JAMBI - Keluarga besar Zikif Effendy Lie (Bakko) ziarah ke makam orangtuanya Lie Tiong Lam (李中南) yang dikebumikan di Taman Pemakaman Tionghoa Pondok Meja Jambi (占碑华人義山) Km 12, Desa Pondok Meja, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muara Jambi.
Mereka datang bersama keluarga untuk sembahyang Ceng Beng atau penghormatan kepada orangtuanya serta leluhurnya. Ceng Beng “Qing Ming” yang tahun ini jatuh pada tanggal 5 April 2018 (Ji Gwee Ji Cap lunar kalender). Mereka datang dengan membawa berbagai perlengkapan sembahyang maupun aneka sesajian kesukaan orangtua/ leluhur
Di Indonesia lebih dikenal sebagai Ceng Beng (bahasa Hokkien) merupakan agenda tahunan masyarakat Tionghoa untuk bersembahyang atau berziarah ke kuburan orangtua maupun leluhur sesuai dengan agama masing.
Sejak pagi hari mereka mengunakan beberapa kendaraan roda empat mengangkut berbagai perlengkapan sembahyang dan sesajian seperti makanan kesukaan Lie Tiong Lam (李中南) serta berbagai asesoris diantaranya pakaian jadi dari kertas, sepatu, emas batangan yang dikemas dalam bentuk karton tebal untuk kebutuhan arwah almarhum, layaknya seperti kebutuhan orang-orang hidup diatas dunia.
Ujar, Zikif Effendy Lie (李鴻章) “Kita kirimkan berbagai kebutuhan orangtua (leluhur) kita yang berada dialam baka, disana mereka juga memerlukan apa yang kita pakai sehari-hari di alam dunia”.
Sebagai anak, memiliki kewajiban untuk memberi hormat kepada orangtua/ leluhur yang telah wafat dengan cara menyembahyangi, imbuhnya.
Ceng Beng bagi masyarakat Tionghoa, adalah penghormatan kepada orangtua, baik kepada yang masih hidup maupun kepada yang sudah meninggal dunia, ini merupakan sebuah kebudayaan sejak jaman dahulu kala. Relasi antar manusia dalam tradisi Tionghoa tidak akan hilang begitu saja, meskipun kematian telah memisahkan orang dari kehidupan di dunia ini. Karena itu tidak heran kalau dalam setiap keluarga penghormatan kepada leluhur menjadi bagian penting dalam kehidupan bersama.
Orang yang tidak lagi menghormati leluhur yang telah meninggal dianggap sebagai seorang anak durhaka, sebab mereka melupakan asal usul dan jasa dari para pendahulunya, bahkan melupakan akar kehidupannya sendiri. (Romy)
JAMBI, ayojambi,com - Keluarga besar Lie Tiong Lam/ Ramli (李中南) hari Jumat (20/11) mengadakan acara mengenang almarhum Lie Tiong Lam berpulang kepangkuan Sang Khalik. Meski beliau telah tiada, namun cita-cita almarhum tidak pupus seketika. Cita-cita luhur diteruskan kepada sang anak sulung, yaitu Zikif Effendy Lie (李鴻章) yang kini menjabat Ketua Kelenteng Hok Kheng Tong Jambi 福慶堂主席 [Lihat Foto: Memperingati Kepergian Tokoh Masyarakat Jambi Lie Tiong Lam]
Almarhum Lie Tiong Lam (李中南) dikenal sebagai sesepuh masyarakat Tionghoa di Jambi dan juga sebagai Ketua Pembina Perkumpulan Aneka Kesejahteraan (ANKE) Jambi.
Lie Tiong Lam yang dihormati siapapun serta dikenal oleh berbagai golongan dari kelas bawah hingga pejabat negara, beliau wafat di Gleneagles Hospital Singapore dalam usia 91 tahun dan di kebumikan di Pemakaman Bumi Langgeng, KM 12 Pondok Meja, Muaro Jambi.
Lie Tiong Lam (Ramli) meniggalkan seorang istri, dan 6 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan. Boleh dibilang almarhum adalah orang yang paling bahagia, lantaran anak-anak sudah pada dewasa dan bisa mandiri serta memiliki 6 cucu dalam dan 4 cucu luar.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, keluarga almarhum membakar Replika rumah-rumahan (灵厝) yang terbuat dari bahan bambu, karton, kertas warna warni, pernak pernik lukisan serta segala perlengkapan isi rumah tangga, dan dayang-dayang. “Membakar rumah-rumahan berikut segala isi ini untuk dikirim kepada almarhum Lie Tiong Lam.” Pengiriman replika rumah-rumahan (灵厝) merupakan salah satu tradisi warga Tionghoa sejak ribuan tahun silam hingga kini masih dipertahankan sebagian masyarakat Tionghoa.
Selain itu, mereka juga mengirim perlengkapan lainya, seperti, sabun mandi/ sabun cuci, handuk, pakaian, sepatu, minyak sayur, garam, beras sebagai syarat untuk orangtua mereka pergunakan di alam baka, tidak ketinggalan beberapa dayang/ pembantu rumah tangga untuk membantu orangtua mereka di alam baka.
Serta ada dua jenis kertas yang digunakan dalam tradisi ini, yaitu kertas yang bagian tengahnya berwarna keemasan (Kim Cua) dan kertas yang bagian tengahnya berwarna keperakan (Gin Cua). Menurut kebiasaan-nya Kim Cua (Kertas Emas) digunakan untuk upacara sembahyang kepada dewa-dewa, sedangkan Gin Cua (Kertas Perak) untuk upacara sembahyang kepada para leluhur dan arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia. Bahwa dengan membakar kertas emas dan perak itu berarti mereka telah memberikan kepingan uang emas dan uang perak kepada para dewa atau leluhur mereka; sebagaimana diketahui kepingan emas dan perak adalah mata uang yang berlaku pada jaman Tiongkok kuno.
Semua bahan diletakan didalam rumah-rumahan, setelah itu anak laki-laki melakukan sembahyang dengan mengundang roh/ arwah orangtua mereka untuk dapat menempati rumah-rumahan yang dibeli oleh anak-anak lekaki, seusai itu baru rumah-rumahan dibakar.
Upacara sembahyang mengenang Lie Tiong Lam dipimpin oleh Lim Tek Chong Taoshe dari Tiongkok (China) 中国道士林泽宗. Tidak lupa keluarga besar almarhum membawa berbagai sajian kesukaan almarhum Lie Tiong Lam. (Romy)
JAMBI, ayojambi.com - Dalam rangka mengenang kepergian Ayah, Mertua, Kakek, Buyut Lie Tiong Lam (李中南), keluarga besar almarhum Lie Tiong Lam terdiri dari putra-putri, menantu, cucu dan cicit lakukan ziarah ke makam di Pemakaman Bumi Langgeng KM 12 Pondok Meja, Muaro Jambi [Lihat Foto: Ziarah Makam Lie Tiong Lam].
Upacara sembahyang di Makam Lie Tiong Lam dipandu oleh Lim Tek Chong Taoshe dari Tiongkok (China) 中国道士林泽宗.
Diatas makam diletakkan kertas merah kecil memanjang dan kertas sembahyang Kim Cua dan Gin Cua ditaburkan diatas makam, putra-putra Lie Tiong Lam menanam Keladi dan Jahe.
Lie Tiong Lam yang dihormati siapapun, meninggal tahun lalu di Gleneagles Hospital Singapore dalam usia 91 tahun dan di kebumikan di Pemakaman Bumi Langgeng,