Tampilkan postingan dengan label Anjing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anjing. Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 21, 2016

Pria Ini Jadi 'Ayah' dari 735 Ekor Anjing

Rakesh Shukla memiliki perusahaan perangkat lunak (software). Ia mengurus perusahaan tersebut bersama istrinya selama 10 tahun terakhir.

Bisnisnya itu berkembang cukup pesat, tetapi dia merasa hidup mewahnya begitu hampa.
"Saya pernah bekerja di Delhi, di Amerika Serikat sampai mendirikan perusahaan saya sendiri di Bengaluru. Hidup saya saat itu hanya seputar membeli mobil-mobil besar, jam mahal dan hidup mewah. Saya sudah sering keliling dunia, tetapi saya tidak bahagia," tuturnya, seperti dikutip dari BBC.

Lalu, Shukla bertemu dengan Kavya, seekor anjing betina jenis Golden Retriever yang dibuang orang.

Ia menemukan Kavya pada Juni 2009, ketika anjing itu baru berumur 45 hari. Shukla ingat betul hari pertama dia membawa anak anjing itu pulang.

"Ketika kami sampai di rumah, dia masuk dan langsung bersembunyi di sudut ruangan. Saya pun menunduk ke lantai dan memanggilnya. Dia menatap saya, ketakutan. Akan tetapi, saya bisa lihat saat itu, dia ingin percaya pada saya. Ketika dia akhirnya mau mendekat, sejak itu saya mulai mengasihinya," ujar Shukla.

Itulah titik balik utama dalam hidup Shukla. Kavya membuat dia sadar panggilan hidupnya yang sebenarnya.

Sehari demi sehari, Shukla terus menemukan anjing-anjing yang ditelantarkan pemiliknya.

Anjing kedua Shukla bernama Lucky. Dia datang ke hadapan Shukla sekira tiga bulan setelah pertemuan pertamanya dengan Kavya.

Pada 2012, jumlahnya telah mencapai ratusan ekor. Shukla pun mau tak mau harus mencarikan lahan baru bagi para anjing malang itu. Kini jumlahnya telah mencapai 735 ekor.

Semuanya adalah anjing yang dipungut Shukla dari jalanan. Ada yang sudah sakit-sakitan, lumpuh, penuh luka dan terlalu tua. Shukla merawat anjing-anjing itu seperti anaknya sendiri.

Sedikitnya 10 orang dipekerjakan untuk mengurus mereka. Kalau ada anjingnya yang sakit, Shukla juga tak sungkan membawanya ke dokter.

Orang-orang yang mengenalnya menjuluki dia Dog Father.

http://jambi.tribunnews.com/2016/12/21/pria-ini-jadi-ayah-dari-735-ekor-anjing
* https://www.facebook.com/makinjambi

Rabu, Oktober 12, 2016

Anjing Ini Selalu Membawa Kantong Plastik Setiap Hari, Isinya Bikin Kaget

"Seseorang yang tidak pernah memelihari anjing telah melewatkan bagian indah dari hidupnya."

Pepatah itu memang benar jika Anda tidak pernah memiliki anjing dalam hidup Anda.

Maka Anda telah melewatkan sesuatu yang indah dan tidak akan pernah tahu seperti apa cinta tanpa syarat.

Cinta seekor Anjing adalah tanpa syarat dan tidak ada yang bisa mencintai seperti dia.
Dilansir laman WittyFeed, hal itu juga tercermin seperti kisah seekor anjing berikut ini.

Di mana cerita tentang anjing yang membuktikan bahwa cinta anjing begitu murni dan tanpa syarat.

Seekor anjing betina bernama Lilica yang tinggal di sebuah tempat barang rongsokan di Brasil dengan hewan lain seperti kucing dan ayam.

Setiap pagi anjing tersebut selalu membawa kantong plastik dan isinya mengejutkan.

Dia membawa banyak makanan dalam kantong tersebut.

Pemilik anjing tersebut heran, darimana ia mendapatkan makanan sebanyak itu untuk dibagikan sesama hewan di kampungnya.

Akhirnya saat pagi pemiliknya mencari tahu.

Ternyata Lilica selalu melakukan perjalanan sejauh satu mil untuk bertemu seseorang yang istimewa.

Dan dari sana ia membawa hadiah untuk semua teman-temannya.

Setiap pagi Lilica selalu menghilang dan pemiliknya tidak menyadari keberadaannya.

Tapi, suatu pagi pemiliknya sadar bahwa anjing kesayangannya itu selalu pergi.

