Tampilkan postingan dengan label Tsunami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tsunami. Tampilkan semua postingan

Rabu, April 02, 2014

Data 19 Provinsi Berpotensi Tsunami, BMKG Imbau Jauhi Pantai

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gempa bumi besar berskala 8 SR pada kedalaman 10 km di Pantai Utara Cile atau 240 Barat laut Bombay India, Rabu (2/4/2014) pukul 06.46 WIB telah menimbulkan tsunami setinggi 1,92 meter di wilayah pesisir Cile, Peru, Ekuador, Kolombia, Panama, Kosta Rika dan Nikaragua. Gempa dan tsunami telah menimbulkan kerusakan dan korban jiwa.
Indonesia Tsunami Early Warning Center (InaTEWS) di BMKG telah mengeluarkan peringatan dini tsunami yang akan melanda beberapa wilayah di Indonesia. Peringatan dikeluarkan berdasarkan analisis penjalaran tsunami.

BMKG telah menyampaikan peringatan dini tsunami tersebut kepada Posko BNPB. Ada 115 lokasi di kabupaten/ kota dari 19 provinsi di Indonesia akan berpotensi terjadi tsunami. Tinggi potensi tsunami 0 hingga 0,5 meter. Waktu kedatangan tsunami, Kamis (3/4/2014) pukul 05.11 WIB hingga 19.44 WIB.

Lokasi berpotensi tsunami yang dirilis Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan yang disampaikan ke redaksi Tribunnews.com, Rabu (2/4/2014) adalah daerah di pesisir di Provinsi Papua.

"Seperti Kota Jayapura, Jayapura, Sarmi, Waropen, Biak Numfor, dan Supiori diperkirakan akan berpotensi terjadi tsunami pada pukul 05.11 hingga 05.51 WIB. Demikian pula daerah lain seperti di Malut, Maluku, Papua Barat, Banten, Jatim, DIY, Jateng, Jabar, Lampung, NTB, NTT, Bali, Sulawesi dan Kaltim juga berpotensi tsunami dengan tinggi 0 hingga 0,5 meter dengan waktu bervariasi," ungkap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Daerah-daerah yang berpotensi terkena tsunami dapat diakses di www.bnpb.go.id.

Kepala BNPB, Syamsul Maarif, telah memerintahkan agar peringatan dini tersebut disampaikan kepada masyarakat dan BPBD. Masyarakat diimbau tetap tenang dan selalu waspada. Hingga saat ini belum perlu ada pengungsian.

Diberitakan sebelumnya, gempa berkekuatan 8,0 skala Richter mengguncang lepas pantai Pasifik Cile, Selasa
(1/4/2014) waktu setempat atau Rabu (2/4/2014) WIB. Peringatan tsunami diumumkan untuk Cile, Peru, dan Ekuador.

Gempa terjadi pada Selasa pukul 20.46 waktu setempat atau Rabu pukul 06.46 WIB. Pusat gempa berkedalaman 10
kilometer, berjarak 83 kilometer dari Iquique di pantai utara Cile. Data pusat gempa bersumber dari Survei Geologi
Amerika Serikat (USGS).

Pusat Peringatan Tsunami Pasifik yang berpusat di Hawai mengeluarkan peringatan tsunami menyusul gempa ini.
Peringatan juga datang dari Pemerintah Cile. Namun Pemerintah Chile menyebutkan kekuatan gempa adalah 7,9 skala  Richter.

Cile merupakan salah satu negara di dunia dengan ancaman gempa paling aktif. Pada Februari 2010, gempa berkekuatan  8,8 skala Richter mengguncang kawasan tengah dan selatan Cile.

https://id.berita.yahoo.com/data-19-provinsi-berpotensi-tsunami-bmkg-imbau-jauhi-075749932.html
* www.ayojambi.com/

Selasa, Maret 11, 2014

Setia Mencari Jasad Istri Korban Tsunami Jepang

JEPANG, KOMPAS.com — Yasuo Takamatsu, 57 tahun, mendengus ketika mengangkat tangki scuba diving, saat ia mempersiapkan penyelaman mencari jasad istrinya di perairan dingin lepas pantai yang tiga tahun lalu dilanda tsunami Jepang.
Diapun tenggelam ke perairan keruh yang menghubung langsung ke Samudera Pasific, beberapa hari sebelum peringatan tsunami 11 Maret.

"Dia (istrinya) adalah orang yang lembut dan baik, " kata Takamatsu. " Dia akan selalu berada di samping saya, secara fisik dan mental. Saya merindukannya."

