Tampilkan postingan dengan label Feng Shui. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feng Shui. Tampilkan semua postingan

Kamis, Desember 17, 2015

占碑华人传统庙会风俗甚盛

 
 
 
占碑市历来就是众多华人群居之处,虽然隔了数代之久,但华人传统庙宇及其风俗还是很浓厚,尤其每逢华族传统节日,更显得节日氛围,热闹非凡。
  虽然部分的年轻一代,在外求学后就不回来,而在求学之地创天下;然而另外在占碑的大多数是有着家父遗留下来的地产业,或是在这里经商,他们受父辈的传统思想影响也是颇大的,如在庙宇文化方面,就显得非常传统,华人请乩童择地选风水,建庙堂。在道教仪式式裏扮演“神媒”或“灵媒”的角色,乩童依賴“神鬼附身”以溝通。
  12月9日,上午8时开始,在要兴建“福神堂”庙时,恳请恩主“三代公”择地,风水方向,占碑福神堂筹委请来了乩童,先以扛轿及各种仪式请神明降临指示择地。
  “福神堂”主席黄春回、筹委主席黄宗雄等理事参加了仪式。仪式肃穆,令人起敬。约至下午13.30分圆满结束。

本报记者明光报道/rommy供图

http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20151217/248108.shtml
* www.ayojambi.com/

Kamis, Desember 10, 2015

Petunjuk Feng Shui Dari Dewa Sam Tai Kong

 
JAMBI, ayojambi.com – Salah satu tradisi membangun tempat ti8nggal maupun tempat ibadah masyarakat Tionghoa di Jambi masih mempercayai roh-roh suci dari para shen ren (roh suci dewa-dewi). Seperti rencana pembangunan Kelenteng Hok Sin Tong di RT. 23 Kelurahan Lebakbandung, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi [ALBUM: Lihat Foto Ritual].
Rencana pencarian feng shui melalui para roh suci dewa sempat mengalami kegagalan beberapa waktu lalu, bahkan Rabu (9/11) siang seusai Pilkada masih mengalami kegagalan mengundang dewa Sam Tai Kong (Un Cu Sam Tai) untuk menentukan posisi as pembangunan Kelenteng Hok Sin Tong. Hingga pukul 10.10 Sam Tai Kong tidak kunjung datang, satu-satunya jalan para pengurus mengundang Hien Tien Siong Tee untuk memberi petunjuk. Begitu datang (Hien Tien Siong Tee) marah-marah terhadap pengurus Kelenteng Hok Sin Tong karena tidak pernah konsultasi sama beliau (Hien Tien Siong Tee, red), bahkan posisi altar utama juga letaknya salah, semestinya hadap keluar, malahan dibikin hadap ke dinding.

Akhirnya pengurus kelenteng meminta maaf atas segala kesalahan mereka dan akan diperbaiki yang salah, hingga Hien Tien Siong Tee memutuskan undang Sam Tai Kong pada pukul 13.00 WIB.

Selain itu Hien Tien Siong Tee juga mengutus 2 orang pemikul kursi tandu untuk mengawali pemanggilan roh suci Sam Tai Kong. Kedua pemikul sempat terjatuh didepan pintu aula, akibat beratnya kursi tandu yang mereka pikul dipundak.

Pulul 13.30 prosesi pencarian feng shui selesai (Romy) 
* www.ayojambi.com/

Senin, Juni 27, 2011

Un Cu Sam Tai Tetapkan Feng Shui Klenteng Len Chun Keng

JAMBI – Setelah dua kali gagal menetapkan posisi pembangunan klenteng Leng Chun Keng 27 Mei lalu, Senin siang (27/6-2011) shen ming (roh suci) “Un Cu Sam Tai” telah menetapkan posisi pembangunan klenteng sesuai dengan prediksi feng shui.
Seperti diberikan terdahulu. dalam ilmu topografi kuno Tiongkok, feng shui mempunyai arti yang cukup besar buat manusia, feng shui dapat menjalin hidup manusia dalam keharmonisan dan membantu memperbaiki hidup dengan menerima Qi positif.