Kemudian ia mengikuti dan menemukan bahwa Lilica berjalan lebih dari satu mil di sepanjang jalan raya untuk bertemu seseorang.

Di sana ia bertemu dengan Profesor Lucia Helena De Souza.

Keduanya bertemu setiap malam pada pukul 9.

Profesor Lucia sangat menyukai Lilica dan dia selalu memberinya beberapa makanan sehari-hari.

Tapi Lilica tidak pernah memakannya sampai habis.

Makanan sisa tersebut disimpannya di dalam plastik dan membawanya kembali ke tempat barang rongsokan.

Melihat ini Profesor mulai memasak lebih banyak makanan untuk Lilica sehingga ia bisa memberikan lebih banyak.

Apa yang mengejutkan adalah bahwa makanan tidak hanya anak anjing tapi itu untuk semua hewan di sekitar tempat barang rongsokan.

Keluarga Lilica mencakup dua anjing, keluarga ayam dan kucing juga.

Semua binatang tahu bahwa mereka tidak akan tidur dengan perut kosong.

Untuk itu Lilica akan membawa makanan untuk semua orang.

Setelah kejadian itu, Lucia akhirnya selalu memberikan banyak makanan untul Lilica.

"Lilica adalah anjing yang baik hati!" ujar Lucia.

Hal ini membuktikan bahwa hewan tidak hanya baik hati.

Tapi mereka juga tahu apa itu cinta sejati.

Mereka mencintai lebih dari mereka mencintai diri mereka sendiri.

Setelah membaca ini Anda akan percaya pada fakta bahwa hewan tahu persaudaraan lebih baik daripada manusia.

http://jambi.tribunnews.com/2016/10/11/galeri-foto-anjing-ini-selalu-membawa-kantong-plastik-setiap-hari-isinya-bikin-kaget
acz

Sabtu, September 05, 2015

Yang Selamatkan 100 Ekor Anjing dari Festival Makan Daging Anjing

Yang Selamatkan 100 Ekor Anjing dari Festival Makan Daging Anjing
Berita Internasional: Yang berhasil menyelamatkan 100 ekor anjing dari Festival Daging Anjing. Festival kontroversial di Cina itu kian menarik protes Internasional.
Ya, Yang rela merogoh lebih dari 7.000 Yuan atau setara Rp14 juta dari koceknya sendiri untuk menyelamatkan 100 ekor anjing yang hendak disembelih dalam sebuah festival daging anjing, Yulin.

Di Kota Yulin, Provinsi Guangxi, memng ada festival tahunan musim panas yang dimeriahkan dengan pesta makan daging anjing dan kucing. Festival semacam ini memicu protes dari para aktivis pecinta binatang dunia hingga di Indonesia.

Yang, (65), sang perempuan pecinta binatang, dikabarkan mantap akan memelihara ratusan anjing itu di rumahnya di Tianjing, yang berjarak 2.000 kilometer jauhnya dari Yulin. Ia tidak peduli meski semua anjing tersebut tetap akan menjadi incaran para pencuri.

Banyak foto yang diunggah ke internet memperlihatkan Yang sedang berjalan-jalan di pasar, sementara anjing-anjing yang ia beli berada di dalam kandang siap untuk diselamatkan.

Pemerintah tak berdaya

Sudah bukan rahasia lagi bila setiap tahunnya aktivis penyayang binatang mendatangi Yulin untuk berdemonstrasi. Yang pun bukan jadi orang pertama yang membeli anjing-anjing itu. Sejak dahulu para aktivis juga rela menghabiskan uang mereka demi menyelamatkan hewan berkaki empat itu dari panci masak.

Warga setempat mengatakan, anjing-anjing dan kucing tersebut disembelih dan dimasak dengan cara yang manusiawi dan dibakar dalam keadaan setengah sadar untuk festival. Kemudian, dagingnya disajikan dengan buah leci.

Perlu diperhatikan, memakan daging anjing sejatinya bukanlah kebiasaan di sebagian besar daerah Cina atau Tiongkok. Malahan, sudah ada lebih dari 30 juta rumah tangga yang menjadikan anjing sebagai hewan peliharaan.

