MUAROJAMBI, ayojambi.com - Situs Candi Muaro Jambi di Desa Muaro Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Minggu sore (31/3-2013) kembali mendapatkan kehormatan dikunjungi tiga Bhiksu asal negara Taiwan, yaitu Bhiksu Ho Ying Teng, Bhiksu He Chia Ho, Bhiksu Chou Cen Kuo dan Bhiksu Yang Shang Yung.
Tampilkan postingan dengan label Candi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Candi. Tampilkan semua postingan
Minggu, Maret 31, 2013
Selasa, Juni 26, 2012
Bhiksu Rinpoche Naik Sepeda Keliling Candi Muarojambi
JAMBI – Bhiksu Rinpoche segaja terbang dari Singapure ke Jambi untuk melihat peninggalan prasejahra yang terbesar di asia tenggara dan keindahan panorama di Candi Muaro Jambi, Bhiksu Rinpoche sengaja datang ke Jambi bersama beberapa warga Singapure via Bandara Soekarno Hatta Jakarta.
Bhiksu berkebangsaan Tibet ini tertarik untuk mengunjungi situs Muaro Jambi. Terutama karena situs Muaro Jambi telah menjadi perhatian wisatawan luar negeri.
Situs purbakala kebanggaan masyarakat Provinsi Jambi yang terletak di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Candi Muaro Jambi merupakan salah satu peninggalan sejarah karena adanya kaitan antara keberadaan situs dengan penyebaran ajaran Buddha yang cukup terkenal bahkan terbesar di asia tenggara. Untuk itu, Bhiksu Rimpoche mengaku sangat tertarik untuk melihat dari keindahan panaroma candi dari dekat, maka mereka sengaja datang ke Jambi melalui Singapura (25/6).
Kunjungan Rinpeche ke candi didampingi salah seorang tokoh masyarakat yang peduli candi Muara Jambi, beliau juga banyak mengeluarkan dana untuk memperkenalkan candi di tingkat dunia tanpa pamrih.
Untuk mengitari candi Muaro Jambi satu persatu, Rinpoche mengunakan sepeda yang disewakan warga setempat mulai dari pukul 09.30 hingga pukul 14.00 wib, tidak ketinggalan mengabadikan candi dengan kamera handphone.
Sebelum keliling candi Candi Gumpung, Candi Tinggi Astano, dan Kembar Batu, Rinpoche melakukan pelepasan burung ke alam bebas di candi Kadaton, selanjutnya Rinpoche keliling arca yang ditemukan oleh para pekerja beberapa waktu lalu. (Romy)
Label:
Arca,
Candi,
Candi Kadaton,
Muaro Jambi,
Rinpoche,
Tibet
Sabtu, Agustus 13, 2011
Usia Makara Lebih Seribu Tahun
JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Pemugaran kompleks Candi Muaro Jambi, khususnya Candi Kedaton ini dibiayai dari dana APBN. Kendati demikian, Pemerintah Provinsi Jambi berkewajiban untuk mengamankan proses tersebut. Terlebih dengan adanya temuan bersejarah yang diperkirakan merupakan tinggalan Abad VII-XIII sesuai catatan diketemukan Situs Candi Muaro Jambi.
Sementara itu, Bante Sujid yang datang Jumat sore, terus mengamati dua makara itu. Menurut Bante Sujid, bentuk makara menyerupai ular besar dan kepala kambing. Dengan seksama, Bante Sujid menjelaskan alasan 'menangkap' makara menyerupai kepala kambing di mulut ular.
Di bawah ada tonjolan batu kecil menyerupai kepala kambing, kemudian ada kesan mulut menganga ular besar berikut gigi ular.
Seolah belum percaya dengan perkiraannya, Bante Sujid mengambil langkah mundur dan terus mengamati dengan seksama. Lalu dia manggut-manggut dan berkata," Kalau yang bawah itu kepala kambing, sedang yang atas memang ular besar bukan naga ya," katanya.
Ketika ditanya sejarah apa yang tergambar dari dua makara itu, Bante Sujid hanya geleng-geleng kepala. "Saya belum tahu," katanya. Namun dia memastikan usia makara itu lebih dari seribu tahun.
Sedang melihat stuktur tangga andesit, Bante Sujid memperkirakan di atas ada hamparan yang bisa saja untuk beribadah atau singgasana. "Nanti setelah ini ada turunan kembali," prediksi Bante Sujid.
Bante Sujid bercerita bahwa begitu mengetahui ada penemuan makara, langsung mengontak para bhiksu di Thailand. Kebetulan saat itu, Bante Sujid menjalani masa wasa ini di Vihara Maha Citiya Oenang Hermawan Jambi. Lalu bagaimana respons para bhiksu di Thailand?
"Mereka senang mendengar itu dan mengatakan bahwa itu Budha, Saya lihat langsung ke sini dan melihat ini. Mereka akan datang sekitar November atau Desember ke sini (Candi Kedaton) untuk melihat langsung ini semua," katanya.
http://jambi.tribunnews.com/2011/08/13/bante-bilang-usia-makara-lebih-seribu-tahun
Di bawah ada tonjolan batu kecil menyerupai kepala kambing, kemudian ada kesan mulut menganga ular besar berikut gigi ular.
Seolah belum percaya dengan perkiraannya, Bante Sujid mengambil langkah mundur dan terus mengamati dengan seksama. Lalu dia manggut-manggut dan berkata," Kalau yang bawah itu kepala kambing, sedang yang atas memang ular besar bukan naga ya," katanya.
Ketika ditanya sejarah apa yang tergambar dari dua makara itu, Bante Sujid hanya geleng-geleng kepala. "Saya belum tahu," katanya. Namun dia memastikan usia makara itu lebih dari seribu tahun.
