Jambi terbebas dari musibah kebakaran hutan/ lahan. Mudah-mudahan Tien (Tuhan) mengabulkan permohonan kita dan mengabulkan permohonan kita,” kata Darman Wijaya 黄春回主席, selaku Ketua MATAKIN Provinsi Jambi 印度尼西亞占碑孔教會.

Dengan khusyuk ratusan umat Khonghucu silih berganti berdoa dihadapan altar 神壇 Tien (天). Mereka seakan sudah tak tahan lagi dengan kondisi asap yang semakin pekat yang terjadi sekarang.

Sementara itu, Rohaniawan MATAKIN 印度尼西亞占碑孔教會, The Lien Teng  鄭連丁, menghimbau agar umat Khonghucu dapat berdoa bersama memohon kepada sang pencipta alam semesta menurunkan hujan, hanya melalui hujan, kita baru dapat padamkan kebakaran hutan di Jambi dan menghilangkan tebalnya kabut asap yang membahayakan kesehatan masyarakat.

”Saya harap umat Khonghucu Jambi bisa ikut melakukan doa bersama, agar Jambi bisa turun hujan” kata The Lien Teng. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Sabtu, September 26, 2015

Presiden Jokowi Kembali Batal Ke Jambi

JAMBI, ayojambi.com - Rencana kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Jambi kembali terhalang oleh pekatnya kabut asap. Panglima Kodam II/ Sriwijaya Panglima Kodam II/Sriwijaya Mayjen TNI Purwadi Mukson, S.I.P mengatakan jarak pandang yang hanya 400 meter tidak memungkinkan untuk pesawat kepresidenan landing di Bandara Sultan Thaha Jambi.
"Karena faktor cuaca, jarak pandang hanya 400 meter, minimal dibutuhkan 800 meter," kata Pangdam, Sabtu (26/9) pagi. Meski tidak jadi ke Jambi, Pangdam mengatakan pihak istana bakal melakukan penjadwalan ulang kehadiran Presiden ke Jambi, namun Pangdam juga belum bisa memastikan kapan waktunya.

Pangdam bersama beberapa petinggi Kodam II/ Sriwijaya kembali ke Sumsel menggunakan helikopter. Nampak Komandan Korem 042/Gapu Kolonel (Inf) Makmur, Kapolda Jambi Brigjen Pol Lutfi Lubihanto dan Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Jambi Haviz Husaini mengantarkan keberangkatan Pangdam di Bandara Sultan Thaha Jambi. (Romy)  
* www.ayojambi.com/

Kamis, September 10, 2015

Polisi Tolak Uang Pemberian Warga yang Telah Dibantu Ganti Ban

Polisi Tolak Uang Pemberian Warga yang Telah Dibantu Ganti Ban
Satuan Patroli Jalan Raya (Sat PJR) Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menerima bantuan berupa 200 buah masker wajah pemberian sukarela seorang warga bernama Edward.
Kepala Satuan Patroli Jalan Raya Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar, Agung Pitoyo, mengatakan pemberian masker wajah merupakan wujud kepedulian warga terhadap anggota kepolisian.

"Edward datang ke Satuan Patroli Jalan Raya Dit Lantas Polda Metro Jaya untuk memberikan 200 masker sebagai wujud kepedulian dan simpati terhadap anggota di lapangan yang telah membantu," ujar AKBP Agung, Kamis (10/9/2015).

Pemberian masker merupakan bentuk terima kasih Edward karena telah dibantu petugas Patroli Jalan Raya. Rabu (9/9/2015) kemarin sekitar pukul 11.30 WIB, dia mengganti ban mobil Chevrolet di depan Chevron, Jalan layang Tomang arah ke barat.

Saat memasang ban, tiba-tiba datang sebuah mobil kijang patroli PJR 919. Anggota PJR, Hergiansyah turun dari mobil tersebut, lalu, membantu mengganti ban. Sebagai tanda terima kasih, Edward memberikan uang kepada petugas itu, namun ditolak.

"Setelah selesai, Edward mengucapkan terima kasih dan memberi uang lelah. Namun ditolak oleh anggota," kata AKBP Agung.