Takamatsu adalah seorang sopir bus, bukan seorang penyelam. Sehingga, dia khawatir tidak akan mampu melakukannya.

Namun, dia merasa didorong ke air ketika ia berpikir saat terakhir kali mengingat istrinya Yuko, seorang pegawai bank, sesaat sebelum gelombang tsunami setinggi 20 meter menyapu.

Dalam sebuah pesan singkat yang dikirim istrinya pukul 03.21, setengah jam setelah gempa bawah laut besar mengguncang Jepang pada Jumat, 11 Maret 2011 dan melepaskan tsunami yang menjulang tinggi dengan kecepatan pesawat jet menuju pantai Jepang, Yuko hanya mengatakan: "Saya ingin pulang ke rumah".

"Saya merasa ngeri memikirkan dia masih berada di luar sana. Saya ingin membawanya pulang segera mungkin," ujarnya.

Beberapa minggu kemudian setelah bencana, seorang pekerja bank menemukan ponsel Yuko dan menyerahkannya kembali ke Takamatsu.

Dia mengeringkan ponsel itu lalu membukanya dan menyadari bahwa istrinya telah menulis pesan teks yang tidak pernah dia terima, persis saat air itu diperkirakan telah mencapai atap bangunan bank.

"Tsunami besar," tulisan pesan terakhir yang tak sampai itu.

Data resmi menyebutkan, lebih dari 15.800 orang diketahui telah meninggal dalam bencana tersebut, lainnya 2.636 yang terdata dinyatakan hilang.

Tidak seorang pun berpikir mereka akan muncul hidup, namun penting untuk menemukan jasad atau kerangka korban tsunami lalu kemudian dikubur agar beristirahat dengan baik.

Di kota nelayan Onagawa, lebih dari 800 orang hilang, termasuk istri Takamatsu. AFP
http://foto.kompas.com/photo/detail/2014/03/10/66789165314261394384442/setia-mencari-jasad-istri-korban-tsunami-jepang
* www.ayojambi.com/

Rabu, April 11, 2012

Thailand Evakuasi Warga dari Pantai



BANGKOK, KOMPAS.com - Thailand menerbitkan sebuah perintah evakuasi bagi warga di kawasan pantai Andaman, Rabu, menyusul gempa besar dari perairan Aceh yang memicu peringatan tsunami. Kawasan pantai Andaman merupakan sebuah tujuan wisata yang populer.  Pusat Peringatan Bencana Nasional Thailand menyarankan orang di daerah tersebut untuk pindah ke tempat yang lebih tinggi dan berada sejauh mungkin dari laut.

Guncangan gempa berkekuatan 8,5 skala Richter yang berpusat di perairan Aceh itu terasa juga ke India. India juga telah mengeluarkan peringatan tsunami untuk wilayah pantai timur negara itu. Warga sejumlah  kota besar di India sempat panik dan berlarian ke jalan-jalan akibat guncangan gempa tersebut.

Pusat peringatan tsunami India mengatakan, gelombang laut hingga 6 meter diperkirakan akan terjadi di sepanjang pantai timur, yang dulu pernah diterjang tsunami tahun 2004.

http://internasional.kompas.com/read/2012/04/11/16594430/

Minggu, Maret 27, 2011

Sudah 10.000 Orang Tewas

KOMPAS.com — Data terkini dari Kepolisian Jepang menunjukkan sudah 10.000 orang tewas akibat gempa bermagnitud 9,0 yang disertai tsunami pada Jumat (11/3/2011) lalu. Kemudian, sebagaimana warta Kyodo, AP, dan AFP pada Jumat (25/3/2011), lebih dari 17.440 orang masih dinyatakan hilang dan 2.775 orang luka-luka.
Masih ada sekitar 250.000 orang kehilangan tempat tinggal, kekurangan makanan, air minum, dan tempat penampungan. Paling tidak 18.000 rumah hancur dan 130.000 rumah rusak berat.

Walaupun mengalami kerusakan akibat tsunami, 12 dari 15 pelabuhan di kawasan timur laut Jepang sudah mulai berfungsi lagi.

