Tampilkan postingan dengan label Sinkretisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sinkretisme. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Januari 31, 2015

Perbedaan Vihara dan Kelenteng

 BENTUK KELENTENG
BENTUK VIHARA
Banyak yang salah kaprah, atau bahkan tidak mengetahui sama sekali bahwa 'vihara' dan 'kelenteng' itu berbeda. Ada yang menganggap 'kelenteng' adalah panggilan lain dari 'vihara', jelas semua itu adalah salah. Pada kesempatan kali ini, Anda akan mengenal lebih lanjut, apa sajakah perbedaan 'vihara' dan 'kelenteng'.
a. Vihara
* Adalah rumah ibadah umat Buddha
* Biasanya berarsitektur India/Thailand, ada pula yang berarsitektur Tiongkok
* Di dalam Vihara aliran Theravada, hanya ada rupang (patung) Buddha Gautama beserta 2 muridNya. Di dalam Vihara aliran Mahayana, terdapat 3 rupang, yaitu: Rupang Buddha Gautama, Rupang Bodhisattva Avalokiteshvara, Rupang Bodhisattva Ksitigharba/Bodhisattva lainnya.
* Tidak terdapat tempat untuk membakar kertas sembahyang.
* Upacara keagamaan biasanya dilakukan secara jemaat yang disebut Puja Bakti/Kebaktian, walaupun umat juga diberi kesempatan untuk beribadah secara individu. Setelah beribadah umat biasanya akan diberi dhammadesana (khotbah/ceramah).
* Sebuah tempat bisa dikatakan Vihara apabila: memiliki minimal 1 ruang dhammasala (ruang kebaktian), memiliki kuti (tempat tinggal bikkhu), perpustakaan, bahkan ruang khusus untuk khotbah. Vihara yang lebih kecil disebut Cetya yang hanya memiliki 1 ruang dhammasala (ruang kebaktian) tanpa memiliki dhammasala dan perpustakaan. Vihara yang lebih besar dan memiliki taman disebut Arama. Vihara bisa disebut Arama apabila: memilkiki minimal 1 ruang dhammasala, kuti, perpustakaan, ruang khotbah, dan yang paling penting taman.
* Vihara biasanya menggunakan nama berbahasa Pali atau Sanskerta. Contoh: Vihara Dharma Loka, Vihara Vimala Virya, Vihara Dhamma Metta Arama, Vihara Vipassana Graha, Cetya Tisaranagamana, dll.

b. Kelenteng
* Adalah rumah ibadah umat Konghucu/Tao
* Biasanya berarsitektur Tiongkok
* Di dalam Kelenteng terdapat rupang para Dewa/Dewi yang dipuja oleh umat
* Terdapat tempat untuk membakar kertas sembahyang
* Umumnya upacara keagamaan dilakukan secara individu
* Biasanya juga sekaligus merupakan tempat perkumpulan/yayasan sosial, seperti Kelompok Pemain Barongsai, dll.
* Kelenteng biasanya diberi nama dalam bahasa Mandarin atau bahasa Indonesia. Contoh: Kelenteng Tua Pek Kong, Kelenteng Dewi Sakti, Kelenteng Surya Bakti, dll.

Tidak heran kekeliruan ini terjadi. Pada masa Orde Baru, pemerintah RI melarang segala jenis apapun kegiatan atau tempat yang berbau tradisi Tionghua. Sehingga Kelenteng yang merupakan salah satu tradisi Tionghua akhirnya terancam ditutup. Untuk mengatasi hal itu, sebagian Kelenteng dan umat Konghucu saat itu berlindung di bawah naungan agama Buddha, sehingga mengubah nama Kelenteng menjadi nama Vihara. Tidak hanya itu, umat Konghucu yang bernaung menjadi agama Buddha pun hanya menyandang gelar agama Buddha saja, tapi tetap melakukan tata cara ibadah agama Konghucu. Sebagian umat lain malah pindah ke agama lain seperti Katolik, Protestan, Islam, ataupun Hindu yang ketika itu merupakan agama resmi.

Sejak Orde Reformasi, atau lebih tepatnya masa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid, kebijakan yang melarang kegiatan atau tempat yang berbau tradisi Tionghua itu kemudian dihapuskan. Sejak saat itulah umat Konghucu lebih leluasa beribadah dan melakukan aktivitas keagamaan dan kebudayaan seperti tarian Barongsai, Imlek, dll. Dan sejak pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek ditetapkan menjadi hari libur nasional. Banyak pula Kelenteng yang kembali mengganti nama seperti nama semula. Namun, adapula Kelenteng yang tetap mempertahankan nama Vihara yang sebetulnya hanyalah merupakan nama sementara.

Dan dulu, sebelum agama Konghucu diresmikan, orang awam juga keliru membedakan mana Kelenteng dan mana Vihara, karena menurut mereka, hampir semua orang Tionghua yang pergi ke Kelenteng atau Vihara, sehingga umat Buddha dan umat Konghucu pun dicap sebagai agama yang hanya dianut oleh etnis Tionghua. Padahal, hal ini salah. Di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, banyak pula warga asli Indonesia yang menganut agama Buddha.

Dampaknya tidak hanya sampai di situ, karena larangan pada Orde Baru, terjadilah penggabungan 3 tempat ibadah menjadi satu. Tempat ibadah itu disebut Vihara Tri Dharma (Tiga Ajaran: Buddha, Konghucu, Tao) Dan tempat ibadah ini hanya terdapat di Indonesia. Walaupun berdampak negatif yaitu timbulnya kekeliruan, tapi tempat ibadah ini juga berdampak positif yaitu mencerminkan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Perbedaan Agama Buddha dan Konghucu
a. Agama Buddha
Penyebar Ajaran     : Sidharta Gautama Buddha
Asal Ajaran            : India
Kitab Suci              : Tipitaka (Theravada, bahasa Pali) atau Tripitaka (Mahayana, bahasa Sansekerta)
Rumah Ibadah        : Vihara
Bahasa Asli            : Bahasa Pali atau bahasa Sansekerta
Pemimpin Agama   : Bikkhu (Theravada), Biksu (Mahayana), Bikkhuni (Bikhhu Wanita)
Salam Keagamaan  : Namo Buddhaya; Namaste

Padanan kata yang sering digunakan untuk merujuk "Tuhan" adalah Sanghyang Adi-Buddha Tuhan Yang Maha Esa (lebih sering digunakan oleh Buddhayana/Ekayana). Aliran Theravada lebih sering menggunakan padanan kata Sang Tiratana.

b. Agama Konghucu
Penyebar Ajaran      : Nabi Konfusius
Asal Ajaran              : Tiongkok
Kitab Suci                : Sishu, Wujing, Xiao Jing
Rumah Ibadah         : Kelenteng / Lintang
Bahasa Asli              : Bahasa Mandarin (bahasa Tiongkok)
Pemimpin Agama     : Pendeta Konghucu
Salam Keagamaan    : Wei De Dong Tian

Padanan kata yang sering digunakan untuk merujuk "Tuhan" adalah Tian/Thian Tuhan Yang Maha Esa.

http://wirawanperdana.blogspot.com/2013/06/perbedaan-vihara-dan-kelenteng.html#comment-form

Selasa, Desember 03, 2013

Tradisi Pernikahan Adat Tionghoa Yang Masih Bertahan

JAMBI - Pernikahan merupakan sebuah momen yang paling luar biasa dalam kehidupan manusia, dimana saat itu baik pria maupun wanita memutuskan untuk membentuk keluarga sendiri dan menyambung keturunan mereka. Hingga momen tersebut akan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya baik dari berbagai aspek. Masyarakat Tionghoa di Indonesia merupakan masyarakat yang terdiri dari berbagai suku/ marga yang masih mempercayai adat leluhurnya.
Dengan banyaknya kebutuhan yang harus dilengkapi dan kekurang pengetahuan dalam masalah pernikahan, calon pasangan mempelai akhirnya menyerahkan kepada orangtuanya untuk mempersiapkannya segala sesuatu.