Menurut AKBP Agung, Hergiansyah menolak sambil berkata "tidak usah pak memang ini tugas kami".

http://jambi.tribunnews.com/2015/09/10/polisi-tolak-uang-pemberian-warga-yang-telah-dibantu-ganti-ban
* www.ayojambi.com/

Selasa, September 08, 2015

Beredar surat protes kepada Presiden Jokowi di Riau

Merdeka.com - Beredar surat di media sosial melalui broadcast yang menyatakan protes atas ketidakpedulian pemerintahan pusat terhadap kondisi Riau yang sudah terlalu parah diselimuti asap. Dalam pesan berantai itu, masyarakat Riau menilai Presiden Joko Widodo terlalu sibuk mengurus konflik internal Istana, padahal kabut asap sudah sangat menyengsarakan Riau, ditambah lagi harga sawit dan karet yang merupakan mata pencaharian warga anjlok drastis.
Tidak jelas siapa yang pertama mengirim pesan berantai itu. Yang jelas broadcast nada protes itu kini sudah menyebar dari ponsel ke ponsel.

Pantauan merdeka.com, Kamis (3/9) pesan berantai itu juga masuk ke grup BBM wartawan. Dan keberadaannya terus menyebar.

Berikut pesan berantas bernada protes kepada presiden Jokowi tersebut:

SURAT RIAU UNTUK INDONESIA
dear Yth. presiden RI bapak Joko Widodo.
Titik api di sekitar kami bukanlah simbol kemarahan Allah, tapi simbol keserakahan dan bukti ketidakpedulian negara terhadap daerah. Bapak mau kesini sekarang ? bandara ditutup pak, lagipun tak ada anak sekolah ynag menyambut bapak, sekolah di liburkan.

Mau menempuh jalan darat? bahaya pak, asap tebal tidak bagus untuk kesehatan bapak dan ibu Iriana. Biarkan saja seperti ini agar Riau menjadi lahan sawit dan bisa ditanam tanaman industri, kami ikhlas mati pelan-pelan karena ISPA, karena ketidakberdayaan kami di sini. Kami pasrah, mungkin ini kehendak Allah.

Bagi saudara/i kami di daerah lain, kami sangat berterima kasih atas doa yang selalu kalian panjatkan, mohon maaf karena kiriman asap Riau kelian jadi terganggu. Berita dari berbagai media katanya Pekanbaru sudah tidak layak huni lagi karena 5% udara yg bersih yang bisa di hirup. Innalillah ~..Pray for Riau..

Pemerintah pusat sudah tidak peduli pada kami. Hari ini puncaknya 6 juta rakyat Riau terkena kanker paru-paru, terutama anak-anak. Sepertinya lebih peduli pada kekisruan internal ditubuh istana dari pada nasib 6 juta rakyat Riau.
Padahal Riau salah satu penyumbang devisa terbesar negara. Tolong sebarkan karena media TV dan Koran tidak banyak memberitakan, terlalu sibuk dengan pemberitaan kepentingan pribadi dan kelompok semata didalam istana.
Belum lagi usai bencana asap kami sudah dihadapkan lagi pada menurunnya hasil pertanian karet dan sawit yang ditambah harga penjualan nya yang menurun derastis sampai titik terparah.

Semoga pemerintahan pusat dan daerah bisa melihat sedikit bencana yang kami hadapi dan memberikan solusi jalan keluarnya. Hanya doa yg bisa kami harapkan, sebelum rakyat Riau mati pelan-pelan & lari disini

#anak bangsa yang sengsara
http://www.merdeka.com/peristiwa/beredar-surat-protes-kepada-presiden-jokowi-di-riau.html

Jumat, Oktober 10, 2014

Kabut Asap Menyelimuti Kota Jambi

JAMBI, ayojambi.com - Kabut asap yang menyelimuti Jambi [Lihat Video: Kabut Asap Menyelimuti Kota Jambi] hingga saat ini belum juga menurun, bahkan kondisinya semakin parah. Asapnya semakin pekat pada hari Jumat Pagi (10/10-14).
Kabut yang melanda Jambi ini diketahui terjadi karena kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera Selatan dan Jambi.

