Langit di atas Kota Jambi menguning. Akibat pekatnya kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi, Senin (26/10), langit di Kota Jambi bewarna kuning, yang berakibat berkurangnya jarak pandang [Pesan saya kepada Yth Presiden RI].
Sejak Senin pagi Kota Jambi memang telah diselimuti kabut asap. Bahkan siswa sekolah mesti dipulangkan lebih awal akibat pekatnya kabut asap yang berbahaya bagi kesehatan.
Pantauan Tribunjambi.com di Jalan Hayam Wuruk, Jelutung, Kota Jambi kendaraan yang lalu lalang mesti menghidupkan lampu kendaraannya akibat minimnya jarak pandang.
"Masya Allah, langitnya bewarna kuning, gelap. Sepertinya ini karena kabut asap yang semakin pekat," kata Arif satu diantara warga.
"Kok jadi kuning begini, jadi seram nian," kata warga lain.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jambi bahkan mencatat jarak pandang di Kota Jambi tercatat hanya 200 meter sejak pagi tadi, meski sempat naik menjadi 400 meter.
Sudah lebih dari dua bulan, jutaan warga di Sumatera dan Kalimantan terpapar asap akibat terbakarnya hutan dan lahan. Kabut asap adalah ancaman serius bagi kesehatan seluruh organ tubuh [Pesan saya kepada Yth Presiden RI].
Asap bisa mengiritasi salaput lendir di hidung, mulut, dan tenggorokan, menimbulkan radang, dan memunculkan reaksi alergi.
Asap kebakaran juga menimbulkan infeksi, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga pneumonia atau radang paru.
"Kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi juga berkurang sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi," jelas Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P Senin (7/9/2015).
Asap memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru kronis, seperti bronkitis atau paru obstruktif kronik. Menurut Tjandra, kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan menyebabkan orang mudah lelah dan mengalami kesulitan bernapas.
"Berbagai penyakit kronik di berbagai organ tubuh, seperti jantung, hati, ginjal juga dapat saja memburuk. Sebab, dampak tidak langsung kabut asap dapat menurunkan daya tahan tubuh dan juga menimbulkan stres," ungkap Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan ini.
Untuk mengurangi dampak buruk kabut asap, khususnya pada bayi, ibu hamil, orang lanjut usia, anak-anak, dan pengidap penyakit kronis, Menteri Kesehatan Nila F Moelok meminta pemerintah daerah menyediakan rumah singgah (shelter).
Dalam shelter tersebut, kondisi udara diatur dengan adanya penjernih udara. Kementrian Kesehatan juga mengirimkan tenda isolasi ke Palangkaraya, Kalimantan.
Rumah singgah dan tenda isolasi tersebut menjadi lokasi evakuasi bagi warga yang tidak bisa berlindung di rumah mereka sendiri dari kabut asap.
Sebaran asap dari kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan telah menyebar luas.
Sebaran asap sangat tergantung pada arah angin. Berdasarkan pantauan satelit Himawari dari BMKG pada Minggu (25/10/2015) pukul 08.30 Wib, lebih dari tiga per empat wilayah Indonesia tertutup asap tipis hingga tebal [Pesan saya kepada Yth Presiden RI].
Hanya Jawa Tengah, DIY, sebagian Jawa Timur, NTT, Sulut, Maluku Utara dan bagian utara Papua saja yang tidak tertutup asap.
Asap tebal masih mengepung beberapa daerah. Pada pukul 09.00 Wib, jarak pandang di Padang 200 m berasap, Pekanbaru 1.000 m berasap, Jambi 900 m berasap, Palembang 200 m berasap, Pontianak 800 m berasap, Ketapang 200 m berasap, Palangkaraya 100 m berasap, dan Banjarmasin 400 m berasap.
