Tampilkan postingan dengan label TNI AL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AL. Tampilkan semua postingan

Jumat, Mei 02, 2014

Kisah heroik tentara makan sepatu untuk hidup di Papua

MERDEKA.COM. 26 April 1962, tiga buah pesawat C-47 Dakota milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) terbang ke Kaimana, Irian Barat. Mereka bertugas menerjunkan 23 pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), 9 Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI dan satu perwira zeni AD.
Misi mereka menyusup ke belantara Papua dan merusak radar milik Belanda. Operasi militer ini dinamakan Operasi Banteng Merah. Salah satu operasi penerjunan pertama dalam rangka Tri Komando Rakyat, membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda.

Tak mudah menggelar operasi udara di Irian Barat. Hutan lebat, pohon setinggi 50 meter, hingga sulitnya makanan di dalam belantara menjadi kendala tersendiri. Apalagi Belanda terus menambah kekuatan di Irian. Sebagai catatan, saat perang dunia II, tentara sekutu tak mau menggelar operasi penerjunan di Irian. Mereka memandang hal ini terlalu beresiko.

Tapi perintah Presiden Soekarno, penerjunan harus dilaksanakan. Apapun resikonya. Buka mata dunia, Indonesia mampu menggelar operasi militer di Papua.

Hari menjelang subuh saat satu per satu pasukan melompat dari pesawat. Malapetaka menunggu begitu mereka membuka payung. Rata-rata anggota pasukan mendarat di puncak pohon yang tingginya lebih dari 50 meter. Mereka menggantung di pohon dan kesulitan mencapai tanah. Walau setiap pasukan membawa tali yang panjangnya 30 meter, masih kurang untuk mencapai tanah.

Beberapa orang patah tulang saat mendarat. Mereka jatuh tersebar sehingga kekuatan pun terpencar. Tentara Belanda langsung mengerahkan pesawat pengintai dan pasukan berkekuatan besar untuk memburu para penerjun.

Puluhan tentara tentu bukan tandingan tentara Belanda di Irian. Sebagian pasukan RI tewas ditembak dan sebagian lagi tertangkap. Mereka juga sadar penduduk di Irian Barat kebanyakan sudah dibina Belanda. Setiap ada tentara Indonesia, rakyat akan melapor pada tentara. Pertolongan dari rakyat nyaris tak bisa diharapkan.

Masalah makanan pun jadi hal utama. Di belantara Papua sangat jarang ada tumbuhan atau makanan bisa dimakan. Satu-satunya harapan adalah makanan pemberian penduduk kampung. Mereka juga berusaha membeli dari penduduk, karena setiap orang dibekali uang gulden.

Pasukan Indonesia sering kelaparan berhari-hari. Jika berpapasan dengan penduduk yang menjanjikan makanan, mereka sudah tak percaya. Pasti di tempat yang ditunjuk sudah ada tentara Belanda yang menunggu.

Salah satu kisah miris soal beratnya operasi tersebut dikisahkan dalam buku 52 Tahun Infiltrasi PGT di Irian Barat, Bertahan dan Diburu di Belantara Irian. Buku Terbitan Majalah Angkasa ini ditulis Beny Adrian dan diluncurkan di Jakarta, Jumat (25/4) lalu di Jakarta.

Sarjono, salah satu anggota pasukan, harus bertahan hidup dengan merebus dan memakan sepatu bootnya yang terbuat dari kulit. Hal itu dilakukannya karena sudah sangat kelaparan dan sama sekali tak ada makanan.

Sarjono kemudian tertangkap tentara Belanda. Dia ditahan di Biak lalu dibawa ke Wundi. Baru pada akhir konfrontasi Sarjono dipulangkan ke Indonesia.

Kelak, Pasukan Gerak Tjepat (PGT) ini berubah nama Korps Pasukan Khas TNI AU (Korpaskhas). Mantan Komandan Korpaskhas Marsma (Purn) Nanok Soeratno menilai hanya orang-orang 'gendeng', pemberani dan bernyali besar, berani terjun sebelum matahari terbit di tempat yang sangat asing.