Maka tidak heran, feng shui yang tepat dipercaya dapat memberikan nasib baik dan pembawa rejeki, itulah sebabnya kenapa dalam setiap pembangunan rumah atau gedung baru orang selalu menggunakan feng shui sebagai alat untuk menentukan tata letak yang tepat dari sebuah bangunan.


Misalnya, pengurus klenteng Majelis Agama Khonghucu Indonesia (MAKIN) Leng Chun Keng yang terletak di kawasan Jalan Koni 1, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, menggelar ritual memanggil roh shen ming (roh suci) untuk membantu menentukan feng shui bangunan klenteng baru yang akan mereka bangun. Walaupun mereka telah dua kali mengalami kegagalan, tetapi mereka tetap tabah melakukan ritual penentuan feng shui pembangunan klenteng Leng Chun Keng.

Roh shen ming (roh suci) “Un Cu Sam Tai” di undang untuk masuk kedalam patung yang diletakkan di tandu khusus berwarna merah. Setelah roh shen ming (roh suci) masuk ke kim sin (patung), maka shen ming (roh suci) akan memberikan petunjuk tata letak dan bentuk bangunan sesuai dengan feng shui yang baik.

Proses mencari feng shui dengan bantuan roh shen ming (roh suci) tersebut teryata tidaklah semudah yang dibayangkan banyak orang. Sejak pagi hingga tengah hari roh shen ming (roh suci) yang diundang tidak kunjung tiba untuk memberikan petunjuk dimana letak posisi yang tepat untuk pembangunan klenteng itu.

Dalam hal ini bisa terjadi dikarenakan roh shen ming atau roh suci memilih orang yang tepat untuk memikul kursi tandu (bahasa hok kien Kio) yang diduduki roh suci Un Cu Sam Tai. Setelah roh suci Un Cu Sam Tai datang, sipemangkul tandu (Kio) tidak mampu menahan arah yang dihendaki Un Cu Sam Tai, bahkan sang pemangkul beberapa kali jatuh bangun untuk menahan tandu tersebut.

Ternyata pencarian feng shui melalui ritual ini, tidaklah semudah yang kita bayangkan, terbukti sejak pukul 08.30 WIB hingga pukul 10.30 tidak ada tanda-tanda kehadiran roh suci Un Cu Sam Tai, namun puluhan pengurus Makin Leng Chun Keng silih berganti membacakan mantera, demikian juga dengan orang yang memikul tandu (Kio), sekitar pukul 11.10 WIB roh suci Un Cu Sam Tai datang, itupun hanya menentukan satu posisi, yaitu tengah klenteng (as).

Kali ini, hanya satu kin sin (patung) shen ming (roh suci) diletakkan diatas tandu, yaitu shen ming Un Cu Sam Tai yang dipercaya memiliki kemampuan keahlian feng shui, Un Cu Sam Tai di undang dari Klenteng Makin Gi Hong Tong. (rom-yul)

Sabtu, Desember 11, 2010

Asal Usul Ilmu Feng Shui / Hong Sui

Berbicara soal asal usul Feng Shui / Hong Sui (seterusnya akan ditulis: Hong Sui), tak bisa tidak, haruslah membicarakan I Ching (Ya Keng) terlebih dahulu. Karena Hong Sui merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari I Ching / Ya Keng, yaitu sebuah Kitab Kuno China yang sangat termashyur, yang berisi tentang pelajaran Hakekat Perubahan dan dewasa ini telah banyak dialihbahasakan ke berbagai bahasa mancanegara.
Kombinasi Pergerakan Pa Kua / Pat Kwa (Delapan Trigram), Perpaduan Yin & Yang serta transformasi Wu Xing / Ngo Heng (Lima Elemen) merupakan komponen inti yang dipakai dan dikembangkan sedemikian rupa untuk bisa mendalami filsafat I Ching / Ya Keng dan semua komponennya itulah yang juga menjadi bagian mendasar perhitungan Hong Sui.