Pemerintah sudah mencoba bersikap bijak namun lebih terlihat tak berdaya. Alih-alih melarang warganya memakan anjing, mereka hanya mendesak para penjual daging untuk mematuhi standar kelayakan daging yang mereka jual.

http://awanjakarta.com/berita-terkini/internasional/yang-selamatkan-100-ekor-anjing-dari-festival-makan-daging-anjing/
* www.ayojambi.com/

Tradisi Pembantaian Anjing di China Sudah Sejak 500 Tahun Lalu

Beijing - Setiap tahun 10 ribu anjing akan disembelih dan dimakan untuk Perayaan Festival daging anjing di Kota Yulin, China. Festival yang diduga menyiksa anjing ini pun mendapat kecaman dari berbagai kalangan terutama pecinta hewan.
Meski mendapat kecaman, Festival ini telah berlangsung sekitar 400 atau 500 tahun di China. Karena warga sekitar meyakini dengan memakan anjing dapat menangkal panas saat datanganya musim panas menurut kantor berita BBC.

Untuk menyelamatkan anjing-anjing dari penyiksaan di festival tersebut, banyak pecinta hewan yang rela merogoh koceh dengan membeli beberapa anjing. Hal itu pun juga yang dilakukan Yang Xiaoyun, pensiunan guru SD yang membeli 100 anjing dari Festival Yulin seharga $1.000 atau sekitar Rp 14 juta pada Sabtu (20/6/2015).

Adapun, Kementerian Kesehatan China mengatakan Kota Yulin merupakan salah satu kota yang rawan kasus rabies pada manusia. Meski memakan daging anjing tidak menyebabkan rabies, namun penanganan dan pembantaian sejumlah besar anjing yang tidak divaksinasi berisiko tinggi infeksi rabies.

Anjing-anjing yang dimakan pada Festival Yulin, merupakan anjing yang dibawa sejauh 1.000 mil dari Kota Yulin. Saat menempuh perjalanan, anjing diletakkan dalam kandang kawat dan tidak diberi makan serta air selama berhari-hari. Sehingga anjing tiba di Yulin dengan kondisi yang kekurangan gizi dan dehidrasi.

Atas perilaku penyiksaan tersebut, para aktivis pecinta hewan mengecam aksi Festival Yulin. Mereka mengkampanyekan larangan festival dan mendapat dukungan sebanyak 3,8 juta orang sejauh ini. Kampanye juga mendapatkan dukungan cukup besar dari selebriti dalam dan luar negeri.

http://news.detik.com/internasional/2949431/tradisi-pembantaian-anjing-di-china-sudah-sejak-500-tahun-lalu
* www.ayojambi.com/

Perdagangan dan Konsumsi Daging Anjing Ancam Indonesia Gagal Bebas Rabies 2020


Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dan Animal Friends Jogja (AFJ) meluncurkan laporan investigasi mereka pada Maret 2015, berjudul “Pedagangan Anjing Untuk Konsumsi di Indonesia dan Resiko Penyebaran Rabies.” Laporan berjumlah 23 halaman menyebutkan perdagangan daging anjing untuk konsumsi  bukan hal wajar, karena ketentuan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (Office Internationale des Epizooties / OIE) dan Codex Alimentarius Commission (CAC), anjing tidak termasuk hewan potong untuk dikonsumsi manusia. Anjing sebagai makhluk sosial, hewan kesayangan atau pendamping manusia, apabila dikonsumsi manusia, menurut OIE dan CAC dianggap melanggar prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare).
“Jika anjing tidak terdaftar sebagai ‘hewan potong untuk dikonsumsi manusia’, sudah jelas bahwa tempat-tempat penjagalan anjing beroperasi secara Ilegal,” kata Anggelina Pane kepada Mongabay, saat aksi  ”Global Day of Action: International March to End Dog & Cat Meat Trade” di Nol Kilometer, Yogyakarta, Sabtu (04/04/2015).

Laporan itu menyebutkan dalam lima tahun terakhir, tiap hari mereka mendapatkan laporan dari masyarakat tentang pencurian anjing oleh orang bermotor,  pengangkutan dan pembantaian anjing secara keji, warga yang tinggal dekat pejagalan tidak nyaman mendengar suara lolongan anjing, dan meningkatnya jumlah lapo/warung makan dengan menu daging anjing.

Dari laporan itu, masyarakat meminta JAAN dan AFJ untuk membantu menghentikan praktik-praktik kekejaman tersebut. Penyelidikan AFJ dan JAAN mendapati seluruh proses dari cara anjing-anjing itu dicuri, diangkut, disekap, dibantai dan tidak adanya standar higiene.

Tahun 2008, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti perdagangan anjing untuk konsumsi manusia berkontribusi terhadap penyebaran rabies di Indonesia terutama di Bali karena perdagangan tersebut mendorong anjing diangkut antar pulau. Hal ini juga dikaitkan dengan berjangkitnya rabies di Tiongkok dan Vietnam.