Kabut asap pekat dalam beberapa hari terakhir ini menyelimuti Kota Jambi, Provinsi Jambi, dengan kategori tidak sudah sehat. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Jumat, Maret 14, 2014

TNI Jambi Bagi-Bagi Masker

JAMBI, ayojambi.com – Jumat (14/3) pagi aksi sosial (gambar Tentara Nasional Indonesia) (TNI) Jambi yang dibawah Komando Korem 042/ Garuda Putih Jambi, akibat tebalnya kabut asap melanda Kota Jambi membuat TNI Jambi perlu turun tangan dengan cara membagi-bagikan ribuan masker kepada masyarakat penguna jalan raya.
Dampak dari kabut asap yang menerpa Kota Jambi. Untuk meminimalisir efek kabut asap bagi pernapasan, Korem 042/ Garuda Putih Jambi membagi-bagikan masker kepada penguna jalan raya, pembagian masker dipusatkan di beberapa titik, diantaranya di Markas Korem 042/ Gapu Jambi Jalan Urip Sumoharjo Jambi, Denpom II/ Jambi di Jalan Gajah Mada dan depan Rumah Sakit dr Bratanata Jalan Raden Mattaher Jambi, puluhan TNI dan perawat membagi-bagikan masker kepada pengguna jalan di depan Rumah Sakit dr Bratanata Jumat pagi. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Kota Jambi Diterpa Kabut Asap

JAMBI, ayojambi.com – Semakin tebalnya kabut asap yang menyelimuti kota Jambi mulai berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat di kota Jambi, sejak pukul 06.00 pagi tadi (14/3) puluhan petugas dari BPBD, Dinas Kesehatan, PMI membagikan masker di beberapa persimpangan Traffig Light di (gambar kabut asap Kota Jambi). "Ada beberapa titik pembagian masker, yaitu di Simpang Mayang, Simpang BI, Simpang Bata, Simpang Jelutung dan Simpang Pulai.
Saat ini penggunaan masker sangat diperlukan untuk meminimalisir dampak kabut asap dari pembakaran lahan di beberapa daerah, diantaranya dari Provinsi Riau dan Kabupaten di Provinsi Jambi. Dampak yang ditimbulkan asap sangat mengganggu jarak pandang bahkan dapat menyebabkan gangguan pernafasan (Infeksi Saluran Pernafasan Atas).

Selain itu, kabut asap yang menyelimuti kota Jambi sejak Sabtu (23/2) hingga Minggu (14/3) pagi. telah mengganggu pendaratan pesawat di Bandara Sultan Thaha Saifudin (STS) Jambi karena jarak pandang antara pilot dengan landasan mesti diatas 2.000 meter, jarak minimal yang diperlukan untuk pendaratan.

Dampak yang ditimbulkan kabut asap selain menggangu pendaratan pesawat, juga menggangu jalur lintas di sungai Batanghati pun lumpuh.

Lumpuhnya aktivitas di Sungai Batanghari ini terjadi hingga ke ambang laut timur Sumatera. Sejak pagi hingga petang hari, tak ada kegiatan sama sekali di alur sungai itu.

Salah satu penyebab kabut asap di Jambi karena kebakaran lahan gambut di beberapa titik di kawasan hutan Muaro Jambi. Hingga saat ini petugas terkait masih berupaya memadamkan kebakaran itu.

TNI Jambi Bagi-Bagi Masker
Disamping itu, Korem 042/Garuda Putih Jambi juga membagi-bagikan ribuan masker kepada penguna jalan raya, pembagian masker dipusatkan di beberapa titik, diantaranya di Markas Korem 042/ Gapu Jambi Jalan Urip Sumoharjo Jambi, Denpom II/ Jambi di Jalan Gajah Mada dan depan Rumah Sakit dr Bratanata Jalan Raden Mattaher Jambi, puluhan TNI dan perawat membagi-bagikan masker kepada pengguna jalan di depan Rumah Sakit dr Bratanata, Jumat pagi (14/3). (Romy)
* www.ayojambi.com/

Senin, Oktober 03, 2011

Siswa SD Bina Kasih Pakai Masker Ke Sekolah

JAMBI – Hingga hari Senin pagi (3/10/2011), kabut asap masih pekat dibandingkan hari sebelumnya di Kota Jambi dan sekitarnya. Kondisi ini mengakibatkan murid-murid Sekolah Kristen Bina Kasih di Jalan Kemang II, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, pada menggunakan masker saat mengikuti pelajaran disekolahan.
Hingga membuat guru-guru SD Bina Kasih semakin resah karena pengaruh kabut asap yang mengganggu proses ngajar mengajar serta kualitas udara yang diyakini mempengaruhi kesehatan para siswa-siswi disekolah itu.