Sedang melihat stuktur tangga andesit, Bante Sujid memperkirakan di atas ada hamparan yang bisa saja untuk beribadah atau singgasana. "Nanti setelah ini ada turunan kembali," prediksi Bante Sujid.
Bante Sujid bercerita bahwa begitu mengetahui ada penemuan makara, langsung mengontak para bhiksu di Thailand. Kebetulan saat itu, Bante Sujid menjalani masa wasa ini di Vihara Maha Citiya Oenang Hermawan Jambi. Lalu bagaimana respons para bhiksu di Thailand?
"Mereka senang mendengar itu dan mengatakan bahwa itu Budha, Saya lihat langsung ke sini dan melihat ini. Mereka akan datang sekitar November atau Desember ke sini (Candi Kedaton) untuk melihat langsung ini semua," katanya.
http://jambi.tribunnews.com/2011/08/13/bante-bilang-usia-makara-lebih-seribu-tahun
Ditemukan Tulisan Kuno di Bagian Makara
JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Setelah menemukan dua makara, struktur tangga batu andesit, kemarin para pekerja pemugaran Candi Kedaton di kompleks Candi Muaro Jambi menemukan tulisan atau prasasti di bagian makara.
Wijianto, arkeolog yang mendampingi pemugaran Candi Kedaton mengungkapkan bahwa setelah makara betul-betul berhasil dikupas dan dibersihkan, pada tubuh makara berdiri terdapat prasasti ditulis dalam bahasa kuno yang belum bisa dipastikan asal bahasanya.
"Pada makara pertama ada prasasti di dua sisi bagian atasnya. Sementara pada makara satunya lagi disebelah ujung kanan paling bawah," ungkap Wijianto.
Makara pertama yang memiliki dua prasasti masing-masing terdiri dari tiga aksara dan empat aksara. Sementara pada makara satunya lagi terdapat aksara dua baris menyerupai kalimat. "Sampai saat ini belum diketahui itu aksara apa dan maknanya apa?" ucap Wijianto.
Ketua BP3 Jambi, Toni Mambo mengungkapkan, untuk bisa membaca aksara tersebut serta mendapatkan maknanya, maka pihak BP3 akan mengirimkan gambar aksara ke BP3 Pusat. Karena untuk BP3 Jambi diakuinya belum memiliki tenaga ahli yang mampu membaca aksara kuno.
"Nanti akan kita kirimkan ke pusat untuk dapat mengetahui apa bunyi dari prasasti tersebut," ungkap Toni Mambo.
Setelah tiga hari pengupasan akhirnya baru didapatkan ukuran pasti makara yang diketemukan.
Makara sebelah selatan candi kedaton atau bagian kanan memiliki ukuran tinggi, 135 sentimeter, lebar, 65 sentimeter, panjang 135 sentimeter. Adapun jarak makara dengan Candi Induk Kedaton sepanjang 133,50 meter.
Pun dengan bhiksu asal Thailand yang akrab disapa Bante Sujid yang datang khusus melihat makara, tak dapat membaca aksara itu. "Bukan huruf Thai, bukan juga Jawa. Ini sangat kuno, tapi saya tidak tahu," ujarnya usai mengamati aksara tersebut.
http://jambi.tribunnews.com/2011/08/13/ditemukan-tulisan-kuno-di-bagian-makara
"Pada makara pertama ada prasasti di dua sisi bagian atasnya. Sementara pada makara satunya lagi disebelah ujung kanan paling bawah," ungkap Wijianto.
Makara pertama yang memiliki dua prasasti masing-masing terdiri dari tiga aksara dan empat aksara. Sementara pada makara satunya lagi terdapat aksara dua baris menyerupai kalimat. "Sampai saat ini belum diketahui itu aksara apa dan maknanya apa?" ucap Wijianto.
Ketua BP3 Jambi, Toni Mambo mengungkapkan, untuk bisa membaca aksara tersebut serta mendapatkan maknanya, maka pihak BP3 akan mengirimkan gambar aksara ke BP3 Pusat. Karena untuk BP3 Jambi diakuinya belum memiliki tenaga ahli yang mampu membaca aksara kuno.
"Nanti akan kita kirimkan ke pusat untuk dapat mengetahui apa bunyi dari prasasti tersebut," ungkap Toni Mambo.
Setelah tiga hari pengupasan akhirnya baru didapatkan ukuran pasti makara yang diketemukan.
Makara sebelah selatan candi kedaton atau bagian kanan memiliki ukuran tinggi, 135 sentimeter, lebar, 65 sentimeter, panjang 135 sentimeter. Adapun jarak makara dengan Candi Induk Kedaton sepanjang 133,50 meter.
Pun dengan bhiksu asal Thailand yang akrab disapa Bante Sujid yang datang khusus melihat makara, tak dapat membaca aksara itu. "Bukan huruf Thai, bukan juga Jawa. Ini sangat kuno, tapi saya tidak tahu," ujarnya usai mengamati aksara tersebut.
http://jambi.tribunnews.com/2011/08/13/ditemukan-tulisan-kuno-di-bagian-makara
Jumat, Juni 24, 2011
Boleh Dikatakan Kemungkinan Ada Harta Karun
"Seperti yang disampaikan para ahli sejarah dan budayawan bahwa percandian Muaro Jambi adalah pusat pendidikan agama Budha. Selama ini kegiatan di candi lebih terfokus di atas (permukaan tanah), dan kita pun ingin mengetahui ada apa di bawah candi. Boleh lah dikatakan kemungkinan ada harta karun, karena yang namanya studi juga harta karun kan, tidak hanya emas permata," katanya.