“Di Yogyakarta saja diperkirakan 360 ekor anjing dibunuh tiap minggunya. Kemudian kita harus mempertimbangkan bahwa Yogyakarta bukanlah daerah utama untuk perdagangan daging anjing,” kata Ina.

Di Manado dan Sumatera, di mana daging anjing dianggap ‘wajar’ untuk disajikan, mereka memperkirakan ada 1800 ekor anjing per minggu dikalikan lima, menjadi 3600 ekor anjing dikorbankan.  Sedangkan di Jakarta, paling sedikit 2x jumlahnya dibanding Yogyakarta, yang berarti 720 ekor per minggu. Sehingga total ada ada sekitar 4680 anjing per minggu, 18.720 per bulan dan 224.640 per tahun  dikorbankan hanya dari di 4 daerah di Indonesia.

Risiko Penyebaran Rabies lewat Daging Anjing

Mengkonsumsi daging anjing memperbesar terkena rabies. Di seluruh Asia, anjing untuk dikonsumsi biasanya diperoleh dari jalanan maupun lingkungan perumahan, yaitu anjing peliharaan yang dicuri atau terlantar dan tak bertuan, atau dipasok dari peternakan anjing. Di sebagian besar negara di Asia termasuk Indonesia, rabies bersifat endemik di kalangan populasi anjing dan anjing yang dikumpulkan dari jalanan yang tidak diketahui penyakit dan status vaksinasinya.

“Riset menunjukkan bahwa memasok, menernakkan, mengangkut, memotong, dan mengonsumsi anjing-anjing dalam skala besar memungkinkan pemencaran yang cepat dan luasnya kisaran rabies dan penyakit-penyakit lainnya, seperti kolera dan trikinelosis,” kata Ina.

Selama proses penjagalan, rabies dapat ditularkan ke manusia melalui beberapa cara, seperti cakaran dan gigitan, kontaminasi sayatan atau lecet-lecet di kulit, dan sentuhan mata dan bibir penjagal anjing sendiri yang terpercik cairan anjing.

Diketahui pada 2007, Departemen Kesehatan Hewan tingkat Distrik melaporkan 70 persen kematian wabah rabies di Ba Vi, Vietnam, karena gigitan anjing, dan 30% akibat terpapar pada waktu penjagalan.

Dalam laporan dijelaskan manajemen dan higienis yang buruk dari peternakan anjing skala besar di Korea Selatan dan di Tiongkok, mengkondisikan anjing rentan terinfeksi mikroba.  Perkelahian anjing dalam peternakan itu juga meningkatkan penularan penyakit.

Hasil Invetigasi di Tiga Wilayah

Tim melakukan investigasi pada 12-23 restoran di Jakarta untuk mengetahui asal dan bagaimana anjing yang dijagal, jalur distribusi daging anjing, situasi keseluruhan di rumah jagal anjing. Karena semakin sulit mendapatkan anjing untuk dijagal, restoran itu lebih banyak mendapatkan suplai daging anjing dari penyuplai yang sama yaitu yang berlokasi di Jl. Letjen. Sutoyo, Gg. Bersama, RT.008/RW 08 Cililitan, Mayasari, Jakarta Timur dan dari Pasar Senen.

Dalam laporan disebutkan pasokan daging anjing berasal dari luar Jakarta seperti Bandung, Sukabumi, dan Cianjur. Bahkan kadang mendapatkan 40 anjing dari Bali.

Di Yogyakarta,  lebih dari 50 warung penjaja menu daging anjing yang tersebar di wilayah Bantul hingga Sleman. Daging anjing dari penyuplai berasal dari Jawa Barat dan sekitar Yogyakarta.

“Investigasi mendalam kami lakukan ke penyuplai anjing hidup dan daging anjing terbesar di Yogyakarta dengan mengikuti perjalanan dari Yogyakarta ke Jawa Barat dan kembali ke Yogyakarta,” kata Ina.

Dalam laporan tersebut JAAN dan AFJ merekomendasikan kepada pemerintah daerah dan pusat untuk memberlakukan pelarangan perdagangan, penjagalan dan transportasi anjing untuk konsumsi di seluruh Indonesia. Masyarakat juga perlu diedukasi tentang risiko kesehatan dan penyebaran rabies dari perdagangan dan konsumsi daging anjing.

