Tampilkan postingan dengan label Tionghoa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tionghoa. Tampilkan semua postingan

Minggu, Maret 11, 2012

Banyak Warga Tionghoa Tidak Paham Apa Agamanya

Setiap warga negara Indonesia memiliki satu agama kepercayaan sesuai dengan agama yang resmi di bina oleh pemerintah, seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu, namun kenyataan masih banyak warga Tionghoa yang tidak memahami fungsi dari agama yang mereka anut (pegang), bahkan mereka tidak memahami mana tempat ibadah yang semestinya buat mereka melakukan ibadah, sebagai contoh, Islam tempat ibadahnya, surau, langgar atau masjid, Kristen atau Katolik tempat ibadahnya gereja, Hindu, pura, Buddha tempat ibadahnya cetiya atau vihara, sedangkan Khonghucu tempat ibadahnya klenteng, lithang atau miao.
Namun kenyataan masih banyak warga tionghoa yang memahami apa sebenarnya agama yang dianutinya, suka-suka mereka mau kemana untuk sembahyang, kadangkala mereka sembahyang ke cetiya/ vihara, kadangkala mereka sembahyang di klenteng-klenteng.

Jika kita telusuri rumah-rumah warga tionghoa 99% mereka sembahyang Tua Pek Kong  agama yang dianut mereka sejak dahulu, jika kita tanya apa agama mereka, jawabnya singkat Khonghucu ada juga yang mengatakan Buddha, bagi mereka antara Khonghucu dan Buddha sama, boleh sembahyang di klenteng, juga boleh sembahyang di vihara.

Salah satu tokoh dan pengusaha di Tanjab Barat yang bernama pernah bertanya apa sebenarnya agamanya, karena sering sembahyang di klenteng dan juga suka sembahyang ke vihara…. Karena mereka tidak pernah mendapatkan bimbingan yang instansi yang berkaitan dengan agama… yang paling celaka ada yang mengatakan, bahwa kedua agama sama termasuk Taoisme yang disingkat menjadi Tridarma. Pada hal kita mengetahui setiap warga negara hanya boleh memeluk salah satu agama dari enam agama yang diakur pemerintah.

Masing-masing agama memiliki kitab suci: agama Buddha = Tripitaka, Khonghucu = Su Si dan Ngo Keng, sedangakan Lao Tze/ Lo Cu ( Taoisme) = Tao Te Cing/ To Tek Keng. Ketiga kitab suci tersebut tidak bisa di campur aduk kan sehingga tercipta suatu ajaran baru. Untuk itu sudah saatnya pemerintah perlu turun tangan untuk membenahinya sebelum terjadi rebutan umat dari masing-masing agama.

Berikut petikan tentang asal usul Tridarma yang dihimpun dari Ketua Gemaku Kris Tan sebagai berikut:

Setelah Khonghucu diberi angin bisa berdiri sendiri sebagai agama, tentunya ada gangguan terhadap tridharma. Selama ini agama orang-orang tionghoa disatukan dalam ketiga ajaran; Khonghucu, Tao dan Buddha.

Klenteng Tek Hay Kiong, Kota Tegal, Jawa Tengah Sabtu dua pekan lalu menjadi saksi sejarah perkawinan penganut agama Khonghucu. Di tempat peribadatan itu Kantor Catatan sipil mencatat pernikahan pasangan Handeyjanto Sosilo, 60 tahun, dan Mary, 50 tahun. Dari namanya, menggunakan akhiran Kiong, klenteng itu menganut ajaran Tao. “Kami kaum Khonghucu memang lebih dekat (teologi) dengan penganut Taoisme dibandingkan dengan Buddhis,”kata Ketua Generasi Muda Khonghucu, Kristan.

Menjenguk klenteng kaum Khonghucu Hok Tek Bio di Kecamatan Citeureup, Bogor, Jawa Barat, masih terasa adanya campuran tiga ajaran Buddha, Tao dan Khonghucu. Terbukti dengan adanya tiga altar masing-masing ajaran di dalam tempat peribadatan tersebut. Di tempat itu bercampur antara persembahan untuk Nabi Khongcu, Hok Tek Ceng Sin atau malaikat penjaga bumi, Kwan Kong, Jenderal perang kerasaan Sam Kok dan Avolikestevara alias Dewi Kwan Iem. Penggabungan tiga ajaan itulah yang disebut Tridharma.

Tridharma sebagai satu organ kesatuan hanya ada di Indonesia. tidak pernah mempunyai hubungan ke negara lain. Tridharma lahir untuk melawan misionaris agama kristen yang dianggap berorientasi menyedot umat Buddha keturunan tionghoa pada akhir abad 19.

Perjuangan itu dimulai pada tahun 1900 saat berdirinya berdirinya Tiong Hoa Hwee Koan. Organisasi ini mengajarkan Bahasa Tionghoa dan Agama Khonghucu sebagai respons atas gencarnya misionaris Kristen. Bersamaan dengan itu berdiri pula Perhimpunan Theosofi, tempat tokoh-tokoh Agama Buddha belajar dan berkumpul.

