Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Panglima TNI Jenderal TNI
Gatot Nurmantyo (tengah) dan Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti (kiri) meninjau lokasi kebakaran lahan di Desa Pulo Keronggan, Kec Pedamaran
Timur, Ogan Komering Ilir, Sumsel,
Minggu (6/9). (ANTARA FOTO/Nova
Wahyudi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi pencinta lingkungan Greenpeace Indonesia memiliki keinginan untuk bertemu langsung dengan Presiden Indonesia Joko Widodo untuk membicarakan kebakaran lahan atau hutan di Indonesia yang semakin parah. Sayangnya hingga kini rencana belum terealisasikan.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Teguh Surya mengatakan bahwa rencana tersebut sudah dibuat sejak lama. Namun dengan nada menyindir, Teguh mengatakan bahwa Jokowi sedang sibuk.
"Pak Presiden itu sibuk jalan-jalan," kata Teguh saat ditemui di jumpa pers perihal kebakaran lahan dan hutan, Kamis (10/9).
Menurut Teguh, Jokowi saat ini lebih sibuk dengan urusan-urusan yang tidak ada hubungannya dengan perlindungan terhadap lingkungan. Hingga kini belum ada tanda-tanda keseriusan Jokowi untuk berkomunikasi baik dengan Greenpeace.
Berdasarkan pengamatan Greenpeace Indonesia, terakhir Jokowi membahas soal kebakaran hutan dengan warga adalah saat dia mengunjungi Sungai Tohor di Riau pada November 2014 lalu.
Saat itu Jokowi berencana untuk membangun sekat kanal yang berfungsi membasahi lahan gambut agar tidak bisa dibakar oleh oknum tak bertanggungjawab. Sayangnya hingga kini rencana tersebut seakan hilang begitu saja karena tak terlihat dampaknya.
"Pak Presiden seharusnya menyediakan waktu khusus untuk bertemu dan berkonsultasi dengan masyarakat," kata Teguh.
Teguh meminta Jokowi jangan lagi mengumbar janji yang pada akhirnya tidak dilaksanakan. Lebih utama untuk memenuhi atau melaksanakan janji-janji terdahulu sebelum memberikan janji yang lain.
"Operasi penanganan juga harus dipimpin langsung oleh presiden dan jangan oleh menteri. Jika Pak Presiden yang pimpin langsung maka situasi akan lebih baik," kata Teguh.
Greenpeace Indonesia menjadi salah satu lembaga yang menyayangkan sikap pemerintah terkait lingkungan dan penanganan kebakaran lahan atau hutan dalam rentang hampir 20 tahun tersebut. Apalagi, kebakaran lahan tidak terjadi di satu tempat saja, melainkan hampir di semua pulau utama di Indonesia.
"Kebakaran hutan bukan baru terjadi kemarin, tapi sudah 18 tahun. Bahkan jika dihitung sejak medio 1980-an artinya sudah 30 tahun terjadi," kata Teguh.
Desa Pemayungan, Jambi bukan tempat tinggal kepala negara. Tapi bukan berarti orang-orang bisa seenaknya keluar masuk desa yang terjepit antara Taman Nasional Bukit Tiga Puluh jika tidak punya surat jalan dari PT Wira Karya Sakti (WKS). Awal Oktober 2011 Tim Kampanye Mata Harimau Sumatera Greenpeace harus berputar-putar arah hanya demi bertandang.
“Sekarang ini situasi sedang panas karena mereka sedang melakukan land clearing hutan-hutan alam. Jadi pengawasannya lumayan ketat untuk orang yang keluar masuk,” kata Arif Munandar, Direktur Walhi Jambi, kepada sejumlah media cetak maupun elektronik, Kamis siang di sekretariat Walhi kawasan Telanaipura Jambi (6/10). Land clearing berarti menebangi hutan alam untuk kemudian ditanami tanaman industri seperti kelapa sawit atau akasia.
Desa Pemayungan berbatasan dengan Kawasan Konservasi Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, yang menurut PKHS (Program Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera) menjadi rumah hutan Harimau Sumatera (Panthera Trigris Sumatrae) sedikitnya 30 ekor.
Satwa langka yang di seluruh hutan Andalas hanya tinggal 400 ekor saja. Tak hanya itu, secara adat Orang- orang Desa Pemayungan turun-temurun menghormati sosok Harimau Sumatera dengan menggelarinya “Datuk Mergo (Datuk Harimau)” layaknya seorang bangsawan terhormat.
Desa Pemayungan pun masuk jadwal kunjungan Tim Kampanye Mata Harimau Greenpeace di Jambi. Lima orang berpakaian loreng-loreng mengendarai motor bercorak sama bermaksud bertandang ke Desa Pemayungan. Kepala Desa Pemayungan Syahrudin juga sudah siap menyambut dengan tradisi silat dan iringan musik Melayu Tua.