“Menegakkan hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di praktik perdagangan anjing untuk dikonsumsi dan Menyusun rencana efektif untuk memberantas rabies dan menciptakan Indonesia Bebas Rabies di tahun 2020 sesuai komitmen Kementerian Kesehatan Indonesia yang disampaikan pada ajang International One Health Congress dalam laporan mengenai Zoonosis di Indonesia,” tambah Ina.

Pemerintah perlu mengedukasi tentang ketidakefektifan metode pemusnahan masal untuk memberantas rabies, menggalakan program vaksinasi rabies yang berkelanjutan sebagai satu-satunya metode pemberantasan rabies yang efektif dan pada akhirnya akan dapat meniadakan rabies di Indonesia.

Aksi Serentak di Beberapa Kota

JAAN dan AFJ menggelar aksi nasional menghentikan perdagangan daging anjing di seluruh Indonesia sebagai bagian dari “Global Day of Action: International March to End Dog & Cat Meat Trade” pada Sabtu (04/04/2015). Aksi di Yogyakarta diiringi aksi teatrikal dan penyerahan berkas laporan investigasi perdagangan daging anjing di Indonesia & DVD kampanye terbaru dari AFJ dan JAAN kepada Pemprov dan Dinas Peternakan DIY.

Aksi simpatik didukung Jogja Domestic  Cat Lovers  (JDCL), Animal Lovers Indonesia, Klub Siberian Husky Indonesia, seniman pertunjukan dari Kebelet Teater, Fajar Merah (musisi dan putra dari Wiji Thukul) dan K9 Polda DIY, serta para penggemar band Shaggydog yang sejak tahun 2013 telah aktif bersuara sebagai duta kampanye “Anjing Bukan Makanan”.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian DI Yogyakarta, Suparno kepada Mongabay mengatakan Yogyakarta sudah bebas rabies sejak tahun 1997 hingga saat ini. Mereka mendukung aksi tersebut sebagai edukasi kepada masyarakat tentang konsumsi daging anjing berpotensi terkena penyakit rabies. Mereka juga mengkaji laporan AFJ sebagai bahan penyiapan peraturan daerah. “Kita terus mengkampanyekan bahwa anjing bukan untuk di konsumsi,” kata Suparno.

Ia menambahkan, pemprov punya pos lalu lintas pengendalian hewan untuk memantau distribusi anjing ke Yogyakarta. Secara aturan pemerintah bahwa hewan yang masuk ke suatu daerah harus ada ijin dari pemerintah yang mengirim maupun daerah yang dituju. “Karena masuknya lewat jalur tikus atau ilegal, sehingga ini menjadi kesulitan kami dalam penegakan hukumnya,” tambahnya.

Selain itu, pemerintah Yogyakarta belum bisa melarang perdagangan makanan anjing yang ada saat ini dan tidak bisa melakukan penyitaaan karena belum ada aturan. Mereka hanya melakukan penyampaian informasi adanya dampak penyakit rabies dan lainnya lewat konsumsi anjing.

http://www.mongabay.co.id/2015/04/12/perdagangan-dan-konsumsi-daging-anjing-ancam-indonesia-gagal-bebas-rabies-2020/

Restoran Chicago Sajikan Daging Buaya Utuh

Manusia tampaknya bisa memakan apa saja yang memuaskan selera mereka. Mulai daging kuda, anjing, hingga marmut, semua sudah pernah dijadikan masakan. Kini, giliran daging buaya yang menarik minat masyarakat di Chicago.
Sebuah restoran bernama Frontier di CHicago menawarkan daging buaya utuh. Untuk membelinya tentu pembeli harus merogoh kocek yang cukup dalam, yaitu sebesar USD 575 (atau sekitar Rp 5,5 juta). Satu porsi buaya utuh termasuk dengan salad, roti jagung, dan saus jambalaya.

Frontier merupakan satu-satunya restoran yang memasak buaya dalam kondisi utuh. Lantas, seperti apa rasa daging buaya tersebut?]

"Rasanya hampir sama dengan ayam," ungkap salah seorang pelanggan, seperti dilansir oleh Huffington Post (11/04).

Meski begitu, daging buaya utuh yang bisa dikonsumsi 12 sampai 15 orang ini tak bisa dipesan sewaktu-waktu. Orang yang ingin menikmatinya setidaknya harus sudah memesan lima hari sebelum hidangan itu disajikan.