Kwee Tek Hoay mendirikan Sam Kauw Hwee setelah menganggap Tiong Hoa Hwee Koan gagal memelihara dan mengembangkan ajaran Khonghucu. Kwee menganggap Khong Kauw Hwee yang didirikan di Solo pada tahun 1918 dan di kota-kota lain kurang memasyarakat dan kurang memberikan harapan. Setelah Indonesia merdeka pada 1953 dibentuk Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI) di Jakarta, yang merupakan cikal bakal Tridharma.

Ong Kie Tjay membentuk tempat Ibadat Tridharma karena klenteng-klenteng, terutama di Jawa Timur terancam punah sebagai akibat dari persepsi yang kurang lengkap dari penguasa setempat terhadap klenteng yang menganggapnya sebagai lembaga kecinaan non agama pasca peristiwa G30S tahun 1965. Baru pada April 1976 Majelis Rohaniwan Tridharma Indonesia resmi menaungi tiga ajaran tersebut.

Sesungguhnya tridharma yang dalam dialek Hokkian disebut Samkau atau tiga ajaran; Tao, Khonghucu dan Buddha, tidak dapat digolongkan ke dalam agama apapun. Tridharma lebih tepat disebut sebagai salah satu bentuk kepercayaan tradisional masyarakat tionghoa hasil dari campuran ketiga filsafat yang mempengaruhi kebudayaan tionghoa dan sejarah Tiongkok sejak 2.500 tahun yang lalu. Karena agama resmi yang diakui oleh pemerintah Indonesia hanya 5, umat tridharma masuk dikelompokkan dalam lingkup agama Buddha. “Padahal ajaran kami satu sama lain berbeda,”kata rohaniwan Khonghucu, Tan Im Yang.

Ajaran Konghucu atau Konfusius istilah aslinya Rujiao yang berarti agama dari orang-orang yang lembut hati, terpelajar dan berbudi luhur. Khonghucu dipercaya bukanlah pencipta agama itu, melainkan hanya menyempurnakan agama yang sudah ada jauh sebelum kelahirannya. “aku bukanlah pencipta melainkan Aku suka akan ajaran-ajaran kuno tersebut,”kata Khonghucu.

Bukankah kalo mau jujur semua agama itu gak ada yang brand new, Jesus (Isa) meneruskan Musa, Daud, Ibrahim dll yang menurut Islam ditutup oleh nabi Muhamad sebagai Nabi terakhir. begitu juga yang terjadi pada Buddha/ Sidharta Gautama terhadap Hinduism

Banyak orang mengira Khonghucu hanya ajaran filsafat untuk meningkatkan moral dan etika. Menurut Jiao Seng Im Yang dalam agama Khonghucu juga terdapat ritual yang harus dijalani pengikutnya. Agama Khonghucu mengajarkan hubungan antar sesama umat manusia yang disebut Ren Dao lalu hubungannya dengan sang pencipta alam (Tian Dao) yang disebut Tian atau Sang Di. “Khonghucu itu ajaran tauhid,”kata Im Yang.

Karena adanya tridharma itulah terjadinya pengkaburan ajaran Khonghucu. “Kalaupun ada patung atau gambar di dalam klenteng, bukan berarti kami menyembah mereka. Kami hanya menghormati mereka sebagai pahlawan atau orang suci yang pantas dihormati dan perlu di tauladani perbuataanya,”ujar Im Yang. Kini dengan diakui Khonghucu sebagai agama secara tegas oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, diharapkan penganut agama Khonghucu dapat menjalankan ibadahnya secara murni, tak perlu lagi bercampur dengan ajaran lain. “Agar pertanggungjawabannya jelas,”ujar pengurus Kong Miao/ Lithang Desa Citeureup itu. Ahmad Taufik, Tempo Maret 2004

http://www.kristan.me/khonghucu-dan-tridharma
http://www.confucian.me/main/search/search?q=khonghucu+dan+tridarma&page=1

Sabtu, Juli 16, 2011

Menjaga Tradisi di Bantaran Cisadane

PERAYAAN Pecun di Tangerang, Banten, diperkirakan sudah berlangsung sejak 1910. Pecun berarti upaya pencarian dengan menggunakan perahu. Perayaan ini dikaitkan dengan penghormatan terhadap jasad seorang menteri yang sangat jujur dan setia bernama Cu Yuan, yang menjatuhkan diri ke dalam sungai. Cara itu dilakukan setelah ia mendengar berita hancurnya ibu kota Cho, tempat bio (kelenteng) leluhurnya hancur lebur diserbu orang Chien.
Pecun yang merupakan salah satu tradisi warga Tionghoa, jatuh setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek, yang pada tahun ini jatuh pada 6 Juni 2011. Perayaan Pecun yang diselenggarakan oleh perkumpulan Boen Tek Bio serta mendapat dukungan penuh dari pemerintah kota setempat ini mengangkat tema ”Keanekaragaman Cermin Persatuan” sebagai bentuk dari akulturasi kebudayaan Tionghoa Tangerang dengan penduduk setempat. Perayaan ini berlangsung di Jalan Kali Pasir dan Jalan Benteng tepat di bantaran Kali Cisadane.