Ia menjelaskan, peneliti mulai bekerja Rabu (22/6)hingga 28 Juni mendatang. Sedangkan Setyorini, dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi mengatakan, pihaknya siap mendamping penelitian di bawah Candi Kedaton.
Sebetulnya yang mau diteliti ada dua candi, Kedaton dan Gumpung. Namun mengingat selama ini Gumpung sudah beberapa kali dilakukan penelitian, maka pilihan jatuh ke Candi Kedaton.
Setyorini belum bisa bercerita banyak tentang hal ini, karena pihak Kementerian ESDM baru memulai penelitian. "Ini sangat membantu kita, apalagi pekerjaan ini menggunakan alat canggih sekelas GPR, ya kita manfaatkan selama berada di Jambi. Kita sangat mendukung kegiatan ini, dan akan menyiapkan pirantinya di sekitar lokasi," ujarnya.
Dikatakan Bambang Sugiarto kerja alat GPR adalah menembakkan gelombang elektromagnetik ke dalam permukan bumi. Setelah gelombang ditembakkan, maka gelombang elektromagnetik akan mengalami refraksi dan refleksi.
Gelombang yang direfleksikan itu yang diterima oleh receiver-nya dan bisa mendapatkan data-data dan gambar yang diinginkan. Kelemahan alat ini sangat sensitif terhadap telepon genggam dan sejenis logam, dan bisa mengganggu kerja GPR.
http://jambi.tribunnews.com/2011/06/22/boleh-dikatakan-kemungkinan-ada-harta-karun
Wow..Ada Harta Karun di Candi Muaro Jambi
Tak terbantahkan jika Candi Muaro Jambi memiliki pesona indah. Ternyata bukan hanya pesona indah, karena di bawah tanah bangunan candi tersebut menurut hasil penelitian sejumlah ahli, tersimpan 'harta karun' luar biasa, yakni berupa benda bersejarah peninggalan masa Budha.
Rabu (22/6) pagi ini, ahli geologi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan menyelidiki 'harta karun' itu. Pakar geologi Indyo Pratomo dan Bambang Sugiarto telah menyiapkan alat canggih, radar pendeteksi bawah tanah atau Ground Penetrating Radar (GPR).
"Alat ini bekerja sangat canggih. Mirip setrika raksasa berat sekitar 100 kilogram. Kerjanya, dengan cara memasukkan antena di kedalaman 15-20 meter di bawah tanah. Nantinya akan diketahui seperti apa struktur batu-batuannya, untuk melihat apakah ada benda-benda yang terstruktur dengan bangunan atasnya," ujar Indyo Pratomo kepada Tribun Jambi, Selasa (21/6).
Menurut Indyo yang sudah berpengalaman 'memotret' benda-benda di dalam perut bumi ini tugas mereka hanya mendeteksi atau mencari tahu benda-benda atau strukturnya, khususnya di bawah Candi Kedaton. "Untuk urusan apakah ada bangunan atau benda-benda prasejarah dan sebagainya, itu tugasnya Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3)," ucapnya.
Cara kerja GPR itu, tambah Bambang Sugiarto, persis seperti Ultrasonography (USG) yang mengeluarkan gelombang elektromagnetik frekwensi tinggi. Kemudian gelombang elektro tersebut direspons dan menghasilkan gambar-gambar.
"Yang jelas dengan alat canggih ini, bisa diketahui seperti apa kemungkinan benda-benda di bawah candi. Interprestasi sifat-sifat fisik bebatuan yang ada di dalamnya. Hasilnya nanti bisa dilanjutkan oleh BP3 Jambi. Dengan alat ini kerja kita jadi lebih efesien," tutur Bambang.
http://jambi.tribunnews.com/2011/06/22/ada-harta-karun-di-bawah-candi-muaro-jambi
Ia menjelaskan, peneliti mulai bekerja Rabu (22/6)hingga 28 Juni mendatang. Sedangkan Setyorini, dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi mengatakan, pihaknya siap mendamping penelitian di bawah Candi Kedaton.
Sebetulnya yang mau diteliti ada dua candi, Kedaton dan Gumpung. Namun mengingat selama ini Gumpung sudah beberapa kali dilakukan penelitian, maka pilihan jatuh ke Candi Kedaton.
Setyorini belum bisa bercerita banyak tentang hal ini, karena pihak Kementerian ESDM baru memulai penelitian. "Ini sangat membantu kita, apalagi pekerjaan ini menggunakan alat canggih sekelas GPR, ya kita manfaatkan selama berada di Jambi. Kita sangat mendukung kegiatan ini, dan akan menyiapkan pirantinya di sekitar lokasi," ujarnya.
Dikatakan Bambang Sugiarto kerja alat GPR adalah menembakkan gelombang elektromagnetik ke dalam permukan bumi. Setelah gelombang ditembakkan, maka gelombang elektromagnetik akan mengalami refraksi dan refleksi.
Gelombang yang direfleksikan itu yang diterima oleh receiver-nya dan bisa mendapatkan data-data dan gambar yang diinginkan. Kelemahan alat ini sangat sensitif terhadap telepon genggam dan sejenis logam, dan bisa mengganggu kerja GPR.
http://jambi.tribunnews.com/2011/06/22/boleh-dikatakan-kemungkinan-ada-harta-karun
Wow..Ada Harta Karun di Candi Muaro Jambi
Rabu (22/6) pagi ini, ahli geologi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan menyelidiki 'harta karun' itu. Pakar geologi Indyo Pratomo dan Bambang Sugiarto telah menyiapkan alat canggih, radar pendeteksi bawah tanah atau Ground Penetrating Radar (GPR).