Nanok menyebut pengalaman operasi tempur seperti ini langka bagi generasi muda TNI saat ini.

"Walau tentu tak bisa dibedakan apple to apple. Setiap generasi memiliki tantangan masing-masing," kata Nanok.

Sesuai motto pasukan ini: Karmanye Vadikaraste Mafelesu Kadatjana, kerjakan tugasmu tanpa menghitung untung ruginya.

https://id.berita.yahoo.com/kisah-heroik-tentara-makan-sepatu-untuk-hidup-di-184500935.html
* www.ayojambi.com/

Senin, Mei 27, 2013

Acara Pedang Pura

1. Hadirin yang kami mulyakan, pada hari yang berbahagia ini, kami corps Perwira Abituren AKADEMI MILITER akan mempersembahkan acara tradisi corps pedang pora.
Acara ini merupakan perlambang kebanggaan dan kebahagiaan corps perwira Abituren AKADEMI MILITER dalam mengantar kakak kami untuk menempuh lembaran kehidupan yang baru. Maksud dan tujuan acara yang telah menjadi tradisi dilingkungan Perwira Abituren AKADEMI MILITER ini adalah agar tetap terjalin hubungan ikatan bathin yang kuat dan rasa korsa yang mendalam antara kakak dan adiknya serta untuk mengantarkan kakak kami ke pintu gerbang kehidupan barunya sebagai suami istri yang berbahagia.

Acara ini juga sebagai pernyataan, bahwa kami pernah sama-sama di gembleng dalam kawah CHANDRADIMUKA Lembah Tidar.

2. Acara Tradisi corps pedang pora dimulai, hadirin dimohon berdiri…
Pasukan disiapkan …                                                 ( PAMPARE).

3. Laporan Komandan pedang pora  …

4. Hunus pedang. ( Dilanjutkan instrumen Taruna Jaya ).

- Pedang terhunus melambangkan bahwa dengan bersikap dan berjiwa ksatria kedua mempelai akan selalu siap untuk mengatasi segala rintangan dan menerobos semua hambatan yang akan menghalangi kehudupan mereka.

- Adapun formasi dua syaf berhadapan melambangkan pintu gerbang yang akan mereka lalui merupakan awal suka dan duka dalam menempuh kehidupan yang baru.
- Hadirin yang kami hormati……………………..kita saksikan sekarang mempelai sedang melewati pagar pedang yang mengandung makna bahwa dalam menempuh kehidupan ini, banyak terjadi rintangan-rintangan yang harus dihadapi baik semasa mengikuti pendidikan maupun dalam pelaksanaan tugas sehari-hari dan kehidupan yang akan datang. Rintangan-rintangan tersebut sekarang dihadapi dan diselesaikan bersama mempelai putri sehingga tujuan mulia dalam menempuh kehidupan yang baru ini dapat tercapai.

5. Formasi Berbanjar.
- Formasi berbanjar yang sedang kita saksikan ini, melambangkan bahwa kami corps perwira Abituren AKADEMI MILITER, turut bersuka cita dan mengantarkan kakak kami tercinta menuju pintu gerbang kebahagiaan dalam menempuh kehidupannya yang baru.

Kami menyadari bahwa kami dulu pernah merasakan dalam satu rasa kehidupan dalam menempa diri di AKADEMI MILITER. Penderitaan kakak kami adalah sebagian dari penderitaan kami yang harus kami rasakan bersama-sama. Kami siap mengantar kakak kami untuk membagi rasa baik dalam suka maupun duka. Dan pada hari yang berbahagia ini disaksikan dengan mata kebahagiaan dan dengan diiringi doa para hadirin mempelai berdua melepas masa bebasnya, menjalin janji untuk masa selamanya, semoga ini menjadi awal dari suatu kebahagiaan.