Perayaan Pecun diisi dengan berbagai kegiatan, seperti lomba dayung perahu naga, atraksi barongsai dan liong, pertunjukan gambang kromong, mendirikan telur, serta upacara persembahyangan Twang Yang dan pelepasan bebek ke Sungai Cisadane dengan maksud membuat hidup orang terbebas dari kesialan serta dapat melanjutkan kehidupan dengan damai dan tenteram.

Tak dapat dipungkiri kemeriahan perayaan Pecun jauh berkurang apabila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Meskipun demikian, patut diapresiasi upaya yang dirintis kembali oleh Perkumpulan Boen Tek Bio dan Pemerintah Kota Tangerang. Upaya pelestarian budaya Tionghoa serta mengembalikan ruh kemeriahan Pecun yang dikemas dalam Festival Cisadane ini diharapkan mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan dalam dan luar negeri. (PRIYOMBODO)

http://travel.kompas.com/read/2011/07/16/08164278/

Kamis, Juli 07, 2011

Kebahagiaan Ganda (Sang Hie)

Sebuah karakter Tionghoa yang banyak dikenal, Kebahagiaan Ganda, yang tertera pada kertas merah atau potongan kertas selalu ada pada saat pernikahan.
Terdapat asal usul dibalik itu. Pada masa Dinasti Tang, terdapat seorang pelajar yang ingin pergi ke Ibukota untuk mengikuti ujian negara, dimana yang menjadi juara satu dapat menempati posisi menteri.

Sayangnya, pemuda itu tersebut jatuh sakit di tengah jalan saat melintasi sebuah desa di pegunungan. Untung seorang tabib dan anak perempuannya membawa pemuda itu ke rumah mereka dan merawat sang pelajar. Pemuda tersebut dapat sembuh dengan cepat berkat perawatan dari tabib dan anak perempuannya.

Setelah sembuh, pelajar itu harus meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanan ke Ibukota. Namun pelajar itu mengalami kesulitan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada anak perempuan sang tabib, begitu juga sebaliknya. Mereka saling mencintai.

Maka gadis itu menulis sepasang puisi yang hanya sebelah kanan agar pemuda itu melengkapinya, “Pepohonan hijau dibawah langit pada hujan musim semi ketika langit menutupi pepohonan dengan gerhana”

Setelah membaca puisi tersebut, sang pelajar berkata, “Baiklah, saya akan dapat mencapainya meskipun bukan hal yang mudah. Tetapi kamu harus menunggu sampai aku selesai ujian”. Sang gadis mengangguk-angguk.

Pada ujian negara, sang pelajar mendapatkan tempat pertama, yang mana sangat dihargai oleh kaisar. Pemuda itu juga bercakap-cakap dan diuji langsung oleh kaisar.

Keberuntungan ternyata pada pihak sang pemuda.

Kaisar menyuruh pemuda itu agar membuat sepasang puisi.

Sang kaisar menulis: “Bunga-bunga merah mewarnai taman saat angin memburu ketika taman dihiasai warna merah setelah sebuah ciuman”.

Pemuda itu langsung menyadari bahwa puisi yang ditulis oleh sang gadis sangat cocok dengan puisi kaisar, maka ia menulis puisi sang gadis sebagai pasangan puisi kaisar.

Kaisar sangat senang melihat bahwa puisi yang ada merupakan sepasang puisi yang harmonis dan serasi sehingga ia menobatkan pemuda itu sebagai menteri di pengadilan dan mengijinkan pemuda itu untuk mengunjungi kampung halamannya sebelum menduduki posisinya.

Pemuda itu menjumpai sang gadis dengan gembira dan memberitahu kepada sang gadis puisi dari kaisar.

Tidak lama kemudian mereka menikah.
Untuk pesta perayaan pernikahan, sepasang karakter Tionghoa, bahagia, dipasang bersamaan pada selembar kertas merah dan ditempel di dinding untuk menunjukkan kebahagiaan dari dua kejadian yang bersamaan, pernikahan dan pengangkatan sang pemuda.

Sejak saat itu, tulisan Kebahagiaan Ganda menjadi sebuah tradisi yang dilakukan pada setiap pesta pernikahan.

http://www.meandconfucius.com/2010/08/sebuah-karakter-tionghoa-yang-banyak.html

Kamis, Juni 16, 2011

Adat Pernikahan Tionghoa

Adat pernikahan Tionghoa yang mempunyai upacara-upacara antara lain:
A. Upacara menjelang pernikahan :
Upacara ini terdiri atas 5 tahapan yaitu :
- Melamar : Yang memegang peranan penting pada acara ini adalah mak comblang. Mak comblang biasanya dari pihak pria.

- Penentuan : Bila keahlian mak comblang berhasil, maka diadakan penentuan bilamana antaran/mas kawin boleh dilaksanakan.