Kitab Perubahan (I Ching/Ya Keng) merupakan salah satu kitab kuno China yang mengungkapkan tentang prinsip kebenaran tentang perubahan yang mencakup aspek perubahan alam dengan segala isinya, termasuk manusia tentunya.

I Ching / Ya Keng adalah karya klasik China yang paling kuno dan terkenal, dimuliakan selama ribuan tahun sebagai tuntunan keberhasilan dan sumber kebijakan. Hampir semua filsafat kehidupan China berakar dari kitab ini. Sebut saja, hakekat kegaiban pragmatis Tao Te Ching (Tao Tek Keng), kemanusiaan rasional Confucuis, dan strategi analitis dari seni berperang Sun Tzu bersumber utama dari Kitab Perubahan (I Ching/Ya Keng) ini.

Konsep dasar I Ching / Ya Keng dikembangkan lebih dari 4900 tahun yang lalu oleh Raja Fu Xi / Baginda Hok Hie (2953 SM - 2838 SM) yang karena pengamatannya yang cermat dan seksama terhadap segala perubahan alam & bentuk-bentuk kehidupan termasuk setiap gerakan tubuh, menyimpulkan bahwa semua pergerakan / perubahan di alam semesta dengan segala isinya berubah mengikuti hukum kehidupan ( Hukum Alam / Li ).

Dari hasil pengamatan & penelitiannya, - terutama setelah Fu Xi melihat ukiran peta di punggung Kuda Naga yang muncul dari Sungai Kuning - kemudian ditemukanlah konsep Delapan Trigram (Pa Kua / Pat Kwa) yang kemudian dikenal dengan Sien Thien Pa Kua / Sian Thian Pat Kwa atau PETA SURGAWI (Pat-kwa Awal). Sesuai dengan sebutannya, awalnya Pat-kwa ini lebih cenderung dipakai sebagai alat untuk menghitung / memprediksikan perubahan dan fenomena yang terjadi di alam ini.
Trigram ini kemudian dibukukan oleh Pangeran Wen Wang / Bun Ong ( yang kemudian menjadi pendiri Dinasti Chou / Chiu ,1150-249 SM ) yang menyusunnya dalam bentuk Ho Thien Pa Kua / Ho Thian Pat Kwa atau PETA MANUSIAWI (Pat-kwa Lanjutan), lengkap dengan 64 Heragram ( 64 Permutasi )nya. Kura-kura raksasa hitam yang muncul di Sungai Lo dengan angka ajaib di punggungnya - yang kemudian dikenal sebagai Peta Lo Shu - adalah sumber inspirasi utama yang mempengaruhi konsep PETA MANUSIAWI., maka dimulailah era dimana Pat-kwa dipakai sebagai alat memprediksi perubahan tingkah pola kehidupan manusia.

Selanjutnya Khong Fu Zi / Khong Hu Cu (551-479 SM) menyempurnakan isi Kitab I Ching / Ya Keng ini dengan menambahkan Sepuluh Sayap I Cing / Ya Keng sebagai tafsir penjelasan dan mengembangkannya secara khusus sebagai sumber penghayatan hidup dan pendalaman kespiritualan ( moralitas dan kebijaksanaan ).

Kaisar Qin Shi Huang Ti / Chin Se Hong Te (221-206 SM), pendiri Dinasti Qin / Chiu, yang berkuasa dengan singkat (hanya 13 tahun), tapi merupakan Kaisar lalim yang berkuasa dengan tangan besi, berhasil menyatukan China kembali setelah porak poranda karena perang campuh di akhir Dinasti Chou / Chiu. Kaisar inilah yang meninggalkan karya sejarah spektakuler, berupa dua buah keajaiban dunia, yaitu Tembok Besar China ( Great Wall ) dan Terracota. Karena kelalimannya, kaisar ini pun memerintahkan untuk memusnahkan semua kitab-kitab yang tidak sesuai dengan misi kekaisaran Qin / Chin. I Ching / Ya Keng termasuk salah satu dari sedikit kitab yang berhasil diselamatkan.