"Alat ini bekerja sangat canggih. Mirip setrika raksasa berat sekitar 100 kilogram. Kerjanya, dengan cara memasukkan antena di kedalaman 15-20 meter di bawah tanah. Nantinya akan diketahui seperti apa struktur batu-batuannya, untuk melihat apakah ada benda-benda yang terstruktur dengan bangunan atasnya," ujar Indyo Pratomo kepada Tribun Jambi, Selasa (21/6).
Menurut Indyo yang sudah berpengalaman 'memotret' benda-benda di dalam perut bumi ini tugas mereka hanya mendeteksi atau mencari tahu benda-benda atau strukturnya, khususnya di bawah Candi Kedaton. "Untuk urusan apakah ada bangunan atau benda-benda prasejarah dan sebagainya, itu tugasnya Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3)," ucapnya.
Cara kerja GPR itu, tambah Bambang Sugiarto, persis seperti Ultrasonography (USG) yang mengeluarkan gelombang elektromagnetik frekwensi tinggi. Kemudian gelombang elektro tersebut direspons dan menghasilkan gambar-gambar.
"Yang jelas dengan alat canggih ini, bisa diketahui seperti apa kemungkinan benda-benda di bawah candi. Interprestasi sifat-sifat fisik bebatuan yang ada di dalamnya. Hasilnya nanti bisa dilanjutkan oleh BP3 Jambi. Dengan alat ini kerja kita jadi lebih efesien," tutur Bambang.
http://jambi.tribunnews.com/2011/06/22/ada-harta-karun-di-bawah-candi-muaro-jambi
Sabtu, Juni 18, 2011
Terus Gali Potensi Candi Muaro Jambi
JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Terus mencari dan menggali potensi pariwisata Jambi, itulah kegiatan utama Dinas Pariwisata Provinsi Jambi selama satu minggu ke depan. Menurut Kabid Sejarah dan Purbakala, Ujang Hariadi, jajarannya akan bekerja sama dengan beberapa peneliti untuk melakukan penelitian lebih mendalam di situs percandian Muaro Jambi. Lanjut Ujang, para peneliti itu rencanaya akan datang ke Jambi pada Senin (20/6). "Saya sudah dapat sms kepastian tanggal, smoga tidak ada perubahan," ujar Ujang.
Ujang pun menceritakan maksud dan tujuan para peneliti itu. Secara singkat, ujang mengatakan para peneliti itu datang untuk memeriksa kondisi tanah di bawah situs percandian Muaro Jambi.
Katanya lagi, mereka akan mencari dan memastikan ada tidaknya reruntuhan lain di bawah situs percandian Muaro Jambi. "Nanti pakai alat Georadar, jangkauannya bisa sampai 10 meter ke bawah tanah," ujar Ujang semangat.
Menurut Ujang, penelitian kali ini melibatkan banyak peneliti dan lintas organisasi. Katanya, mereka berasal dari Balai Arkeologi Palembang, Badan Geologi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Disbudpar dan BP3 Jambi.
Selain itu, menurut Ujang akan hadir pula penulis buku Budha di Nusantara, Bambang Budi Utomo. Mereka akan melakukan penelitian selama sekitar 20 ha. (aye)
http://jambi.tribunnews.com/2011/06/18/ayo-terus-gali-potensi-candi-muaro-jambi
Ujang pun menceritakan maksud dan tujuan para peneliti itu. Secara singkat, ujang mengatakan para peneliti itu datang untuk memeriksa kondisi tanah di bawah situs percandian Muaro Jambi.
Katanya lagi, mereka akan mencari dan memastikan ada tidaknya reruntuhan lain di bawah situs percandian Muaro Jambi. "Nanti pakai alat Georadar, jangkauannya bisa sampai 10 meter ke bawah tanah," ujar Ujang semangat.
Menurut Ujang, penelitian kali ini melibatkan banyak peneliti dan lintas organisasi. Katanya, mereka berasal dari Balai Arkeologi Palembang, Badan Geologi, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Disbudpar dan BP3 Jambi.
Selain itu, menurut Ujang akan hadir pula penulis buku Budha di Nusantara, Bambang Budi Utomo. Mereka akan melakukan penelitian selama sekitar 20 ha. (aye)
http://jambi.tribunnews.com/2011/06/18/ayo-terus-gali-potensi-candi-muaro-jambi
Minggu, Juni 05, 2011
Kursi Roda Untuk Puskesmas Dari The SOMT
JAMBI - Malam Minggu (04/06/2011) Masyarakat Peduli Candi Muaro Jambi atau The Society Of The Muaro Jambi Temple (The SOMT) menyerahkan kursi roda sebanyak 46 buah kepada Puskesmas Kota Jambi melalui Walikota Jambi, Bambang Priyanto di taman wisata, Tanggo Rajo di pinggir Sungai Batanghari Jambi. Setelah usai sambutan, dilakukan penyerahan kursi roda secara simbolis oleh pendiri The Society Of Muaro Jambi Temple (The SOMT) bekerjasama dengan perusahaan NEFO Kopi Bubuk AAA kepada Wali kota Jambi, selanjutnya Walikota menyerahkan kepada Puskesmas Sekoja.
Masing-masing Puskesmas mendapatkan bantuan kursi roda sebanyak dua buah, selain itu The SOMT juga adakan pesta kembang api menyambut puncak HUT Kota Jambi yang ke-65. (rom)
Masing-masing Puskesmas mendapatkan bantuan kursi roda sebanyak dua buah, selain itu The SOMT juga adakan pesta kembang api menyambut puncak HUT Kota Jambi yang ke-65. (rom)
Kamis, Maret 10, 2011
”The SOMT” Perjuangkan Candi Muaro Jambi Dikenal Dunia
JAMBI - Masyarakat Peduli Candi Muaro Jambi atau The Society of Muaro Jambi Temple - The Somt) akan terus memperjuangkan agar situs candi Muaro Jambi dapat dikenal dan diakui dunia sekaligus bisa menjadi salah satu warisan budaya dunia. "Sampai sekarang The SOMT terus memperjuangkan candi Muaro Jambi agar bisa dikenal di manca negara melalui berbagai kegiatan dan publikasi serta mengupayakan sampai ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco),' kata salah satu pengurus The SOMT, di Jambi, Rabu.