Sementara itu, di PLTN Fukushima yang rusak, para petugas melanjutkan upaya mereka menemukan sumber kebocoran yang menimbulkan kekhawatiran pencemaran makanan dan air minum. Mereka berharap dapat segera menghidupkan lagi generator agar peralatan pendingin di PLTN itu bisa berfungsi kembali. Kamis kemarin, dua petugas dilarikan ke rumah sakit karena terpapar radiasi tingkat tinggi.

http://internasional.kompas.com/read/2011/03/25/1809558/

Kamis, Maret 24, 2011

Dalam 6 Hari, Jalan Ini Mulus Lagi

TOKYO, KOMPAS.com — Foto pertama dalam berita ini, yang memperlihatkan jurang menganga di jalan raya Jepang, menunjukkan kekuatan gempa bumi pada 11 Maret lalu. Saat ini, jalan itu telah mulus (lihat foto kedua).
Kecepatan mengagumkan dari proses rekonstruksi pasca-bencana di Jepang memperlihatkan kemampuan negara itu untuk memulihkan diri. Pekerjaan perbaikan jalan itu dimulai 17 Maret, dan enam hari kemudian, kawah di Great Kanto Highway di Naka itu sudah seperti baru lagi. Dailymail, Kamis (24/3/2011), melaporkan, jalur itu telah siap dibuka kembali tadi malam.

Banyak pekerja sudah kembali ke pekerjaan mereka sehari setelah gempa dan tsunami dan sejumlah perusahaan di daerah yang terparah terlanda bencana sudah dibuka kembali. Pemulihan cepat Jepang telah mendorong sejumlah investor, termasuk Warren Buffett dari Amerika, salah satu orang terkaya dunia, menyatakan, bencana yang telah menyebabkan 23.000 meninggal atau hilang itu merupakan sebuah "kesempatan membeli" di pasar uang.

Sementara itu, ibu-ibu di Tokyo kemarin diperingatkan untuk tidak memberikan air keran bagi bayi mereka. Mobil dengan pengeras suara berkeliling di jalan-jalan kota itu setelah tingkat radiasi dari pembangkit nuklir yang rusak di Fukushima, hampir 250 km jauhnya dari Tokyo, meningkat mencapai lebih dari dua kali batas normal untuk anak usia satu tahun atau kurang. Namun, hari ini, peringatan itu dicabut. Air keran telah aman untuk bayi walau pencabutan peringatan itu akan selalu ditinjau lagi.

Supermarket dengan cepat kehabisan air kemasan di banyak bagian Tokyo. Orangtua juga diperintahkan memastikan bahwa susu yang mereka minum tidak berasal dari sapi di distrik Fukushima.

Warga Tokyo mengatakan, mereka khawatir dengan radiasi. "Jika mereka mengatakan itu berbahaya bagi anak-anak karena tubuh mereka lebih kecil dan yodium berbahaya dapat terakumulasi dalam kelenjar tiroid mereka, kami dapat memahami itu," kata seorang pekerja department store, Yasuke Harade (29). "Tapi, bisakah kami benar-benar percaya ketika mereka mengatakan bahwa tidak apa-apa bagi orang dewasa untuk minum air itu? Dapatkah kami memasak nasi kami dengan air keran, meminum teh, kopi dengan air keran? Mereka mengatakan bahwa kami bisa, tapi dapatkah kami percaya?"

http://internasional.kompas.com/read/2011/03/24/16392186/.

Selasa, Maret 22, 2011

Bangsa Jepang, Bangsa Pembelajar

TOKYO, KOMPAS.com — Sekalipun dalam kondisi krisis akibat gempa bumi dan tsunami, disusul radiasi nuklir akibat bocornya PLTN Fukushima Daiichi, masyarakat Jepang menunjukkan kebersamaan dan kekuatan karakter untuk bangkit kembali. Sikap itu berangkat dari kemauan melakukan otokritik atas apa yang sudah dipersiapkan dan apa yang seharusnya dilakukan pada masa depan.
Berbeda dengan Jepang, saat bencana mendera Indonesia, seperti gempa, tsunami, dan letusan gunung berapi yang susul-menyusul dalam enam tahun terakhir, terlihat betul kelemahan bangsa ini, dari ketidaksiapan infrastruktur, kacaunya manajemen bencana, hingga penjarahan oleh masyarakat.

Kekeliruan itu terus berulang hingga gempa dan tsunami terakhir melanda Mentawai serta Gunung Merapi meletus, akhir tahun 2010 lalu.

Bahkan, negara maju lain, seperti Amerika Serikat, terbukti tidak sekuat Jepang saat menangani badai Katrina. Penjarahan terjadi di wilayah Louisiana setelah badai terjadi.
Pakar bencana dan gempa Jepang yang ditemui wartawan Kompas Ahmad Arif setelah gempa dan tsunami mengakui, bencana kali ini melampaui perkiraan dan antisipasi yang telah dilakukan. Namun, mereka yakin mampu belajar dari bencana ini untuk bersiap diri lebih baik mengantisipasi bencana berikutnya.