Di jaman dinasti Han ( dinasti yang berkuasa setelah Qin / Chin runtuh ) tercapai suatu pemerintahan yang rapih & tertib, semuanya teratur dengan baik. Di jaman ini I Ching / Ya Keng dikembangluaskan dan dipandang sebagai buku etika & metafisika disamping juga sebagai buku ramalan. Ajaran Khong Hu Cu pun naik daun bahkan dijadikan sebagai agama resmi negara dengan Lima Kitab Pegangan (Wu Ching / Ngo Heng) dimana salah satunya adalah I Ching / Ya Keng.

Di jaman kejayaan Dinasti Han inilah, dibangun perlintasan Jalur Sutra yang sangat ramai dipakai sebagai jalur lalu lintas darat waktu itu, sebuah jalur untuk perdagangan luar negeri, yang menghubungkan China , India, Turki bahkan sampai ke Afganistan (makanya di Afganistan, yang praktis muslim, sempat ada 2 buah Patung Buddha nomor 2 tertinggi didunia, yang di hancurkan oleh Penguasa Taliban pada dasawarsa yang lalu).

Jalur Sutra ini pulalah yang dipakai oleh para Bhikku / Bhiksu dari India masuk ke Daratan China membawa dan memperkenalkan Agama Buddha ke China, yang akhirnya agama ini membaur dengan agama pribumi di China yaitu agama Tao dan Khong Hu Cu , kemudian berkembang kembali keluar dari China sebagai agama Chinese Buddhism ( agama Hoa Kao / agama Sam Kao, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai agama Kelenteng ) , dibawa oleh para Hoa-jiao / Hoa-kiao ( kaum Tiong-hoa perantauan ).

Selama Dinasti Han, I Ching / Ya Keng dikembangkan secara resmi dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kurikulum pendidikan waktu itu, bahkan dijadikan sebagai pelajaran wajib yang harus dikuasai oleh para Siu-cai ( Sarjana, red ) saat mengikuti ujian tingkat nasional kala itu. Kemudian berkembang jugalah I Ching / Ya Keng versi Buddhis dan Taoisme. Perpaduan pengembangan ini akhirnya menghasilkan teks standar I Ching / Ya Keng. Teks standar inilah akhirnya dijadikan standar para ilmuwan dunia dalam menelaah dan mempelajari I Ching / Ya Keng. Teks standar ini pulalah yang disusun dijaman Dinasti Tang pada lebih kurang Abad ke 7 Masehi, yang akhirnya memunculkan Ilmu Hong Sui.

Pada zaman Dinasti Tang, praktek Hong Sui mulai diperkenalkan di China oleh Yang Yun Sang (sekitar 840-888 M) seorang Ahli Seni China Kuno waktu itu. Yang Yun Sang yang juga penasehat utama Kaisar Hi Tsang (888 M) - secara umum ia diakui sebagai Penemu Ilmu Hong Sui - meninggalkan warisan klasiknya berupa 3 (tiga) buah buku tentang Hong Sui. Bukunya, akhirnya selama beberapa generasi dikembangkan menjadi dasar-dasar ilmu Hong Sui, dan dikenal sebagai Hong Sui Aliran Bentuk yang mengacu pada penentuan letak Naga Hijau dan Macan Putih sebagai faktor penentu kedudukan Nafas Kosmis ( Qi / Chi / Energi Vital / Energi Pembawa Keberuntungan ).

