Tampilkan postingan dengan label Warga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warga. Tampilkan semua postingan

Kamis, Juli 28, 2011

Warga Tolak Perpindahan Klenteng

KUALA TUNGKAL, TRIBUNJAMBI.COM - Ketua Kelenteng Lem Sang Keng, Sayuti, hanya bisa pasrah usai mengikuti pertemuan dengan warga RT 21, Kelurahan Tungkal Harapan, unsur pemerintah, tokoh agama dan tokoh masyarakat Kuala Tungkal. Usahanya memindahkan Kelenteng Lem Sang Keng hingga saat ini belum berhasil.
Alasannya, perpindahan rumah ibadah umat Konghucu di Jalan Sri Soedewi, Kota Kuala Tungkal, itu tidak disetujui warga setempat, meski sudah lama pengurus kelenteng menginginkan pindah.

Kata Sayuti, pemindahan kelenteng disebabkan lokasi tanah tempat kelenteng berdiri masih meminjam. Selain itu, bangunan kelenteng juga tidak memadai dengan keberadaam ratusan jemaat jika hendak melakukan ritual keagamaan.

"Daerah sana (lokasi klenteng lama) sangat tidak memungkinkan lagi dan punya orang. Kita hanya mau pindahkan," ujarnya Sayuti usai mengikuti pertemuan, Senin (25/7).

Kelenteng tersebut merupakan kelenteng tertua di Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar) yang berdiri semenjak tahun 1969 silam. Awalnya kelenteng ini bernama Kelenteng Tri Darma, sebelum akhirnya berubah menjadi Kelenteng Leng Sam Keng.

Awalnya proses perpindahan kelenteng itu sudah disetujui masyarakat dengan adanya bukti tanda tangan 60 warga sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) Dua Mnteri, yakni Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Agama tahun 2006. Kenyatannya, saat ini terjadi perubahan dukungan masyarakat setempat.

Dalam SKB Dua Menteri bab IV tentang Pendirian Rumah Ibadah, pasal 14 ayat dua poin a menyebutkan, pendirian rumah ibadah harus memenuhi persyaratan daftar nama dan kartu tanda penduduk (KTP) pengguna rumah ibadah paling sedikit 90 orang yang disahkan oleh pejabat setempat. Sementara pada poin b menyebutkan, dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan oleh lurah/kepala desa.

"60 sudah lebih, cuma ada yang berubah. Kalau umat kita banyak, tapi kita akan usahakan agar tidak ada permusuhan," harapnya.

Lurah Tungkal Harapan, Junaidi M mengatakan, sesuai dengan surat dukungan yang diterima, sebanyak 62 orang RT 21 yang menyetujui perpindahan kelenteng dan sebanyak 55 orang yang tidak setuju.

http://jambi.tribunnews.com/2011/07/25/warga-tolak-perpindahan-klenteng

Jumat, Maret 18, 2011

Tidak Sendirian

Seorang pemuda memakai kacamata, membagikan “ramen” mie rebus ke beberapa orang di tempat penampungan korban tsunami. Oleh wartawan TV ditanya dari group relawan mana. Pemuda itu menjawab, “Bukan. Volunteer. Saya memang penduduk sini dan pekerjaan saya memang menjual ramen. Rumah dan warung saya juga hilang dan tidak ada lagi. Akan tetapi saya tidak sendirian. Oleh karena itu dalam keadaan sekarang kita bersama-sama melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membangun kembali”.
Bukan tangis dan ratapan yang ditunjukan, tetapi semangat untuk bangkit kembali karena menyadari yang mengalami musibah kehilangan rumah dan pekerjaan bukan dia sendiri.
Dua orang bapak berdiri di atas bukit kecil, memandang kebawah suatu kota kecil yang sekarang sudah tidak ada lagi rumah yang berdiri. Dia menunjukan lokasi rumah dia dulu. Tampak bahwa tidak hanya rumah yang hilang tapi “kota” atau “kampung” semua hilang ditelan tsunami. Semangat tetap tercermin dalam diri bapak-bapak itu karena mereka merasa “tidak sendirian”.