Teruyuki Kato, profesor gempa dari Earthquake Research Institute The University of Tokyo, mengatakan, banyaknya korban yang jatuh dalam gempa bumi dan tsunami terjadi karena pemerintah dan ilmuwan gagal mengantisipasinya.

”Kami sudah menerapkan sistem pencegahan tsunami, juga pendidikan kepada masyarakat agar waspada bencana. Ternyata bencananya lebih besar dari perhitungan,” katanya.

Kato mengatakan, para ilmuwan di Jepang sudah memperkirakan terjadi gempa bumi di sekitar Miyagi. ”Perkiraannya terjadi dalam 30 tahun ini dengan kemungkinan 99,9 persen. Kekuatan gempanya diperkirakan hanya 7,4 skala Richter dengan tsunami maksimal 6 meter,” ujarnya.

Karena itu, Pemerintah Jepang telah membangun tanggul di sepanjang pantai dengan ketinggian 10 meter. Ia menambahkan, ”Namun, tsunaminya ternyata lebih besar. Kami harus belajar lebih banyak lagi ke depan.”

Semangat untuk mengoreksi kesalahan dan membangun lebih baik disampaikan Yozo Goto, ahli gempa di universitas yang sama. Gempa Kobe tahun 1981 membuat Pemerintah Jepang menetapkan standar bangunan tahan gempa hingga skala 6 MMI.

Dari pengalaman itu, gempa pekan lalu hampir tidak merusak bangunan dan infrastruktur jembatan, bahkan rel kereta api. ”Yang jadi masalah sekarang, tsunami. Sekuat apa pun bangunannya, kalau kena tsunami, akan terlewati dan bisa roboh. Ini tantangan ke depan,” kata Goto.

Yamamoto Nobuto, profesor di Departemen Politik Keio University, Tokyo, mengatakan, Pemerintah Jepang sebenarnya tak siap dan terlambat mengatasi bencana ini. Penyaluran bantuan kurang baik. Sepekan setelah bencana, distribusi bantuan masih tersendat. Namun, warga Jepang di pengungsian sangat kuat dan tidak mengeluh.

”Masyarakat di pedesaan, khususnya di utara, seperti Tohoku, punya rasa memiliki komunitas yang kuat. Saya lihat tayangan di televisi, ada kakek-kakek di pengungsian yang membuat sumpit karena ingin berbuat sesuatu untuk kepentingan bersama. Intinya, masyarakat tidak akan menuntut banyak,” paparnya.

Di beberapa titik pengungsian di Kesennuma, Miyagi, nyaris tak ada keluhan dari para pengungsi sekalipun mereka dalam kondisi sulit, misalnya tak ada pemanas di tengah suhu di bawah nol derajat celsius. Mereka bersikap tenang dan antre dengan tertib.
Nobuto menambahkan, media massa di Jepang memiliki peran penting membangun karakter bangsa. Saat ada bencana besar, seluruh jam tayang iklan di televisi dibeli pemerintah untuk menyiarkan layanan masyarakat perihal bagaimana seharusnya berbagi dan berbuat baik.

Pendidikan karakter
Bambang Rudyanto, profesor di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Wako University, mengungkapkan, karakter masyarakat Jepang terbentuk dari kebiasaan sehari-hari yang dipelajari dari komunitasnya. Untuk pendidikan dasar, mereka lebih mementingkan pembentukan karakter dibandingkan dengan kognisi.

Nilai tradisional juga dipegang teguh, misalnya ajaran bushido. Mereka diajari untuk bersifat kesatria.

http://internasional.kompas.com/read/2011/03/22/07373026/

Sabtu, Maret 19, 2011

Polisi: Korban Tewas-Hilang 18.000

TOKYO, KOMPAS.com — Kepolisian nasional Jepang, Sabtu (19/3/2011), delapan hari setelah gempa besar dan tsunami melanda negara itu, menyatakan, jumlah korban yang dipastikan tewas atau hilang mencapai 18.000 orang.
Ada kekhawatiran bahwa korban tewas jauh lebih tinggi akibat bencana yang menyapu kawasan hunian yang luas di sepanjang pantai Pasifik di Pulau Honshu bagian utara.