Ketiga buku klasik yang terkenal ini, menggambarkan praktek Hong Sui dengan metode perhitungan melaui metafora keberadaan Sosok Naga (yang dipercaya kalangan Tionghoa klasik sebagai lambang keberuntungan), terdiri atas :
1. Han Lung Ching ( Seni Membangkitkan Naga )
2. Ching Nang Ao Chih ( Metode Menentukan Letak Goa Naga )
3. I Lung Ching ( Prinsip Mendekati Naga )

Selanjutnya, Wang Zhi seorang Ahli Perbintangan yang hidup di jaman Dinasti Sung (? 960 M), memperkenalkan Hong Sui Aliran Kompas yang menekankan pada pengaruh planet terhadap kualitas baik buruknya suatu tempat / lahan / lokasi / bangunan. Wang Zhi juga meninggalkan warisan klasik berupa 2 (dua) buah buku Hong Sui yang kemudian diterbitkan oleh muridnya, Ye Shui Liang, berjudul :

1. Prinsip Inti atau Pusat (Canon of the Core or Centre)
2. Diskusi tentang Pertanyaan dan Jawaban.
(Disquisitions on the Queries and Answers)

Kemudian pada akhir abad ke 19, memasuki awal abad ke 20, kedua aliran yang tadinya berjalan sendiri-sendiri ini, berhasil digabungkan menjadi satu prinsip perhitungan Hong Sui yang saling mengisi dan berkaitan. Gabungan dari Aliran Bentuk dan Aliran Kompas inilah yang akhirnya terus dianalisa, dipelajari dan diperbandingkan dari generasi ke generasi.

Pada umumnya, Aliran Bentuk memberi tekanan pada bentuk dan kontur tanah seperti wujud gunung-gunung, arah aliran sungai serta pengaruh dari letak garis Maca Naganya. Untuk mengamatinya membutuhkan pandangan intuisi yang tajam. Aliran ini menggunakan rumus perhitungan Naga Hijau dan Macan Putih sebagai tolok ukurnya. Meskipun teori simbol Naga Hijau & Macan Putih relatif mudah dipahami, tapi kenyataannya aliran ini sangat sulit dipraktekkan.

Lain halnya dengan Aliran Kompas, metodenya sulit untuk dipelajari karena mencakup Pa Kua / Pat Kwa, Yin Yang dan Lima Elemen yang terbagi dalam Sepuluh Batang Langit ( 10 Elemen Langit ) dan Dua Belas Cabang Bumi ( 12 Shio ) serta Konstelasi Perbintangan yang ditimbulkan dari posisi letak planet-planet terhadap Bumi dan Matahari. Metode perhitungannya menjadi ruwet & menjelimet, membuat perumusannya menjadi sulit untuk dipahami. Tapi, jika metode aliran ini sudah dipahami, mempraktekkannya malah lebih mudah ketimbang Aliran Bentuk, karena metode Aliran Kompas ini memiliki standar acuan yang baku dan bersifat matematis ilmiah yang bisa dijabar-uraikan secara rinci dan logis.

Namun pada perkembangannya kini, banyak juga para praktisi Hong Sui yang tergolong masuk aliran baru yang pada prakteknya hampir tidak mengacu pada kedua aliran induk diatas, yaitu Aliran Supranatural ( diistilahkan sendiri oleh penulis-red ) yang merupakan suatu aliran yang semata-mata hanya mengandalkan pada pentunjuk Sin Beng / Malaikat / Roh Halus tertentu atau Melalui Kekuatan Gaib / Mata Bathin ( Daya Linuwih ).

Praktisi Hong Sui yang tergolong dalam aliran ini biasanya dikenal sebagai paranormal. Yang unik dari pengikut aliran ini adalah di samping mereka memiliki daya limuwih, praktisi Hong Sui tersebut ada juga yang sedikit mempelajari teori Aliran Bentuk & Aliran Kompas dan kemudian menyelaraskan intuisi ke paranormalannya itu dengan akidah dari kedua aliran Hong Sui ini.[Suhu Tan]