Masyarakat peduli candi Muaro Jambi sudah melakukan kegiatan pengenalan situs candi tersebut sejak satu tahun lalu melalui program yang sudah disusun dan terencana.
Kemudian juga The SOMT telah menjalani kerjasama dengan pemerintah daerah dan provinsi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat untuk bersama-sama memperjuangkan candi Muaro Jambi tersebut bisa lebih dikenal dunia dan diakui sebagai salah satu warisan dunia.
Berbagai kegiatan yang telah dilakukan, diantaranya salah satu kegiatan menjalin kerjasama dengan pemerintah India, khususnya wilayah Nelanda (India) yang memiliki hampir kesamaan ada prastasi disana tentang ajaran agama Buddha yang juga terdapat dikesamaan pada peninggal situs candi Muaro Jambi tersebut.
Jalinan kerjasama tersebut sudah mulai berjalan dimana kedua belah pihak sudah melalukan saling kunjungan ke negara masing-masing dimana pihak perwakilan pemerintah India sudah berkunjung ke candi Muaro Jambi dan pihak perwakilan The SOMT Bambang Budi Utom ahli Arkeologi ke Nelanda, India beberapa waktu lalu.
Untuk memperkenalkan situs candi Muaro Jambi tersebut, sekilas tentang situs tersebut yakni terletak di Desa Muaro Jambi Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi.
Dikawasan ini terdapat Candi Astano, Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Kembar Batu, Candi Gedong, Candi Kedato dan Candi Koto Mahligai dan dilihat dari segi arsiteknya, bangunan tersebut merupakan kebudayaan Budhis pada abad ke IV dan V masehi.
Dikompleks candi Muaro Jambi itu juga terdapat Candi Kembar Batu, letaknya sekitar 250 meter di tenggara Candi Tinggi yang dibatasi fisik oleh pagar keliling yang berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran yang tidak sama setiap sisinya dan disana juga pernah ditemukan Gong Cina oleh para arkeolog.
Sampai awal abad ke-21M ini, disitus candi Muaro Jambi telah teridentifikasi kurang lebih 110 bangunan candi yang terdiri dari kurang 39 kelompok candi.
Bangunan candi tersebut adalah peninggalan kerajaan Melayu hingga kerajaan Sriwijaya, yang berlatar belakang kebudayaan Melayu Buddhis dan diperkirakan candi-candi dilokasi situs sejarah candi Muaro Jambi mulai dibangun sejak abad 4M, salah satu diantara kelompok candi tersebut adalah Candi Gumpung. (taem)
http://ayojambi.com/
http://banyurawa.com/
http://www.makinjambi.com/
http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://media-nusantara.blogspot.com/
http://multmedia.multiply.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://komunitas-jambi.blogspot.com/
http://multi-video.blogspot.com/
http://youtube.com/my_videos
http://videoku.tv/Multimedia/
Masyarakat peduli candi Muaro Jambi sudah melakukan kegiatan pengenalan situs candi tersebut sejak satu tahun lalu melalui program yang sudah disusun dan terencana.
Kemudian juga The SOMT telah menjalani kerjasama dengan pemerintah daerah dan provinsi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat untuk bersama-sama memperjuangkan candi Muaro Jambi tersebut bisa lebih dikenal dunia dan diakui sebagai salah satu warisan dunia.Berbagai kegiatan yang telah dilakukan, diantaranya salah satu kegiatan menjalin kerjasama dengan pemerintah India, khususnya wilayah Nelanda (India) yang memiliki hampir kesamaan ada prastasi disana tentang ajaran agama Buddha yang juga terdapat dikesamaan pada peninggal situs candi Muaro Jambi tersebut.
Jalinan kerjasama tersebut sudah mulai berjalan dimana kedua belah pihak sudah melalukan saling kunjungan ke negara masing-masing dimana pihak perwakilan pemerintah India sudah berkunjung ke candi Muaro Jambi dan pihak perwakilan The SOMT Bambang Budi Utom ahli Arkeologi ke Nelanda, India beberapa waktu lalu.
Untuk memperkenalkan situs candi Muaro Jambi tersebut, sekilas tentang situs tersebut yakni terletak di Desa Muaro Jambi Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi.Dikawasan ini terdapat Candi Astano, Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Kembar Batu, Candi Gedong, Candi Kedato dan Candi Koto Mahligai dan dilihat dari segi arsiteknya, bangunan tersebut merupakan kebudayaan Budhis pada abad ke IV dan V masehi.
Dikompleks candi Muaro Jambi itu juga terdapat Candi Kembar Batu, letaknya sekitar 250 meter di tenggara Candi Tinggi yang dibatasi fisik oleh pagar keliling yang berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran yang tidak sama setiap sisinya dan disana juga pernah ditemukan Gong Cina oleh para arkeolog.
Sampai awal abad ke-21M ini, disitus candi Muaro Jambi telah teridentifikasi kurang lebih 110 bangunan candi yang terdiri dari kurang 39 kelompok candi.
