JAMBI, ayojambi.com –Dalam rangka-2013, di vihara-vihara mulai mempercantikan diri serta melakukan kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat bagi berbagai lapisan masyarakat, seperti Vihara Jaya Manggala yang beralamat di Jalan Gajah Mada, Nomor 23, Rt. 28, Kelurahan Lebak Bandung, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.
Tampilkan postingan dengan label Waisak 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Waisak 2013. Tampilkan semua postingan
Minggu, Mei 19, 2013
Banjir Manusia Di Candi Muarojambi
JAMBI – Ribuan umat Buddis Jambi dan sekitarnya manjadikan hari Minggu ini (19/5) spesial, pasalnya ribuan umat Buddha melakukan prosesi keliling situs percandian terbesar di pulau sumatera, untuk menyambut perayaan yang dilakukan setiap tahun sekali.
Mereka datang ke Candi Muarojambi bersama keluarga untuk menggikuti prosesi perayaan Tri Suci Waisak 255/ BE di kompleks candi Muaro Jambi. Kegiatan Ini merupakan kegiatan rutin yang digelar oleh Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi beserta umat Buddha di kota Jambi.
Umat Buddhis dan simpatisan yang akan ikut ke Candi Muarojambi, telah hadir di halaman Vihara Sakyakirti Jambi sejak pukul 06.00 WIB. Rombongan yang angkut puluhan mini bus, keberangkat rombongan ke candi tahun ini sangat terlambat, lantaran panitia tahun ini terlihat plin plan, sehingga pukul 8 liwat baru meluncur ke candi, biasanya pukul 07.30 WIB rombongan telah berangkat ke candi, selanjutnya diikuti oleh para Bhikku Sangha yang akan memimpin ritual, ternyata kali ini Bhikku duluan datang setengah jam sebelum prosesi Waisak di mulai di kompleks candi Muarojambi. ini merupakan upacara yang sangat istimewa karena langsung digelar didepan Candi Tinggi yang merupakan salah satu benda yang dianggap suci oleh umat Buddha.
“Setiap tahun Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi selalu menggelar ritual puncak Wsak di candi Muaro Jambi ini.” Tahun ini perayaan Waisak di Candi Muarojambi disaksikan ratusan masyarakat yang datang berwisata.
Setiba Candi Muaro Jambi, ritual dimulai. Doa mulai dipanjatkan dan dipimpin oleh Bhikku, umat mengikuti ritual pertama yang disebut dengan pradaksina. Pradaksina merupakan ritual mengelilingi benda yang dianggap suci. Tujuannya sebagai tanda penghormatan. “Candi Muaro Jambi merupakan salah satu benda yang suci dan harus kita hormati. Apalagi kita akan menggelar upacara disini, jadi kita harus benar benar menghormati semua yang ada disini termasuk candi yang merupakan bangunan bernilai sejarah ini.
Sambil terus memanjatkan doa, umah Buddha mengelilingi Candi Gumpung, terus menuju Candi Tinggi, seusai mengeliling dua candi, umat Bhuddha mengikuti Y.M Bhante Sasanabodhi Thera, Y.M Biksu Nyanasukha Satvira, Y.M Bhante Bhardra Palo, Y.M Biksuni Girikshanti, Y.L Samanera Viriya Nanda, Y.L Samanera Viriya Panna, Y.L Samanera Rahayu dari belakang.
Tidak jauh dari Candi Tinggi, panitia sudah tersedia tenda besar yang telah dilengkapi dengan tempat untuk bersembahyang. Altar beserta rupang Buddha yang menjadi tempat ritual digelar. Disana, mereka duduk dibawah tenda sambil bersila. Lalu, mengikuti doa doa serta membaca paritta. Setiap umat terlihat khusuk mengikuti ritual. Mulai dari anak anak, remaja, dewasa hingga orang tua. “Mereka yang sudah berumur kita beri fasilitas yang khusus seperti rombongan dari Wanita Buddish Indonesia (WBI) yang memang sebagian besar sudah berumur agar mereka tidak terlalu letih.” (Romy)
Umat Buddhis dan simpatisan yang akan ikut ke Candi Muarojambi, telah hadir di halaman Vihara Sakyakirti Jambi sejak pukul 06.00 WIB. Rombongan yang angkut puluhan mini bus, keberangkat rombongan ke candi tahun ini sangat terlambat, lantaran panitia tahun ini terlihat plin plan, sehingga pukul 8 liwat baru meluncur ke candi, biasanya pukul 07.30 WIB rombongan telah berangkat ke candi, selanjutnya diikuti oleh para Bhikku Sangha yang akan memimpin ritual, ternyata kali ini Bhikku duluan datang setengah jam sebelum prosesi Waisak di mulai di kompleks candi Muarojambi. ini merupakan upacara yang sangat istimewa karena langsung digelar didepan Candi Tinggi yang merupakan salah satu benda yang dianggap suci oleh umat Buddha.
“Setiap tahun Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi selalu menggelar ritual puncak Wsak di candi Muaro Jambi ini.” Tahun ini perayaan Waisak di Candi Muarojambi disaksikan ratusan masyarakat yang datang berwisata.
Setiba Candi Muaro Jambi, ritual dimulai. Doa mulai dipanjatkan dan dipimpin oleh Bhikku, umat mengikuti ritual pertama yang disebut dengan pradaksina. Pradaksina merupakan ritual mengelilingi benda yang dianggap suci. Tujuannya sebagai tanda penghormatan. “Candi Muaro Jambi merupakan salah satu benda yang suci dan harus kita hormati. Apalagi kita akan menggelar upacara disini, jadi kita harus benar benar menghormati semua yang ada disini termasuk candi yang merupakan bangunan bernilai sejarah ini.