Eating a Whole Alligator at Chicago's Frontier
https://www.youtube.com/watch?v=GfUyaLt52-w

http://www.kaskus.co.id/thread/5173eb0e7e12435054000002/restoran-chicago-sajikan-daging-buaya-utuh/?ref=21&med=thread-recommended-for-you
* www.ayojambi.com/

Di Manado, Semua Hewan Peliharaan Bisa Dimakan

 Aneka jenis makanan hewan peliharaan tersedia di Manado
BAGI anda yang pertama kali datang ke Manado jangan heran. Di kota ini, semua jenis hewan peliharaan bisa dijadikan santapan. Tidak ada alasan khusus untuk memakan hewan-hewan itu, selain kenikmatan.
Tentu, hal itu tidak terjadi di luar Sulawesi Utara (Sulut). Di luar kota ini, hewan-hewan seperti kucing, dan anjing, selain menjadi peliharaan, juga menjadi makanan sehari-hari. Tidak hanya itu, sapi, kuda, kambing, ayam, dan ikan juga.

Bagi warga Sulut yang beragama Kristen, hewan jenis kucing, tikus, ular, kelelawar (paniki-sebutan pribumi Sulut), monyet, dan babi, merupakan menu santapan yang sangat lezat. Warga Manado biasa menyebut makanan itu dengan nama depan "ikan".

Misalnya ayam, disebut dengan ikan ayam, dan beberapa lauk-pauk lainnya. Bagi anda yang ingin mencicipi seperti apa lezatnya semua jenis ikan itu, silakan datang ke Manado, dan rasakan sendiri. Anda tertarik?

Seperti diungkapkan Wido Merung, warga Manado yang beragama Kristen (di luar Kristen Advent). Dia mengaku, sudah pernah mencicipi semua jenis ikan yang dijual di Manado. Menurutnya, semua hewan-hewan itu memiliki rasa yang sangat enak.

"Daging kucing rasanya hampir seperti kelinci, cuma dagingnya agak sedikit berserat seperti daging ayam. Tikus rasanya sedikit manis, dan tidak ada persamaan rasanya dengan hewan manapun. Demikian juga dengan anjing, belum ada persamaan rasa dagingnya, cuma habis makan badan terasa panas," ujarnya, saat berbincang dengan wartawan, Rabu (13/8/2014).

Menurutnya, tidak hanya Manado yang menyajikan hewan-hewan tersebut sebagai menu makanan. Ada beberapa kabupaten dan kota lainnya yang juga menyajikan makanan seperti itu. Terutama daerah yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.

"Utamanya di daerah Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Minahasa Tenggara, dan Minahasa. Sebagian besar warga di sana mengonsumsi semua jenis hewan. Bagi warga di sana, makanan itu sudah biasa," terangnya.

Dijelaskan dia, Provinsi Sulut memiliki 15 kabupaten dan empat kota. Dari kabupaten dan kota itu, di antaranya yang terbesar adalah Kota Manado, Kota Bitung, dan Kota Kotamobagu. Kota-kota besar ini memiliki pasar yang khusus menyediakan ikan bagi warga ingin menjadikannya menu santapan.

"Pusat hewan terlengkap dan terbanyak berada di Pasar Beriman Kota Tomohon, sementara di kabupaten kota yang juga menjual setiap hari adalah Langowan, Kabupaten Minahasa. Di Pasar Beriman, setiap hari hewan apapun yang dicari ada," ungkapnya.

Hal itu, berbeda dengan kota-kota lain yang hanya menjual hewan jenis babi, tikus, ular, dan lainnya hanya saat menjelang Hari Raya Natal. Namun begitu, secara umum pasar-pasar di daerah ini menyediakan aneka jenis hewan untuk menu santapan.

"Yang jelas, di Manado, semua yang merayap dan berkaki empat adalah makanan. Tinggal kursi dan meja berkaki empat saja yang belum bisa dijadikan santapan. Begitu juga dengan kereta api, meski bisa merayap, tidak bisa dimakan," candanya.

http://daerah.sindonews.com/read/890999/29/di-manado-semua-hewan-peliharaan-bisa-dimakan-1407958823* www.ayojambi.com/

Senin, Februari 11, 2013

Nenek Tua Habiskan Tabungan demi Hewan Terlantar

BEIJING, KOMPAS.com - Kecintaan seseroang akan sesuatu terkadang membuat orang lain geleng-geleng kepala. Seperti yang dilakukan seorang perempuan tua Bai (64) asal kota Chongqing, China.
Nenek Bai sudah 15 tahun dengan sukarela dan penuh kecintaan mengurus ratusan anjing dan kucing liar. Untuk urusan ini, Nenak Bai sudah menghabiskan seluruh tabungannya.