- Sangjit/ Antar Contoh Baju : Pada hari yang sudah ditentukan, pihak pria/ keluarga pria dengan mak comblang dan kerabat dekat mengantar seperangkat lengkap pakaian mempelai pria dan mas kawin. Mas kawin dapat memperlihatkan gengsi, kaya atau miskinnya keluarga calon mempelai pria. Semua harus dibungkus dengan kertas merah dan warna emas. Selain itu juga dilengkapi dengan uang susu (ang pauw) dan 2 pasang lilin. Biasanya “ang pauw” diambil setengah dan sepasang lilin dikembalikan.
- Tunangan : Pada saat pertunangan ini, kedua keluarga saling memperkenalkan diri dengan panggilan masing-masing.

- Penentuan Hari Baik, Bulan Baik : Suku Tionghoa percaya bahwa dalam setiap melaksanakan suatu upacara, harus dilihat hari dan bulannya. Apabila jam, hari dan bulan pernikahan kurang tepat akan dapat mencelakakan kelanggengan pernikahan mereka. Oleh karena itu harus dipilih jam, hari dan bulan yang baik. Biasanya semuanya serba muda yaitu : jam sebelum matahari tegak lurus; hari tergantung perhitungan bulan Tionghoa, dan bulan yang baik adalah bulan naik / menjelang purnama.

B. Upacara pernikahan :
3-7 hari menjelang hari pernikahan diadakan “memajang” keluarga mempelai pria dan famili dekat, mereka berkunjung ke keluarga mempelai wanita. Mereka membawa beberapa perangkat untuk menghias kamar pengantin. Hamparan seprei harus dilakukan oleh keluarga pria yang masih lengkap (hidup) dan bahagia. Di atas tempat tidur diletakkan mas kawin. Ada upacara makan-makan. Calon mempelai pria dilarang menemui calon mempelai wanita sampai hari H.

Malam dimana esok akan diadakan upacara pernikahan, ada upacara “Liauw Tiaa”. Upacara ini biasanya dilakukan hanya untuk mengundang teman-teman calon kedua mempelai. Tetapi adakalanya diadakan pesta besar-besaran sampai jauh malam. Pesta ini diadakan di rumah mempelai wanita. Pada malam ini, calon mempelai boleh digoda sepuas-puasnya oleh teman-teman putrinya. Malam ini juga sering dipergunakan untuk kaum muda pria melihat-lihat calonnya (mencari pacar).

C. Upacara Sembahyang Tuhan (”Cio Tao”) Di pagi hari pada upacara hari pernikahan, diadakan Cio Tao. Namun, adakalanya upacara Sembahyang Tuhan ini diadakan pada tengah malam menjelang pernikahan. Upacara Cio Tao ini terdiri dari :
. Penghormatan kepada Tuhan
. Penghormatan kepada Alam
. Penghormatan kepada Leluhur
. Penghormatan kepada Orang tua
. Penghormatan kepada kedua mempelai.

Meja sembahyang berwarna merah 3 tingkat. Di bawahnya diberi 7 macam buah, a.l. Srikaya, lambang kekayaan.

Di bawah meja harus ada jambangan berisi air, rumput berwarna hijau yang melambangkan alam nan makmur. Di belakang meja ada tampah dengan garis tengah ?2 meter dan di atasnya ada tong kayu berisi sisir, timbangan, sumpit, dll. yang semuanya itu melambangkan kebaikan, kejujuran, panjang umur dan setia.

Kedua mempelai memakai pakaian upacara kebesaran Cina yang disebut baju “Pao”. Mereka menuangkan teh sebagai tanda penghormatan dan memberikan kepada yang dihormati, sambil mengelilingi tampah dan berlutut serta bersujud. Upacara ini sangat sakral dan memberikan arti secara simbolik.

D. Ke Kelenteng
Sesudah upacara di rumah, dilanjutkan ke Klenteng. Di sini upacara penghormatan kepada Tuhan dan para leluhur.

E. Penghormatan Orang tua dan Keluarga
Kembali ke rumah diadakan penghormatan kepada kedua orang tua, keluarga, kerabat dekat. Setiap penghormatan harus dibalas dengan “ang pauw” baik berupa uang maupun emas, permata. Penghormatan dapat lama, bersujud dan bangun. Dapat juga sebentar, dengan disambut oleh yang dihormati.

F. Upacara Pesta Pernikahan
Selesai upacara penghormatan, pakaian kebesaran ditukar dengan pakaian “ala barat”. Pesta pernikahan di hotel atau tempat lain.
Usai pesta, ada upacara pengenalan mempelai pria ( Kiangsay ). Mengundang kiangsay untuk makan malam, karena saat itu mempelai pria masih belum boleh menginap di rumah mempelai wanita.

G. Upacara sesudah pernikahan
Tiga hari sesudah menikah diadakan upacara yang terdiri dari :
1. Cia Kiangsay
Pada upacara menjamu mempelai pria (”Cia Kiangsay”) intinya adalah memperkenalkan keluarga besar mempelai pria di rumah mempelai wanita. Mempelai pria sudah boleh tinggal bersama.
Sedangkan “Cia Ce’em” di rumah mempelai pria, memperkenalkan seluruh keluarga besar mempelai wanita.
Tujuh hari sesudah menikah diadakan upacara kunjungan ke rumah-rumah famili yang ada orang tuanya. Mempelai wanita memakai pakaian adat Cina yang lebih sederhana.