Bangunan candi tersebut adalah peninggalan kerajaan Melayu hingga kerajaan Sriwijaya, yang berlatar belakang kebudayaan Melayu Buddhis dan diperkirakan candi-candi dilokasi situs sejarah candi Muaro Jambi mulai dibangun sejak abad 4M, salah satu diantara kelompok candi tersebut adalah Candi Gumpung. (taem)
http://ayojambi.com/
http://banyurawa.com/
http://www.makinjambi.com/
http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://media-nusantara.blogspot.com/
http://multmedia.multiply.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://komunitas-jambi.blogspot.com/
http://multi-video.blogspot.com/
http://youtube.com/my_videos
http://videoku.tv/Multimedia/
Minggu, Maret 06, 2011
Candi Muaro Jambi Diupayakan Jadi Warisan Dunia
JAMBI - Warga masyarakat Pecinta Candi Muaro Jambi kini tengah berupaya memperkenalkan kompleks percandian peninggalan Hindu-Budha, terluas di Indonesia, merupakan peninggalan, merupakan penggalan Kerajaan Sriwijaya dan Melayu, dibangun pada abad 11masehi. Tujuannya, agar candi ini terbcatat sebagai warisan dunia. "Kita kini berupaya untuk memperkenalkan candi tertua dan terluas di dunia ini, sehingga akhirnya dapat tercatat sebagai warisan dunia", kata Marzuki Usman, Ketua The Society of Muaro Jambi Temple (The SOMT), kepada Tempo, Minggu (6/3).
Menurut Marzuki Usman, mantan Menteri Pariwisata RI di era Presiden Abdurachman Wahid ini, lebih lanjut mengemukakan, bila candi ini dikenal di dunia tidak hanya akan menguntungkan masyarakat Jambi, tapi juga bangsa Indonesia.
"Jambi sudah dipastikan akan memperoleh dampak positif bila banyak para turis yang mengunjungi kompleks percandian ini, tapi lebih dari itu Indonesia akan lebih dikenal lagi akan peninggalan peradaban sejarah perkembangan manusia di dunia yang menarik, unik dan nilai kultural", ujarnya.
The SOMT sendiri sangat bersukur dengan adanya perhatian pemerintah, terutama pemerintah Provinsi Jambi dalam upayanya memperhatikan dan ikut mengembangkan sektor kepariwisataan, khususnya Candi Muaro Jambi yang jaraknya hanya sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Jambi.
Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1823 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer.
Baru tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono. Berdasarkan aksara Jawa Kuno (rujukan) pada beberapa lempeng yang ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan peninggalan itu berkisar dari abad ke-9-12 Masehi.
Di situs ini baru sembilan bangunan yang telah dipugar, semuanya bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.
Dari sekian banyaknya penemuan yang ada, Junus Satrio Atmodjo menyimpulkan daerah itu dulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia, Republik Rakyat Cina, dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan diketemukannya lempeng-lempeng bertuliskan "wajra" pada beberapa candi yang membentuk mandala.
Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Provinsi Jambi Didy Wujanto, mengemukakan,pihaknya tengah berusaha memperkenalkan kawasan percandian ini kepada masyarakat dunia, terutama pihak UNESCO, agar nantinya bisa tercatat sebagai warisan dunia.
"Kita juga sejak beberapa tahun belakngan ini hingga kini terus mengucurkan dana untuk melakukan penataan dan membangun fasilitas umum, seperti jalan menuju kawasan candi, pemberdayaan masyarakat sekitar candi dan biaya promosi.
Upaya lain mewujudkan Sister Site antara Situs Candi Muaro Jambi dengan Situs di Nalanda India, beberapa waktu lalu staf peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo melakukan kunjungannya ke Nalanda 5-15 Februari lalu, kini giliran perwakilan Nalanda yang datang ke Indonesia dan langsung mengunjungi kompleks percandian Muaro Jambi.
Jumat (4/3), DR Benoy K Behl, merupakan perwakilan dari India mengunjungi dan melihat langsung candi tersebut, tujuannya tidak hanya upaya membina hubungan baik antara kedua situs (Candi Nelanda-India dan Candi Muaro Jambi-Indonesia), juga dekaligus melakukan survey pembuatan film dokumenter, menurut rencana dikerjakan Juli mendatang.
DR Benoy K Behl, menyatakan, ketertarikannya atas candi ini, dan dia sangat antusias untuk bisa secepatnya membuat film dokumenter tentang Candi Muaro Jambi, sehingga akhirnya nanti dapat dikenal di seluruh dunia.
"Candi ini benar-benar sangat menarik dan pantas bila tercatat sebagai warisan dunia", katanya. (SYAIPUL BAKHORI)
Menurut Marzuki Usman, mantan Menteri Pariwisata RI di era Presiden Abdurachman Wahid ini, lebih lanjut mengemukakan, bila candi ini dikenal di dunia tidak hanya akan menguntungkan masyarakat Jambi, tapi juga bangsa Indonesia.
"Jambi sudah dipastikan akan memperoleh dampak positif bila banyak para turis yang mengunjungi kompleks percandian ini, tapi lebih dari itu Indonesia akan lebih dikenal lagi akan peninggalan peradaban sejarah perkembangan manusia di dunia yang menarik, unik dan nilai kultural", ujarnya.
The SOMT sendiri sangat bersukur dengan adanya perhatian pemerintah, terutama pemerintah Provinsi Jambi dalam upayanya memperhatikan dan ikut mengembangkan sektor kepariwisataan, khususnya Candi Muaro Jambi yang jaraknya hanya sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Jambi.
Kompleks percandian Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1823 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran sungai untuk kepentingan militer.
Baru tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran yang serius yang dipimpin R. Soekmono. Berdasarkan aksara Jawa Kuno (rujukan) pada beberapa lempeng yang ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan peninggalan itu berkisar dari abad ke-9-12 Masehi.
Di situs ini baru sembilan bangunan yang telah dipugar, semuanya bercorak Buddhisme. Kesembilan candi tersebut adalah Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano.
