Tampilkan postingan dengan label Acara Pedang Pora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Acara Pedang Pora. Tampilkan semua postingan

Senin, Mei 27, 2013

Acara Pedang Pura

1. Hadirin yang kami mulyakan, pada hari yang berbahagia ini, kami corps Perwira Abituren AKADEMI MILITER akan mempersembahkan acara tradisi corps pedang pora.
Acara ini merupakan perlambang kebanggaan dan kebahagiaan corps perwira Abituren AKADEMI MILITER dalam mengantar kakak kami untuk menempuh lembaran kehidupan yang baru. Maksud dan tujuan acara yang telah menjadi tradisi dilingkungan Perwira Abituren AKADEMI MILITER ini adalah agar tetap terjalin hubungan ikatan bathin yang kuat dan rasa korsa yang mendalam antara kakak dan adiknya serta untuk mengantarkan kakak kami ke pintu gerbang kehidupan barunya sebagai suami istri yang berbahagia.

Acara ini juga sebagai pernyataan, bahwa kami pernah sama-sama di gembleng dalam kawah CHANDRADIMUKA Lembah Tidar.

2. Acara Tradisi corps pedang pora dimulai, hadirin dimohon berdiri…
Pasukan disiapkan …                                                 ( PAMPARE).

3. Laporan Komandan pedang pora  …

4. Hunus pedang. ( Dilanjutkan instrumen Taruna Jaya ).

- Pedang terhunus melambangkan bahwa dengan bersikap dan berjiwa ksatria kedua mempelai akan selalu siap untuk mengatasi segala rintangan dan menerobos semua hambatan yang akan menghalangi kehudupan mereka.

- Adapun formasi dua syaf berhadapan melambangkan pintu gerbang yang akan mereka lalui merupakan awal suka dan duka dalam menempuh kehidupan yang baru.
- Hadirin yang kami hormati……………………..kita saksikan sekarang mempelai sedang melewati pagar pedang yang mengandung makna bahwa dalam menempuh kehidupan ini, banyak terjadi rintangan-rintangan yang harus dihadapi baik semasa mengikuti pendidikan maupun dalam pelaksanaan tugas sehari-hari dan kehidupan yang akan datang. Rintangan-rintangan tersebut sekarang dihadapi dan diselesaikan bersama mempelai putri sehingga tujuan mulia dalam menempuh kehidupan yang baru ini dapat tercapai.

5. Formasi Berbanjar.
- Formasi berbanjar yang sedang kita saksikan ini, melambangkan bahwa kami corps perwira Abituren AKADEMI MILITER, turut bersuka cita dan mengantarkan kakak kami tercinta menuju pintu gerbang kebahagiaan dalam menempuh kehidupannya yang baru.

Kami menyadari bahwa kami dulu pernah merasakan dalam satu rasa kehidupan dalam menempa diri di AKADEMI MILITER. Penderitaan kakak kami adalah sebagian dari penderitaan kami yang harus kami rasakan bersama-sama. Kami siap mengantar kakak kami untuk membagi rasa baik dalam suka maupun duka. Dan pada hari yang berbahagia ini disaksikan dengan mata kebahagiaan dan dengan diiringi doa para hadirin mempelai berdua melepas masa bebasnya, menjalin janji untuk masa selamanya, semoga ini menjadi awal dari suatu kebahagiaan.

6. Formasi melingkar
–  Hadirin yang terhormat …
Kita saksikan bersama mempelai dalam formasi melingkar. Formasi ini melambangkan bahwa diantara kami corps perwira abituren AKADEMI MILITER akan selalu terjalin ikatan bathin yang kuat, ikatan yang selalu mewarnai tugas dan perjuangan mereka. Kami corps perwira abituren AKADEMI MILITER menjadi saksi dan pelindung agar ikatan tersebut tetap kekal selamanya.

7. Payung pedang pora
– Hadirin yang kami hormati  …
Terlihat sekarang pedang membentuk payung, formasi ini mengandung makna bahwa Tuhan Yang Maha Esa akan selalu melindungi kedua mempelai dalam menghadapi berbagai rintangan hidup akan selalu ingat dan memohon petunjuk serta perlindungannya.

8. Pemasangan cincin
- Kepada yang terhormat ……  beserta ibu dimohon berkenan untuk memasangkan cincin kepada kedua mempelai.

- Pemasangan cincin ini merupakan ikrar dan tanda bagi kedua mempelai bahwa mereka akan selalu bersama-sama dalam mengarungi kehidupan berumah tangga.
          
9. Penyerahan seperangkat pakaian persit
- Kepada yang terhormat ibu ….. dimohon berkenan untuk menyerahkan seperangkat pakaian Persit kepada mempelai putri.