Saat ini, Nenek Bai mengurus tak kurang dari 100 ekor anjing dan 30 ekor kucing liar. Kecintaannya terhadap hewan-hewan terlantar ini hingga dia harus mengorbankan harta bendanya menyentuh hati banyak warga China.

Nenek Bai, awalnya tinggal di pinggiran  kota Chongqing. Namun, seiring makin banyaknya anjing dan kucing liar yang diurusnya, maka dia akhirnya pindah ke sebuah desa tak jauh dari Chongqing.

Dia memilih pindah selain karena membutuhkan tempat lebih luas, dia juga tak ingin warga lain terganggu hewan-hewan liar yang diurusnya itu.

Meski ditentang keluarga, Nenek Bai kemudian membawa semua hewan liar yang diadopsinya dan pindah ke kawasan pedesaan. Di sana dia membangun rumah untuk hewan-hewannya itu dan terus mengumpulkan hewan liar dari lingkungan di sekitarnya.

Meski kini secara finansial Nenek Bai cukup kesulitan, namun dia belum berhenti memungut hewan terlantar dari jalanan. Menurut Nenek Bai setiap hari dia harus merogoh kocek sekitar Rp 300 ribu untuk makanan hewan-hewan itu.

Dia membiayai makanan hewan-hewannya itu dari uang yang diperolehnya sebagai ganti rugi rumahnya yang dihancurkan pemerintah beberapa waktu lalu.

Kini, uang simpanan Nenek Bai sudah kian menipis. Belum diperoleh kabar terbaru soal Nenak Bai dan hewan-hewan adopsinya itu. Namun, diharapkan para pecinta hewan bisa memberikan bantuan untuk perempuan murah hati ini.

http://internasional.kompas.com/read/2013/02/11/0921048/

Sabtu, Juni 09, 2012

Anjing "Dekap" Bayi Telantar di Kolong Jembatan

 Ghana News Agency via Shine 
Bayi laki-laki berusia dua minggu ini ditemukan bersama seekor anjing 
yang memeluknya semalaman di kolong jembatan di Ghana. 

WINKOGO, KOMPAS.com - Seekor anjing menjadi pahlawan di Ghana setelah semalaman menjaga bayi laki-laki berumur dua minggu yang dibuang orangtuanya, seperti dilansir Shine, Jumat (8/6/2012)
Menurut pihak berwenang, anjing dan bayi itu ditemukan di kolong jembatan di Kota Winkogo, tak jauh dari pertanian tempatnya tinggal. Saat ditemukan anjing itu seperti memeluk si bayi, seolah melindunginya.

Yang dicari sebenarnya adalah si anjing, bukan bayi itu. Majikannya cemas karena anjing itu tidak juga pulang sampai malam.

Sejumlah orang kemudian melacaknya di ladang dan hutan di sekitar tanah pertanian itu. Sampai akhirnya anjing itu ditemukan di kolong jembatan. Orang-orang itu kaget melihat anjing itu bergelung melindungi bayi yang masih merah itu, Ghana News Agency melaporkan.

Bayi itu sendiri dalam kondisi sehat, meskipun mengalami sedikit infeksi karena tali pusarnya belum dipotong. Oleh pihak berwenang, si bayi langsung diberi vaksin dan kini dalam perawatan direktorat kesehatan setempat.

Direktur Kesehatan Distrik Talensi-Nabdam Rosemary Azure menduga orangtua bayi itu adalah para remaja. Polisi kini menyelidiki kasus tersebut.