Seperti Lili Lim (Lim Li Cen) memutuskan untuk menerima Rudy (Chien Siang Hau) sebagai calon pendampi hidupnya pada hari Senin, 2 Desember 2013 melalui antaran adat, dalam rangkaian adat Tionghoa dikenal dengan sebutan Sangpia, sedangkan prosesi pernikahan dilakukan pada hari Rabu, 4 Desember 2013.

Seusai Sangpia (Sangjit) dilakukan, siang harinya di rumah calon mempelai wanita mengadakan resepsi hari pertunangan dengan mengundang tetangga disekitar tempat tinggalnya serta sanak famili dari kedua belah pihak dan tidak ketinggalan juga teman-teman dekat keluarga calon mempelai wanita, jamuan sederhana dilakukan di rumah calon mempelai wanita yang berlokasi di Jalan Koni 1, Rt. 3, Kelurahan Talanhgjauh, Kecamatan Jelutung, kota Jambi.

Lili Lim (Lim Li Cen) merupakan adik Salim sekretaris MATAKIN Kota Jambi, maka tak heran resepsi pertunangan banyak dihadiri oleh petinggi dari majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Kota serta tidak ketinggalan dari pengurus Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kota Jambi.

Hari dan waktu yang baik untuk melakukan Sangjit ini ditetapkan pada saat proses lamaran tersebut. Dalam prakteknya, Sangjit sering ditiadakan atau digabung dengan lamaran. Namun sayang rasanya meniadakan prosesi yang satu ini, karena makna yang terkandung di dalamnya sebenarnya sangat indah.“Secara harfiah, Sangjit dalam bahasa Indonesia berarti proses seserahan adat. Atau proses kelanjutan lamaran dari pihak mempelai pria dengan membawa persembahan ke pihak mempelai wanita.

Dalam budaya China, pernikahan yang akan dilaksanakan wajib harus memperhitungkan hari, jam dan tanggal baik bagi tradisi adat China. Yang diiharapkan nantinya, hari, tanggal dan jam baik tersebut adalah sebagai Do'a, sehingga kedua mempelai bisa menikmati kehidupan pernikahan mereka dengan bahagia sampai akhir hayat mereka.

Pada umumnya proses lamaran dilakukan kira-kira seminggu sebelum berlangsungnya pernikahan/ sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Lamaran merupakan pemberian barang dari mempelai pria untuk mempelai wanita yang nantinya akan digunakan oleh kedua calon mempelai untuk kehidupan setelah masa pernikahan. Barang yang diserahkan biasanya melambangkan kelanggengan, kesuburan dan juga kebahagiaan untuk pasangan. Yang unik dari barang lamaran pada adat ini ialah banyaknya nominal 9 (jiu) atau 8 (fat) yang menjadi kunci pokok langgeng dan berkembangnya kebahagiaan bagi kedua mempelai. (Romy)* www.ayojambi.com/

Kamis, November 28, 2013

Mulai 2014, Bikin KTP, KK, dan Akta Kelahiran Gratis!

JAKARTA, KOMPAS.com — Proses pengurusan dan penerbitan semua dokumen kependudukan, mulai dari akta kelahiran, kartu tanda penduduk (KTP) elektronik, hingga akta kematian akan bebas dari pungutan biaya.
Hal ini tercantum dalam Rancangan Undang-Undang tentang Administrasi Kependudukan yang baru saja disahkan dalam forum rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Selasa (26/11/2013).

Wakil Ketua Komisi II DPR Arief Wibowo menuturkan, pengurusan dan penerbitan itu meliputi penerbitan baru, penggantian karena rusak atau hilang, perbaikan akibat salah tulis, dan atau akibat perubahan elemen data.

"Dengan demikian, diharapkan, semua warga negara dapat dengan mudah memiliki segala dokumen kependudukan yang diperlukan," ujar Arief saat membacakan laporan Komisi II DPR terkait proses pembahasan RUU yang sudah diusulkan sejak tahun 2012 ini.

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengatakan, semua anggaran untuk penerbitan dokumen itu sudah ditanggung oleh anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Oleh karena itu, dia meminta masyarakat untuk sama-sama mengawasi aparatur perangkat daerah untuk memastikan bahwa tidak ada pungutan liar (pungli) yang terjadi dalam proses kepengurusan data kependudukan. Ia meminta agar masyarakat segera melapor jika ada aparat yang mengumpulkan pungli.

"Apa pun dokumen kependudukannya, mulai dari akta kelahiran, ada KTP, akta kematian, tidak boleh dipungut biaya. Semua anggaran itu akan dibiayai pemerintah pusat," katanya.

Sebelumnya, Gamawan menuturkan bahwa pemberlakuan biaya gratis dalam membuat dokumen kependudukan itu akan dimulai sejak awal Januari 2014. Pemerintah mengingatkan, aparat yang masih memungut biaya diancam dengan pidana dua tahun penjara atau denda seberat-beratnya Rp 25 juta.

Selain itu, semua penerbitan dokumen kependudukan dikeluarkan oleh dinas kependudukan dan catatan sipil (disdukcapil) di semua kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, warga tidak perlu lagi ke pengadilan hanya untuk mendapatkan akta kelahiran.

http://nasional.kompas.com/read/2013/11/26/1821506/
* www.ayojambi.com/

Selasa, November 26, 2013

Perkhin Pusat Menyerakan Kitab Suci Su Si Kepada Makin-Makin

JAMBI,ayojambi.com – Setelah selesai mensosialisasikan peran wanita dalam agama Khonghucu selama dua hari di Kota Jambi dan Kabupaten Tanjungjabung Barat. Rombongan Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN) Pusat yang dinahkodai oleh Gianti Setiawan.
Sebelum rombongan PERKHIN Pusat kembali ke Jakarta, mereka menyempatkan diri mengunjungi Kelenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) di kota Jambi, ternyata kehadiran PERKHIN Pusat disambut oleh Sukardi ketua MAKIN Leng Chun Keng dan Gianti Setiawan ketua PERKHIN Pusat menyerahkan Kitab Suci Su Si kepada Sukardi, disamping itu Penasehat PERKHIN Pusat Hanida Harry juga menyerahkan buku-buku tentang agama Khonghucu kepada Sukardi.