"Pasokan asap dari hotspot juga masih besar. Hotspot pantauan satelit Terra & Aqua pada Minggu pagi ada 1.187 hotpsot. Kualitas udara (PM10) di Pekanbaru 570 berbahaya, Jambi 518 Berbahaya, Palembang 325 Sangat Tidak Sehat, Pontianak 169 Tidak Sehat, Banjarbaru 73 Sedang, Samarinda 147 Sedang, dan Palangkaraya 1.511 Berbahaya. Hampir dua bulan lamanya warga di Riau, Jambi dan Palangkaraya terkepung asap level Berbahaya," kata Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam rilisnya, Minggu (25/10/2015).
Sesungguhnya asap tipis di menutup langit Jakarta sudah berlangsung sejak Jumat (23/10/2015) hingga sekarang. Partikel halus dari asap tipis ini melayang di atmosfer pada ketinggian sekitar 1.000-3.000 meter. Pada pagi hari kelihatan lebih tebal karena bercampur dengan kabut atau uap air.
Masyarakat tidak ada yang perlu khawatir dengan adanya sebaran asap tipis dari kebakaran hutan dan lahan tersebut. Sifatnya temporer, yang mudah berubah setiap saat tergantung pada arah dan kecepatan angin. Kualitas udara di Jakarta saat ini masih normal hingga sedang. Justru asap kendaraan bermotor yang lebih berbahaya bagi kesehatan.
Bak wabah penyakit mematikan, bencana kabut asap masih terus menerpa dan menjalar di banyak provinsi Pulau Sumatera serta Pulau Kalimantan.
Pemerintah pusat, legislatif maupun ekskutif, bukannya berpangku tangan.
Setidaknya sejak dua bulan ke belakang, Agustus 2015, kabut asap yang disebabkan pembakaran hutan dan lahan ini menjadi satu dari sekian banyak persoalan yang menjadi bahasan utama para pemangku kebijakan.
Namun, ketika para politikus di Senayan asyik beradu argumentasi di ruangan berpendingin, kala sang presiden dan pembantunya sibuk mengatur langkah, korban justru semakin bertambah pula.
Tidak sedikit pihak yang meminta pemerintah untuk segera menetapkan serangan kabut asap sebagai bencana nasional, sehingga segala sumberdaya bisa dialokasikan secara maksimal dan terstruktur untuk mengatasi masalah ini. Namun, sampai Rabu (21/10/2015), tuntutan itu belum terjawab.
Tak ayal, banyak pihak yang berupaya mengingatkan para pembesar Negara untuk segera menggelar aksi nyata—bukan sekadar memperbincangkan bencana kabut asap atau bahkan menjadikannya komoditas politik.
Satu kritik pedas terebut, dilontarkan Afni Zulkifli melalui akun Facebook miliknya.
Pada kolom keterangan akunnya, Afni mengaku lulusan program Master Politik Universitas Riau. Secara ringkas, bernas, tapi menggigit, ia memberikan testimoni mengenai kehidupan warga di daerah bencana kabut asap.
Berikut tulisan Afni yang diunggah kea kun Facebooknya, Selasa (20/10/2015) :
Mau Tahu Rasanya Azab Asap, Pak Presiden? Malam ini jelang berganti hari, pukul 23.15 WIB (20/10), asap menyerbu hingga ke kamar tidur. Seperti biasa, terbatuk-batuk karena tersedak asap. Untuk sedulur se Indonesia Raya yang tak berada di daerah bencana, mau tahu rasanya siksa azab asap? Kira-kira, beginilah deskripsi rasanya:
Saat dihirup, terasa ada serbuk-serbuk sisa kebakaran menusuk hidung. Pedas!
Lalu partikelnya terasa mengisi rongga paru-paru dengan kasar. Berat saat dihirup, lebih berat saat dilepas. Panas!
Sekali tarikan nafas (menghirup dan menghembuskannya kembali), butuh waktu beberapa detik. Harus perlahan,pelan-pelan, jika tak ingin dada terasa ditekan. Sesak Nafas..!!!
Dan itu saya rasakan di usia 30 tahun. Dan itu saya rasakan di kamar ber-AC.