“Kampanye ini disebut Mata Harimau, karena kami berpakaian bercorak harimau lalu pergi melihat apa yang terjadi dengan hutan sumatera dan memberitahukannya ke masyarakat,” kata Kepala Rombongan Kampanye Greenpeace Rusmadyah Maharrudin.
Tim Kampanye Mata Harimau Greenpeace semula berencana bertandang ke Pemayungan dari arah Kelayang, Riau. Lalu melalui Peranap, Rombongan Mata Harimau mengawali Oktober menelusuri daerah yang disebut area estafet perbatasan Riau-Jambi. Dari sanalah mereka berencana memintas jalan melewati daerah konsesi PT TMA menuju Desa Aur Cino untuk terus menuju ke Desa Pemayungan.
Tapi berucap tak semudah berlaku. Di depan jalan koridor daerah konsesi PT TMA, rombongan ditolak masuk. Saat kulonuwun ingin lewat, pihak keamanan PT TMA menolak mebuka portal jalan bagi Rombongan Mata Harimau.
“Kami hanya ingin numpang lewat dan kami bahkan bersedia dikawal hingga keluar jalur jalan PT TMA,” kata Rusmadyah.
Kepada pihak keamanan PT TMA, Rombongan lalu menunjukkan surat pemberitahuan Greenpeace ke Polisi Daerah Jambi sebelumnya tentang Kampanye Mata Harimau ini. Namun mereka tetap dibiarkan menunggu kurang lebih satu jam tanpa kepastian di depan portal. Akhirnya Rombongan Mata Harimau memilih berbalik memutar menuju Kota Kabupaten Rimbo Bujang untuk sampai ke Desa Pemayungan. Alih-alih memintas jalan melewati wilayah konsesi PT TMA, rombongan kini harus memutari wilayah konsesi. Ini berarti lama perjalanan yang tadinya hanya 4 jam berubah menjadi 11 jam berkendara motor.
Malam yang sudah melarut pun memaksa Rombongan Mata Harimau tak bisa langsung melintas Anak Sungai Batanghari menuju kampung. Alasannya sederhana: tak ada perahu besi lagi untuk menyeberangkan mereka. Jembatan juga tak ada. Harus tunggu esok lagi.
Upacara silat dan alunan musik Melayu penyambut rombongan di Desa Pemayungan akhirnya batal gara-gara jadwal molor tiga hari.
“Mohon maaf kalau kami tak bisa menyambut rombongan sebagaimana mestinya karena hal yang tak dapat kita hindari bersama. Tapi Masyarakat Desa Pemayungan tetap meminta agar hutan di sekitar kami ini bisa diselamatkan dari cengkeraman perusahaan raksasa, yang rencana land clearing-nya akan mulai 2012 ini,” kata Kepala Desa Syahrudin saat melepas pulang Rombongan Mata Harimau.
Veby Mega, Penulis yang mendukung kampanye Mata Harimau Sumatera Greenpeace Bagus Himawan - Greenpeace Southeast Asia, Indonesia
JAMBI - Team Mata Harimau yang terdiri dari aktivis Greenpeace Indonesia, Walhi dan Warsi baru-baru ini melakukan tour ke wilayah hutan yang ada di pulau Sumatera. Mereka keliling pulau Sumatera dengan mengendarai sepeda motor dan mengenakan pakaian yang khas warna kulit harimau, team tersebut bertolak dari Pekanbaru (Riau) 21 September 2011 dan direncanakan finish di Palembang (Sumsel) tanggal 16 Oktober 2011 mendatang.
Kepala Rombongan Kampanye Greenpeace Indonesia, Rusmadyah Maharuddin mengatakan Tour Mata Harimau ini dimaksudkan adalah untuk melihat dari dekat sejauh mana kerusakan hutan yang ada di wilayah Sumatera dan juga apa akibat yang akan ditimbulkan dengan adanya konversi kawasan hutan untuk tanaman monokultur/ HPI terhadap masyarakat dan satwa yang hidup di dalamnya.
"Tour ini dimaksudkan untuk menulusuri, menjadi saksi sekaligus mengemukakan bukti-bukti selama di dalam perjalanan, bahwa konversi hutan selain merusak alam juga menyengsarakan masyarakat," kata Maharuddin, Kamis (6/10) siang di markas Walhi dikawasan Telanaipura Jambi.
Di dalam perjalanan menurut Maharuddin tim menemukan fakta kehancuran hutan akibat ulah penguasaan lahan hutan oleh perusahaan-perusahaan besar.
Selain itu, tanaman-tanaman hutan yang merupakan tempat habitat satwa dan tempat mencari makan orang rimba dibabat habis dan diganti dengan tanaman industri (sawit/ akasia). "Seyogyanya pemerintah harus menghentikan penghancuran hutan alam dan meninjau kembali izin-izin perusahaan, selain itu perusahaan juga harus menghentikan aktifitas penghancuran alam," kata Maharruddin. (team)