Badan kepolisian nasional mengatakan, 7.197 orang telah dikonfirmasikan tewas dan 10.905 resmi terdaftar sebagai orang hilang. Jadi, total korban sebanyak 18.102 orang pada Sabtu pukul 09.00 waktu setempat (atau 07.00 WIB) akibat bencana pada 11 Maret lalu itu.

Harapan untuk menemukan lebih banyak korban selamat di antara puing-puing telah berkurang di tengah cuaca dingin yang melanda timur laut Jepang, dengan salju menutupi sebagian besar wilayah bencana pada awal pekan ini.

Jumlah korban tewas itu telah melampaui jumlah korban akibat gempa berkekuatan 7,2 yang mengguncang kota pelabuhan Kobe di Jepang barat tahun 1995, yang menewaskan 6.434 orang. Gempa pada 11 Maret lalu sekarang merupakan bencana paling mematikan di Jepang sejak gempa besar Kanto tahun 1923, yang menewaskan lebih dari 142.000 orang.

Angka-angka terbaru pihak kepolisian untuk orang hilang itu tidak mencakup laporan-laporan lokal tentang orang-orang yang belum ditemukan di sepanjang pantai yang terkena tsunami. Wali kota kota pesisir Ishinomaki di Prefektur Miyagi, Rabu, mengatakan bahwa jumlah orang hilang di sana mencapai 10.000 orang, lapor Kyodo News.

Sabtu, NHK mengatakan bahwa sekitar 10.000 orang belum ditemukan di kota pelabuhan Minamisanriku di prefektur yang sama.

http://internasional.kompas.com/read/2011/03/19/12522648/

Jumat, Maret 18, 2011

Tidak Sendirian

Seorang pemuda memakai kacamata, membagikan “ramen” mie rebus ke beberapa orang di tempat penampungan korban tsunami. Oleh wartawan TV ditanya dari group relawan mana. Pemuda itu menjawab, “Bukan. Volunteer. Saya memang penduduk sini dan pekerjaan saya memang menjual ramen. Rumah dan warung saya juga hilang dan tidak ada lagi. Akan tetapi saya tidak sendirian. Oleh karena itu dalam keadaan sekarang kita bersama-sama melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membangun kembali”.
Bukan tangis dan ratapan yang ditunjukan, tetapi semangat untuk bangkit kembali karena menyadari yang mengalami musibah kehilangan rumah dan pekerjaan bukan dia sendiri.
Dua orang bapak berdiri di atas bukit kecil, memandang kebawah suatu kota kecil yang sekarang sudah tidak ada lagi rumah yang berdiri. Dia menunjukan lokasi rumah dia dulu. Tampak bahwa tidak hanya rumah yang hilang tapi “kota” atau “kampung” semua hilang ditelan tsunami. Semangat tetap tercermin dalam diri bapak-bapak itu karena mereka merasa “tidak sendirian”.

Ada teman saya di Kanada menanyakan : “Jepang kan negara donor, kenapa kok mengumpulkan dana juga dari masyarakatnya?”. Mungkin jawabnya adalah bukan pada jumlah uang yang berhasil dikumpulkan tetapi lebih pada rasa setia kawan atau rasa kebersamaan sebagai satu negara/bangsa sehingga ingin berbuat sesuatu. Rasa bersama inilah yang ada dalam setiap orang jepang. Rasa ini menjadi semangat bagi orang yang ditimpa bencana, sehingga bisa bangkit lagi. Ada juga sempat di muat di kompas.com, mahasiswa atau mahasiswi jepang di Yogya mengumpulkan dana dari orang lewat di jalan ( dengan memakai pakaian jepang). Tentu saja gerakan ini kalau dilihat hasil jumlah tidak banyak, tapi “arti” dari yang dia lakukan itu cukup besar bagi dia sendiri dan bagi bangsanya. Ada rasa kesatuan sehingga tidak merasa sendirian dalam menghadapi bencana.

Pada hari ke-5 setelah gempa, yaitu tanggal 16 Maret 2011, transportasi utama di Tokyo untuk orang bekerja sudah “normal”. Ini juga berkat kerja sama antara TEPCO (perusahaan penyedia listrik), perusahaan kereta, dan Kementrian Transportasi. Memang kekurangan pasokan listrik masih ada. Akan tetapi, pengaruh ke kegiatan utama di perkantoran sedapat mungkin di kurangi supaya roda ekonomi tidak terlalu terganggu.

