Tampilkan postingan dengan label Prostitusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prostitusi. Tampilkan semua postingan

Kamis, Juni 05, 2014

Lokasi Karaoke Jadi Tempat Prostitusi

Dugaan tempat karaoke berfungsi sebagai tempat prostitusi terselubung dan peredaran obat terlarang kini marak dibangun di Kota Jambi. Dengan demikian tempat tersebut diduga sebagai salah satu lokasi penyebaran penyakit.
Karaoke tersebut dari luar tampak biasa saja. Sama persis dengan tempat karaoke lainnya, tarif karaoke perpaket Rp. 300.000 diluar minuman belum termasuk PPN dan wanita usia belasan berbusana sexy sebagai pendamping. "Ini bisa jadi teman karaoke kalau mau."

Setiap bulan pemilik karaoke mengeluarkan untuk untuk oknum yang membackingi tempat karaokenya, maka tempat karaoke di Kota Jambi jarang kena razia, boleh dibilang langganan tempat karaoke di Kota Jambi mendapatkan jaminan tidak akan tertangkap kalau ada razia menghabiskan anggaran pemda. Ada kode khusus untuk razia, jika adalah kode listrik yang dipadamkan berkali-kali berarti pelanggan cepat keluar. "Biasanya sebelum ada razia pemilik karaoke telah diberitahu oknum yang melakukan razia."

Karaoke Diduga Tempat Prostitusi
Meski berlabel family karaoke, tempat hiburan musik karaoke di Kota Jambi pantas dicurigai sebagai tempat prostitusi terselubung. Karena merupakan tempat hura-hura alias dugem, tak tertutup kemungkinan karaoke itu pun dijadikan ajang konsumsi dan transaksi Narkoba beromset puluhan juta rupiah permalam.

‘’Semua hal negatif bisa saja terjadi di tempat karaoke itu. Apalagi pemiliknya bersifat apatis. Yang penting ramai dan duit masuk berlimpah. Meski belum didukung bukti konkrit, kabarnya ada karaoke yang menyediakan perempuan penghibur. Ini sudah menjadi isu santer di masyarakat, kata masyarakat disekitar lokasi karaoke.

Harapan masyarakat Kota Jambi agar Pemerintah serius menindak lokasi portitusi berkedok tempat karaoke dan memberikan sanksi pidana kepada oknum yang membacking tempat karaoke (Tim) * www.ayojambi.com/

Jumat, November 02, 2012

Jual Diri, Para PSK Itu Diantar Suami...

SURABAYA, KOMPAS.com — Selain kawasan Jalan Pandanaran yang terkenal dengan "gadis" bermotor, ada ruas jalan lain di Kota Semarang yang juga dikenal sebagai kawasan prostitusi pinggir jalan, antara lain, di Jalan Imam Bonjol dan Jalan Tanjung, dekat dengan kawasan Stasiun Poncol.
Berbeda dengan Jalan Pandanaran yang tidak terlihat vulgar, di kawasan ini, setiap yang lewat akan melihat para perempuan malam menjajakan diri di pinggir jalan. Para pekerja seks komersial (PSK) itu tampak berusaha berpakaian seksi sambil mejeng di pinggir-pinggir jalan.

Dulu, para perempuan yang terlihat sudah dewasa dengan umur antara 20 hingga lebih dari 30 tahun tersebut biasa menjajakan diri dengan berdiri di pinggir jalan. Mereka akan menawarkan diri pada setiap lelaki yang lewat. Sekarang, sejak beberapa tahun terakhir, mereka tampak berbeda karena mulai mengendarai sepeda motor, yang sebagian besar berjenis matic. PSK di sepanjang jalan ini mangkal dengan cara duduk di atas motor.

Dengan menggunakan sepeda motor, mereka akan lebih mudah untuk lari dari kejaran petugas saat razia. Sebab, sebelum menggunakan sepeda motor, mereka sering terkena razia dari para petugas. Sayangnya, meski razia dilakukan rutin, tempat ini juga tidak berubah sejak beberapa tahun lalu, bahkan semakin ramai dengan puluhan PSK.

Di pinggir-pinggir jalan, juga terdapat banyak warung yang terkadang digunakan para PSK untuk bertransaksi sebelum ke kamar hotel.

Namun, ada pemandangan lain di salah satu sudut jalan tersebut, ada sejumlah lelaki bergerombol yang tampak asyik ngobrol. Mereka bukanlah pelanggan para PSK tersebut. Ternyata sebagian besar dari mereka merupakan suami atau pasangan dari para PSK, baik pasangan yang sah secara hukum, pasangan karena nikah siri, maupun pasangan kumpul kebo.

Para lelaki ini tampak mengawasi para perempuannya yang tengah mencari nafkah dengan menjual diri. Selain itu, mereka juga terkadang mencarikan pelanggan bagi pasangannya. Parahnya, jika terlihat "tidak laku", PSK itu bisa menjadi sasaran kemarahan dari suaminya.

Tidak segan-segan para suami ini menghajar istri mereka di depan umum.  “Dulu pernah ada yang dihajar di depan umum karena sampai malam tidak laku, tetapi ya nggak ada yang berani melerai, itu urusan mereka. Sudah jadi pemandangan umum di sini,” ungkap salah seorang pedagang nasi di kawasan itu.

Sebagian besar PSK di kawasan ini sudah memiliki anak. Mereka memang bekerja untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya. Mereka kebanyakan berasal dari beberapa wilayah di sekitar Kota Semarang.

Para "kupu-kupu malam" tersebut memang biasa mengenakan baju ketat dan seksi, tetapi untuk badan dan wajah bisa tergolong pas-pasan sehingga tarif PSK di kawasan ini pun lebih murah dibandingkan dengan kawasan Jalan Pandanaran. Mereka bisa memberikan pelayanan dengan tarif di bawah Rp 200.000 untuk setiap pelanggan, sudah termasuk sewa kamar di hotel-hotel kecil di kawasan itu.

http://regional.kompas.com/read/2012/11/02/09554389/