Ada teman saya di Kanada menanyakan : “Jepang kan negara donor, kenapa kok mengumpulkan dana juga dari masyarakatnya?”. Mungkin jawabnya adalah bukan pada jumlah uang yang berhasil dikumpulkan tetapi lebih pada rasa setia kawan atau rasa kebersamaan sebagai satu negara/bangsa sehingga ingin berbuat sesuatu. Rasa bersama inilah yang ada dalam setiap orang jepang. Rasa ini menjadi semangat bagi orang yang ditimpa bencana, sehingga bisa bangkit lagi. Ada juga sempat di muat di kompas.com, mahasiswa atau mahasiswi jepang di Yogya mengumpulkan dana dari orang lewat di jalan ( dengan memakai pakaian jepang). Tentu saja gerakan ini kalau dilihat hasil jumlah tidak banyak, tapi “arti” dari yang dia lakukan itu cukup besar bagi dia sendiri dan bagi bangsanya. Ada rasa kesatuan sehingga tidak merasa sendirian dalam menghadapi bencana.

Pada hari ke-5 setelah gempa, yaitu tanggal 16 Maret 2011, transportasi utama di Tokyo untuk orang bekerja sudah “normal”. Ini juga berkat kerja sama antara TEPCO (perusahaan penyedia listrik), perusahaan kereta, dan Kementrian Transportasi. Memang kekurangan pasokan listrik masih ada. Akan tetapi, pengaruh ke kegiatan utama di perkantoran sedapat mungkin di kurangi supaya roda ekonomi tidak terlalu terganggu.

Berkat kerja sama tiga instansi ini, maka di waktu orang berangkat ke kantor dan pulang ke kantor, jumlah dan jadwal kereta semua normal. Artinya sama seperti sebelum gempa. Dengan demikian, orang berangkat dan pulang kerja seperti biasa. Jumlah kereta yang dikurangi adalah jam-jam tidak sibuk, yaitu jam 10 pagi sampai jam 6 sore (16:00). Suatu langkah penanganan yang juga berlandaskan semangat “tidak sendirian”, tapi bersama-sama mengatasi masalah.

Semangat bahwa “tidak sendirian” ini juga tampak jelas sekali ditunjukan oleh pemain sepak bola asal Jepang, Nagatomo, yang bermain untuk klub eropa Inter Milan. Sebelum pertandingan, bersama-sama semua pemain dan penonton berdoa untuk Jepang. Setelah pertandingan Nagatomo memegang bendera Jepang dan tertulis dalam bahasa Jepang dan juga dalam bahasa Inggris: ”You will never walk alone”. Sementara di layar TV dituliskan dalam bahasa Jepang, “Sora ha tsunagatteiru node ( kimochi ha ) tsunagaru to omoimasu” ( Langit itu bersambungan/tidak terpisah, maka perasaan juga bisa tersambung ).

Ada satu ungkapan yang sudah diajarkan ke anak sejak TK ,SD, dan sampai dewasa yaitu, “chikara o awaseru”, yang berarti kita bersama-sama menggalang kekuatan. Kalau sendirian tidak akan bisa, tetapi kalau bersama2 kita susun kekuatan maka kita akan bisa melakukannya.

http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/03/17/tidak-sendirian/

Tidak Sendirian

Seorang pemuda memakai kacamata, membagikan “ramen” mie rebus ke beberapa orang di tempat penampungan korban tsunami. Oleh wartawan TV ditanya dari group relawan mana. Pemuda itu menjawab, “Bukan. Volunteer. Saya memang penduduk sini dan pekerjaan saya memang menjual ramen. Rumah dan warung saya juga hilang dan tidak ada lagi. Akan tetapi saya tidak sendirian. Oleh karena itu dalam keadaan sekarang kita bersama-sama melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membangun kembali”.
Bukan tangis dan ratapan yang ditunjukan, tetapi semangat untuk bangkit kembali karena menyadari yang mengalami musibah kehilangan rumah dan pekerjaan bukan dia sendiri.
Dua orang bapak berdiri di atas bukit kecil, memandang kebawah suatu kota kecil yang sekarang sudah tidak ada lagi rumah yang berdiri. Dia menunjukan lokasi rumah dia dulu. Tampak bahwa tidak hanya rumah yang hilang tapi “kota” atau “kampung” semua hilang ditelan tsunami. Semangat tetap tercermin dalam diri bapak-bapak itu karena mereka merasa “tidak sendirian”.

