JAMBI, ayojambi.com – Vihara Sakyakirti Jambi mengelar puncak perayaan Dharmasanti Waisak 2558 BE 2014 di Jambi, acara tersebut digelar di Abadi Convention Center (ACC) Jambi, Sabtu (21/6) malam. Acara yang dimulai pukul 15.30 WIB dihadiri lebih dari seribu umat Buddha Provinsi Jambi dan sekitarnya.
Tampilkan postingan dengan label Vihara Sakyakirti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Vihara Sakyakirti. Tampilkan semua postingan
Minggu, Juni 22, 2014
Minggu, Mei 12, 2013
Vihara Sakyakirti Gelar Gerak Jalan Santai Ditengah Hujan
JAMBI, ayojambi.com – Dalam rangkan menyambut kehadiran yang jatuh pada tanggal 26 Mei mendatang, ratusan masyarakat kota Jambi mengikuti gerak jalan santai bersama keluarga yang dilaksanakan hari Minggu (12/5-2013) pagi, star dari halamandi Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan Jambi Timur, kota Jambi.
Gerak jalan santai yang diadakan oleh vihara tertua di Kota Jambi terbuka untuk umum dengan route start halaman Sakyakirti menuju jalan Orang Kayo Hitam, lalu menujun simpang Rumah Sakit dr Bratanata ke kiri Jalan Raden Mattaher, terus elintasi Novita Hotel di Jalan Gatot Subroto dam kembali ke vihara melintasi simpang Jelutung.
Gerak jalan santai ini, untuk kali ketiga diselenggarakan oleh vihara Sakyakirti yang diikuti lebih kurang 400 orang, terdiri dari anak-anak hingga opa dan oma yang berumur 60 tahun keatas tidak ketinggalan ikut gerak jalan santai. Walaupun hujan gerimis yang menguyur kota Jambi sejak dini hari, namun tidak menyulutkan animo masyarakat untuk ikut gerak jalan santai menyambut kedatangan Tri Suci Waisak 2557/TB walaupun mereka sempat-sempatnya memakai payung.
Kehadiran opa dan oma dalam gerak jalan santai, tentunya ini memberikan contoh yang sangat baik kepada para generasi muda untuk terus mencanangkan hidup sehat dengan berjalan kaki. Meskipun usia sudah beranjak senja, mereka terlihat sangat menikmati perjalanan yang ditemani hujan gerimis.
Gerak jalan santai yang dilepas oleh Romo Balamitta, ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi. Pukul 06.30 WIB dengan mengkibarkan bendera MBI.
Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kebersamaan, antara pengurus Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi dengan umat Buddha dan berbagai elemen masyarakat yang ada di Kota Jambi.
Dengan semangat dan ceria terlihat diwajah para peserta mengikuti dari belakang, ada beberapa peserta tertinggal cukup jauh. Seusai gerak jalan dilanjutkan dengan membagi-bagi snack serta pemberian doorprize dengan cara melalui undian kupon yang dibagi kepada peserta gerak jalan, tidak ketinggalan peserta gerak jalan di hibur oleh Barongsay dari perkumpulan Hok Liong Sai Jambi. (Romy)
Gerak jalan santai ini, untuk kali ketiga diselenggarakan oleh vihara Sakyakirti yang diikuti lebih kurang 400 orang, terdiri dari anak-anak hingga opa dan oma yang berumur 60 tahun keatas tidak ketinggalan ikut gerak jalan santai. Walaupun hujan gerimis yang menguyur kota Jambi sejak dini hari, namun tidak menyulutkan animo masyarakat untuk ikut gerak jalan santai menyambut kedatangan Tri Suci Waisak 2557/TB walaupun mereka sempat-sempatnya memakai payung.
Kehadiran opa dan oma dalam gerak jalan santai, tentunya ini memberikan contoh yang sangat baik kepada para generasi muda untuk terus mencanangkan hidup sehat dengan berjalan kaki. Meskipun usia sudah beranjak senja, mereka terlihat sangat menikmati perjalanan yang ditemani hujan gerimis.