Sebagaimana lazimnya setiap ada tamu yang berkunjung ke MAKIN-MAKIN Jambi, para tamu dijamu makanan dan minuman ala kadarnya, selain aneka kue-kue rombongan PERKHIN Pusat dijamu buah durien.

Seusai mengunjungi MAKIN Leng Chun Keng, PERKHIN Pusat melanjutkan perjalanan menuju Kelenteng MAKIN Sai Che Tien yang tidak jauh dari MAKIN Leng Chun Keng, Ketua PERKHIN Pusat diterima oleh Sekretaris MAKIN Sai Che Tien Handoko Thetro dan rohaniawan MATAKIN Jambi The Lien Teng.

Ketua PERKHIN Pusat beserta staf PERKHIN melihat altar Nabi Fuxi dan ruangan kursus bahasan Mandarin yang dimotori MAKIN Sai Che Tien sejak tahun 2009, tidak ketinggalan ketua PERKHIN Pusat menyerahkan Kitab Suci Su Si kepada Rohaniawan MATAKIN Jambi The Lien Teng diiringi penyerahan buku keagamaan Khonghucu. seusai dari Sai Che Tien, PERKHIN Pusat mengujungi Kelenteng Hok Kheng Tong yang belum bergabung menjadi MAKIN.

Selanjutnya rombongan menuju MAKIN Gi Hong Tong dikawasan kelurahan Payolebar, disini rombongan PERKHIN Pusat disambut ketua MAKIN Gi Hong Tong beserta istri dan beberapa pengurus kelenteng Gi Hong Tong.

Gianti Setiawan juga menyerahkan Kitab Suci Su Si kepada rohaniawan Gi Hong Tong Jambi, ketua PERKHIN Pusat juga memesan kepada MAKIN_MAKIN yang dikunjungi, agar Kitab Suci Su Si mesti sering dibaca, bukan sebagai barang pajangan maupun disimpan dalam lemari.

Tanggapan positif dari MAKIN disampaikan oleh Sukardi selaku ketua MAKIN Leng Chun Keng, “Kita merasa senang rombongan Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN) telah sudi mengunjungi kelenteng kita yang belum selesai dibangun”, sedangkan tanggapan dari Sekretaris MAKIN Sai Che Tien Handoko Thetro “Dengan kunjungan rombongan PERKHIN Pusat ini, mendorong semangat kami untuk mengembangkan Khonghucu di Jambi,” sedangkan unggapan Alex Sujanto selaku ketua MAKIN Gi Hong Tong yang sekaligus sebagai wakil MATAKIN Provinsi Jambi menyatakan bahwa kehadiran PERKHIN Pusat sangat bagus, apa lagi dengan mengunjungi satu persatu MAKIN yang ada di Kota Jambi sehingga tidak memicu rasa cemburu adanya pembedahan MAKIN, karena ada kabar bahwa PERKHIN hanya akan mengunjungi beberapa MAKIN saja, Tambah Alex bahwa prinsif di Jambi bedah dengan daerah lain, maka sebagai masukan jika berkunjungi ke Jambi mampir sebentar saja ke MAKIN-MAKIN, maka mereka akan merasa dihargai.

Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) di Jambi yang memiliki SK MATAKIN Pusat terdiri dari, 1. MAKIN Sai Che Tien (pertama berdiri tahun 2006),  2. MAKIN Kwan Kong Bio (Kuala Tungkal dan Sk nya telah mati), 3. MAKIN Leng Chun Keng, 4. MAKIN Gi Hong Tong, 5. MAKIN Gi Hong Tong, 6. MAKIN Leng San Keng Kuala Tungkal (Tanjab Barat), 7. MAKIN Lam Po Tong dan 8. MAKIN Seng To Keng, sedangkan beberapa kelenteng yang belum menyerahkan susunan pengurus untuk dijadikan MAKIN. (Romy)

Minggu, November 24, 2013

Empat Penjuru Adalah Saudara

JAMBI, yaojambi.com  – Sungguh mulia sekali Perempuan khonghucu Indonesia yang di singkat PERKHIN rela menempuh perjalanan lebih kurang 3 jam dari pusat Kota Jambi ke Kabupaten Tanjungjabung Barat (Kuala Tungkal) untuk membagi ilmu keagamaan kepada umat Khonghucu yang berada di kota Kuala Tungkal, sosialisasi dipimpin oleh ketua Perempuan Khonghcu Indonesia (PERKHIN) Pusat (23/11),
rombongan Perkhin bertolak dari Kota Jambi pukul 08.20 dan tiba di Kelenteng Makin Leng San Keng yang berlokasi di Parit Gompung pukul 11.30 WIB.
Rombongan Perkhin Pusat dan Provinsi Jambi disambut oleh ketua Makin Leng San Keng Alex Tay dan ketua Perkhin Leng San Keng Lystiani beserta pengurus Makin maupun Perkhin Kuala Tungkal.

Kehadiran Perkhin demi untuk berbuat kebajikan dan membagi ilmu pengetahuan tentang keagamaan kepada umat Khonghucu di kota Kuala Tungkal - Jambi, mereka rela mengambil cuti, meninggalkan keluarga maupun usaha hanya untuk memajukan perempuan Khonghucu Kuala Tungkal.

Sosialisasi mengenai peranan Perkhin yang dibawa naungan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) maupun Perkhin didalam wadah Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN). 

Kedatangan rombongan perempuan Khonghucu juga untuk bekal kepada Perkhin Tanjab Barat, bekal yang diberikan diantaranya, bagamana tatacara sembahyang (kebaktian) yang benar, tatacara memimpin melakukan doa kepada arwah yang telah wafat, bagaimana menghormati kepada yang lebih tua dan khotba keagamaan diselingi paduan suara.

Kunjungan kerja Perkhin ke Jambi bukan sekedar untuk bersenang-senang, melainkan untuk memberikan bekal kepada Perkhin Jambi dan Kabupaten Tanjab Barat agar kedepan masing-masing Perkhin mampu memberikan pelayanan kepada umat Khonghucu di Provinsi Jambi sebagai mitra kerja MATAKIN di daerah Jambi.

Gianti Setiawan Ketua Perkhin Pusat mengatakan, wanita bukan hanya dapat dibagian dapur sbagai pemegang konsumsi, perempuan Khonghucu juga bisa memimpin kebaktian dan ketua MAKIN maupun MATAKIN, “Banyak yang beranggapan bahwa tugas perempuan hanya dibagian dapur sebagai pensuplai konsumsi, namun sebanrnya perempuan juga bisa menjadi pemimpik kebaktian, menjadi Ketua MATAKIN atau ketua MAKIN.” Kata Gianti dihadapan puluhan umat Khonghucu Kuala Tungkal (Romy). 
* www.ayojambi.com/

Jumat, November 22, 2013

Srikandi Perkhin Bagi-Bagi Ilmu Ke Daerah

JAMBI, ayojambi.com – Sungguh mulia sekali, sebelas Srikandi Perempuan khonghucu Indonesia yang di singkat Perkhin telah tiba di Jambi dengan pesawat Citylink. Kehadiran Perkhin demi untuk berbuat kebajikan dan membagi ilmu pengetahuan keagamaan kepada umat Khonghucu di Jambi, mereka rela mengambil cuti, meninggalkan keluarga maupun usaha hanya untuk tabungan masa depan dikehidupan mendatang.
Kehadiran pengurus inti Perkhin Pusat ke Jambi adalah untuk melakukan sosialisasi mengenai peranan Perkhin dalam tubuh organisasi MATAKIN serta peran Perkhin didalam Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN), selain mensosialisasikan fungsi Perkhin, kedatangan rombongan perempuan Khonghucu juga untuk mengajarkan tatacara sembahyang (kebaktian) yang benar, tatacara memimpin sekolah minggu dan paduan suara.