Sambil terus memanjatkan doa, umah Buddha mengelilingi Candi Gumpung, terus menuju Candi Tinggi, seusai mengeliling dua candi, umat Bhuddha mengikuti Y.M Bhante Sasanabodhi Thera, Y.M Biksu Nyanasukha Satvira, Y.M Bhante Bhardra Palo, Y.M Biksuni Girikshanti, Y.L Samanera Viriya Nanda, Y.L Samanera Viriya Panna, Y.L Samanera Rahayu dari belakang.
Tidak jauh dari Candi Tinggi, panitia sudah tersedia tenda besar yang telah dilengkapi dengan tempat untuk bersembahyang. Altar beserta rupang Buddha yang menjadi tempat ritual digelar. Disana, mereka duduk dibawah tenda sambil bersila. Lalu, mengikuti doa doa serta membaca paritta. Setiap umat terlihat khusuk mengikuti ritual. Mulai dari anak anak, remaja, dewasa hingga orang tua. “Mereka yang sudah berumur kita beri fasilitas yang khusus seperti rombongan dari Wanita Buddish Indonesia (WBI) yang memang sebagian besar sudah berumur agar mereka tidak terlalu letih.” (Romy)
Minggu, Mei 12, 2013
Vihara Sakyakirti Gelar Gerak Jalan Santai Ditengah Hujan
JAMBI, ayojambi.com – Dalam rangkan menyambut kehadiran yang jatuh pada tanggal 26 Mei mendatang, ratusan masyarakat kota Jambi mengikuti gerak jalan santai bersama keluarga yang dilaksanakan hari Minggu (12/5-2013) pagi, star dari halamandi Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan Jambi Timur, kota Jambi.
Gerak jalan santai yang diadakan oleh vihara tertua di Kota Jambi terbuka untuk umum dengan route start halaman Sakyakirti menuju jalan Orang Kayo Hitam, lalu menujun simpang Rumah Sakit dr Bratanata ke kiri Jalan Raden Mattaher, terus elintasi Novita Hotel di Jalan Gatot Subroto dam kembali ke vihara melintasi simpang Jelutung.
Gerak jalan santai ini, untuk kali ketiga diselenggarakan oleh vihara Sakyakirti yang diikuti lebih kurang 400 orang, terdiri dari anak-anak hingga opa dan oma yang berumur 60 tahun keatas tidak ketinggalan ikut gerak jalan santai. Walaupun hujan gerimis yang menguyur kota Jambi sejak dini hari, namun tidak menyulutkan animo masyarakat untuk ikut gerak jalan santai menyambut kedatangan Tri Suci Waisak 2557/TB walaupun mereka sempat-sempatnya memakai payung.
Kehadiran opa dan oma dalam gerak jalan santai, tentunya ini memberikan contoh yang sangat baik kepada para generasi muda untuk terus mencanangkan hidup sehat dengan berjalan kaki. Meskipun usia sudah beranjak senja, mereka terlihat sangat menikmati perjalanan yang ditemani hujan gerimis.
Gerak jalan santai yang dilepas oleh Romo Balamitta, ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi. Pukul 06.30 WIB dengan mengkibarkan bendera MBI.
Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kebersamaan, antara pengurus Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi dengan umat Buddha dan berbagai elemen masyarakat yang ada di Kota Jambi.
Dengan semangat dan ceria terlihat diwajah para peserta mengikuti dari belakang, ada beberapa peserta tertinggal cukup jauh. Seusai gerak jalan dilanjutkan dengan membagi-bagi snack serta pemberian doorprize dengan cara melalui undian kupon yang dibagi kepada peserta gerak jalan, tidak ketinggalan peserta gerak jalan di hibur oleh Barongsay dari perkumpulan Hok Liong Sai Jambi. (Romy)
Gerak jalan santai ini, untuk kali ketiga diselenggarakan oleh vihara Sakyakirti yang diikuti lebih kurang 400 orang, terdiri dari anak-anak hingga opa dan oma yang berumur 60 tahun keatas tidak ketinggalan ikut gerak jalan santai. Walaupun hujan gerimis yang menguyur kota Jambi sejak dini hari, namun tidak menyulutkan animo masyarakat untuk ikut gerak jalan santai menyambut kedatangan Tri Suci Waisak 2557/TB walaupun mereka sempat-sempatnya memakai payung.
Kehadiran opa dan oma dalam gerak jalan santai, tentunya ini memberikan contoh yang sangat baik kepada para generasi muda untuk terus mencanangkan hidup sehat dengan berjalan kaki. Meskipun usia sudah beranjak senja, mereka terlihat sangat menikmati perjalanan yang ditemani hujan gerimis.
Gerak jalan santai yang dilepas oleh Romo Balamitta, ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi. Pukul 06.30 WIB dengan mengkibarkan bendera MBI.
Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kebersamaan, antara pengurus Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi dengan umat Buddha dan berbagai elemen masyarakat yang ada di Kota Jambi.
Dengan semangat dan ceria terlihat diwajah para peserta mengikuti dari belakang, ada beberapa peserta tertinggal cukup jauh. Seusai gerak jalan dilanjutkan dengan membagi-bagi snack serta pemberian doorprize dengan cara melalui undian kupon yang dibagi kepada peserta gerak jalan, tidak ketinggalan peserta gerak jalan di hibur oleh Barongsay dari perkumpulan Hok Liong Sai Jambi. (Romy)
Minggu, April 28, 2013
Rabu, April 24, 2013
Langganan:
Postingan (Atom)











.gif)