Perubahan yang biasa terjadi pada adat upacara pernikahan:
Ada beberapa pengaruh dari adat lain atau setempat, seperti: mengusir setan atau mahkluk jahat dengan memakai beras kunyit yang ditabur menjelang mempelai pria memasuki rumah mempelai wanita. Demikian juga dengan pemakaian sekapur sirih, dan lain-lain.

Pengaruh agama, jelas terlihat perkembangannya. Sekalipun upacara Sembahyang Tuhan / Cio Tao telah diadakan di rumah, tetapi untuk yang beragama Kristen tetap ke Gereja dan upacara di Gereja. Perubahan makin tampak jelas, upacara di Kelenteng diganti dengan di gereja.

Pengaruh pengetahuan dan teknologi, dapat dilihat dari kepraktisan upacara. Dewasa ini orang-orang lebih mementingkan kepraktisan ketimbang upacara yang berbelit-belit. Apalagi kehidupan di kota-kota besar yang telah dipengaruhi oleh teknologi canggih.

http://www.meandconfucius.com/2010/09/adat-pernikahan-tionghoa.html

Selasa, April 12, 2011

Hio Dalam Tradisi Tionghoa

Hio (dupa) sebenarnya adalah medium untuk melakukan sembayang atau bagian dari peralatan untuk sembayang, tidak mempunyai arti khusus maupun makna khusus didalamnya

Hio itu merupakan sebuah tradisi sebagaimana bunga di barat sana. Hio digunakan karena simbolisasi juga, karena asapnya membumbung ke atas dan disimbolkan sebagai satu macam pendekatan dengan dewa-dewi (shen ming) di atas sana.
Lalu beberapa macam hio juga wangi dan dapat bermakna sebagai penyucian batin dan lingkungan. Ada banyak orang yang bertanya-tanya, kalau pindah agama boleh gak pegang hio yah? Yah, gak masalahlah, wong hio itu gak ada kaitannya dengan agama apapun. Itu hanya tradisi tok. Bandingkan tradisi menghormati dengan bunga di barat dengan tradisi menghormati pakai hio di Tiongkok? Jangan berpikiran sempit. Saya masih sering bingung kalau masih banyak yang merasa sebuah tradisi diadopsi oleh sebuah agama, lalu jadilah tradisi itu haram untuk agama lain.

Dupa atau sering kali disebut Hsiang (Mandarin) atau Hio (Hokkian) adalah salah satu unsur yang eksis dalam kebudayaan Tionghoa selama ribuan tahun. Dupa digunakan dalam acara penghormatan kepada leluhur dan acara-acara ritual keagamaan beberapa agama yang ada di Tiongkok. Asal usul dupa pertama kali sebenarnya bukanlah langsung digunakan untuk penyembahan atau penghormatan. Dupa masuk bersamaan dengan masuknya agama Buddha ke China. Dikatakan bahwa sewaktu Buddha Sakyamuni menyebarkan ajarannya kepada para pengikut, karena cuaca yang panas, kebanyakan murid-muridnya tak dapat berkonsentrasi, merasa mengantuk dalam mendengarkan wejangan dari Buddha Sakyamuni. Maka untuk mengatasi hal ini, orang-orang kemudian membakar kayu harum dan wangi untuk mengharumkan udara dan meningkatkan konsentrasi. Kemudian tradisi ini menjadi kebiasaan dalam agama Buddha dan terbawa ke China dalam penyebarannya.

Dupa kemudian diadopsi oleh agama dan kepercayaan lain yang telah lama ada di China sebelum agama Buddha masuk. Sehingga dupa menjadi sebuah alat dalam ritual dan tradisi kebudayaan Tionghoa selama ribuan tahun, baik dalam menghormati leluhur, menghormati dewa-dewi dalam agama-agama tertentu di China dan juga tentunya oleh penganut agama Buddha sendiri.

Tradisi ini kemudian diperlambangkan sebagai sebuah alat untuk berkomunikasi dengan leluhur, dewa-dewi dalam agama tertentu ataupun sang Buddha sendiri. Ini terutama karena anggapan bahwa wewangian yang menyebar dalam udara adalah salah satu bentuk penghormatan kepada yang dipuja. Asap dari dupa yang bergerak ke atas juga sebagai perlambang bahwa niat kita untuk menghormati ataupun memuja akan sampai kepada tujuannya karena anggapan umum semua bangsa dan agama di dunia (saya kira bukan hanya dalam agama-agama tertentu) bahwa yang kita puja itu baik Tuhan (Thian), Allah, Buddha, leluhur dan lain - lainnya yang derajatnya lebih tinggi daripada manusia bertempat di atas langit. Dupa juga dipercaya digunakan dalam acara ritual untuk menghormati leluhur ataupun dewa-dewi dalam agama tertentu di China sebagai pengganti persembahan lainnya seperti kurban-kurban makhluk bernyawa.

