Tampilkan postingan dengan label TNI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 04, 2015

Kunjungan Kerja Mayjen TNI Jhoni L. Tobing Berada di Jambi

 
JAMBI, ayojambi.com - Sekitar pukul 14.40 WIB, Asop Kasad, Mayjen TNI Jhoni L. Tobing, tiba di Bandara Sultan Thaha dengan menggunakan pesawat  Lion Air Boeing 737-900ER. Kedatangannya ke Jambi bertujuan untuk memeriksa persiapan 450 personil dari kesatuan Batalyon Infantri 142/ Kesatria Jaya yang akan berangkat ke Papua untuk bertugas menjaga perbatasan di Papua tepatnya Marauke.
Kedatangan Mayjen TNI Jhoni L. Tobing disambut langsung oleh Komandan Korem 042 Garuda Putih Brigjen TNI Harianto, Komandan I Letkol Inf Nyoman Yudhana dari Batalyon Infantri 142/ Kesatria Jaya dan Kapolda Jambi Brigjen Pol Lutfi Lubihanto.

Selama dua jam, Mayjen TNI Jhoni L. Tobing berada di Batalyon Infantri 142/Kesatria Jaya untuk mengecek persiapan ratusan personil yang akan berangkat pada tanggal 6 Agustus.

http://jambi.tribunnews.com/2015/08/04/selama-dua-jam-mayjen-tni-jhoni-l-tobing-berada-di-jambi * www.ayojambi.com/

Sabtu, Juli 26, 2014

KPK juga tangkap anggota TNI & polisi di Bandara Soekarno Hatta

MERDEKA.COM. Beberapa lembaga, antara lain KPK, UKP4, Bareskrim Polri dan Polres Jakarta Barat, PT Angkasa Pura II, Terminal 2D Bandara Soekarno Hatta, dan BNP2TKI, malam ini di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Dalam operasi, tim gabungan baru berhasil mengamankan 14 terduga pelaku pemerasan, pungutan liar, dan praktik calo kepada para Tenaga Kerja Indonesia.
Menurut Ketua KPK, Abraham Samad, dalam jumpa pers di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (25/7), dari beberapa terduga tim berhasil menangkap anggota TNI dan polisi.

"Ada satu oknum TNI AD dan dua Polisi," kata Samad.

Menurut Samad, operasi malam ini sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah dalam melindungi para TKI. "Mereka kan sudah bekerja banting tulang, jauh dari keluarga, tapi masih diperlakukan seperti itu," ujar Samad.

Sementara itu, Kepala Bareskrim Polri Komjen Suhardi Alius berjanji akan menuntaskan praktik lancung seperti ini di Bandara Soetta.

"Kami juga akan menelaah tindak pidana terhadap para pelaku," kata Suhardi.

https://id.berita.yahoo.com/sidak-kpk-juga-tangkap-anggota-tni-polisi-di-181708290.html
* www.ayojambi.com/

Jumat, Mei 02, 2014

Kisah heroik tentara makan sepatu untuk hidup di Papua

MERDEKA.COM. 26 April 1962, tiga buah pesawat C-47 Dakota milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) terbang ke Kaimana, Irian Barat. Mereka bertugas menerjunkan 23 pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), 9 Pasukan Gerak Tjepat (PGT) AURI dan satu perwira zeni AD.
Misi mereka menyusup ke belantara Papua dan merusak radar milik Belanda. Operasi militer ini dinamakan Operasi Banteng Merah. Salah satu operasi penerjunan pertama dalam rangka Tri Komando Rakyat, membebaskan Irian Barat dari tangan Belanda.

Tak mudah menggelar operasi udara di Irian Barat. Hutan lebat, pohon setinggi 50 meter, hingga sulitnya makanan di dalam belantara menjadi kendala tersendiri. Apalagi Belanda terus menambah kekuatan di Irian. Sebagai catatan, saat perang dunia II, tentara sekutu tak mau menggelar operasi penerjunan di Irian. Mereka memandang hal ini terlalu beresiko.

Tapi perintah Presiden Soekarno, penerjunan harus dilaksanakan. Apapun resikonya. Buka mata dunia, Indonesia mampu menggelar operasi militer di Papua.

Hari menjelang subuh saat satu per satu pasukan melompat dari pesawat. Malapetaka menunggu begitu mereka membuka payung. Rata-rata anggota pasukan mendarat di puncak pohon yang tingginya lebih dari 50 meter. Mereka menggantung di pohon dan kesulitan mencapai tanah. Walau setiap pasukan membawa tali yang panjangnya 30 meter, masih kurang untuk mencapai tanah.

Beberapa orang patah tulang saat mendarat. Mereka jatuh tersebar sehingga kekuatan pun terpencar. Tentara Belanda langsung mengerahkan pesawat pengintai dan pasukan berkekuatan besar untuk memburu para penerjun.

Puluhan tentara tentu bukan tandingan tentara Belanda di Irian. Sebagian pasukan RI tewas ditembak dan sebagian lagi tertangkap. Mereka juga sadar penduduk di Irian Barat kebanyakan sudah dibina Belanda. Setiap ada tentara Indonesia, rakyat akan melapor pada tentara. Pertolongan dari rakyat nyaris tak bisa diharapkan.

Masalah makanan pun jadi hal utama. Di belantara Papua sangat jarang ada tumbuhan atau makanan bisa dimakan. Satu-satunya harapan adalah makanan pemberian penduduk kampung. Mereka juga berusaha membeli dari penduduk, karena setiap orang dibekali uang gulden.

Pasukan Indonesia sering kelaparan berhari-hari. Jika berpapasan dengan penduduk yang menjanjikan makanan, mereka sudah tak percaya. Pasti di tempat yang ditunjuk sudah ada tentara Belanda yang menunggu.

Salah satu kisah miris soal beratnya operasi tersebut dikisahkan dalam buku 52 Tahun Infiltrasi PGT di Irian Barat, Bertahan dan Diburu di Belantara Irian. Buku Terbitan Majalah Angkasa ini ditulis Beny Adrian dan diluncurkan di Jakarta, Jumat (25/4) lalu di Jakarta.

Sarjono, salah satu anggota pasukan, harus bertahan hidup dengan merebus dan memakan sepatu bootnya yang terbuat dari kulit. Hal itu dilakukannya karena sudah sangat kelaparan dan sama sekali tak ada makanan.

Sarjono kemudian tertangkap tentara Belanda. Dia ditahan di Biak lalu dibawa ke Wundi. Baru pada akhir konfrontasi Sarjono dipulangkan ke Indonesia.

Kelak, Pasukan Gerak Tjepat (PGT) ini berubah nama Korps Pasukan Khas TNI AU (Korpaskhas). Mantan Komandan Korpaskhas Marsma (Purn) Nanok Soeratno menilai hanya orang-orang 'gendeng', pemberani dan bernyali besar, berani terjun sebelum matahari terbit di tempat yang sangat asing.

Nanok menyebut pengalaman operasi tempur seperti ini langka bagi generasi muda TNI saat ini.

"Walau tentu tak bisa dibedakan apple to apple. Setiap generasi memiliki tantangan masing-masing," kata Nanok.

Sesuai motto pasukan ini: Karmanye Vadikaraste Mafelesu Kadatjana, kerjakan tugasmu tanpa menghitung untung ruginya.

https://id.berita.yahoo.com/kisah-heroik-tentara-makan-sepatu-untuk-hidup-di-184500935.html
* www.ayojambi.com/