6. Formasi melingkar
–  Hadirin yang terhormat …
Kita saksikan bersama mempelai dalam formasi melingkar. Formasi ini melambangkan bahwa diantara kami corps perwira abituren AKADEMI MILITER akan selalu terjalin ikatan bathin yang kuat, ikatan yang selalu mewarnai tugas dan perjuangan mereka. Kami corps perwira abituren AKADEMI MILITER menjadi saksi dan pelindung agar ikatan tersebut tetap kekal selamanya.

7. Payung pedang pora
– Hadirin yang kami hormati  …
Terlihat sekarang pedang membentuk payung, formasi ini mengandung makna bahwa Tuhan Yang Maha Esa akan selalu melindungi kedua mempelai dalam menghadapi berbagai rintangan hidup akan selalu ingat dan memohon petunjuk serta perlindungannya.

8. Pemasangan cincin
- Kepada yang terhormat ……  beserta ibu dimohon berkenan untuk memasangkan cincin kepada kedua mempelai.

- Pemasangan cincin ini merupakan ikrar dan tanda bagi kedua mempelai bahwa mereka akan selalu bersama-sama dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.
          
9. Penyerahan seperangkat pakaian persit
- Kepada yang terhormat ibu ….. dimohon berkenan untuk menyerahkan seperangkat pakaian Persit kepada mempelai putri.

- Dengan diserahkannya pakaian persit kepada mempelai putri, secara simbolis mengandung arti bahwa mempelai putri telah diterima menjadi anggota persit KARTIKA CHANDRA KIRANA. Kepada yang terhormat … beserta ibu dipersilahkan kembali ketempat.

10. Tegak pedang . ( Pembacaan Puisi )

11. Mempelai dipersilahkan menuju ketempat pelaminan.

12. Sarungkan pedang.

13. Laporan komandan pedang pora.

14. Hadirin yang terhormat.

Demikian tadi acara tradisi corps pedang pora oleh perwira abituren AKADEMI MILITER, semoga dengan acara pelaksanaan ini akan terjalin ikatan bathin yang kuat diantara kami, dan kami tak lupa corps perwira abituren AKADEMI MILITER mengucapkan selamat menempuh hidup baru dan berbahagia.

Puisi Pedang Pora
Abangku…………… dan kakakku………..
Hari ini menjadi begitu indah bagimu
Kebahagiaan dan kabanggaan mewarnai seluruh detik waktu
Senyum dan tawamu terasa begitu ceria dan merdu
Hari ini pastilah menjadi kenangan indah sepanjang hidupmu
Namun hari ini hanyalah suatu awal
Awal dari suatu perjuangan yang panjang
Perjuangan seorang Prajurit dan Suami
Serta perjuangan istri Prajurit dan istri sejati
Hari esok tidak akan terlewati hanya dengan tawa dan canda
Hari esok adalah kerja keras, kerahkan segala usaha
Tanggung jawab atas tugas dan keluarga ada di pundakmu
Tanggung jawab kepada bangsa dan negara menunggu setiap waktu
Kami adik-adikmu hanya bisa berdoa
Semoga kebahagiaan hari ini akan lestari dan abadi
Dan semoga perjuangan Kakanda berdua selalu mendapat
Rahmat dan petunjuk darinya
Selamat dan bahagia Abangku……
Selamat dan bahagia Kakakku ……
Selamat menempuh hidup baru…..

http://tidar96.wordpress.com/info/acara-pedang-pora/

Tradisi Pernikahan Prajurit TNI Angkatan Laut

Tradisi pernikahan prajurit TNI Angkatan Laut merupakan suatu tradisi yang dilaksanakan dalam suatu upacara yang diatur sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan Kasal (Juklak) Nomor Juklak/13/III/2005 tanggal 24 Maret 2005.   
Upacara tradisi ini adalah salah satu proses dalam acara resepsi pernikahan yang dilakukan oleh seorang Perwira, Bintara dan Tamtama yang menggambarkan secara simbolik bahwa seorang prajurit TNI Angkatan Laut tersebut telah memasuki kehidupan berumah tangga secara resmi.