Dari sekian banyaknya penemuan yang ada, Junus Satrio Atmodjo menyimpulkan daerah itu dulu banyak dihuni dan menjadi tempat bertemu berbagai budaya. Ada manik-manik yang berasal dari Persia, Republik Rakyat Cina, dan India. Agama Buddha Mahayana Tantrayana diduga menjadi agama mayoritas dengan diketemukannya lempeng-lempeng bertuliskan "wajra" pada beberapa candi yang membentuk mandala.
Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata Provinsi Jambi Didy Wujanto, mengemukakan,pihaknya tengah berusaha memperkenalkan kawasan percandian ini kepada masyarakat dunia, terutama pihak UNESCO, agar nantinya bisa tercatat sebagai warisan dunia.
"Kita juga sejak beberapa tahun belakngan ini hingga kini terus mengucurkan dana untuk melakukan penataan dan membangun fasilitas umum, seperti jalan menuju kawasan candi, pemberdayaan masyarakat sekitar candi dan biaya promosi.
Upaya lain mewujudkan Sister Site antara Situs Candi Muaro Jambi dengan Situs di Nalanda India, beberapa waktu lalu staf peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo melakukan kunjungannya ke Nalanda 5-15 Februari lalu, kini giliran perwakilan Nalanda yang datang ke Indonesia dan langsung mengunjungi kompleks percandian Muaro Jambi.
Jumat (4/3), DR Benoy K Behl, merupakan perwakilan dari India mengunjungi dan melihat langsung candi tersebut, tujuannya tidak hanya upaya membina hubungan baik antara kedua situs (Candi Nelanda-India dan Candi Muaro Jambi-Indonesia), juga dekaligus melakukan survey pembuatan film dokumenter, menurut rencana dikerjakan Juli mendatang.
DR Benoy K Behl, menyatakan, ketertarikannya atas candi ini, dan dia sangat antusias untuk bisa secepatnya membuat film dokumenter tentang Candi Muaro Jambi, sehingga akhirnya nanti dapat dikenal di seluruh dunia.
"Candi ini benar-benar sangat menarik dan pantas bila tercatat sebagai warisan dunia", katanya. (SYAIPUL BAKHORI)
http://tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2011/03/06/brk,20110306-317911,id.html
Kunjungan DR. Benoy K. Behl (dari Nalanda/ India)
JAMBI - Usaha Masyarakat Peduli Candi Muaro Jambi atau The Society Of Muaro Jambi Temple (The SOMT) untuk mendukung pemerintah dalam mewujudkan situs Candi Muaro Jambi sebagai situs warisan dunia (World Heritage) tampaknya kian terbuka peluangnya. Hal ini tampak dari kunjungan Staf Ahli Kementerian Pariwisata India, DR. Benoy K. Behl, yang datang berkunjung ke Kawasan Candi Muaro Jambi pada hari Jumat, tanggal 04 Maret 2011 lalu. Kunjungan ini merupakan kunjungan balasan dari delegasi Team Ekspedisi Jambi - Nalanda (India) pada taanggal 5 - 15 Februari lalu.
DR. Benoy yang tiba di lokasi kompleks Percandian Muaro Jambi sekitar pukul 16.30 sore, disambut langsung oleh Marzuki Usman dan Hidayat (pengurus The SOMT), serta Didy Wurjanto (Kadis Pariwisata Provinsi Jambi), serta Toni dan Agus W. (Dinas BP3) serta diiringi kibaran bendera The SOMT dari sekitar 200-an orang masyarakat peduli Candi Muaro Jambi (The SOMT).
Dalam kunjungan yang berlangsung sekitar 2 jam di kompleks Candi Muaro Jambi tersebut, DR. Benoy yang merupakan salah satu inisiator yang mendorong Komplek Bodh Gaya di India diakui oleh dunia melalui UNESCO menjadi World Heritage, mengatakan bahwa kunjungan singkat ini merupakan kunjungan awal sebagai pembuka jalan untuk membangun suatu bentuk kerjasama dalam mewujudkan Twin Sites (Situs Kembar) antara Candi Muaro Jambi dan Kompleks Nalanda di India. DR. Benoy juga berjanji akan membantu Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan Situs Candi Muaro Jambi menjadi World Heritage, dengan membagi pengalamannya dalam menyusun hingga menjadikan Kompleks Bodh Gaya di India menjadi Situs Warisan Dunia.Jamuan Makan Malam
Acara kunjungan ini dilanjutkan dengan jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh The SOMT bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Provinsi Jambi di Hotel Wiltop pada malam harinya. Acara yang dibuka dengan tarian daerah Jambi, dilanjutkan sambutan dan presentasi pengenalan Situs Candi Muaro Jambi oleh Didi Wurijanto selaku Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jambi.
Kemudian Acara dilanjutkan dengan sambutan dan ucapan selamat datang di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah dari Fachrori Umar selaku Wakil Gubernur Provinsi Jambi yang mewakili masyarakat & pemerintah Provinsi Jambi.Selanjutnya Marzuki Usman selaku Ketua The SOMT, juga memberikan sambutan dan memaparkan berbagai program kerja yang telah dan akan dijalankan oleh The SOMT, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari DR. Benoy. Dalam Sambutannya, Dr. Benoy juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besar kepada Bapak Hidayat sebagai salah satu pengurus The SOMT, yang telah mengundang serta membiayai seluruh biaya perjalanan Dr. Benoy dari India ke Jambi (PP) secara pribadi.