- Dengan diserahkannya pakaian persit kepada mempelai putri, secara simbolis mengandung arti bahwa mempelai putri telah diterima menjadi anggota persit KARTIKA CHANDRA KIRANA. Kepada yang terhormat … beserta ibu dipersilahkan kembali ketempat.

10. Tegak pedang . ( Pembacaan Puisi )

11. Mempelai dipersilahkan menuju ketempat pelaminan.

12. Sarungkan pedang.

13. Laporan komandan pedang pora.

14. Hadirin yang terhormat.

Demikian tadi acara tradisi corps pedang pora oleh perwira abituren AKADEMI MILITER, semoga dengan acara pelaksanaan ini akan terjalin ikatan bathin yang kuat diantara kami, dan kami tak lupa corps perwira abituren AKADEMI MILITER mengucapkan selamat menempuh hidup baru dan berbahagia.

Puisi Pedang Pora
Abangku…………… dan kakakku………..
Hari ini menjadi begitu indah bagimu
Kebahagiaan dan kabanggaan mewarnai seluruh detik waktu
Senyum dan tawamu terasa begitu ceria dan merdu
Hari ini pastilah menjadi kenangan indah sepanjang hidupmu
Namun hari ini hanyalah suatu awal
Awal dari suatu perjuangan yang panjang
Perjuangan seorang Prajurit dan Suami
Serta perjuangan istri Prajurit dan istri sejati
Hari esok tidak akan terlewati hanya dengan tawa dan canda
Hari esok adalah kerja keras, kerahkan segala usaha
Tanggung jawab atas tugas dan keluarga ada di pundakmu
Tanggung jawab kepada bangsa dan negara menunggu setiap waktu
Kami adik-adikmu hanya bisa berdoa
Semoga kebahagiaan hari ini akan lestari dan abadi
Dan semoga perjuangan Kakanda berdua selalu mendapat
Rahmat dan petunjuk darinya
Selamat dan bahagia Abangku……
Selamat dan bahagia Kakakku ……
Selamat menempuh hidup baru…..

http://tidar96.wordpress.com/info/acara-pedang-pora/

Tradisi Pernikahan Prajurit TNI Angkatan Laut

Tradisi pernikahan prajurit TNI Angkatan Laut merupakan suatu tradisi yang dilaksanakan dalam suatu upacara yang diatur sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan Kasal (Juklak) Nomor Juklak/13/III/2005 tanggal 24 Maret 2005.   
Upacara tradisi ini adalah salah satu proses dalam acara resepsi pernikahan yang dilakukan oleh seorang Perwira, Bintara dan Tamtama yang menggambarkan secara simbolik bahwa seorang prajurit TNI Angkatan Laut tersebut telah memasuki kehidupan berumah tangga secara resmi.

Selain itu tujuan dari upacara ini adalah untuk memberikan penghormatan kepada prajurit TNI Angkatan Laut yang melaksanakan pernikahan untuk pertama kalinya.

Upacara tradisi ini terdiri dari upacara Pedang Pura yang dilaksanakan bagi Perwira sebagai wujud penghormatan dari sesama Perwira dan upacara Pagar Kehormatan bagi Bintara/Tamtama sebagai wujud penghormatan dari sesama Bintara/Tamtama.

Adapun dalam pelaksanaan upacara tersebut terdapat beberapa formasi yang dibentuk dari Tim Pedang Pura atau Pagar Kehormatan, guna membentuk Gapura Pedang, Gapura Kehormatan dan Payung Pura.

Gapura Pedang yaitu suatu formasi yang berbentuk lorong pedang dilaksanakan disaat kedua mempelai akan melewati formasi tersebut, dengan maksud merupakan lambang penghormatan kepada kedua mempelai yang memasuki kehidupan berumah tangga.

Gapura Kehormatan yaitu melakukan penghormatan militer disaat kedua mempelai sedang memasuki formasi tersebut, dengan maksud merupakan lambang kehormatan bagi kedua mempelai yang memasuki kehidupan berumah tangga.

Sedangkan Payung Pura adalah formasi lingkaran yang berbentuk payung pedang setelah mempelai pria laporan kepada Inspektur Upacara, hal itu merupakan lambang penghormatan kepada kedua mempelai yang memasuki kehidupan berumah tangga sekaligus melaksanakan Ikrar Wirasatya oleh kedua mempelai.

Ikrar Wirasatya adalah suatu pernyataan janji setia yang diucapkan kedua mempelai (secara simbolik disampaikan oleh pembawa sajak), yang menggambarkan bahwa Perwira, Bintara dan Tamtama selaku suami dituntut tanggung jawabnya dalam berumah tangga, demikian pula sang istri dituntut pengertiannya sebagai istri prajurit dan ibu rumah tangga untuk ikut serta mendorong atas kesuksesan tugas suami dalam pengabdiannya kepada TNI Angkatan Laut.

