Tampilkan postingan dengan label MPR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MPR. Tampilkan semua postingan
Rabu, Oktober 15, 2014
Usai dilantik di MPR, Jokowi-JK naik andong menuju Istana
MERDEKA.COM. Penyambutan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) akan digelar meriah pada 20 Oktober mendatang. Para relawan akan mempersembahkan sesuatu yang menarik untuk menyambut pemimpin baru.
Relawan Jokowi-JK akan menggelar kirab budaya saat pelantikan keduanya. Kirab budaya itu merupakan persembahan relawan sebagai bentuk suka cita kemenangan Jokowi.
Usai pelantikan di MPR, Jokowi-JK akan naik andong dari Semanggi menuju Istana. Di sepanjang Jalan Sudirman-Jalan MH Thamrin berbagai acara akan dihadirkan.
Acara konser musik juga bakal digelar di sekitaran Monas. Rencananya, Jokowi akan pidato di Monas dan memotong tumpeng raksasa.
Malam harinya, Jokowi akan menggelar doa bersama relawan dan melepaskan ribuan lampion ke langit. Selanjutnya, Jokowi-JK akan menerima tamu negara untuk makan malam.
Usai makan malam, rencananya Jokowi bernyanyi duet dengan band metal. Acara tersebut akan dimeriahkan dengan band-band lainnya.
https://id.berita.yahoo.com/usai-dilantik-di-mpr-jokowi-jk-naik-andong-044725579.html* www.ayojambi.com/
Usai pelantikan di MPR, Jokowi-JK akan naik andong dari Semanggi menuju Istana. Di sepanjang Jalan Sudirman-Jalan MH Thamrin berbagai acara akan dihadirkan.
Acara konser musik juga bakal digelar di sekitaran Monas. Rencananya, Jokowi akan pidato di Monas dan memotong tumpeng raksasa.
Malam harinya, Jokowi akan menggelar doa bersama relawan dan melepaskan ribuan lampion ke langit. Selanjutnya, Jokowi-JK akan menerima tamu negara untuk makan malam.
Usai makan malam, rencananya Jokowi bernyanyi duet dengan band metal. Acara tersebut akan dimeriahkan dengan band-band lainnya.
https://id.berita.yahoo.com/usai-dilantik-di-mpr-jokowi-jk-naik-andong-044725579.html* www.ayojambi.com/
Kamis, September 11, 2014
Kisah Bupati Solok "Dipalak" Anggota Dewan Saat Pilkada Lewat DPRD
JAKARTA, KOMPAS.com - Bupati Solok, Sumatera Barat, Syamsu Rohim menceritakan pengalamannya sewaktu mengikuti pemilihan kepala daerah yang dipilih oleh DPRD. IA MENGAKU HARUS MENYETOR UANG KEPADA ANGGOTA DPRD DAN PARTAI PENGUSUNGNYA AGAR MENANG DALAM PILKada.
"SAYA SUDAH BERAPA KALI IKUT PEMILIHAN, KETIKA ANGGOTA DEWAN MEMILIH, ITU UANG. PARTAI DIBELI, ANGGOTA DEWAN DIBELI, AKHIRNYA KALAH KARENA DIHIMPIT OLEH ORANG LAIN YANG LEBIH BESAR," kata Syamsu di acara pertemuan pertemuan Apkasi dan Apeksi tolak RUU Pilkada di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (11/9/2014), seperti dikutip Tribunnews.com.
Menurut Syamsu, peristiwa anggota DPRD meminta uang terjadi pada 2003 ketika maju sebagai kepala daerah di Sawahlunto. Dirinya diminta uang sebesar Rp 250 juta untuk masing-masing anggota DPRD yang memilihnya.
"KARENA TIDAK PUNYA UANG, SAYA KALAH. ITU BELUM PARTAI, BELUM LAGI FRAKSINYA. DULUKAN PEMILIHAN ITU ADA FRAKSI TNI-POLRI, PARPOL, KETIKA SAYA BERKOALISI DENGAN YANG BUKAN PARTAI SAYA SEKARANG (GOLKAR) KITA HARUS MEMBAYAR KEPADA MEREKA," tuturnya.
Untuk itu, ia berharap pemilihan kepala daerah tetap dipilih langsung oleh rakyat guna menghindarkan peristiwa-peristiwa seperti tersebut. (baca: Bupati dari Golkar Ini Tolak Pilkada oleh DPRD)
"Kepala Daerah harus dipilih rakyat, kalau tidak mau kembali ke zaman orde baru," ucapnya.
RUU Pilkada saat ini tengah dalam pembahasan di Panitia Kerja DPR. Mekanisme pemilihan kepala daerah salah satu isu yang menjadi sorotan. Sebelum Pilpres 2014, tak ada parpol yang ingin kepala daerah dipilih oleh DPRD.
Namun, kini seluruh parpol koalisi Merah Putih, yakni Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Amanat Nasional, ditambah Partai Demokrat berubah sikap dan menginginkan agar pilkada dipilih oleh DPRD.
http://nasional.kompas.com/read/2014/09/11/14542201/
Menurut Syamsu, peristiwa anggota DPRD meminta uang terjadi pada 2003 ketika maju sebagai kepala daerah di Sawahlunto. Dirinya diminta uang sebesar Rp 250 juta untuk masing-masing anggota DPRD yang memilihnya.
"KARENA TIDAK PUNYA UANG, SAYA KALAH. ITU BELUM PARTAI, BELUM LAGI FRAKSINYA. DULUKAN PEMILIHAN ITU ADA FRAKSI TNI-POLRI, PARPOL, KETIKA SAYA BERKOALISI DENGAN YANG BUKAN PARTAI SAYA SEKARANG (GOLKAR) KITA HARUS MEMBAYAR KEPADA MEREKA," tuturnya.
Untuk itu, ia berharap pemilihan kepala daerah tetap dipilih langsung oleh rakyat guna menghindarkan peristiwa-peristiwa seperti tersebut. (baca: Bupati dari Golkar Ini Tolak Pilkada oleh DPRD)
"Kepala Daerah harus dipilih rakyat, kalau tidak mau kembali ke zaman orde baru," ucapnya.
RUU Pilkada saat ini tengah dalam pembahasan di Panitia Kerja DPR. Mekanisme pemilihan kepala daerah salah satu isu yang menjadi sorotan. Sebelum Pilpres 2014, tak ada parpol yang ingin kepala daerah dipilih oleh DPRD.
Namun, kini seluruh parpol koalisi Merah Putih, yakni Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Amanat Nasional, ditambah Partai Demokrat berubah sikap dan menginginkan agar pilkada dipilih oleh DPRD.
http://nasional.kompas.com/read/2014/09/11/14542201/
Langganan:
Postingan (Atom)