Selain itu tujuan dari upacara ini adalah untuk memberikan penghormatan kepada prajurit TNI Angkatan Laut yang melaksanakan pernikahan untuk pertama kalinya.

Upacara tradisi ini terdiri dari upacara Pedang Pura yang dilaksanakan bagi Perwira sebagai wujud penghormatan dari sesama Perwira dan upacara Pagar Kehormatan bagi Bintara/Tamtama sebagai wujud penghormatan dari sesama Bintara/Tamtama.

Adapun dalam pelaksanaan upacara tersebut terdapat beberapa formasi yang dibentuk dari Tim Pedang Pura atau Pagar Kehormatan, guna membentuk Gapura Pedang, Gapura Kehormatan dan Payung Pura.

Gapura Pedang yaitu suatu formasi yang berbentuk lorong pedang dilaksanakan disaat kedua mempelai akan melewati formasi tersebut, dengan maksud merupakan lambang penghormatan kepada kedua mempelai yang memasuki kehidupan berumah tangga.

Gapura Kehormatan yaitu melakukan penghormatan militer disaat kedua mempelai sedang memasuki formasi tersebut, dengan maksud merupakan lambang kehormatan bagi kedua mempelai yang memasuki kehidupan berumah tangga.

Sedangkan Payung Pura adalah formasi lingkaran yang berbentuk payung pedang setelah mempelai pria laporan kepada Inspektur Upacara, hal itu merupakan lambang penghormatan kepada kedua mempelai yang memasuki kehidupan berumah tangga sekaligus melaksanakan Ikrar Wirasatya oleh kedua mempelai.

Ikrar Wirasatya adalah suatu pernyataan janji setia yang diucapkan kedua mempelai (secara simbolik disampaikan oleh pembawa sajak), yang menggambarkan bahwa Perwira, Bintara dan Tamtama selaku suami dituntut tanggung jawabnya dalam berumah tangga, demikian pula sang istri dituntut pengertiannya sebagai istri prajurit dan ibu rumah tangga untuk ikut serta mendorong atas kesuksesan tugas suami dalam pengabdiannya kepada TNI Angkatan Laut.

Peresmian dan penerimaan mempelai wanita menjadi keluarga besar TNI Angkatan Laut sebagai anggota Jalasenastri, dilaksanakan oleh Inspektur Upacara kepada mempelai wanita dengan ditandai penyerahan pakaian seragam Jalasenastri.

Lebih jelasnya Upacara Pedang Pora adalah sebuah tradisi Upacara Ke Militeran biasanya dilakukan terhadap perwira muda di lingkungan TNI dan kepolisian ketika ada salah satu anggota mereka melangsungkan pernikahan atau dilakukan untuk penyambutan pejabat baru dan merupakan sebuah tradisi wajib yang telah turun-menurun. Pedang pora sendiri adalah jajaran pedang kehormatan berbentuk gapura yang di lewati ke dua mempelai, menggambarkan saat di masukinya pintu gerbang kehidupan rumah tangga yang baru.

Ada banyak simbol dalam ritual itu, diantaranya melambangkan persaudaraan, solidaritas, permohonan perlindungan pada Tuhan,dan lain sebagainya.
Bagaimana sih proses upacara itu berlangsung?
Upacara Pedang Pora berlangsung dengan menggunakan satu regu pasukan Pedang Pora yang berdiri berjajar berhadapan dengan mengunakan pakaian PDU dan membawa Pedang Pora.

Kemudian pasangan mempelai atau pejabat melewati lorong barisan pasukan yang merentangkan Pedang Pora menuju pelaminan.