Selain itu dari versi lain Berdasarkan kitab Zhou Li (tata krama dinasti Zhou) ditulis kalau untuk menghormati Huang Tian adalah dengan Yin. Yin adalah asap yang membumbung karena kayu (harum)yang dibakar. Pada tulisan Bunsu Sidartanto Buanadjaya, yang berjudul "Ru Jiao - Selayang Pandang Kesejarahan Wahyu dan Kitab Sucinya Sepanjang Kurun Waktu 5000 Tahun", Ong Kun salah satu menteri dari Oey Tee (Huang Di=Kaisar Kuning) adalah penemu Than Hio yang dipakai sebagai wewangian pada upacara sembahyang. Jauh lebih lama dari waktu masuknya agama Buddha ke Tiongkok (waktu Dinasti Han).

Catatan lain di Indonesia dikenal dengan Kemenyan, kemenyan adalah sejenis dupa, Sebenar pemakaian dupa dan pengenalan dupa berasal dari India pada era 7000 SM, pemakaian dupa sudah dikenal di India karena dupa pertama kali digunakan. Fungsi kemenyan sama seperti pembakaran dupa.

Cara sembahyang di kelenteng untuk orang awam pada umumnya dengan menggunakan hio. Hio digunakan karena simbolisasi juga, karena asapnya membumbung ke atas dan disimbolkan sebagai satu macam pendekatan dengan dewa-dewi di atas sana. Lalu beberapa macam hio juga wangi dan dapat bermakna sebagai penyucian batin dan lingkungan. Ada banyak orang yang bertanya2, kalau pindah agama boleh gak pegang hio yah? Yah, gak masalahlah, hio itu gak ada kaitannya dengan agama apapun. Itu hanya tradisi dan bersifat medium atau alat sembahyang saja. (Kristan)

Sumber: http://www.confucian.me/profiles/blogs/hio-dalam-tradisi-tionghoa?xg_source=activity

Rabu, Maret 02, 2011

Musik Klasik Yang Masih Bertahan

JAMBI - Salah satu tradisi yang menarik dan masih dilakukan oleh warga Tionghoa adalah musik tradisional, musik klasik ini dimainkan untuk menghibur pihak keluarga yang sedang berduka dirumah duka. Penampilan musik klasik tersebut biasanya hanya diundang jika yang meninggal berusia 50 tahun keatas.
Sedangkan jika yang meninggal dunia masih muda atau di bawah 50 tahun, dianggap sebagai pantangan. “Hanya saja, pantangan hanya bagi sebagian orang saja. Ada beberapa keluarga yang pernah mengundang kita untuk tampil saat pihak keluarga yang meninggal masih muda. Sebenarnya sangat jarang dilakukan, tetapi jika kita diundang, kita tetap hadir,” ujar Abu, pengurus grup musik dari Perkumpulan Teo Chew Jambi yang sering tampil di suasana duka ini.

Menurut pria yang gemar bermusik sejak berusia muda ini bahwa pihak keluarga biasanya memang merasa lebih terhibur jika ada grup musik yang tampil saat mereka berada dalam suasana duka, bukan sebaliknya. Tentu saja, ini memberikan efek psikologis yang berbeda bagi keluarga yang baru ditinggalkan. Ini karena biasanya grup musik ini tampil selama tiga hari atau selama jenazah belum dikebumikan atau dikremasi.

Tampil di saat suasana duka tentunya harus sedikit berbeda. Lagu yang dibawakan juga adalah lagu sendu dan lebih klasik. Musik seperti ini dipercaya bisa memberikan pengaruh yang berbeda bagi jiwa yang sedang bersedih. “Ada lagu khusus yang kita bawakan. Berbeda saat kita tampil di beberapa tempat dan suasana yang berbeda. Kadang kita juga menampilkan lagu dan musik atas permintaan keluarga dan tamu yang hadir.”

Grup musik yang berada di bawah naungan Perkumpulan Teo Chew Jambi ini sudah terbentuk sejak 1970-an. Tidak ada nama khusus yang diberikan dalam grup ini. “Ini karena grup musik ini bagian dari bidang seni dan budaya yang ada di Perkumpulan Teo Chew Jambi. “Karena kita merupakan anggota dalam bidang seni dan budaya, maka kita tetap menggunakan nama yayasan,” ujar Abu, yang juga menjadi penanggung jawab dalam grup musik ini.

Menurutnya, walaupun ada remaja yang tertarik, jumlahnya sangat sedikit. “Paling hanya satu atau dua orang saja dan kita pun harus mencari waktu yang pas untuk melatih mereka. Kalau jumlahnya sekalian banyak kan lebih enak. Jadi, hingga sekarang, kita sangat kesulitan untuk mencari regenerasi,” jelasnya.

Selasa, Februari 15, 2011

Tingkatkan Layanan kepada Warga Tionghoa

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan agar Kementerian Agama dan pemerintah daerah meningkatkan pelayanan kepada warga Tionghoa di Indonesia. Kepada Menteri Agama Suryadharma Alie dan para gubernur, Presiden meminta agar mereka menuntaskan permasalah yang tersisa terkait perlindungan dan pelayanan kepada umat Khonghucu dalam tahun ini dan tahun mendatang.
"Sejumlah masalah teknis dan administrasi di beberapa daerah, saya minta dapat benar-benar dituntaskan," kata Presiden dalam sambutan pada Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2562 yang digelar Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) di Balai Samudra, Jakarta, Senin (14/2/2011).