Ada teman saya di Kanada menanyakan : “Jepang kan negara donor, kenapa kok mengumpulkan dana juga dari masyarakatnya?”. Mungkin jawabnya adalah bukan pada jumlah uang yang berhasil dikumpulkan tetapi lebih pada rasa setia kawan atau rasa kebersamaan sebagai satu negara/bangsa sehingga ingin berbuat sesuatu. Rasa bersama inilah yang ada dalam setiap orang jepang. Rasa ini menjadi semangat bagi orang yang ditimpa bencana, sehingga bisa bangkit lagi. Ada juga sempat di muat di kompas.com, mahasiswa atau mahasiswi jepang di Yogya mengumpulkan dana dari orang lewat di jalan ( dengan memakai pakaian jepang). Tentu saja gerakan ini kalau dilihat hasil jumlah tidak banyak, tapi “arti” dari yang dia lakukan itu cukup besar bagi dia sendiri dan bagi bangsanya. Ada rasa kesatuan sehingga tidak merasa sendirian dalam menghadapi bencana.

Pada hari ke-5 setelah gempa, yaitu tanggal 16 Maret 2011, transportasi utama di Tokyo untuk orang bekerja sudah “normal”. Ini juga berkat kerja sama antara TEPCO (perusahaan penyedia listrik), perusahaan kereta, dan Kementrian Transportasi. Memang kekurangan pasokan listrik masih ada. Akan tetapi, pengaruh ke kegiatan utama di perkantoran sedapat mungkin di kurangi supaya roda ekonomi tidak terlalu terganggu.

Berkat kerja sama tiga instansi ini, maka di waktu orang berangkat ke kantor dan pulang ke kantor, jumlah dan jadwal kereta semua normal. Artinya sama seperti sebelum gempa. Dengan demikian, orang berangkat dan pulang kerja seperti biasa. Jumlah kereta yang dikurangi adalah jam-jam tidak sibuk, yaitu jam 10 pagi sampai jam 6 sore (16:00). Suatu langkah penanganan yang juga berlandaskan semangat “tidak sendirian”, tapi bersama-sama mengatasi masalah.

Semangat bahwa “tidak sendirian” ini juga tampak jelas sekali ditunjukan oleh pemain sepak bola asal Jepang, Nagatomo, yang bermain untuk klub eropa Inter Milan. Sebelum pertandingan, bersama-sama semua pemain dan penonton berdoa untuk Jepang. Setelah pertandingan Nagatomo memegang bendera Jepang dan tertulis dalam bahasa Jepang dan juga dalam bahasa Inggris: ”You will never walk alone”. Sementara di layar TV dituliskan dalam bahasa Jepang, “Sora ha tsunagatteiru node ( kimochi ha ) tsunagaru to omoimasu” ( Langit itu bersambungan/tidak terpisah, maka perasaan juga bisa tersambung ).

Ada satu ungkapan yang sudah diajarkan ke anak sejak TK ,SD, dan sampai dewasa yaitu, “chikara o awaseru”, yang berarti kita bersama-sama menggalang kekuatan. Kalau sendirian tidak akan bisa, tetapi kalau bersama2 kita susun kekuatan maka kita akan bisa melakukannya.

http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/03/17/tidak-sendirian/

Kamis, Maret 03, 2011

Ratusan Warga Menentang Eksekusi Tanah

JAMBI - Dengan membentangkan kayu, batu dan ban bekas di tengah jalan, ratusan warga Kampung Manggis Kota Jambi, Kamis pagi menentang eksekusi tanah yang hendak dilakukan pihak Pengadilan Negeri Jambi.
Proses eksekusi sepuluh rumah di Rt 10, Kelurahan Sungai Asam, Kecamatan Pasar Jambi berlangsungsung a lot. Sejak pagi ratusan warga sudah berkumpul untuk menghalangi proses eksekusi.