Gerakan-gerakan pada saat upacara pedang pora juga memiliki makna sendiri.
Makna "SILANG PEDANG"
pedang terhunus ke bawah dan ke atas, berbentuk silang, melambangkan bahwa,tuhan YME, akan selalu melindungi dalam berbagai perjalanan/langkah menuju keberhasilan/masa depan sedangkan, Makna "PAYUNG PORA"
pedang terhunus ke atas berbentuk payung,melambangkan bahwa tuhan YME,akan selalu melindunginya dalam mendaki berbagai rintangan kehidupan.

Adapun maksud Upacara Pedang Pora adalah untuk memantapkan arti kehidupan berumah tangga bagi kedua mempelai,menjalin hubungan rasa persatuan dan kesatuan antara anggota militer.

Wuiess…keren yah ternyata ga cuma sekedar mengangkat pedang tapi ternyata ada maknanya juga lho.. :), walaupun terlihat simple tapi tamu-tamu yang hadir pasti tak akan mau melewatkan prosesi pedang pora ini dan tak lupa mengabadikannya sebagai kenang-kenangan.

Pedang Pora berasal dari kata Pedang Pura  atau Gapura Pedang merupakan acara tradisi pernikahan bagi perwira militer pria yang dilaksanakan untuk menandai melepas masa lajang dengan diiringi oleh rangkaian pedang berbentuk gapura yang dibentuk oleh hunusan pedang dari rekan2 perwira atau adik angkatan dari sang mempelai pria.Jadi bukan cuma lulusan Akmil, AAU, AAL, AKPOL, tetapi oleh seluruh perwira pria (baik Sepamilwa, IDP, Semapa PK, maupun Secapa reguler). dengan catatan hanya dilaksanakan sekali saja seumur hidup (jika menjadi duda & menikah lagi, maka tidak dilaksanakan Pedang Pora). Tidak dilaksanakan juga bagi pernikahan perwira wanita, kecuali si perwira wanita menikah dengan perwira pria.Beberapa instansi non militer juga ikut menggelar acara serupa, dengan meniru tata cara pedang pora dilingkungan militer. Misalnya komunitas Pelayaran, penerbangan dll.

Sumber:  http://koarmabar.tnial.mil.id/aRTIKEL/Umum/tabid/75/articleType/ArticleView/articleId/340/TRADISI-PERNIKAHAN-PRAJURIT-TNI-ANGKATAN-LAUT.aspx

Upacara Pedang Pura Mengiringi Peresmian Pernikahan Kapten Laut dr Bangun-Fidelia

JAKARTA - Pernikahan merupakan suatu peristiwa yang sangat sakral dan akan dialami setiap insan, karena itu tidak sedikit pasangan yang akan melakukan pernikahan jauh hari telah mempersiapkan agar pada saat hari "H" semua acara berjalan dengan lancar dan sukses.
Memang pernikahan adalah perhelatan yang sangat menguras perhatian. Persiapan pernikahan pada umumnya memerlukan waktu yang panjang, setidaknya memakan waktu 8-12 bulan jika segala sesuatunya dilakukan sendiri.

Menikah adalah peristiwa penting dalam hidup seseorang. Bahkan, secara continue masyarakat menamai menikah sebagai "susunan hidup baru" artinya menikah dapat benar-benar merubah susunan hidup seseorang. Bagaimana tidak? Aspek-aspek dalam kehidupan manusia setelah menikah secara langsung akan saling terbuka dan terorganisasi bersama atas dasar cinta. Cara hidup yang berbeda-beda akan mulai ditata bersama sebagai langkah untuk mencapai tujuan hidup bahagia.

Berdasarkan hasil pantauan pernikahan Kapten Laut (K) dr. Bangun Pramujo/ Shi Guang Jian (31) putra kedua dari (Pur) Sersan Mayor Brimod W. Srihuko (Shi Kian Hok) dengan Fidelia Catherine, S. S (Xu Bao Bao) putri pertama dari Djohin Kho (Khouw Han Huat) di Mercuri Hotel Convention Center Ancol Jakarta, 25 Mei 2013.