Berkat kerja sama tiga instansi ini, maka di waktu orang berangkat ke kantor dan pulang ke kantor, jumlah dan jadwal kereta semua normal. Artinya sama seperti sebelum gempa. Dengan demikian, orang berangkat dan pulang kerja seperti biasa. Jumlah kereta yang dikurangi adalah jam-jam tidak sibuk, yaitu jam 10 pagi sampai jam 6 sore (16:00). Suatu langkah penanganan yang juga berlandaskan semangat “tidak sendirian”, tapi bersama-sama mengatasi masalah.

Semangat bahwa “tidak sendirian” ini juga tampak jelas sekali ditunjukan oleh pemain sepak bola asal Jepang, Nagatomo, yang bermain untuk klub eropa Inter Milan. Sebelum pertandingan, bersama-sama semua pemain dan penonton berdoa untuk Jepang. Setelah pertandingan Nagatomo memegang bendera Jepang dan tertulis dalam bahasa Jepang dan juga dalam bahasa Inggris: ”You will never walk alone”. Sementara di layar TV dituliskan dalam bahasa Jepang, “Sora ha tsunagatteiru node ( kimochi ha ) tsunagaru to omoimasu” ( Langit itu bersambungan/tidak terpisah, maka perasaan juga bisa tersambung ).

Ada satu ungkapan yang sudah diajarkan ke anak sejak TK ,SD, dan sampai dewasa yaitu, “chikara o awaseru”, yang berarti kita bersama-sama menggalang kekuatan. Kalau sendirian tidak akan bisa, tetapi kalau bersama2 kita susun kekuatan maka kita akan bisa melakukannya.

http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/03/17/tidak-sendirian/

Tidak Sendirian

Seorang pemuda memakai kacamata, membagikan “ramen” mie rebus ke beberapa orang di tempat penampungan korban tsunami. Oleh wartawan TV ditanya dari group relawan mana. Pemuda itu menjawab, “Bukan. Volunteer. Saya memang penduduk sini dan pekerjaan saya memang menjual ramen. Rumah dan warung saya juga hilang dan tidak ada lagi. Akan tetapi saya tidak sendirian. Oleh karena itu dalam keadaan sekarang kita bersama-sama melakukan apa yang bisa dilakukan untuk membangun kembali”.
Bukan tangis dan ratapan yang ditunjukan, tetapi semangat untuk bangkit kembali karena menyadari yang mengalami musibah kehilangan rumah dan pekerjaan bukan dia sendiri.
Dua orang bapak berdiri di atas bukit kecil, memandang kebawah suatu kota kecil yang sekarang sudah tidak ada lagi rumah yang berdiri. Dia menunjukan lokasi rumah dia dulu. Tampak bahwa tidak hanya rumah yang hilang tapi “kota” atau “kampung” semua hilang ditelan tsunami. Semangat tetap tercermin dalam diri bapak-bapak itu karena mereka merasa “tidak sendirian”.

Ada teman saya di Kanada menanyakan : “Jepang kan negara donor, kenapa kok mengumpulkan dana juga dari masyarakatnya?”. Mungkin jawabnya adalah bukan pada jumlah uang yang berhasil dikumpulkan tetapi lebih pada rasa setia kawan atau rasa kebersamaan sebagai satu negara/bangsa sehingga ingin berbuat sesuatu. Rasa bersama inilah yang ada dalam setiap orang jepang. Rasa ini menjadi semangat bagi orang yang ditimpa bencana, sehingga bisa bangkit lagi. Ada juga sempat di muat di kompas.com, mahasiswa atau mahasiswi jepang di Yogya mengumpulkan dana dari orang lewat di jalan ( dengan memakai pakaian jepang). Tentu saja gerakan ini kalau dilihat hasil jumlah tidak banyak, tapi “arti” dari yang dia lakukan itu cukup besar bagi dia sendiri dan bagi bangsanya. Ada rasa kesatuan sehingga tidak merasa sendirian dalam menghadapi bencana.

Pada hari ke-5 setelah gempa, yaitu tanggal 16 Maret 2011, transportasi utama di Tokyo untuk orang bekerja sudah “normal”. Ini juga berkat kerja sama antara TEPCO (perusahaan penyedia listrik), perusahaan kereta, dan Kementrian Transportasi. Memang kekurangan pasokan listrik masih ada. Akan tetapi, pengaruh ke kegiatan utama di perkantoran sedapat mungkin di kurangi supaya roda ekonomi tidak terlalu terganggu.