Kunjungan kerja Perkhin ke Jambi bukan sekedar untuk bersenang-senang, melainkan untuk memberikan bekal kepada Perkhin Jambi agar kedepan mampu memberikan pelayanan kepada umat Khonghucu di Provinsi Jambi sebagai mitra kerja MATAKIN.

Hasil pantauan Reporter China Town ke beberapa MAKIN yang ada di Kota Jambi, sampai hari Rabu (20/11) mereka baru menerima pemberitahuan dari Perkhin Jambi akan ada kunjungan kerja Perkhin Pusat ke daerah Jambi dan kabupaten Tanjung Jabung Barat (kuala tungkal).

Gianti Setiawan Ketua Perkhin Pusat mengatakan, untuk kali pertama Perkhin Pusat menurunkan pengurus yang begitu banyak, pada hal semua pengurus Perkhin pusat mempunyai pekerjaan didaerah masing-masing, bahkan ada yang menjadi guru agama disekolahan, ada yang bekerja di perusahaan swasta, namun demi untuk memberikan sedikit bekal kepada Perkhin Jambi, maka mereka (pengurus Perkhin) rela tinggali pekerjaan, keluarga selama tiga hari untuk ke Jambi, domisili pengurus Perkhin Pusat ada yang tinggalnya di Bandung, Bogor, Tasik Malaya, Solo, Karawang dan Tangerang.

Sebelum menutup pembicaraan, ujar pengurus Perkhin Pusat, kami juga ada kesibukan masing-masing kalau mau sekedar jalan-jalan, kami gak bakal pilih Jambi lah.

Kedatangan Perkhin Pusat semestinya mendapatkan respon yang positif terhadap peran MATAKIN di Jambi untuk tabungan masa depan dikehidupan mendatang, maka mari kita berbuat kebajikan. (Romy) 
* www.ayojambi.com/

MAKIN Gi Hong Tong Menerima Penghargaan

JAMBI, ayojambi.com - Kita pasti pernah mendengar peribahasa ini, “Siapa yang menanam, Dia yang akan menuai.” Maksudnya, jika seseorang menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan pula. Dan jika seseorang menanam kejelekan, maka ia akan menuai hasil yang jelek pula.
Rabu (20/11) kemarin, Danyon 142/ Ksatria Jaya Letkol Infanteri Fredy Sianturi mengunjungi Kelenteng Makin Gi Hong Tong Jambi yang beralamat di Jalan Prof. M. Yamin, Lorong Teratai, Rt. 14, kelurahan Payolebar, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, pada kunjungan ini Letkol Infanteri Fredy Sianturi melihat Kelenteng Makin Gi Hong Tong yang baru selesai direnovasi sekaligus Penyerahan Plakat Patung TNI kepada Alex Sujanto selaku Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Gi Hong Tong Jambi, Alex Sujanto juga sebagai Wakil Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi.

Penyerahan Plakat Patung TNI Danyon 142 Ksatria Jaya kepada MAKIN Gi Hong Tong sebagai tanda kerja sama yang baik selama ini antara TNI Batalyon Infantri 142/ Ksatria Jaya Jambi dengan tempat ibadah umat Khonghucu selama ini.

Kata Alex Sujanto, “Selama ini kita lakukan kerja sama yang baik dengan Batalyon Infantri 142/ Ksatria Jaya Jambi” tambah Alex, Disamping itu Danyon 142/ Ksatria Jaya Jambi juga sebagai pembina Hok Liong Say dan Liong.

Selama ini Yonif 142/ Ksatria Jaya Jambi sering ikut ambil bagian dalam atraksi Barongsay dan Liong di Malam Perayaan Cap Go Meh.

Kelenteng MAKIN Gi Hong Tong Jambi salah satu tempat ibadah Khonghucu yang sering dikunjungi para pejabat provinsi Jambi, lantaran posisi Kelenteng Gi Hong Tong berdampingan dengan Masjid Al-Jihad (Romy)
* www.ayojambi.com/

Rabu, November 20, 2013

Baksos Siswa SPN Jambi Di Kelenteng Makin Gi Hong Tong Jambi

JAMBI - Dalam rangka mewujudkan sinergitas Polri dengan masyarakat sekaligus bertujuan peduli terhadap tempat-tempat ibadah di Kota Jambi, pihak Sekolah Polisi Negara (SPN) Jambi yang terletak di Kabupaten Muaro Jambi menurunkan satu pleton siswa Pendidikan Pembentukan (Diktuk) Bintara tahun 2013 untuk melakukan bakti sosial di Kelenteng Makin Gi Hong Tong Jambi yang beralamat di Jalan M. Yamin, Rt. 14, Kelurahan Payolebar, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Sabtu (16/11/2013).
Menurut, KOMPOL (komisaris polisi) Nelson Sianipar didampingi KOMPOL Mufrizen mengatakan, kegiatan bakti sosial membersihkan tempat-tempat ibadah tersebut adalah untuk membina siswa calon Bintara agar merasa peduli terhadap tempat ibadah masyarakat Kota Jambi, baksos antara lain di Masjid-masjid, Gereja-gereja, Vihara, Pura dan Kelenteng.

"Tujuannya yakni membangun sinergitas dengan masyarakat dan menggugah kepekaan sosial bagi siswa sebagai dasar pembentukan karakter sebagai Polisi yang profesional, modern dan patuh terhadap hukum," pungkas Nelson.

Alex Sujanto selaku Ketua Makin Kelenteng Gi Hong Tong Jambi merasa bersyukur dengan adanya bakti sosial dari Siswa Sekolah Polisi Negara (SPN) Jambi terhadap kelentengnya, rasa sykur dan terima kasih atas partisipasi dari Siswa SPN Jambi yang datang membersihkan Kelenteng Gi Hong Tong serta mengecat tembok kelenteng. ujar Alex diselah baksos siswa SPN Jambi.
* www.ayojambi.com/

Rencana Perkhin Pusat Jambangi Makin Jambi

JAMBI, ayojambi.com - Bila tidak ada alar melintang, Jumat (22/11) mendatang sebanyak sebelas pengurus intin Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN) pusat yang dibawah naungan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia akan kunjungi Perkhin Jambi dan Perkhin Leng San Keng di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Kehadiran Perkhin Pusat adalah untuk melakukan sosialisasi mengenai peranan Perkhin dalam tubuh organisasi keagamaan MATAKIN maupun peran Perkhin di MAKIN-MAKIN, selain mensosialisasikan fungsi Perkhin, kedatangan rombongan perempuan Khonghucu juga untuk mengajarkan tatacara sembahyang (kebaktian), sekolah minggu dan paduan suara, namun sangat disayangi nampaknya para pengurus Matakin dan Perkhin di Jambi belum begitu siap menerima kehadiran rombongan di Jambi. Pada hal rencana kunjungan ke Jambi bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk memberikan bekal kepada Perkhin Jambi agar mampu melayani umat Khonghucu di Provinsi Jambi sebagai mitra MATAKIN.

