Citizen6, Jakarta - Para pemuka agama atau keyakinan salah satu tugasnya mengajak umat manusia berbuat baik. Hal ini tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada seluruh makhluk hidup dan makhluk mati. Orang-orang yang telah sampai pada level tersebut tentu telah melewati pengalaman spiritual yang menakjubkan. Salah satu indikasi mereka telah sampai di level tersebut adalah mereka punya kemampuan menakjubkan dalam menahan diri.
Tampilkan postingan dengan label Buddha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddha. Tampilkan semua postingan
Sabtu, September 10, 2016
Rabu, Agustus 13, 2014
Berkati Mobil Mewah demi Imbalan Uang, Biksu Dikecam
BEIJING, KOMPAS.com - Sejumlah biksu Buddha di China dihujani kecaman setelah menerima uang tunai untuk memberkati sebuah mobil mewah Porsche milik seorang pengusaha.
Sebuah tren baru tengah melanda China ketika properti dan benda-benda mahal milik warga diberkati para tokoh agama dengan imbalan sejumlah uang.
Kondisi ini memicu kemarahan di kalangan masyarakat dengan contoh terbaru saat pengusaha teknologi informasi Tao Hung meminta para biksu Buddha memberkati mobil mewahnya.
Dia meminta agar para biksu memberkati mobil itu sehingga dia selalu selamat saat mengendarai mobil itu dan selalu tiba di tujuan tanpa insiden.
Namun, sebagian warga menilai berkat semacam itu tak berguna dan mengatakan jika Tao Hung ingin selamat dalam berkendara maka dia tidak ugal-ugalan saat mengendarai mobil dan mematuhi aturan lalu lintas.
"Dia (Tao Hung) mungkin memiliki banyak uang tapi banyak yang mempertanyakan asal uang itu karena faktanya dia sedang menunjukkan kebodohannya," kata seorang pengguna media sosial.
Tao Hung sendiri enggan berkomentar soal masalah ini dan para biksu mengatakan bahwa memberkati sarana transportasi selalu menjadi bagian dari tradisi Buddha.
Sejauh ini tidak diketahui berapa jumlah uang yang diberikan Tao Hung kepada para biksu untuk ditukar dengan berkat mereka.
http://internasional.kompas.com/read/2014/08/13/17093761/
Kondisi ini memicu kemarahan di kalangan masyarakat dengan contoh terbaru saat pengusaha teknologi informasi Tao Hung meminta para biksu Buddha memberkati mobil mewahnya.
Dia meminta agar para biksu memberkati mobil itu sehingga dia selalu selamat saat mengendarai mobil itu dan selalu tiba di tujuan tanpa insiden.
Namun, sebagian warga menilai berkat semacam itu tak berguna dan mengatakan jika Tao Hung ingin selamat dalam berkendara maka dia tidak ugal-ugalan saat mengendarai mobil dan mematuhi aturan lalu lintas.
"Dia (Tao Hung) mungkin memiliki banyak uang tapi banyak yang mempertanyakan asal uang itu karena faktanya dia sedang menunjukkan kebodohannya," kata seorang pengguna media sosial.
Tao Hung sendiri enggan berkomentar soal masalah ini dan para biksu mengatakan bahwa memberkati sarana transportasi selalu menjadi bagian dari tradisi Buddha.
Sejauh ini tidak diketahui berapa jumlah uang yang diberikan Tao Hung kepada para biksu untuk ditukar dengan berkat mereka.
http://internasional.kompas.com/read/2014/08/13/17093761/
* www.ayojambi.com/
Kamis, Oktober 25, 2012
Lian Bo Rinpoche dari Tibet Mengelilingi Candi Muarojambi
JAMBI – Situs percandian Muarojambi yang terletak di Desa Muara Jambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, tidak hanya dikenal oleh masyarakat di lingkungan Provinsi Jambi, kini situs yang luasnya dua puluh kali lebih luas dari Candi Borobudur di Jawa Tengah dan dua kali lebih luas dari Kompleks Candi Angkor Wat di Kamboja, maka tak heran apabila kompleks percandian Candi Muarojambi pun disebut sebagai kawasan candi terluas di Asia Tenggara.
Kini peninggalan sejarah bagi umat Buddha di masa Kerajaan Melayu abad VII hingga XIV ini masih menumbuhkan getaran yang dirasakan di Tibet (Cina) hingga kini.
Tersebarnya Candi Muarojambi melalui situs internet dikawasan Tibet, telah menjadikan lawatan para Bhiksu untuk berkunjungi ke Provinsi Jambi, khususnya ke Candi Muarojambi, seperti Lian Bo Rinpoche yang sengaja datang ke Jambi melalui Singapure, kedatangan Lain Bo Rinpoche bersama beberapa warga Singapore dari tanggal 22 hingga 24 Oktober 2012.
Kedatangan rombongan Lian Bo Rinpoche disambut oleh tokoh pendiri “Masyarakat Peduli Candi Muarojambi”, Hidayat, hari pertama mereka mengunjungi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi, hari kedua rombongan mengunjungi candi Muarojambi, di antaranya Bukit Sengalo (Bukit Perak), Candi Gumpung, Candi Tinggi I dan Candi Tinggi II, lalu istirahat makan siang, setelah itu dilanjutkan dengan mengunakan sepeda motor rombongan ke Candi Koto Mahligai yang jaraknya sekitar 4 kilometer, pulang dari Candi Koto Mahligai rombongan Lian Bo Rimpoche mampir ke Candi Gedong I dan II, Candi Kedaton dan Candi Astano.