Acara jamuan makan malam dilanjutkan dengan saling tukar cindera mata antara DR. Benoy dengan Fachrori Umar (Wakil Gubernur Provinsi Jambi) dan antara DR. Benoy dengan Marzuki Usman. dan dilanjutkan dengan sumbangan lagu daerah Jambi yang dibawakan khusus oleh wagub, Fachrori Umar yang dipersembahakan khusus untuk para tamu undangan. Jamuan makan malam ini selanjutnya ditutup dengan musik dan tarian khas Jambi. (taem The SOMT)
Sabtu, Maret 05, 2011
DR Benoy Berkunjung ke Candi Muaro Jambi
JAMBI – Untuk mewujudkan Sister Site antara Situs Candi Muaro Jambi dengan Situs di Nalanda India tampaknya semakin terbuka selangkah demi selangkah. Setelah staff peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo melakukan kunjungannya ke Nalanda 5-15 Februari lalu, kini giliran perwakilan Nalanda yang datang ke Indonesia. Sesuai rencana, dalam awal bulan Maret ini perwakilan dari Nalanda terbang ke Indonesia untuk silaturahmi sekaligus 'membuka jalan' kedua candi tersebut. Akhirnya Dr Benoy K Behl, sebagai perwakilan dari Nalanda beserta rombongan tiba di bandara Sultan Thaha Jambi Jumat (4/3) pukul 16.20.
Ia disambut langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jambi Didy Murjanto, Staff BP3 Jambi Agus, serta pengurus The Society of Muaro Jambi Temple (The SOMT).
Pengurus The SOMT Jambi, mengatakan, kunjungan ini merupakan bentuk tindak lanjut untuk membina hubungan baik antara kedua situs. Kegiatan ini ditanggung The SOMT secara keseluruhan sebagai bentuk kontribusi terhadap candi Muaro Jambi. "Selain untuk silaturahmi, kunjungan ini juga untuk survey pembuatan film dokumenter Juli mendatang," jelasnya setelah rombongan mendarat.
Setelah sekitar sepuluh menit berbincang-bincang singkat, rombongan langsung menuju candi Muaro Jambi untuk melakukan survey pembuatan video dokumenter. Begitu tiba dilokasi, 200 anak Vihara Sakyakirti tampak semangat menyambut rombongan. "Mereka anak-anak beserta pengurus vihara sudah siap sejak pukul 14.00 WIB," tambahnya.
Berdasarkan keterangan pengurus The SOMT, Benoy sangat terkesan dan langsung menelusuri setiap bangunan candi yang ada di tempat tersebut. Berdasarkan pengamatan Benoy, Candi Tinggi yang berada tak jauh dari candi Induk memiliki bentuk yang sama persis dengan salah satu candi di Nalanda.
"Dia (Benoy) berhenti di candi Tinggi dan mengamati candi tersebut. Setelah beberapa saat ia menyatakan bahwa candi tersebut sama dengan yang ada di Nalanda," ujarnya.
Setelah kurang lebih satu jam, rombongan yang saat di komplek candi didampingi Ketua The SOMT, Marzuki Usman meninggalkan komplek candi untuk istirahat. Pukul 20.00 rombongan menuju Hotel Wiltop Jambi untuk melakukan jamuan makan malam sekaligus ramah tamah. Dalam jamuan makan malam itu turut hadir Wakil Gubernur Jambi, Fachrori Umar.*(team)
http://ayojambi.com/
http://banyurawa.com/
http://www.makinjambi.com/
http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://media-nusantara.blogspot.com/
http://multmedia.multiply.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://komunitas-jambi.blogspot.com/
http://multi-video.blogspot.com/
http://youtube.com/my_videos
http://videoku.tv/Multimedia/
Ia disambut langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Jambi Didy Murjanto, Staff BP3 Jambi Agus, serta pengurus The Society of Muaro Jambi Temple (The SOMT).
Pengurus The SOMT Jambi, mengatakan, kunjungan ini merupakan bentuk tindak lanjut untuk membina hubungan baik antara kedua situs. Kegiatan ini ditanggung The SOMT secara keseluruhan sebagai bentuk kontribusi terhadap candi Muaro Jambi. "Selain untuk silaturahmi, kunjungan ini juga untuk survey pembuatan film dokumenter Juli mendatang," jelasnya setelah rombongan mendarat.Setelah sekitar sepuluh menit berbincang-bincang singkat, rombongan langsung menuju candi Muaro Jambi untuk melakukan survey pembuatan video dokumenter. Begitu tiba dilokasi, 200 anak Vihara Sakyakirti tampak semangat menyambut rombongan. "Mereka anak-anak beserta pengurus vihara sudah siap sejak pukul 14.00 WIB," tambahnya.
Berdasarkan keterangan pengurus The SOMT, Benoy sangat terkesan dan langsung menelusuri setiap bangunan candi yang ada di tempat tersebut. Berdasarkan pengamatan Benoy, Candi Tinggi yang berada tak jauh dari candi Induk memiliki bentuk yang sama persis dengan salah satu candi di Nalanda."Dia (Benoy) berhenti di candi Tinggi dan mengamati candi tersebut. Setelah beberapa saat ia menyatakan bahwa candi tersebut sama dengan yang ada di Nalanda," ujarnya.
Setelah kurang lebih satu jam, rombongan yang saat di komplek candi didampingi Ketua The SOMT, Marzuki Usman meninggalkan komplek candi untuk istirahat. Pukul 20.00 rombongan menuju Hotel Wiltop Jambi untuk melakukan jamuan makan malam sekaligus ramah tamah. Dalam jamuan makan malam itu turut hadir Wakil Gubernur Jambi, Fachrori Umar.*(team)
http://ayojambi.com/
http://banyurawa.com/
http://www.makinjambi.com/
http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://media-nusantara.blogspot.com/
http://multmedia.multiply.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://komunitas-jambi.blogspot.com/
http://multi-video.blogspot.com/
http://youtube.com/my_videos
http://videoku.tv/Multimedia/
Langganan:
Postingan (Atom)