Gerak jalan santai yang dilepas oleh Romo Balamitta, ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi. Pukul 06.30 WIB dengan mengkibarkan bendera MBI.
Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kebersamaan, antara pengurus Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi dengan umat Buddha dan berbagai elemen masyarakat yang ada di Kota Jambi.
Dengan semangat dan ceria terlihat diwajah para peserta mengikuti dari belakang, ada beberapa peserta tertinggal cukup jauh. Seusai gerak jalan dilanjutkan dengan membagi-bagi snack serta pemberian doorprize dengan cara melalui undian kupon yang dibagi kepada peserta gerak jalan, tidak ketinggalan peserta gerak jalan di hibur oleh Barongsay dari perkumpulan Hok Liong Sai Jambi. (Romy)
Minggu, November 11, 2012
Vihara Sakyakirti Gelar Pindapatta
JAMBI - Sebanyak 8 bhikku asal Sangha Agung Indonesia menjalankan tradisi Pindapatta dengan mengililingi kampung ke kampung di Kota Jambi, Minggu (11/11-2012) pagi pukul 06.30. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian perayaan menyambut Hari kathina 2556/BE.
Pindapatta merupakan tradisi dikalangan umat Buddha di mana para bhikkhu Sangha Agung Indonesia berkeliling demi memperoleh persembahan dari umat berupa uang atau makanan. Para bhikkhu wajib berjalan kaki di bawah teriknya matahari tanpa alas kaki maupun turunnya hujan deras. Mereka membawa Patta (mangkok) sambil terus berjalan dengan kepala tertunduk.
Di atas jalan aspal yang kasar dan panasnya matahari untuk ditapaki dengan kaki telanjang, terlihat wajah sabar terpancar dari para bhikku berjalan menyusur Jalan Pangeran Diponegoro, Jalan koni 1, terus masuk ke perkampungan Budiman, Jalan Orang Kayo Hitam dan kembali ke vihara Sakyakirti
sambil menenteng patta, sedangkan ratusan anak muda yang berada di sampingnya dengan menenteng kardus/ kantong plastik warna hitam.
Dalam pindapatta/ Pindapattra di Kota Jambi ini, menyusur jalan-jalan untuk mendapat dharma berupa makanan dari para umat. Di sepanjang rute yang dilalui, umat telah menanti dengan sabar memberikan beraneka ragam keperluan makan kepada bhikkhu yang telah melepas 'hidup' nya karena melayani umat.
Dengan kehadiran bhikkhu Sangha ini telah dinanti-nantikan ratusan warga di sepanjang jalan. Umat Buddha yang menanti bhikku bersujud sambil memberikan uang dalam angpau, beras, mie instan, biskuit, sabun, dan obat-obatan kepada para bhikkhu tersebut.
Kata ”Pindapatta/ Pindapattra” sendiri berarti menerima persembahan makanan. ”Patta” atau ”Patra” adalah mangkok makanan yang dibawa para bhikku/ bhikuni. Pada masa lalu, patta terbuat dari buah labu yang disayat bagian atasnya, lalu dikerok bagian tengah atau isinya. Bagian kulitnya kemudian dikeringkan sehingga berbentuk mangkok yang cukup besar. Mangkok inilah yang digunakan oleh para bhikkhu menerima persembahan dari para umat. Namun, karena patta jenis ini rapuh dan mudah rusak, maka diganti mangkuk dari logam, seperti tembaga, kuningan, dan aluminium. (Romy)
Sabtu, April 28, 2012
Pemandian Rupang Buddha Menyambut Waisak Di Vihara Sakyakirti
JAMBI – Seminggu sebelum perayaan Hari Raya Trisuci Waisak, para penganut agama Buddha Jambi mulai mempercantik vihara di Jambi, dan berbagai kegiatan diselenggarakan demi memeriahkan datangnya bulan suci Waisak 2556/BE, yang jatuh pada hari Minggu, 6 Mei 2012 mendatang.
Sabtu pagi (28/4) umat Buddha yang mayolitas oma-oma telah mendatangi Vihara Sakyakirti di Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi, kedatangan para oma-oma ini adalah untuk mengikuti ritual pemandian rupang Buddha, ritual yang rutin digelar seminggu menjelang perayaan Tri Waisak.