Hasil pantauan ayojambi.com ke beberapa MAKIN yang ada di Kota Jambi, sampai hari Senin (18/11) mereka belum menerima pemberitahuan dari MATAKIN Jambi, pada hal kunjungan Perkhin Pusat sangat bermanfaat bagi kepentingan MATAKIN dan Perkhin, bahkan dikabari kunjungan ini hanya sekedar jalan-jalan saja.

Menurut salah satu pengurus Perkhin Pusat yang dihubungi via phoncel, mengatakan, untuk kali pertama Perkhin Pusat turunkan personil yang begitu banyak, pada hal semua pengurus Perkhin pusat mempunyai pekerjaan didaerah masing-masing, bahkan ada yang ngajari agama disekolahan, demi untuk memberikan sedikit bekal kepada Perkhin Jambi, maka mereka (pengurus Perkhin) rela tinggali pekerjaan, keluarga, “ Kami disini serius pak, telah menyiapkan semua keperluan mulai dari buku, CD lagu dan lain sebagainya”. Hari ini teman-teman dari Tasik Malaya, Solo, Bandung Bogor, Karawan akan kumpul di Jakarta.

Sebelum menutup pembicaraan, ujar pengurus Perkhin Pusat, “Kami juga ada kesibukan masing-masing kalau mau sekedar jalan-jalan, kami gak bakal pilih Jambi lah.”

Kedatangan Perkhin Pusat semestinya mendapatkan respon yang positif terhadap peran MATAKIN di Jambi untuk tabungan masa depan dikehidupan mendatang, maka mari kita berbuat kebajikan. (Romy)

Kamis, November 07, 2013

Makin Sai Che Tien Jambi Memperingati “Sejit Go Hu Tua Lang Kong”

JAMBI –Hari ini, Kami, 7 Nopember 2013 (Cap Gwee Jiu Go imlek) merupakan hari ulang tahun (Sejit) Shenming Go Hu Tua Lang Kong,
maka setiap umat Khonghucu yang memiliki altar di rumah akan melakukan sembahyang, bagi yang tidak memiliki altar dapat melakukan sembahyang di kelenteng-kelenteng yang ada altar Sejit Go Hu Tua Lang Kong.
Maka sejak pagi hari puluhan umat Khonghucu di kawasan Koni VI melakukan sembahyang memperingati Sejit Go Hu Tua Lang Kong di Kelenteng Makin Sai Che Tien Jambi yang beralamat di Jalan Koni IV, Rt. 02, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.

Shen Ming Go Hu Tua Lang Kong merupakan salah satu dari sekian banyak shen ming yang di puja umat Khonghucu, termasuk di kelenteng Makin Sai Che Tien, Go Hu Tua Lang Kong adalah dewa pendamping altar Hok Hie Tee Sien (FUXI 伏羲).

Sembahyang kali ini, dipimpin oleh Ketua Matakin Kota Jambi sekaligus ketua Makin Sai Che Tien Darmadi Tekun (The Kien Peng), didampingi Handoko Thetro beserta beberapa pengurus inti Makin Sai Che Tien.

Ketua Matakin Kota Jambi Darmadi Tekun, mengatakan bahwa hari ini adalah hari  Go Hu Tua Lang Kong dititiskan sebagai shen ming (dewa), maka umat Khonghucu yang punya altar Go Hu Tua Lang Kong pasti lakukan sembahyang. “Kita lakukan sembahyang secara sederhana, karena Go Hu Tua Lang Kong merupakan shen ming (dewa) pendamping di Kelenteng Makin Sai Che Tien.” Ujar Darmadi Tekun. (Romy)
* www.ayojambi.com/

Senin, Oktober 21, 2013

Perayaan Kelahiran Nabi Khongcu 2564

Kapus Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama RI, Mubarok, SH. Msi
SOLO - Hujan deras disertai angin kencang mengguyur Kota Solo (19/10) malam. Tidak menjadi penghalang ribuan undangan mendatangi Gedung Wisma Boga, Solo (Jateng).
Malam yang gelap dengan kondisi cuaca yang tak bersahabat, namun tidak membuat para undangan untuk melewatkan momen spektakuler yang diselenggarakan oleh MAKIN Solo. Yakni, Perayaan Nasional hari kelahiran Nabi Khongcu 2564, nabi besar yang dipuja umat Khonghucu di dunia. Tak hanya itu, perayaan semakin megah karena bersamaan dengan perayaan 95 tahun Hari Jadi Majelis Agama Khonghucu (MAKIN) Solo dan 50 tahun masa bakti Haksu Tjhie Tjay Ing.

Ungkapan kebahagiaan disampaikan Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu (Matakin) Pusat, Ws, Ir. Wawan Wiratma.

Wawan Wiratma mengatakan, sejak Agama Khonghucu diakui sebagai salah satu agama di Indonesia, dari tahun ke tahun terlibat dalam kemajuan Agama Khonghucu. “Masa kini adalah waktunya pengurus beserta umat Khonghucu untuk memberi kontribusi lebih banyak untuk bangsa kita. Kita harus mampu mengejar ketertinggalan dari umat agama lain karena perlakuan diskriminatif di masa lalu,” ujarnya.

Perayaan Nasional itu berlangsung sangat meriah dengan dihadiri oleh Kapela Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama, Mubarok, SH. Msi, Kepala Bidang  Bimbingan Masyarakat Khonghucu Kementerian Agama RI, Hj. Emma Nurmawati Hadian, MM, Walikota Surakarta Fx. Hadi Rudyatmo serta Lintas Agama Kota Solo tidak ketinggalan pertunjukan kesenian Liong dan Barongsai Tripusaka Solo dengan Tari Merak dari sanggar Suryo Sumirat, paduan suara dari berbagai Makin di Indonesia yang memberikan kesan luar biasa. (Romy) * www.ayojambi.com/

Pertemuan Perkhin Nasional Di Solo

JATENG, SOLO - Untuk pertama kali pertemuan nasional Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN) yang dibawa naungan Majelis Tinggi Agama Khoghucu Indonesia di Solo/Jateng (18/10).
Sebelum acara dimulai para peserta melantunkan lagu-lagu rohani Khonghucu yang di pandu oleh dua srikandi dari Perkhin Pusat diantaranya Dq. Suryani dan Dq Novita Sari, Spd, dari masing-masing daerah membawa lagu-lagu rohani bernuasa Khonghucu dengan judul yang berbeda. Tepat pukul 10 diskusi dibuka secara resmi dengan pemukulan lonceng oleh ketua Matakin Pusat Xs, Wawan Wiratma didampingi oleh Ketua Perkhin Pusat, Gianti Setiawan dan ketua Makin Solo, Hendri Susanto. Pertemuan nasional di hadiri lebih dari 200 orang Perempuan Khonghucu diseluruh nusantara dengan tema "Kesungguhan hati menjadikan jarak tak berarti". Agenda pertemua Perkhin di Solo adalah diskusi Peluang Bisnis Perempuan Khonghucu disampaikan oleh Xs. Kim Giok Nio, sesi kedua Peran Perempuan dalam Agama Khonghucu bertindak sebagai pembicara adalah Bratayana Ongkowijaya, Xds dan dilanjutkan diskusi antar Perkhin yang disajikan oleh Gianti Setiawan ketua Perkhin pusat. Menurut ketua umum Matakin Pusat, ini merupakan gerakan yang positit, maka perlu kita (Matakin Pusat) ajungkan jempol.