Untuk menghindari semakin buruknya pengaruh asap terhadap siswa di SD Bina Kasih, sejak beberapa pekan lalu, Kepala Sekolah Kristen Bina Kasih Jambi, telah mengeluarkan himbauan agar murid di sekolahan tersebut datang dan pulang menggunakan masker.

Seperti yang disampaikan Kepala SD Bina Kasih Jambi, Nechi Sasnawati, S. Th, kepada Ayojambi.com, “Demi menjaga kesehatan anak didik SD Bina Kasih dari pengaruh kabut asap, kita telah intruksikan kepada semua murid menggunakan masker waktu mau kesekolah maupun sepulang dari sekolahan.” Imbuhnya.

Karena sudah banyak anak yang batuk-batuk karena menghirup asap, selain itu, walaupun kondisi kabut asap semakin pekat, namun warga terlihat tidak terlalu banyak yang mengindahkannya, bahkan sebagian besar masyarakat terlihat tidak menggunakan masker. (romy)

Jumat, September 30, 2011

Kabut Asap Kembali Selimuti Kota Jambi

JAMBI - Setelah sempat menghilang lebih dari sepekan, kini kabut asap kembali menyelimuti kota Jambi. Kabut asap yang semakin pekat ini tentu mengganggu berbagai aktifitas warga dan merugikan kesehatan.

Kabut asap yang menyelimuti kota Jambi dikhawatirkan akan semakin bertambah parah, menyusul masih adanya sejumlah lahan yang terbakar dan rusaknya mesin pesawat pembuat hujan buatan yang tengah bertugas di Jambi.
Akibat kabut asap, jarak pandang di kota Jambi hari ini hanya berkisar 200 hingga 300 meter.

Para pengendara kendaraan khususnya pengendara sepeda motor pun harus menyalakan lampu dan menggunakan masker, akibat dari bau asap yang begitu menyengat hidung.

Dari data Dinas Kehutanan Provinsi Jambi setidaknya terdapat 8 titik panas di wilayah Provinsi Jambi.

Sebenarnya jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibanding jumlah titik panas di wilayah Sumsel yang mencapai ratusan.

Hembusan angin yang bergerak mendekati Jambi dari arah Sumsel diduga kuat memicu pekatnya kabut asap di Jambi dan sekitarnya.

Selain masih ada sejumlah titik panas, pesawat Casa yang tengah bertugas membuat hujan buatan di Jambi kini kondisinya sedang rusak.

Sejak dua hari lalu, pesawat Casa 212-200 yang digunakan BPPT dan BNPB untuk membuat hujan buatan di Jambi, mengalami kerusakan mesin sebelah kanan, sehingga hanya bisa parkir di landasan bandara udara Sultan Thaha Hambi.

Pesawat baru bisa berfungsi kembali setelah dilakukan perbaikan dengan penggantian spare part mesin yang baru, yang rencananya akan tiba di Jambi dalam dua hari lagi. (Nug)

Kamis, September 29, 2011

Kabut Asap Kembali Selimuti Jambi

JAMBI, KOMPAS.com- Kabut asap kembali meliputi Kota Jambi dan sekitarnya, Kamis (29/9/2011) pagi ini. Kondisi itu mengakibatkan penerbangan dari dan menuju Jambi terganggu.

Jarak pandang di Bandara Sultan Thaha Kota Jambi yang semula 1.000 meter pada pukul 07.00, menurun drastis menjadi hanya 300 meter sejam kemudian. Sedangkan pada pukul 08.00, jarak pandang masih sekitar 400 meter, dan kemudian mencapai 500 meter pada pukul 09.00.
Koordinator Bidang Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Jambi Kurnianingsih mengatakan, pekatnya kabut asap diduga akibat maraknya pembakaran lahan di wilayah Jambi dan Sumatera Selatan. "Kondisi kabut asap pekat seperti sekarang ini tidak memungkinkan penerbangan maupun pendaratan pesawat, karena jarak pandang masih di bawah normal untuk aktivitas penerbangan yang minimal 1.800 meter," ujar Kurnianingsih.

