Tampilkan postingan dengan label DPRD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DPRD. Tampilkan semua postingan

Kamis, September 11, 2014

Kisah Bupati Solok "Dipalak" Anggota Dewan Saat Pilkada Lewat DPRD

JAKARTA, KOMPAS.com - Bupati Solok, Sumatera Barat, Syamsu Rohim menceritakan pengalamannya sewaktu mengikuti pemilihan kepala daerah yang dipilih oleh DPRD. IA MENGAKU HARUS MENYETOR UANG KEPADA ANGGOTA DPRD DAN PARTAI PENGUSUNGNYA AGAR MENANG DALAM PILKada.
"SAYA SUDAH BERAPA KALI IKUT PEMILIHAN, KETIKA ANGGOTA DEWAN MEMILIH, ITU UANG. PARTAI DIBELI, ANGGOTA DEWAN DIBELI, AKHIRNYA KALAH KARENA DIHIMPIT OLEH ORANG LAIN YANG LEBIH BESAR," kata Syamsu di acara pertemuan pertemuan Apkasi dan Apeksi tolak RUU Pilkada di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (11/9/2014), seperti dikutip Tribunnews.com.

Menurut Syamsu, peristiwa anggota DPRD meminta uang terjadi pada 2003 ketika maju sebagai kepala daerah di Sawahlunto. Dirinya diminta uang sebesar Rp 250 juta untuk masing-masing anggota DPRD yang memilihnya.

"KARENA TIDAK PUNYA UANG, SAYA KALAH. ITU BELUM PARTAI, BELUM LAGI FRAKSINYA. DULUKAN PEMILIHAN ITU ADA FRAKSI TNI-POLRI, PARPOL, KETIKA SAYA BERKOALISI DENGAN YANG BUKAN PARTAI SAYA SEKARANG (GOLKAR) KITA HARUS MEMBAYAR KEPADA MEREKA," tuturnya.

Untuk itu, ia berharap pemilihan kepala daerah tetap dipilih langsung oleh rakyat guna menghindarkan peristiwa-peristiwa seperti tersebut. (baca: Bupati dari Golkar Ini Tolak Pilkada oleh DPRD)

"Kepala Daerah harus dipilih rakyat, kalau tidak mau kembali ke zaman orde baru," ucapnya.

RUU Pilkada saat ini tengah dalam pembahasan di Panitia Kerja DPR. Mekanisme pemilihan kepala daerah salah satu isu yang menjadi sorotan. Sebelum Pilpres 2014, tak ada parpol yang ingin kepala daerah dipilih oleh DPRD.

Namun, kini seluruh parpol koalisi Merah Putih, yakni Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Demokrat, Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Amanat Nasional, ditambah Partai Demokrat berubah sikap dan menginginkan agar pilkada dipilih oleh DPRD.

http://nasional.kompas.com/read/2014/09/11/14542201/

Jumat, Desember 07, 2012

Basuki Tantang DPRD Gelar Rapat Terbuka

JAKARTA, KOMPAS.com - Mandeknya waktu pengesahan anggaran 2013 membuat situasi eksekutif dan legislatif Provinsi DKI Jakarta makin meruncing. Kali ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menantang DPRD untuk menggelar rapat pembahasan anggaran secara terbuka, khususnya untuk pers.
"Terserah. Kalau misalnya masih minta dibahas lagi, berarti DPRD mau menghambat. Kalau masih belum jelas, bilang saya tantang DPRD bikin pembahasan terbuka disiarin TV langsung," kata Basuki, di Balaikota Jakarta, Jumat (7/12/2012).

Seperti diberitakan sebelumnya, pembahasan anggaran DKI untuk tahun depan masih buntu. Hal itu membuat rencana pengesahan terus tertunda, padahal tahun 2012 hampir mencapai akhirnya. Ketegangan memuncak saat rapat pembahasan di Gedung DPRD kemarin, sejumlah anggota dewan memutuskan untuk walk out dengan alasan kecewa pada segelintir anggota lainnya yang dinilai menghambat waktu pengesahan dengan cara melemparkan pertanyaan yang terus diulang di setiap rapat.

Rencananya, hari ini Gubernur DKI Joko Widodo akan menandatangani Kebijakan Umum Anggaran (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) bersama Ketua DPRD Jakarta Ferrial Sofyan. Akan tetapi rencana itu terancam tertunda lantaran suara legislatif masih terpecah.

"Sebagai tuan rumah, DPRD nggak mau terbuka kan? Coba lain kali pers yang minta supaya rapatnya digelar terbuka," kata Basuki Tjahaja Purnama.

http://megapolitan.kompas.com/read/2012/12/07/11583147/