Sedangkan kata Gianti ketua Perkhin Matakin, acara pertemuan Perempuan Khonghucu ini, adalah pertama dihadiri seluruh Perkhin nusantara, "Ini merupakan respon yang datang dari Perkhin, agar satu sama lain bisa mengenal dan menambah wawasan dari Makin-Makin yang ada di daerah, tambah Gianti, bisa kegiatan yang  dilaksanakan Perkhin tidak seramai ini, "Harapan kedepan Perkhin bisa lakukan secara rutin dari daerah ke daerah lain." Tambah Gianti, untuk tahun depan pertemuan kedua kalinya dilaksanakan di Manado (Romy)* www.ayojambi.com/

Minggu, Oktober 20, 2013

Pelayanan Yang Luar Biasa Dari Makin Solo

JATENG - Sebuah pelayanan yang luar biasa dipersembahkan Makin Solo kepada peserta Pertemuan Perempuan Khonghucu Indonesia (Perkhin), pada umumnya sebagai tuan rumah tidak pernah memperhatikan tamu/ peserta, namun berbedah dengan ketua Makin Solo Hendry Susanto yang begitu memperhatikan peserta dari luar daerah, layanan yang luar biasa mulai dari penjemputan tamu daerah, persiapan konsumsi yang tidak putus-putusnya di sajikan kepada peserta, bahkan menu yang disajikan apa cocok dengan selera.
Karena menu yang dihidangkan kepada adalah makanan merupakan makanan khas daerah Solo.

Pada umumnya orang yang sudah menjadi ketua, jarang mau berada di lokasi kegiatan, namun lain dengan Henry Susanto yang tidak pernah tinggalkan lokasi acara, beliau selalu mengotrol hidangan yang disajikan oleh panitia apa cocok sama lidah peserta, karena makanan yang disajikan adalah khas Solo yang rasanya manis.

Ujar Henry Susanto "Tamu yang datang umumnya dari luar pulau jawa, takut makanan khas Solo tidak cocok" (Romy)
* www.ayojambi.com/

Kamis, Oktober 17, 2013

Rombongan Perkhin Jambi Menuju Solo

JAMBI – Akhirnya rombongan Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN) Provinsi Jambi berangkat ke Solo (Jateng) untuk mengikuti pertemuan Nasional Perempuan Khonghucu Indonesia (PERKHIN) yang berada dibawa naungan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi Jambi dan Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Kota Jambi.
Seyogyanya keberangkatan rombongan Perkhin Jambi dipimpin oleh Herwai ketua Perkhin Provinsi Jambi, namun ada suatu hal maka rombongan dipimpin oleh wakil Ketua Perkhin Jambi, Suryanti. Ujar Herwai ketua Perkhin Jambi, “Berhubung sesuatu hal yang mendadak, maka yang membawa rombongan diwakili oleh Suryanti, wakil ketua Perkhin Jambi.

Kita sangat mengharapkan agar para peserta yang mewakili Kelenteng MAKIN Hok Sin Tong, Kelenteng MAKIN Gi Hong Tong, Kelenteng MAKIN Lam Po Tong dan Kelenteng MAKIN Leng San Keng Kuala Tungkal bisa mengunakan ajang pertemuan Perempuan Khonghucu yang kali pertama diikuti Provinsi Jambi, maka kita akan gunakan agenda tahunan Perkhin Pusat sebagai ajang mencari pengalaman, "Jambi mesti mengali ilmu dari Perkhin daerah lain dan kita juga akan lakukan study di Jawa Tengah."

Selain acara pertemuan tahunan Perempuan Khonghucu Indonesia, Perkhin Jambi juga akan menghadiri Hari Jadi MAKIN Solo ke 95 dan memperingati 50 Tahun Baksi Suci Xs. Tjie Tjay Ing sebagai rohaniawan Khonghucu. (Romy)
* http://ayen-servicekamera.blogspot.com/

Jumat, Agustus 30, 2013

Pertemuan Para Pemimpin Agama Khonghucu 2013

JAKARTA – Seusai acara Pertemuan Tingkat Tinggi Islam Khonghucu 2013 “The Islam and Confucian Summit 2013” yang dibuka oleh Wakil Presiden Boediono. Matakin Pusat kembali melakukan dialok dengan ketua Matakin seluruh provinsi.
Dalam rangka memfasilitasi dialog antara para pemimpin Khonghucu dan memberikan kontribusi pada penciptaan budaya perdamaian dan harmoni di dunia global, Dewan tertinggi untuk Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN ) mengadakan pertemuan dengan Majelis Tinggi Pemimpin Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Provinsi pada hari Minggu, 25 Agustus 2013 di lantai 6, Hotel Best Western Hariston, Jakarta.

The Confucian Religion Leaders Summit in 2013, dengan tema utama "Peran
Pemimpin Agama Khonghucu dalam Dunia Globalisasi", akan memberikan kesempatan berharga bagi Umat Khonghucu untuk terlibat dalam dialog yang konstruktif dengan para pemimpin Khonghucu untuk mengeksplorasi dan menyarankan kebijakan masa depan untuk meningkatkan peran pemimpin Konfusianisme dalam mempromosikan perdamaian dan harmoni.

Diharapkan bahwa dialog Pemimpin Agama Khonghucu disini memiliki efek global dan
menyediakan jalur dialog dan kerjasama yang antar lintas agama di Indonesia. Ini akan dilakukan secara permanen dan teratur mendorong masyarakat untuk menyatakan damai dan harmonis baik di tingkat lokal, nasional, regional dan internasional.

Tujuan:
Tujuan utama dari dialog ini adalah untuk berbagi ide, pengalaman, dan praktek-praktek terbaik di antara para pemimpin agama Khonghucu dalam mempromosikan perdamaian dan harmoni.

Dialog ini menyediakan kerangka kerja untuk:
1 . Kenali kebijaksanaan agama Konghucu dalam upaya menjaga perdamaian dan yang
penting bagi dunia modern.
2 . Explore prinsip Confusian tata kelola yang baik menjadi tindakan praktis.
3 . Menerjemahkan nilai-nilai Confusian dengan konsep modern kepemimpinan.
4 . Promosikan agama Khonghucu beasiswa, dialog, dan kerja sama.
5 . Menciptakan dan mempertahankan parterships pemimpin agama Konghucu untuk mengembangkan Program kerja dan sumber daya manusia.