Ritual tersebut untuk memperingati hari kelahiran Pengeran Sidharta di Taman Lumbini pada hari purnama bulan Waisak, 623 SM, maka para dewa menyirami Bodhisatva dengan air surgawi dan selanjutnya Bodhisatva berjalan tujuh langkah kedepan terus tumbuh bunga-bunga Teratai dari tanah di bawah setiap jejaknya yang artinya terpenuhi harapannya.
Bahwa makna dari Pemandian Rupang Buddha adalah untuk mengingatkan kembali hari kelahiran Bodhisatva (Pangeran Siddharta) di Taman Lumbini pada hari purnama bulan Waisak, 623 SM dan saat Ratu melahirkan Pangeran Siddharta para dewa menyirami Bodhisatva dengan air surgawi. Selain itu agar kita selalu mengingatkan ajaran sang Buddha serta membersihkan diri kita seperti Pangeran Sidharta Gotama.
Sebelum prosesi pemandian dilaksana, para jamaah terlebih dahulu membaca doa yang dipimpin bhiksu Y.M. Nyana Sukha dan Y.M. Giri Ksanti dan setelah itu baru dilangsungkan pemandikan rupang yang diawali oleh bhiksu Y.M. Nyana Sukha, disusul Y.M. Giri Ksanti dan umat. “Semua kegiatan ini dilakukan secara bergantian.” Selama dimandikan, di patung rupang yang diletakkan diatas rangkaian bunga telatai, kemudian patung itu diletakkan di atas sebuah altar. Sedangkan di hadapan rupang terdapat air untuk memandikan rupang, bunga-bunga dan buah-buahan.
Mandi rupang adalah kegiatan rutin umat Buddha menjelang Waisak. Rupang adalah sebuah patung kecil yang wujudnya fisik Buddha. Berdasarkan sejarahnya, ketika dilahirkan ke atas dunia ini, Buddha rupang langsung berjalan sebanyak tujuh langkah. Istimewanya lagi, setiap langkahnya selalu ditumbuhi bunga teratai.
Menurutu Romo Balamitta, upacara mandi rupang diawali dengan sembahyang atau puja bhakti oleh para bhiksu dan jamaah, kemudian satu persatu jemaah menyirami rupang Buddha yang ditempatkan di atas altar diawali oleh bhiksu Y.M. Nyana Sukha dan disusul Y.M. Giri Ksanti dan umat. Tema Waisak tahun ini, “Genta Waisak Melantunkan semangat mawas diri dan hidup harmonis.” (rom)
Bahwa makna dari Pemandian Rupang Buddha adalah untuk mengingatkan kembali hari kelahiran Bodhisatva (Pangeran Siddharta) di Taman Lumbini pada hari purnama bulan Waisak, 623 SM dan saat Ratu melahirkan Pangeran Siddharta para dewa menyirami Bodhisatva dengan air surgawi. Selain itu agar kita selalu mengingatkan ajaran sang Buddha serta membersihkan diri kita seperti Pangeran Sidharta Gotama.
Mandi rupang adalah kegiatan rutin umat Buddha menjelang Waisak. Rupang adalah sebuah patung kecil yang wujudnya fisik Buddha. Berdasarkan sejarahnya, ketika dilahirkan ke atas dunia ini, Buddha rupang langsung berjalan sebanyak tujuh langkah. Istimewanya lagi, setiap langkahnya selalu ditumbuhi bunga teratai.
Menurutu Romo Balamitta, upacara mandi rupang diawali dengan sembahyang atau puja bhakti oleh para bhiksu dan jamaah, kemudian satu persatu jemaah menyirami rupang Buddha yang ditempatkan di atas altar diawali oleh bhiksu Y.M. Nyana Sukha dan disusul Y.M. Giri Ksanti dan umat. Tema Waisak tahun ini, “Genta Waisak Melantunkan semangat mawas diri dan hidup harmonis.” (rom)
Langganan:
Postingan (Atom)