Pernikahan pasangan Bangun Pramujo (Shi Guang Jien) dan Fidelia Catherine (Xu Bao Bao) merupakan hari yang sangat suci yakni bertepatan dengan umat Buddha tengah merayakan Trisuci Waisak 2557/ BE tahun 2013.

Sebelum perayaan resepsi antara Bangun Pramujo dan Fidelia Catherine dimulai, kedua raja dan ratu sehari disambut dengan suatu upacara pernikahan prajurit TNI Angkatan Laut, yaitu upacara Pedang Pura yang dilaksanakan bagi seorang Perwira sebagai wujud penghormatan dari sesama Perwira.

Adapun dalam pelaksanaan upacara tersebut terdapat beberapa formasi yang dibentuk dari Tim Pedang Pura atau Pagar Kehormatan, guna membentuk Gapura Pedang, Gapura Kehormatan dan Payung Pura.

Sekitar ribuan tamu-tamu yang hadir tidak mau melewatkan prosesi Pedang Pura ini dan mereka tak  lupa mengabadikannya dengan kamera handphone bahkan ada tamu yang sengaja membawa kamera untuk mengabadikan upacara Pedang Pura sebagai kenang-kenangan.

Kapten Laut (K) dr. Bangun Pramujo (Shi Guang Jien) merupakan salah satu dari sekian warga Tionghoa yang mengabdi di TNI AL mengikuti jejak sang ayah (Pur) Sersan Mayor Brimod W. Srihuko (She Kian Hok) yang pernah bertugas di Timor Timur dan pensiun tahun 1994, sedangkan Fidelia Catherine (Xu Bao Bao) merupakan cucu dari Pejuang Kemerdekaan R.I, Kho Bak Tjoa (K. Barun) yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan “Satria Bhakti” Jambi, 7 September 2005 lalu. Dan salah satu cucu Kho Bak Tjoa, yaitu Lettu Hendra K kini aktif di AURI.

Ternyata Kapten Laut Bangun Pramujo telah banyak melakukan penugasan baik di tanah air maupun di tingkat Internasional, barikut riwayat hidupnya:

Tahun 2008 di kirim ke China waktu gempa di Secwan selama 2 minggu sebagai tim medis bantuan dari Indonesia.

Terus tahun 2011 saya berlayar dengan KRI Dewaruci ke Asia diantaranya ke Philipina, China, Thailand selama 2 bulan.

Tahun 2012 juga berlayar dengan KRI Dewaruci keliling dunia dari Surabaya (Indonesia), ke Jayapura (Indonesia), Kwajelein (Marshall Islands), Hawai (USA), San Diego (USA), Manzanillo (Mexico), Panama, New Orleans (USA), Miami (USA), Savannah (USA), New York (USA), Norfolk (USA), San Diego (USA), St.Johns (Canada), Porto (Portugal), Cadiz (Spanyol), Valetta (Malta), Port Said (Mesir), Jeddah (Arab Saudi), Oman, Srilanka, Belawan (Indonesia), Jakarta (Indonesia), kembali ke Surabaya. melewati 23 kota di 13 negara (termasuk Indonesia) selama 10 bulan.

Tambah Bangun, yang sangat terkesan adalah mendapatkan kesempatan ikut kursus di Australia (Sydney), nama kursusnya Medical Officer Underwater Medicine Course, mempelajari kesehatan bawah air selama 1 bulan.

Boleh dibilang relatif sekali dari warga etnis Tionghoa yang memilih karir di bidang kemiliteran atau menjadi anggauta TNI Angkatan Laut, ini dapat dihitung dengan jari dan lebih sedikit lagi yang berjenjang berkarir sampai dengan perwira. Ini merupakan kebanggaan sebagai orang Tionghoa yang dapat kesempatan berkarya di bidang militer.