Pada kesempatan tersebut Lian Bo Rinpoche menyempatkan diri melepaskan ratusan burung ke alam bebas di dua lokasi, yaitu di Bukit Sengalo dan dekat Candi Tinggi I. selain itu disetiap situs yang dianggap suci Lian Bo Rinpoche melakukan meditasi dan membaca kitab sutra. Rabu pagi rombongan Lian Bo Rinpoche kembali mengunjungi Museum Negeri Jambi yang terletak di Jalan Urip Sumoharjo No. 1, Jambi.
Lian Bo Rinpoche juga menyampaikan rasa kagum dan puas dapat melihat langsung serta keliling candi Muarojambi selama sehari di dampingi Hidayat selaku tokoh pendiri Masyarakat Peduli Candi Muarojambi, “Saya merasa sangat puas dapat mengunjungi candi Muarojambi secara langsung dan sangat berterima kasih atas keramah tamahan masyarakay setempat”. (ungkapan dalam bahasa mandarin). (Romy)
Sabtu, April 28, 2012
Pemandian Rupang Buddha Menyambut Waisak Di Vihara Sakyakirti
JAMBI – Seminggu sebelum perayaan Hari Raya Trisuci Waisak, para penganut agama Buddha Jambi mulai mempercantik vihara di Jambi, dan berbagai kegiatan diselenggarakan demi memeriahkan datangnya bulan suci Waisak 2556/BE, yang jatuh pada hari Minggu, 6 Mei 2012 mendatang.
Sabtu pagi (28/4) umat Buddha yang mayolitas oma-oma telah mendatangi Vihara Sakyakirti di Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi, kedatangan para oma-oma ini adalah untuk mengikuti ritual pemandian rupang Buddha, ritual yang rutin digelar seminggu menjelang perayaan Tri Waisak.
Ritual tersebut untuk memperingati hari kelahiran Pengeran Sidharta di Taman Lumbini pada hari purnama bulan Waisak, 623 SM, maka para dewa menyirami Bodhisatva dengan air surgawi dan selanjutnya Bodhisatva berjalan tujuh langkah kedepan terus tumbuh bunga-bunga Teratai dari tanah di bawah setiap jejaknya yang artinya terpenuhi harapannya.
Bahwa makna dari Pemandian Rupang Buddha adalah untuk mengingatkan kembali hari kelahiran Bodhisatva (Pangeran Siddharta) di Taman Lumbini pada hari purnama bulan Waisak, 623 SM dan saat Ratu melahirkan Pangeran Siddharta para dewa menyirami Bodhisatva dengan air surgawi. Selain itu agar kita selalu mengingatkan ajaran sang Buddha serta membersihkan diri kita seperti Pangeran Sidharta Gotama.
Sebelum prosesi pemandian dilaksana, para jamaah terlebih dahulu membaca doa yang dipimpin bhiksu Y.M. Nyana Sukha dan Y.M. Giri Ksanti dan setelah itu baru dilangsungkan pemandikan rupang yang diawali oleh bhiksu Y.M. Nyana Sukha, disusul Y.M. Giri Ksanti dan umat. “Semua kegiatan ini dilakukan secara bergantian.” Selama dimandikan, di patung rupang yang diletakkan diatas rangkaian bunga telatai, kemudian patung itu diletakkan di atas sebuah altar. Sedangkan di hadapan rupang terdapat air untuk memandikan rupang, bunga-bunga dan buah-buahan.
Mandi rupang adalah kegiatan rutin umat Buddha menjelang Waisak. Rupang adalah sebuah patung kecil yang wujudnya fisik Buddha. Berdasarkan sejarahnya, ketika dilahirkan ke atas dunia ini, Buddha rupang langsung berjalan sebanyak tujuh langkah. Istimewanya lagi, setiap langkahnya selalu ditumbuhi bunga teratai.
Menurutu Romo Balamitta, upacara mandi rupang diawali dengan sembahyang atau puja bhakti oleh para bhiksu dan jamaah, kemudian satu persatu jemaah menyirami rupang Buddha yang ditempatkan di atas altar diawali oleh bhiksu Y.M. Nyana Sukha dan disusul Y.M. Giri Ksanti dan umat. Tema Waisak tahun ini, “Genta Waisak Melantunkan semangat mawas diri dan hidup harmonis.” (rom)
Bahwa makna dari Pemandian Rupang Buddha adalah untuk mengingatkan kembali hari kelahiran Bodhisatva (Pangeran Siddharta) di Taman Lumbini pada hari purnama bulan Waisak, 623 SM dan saat Ratu melahirkan Pangeran Siddharta para dewa menyirami Bodhisatva dengan air surgawi. Selain itu agar kita selalu mengingatkan ajaran sang Buddha serta membersihkan diri kita seperti Pangeran Sidharta Gotama.
Mandi rupang adalah kegiatan rutin umat Buddha menjelang Waisak. Rupang adalah sebuah patung kecil yang wujudnya fisik Buddha. Berdasarkan sejarahnya, ketika dilahirkan ke atas dunia ini, Buddha rupang langsung berjalan sebanyak tujuh langkah. Istimewanya lagi, setiap langkahnya selalu ditumbuhi bunga teratai.
Menurutu Romo Balamitta, upacara mandi rupang diawali dengan sembahyang atau puja bhakti oleh para bhiksu dan jamaah, kemudian satu persatu jemaah menyirami rupang Buddha yang ditempatkan di atas altar diawali oleh bhiksu Y.M. Nyana Sukha dan disusul Y.M. Giri Ksanti dan umat. Tema Waisak tahun ini, “Genta Waisak Melantunkan semangat mawas diri dan hidup harmonis.” (rom)
Langganan:
Postingan (Atom)