Berkat kerja sama tiga instansi ini, maka di waktu orang berangkat ke kantor dan pulang ke kantor, jumlah dan jadwal kereta semua normal. Artinya sama seperti sebelum gempa. Dengan demikian, orang berangkat dan pulang kerja seperti biasa. Jumlah kereta yang dikurangi adalah jam-jam tidak sibuk, yaitu jam 10 pagi sampai jam 6 sore (16:00). Suatu langkah penanganan yang juga berlandaskan semangat “tidak sendirian”, tapi bersama-sama mengatasi masalah.

Semangat bahwa “tidak sendirian” ini juga tampak jelas sekali ditunjukan oleh pemain sepak bola asal Jepang, Nagatomo, yang bermain untuk klub eropa Inter Milan. Sebelum pertandingan, bersama-sama semua pemain dan penonton berdoa untuk Jepang. Setelah pertandingan Nagatomo memegang bendera Jepang dan tertulis dalam bahasa Jepang dan juga dalam bahasa Inggris: ”You will never walk alone”. Sementara di layar TV dituliskan dalam bahasa Jepang, “Sora ha tsunagatteiru node ( kimochi ha ) tsunagaru to omoimasu” ( Langit itu bersambungan/tidak terpisah, maka perasaan juga bisa tersambung ).

Ada satu ungkapan yang sudah diajarkan ke anak sejak TK ,SD, dan sampai dewasa yaitu, “chikara o awaseru”, yang berarti kita bersama-sama menggalang kekuatan. Kalau sendirian tidak akan bisa, tetapi kalau bersama2 kita susun kekuatan maka kita akan bisa melakukannya.

http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/03/17/tidak-sendirian/

Gempa Jepang di Mata Orang Lokal

Ketika terjadi gempa besar di Sendai hari Jumat lalu, reaksi orang Jepang mungkin beragam. Namun, sebagian besar, boleh dikatakan demikian, tetap saja menampakkan ketenangannya. Dalam sebuah program televisi Jepang pasca-gempa, diwawancarai beberapa orang asing yang punya pasangan orang Jepang. Hampir semuanya merasa heran kenapa pasangan Jepangnya bisa begitu tenang, padahal gempa yang menggoyang Honshu kemarin bukan main-main.
Skalanya 9,0 Magnitudo (M), menurut badan metereologi Jepang, dan 8,9 M, menurut USGS, dengan kedalaman yang cukup dangkal, yakni 24 km dari permukaan kulit bumi. Tetapi, kebanyakan orang Jepang bersikap tenang. Bahkan masih ada yang tetap bertahan di dalam gedung Pachinko ketika saya pulang dari kampus untuk menengok kondisi keluarga saya Jumat sore lalu. Luar biasa!
Bagaimana mereka bisa tenang?

Yasui, seorang mahasiswa pascasarjana di Keio University, mengatakan bahwa orang Jepang merasa tenang karena mereka sudah terbiasa dengan gempa bumi. Tak heran karena pulau Honshu di Jepang sebenarnya terbentuk dari tumbukan dua lempeng tektonik Eurasia dan Amerika Utara. Lalu, terletak pula di perbatasan antara lempeng Laut Filipina dan Pasifik. Ada empat lempeng tektonik yang “menyangga” Jepang. Jadi, menurut Yasui, kemunculan gempa yang sangat sering di Jepang membuat orang Jepang akrab dan biasa dengan gempa. Jadi, itu membuat mereka tidak panik dan biasa-biasa saja.

Ota, seorang penerjemah yang tinggal di kawasan Tokyo, mengatakan bahwa ketenangan orang Jepang barangkali akibat tingginya kepercayaan mereka terhadap konstruksi dan teknologi antigempa dari bangunan tempat tinggal atau tempat bekerja mereka. Selain itu, mereka juga dilatih sejak kecil untuk menghadapi bencana gempa bumi. Jadi, mereka sudah tahu apa saja yang harus dilakukan kalau terjadi gempa. Mereka diajarkan bahwa jika ketika gempa bumi sempat merasa takut, itu artinya gempa buminya tidak berlangsung lama. Namun, gempa jumat kemarin terjadi cukup lama menurut saya. Getaran itu berlangsung paling tidak satu menit.

Karena pernah lama tinggal di Jakarta, Ota pun tidak begitu yakin dengan alasan orang Jepang. Dia pernah mengalami gempa bumi di Jakarta dan Bandung. Itu mulai membuatnya takut. Rasa takut itu kini masih selalu hinggap dalam dirinya ketika terjadi gempa bumi, terlebih lagi pada saat gempa bumi yang baru lalu.