Acara pernikahan Bangun Pramujo melalui Kiu Kiu Organizer Jakarta (contact person Mery Liana 0817 677 3554/ 28578AEF). (Romy) * Jangan Lupa Like Box Ke Facebook

Selasa, April 30, 2013

Di TNI AL, Kolonel 'Nyabu' Dikenal Berprestasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Banyak pihak yang menyayangkan atas tertangkapnya Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) Kolonel TNI ASB dalam kasus penyalahgunaan sabu di sebuah kamar hotel di Semarang, Jawa Tengah. Pasalnya, perwira menengah tersebut dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan karier gemilang.
"ASB ini hebatnya dua kali menjabat sebagai Danlanal, di Yogyakarta dan Semarang. Kalau bukan orang berprestasi tidak mungkin," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama Untung Suropati kepada wartawan di BNN, Senin (29/4/2013) malam.

Di kesatuan TNI AL, kata Untung, ASB yang memiliki dua orang anak tersebut tergolong cerdas dalam mengungkapkan pemikirannya. Tak jarang, pria yang juga salah satu staf pribadi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) tersebut kerap dimintai pertimbangan demi menentukan suatu kebijakan.

"Termasuk orang yang think-tank di angkatan laut. Dia pemikir yang mengonsep bagaimana ke depan. Itu salah satunya dia," kata Untung.

Informasi yang dihimpun Kompas.com, ASB kenal dengan narkotika jenis sabu sekitar tahun 1994. Saat itu, ASB masih berpangkat Kapten. Namun, penyalahgunaan sabu pada ASB kala itu hanya bersifat rekreasional atau sekali-sekali. Sempat berhenti mengonsumsi sabu sekitar satu tahun kemudian, ASB pun kembali terjerat barang haram tersebut sekitar tahun 2010. Namun, frekuensi penyalahgunaan mulai tinggi. Tugasnya yang padat setiap harinya menjadi alasan ASB menyalahgunakan sabu-sabu itu.

Untung mengatakan, proses penyidikan ASB selanjutnya akan dilakukan secara terpadu dari Polisi Militer TNI Angkatan Laut dengan BNN. Proses rehabilitasi akan dilakukan dengan BNN, sementara proses penyidikan selanjutnya akan dilakukan oleh Polisi Militer TNI Angkatan Laut.

Pantauan Kompas.com, ASB dibawa ke POM AL, Senin malam, sekitar pukul 21.30 WIB. Dengan dijemput mobil POM AL berwarna putih dan dikawal tiga orang Provost TNI, ASB yang mengenakan kemeja putih, jas hitam, celana biru tua serta sebuah tas itu tampak santai masuk mobil.

ASB sempat kesal dengan para wartawan yang memburu fotonya. Dia membanting pintu mobil keras-keras dan langsung menutup setengah wajahnya dengan tas kerjanya lalu mobil POM AL pun melaju meninggalkan BNN.

Sebelumnya diberitakan, Badan Narkotika Nasional meringkus tiga orang pria aparat negara dan satu orang wanita warga sipil di Semarang, Jawa Tengah, dalam kurun 25 Februari 2013 hingga 29 April 2013. Pertama, BNN menangkap pengedar narkotika jenis sabu berinisial H yang merupakan anggota Detasemen Markas Polda Jawa Tengah dengan pangkat Inspektur Satu. Kedua, BNN menciduk pengedar lainnya, yakni RS alias MM yang juga merupakan anggota Direktorat Intelkam Polda Jawa Tengah dengan pangkat Brigadir.

Berdasarkan pengembangan keduanya, BNN lalu menciduk seorang pria berinisial ASB yang tengah mengonsumsi sabu di kamar 1003 Hotel Ciputra, Semarang, Jawa Tengah. Tak disangka, ASB ternyata adalah perwira TNI Angkatan Laut, yakni Komandan Pangkalan Angkatan Laut (Danlanal) berpangkat Kolonel. Di kediaman RS, BNN pun turut menciduk wanita kekasih RS yang diduga terlibat sindikat narkoba.

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/04/30/09225971/