Metode:
The Confucian Religion Leaders Summit in 2013 membahas membahas peran para tokoh Agama Khonghucu, para pemimpin Agama Khonghucu untuk dapat mempromosikan perdamaian dan harmoni di dunia global.

Pembicara terdiri dari:

1. Dr. Tong Yun-kai (President of The Confucian Academy in Hong Kong).
2. Prof. Kong Weiqin, Ph.D., Litt.D. (Chairman of Taiwan Association of Confucius)
3. Dr. Tee Boon Chuan (Institute of Chinese Studies, Universiti Tunku Abdul Rahman,
Malaysia).
4. Mr. Jaffar Kassim (Nanyang Confucian Association, Singapore).
5. Prof. Wang Min, Ph.D (Hosei University Tokyo).
6. Mr. George Yan (Honorary President of Confucian Academy, Costa Rica, Peru)
7. Xs. Masari Saputra (Dewan Rohaniwan MATAKIN, Indonesia).
8. Bratayana Ongkowijaya, S.E., XDS (Chairman of MATAKIN, Indonesia).
9. Ws. Dr. Drs. Chandra Setiawan, M.M., Ph.D (Presidium Coordinator of MATAKIN,
Indonesia).
10. Dr. Ir. Drs. Adji Djojo, M.M. (Chairman of MATAKIN, Indonesia).
11. Js. Dr. Setio Kuncono, S.E., M.M. (Dewan Rohaniwan MATAKIN, Indonesia).
12. Kris Tan, S.E. (Chairman of Confucian Young Generation, Indonesia). (Romy)

Kamis, Agustus 29, 2013

Makin Seng Too Kheng Merayakan Sejit Fuat Cu Kong

JAMBI – Lebih dari seribu umat Khonghucu Jambi mengikuti prosesi Ulang Tahun Tio Kong Seng Khun yang lebih dikenal dengan nama Fuat Cu Kong, mereka rela datang, walaupun mereka harus menumpang kendaraan teman maupun dengan mengunakan jasa tukang ojek.
Pada hal letak kelenteng Makin Seng Too Kheng yang diresmikan pada tahun 2008 lalu jauh dari kota, perbatasan Kota Jambi dengan Kabupaten Muaro Jambi dan lokasi tersebut juga sepi dari pemukiman warga, namun sebuah niat yang terkandung dalam hati, walaupun jauh dan sepi, tidak menjadikan penghalang bagi umat untuk melakukan sembahyang. Kelenteng Majelis Agama Khonghucu (MAKIN) Seng Too Kheng terletak di Jalan Lingkar Timur II, Rt. 03, Kelurahan Talangbakung, Kecamatan Jambi Selatan, kota Jambi.

Prosesi upacara hari ulang tahun Tio Kong Seng Khun (Fuat Cu Kong) dan Kho Khun dipimpin langsung oleh rohaniwan The Lien Teng dari Matakin Provinsi Jambi, dimulai sejak pukul 09.00 berakhir pukul 13.30 dan dilanjutkan dengan jamuan makan bersama.

Perayaan hari jadi shenming Tio Kong Seng Khun (Fuat Cu Kong) boleh cukup ramai, bahkan yang hadir bukan umat biasa, lantaran ketua kelenteng adalah tokoh terpandang di Jambi, yakni Tanoto Kusuma (Tan Wan Kheng) pemilik Hotel Novita di Jambi.

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) Darman Wijaya, beserta wakil MATAKIN, Alex Sujanto, Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN), Darmadi Tekun, Pengurus MAKIN Leng Chun Kheng, Lim Yong Siang, Ketua Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Lam Po Tong Chu Harto dan tampak hadir juga tokoh-tokoh masyarakat Jambi, diantaranya Ramli (Lie Tiong Lam), Ketua Hok Liong Sai, Herman Suprapto (Chen He Siang), Pengusaha Dok Kapal, Robin, Pengusaha Super Market, Andreas (Ong Seng Tek). (Romy)
* http://ayen-servicekamera.blogspot.com/

Sabtu, Agustus 03, 2013

The Islam and Confucian Summit 2013

Jia Xiang  - Guna meningkatkan budaya perdamaian, maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) akan menyelenggarakan dialog dan seminar bertajuk “the Islam and Confucian Summit 2013 pada tgl 23-25 Agustus”.
Dalam Konfrensi Pers pada Selasa, (30/7/13), Ketua Bidang Kerukunan antar Umat Beragama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Slamet Effendi Yusuf mengatakan bahwa tujuan dari  dialog dan seminar tersebut adalah untuk meningkatkan rasa saling menghargai dan saling pecaya antara individu dan komunitas agama Islam dan Khonghucu.
Sementara wakil ketua MATAKIN, Uung Sendana Linggara mengatakan,  dalam seminar itu akan dibahas nilai-nilai utama Khonghucu dan Islam yang membuat dua agama itu dalam sejarahnya tidak pernah berkonflik. Uung juga mngatakan, hal itu perlu dieksplorasi lagi untuk mencontoh kepada dua agama yang tidak pernah terjebak dalam disharmoni.

“Dialog ini diharapkan lebih ampuh membangun kerukunan, dari pada kelompok-kelompok agama berjaung sendiri mewujudkan nilai kebersamaan,” tegas Slamet Effendy Yusuf.[Yuv/W1]

http://jia-xiang.biz/read/the-islam-and-confucian-summit-2013
* http://ayen-servicekamera.blogspot.com/

Rabu, Juli 31, 2013

Umat Khonghucu Jambi Semakin Eksis Merayakan Sejit Shen Ming

JAMBI – Sejak Khonghucu di akui pemerintah sebagai salah satu agama di Indonesia, umat Khonghucu (foto) di Jambi sudah mulai melakukan berbagai aktifitas di kelenteng-kelenteng yang ada di provinsi Jambi. Mereka sudah berani terang-terangan melakukan sembahyang menyambut hari ulang tahun para suci shen ming (dewa-dewi) yang berada di dalam setiap kelenteng.
Seperti Rabu (31/7-2013) pagi, ratusan umat Khonghucu di Jambi mendatangi kelenteng Tiong Gie Thong yang beralamat di Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan Jambi Timur, kehadiran mereka adalah untuk mengikuti prosesi sembahyang memperingati sejit (ulang tahun) roh suci (shen ming) yang tidak asing lagi, yaitu “Kwan Seng Tee Kun” yang jatuh pada tanggal 31 Juli 2013 (Lak Gwee Jie Sie imlek).


Sehari sebelumnya para Locu (panitia) yang mayolitas wajah baru terlihat mempersiapkan segala sesuatu untuk upacara sembahyang yang dipimpin oleh rohaniawan dari Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN) The Lien Teng.

Sejarah kelenteng Tiong Gie Thong, berawal dari sebuah rumah ibadah yang dibangun dari papan Cia dan waktu itu belum memiliki kim sin (para suci), kala itu ada seorang pengusaha menyumbangkan kim sin atas permintaan shen ming untuk melengkapi altar utama kelenteng Tiong Gie Thong, sejak itu kelenteng Tiong Gie Thong yang berada di pemukiman warga Tionghoa di Kelurahan Sulanjana, Kota Jambi mulai ramai dikunjungi umat Khonghucu. Pembangunan kelenteng secara permanen dilakukan pada tahun 1974, namun tidak dapat menampung umat yang datang sembahyang di hari besar Kwan Seng Tee Kun maupun para shen ming pendamping terdiri dari Han Tiong Ong (Liu Pe), Ho Kok Gwan He (Tiu Hui), Cu Kat Liong, Bu He (Kong Min), Sun Ping Sing He (Ce Liong Kong).