Pada kesempatan tersebut, Presiden kembali menegaskan agar rakyat Indonesia selalu menjauhkan tindak kekerasan dalam menyelesaikan perselisihan antarkomunitas dan antarumat beragama. Presiden meminta rakyat Indonesia selalu menjaga toleransi dan kerukunan.

"Kalau ada masalah akidah agama, mari kita carikan solusi yang tepat dengan mendengarkan pandangan dari para pemuka agama. Mari kita cegah dan jauhi tindakan kekerasan dalam mengatasi permasalahan itu. Sebab kalau kita mudah terjebak dalam praktik tindak kekerasan dan main hakim sendiri, maka sesungguhnya kita merusak nilai, norma dan kaidah negara hukum yang menjunjung tinggi multikulturalisme," tutur Presiden.

Pada perayaan tersebut, Presiden didampingi Wakil Presiden Boediono, Menteri Agama Suryadharma Alie, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, Menteri Pendidikan M Nuh, Menteri Peranan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Agum Gumelar, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, dan Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo.

http://nasional.kompas.com/read/2011/02/14/21104788/

Selasa, Desember 14, 2010

Sumpit, Salah Satu Kehebatan Budaya Tionghoa

Sumpit adalah peralatan makan yang diciptakan oleh orang Tionghoa. Sumpit digunakan untuk menjepit makanan dan memasukkannya ke dalam mulut. Sumpit kebanyakan terbuat dari bambu, namun belakangan juga dibuat dari berbagai macam bahan, seperti: emas, gading, plastik dan lain-lain.
Sumpit merupakan karya ilmiah besar yang patut dibanggakan di dalam sejarah peradaban manusia. Orang Tiongkok di masa Chunqiu dan Zhanguo sudah menggunakan sumpit. Dua batang yang kelihatannya simpel ini, telah dengan pintarnya menerapkan teori keseimbangan di dalam ilmu fisika. Sumpit merupakan perpanjangan jari tangan manusia. Sumpit tidak takut makanan yang panas, makanan beku, sungguh adalah ciptaan yang hebat.

Orang Barat kira-kira abad ke-16 dan 17 baru menciptakan pisau dan garpu. Namun pisau dan garpu bisakah disamakan dengan sumpit? Saat kita menggunakan sumpit, ada 80 lebih sendi dan 50 buah otot yang sedang bergerak, sekaligus berhubungan dengan sistem saraf. Maka, makan menggunakan sumpit dapat melatih kelincahan tangan, serta kemampuan otak.

http://www.meandconfucius.com/2010/11/sumpitsalah-satu-kehebatan-budaya.html

Senin, November 22, 2010

Ketika Seni-Budaya Tionghoa Bangkit

Runtuhnya rezim Orde Baru telah menumbuhkan kembali pergelaran publik untuk seni budaya khas warga Tionghoa di Tanah Air, termasuk di Kalimantan Barat.
Berbagai kesenian etnis Tionghoa kini dapat dengan mudah digelar dan disaksikan masyarakat, terutama pada saat perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh.

Hampir di seantero wilayah provinsi, khususnya di kota Pontianak, Singkawang, Kabupaten Pontianak dan Kubu Raya, atraksi kesenian pada saat dua perayaan penting itu berlangsung secara meriah dan menjadi bagian penting peristiwa budaya daerah.

Di antara atraksi seni yang dipastikan tampil adalah Festival Naga dan Barongsai, yang mendominasi pesta hiburan rakyat, yang digelar di jalan-jalan kota dan menjadi daya tarik wisata bernuansa berbeda.

"Berbagai seni budaya etnis Tionghoa menjadi bagian kebudayaan yang plural di provinsi ini. Karena itu harus selalu kita lestarikan dan tetap terjaga bahkan terus berkembang hingga saat ini," kata Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kubu Raya Lim Tao Hong.

Menurut Lim, sebenarnya tidak hanya Imlek dan Cap Go Meh yang dirayakan warganya. Ada beberapa tradisi lain yang masih dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Tionghoa di Kubu Raya, seperti Tradisi Bunga Mei Hua untuk menyambut Tahun Baru Cina.

Lim menjelaskan, di Tiongkok dikenal terdapat empat musim, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Tahun Baru Imlek datang bersamaan dengan musim semi, maka dulu dikenal dengan istilah Festival Musim Semi (Kuo Chun Ciek).

"Bunga Mei Hwa adalah pertanda datangnya musim semi. Itulah sebabnya terdapat tradisi di masyarakat Tionghoa, menggunakan bunga ini sebagai hiasan di rumah ketika Imlek tiba, sehingga terkesan suasana yang sejuk, nyaman dan indah," katanya.

Kemudian, Tradisi Jeruk Bali. Buah jeruk Bali yang disajikan setiap hari raya Imlek mempunyai kisah dan makna tersendiri.

