Tampilkan postingan dengan label Tri Suci Waisak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tri Suci Waisak. Tampilkan semua postingan

Senin, Juni 04, 2018

Cetiya Oenang Hermawan Jambi, Merayakan Tri Suci Waisak

JAMBI - Meskipun Waisak 2562/BE sudah berlalu, namun tidak mengurangi kemeriahan dan kekhusukan dalam perayaan Waisak di Maha Cetiya Oenang Hermawan yang dihadiri ratusan umat Buddha Kota Jambi di Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, minggu malam (3/6-2018). Sejak pukul 17.30 WIB, umat sudah mulai berdatangan dengan membawa perlengkapan sembahyang.

Menurut Darma Pawarta Oenang (Hasan), pengurus Maha Cetiya Oenang Hermawan bahwa pada puncak Waisak kali ini, pihaknya sengaja mengundang 5 Bhikku dari Thailand. Tentunya ini menjadi moment berharga yang harus dimanfaatkan oleh setiap umat Buddha kota Jambi untuk hadir dalam ritual puncak Waisak. “Salah satu alasan mengapa baru hari ini kita gelar puncak Waisak karena kita harus memastikan jadwal semua Bhikku yang kita undang bisa hadir dalam satu waktu. Hanya saja, dengan kehadiran mereka, tentunya membawa semangat Waisak tersendiri bagi umat yang hadir,” bebernya.

Acara yang dihadiri oleh ratusan umat tersebut diawali dengan pujabakti. Dimulai dengan bunyi genta yang mengiringi para Bhikku sangha memasuki dharmasala. Dilanjutkan dengan penyalaan lilin dan dupa dan pembacaan paritta. Penyalaan lilin merupakan lambang penerangan hidup bagi setiap umat dan pembacaan paritta membuat jiwa menjadi lebih tenang.

Selain itu acara juga diisi dengan meditasi dan Aradana Dhamma Desana serta persembahan dana waisak kepada Bhikku Sangha. Meditasi bermanfaat untuk menenangkan jiwa dan melatih kesabaran. Sedangkan daha Waisak sebagai tanda syukur atas setiap rezeki yang mengalir setiap tahun. “Dengan berdana, kita akan memperoleh kebahagiaan hidup didunia.”

Selanjutnya pemercikan air suci (blessing) oleh Bhikku Sangha kepada seluruh umat Buddha yang hadir. Air suci sebagai symbol penyucian diri. Membersihkan diri dari setiap kesalahan yang telah dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak sengaja. “Sehingga tubuh kita menjadi bersih lahir dan bathin.”

Seusai prosesi perayaan Waisak ratusan umat lakukan ramah tamah di aula cetiya yang terletak dilantai dasar. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi

Bhikku Berjalan Kaki Keliling Kota Jambi

JAMBI – Sebanyak 3 Bhiksu asal negara Gajah Putih (Thailand), Minggu melakukan Pindapatta start mulai dari Maha Cetiya Oenang Hermawan di Jalan Makalam, Rt. 10 Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi (03/6-2018) pagi pukul 08.30, mereka iring-iringan tanpa menggunakan alas kaki, ketiga bhikku dan Samanera yang memakai jubah warna cokelat, diikuti puluhan pemuda-pemudi berjalan menyusuri jalan-jalan di Kota Jambi.

Pindapatta merupakan tradisi umat Buddha di mana Bhiku Sangha Agung berkeliling untuk memperoleh persembahan dari umat berupa uang atau makanan. Mereka ini harus berjalan kaki di bawah terik matahari tanpa alas kaki. Mereka membawa patta (mangkok) sambil terus berjalan dengan kepala tertunduk.

Kehadiran Bhiku Sangha ini telah dinanti-nantikan puluhan warga di lingkungan Cetiya Maha Oenang Hermawan, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi. Umat Buddha yang menanti bhiku bersujud sambil memberikan uang yang dimasukan kedalam amplop merah (angpau), ada yang mempersembahkan mi instan, biskuit, sabun, dan obat-obatan kepada para bhiku tersebut.