Peresmian dan penerimaan mempelai wanita menjadi keluarga besar TNI Angkatan Laut sebagai anggota Jalasenastri, dilaksanakan oleh Inspektur Upacara kepada mempelai wanita dengan ditandai penyerahan pakaian seragam Jalasenastri.

Lebih jelasnya Upacara Pedang Pora adalah sebuah tradisi Upacara Ke Militeran biasanya dilakukan terhadap perwira muda di lingkungan TNI dan kepolisian ketika ada salah satu anggota mereka melangsungkan pernikahan atau dilakukan untuk penyambutan pejabat baru dan merupakan sebuah tradisi wajib yang telah turun-menurun. Pedang pora sendiri adalah jajaran pedang kehormatan berbentuk gapura yang di lewati ke dua mempelai, menggambarkan saat di masukinya pintu gerbang kehidupan rumah tangga yang baru.

Ada banyak simbol dalam ritual itu, diantaranya melambangkan persaudaraan, solidaritas, permohonan perlindungan pada Tuhan,dan lain sebagainya.
Bagaimana sih proses upacara itu berlangsung?
Upacara Pedang Pora berlangsung dengan menggunakan satu regu pasukan Pedang Pora yang berdiri berjajar berhadapan dengan mengunakan pakaian PDU dan membawa Pedang Pora.

Kemudian pasangan mempelai atau pejabat melewati lorong barisan pasukan yang merentangkan Pedang Pora menuju pelaminan.

Gerakan-gerakan pada saat upacara pedang pora juga memiliki makna sendiri.
Makna "SILANG PEDANG"
pedang terhunus ke bawah dan ke atas, berbentuk silang, melambangkan bahwa,tuhan YME, akan selalu melindungi dalam berbagai perjalanan/langkah menuju keberhasilan/masa depan sedangkan, Makna "PAYUNG PORA"
pedang terhunus ke atas berbentuk payung,melambangkan bahwa tuhan YME,akan selalu melindunginya dalam mendaki berbagai rintangan kehidupan.

Adapun maksud Upacara Pedang Pora adalah untuk memantapkan arti kehidupan berumah tangga bagi kedua mempelai,menjalin hubungan rasa persatuan dan kesatuan antara anggota militer.

Wuiess…keren yah ternyata ga cuma sekedar mengangkat pedang tapi ternyata ada maknanya juga lho.. :), walaupun terlihat simple tapi tamu-tamu yang hadir pasti tak akan mau melewatkan prosesi pedang pora ini dan tak lupa mengabadikannya sebagai kenang-kenangan.

Pedang Pora berasal dari kata Pedang Pura  atau Gapura Pedang merupakan acara tradisi pernikahan bagi perwira militer pria yang dilaksanakan untuk menandai melepas masa lajang dengan diiringi oleh rangkaian pedang berbentuk gapura yang dibentuk oleh hunusan pedang dari rekan2 perwira atau adik angkatan dari sang mempelai pria.Jadi bukan cuma lulusan Akmil, AAU, AAL, AKPOL, tetapi oleh seluruh perwira pria (baik Sepamilwa, IDP, Semapa PK, maupun Secapa reguler). dengan catatan hanya dilaksanakan sekali saja seumur hidup (jika menjadi duda & menikah lagi, maka tidak dilaksanakan Pedang Pora). Tidak dilaksanakan juga bagi pernikahan perwira wanita, kecuali si perwira wanita menikah dengan perwira pria.Beberapa instansi non militer juga ikut menggelar acara serupa, dengan meniru tata cara pedang pora dilingkungan militer. Misalnya komunitas Pelayaran, penerbangan dll.

Sumber:  http://koarmabar.tnial.mil.id/aRTIKEL/Umum/tabid/75/articleType/ArticleView/articleId/340/TRADISI-PERNIKAHAN-PRAJURIT-TNI-ANGKATAN-LAUT.aspx

Upacara Pedang Pura Mengiringi Peresmian Pernikahan Kapten Laut dr Bangun-Fidelia

JAKARTA - Pernikahan merupakan suatu peristiwa yang sangat sakral dan akan dialami setiap insan, karena itu tidak sedikit pasangan yang akan melakukan pernikahan jauh hari telah mempersiapkan agar pada saat hari "H" semua acara berjalan dengan lancar dan sukses.
Memang pernikahan adalah perhelatan yang sangat menguras perhatian. Persiapan pernikahan pada umumnya memerlukan waktu yang panjang, setidaknya memakan waktu 8-12 bulan jika segala sesuatunya dilakukan sendiri.

