Citizen6, Jakarta - Para pemuka agama atau keyakinan salah satu tugasnya mengajak umat manusia berbuat baik. Hal ini tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada seluruh makhluk hidup dan makhluk mati. Orang-orang yang telah sampai pada level tersebut tentu telah melewati pengalaman spiritual yang menakjubkan. Salah satu indikasi mereka telah sampai di level tersebut adalah mereka punya kemampuan menakjubkan dalam menahan diri.
Tampilkan postingan dengan label Bhiksu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bhiksu. Tampilkan semua postingan
Sabtu, September 10, 2016
Kamis, Oktober 25, 2012
Lian Bo Rinpoche dari Tibet Mengelilingi Candi Muarojambi
JAMBI – Situs percandian Muarojambi yang terletak di Desa Muara Jambi, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, tidak hanya dikenal oleh masyarakat di lingkungan Provinsi Jambi, kini situs yang luasnya dua puluh kali lebih luas dari Candi Borobudur di Jawa Tengah dan dua kali lebih luas dari Kompleks Candi Angkor Wat di Kamboja, maka tak heran apabila kompleks percandian Candi Muarojambi pun disebut sebagai kawasan candi terluas di Asia Tenggara.
Kini peninggalan sejarah bagi umat Buddha di masa Kerajaan Melayu abad VII hingga XIV ini masih menumbuhkan getaran yang dirasakan di Tibet (Cina) hingga kini.
Tersebarnya Candi Muarojambi melalui situs internet dikawasan Tibet, telah menjadikan lawatan para Bhiksu untuk berkunjungi ke Provinsi Jambi, khususnya ke Candi Muarojambi, seperti Lian Bo Rinpoche yang sengaja datang ke Jambi melalui Singapure, kedatangan Lain Bo Rinpoche bersama beberapa warga Singapore dari tanggal 22 hingga 24 Oktober 2012.
Kedatangan rombongan Lian Bo Rinpoche disambut oleh tokoh pendiri “Masyarakat Peduli Candi Muarojambi”, Hidayat, hari pertama mereka mengunjungi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi, hari kedua rombongan mengunjungi candi Muarojambi, di antaranya Bukit Sengalo (Bukit Perak), Candi Gumpung, Candi Tinggi I dan Candi Tinggi II, lalu istirahat makan siang, setelah itu dilanjutkan dengan mengunakan sepeda motor rombongan ke Candi Koto Mahligai yang jaraknya sekitar 4 kilometer, pulang dari Candi Koto Mahligai rombongan Lian Bo Rimpoche mampir ke Candi Gedong I dan II, Candi Kedaton dan Candi Astano.
Pada kesempatan tersebut Lian Bo Rinpoche menyempatkan diri melepaskan ratusan burung ke alam bebas di dua lokasi, yaitu di Bukit Sengalo dan dekat Candi Tinggi I. selain itu disetiap situs yang dianggap suci Lian Bo Rinpoche melakukan meditasi dan membaca kitab sutra. Rabu pagi rombongan Lian Bo Rinpoche kembali mengunjungi Museum Negeri Jambi yang terletak di Jalan Urip Sumoharjo No. 1, Jambi.
Lian Bo Rinpoche juga menyampaikan rasa kagum dan puas dapat melihat langsung serta keliling candi Muarojambi selama sehari di dampingi Hidayat selaku tokoh pendiri Masyarakat Peduli Candi Muarojambi, “Saya merasa sangat puas dapat mengunjungi candi Muarojambi secara langsung dan sangat berterima kasih atas keramah tamahan masyarakay setempat”. (ungkapan dalam bahasa mandarin). (Romy)
Sabtu, September 03, 2011
Candi Kadaton Dikunjungi Bhikkhu Asal Bhutan
JAMBI – Suatu kehormatan dimana salah satu situs purbakala kebanggaan masyarakat Provinsi Jambi, yakni situs Candi Muarojambi kembali mendapatkan kunjungan dari Bhikkhu asal Bhutan, Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup beserta rombongan, Sabtu (3/9-2011) siang. Candi Muarojambi merupakan satu-satunya peninggalan sejarah yang cukup terkenal bahkan terbesar di asia tenggara.
Untuk itu, Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup mengaku sangat tertarik untuk melihat situs tersebut secara dekat, yang berada di areal Candi Muarojambi luasnya lebih besar dari Candi Borobudur.
“Saya pernah ke sini, makanya keinginan kembali melihat penemuan Makara di Candi Kadaton. baru mendapatkan kesempatan hari ini,” ujarnya saat kegiatannya keliling candi. Keinginanya melihat makara yang ditemukan tim Ekskavasi (Pemugaran) Candi Kedaton.
Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup menjelaskan bahwa keberadaan Candi Muaro Jambi ini merupakan salah satu bukti bahwa, banyak sekali benda peninggalan sejarah yang terdapat di Provinsi Jambi.
Gelar Pradaksina
Selain melihat makara di Candi Kadaton, Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup juga melakukan ritual sembahyang. Ritual ini dilakukannya sebagai salah bentuk penghormatan kepada candi yang dianggap sebagai salah satu benda suci dan juga meninjau Gedung Museum Candi Muarojambi, serta melepaskan ratusan ekor burung yang dikenal fang shen. (Romy)
“Saya pernah ke sini, makanya keinginan kembali melihat penemuan Makara di Candi Kadaton. baru mendapatkan kesempatan hari ini,” ujarnya saat kegiatannya keliling candi. Keinginanya melihat makara yang ditemukan tim Ekskavasi (Pemugaran) Candi Kedaton.
Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup menjelaskan bahwa keberadaan Candi Muaro Jambi ini merupakan salah satu bukti bahwa, banyak sekali benda peninggalan sejarah yang terdapat di Provinsi Jambi.
Gelar Pradaksina
Selain melihat makara di Candi Kadaton, Rinpoche Ngagpa Thsering Dendup juga melakukan ritual sembahyang. Ritual ini dilakukannya sebagai salah bentuk penghormatan kepada candi yang dianggap sebagai salah satu benda suci dan juga meninjau Gedung Museum Candi Muarojambi, serta melepaskan ratusan ekor burung yang dikenal fang shen. (Romy)
Rabu, Agustus 31, 2011
Bhiksu Gunung Kidul Mimpi Kunjungi Candi Kadaton
Secara tidak sengaja para pekerja pemugaran di Candi Kedaton, Selasa pagi (16/8) kembali menemukan sebuah makara di menapo kompleks Candi Kedaton. arca tersebut ditemukan dalam posisi miring ke kiri diantara tumpukan bebatuan menapo.
Atas pertemuan makara di candi Kadaton, membuat nama komplek Percandian Muarojambi semakin banyak dikunjungi orang, bahkan banyak dikunjungi para bhiksu, diantaranya Bhiksu Sasana Bodhi dari Gunung Kidul, Yogyakarta (Jateng).
Bhiksu Sasana Bodhi didampingi beberapa pengurus Vihara Sakyakirti Jambi, Rabu pagi (31/8-2011) mengunjungi Candi Kadaton untuk melihat langsung atas ditemukannya tiga makara, bawah menurut dugaan Bhiksu Sasana Bodhi, manapo tersebut terdapat empat penjuru, “Manapo ini ada empat penjuru, pintu gerbangnya berada di timur.” Katanya.
Selain mengunjungi Candi Kadaton Bhiksu Sasana Bodhi juga menyempatkan diri mengunjungi Candi Tinggi I, Candi Tinggi II dan Candi Gumpung.
Di beberapa Candi tertentu Bhiksu Sasana Bodhi berhenti. Menerawang disusul kemudian tangannya menengadah rendah, pada kesempatan itu Bhiksu Sasana Bodhi melakukan meditasi.
Makara di gapura Candi Kedaton, merupakan temuan yang tidak lazim, karena makara pada umumnya ditemukan pada tangga-tangga masuk menuju bangunan induk candi.
"Temuan seperti ini terjadi ada Candi Gumpung. Salah satu makara masih menempel pada tangga masuk candi hingga kini. Temuan kali ini tidak lazim, karena makaranya menempel di gapura, bukan di tangga masuk."
Menurut analisa dari ahli arkeologi, Bambang Budi Utomo dan Ir. Hudaya Kandahjaya, MS. MBA. MSIS. MA. PhD, bahwa dugaan yang tertulis disalah satu makara nama Mpu Kusuma. sedangkan ungkapan di depan nama ini, bisa dibaca Pamurwitanira, artinya: tempat sirnanya sesepuh. Dengan kata lain ini rupanya tempat memperingati kepergian sesepuh bernama Mpu Kusuma. Untuk waktunya sekitar tahun 1017 (tahun Saka), atau kira-kira tahun (1017 + 78 =) 1095 Masehi. (Romy)
Atas pertemuan makara di candi Kadaton, membuat nama komplek Percandian Muarojambi semakin banyak dikunjungi orang, bahkan banyak dikunjungi para bhiksu, diantaranya Bhiksu Sasana Bodhi dari Gunung Kidul, Yogyakarta (Jateng).
Bhiksu Sasana Bodhi didampingi beberapa pengurus Vihara Sakyakirti Jambi, Rabu pagi (31/8-2011) mengunjungi Candi Kadaton untuk melihat langsung atas ditemukannya tiga makara, bawah menurut dugaan Bhiksu Sasana Bodhi, manapo tersebut terdapat empat penjuru, “Manapo ini ada empat penjuru, pintu gerbangnya berada di timur.” Katanya.
Di beberapa Candi tertentu Bhiksu Sasana Bodhi berhenti. Menerawang disusul kemudian tangannya menengadah rendah, pada kesempatan itu Bhiksu Sasana Bodhi melakukan meditasi.
Makara di gapura Candi Kedaton, merupakan temuan yang tidak lazim, karena makara pada umumnya ditemukan pada tangga-tangga masuk menuju bangunan induk candi.
"Temuan seperti ini terjadi ada Candi Gumpung. Salah satu makara masih menempel pada tangga masuk candi hingga kini. Temuan kali ini tidak lazim, karena makaranya menempel di gapura, bukan di tangga masuk."
Menurut analisa dari ahli arkeologi, Bambang Budi Utomo dan Ir. Hudaya Kandahjaya, MS. MBA. MSIS. MA. PhD, bahwa dugaan yang tertulis disalah satu makara nama Mpu Kusuma. sedangkan ungkapan di depan nama ini, bisa dibaca Pamurwitanira, artinya: tempat sirnanya sesepuh. Dengan kata lain ini rupanya tempat memperingati kepergian sesepuh bernama Mpu Kusuma. Untuk waktunya sekitar tahun 1017 (tahun Saka), atau kira-kira tahun (1017 + 78 =) 1095 Masehi. (Romy)
Langganan:
Postingan (Atom)