Perlawanan yang dilakukan warga tersebut dilakukan untuk mempertahankan hak sepuluh rumah warga setempat yang hendak digusur karena kalah dalam dipersidangan hingga tingkat Mahkamah Agung.

Protes tidak hanya dilakukan oleh warga yang rumahnya bermasalah, tetapi juga puluhan anak Sekolah Dasar Negeri 18 yang sebagian ruang kelasnya akan ikut digusur.

Karena mendapat tentangan dari warga, pihak Pengadilan Negeri Jambi akhirnya hanya bisa mengeksekusi empat rumah dari sepuluh rumah yang rencananya akan dieksekusi.
Proses eksekusi ini dijaga ketat ratusan petugas kepolisian dari Polresta Jambi.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, pihak panitera, polisi dan warga akhirnya melakukan dialog dan disepakati hanya akan mengeksekusi empat rumah saja karena pihak yang bersangkutan sudah bersedia dipindahkan.

Sengketa tanah antar anggota keluarga ini sebenarnya sudah terjadi puluhan tahun silam,
tanah seluas 3.100 meter persegi ini awalnya dihibahkan oleh kakek ahli waris yakni Hasan Bontet kepada salah seorang anggota keluarga mereka, oleh cucu sang pemilik tanah yang dihibahkan ini kemudian dibuatkan akta tanahnya dan berencana akan dijualnya.

Merasa tanah ini sudah dihibahkan oleh almarhum kepada 10 kepala keluarga yang menempati tanah ini pun kemudian menggugat Yusuf dipengadilan hingga ke tingkat MA, namun keputusan Mahkamah Agung memenangkan pihat tergugat karena memegang sertifikat tanah. (nug-rom)

Selasa, Februari 15, 2011

Tingkatkan Layanan kepada Warga Tionghoa

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan agar Kementerian Agama dan pemerintah daerah meningkatkan pelayanan kepada warga Tionghoa di Indonesia. Kepada Menteri Agama Suryadharma Alie dan para gubernur, Presiden meminta agar mereka menuntaskan permasalah yang tersisa terkait perlindungan dan pelayanan kepada umat Khonghucu dalam tahun ini dan tahun mendatang.
"Sejumlah masalah teknis dan administrasi di beberapa daerah, saya minta dapat benar-benar dituntaskan," kata Presiden dalam sambutan pada Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2562 yang digelar Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) di Balai Samudra, Jakarta, Senin (14/2/2011).

Pada kesempatan tersebut, Presiden kembali menegaskan agar rakyat Indonesia selalu menjauhkan tindak kekerasan dalam menyelesaikan perselisihan antarkomunitas dan antarumat beragama. Presiden meminta rakyat Indonesia selalu menjaga toleransi dan kerukunan.

"Kalau ada masalah akidah agama, mari kita carikan solusi yang tepat dengan mendengarkan pandangan dari para pemuka agama. Mari kita cegah dan jauhi tindakan kekerasan dalam mengatasi permasalahan itu. Sebab kalau kita mudah terjebak dalam praktik tindak kekerasan dan main hakim sendiri, maka sesungguhnya kita merusak nilai, norma dan kaidah negara hukum yang menjunjung tinggi multikulturalisme," tutur Presiden.

Pada perayaan tersebut, Presiden didampingi Wakil Presiden Boediono, Menteri Agama Suryadharma Alie, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, Menteri Pendidikan M Nuh, Menteri Peranan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Agum Gumelar, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, dan Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo.

http://nasional.kompas.com/read/2011/02/14/21104788/