Aktivitas penerbangan dari dan menuju Jambi sejak pagi tadi tertunda. Hingga kini belum satu pun pesawat terbang maupun mendarat di Bandara Sultan Thaha Kota Jambi.

http://regional.kompas.com/read/2011/09/29/10201849/

Senin, September 12, 2011

Kabut Masih Selimuti Jambi

JAMBI - Kabut asap masih menyelimuti Jambi, sehingga suasana di sembilan kabupaten di daerah itu terlihat lebih gelap, Sabtu (10/9). Jarak pandang pun menjadi berkurang dibandingkan sebelumnya.
Saat ini, kabut asap menyelimuti sembilan kabupaten dan kota di Jambi. Buruknya kualitas udara bisa berdampak pada kesehatan. Kualitas udara terburuk terjadi di Kota Jambi, Kerinci, serta Muaro Jambi. Selain kabut dari kebakaran lahan di Jambi, kabut kiriman dari provinsi tetangga.

Kabut asap di daerah itu dipicu kebakaran lahan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi, Tebo, Batanghari, Merangin, juga dari provinsi Sumatra Selatan.
Selain itu, kabut asap juga mengganggu kesehatan warga, mulai mata pedih hingga nafas sesak. Angka indeks standar pencemaran udara (ISPU) sudah di atas 120, yang berarti berbahaya bagi kesehatan. Status siaga satu pun ditetapkan.

Kabut asap diperkirakan hilang bila hujan turun. Namun, menurut prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jambi, hujan baru akan turun awal Oktober mendatang.

Hasil pantauan di lapangan memang kabut asap semakin tebal dan pekat namun pada kisaran pagi hari sekitar pukul 10.00 sampai 11.00 WIB terjadi tiupan angin sehingga kabut asap bisa bergerak dan tidak memperburuk kondisi di Kota Jambi. (Romy)

Rabu, September 07, 2011

Kabut Asap Genggu Jadwal Penerbangan

JAMBI - Kabut asap yang terjadi di Kota Jambi saat ini, semakin tebal dan nyaris mengurangi jarak pandang mata. Hal ini juga menggunggu jadwal penerbangan dari Jakarta ke Jambi di bandara Sultan Thaha Jambi.

Sejak pagi hingga siang hari, bandara Sultan Thaha Syaifuddin tertutup oleh kabut asap , hingga mengganggu sang pilot yang menerbangkan pesawat untuk melakukan pendaratan.
Jarak pandang yang hanya berkisar 400-700 meter pada pagi hari mengakibatkan aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin, Jambi, terganggu. Sejak pagi, jarak pandang mencapai 400-700 meter menjelang pukul 11 siang.

Kepala bandara Sultan Thaha Syaifuddin Jambi, Abiyoso mengatakan, “Adanya kabut asap memang sangat mengganggu jadwal penerbangan dari Jakarta ke Jambi, untuk itu, pihaknya meminta agar para penumpang lebih sabar,” karena jarak pandang sangat minim, maka tidak mungkin untuk melaksanakan penerbangan karena sangat berbahaya. Katanya.

Pesawat pertama yang berhasil mendarat adalah Lion Air, bahkan tiga pesawat Lion Air berhasil bendarat di bandara Sultan Thaha Syaifuddin Jambi, disusul dengan pesawat SKY Air dari Sumsel, Batavia Air, Sriwijaya dan Garuda Indonesia.

Kondisi kabut asap ini disebabkan meluasnya kebakaran lahan dan hutan, baik di dalam wilayah Provinsi Jambi maupun di kawasan provinsi tetangga, seperti Sumatera Selatan dan Riau.

Berdasarkan pantauan Satelit NOAA, pada September ini saja di wilayah Provinsi Jambi terpantau sedikitnya 92 titik panas atau nomor dua dibandingkan kawasan Sumatera Selatan dengan 315 titik panas. Posisi ketiga ditempati Riau dengan 81 titik panas. Hari ini, titik panas di Provinsi Jambi terpantau di lima lokasi, sebagian di antaranya berada dalam kawasan perkebunan kelapa sawit dan HTI. (Rom-Nug-Yul)