Dalam bahasa Tionghoa, jeruk Bali disebut Jik yang juga berarti selamat, sehingga timbul ungkapan Mandarin Tah Jik , artinya besar selamat atau amat selamat.

Buah jeruk Bali biasanya diletakkan di atas meja ruang tamu. Buah yang dipilih terutama yang sepasang atau lebih, terutama yang memiliki daun di dekat buahnya.

"Jeruk bali tersebut ditempeli kertas merah dan juga disajikan di meja altar dekat tempat sembahyang sampai hari Cap Go Meh," katanya.

Salah satu kue khas perayaan tahun baru Imlek adalah kue keranjang. Menurut kepercayaan zaman dahulu, rakyat Tiongkok percaya bahwa anglo dalam dapur di setiap rumah didiami oleh Dewa Tungku, dewa yang dikirim oleh Yik Huang Shang Ti (Raja Surga) untuk mengawasi setiap rumah dalam menyediakan masakan setiap hari.

Setiap tanggal 24 bulan 12 Imlek (enam hari sebelum pergantian tahun), Dewa Tungku akan pulang ke Surga untuk melaporkan tugasnya. Maka untuk menghindarkan hal-hal yang tidak menyenangkan bagi rakyat, timbullah gagasan untuk menyediakan hidangan yang menyenangkan Dewa Tungku.

Seluruh warga kemudian menyediakan dodol manis yang disajikan dalam keranjang, disebut Kue Keranjang.

Kue Keranjang berbentuk bulat, mengandung makna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang. "Kue Keranjang disajikan di depan altar atau di dekat tempat sembahyang di rumah," papar Lim.

Sedangkan untuk Tradisi Barongsai dan Naga, berdasarkan informasi yang didapatnya, Barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara sekitar tahun 420-589 Masehi.

Kesenian Barongsai diperkirakan masuk di Indonesia pada abad 17, ketika terjadi migrasi besar dari China Selatan.

"Konon naga adalah binatang lambang kesuburan atau pembawa berkah. Binatang mitologi ini selalu digambarkan memiliki kepala singa, bertaring serigala dan bertanduk menjangan. Tubuhnya panjang seperti ular dengan sisik ikan, tetapi memiliki cakar mirip elang," terang Lim.

Sedangkan singa dalam masyarakat China merupakan simbol penolak bala, maka tarian Barongsai dianggap mendatangkan kebaikan, kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan. Tarian Barongsai dilengkapi replika naga (liong), singa dan qilin (binatang bertanduk).

Tetapi tidak semua perkumpulan memainkannya. Kebanyakan hanya tarian singa saja dengan alasan tarian singa dianggap lebih mudah dan praktis dibawakan di lokasi yang tidak luas. Atraksi topeng singa hanya membutuhkan dua orang pemain.

Seni bela diri menjadi kunci permainan ini sehingga banyak pemainnya berasal dari perguruan kungfu atau wushu. Gerakannya berciri akrobatik seperti salto, meloncat atau berguling.

Daya Tarik Wisata

Untuk melestarikan budaya-budaya tersebut, MABT dan Dinas Pariwisata setempat telah berupaya untuk mengumpulkan beberapa perkumpulan kesenian warga Tionghoa untuk dilakukan pembinaan.

"Pelestarian dan pengembangan berbagai cabang seni tidak dapat disamakan dengan melestarikan warisan benda-benda yang tidak dapat bergerak, ia hidup dan berkembang dalam komunitas masyarakat dan ajang budaya yang melingkupinya," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalbar Yusri Zainudin.

Karena itu, seni dan budaya etnis Tonghoa menjadi bagian atraksi wisata khas Kalbar yang dijaga kelestariannya, tambahnya.

Pada tahun 2002 saat perayaan Imlek 2533, Pemprov Kalbar sudah melakukan suatu event pawai budaya Cap Go Meh yang di ikuti Sembilan etnis yang ada di Kalbar.

"Kita mengharapkan, dari kebersamaan di bidang seni budaya ini semakin mengikat rasa kebersamaan antaretnis yang sudah terjalin selama ini," ujar Lim Piang Piang, salah satu tokoh masyarakat dari etnis Tionghoa di Sungai Raya.

Yang membanggakan, menurut Lim Piang Piang, dalam kegiatan tersebut, para wisatawan datang ke Kota Pontianak, tidak hanya dari dalam negeri, namun juga dari luar negeri.

Ia mngaku optimistis, jika kegiatan tersebut terus dilakukan secara berkelanjutan, akan menjadi salah satu objek pariwisata yang menjanjikan di Kalbar.

Terlebih melihat komposisi masyarakat Tionghoa yang cukup besar, serta di dukung berbagai fasilitas yang ada, jelas kegiatan pawai budaya tersebut dapat menjadi agenda pariwisata yang dapat mendongkrak perekonomian masyarakat.

"Tentunya hal tersebut dapat dilakukan dengan dukungan dari semua pihak, dan komitmen bersama," jelas Lim.

http://oase.kompas.com/read/2010/11/22/10060987/