Kata ”Pindapatta” sendiri berarti menerima persembahan makanan. ”Patta” atau ”Patra” adalah mangkok makanan yang dibawa para bhiku/bhikuni. Pada masa lalu, patta terbuat dari sejenis buah labu yang disayat bagian atasnya, lalu dikerok bagian tengah atau isinya. Bagian kulitnya kemudian dikeringkan sehingga berbentuk mangkok yang cukup besar. Mangkok inilah yang digunakan para bhiku menerima persembahan dari para umat secara sukarela. Namun, karena patta jenis ini rapuh dan mudah rusak, maka diganti mangkuk dari logam, seperti tembaga, kuningan, dan aluminium.

Hasan menjelaskan, Pindapatta merupakan tradisi yang telah berlangsung selama ribuan tahun silam. Pada hari-harii tertentu, para bhiku melatih diri untuk menjalani kehidupan sehari-hari secara sederhana, belajar menghargai pemberian orang lain, menyadari bahwa hidup ini adalah bergantung satu sama lain. Mereka juga melatih kesadaran serta merenungkan fungsi utama makan adalah untuk memenuhi kebutuhan jasmani, bukan mencari kenikmatan duniawi. (Romy)
* https://www.facebook.com/makinjambi

Minggu, Mei 14, 2017

Maha Cetiya Oenang Hermawan Jambi, Merayakan Tri Suci Waisak

JAMBI - Meskipun Waisak 2561/BE sudah berlalu beberapa waktu yang lalu, namun tidak mengurangi kemeriahan dan kekhusukan dalam perayaan Waisak di Maha Cetiya Oenang Hermawan yang dihadiri ratusan umat Buddha Kota Jambi di Jalan Makalam No. 10, Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, minggu malam (14/5). Sejak pukul 18.00 WIB, umat sudah mulai berdatangan dengan membawa perlengkapan sembahyang.

Menurut Darma Pawarta Oenang (Hasan), ketua Maha Cetiya Oenang Hermawan bahwa pada puncak Waisak kali ini, pihaknya sengaja mengundang 8 Bhikku dari Thailand. Tentunya ini menjadi moment berharga yang harus dimanfaatkan oleh setiap umat Buddha kota Jambi untuk hadir dalam ritual puncak Waisak. “Salah satu alasan mengapa baru hari ini kita gelar puncak Waisak karena kita harus memastikan jadwal semua Bhikku yang kita undang bisa hadir dalam satu waktu. Hanya saja, dengan kehadiran mereka, tentunya membawa semangat Waisak tersendiri bagi umat yang hadir,” bebernya.

Acara yang dihadiri oleh ratusan umat tersebut diawali dengan pujabakti. Dimulai dengan bunyi genta yang mengiringi para Bhikku sangha memasuki dharmasala. Dilanjutkan dengan penyalaan lilin dan dupa dan pembacaan paritta. Penyalaan lilin merupakan lambang penerangan hidup bagi setiap umat dan pembacaan paritta membuat jiwa menjadi lebih tenang.

Selain itu acara juga diisi dengan meditasi dan Aradana Dhamma Desana serta persembahan dana waisak kepada Bhikku Sangha. Meditasi bermanfaat untuk menenangkan jiwa dan melatih kesabaran. Sedangkan daha Waisak sebagai tanda syukur atas setiap rezeki yang mengalir setiap tahun. “Dengan berdana, kita akan memperoleh kebahagiaan hidup didunia.”
Selanjutnya pemercikan air suci (blessing) oleh Bhikku Sangha kepada seluruh umat Buddha yang hadir. Air suci sebagai symbol penyucian diri. Membersihkan diri dari setiap kesalahan yang telah dilakukan baik yang disengaja maupun yang tidak sengaja. “Sehingga tubuh kita menjadi bersih lahir dan bathin.”