Jika terjadi gempa bumi ataupun bencana alam di Indonesia, biasanya masyarakat langsung cepat tanggap. Ada yang mendirikan posko atau dapur umum. Ada pula yang menjadi relawan dan sebagainya. Lalu, bagaimana dengan di Jepang?

Menurut Yasui dan Ota, sebenarnya masyarakat Jepang juga punya kebiasaan dan pengalaman dalam penanganan gempa dengan membantu langsung atau menjadi relawan. Ota mengatakan bahwa dalam gempa di Kansai dan di Awaji beberapa tahun silam, ada banyak pengalaman orang Jepang yang masuk ke tempat korban gempa dan pengungsian dengan cara sendiri-sendiri. Namun, situasinya justru menjadi kacau. Jadi, berkaca dari pengalaman itu sekarang masyarakat Jepang memilih untuk menunggu sampai situasinya stabil dan aman, baru mereka melakukan sesuatu.

Yasui mengemukakan bahwa tidak dianjurkannya kegiatan relawan dari masyarakat secara langsung, selain hal di atas, juga karena kemungkinan masih adanya bencana sekunder atau berikutnya. Orang yang tidak terlatih tentu justru akan membahayakan diri sendiri apabila menjadi relawan. Kehadiran relawan spontan juga kadang-kadang bisa mengganggu kerja para prajurit beladiri Jepang atau para petugas darurat bencana.

Kemudian, Yasui dan Ota sepakat bahwa dalam distribusi bantuan dan makanan, relawan masyarakat tentu bisa salah sasaran. Misalnya, orang yang sebenarnya sudah dibantu justru diberi bantuan, sementara yang belum dibantu tidak mendapatkan pertolongan sebagaimana semestinya. ”Kalau ada petugas, penyaluran orang dan barang bisa diarahkan ke tempat yang tepat karena adanya koordinasi dan organisasi yang rapi,” kata Ota. Ya, biasanya relawan memang suka berkumpul tanpa sadar karena medan lokasi kejadian gempa tidak selalu bagus aksesnya. Jadi, sulit masuk ke tempat pengungsian yang terpelosok. “Jadi, tahu-tahu semua relawan berkumpul di tempat yang sama,” tambah Ota yang pernah tinggal juga di Vietnam.

Menurut Yasui, selain hal yang telah dikemukakan sebelumnya, kadang-kadang juga sering terjadi konflik kepentingan di antara kelompok relawan atau antar-relawan. Hal ini tentu mempunyai kontribusi negatif bagi penanganan korban bencana alam. Jadi, masuk akal juga kalau relawan dari elemen masyarakat di Jepang umumnya menunggu hingga situasi stabil dan tidak berbahaya lagi. Ketika itulah mereka bisa membantu sesama mereka yang mengalami musibah dengan lebih aman dan efektif.

http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/03/13/

Minggu, Maret 13, 2011

Korban Gempa-Tsunami Jepang Hampir 900

TOKYO, TRIBUNJAMBI.COM - Jumlah korban tewas akibat gempa dan tsunami di wilayah pantai timur laut Jepang hampir mencapai 900, kata kepolisian setempat, Ahad.
Dinas Kepolisian Nasional mengatakan bahwa 688 orang dipastikan tewas,a 642 hilang dan 1.570 terluka dalam bencana yang terjadi pada Jumat siang itu (11/3).

Angka perhitungan kepolisian nasional itu tidak mencakup jumlah kematian yang dihitung kepolisian kota Sendai, yang mengatakan sedikit-dikitnya 200 telah ditemukan.

Juru bicara Perdana Menteri Naoto Kan sekaligus tangan kanannya, Kepala Sekretaris Kabinet Yukio Edano, sebelumnya menyampaikan keyakinannya tentang jumlah korban yang mungkin telah mencapai lebih dari 1.000 orang.

Di tengah upaya penyelamatan massal, terdapat sejumlah laporan terbaru yang menunjukkan bertambahnya jumlah korban di sepanjang pantai timur Pulau Honshu, tempat gelombang bencana itu menghancurkan atau merusak lebih dari 12.250 rumah dan bangunan lain.

Sedikit-dikitnya 2.400 rumah tersapu oleh tsunami itu, sementara lebih dari 100 rumah lagi terbakar, menurut kepolisian, yang menambahkan terjadinya 60 kasus tanah longsor.

http://jambi.tribunnews.com/2011/03/13/korban-gempa-tsunami-jepang-hampir-900