Menikah adalah peristiwa penting dalam hidup seseorang. Bahkan, secara continue masyarakat menamai menikah sebagai "susunan hidup baru" artinya menikah dapat benar-benar merubah susunan hidup seseorang. Bagaimana tidak? Aspek-aspek dalam kehidupan manusia setelah menikah secara langsung akan saling terbuka dan terorganisasi bersama atas dasar cinta. Cara hidup yang berbeda-beda akan mulai ditata bersama sebagai langkah untuk mencapai tujuan hidup bahagia.

Berdasarkan hasil pantauan pernikahan Kapten Laut (K) dr. Bangun Pramujo/ Shi Guang Jian (31) putra kedua dari (Pur) Sersan Mayor Brimod W. Srihuko (Shi Kian Hok) dengan Fidelia Catherine, S. S (Xu Bao Bao) putri pertama dari Djohin Kho (Khouw Han Huat) di Mercuri Hotel Convention Center Ancol Jakarta, 25 Mei 2013.

Pernikahan pasangan Bangun Pramujo (Shi Guang Jien) dan Fidelia Catherine (Xu Bao Bao) merupakan hari yang sangat suci yakni bertepatan dengan umat Buddha tengah merayakan Trisuci Waisak 2557/ BE tahun 2013.

Sebelum perayaan resepsi antara Bangun Pramujo dan Fidelia Catherine dimulai, kedua raja dan ratu sehari disambut dengan suatu upacara pernikahan prajurit TNI Angkatan Laut, yaitu upacara Pedang Pura yang dilaksanakan bagi seorang Perwira sebagai wujud penghormatan dari sesama Perwira.

Adapun dalam pelaksanaan upacara tersebut terdapat beberapa formasi yang dibentuk dari Tim Pedang Pura atau Pagar Kehormatan, guna membentuk Gapura Pedang, Gapura Kehormatan dan Payung Pura.

Sekitar ribuan tamu-tamu yang hadir tidak mau melewatkan prosesi Pedang Pura ini dan mereka tak  lupa mengabadikannya dengan kamera handphone bahkan ada tamu yang sengaja membawa kamera untuk mengabadikan upacara Pedang Pura sebagai kenang-kenangan.

Kapten Laut (K) dr. Bangun Pramujo (Shi Guang Jien) merupakan salah satu dari sekian warga Tionghoa yang mengabdi di TNI AL mengikuti jejak sang ayah (Pur) Sersan Mayor Brimod W. Srihuko (She Kian Hok) yang pernah bertugas di Timor Timur dan pensiun tahun 1994, sedangkan Fidelia Catherine (Xu Bao Bao) merupakan cucu dari Pejuang Kemerdekaan R.I, Kho Bak Tjoa (K. Barun) yang dimakamkan di Taman Makam Pahlawan “Satria Bhakti” Jambi, 7 September 2005 lalu. Dan salah satu cucu Kho Bak Tjoa, yaitu Lettu Hendra K kini aktif di AURI.

Ternyata Kapten Laut Bangun Pramujo telah banyak melakukan penugasan baik di tanah air maupun di tingkat Internasional, barikut riwayat hidupnya:

Tahun 2008 di kirim ke China waktu gempa di Secwan selama 2 minggu sebagai tim medis bantuan dari Indonesia.

Terus tahun 2011 saya berlayar dengan KRI Dewaruci ke Asia diantaranya ke Philipina, China, Thailand selama 2 bulan.

Tahun 2012 juga berlayar dengan KRI Dewaruci keliling dunia dari Surabaya (Indonesia), ke Jayapura (Indonesia), Kwajelein (Marshall Islands), Hawai (USA), San Diego (USA), Manzanillo (Mexico), Panama, New Orleans (USA), Miami (USA), Savannah (USA), New York (USA), Norfolk (USA), San Diego (USA), St.Johns (Canada), Porto (Portugal), Cadiz (Spanyol), Valetta (Malta), Port Said (Mesir), Jeddah (Arab Saudi), Oman, Srilanka, Belawan (Indonesia), Jakarta (Indonesia), kembali ke Surabaya. melewati 23 kota di 13 negara (termasuk Indonesia) selama 10 bulan.

Tambah Bangun, yang sangat terkesan adalah mendapatkan kesempatan ikut kursus di Australia (Sydney), nama kursusnya Medical Officer Underwater Medicine Course, mempelajari kesehatan bawah air selama 1 bulan.

Boleh dibilang relatif sekali dari warga etnis Tionghoa yang memilih karir di bidang kemiliteran atau menjadi anggauta TNI Angkatan Laut, ini dapat dihitung dengan jari dan lebih sedikit lagi yang berjenjang berkarir sampai dengan perwira. Ini merupakan kebanggaan sebagai orang Tionghoa yang dapat kesempatan berkarya di bidang militer.

Acara pernikahan Bangun Pramujo melalui Kiu Kiu Organizer Jakarta (contact person Mery Liana 0817 677 3554/ 28578AEF). (Romy) * Jangan Lupa Like Box Ke Facebook