Seusai prosesi perayaan Waisak ratusan umat lakukan ramah tamah di aula cetiya yang terletak dilantai dasar. (Romy)* https://www.facebook.com/makinjambi

Minggu, Mei 12, 2013

Vihara Sakyakirti Gelar Gerak Jalan Santai Ditengah Hujan

JAMBI, ayojambi.com – Dalam rangkan menyambut kehadiran Tri Suci Waisak 2557/TB yang jatuh pada tanggal 26 Mei mendatang, ratusan masyarakat kota Jambi mengikuti gerak jalan santai bersama keluarga yang dilaksanakan hari Minggu (12/5-2013) pagi, star dari halaman Vihara Sakyakirti di Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan Jambi Timur, kota Jambi.
Gerak jalan santai yang diadakan oleh vihara tertua di Kota Jambi terbuka untuk umum dengan route start halaman Sakyakirti menuju jalan Orang Kayo Hitam, lalu menujun simpang Rumah Sakit dr Bratanata ke kiri Jalan Raden Mattaher, terus elintasi Novita Hotel di Jalan Gatot Subroto dam kembali ke vihara melintasi simpang Jelutung.

Gerak jalan santai ini, untuk kali ketiga diselenggarakan oleh vihara Sakyakirti yang diikuti lebih kurang 400 orang, terdiri dari anak-anak hingga opa dan oma yang berumur 60 tahun keatas tidak ketinggalan ikut gerak jalan santai. Walaupun hujan gerimis yang menguyur kota Jambi sejak dini hari, namun tidak menyulutkan animo masyarakat untuk ikut gerak jalan santai menyambut kedatangan Tri Suci Waisak 2557/TB walaupun mereka sempat-sempatnya memakai payung.

Kehadiran opa dan oma dalam gerak jalan santai, tentunya ini memberikan contoh yang sangat baik kepada para generasi muda untuk terus mencanangkan hidup sehat dengan berjalan kaki. Meskipun usia sudah beranjak senja, mereka terlihat sangat menikmati perjalanan yang ditemani hujan gerimis.

Gerak jalan santai yang dilepas oleh Romo Balamitta, ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi. Pukul 06.30 WIB dengan mengkibarkan bendera MBI.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kebersamaan, antara pengurus Majelis Budhayana Indonesia (MBI) Provinsi Jambi dengan umat Buddha dan berbagai elemen masyarakat yang ada di Kota Jambi.

Dengan semangat dan ceria terlihat diwajah para peserta mengikuti dari belakang, ada beberapa peserta tertinggal cukup jauh. Seusai gerak jalan dilanjutkan dengan membagi-bagi snack serta pemberian doorprize dengan cara melalui undian kupon yang dibagi kepada peserta gerak jalan, tidak ketinggalan peserta gerak jalan di hibur oleh Barongsay dari perkumpulan Hok Liong Sai Jambi. (Romy)

Minggu, Mei 06, 2012

Pradaksina Keliling Vihara Sakyakirti Jambi

JAMBI - Sekitar ratusan umat Buddhis Jambi melakukan "Pradaksina" yang di pimpin oleh Y.M. Bhiksu Bhadra Mitra dan Y.M. Bhiksu Jayagiri merayakan hari suci Waisak 2556/BE. "Pradaksina" yang memiliki arti merenungi napak tilas Sang Buddha Gautama dalam mencapai Nirwana di Vihara Sakyakirti, Jalan Pengeran Diponegoro No. 60, Kelurahan Sulanjana, Kecamatan  Jambi Timur Kota Jambi, Sabtu (5/5). Detik-detik perayaan Waisak jatuh pada hari Minggu (6/5-2012) pukul 10:34:49 WIB. di rayakan oleh umat buddhis di seluruh dunia dan Indonesia dengan hikmat dan memiliki pesan keharmonisan dan perdamaian bagi seluruh bangsa.

Bertempat di halamat olahraga SD Sariputra Jambi ratusan umat buddhis terdiri dari oma-oma hingga anak-anak merayakan Tri Suci Waisak 2556/BE (Buddhis Era/ tahun Buddhis) yaitu, Kelahiran Pangeran Siddharta Gotama pada tahun 623 SM di Taman Lumbini, Pangeran Siddharta mendapat Penerangan Sempurna menjadi Buddha pada tahun 588 SM di Hutan Gaya dan Buddha Gotama mencapai Parinibbana (wafat) pada tahun 543 SM di Kusinara.

Dengan penuh khidmat dan konsentrasi ratusan umat buddhis berbaris sambil memegang gaharu (hio) dan lilin mengikuti Y.M. Bhiksu Bhadra Mitra dan Y.M. Bhiksu Jayagiri dari belakang mengelilingi vihara Sakyakirti. (Romy)