Untuk memberikan pelayanan kepada umat Khonghucu Jambi yang datang sembahyang, maka dermawan dan pengurus Kelenteng Tiong Gie Thong merenovasikan kembali kelenteng dalam bentuk gerbang jaman kerajaan dulu.

Ujar Lie Tiong Cia (69), kelenteng Tiong Gie Thong dulu dibangun dari papan, terus dibangun secara permanen serta di isi kim sin oleh para dermawan Jambi. “Tiong Gie Thong dulunya hanya rumah ibadah terbuat dari kayu berdinding papan, atas sumbangi dari pengusaha Jambi, maka dibangunlah kelenteng secara permanen berikut kim sin.” Kata Tiong Cia diselah upacara.

Arsitektur gaya bangunan berbentuk tembok (benteng) pertahanan kerajaan China jaman dahulu, tembok di Kelenteng Tiong Gie Thong terdapat dua buah menara, ornamen warna merah kuning menghiasi dinding-dinding kelenteng dan ragam hiasan lain pun masih bertahan, seperti sepasang Naga menghiasi tiang didalam kelenteng, sedangkan dipintu masuk terdapat sepasang Shen Men (dewa pintu). kelenteng tidak hanya sebagai tempat peribadatan umat tetapi di sisi lain juga menjadi lambang dari agama yang sangat menjunjung tinggi umatnya. Hiasan atau ornamen yang indah dan penuh makna merupakan salah satunya. Hiasan atau ornamen yang terdapat pada kelenteng Tiong Gie Thong adalah 12 patung shio. (Romy)

Kamis, Juli 11, 2013

Sinta Nuriyah Sahur Bersama Kaum Duafa Di Tangerang

TANGERANG – Tidak henti-hentinya mantan Ibu Negara, Sinta Nuriyah Wahidbersama lintas agama menggelar acara buka bersama atau sahur dengan kaum duafa di seluruh Tanah Air Indonesia. Untuk awal puasa (10/7-2013) Sinta Nuriyah Wahid bersama bersama  Matakin Tangerang sahur bersama di Perguruan Setia Bhakti Jalan  Kisamaun No 171 Tangerang (Banten)
Acara itu digelar secara sederhana dan dihadiri sekitar seribu warga duafa di sekitar perkampungan penduduk di kawasan Makin Boen Tek Bio dan Perguruan Setia Bhakti.

Kehadiran istri Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu mendapat sambutan luar biasa dari warga setempat, meski acara sahur hanya digelar di lapangan olahraga Perguruan Setia Bhakti Jalan  Kisamaun No 171 Tangerang (Baten).

Menurut Sinta Nuriyah, tujuan acara sahur bersama di Tangerang adalah untuk mempererat tali silaturahmi dengan warga setempat dan mengajak masyarakat untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

"Saya berharap warga yang hadir di sini menjalankan ibadah puasa dengan baik sesuai dengan ajaran agama Islam," katanya.

Jika tidak ada alar melintang, Minggu (14/7) mendatang giliran Matakin Jambi akan disambangi Ibu Sinta Nuriyah Wahid bersama rombongan Matakin Pusat.

Buka puasa bareng ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Kelenteng Makin Hik Sin Tong, Kelurahan Lebakbandung, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi tanggal 14 Juli 2013 buka bersama yang diselenggarakan oleh MAKIN Hok Sin Tong bersama Yayasan PUAN (Pesantren Untuk Pemberdayaan Perempuan) dihadiri oleh lebih dari 500 orang dari panti asuhan, tokoh masyarakat, dan undangan lainnya, merajut kebersamaan dalam Bhinneka Tunggal Ika “NKRI”. (Romy)* http://ayen-servicekamera.blogspot.com/

Kamis, Juni 06, 2013

Berbagai Cara Cawako Mengalang Suara Dalam Pilwako Jambi

JAMBI - Pemilihan walikota Jambi semakin dekat, masing-masing kandidat semakin gencar mengalang calon pemilih, mereka (cawako) berusaha mengalang suara sebanyak-banyaknya, agar bisa memenangkan pilwako dalam satu putaran, maka tidak mengherankan dengan berbagai trik dimanfaatkan para cawako untuk menarik simpatik pemilih, termasuk mengunakan berbagai sarana dan prasarana untuk menjaring simpati pemilih.
Tidak ketinggalan tempat-tempat suci yang tengah melakukan sembabyang juga dijadikan sarana untuk sosialisasi diri, maka Matakin Jambi dan Matakin Kota menyatakan, bahwasan Mejelis Agama Khonghucu Indonesia yang disingkat MATAKIN tidak pernah ikut dalam kegiatan dukung mendukung Cawako Jambi, karena MATAKIN tidak boleh berpolitik berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tanggta (AD-ART) MATAKIN.

Namun MATAKIN dan MAKIN tidak bisa menolak kehadiran kandidat Cawako Jambi dalam kegiatan sembahyang di kelenteng-kelenteng yang tergabung didalam wadah MATAKIN Jambi, saat ini ada 8 kelenteng yang sudah resmi menjadi Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) dan 3 kelenteng lagi menunggu SK dari Matakin Pusat.

Kelenteng yang dibawah naungan MATAKIN Jambi adalah, 1. Kelenteng MAKIN Sai Che Tien di Jalan Koni IV, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, 2. Kelenteng MAKIN Leng Chun Keng, Jalan Koni I, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, 3. Kelenteng MAKIN Hok Sin Tong, RT. 23 Kelurahan Lebak Bandung, Kecamatan Jelutung, 4. Kelenteng MAKIN Gi Hok Tong, Jalan M. Yamin, Lorong Teratai, Kelurahan Payolebar, Kecamatan Jelutung, 5. Kelenteng MAKIN Seng To Keng, Jalan Lingkar Timur. Kelurahan Payoselincah, Kecamatan Jambi Timur, 6. Kelenteng MAKIN Lam Po Tong, Jalan Perdana Raya, Rt. 33, Kelurahan Paal V, Kecamatan Kota Baru, 7. Kelenteng MAKIN Hok An Tong, Lorong Gembira, Kec. Jambi Timur, 8. Kelenteng MAKIN Leng San Keng, Jalan Soedewi MS, Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, 9. Kelenteng MAKIN Hok Kheng Tong (Calon Makin), Jalan Koni VI, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, 10. Kelenteng Kuang Leng Bio (Calon Makin), Jalan Brigjen Katamso, Lorong Sriwijaya Rt. 12 Kelurahan Kasang, Kecamatan Jambi Timur dan Kelenteng Po Seng Tai Te, Jalan Kampung Baru, Kelurahan Danau Sipin, Kecamatan Telanaipura. (Romy)
* Kamera Rusak Datang Saja Ke AYEN Service Kamera