Bagaimana dengan para bayi yang baru lahir? Bagaimana dengan para balita yang membutuhkan udara bersih untuk otak dan paru-paru mereka? Bagaimana dengan para lansia yang kerja jantungnya sudah melemah? Bagaimana dengan rakyat jelata yang tak punya AC di rumah mereka? Bagaimana dengan Putri kecil saya Hanina? Sebagaiseorang Ibu, saya sudah berupaya sekuat tenaga mengipas-ngipasdi dekat hidungnya, berharap udara berbahaya tak dihirupnya saat tidur. Tapi Hanina butuh bernafas. Udara berkualitas berbahaya itu, satu-satunya cara agar putri kecil saya tetap bernyawa.
Ada video balita kejang-kejang dan muntah-muntah, digotong oleh Ibunya yang begitu panik luar biasa. Itu video NYATA BUKAN REKAYASA di daerah Palangkaraya. Kabarnya di sana tingkat ISPU sudah melebihi 3.700. Padahal ISPU level berbahayaada di angka 300. Silahkan bayangkan bagaimana rasanya udara tercemar asap dengan tingkat polutan di angka 3.700..!
Riau pernah disebut kepala BNPB menyentuh level 900 saja sudah sesak, apalagi sampai di level 3.700.
Neraka seperti apa yang sedang dipertontonkan para penguasa dan pengusaha serakah perusak alam di negeri ini...?!?
Para balita bertumbangan menghuni bilik-bilik rumah sakit. Tubuh-tubuh mungil nan ringkih yang tak mengerti tentang hutan alam berubah jadi lahan sawit itu, harus sekarat setelah menghirup udara berkualitas berbahaya. Bukan sehari dua mereka bertahan, tapi sudah berbulan-bulan lamanya.
Andai kami para Ibu berteriak dan mencaci maki pemerintah yang kalian cintai, tolong maklumi. Ini soal HAK bernafas yang diberikan gratis oleh Tuhan dan DIRAMPAS PAKSA oleh tangan-tangan manusia serakah. Ini bencana yang harusnya bisa dihindari. Kami LAYAK dan SANGAT PANTAS UNTUK MARAH....!!!
Korban terpapar asap di Riau (data terbaru) sudah mencapai 77.665 orang. Helloooooo Indonesia, itu angka-angka berasal dari manusia semua. Mau berapa kuburan lagi yang harus digali, untuk disebut bahwa bencana asap tahun ini sudah menjadi sebuah TRAGEDI....?!? (*)
JAMBI - Kabut asap masih menyelimuti Jambi, sehingga suasana di sembilan kabupaten di daerah itu terlihat lebih gelap, Sabtu (10/9). Jarak pandang pun menjadi berkurang dibandingkan sebelumnya.
Saat ini, kabut asap menyelimuti sembilan kabupaten dan kota di Jambi. Buruknya kualitas udara bisa berdampak pada kesehatan. Kualitas udara terburuk terjadi di Kota Jambi, Kerinci, serta Muaro Jambi. Selain kabut dari kebakaran lahan di Jambi, kabut kiriman dari provinsi tetangga.
Kabut asap di daerah itu dipicu kebakaran lahan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Muaro Jambi, Tebo, Batanghari, Merangin, juga dari provinsi Sumatra Selatan. Selain itu, kabut asap juga mengganggu kesehatan warga, mulai mata pedih hingga nafas sesak. Angka indeks standar pencemaran udara (ISPU) sudah di atas 120, yang berarti berbahaya bagi kesehatan. Status siaga satu pun ditetapkan.
Kabut asap diperkirakan hilang bila hujan turun. Namun, menurut prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jambi, hujan baru akan turun awal Oktober mendatang.
Hasil pantauan di lapangan memang kabut asap semakin tebal dan pekat namun pada kisaran pagi hari sekitar pukul 10.00 sampai 11.00 WIB terjadi tiupan angin sehingga kabut asap bisa bergerak dan tidak memperburuk kondisi di Kota Jambi. (Romy)