http://internasional.kompas.com/read/2012/06/09/07502363/

Senin, Maret 05, 2012

Hewan Yang Pernah Menjelajahi Luar Angkasa

Sebelum Yuri Gagarin membuat sejarah dengan menjadi orang pertama di luar angkasa pada 12 april 196, suatu percobaan panjang astronot non-manusia sudah diluncurkan ke atmosfer untuk menentukan apakah bentuk kehidupan bisa bertahan hidup di luar angkasa.
Bahkan setelah misi luar angkasa berawak menjadi prosedur rutin, berbagai binatang terus digunakan untuk eksperimen ruang angkasa. Para astronot hewan telah berperan dalam membantu manusia berhasil dalam perjalanan antariksa, inilah ke-10 hewan berjasa tersebut.
Tikus pertama di ruang angkasa, pada bulan februari tahun 1961, perancis mengirimkan tikus bernama hector ke ruang angkasa. Setelah terbang ke ketinggian 93 mil, hector berhasil kembali dengan selamat.
9. MARMUT
Marmut yang pertama kali ke luar angkasa terbang dengan pesawat ruang angkasa sputnik 9 soviet pada tanggal 9 maret 1961, bersama dengan seekor anjing bernama chernushka, seorang kosmonot bernama ivan ivanovich dummy, dan berbagai jenis tikus dan reptil. Ivan berhasil kembali ke bumi dengan selamat dan begitu pun dengan para hewan.
Pada tanggal 5 oktober 1990, cina meluncurkan biosatellite fsw-1 3 berisi koleksi dari 60 tanaman dan hewan yang termasuk marmut. Setelah delapan hari, biosatellite telah berhasil ditemukan dengan aman.
Misi The Bion 7 (1985) membawa 10 kadal air Liberia di dalamnya, bersama dengan serangkaian spesimen biologi lainnya (termasuk dua monyet). Dalam rangka untuk memberikan pemahaman tentang luka dan tingkat regenerasi dalam ruang angkasa, kadal air malang itu dilukai di bagian dari kaki depan mereka.
Para peneliti mengamati bahwa kadal air mampu beregenerasi secara signifikan lebih cepat di ruang angkasa. Kadal air diikutsertakan pada penerbangan Bion lain. Mereka juga telah digunakan untuk eksperimen di Columbia (1994), misi foton-m2 (2005), ruang unit jepang flyer (1995), dan mir space station.
Pada tahun 1970, nasa meluncurkan sesuatu yang disebut program Orbiting Frog Otolith dengan mengirimkan dua katak ke orbit (otolith kata yang mengacu pada suatu mekanisme telinga-dalam untuk mengontrol keseimbangan). Percobaan OFO dikembangkan sehingga para ilmuwan bisa menentukan bagaimana otolith yang disesuaikan dengan bobot.
Katak berada di ruang angkasa dari 9-15 November dan percobaan itu sukses. Peneliti dapat mengumpulkan data neurofisiologis yang mereka inginkan, tetapi sayangnya pesawat tidak dapat ditemukan kembali setelah mendarat.
 
 Jenis ikan pertama di ruang angkasa yaitu mummichog, spesimen air yang seringkali digunakan untuk proyekproyek penelitian karena kemampuannya untuk bertahan hidup di kondisi ekstrim. Sepasang mummichog menyertai Misi Skylab 3 (1973) untuk memberikan informasi lebih lanjut tentang organ otolith.
Pada tanggal 15 September 1968, Uni Soviet meluncurkan pesawat ruang angkasa Zond 5 dengan muatan biologis yang termasuk dua ekor kura-kura. Pada tanggal 18 September, Zond 5 membuat putaran di sekitar bulan dan selamat kembali ke bumi pada tanggal 21.
Kura-kura mengalami sedikit penurunan berat badan, tetapi itu sudah sangat jauh lebih baik daripada meletus dalam api dan terbakar sampai mati saat peluncuran. Misi Soviet Soyuz 20 (17 November 1975 - 16 Februari 1976) kura-kura disimpan di ruang angkasa selama 90,5 hari, menjadi rekor durasi terlama untuk hewan.
Tidak puas dengan hanya meluncurkan tikus pertama ke ruang angkasa, Prancis memutuskan mereka juga mengirimkan kucing pertama di bulan pada Oktober tahun 1963. Mereka menemukan kucing tersebut di jalanan, dan menamainya Felix, dengan sebuah roket AGI Véronique, mereka meluncurkannya ke angkasa. Dan ya, kucingnya kembali dengan selamat. Perancis mendapatkan penghargaan " Kucing Pertama di Ruang Angkasa".
Pada tahun 1973, misi Skylab 3 membawa sepasang laba-laba kebun Eropa bernama Arabella dan Anita untuk pertama kalinya. Proyek "laba-laba ruang angkasa" adalah sebuah proyek percobaan sains yang berasal dari impian seorang mahasiswa bernama Judy Miles, dan gagasan ini berguna untuk mengamati bagaimana bobot dan gravitasi luar angkasa akan mempengaruhi konstruksi dari jaring laba-laba.
Kedua laba-laba berhasil memintal jaring, Arabella yang pertama kali selesai. Para ilmuwan kemudian menetapkan bahwa meskipun terdapat perbedaan jaring ruang dan ketebalan, mereka memiliki kualitas yang lebih baik secara keseluruhan. Kedua laba-laba mati di ruang angkasa dikarenakan dehidrasi, tubuh mereka sekarang dipamerkan di Smithsonian.
Peluncuran Air Force Aeromedical Laboratory “Albert” (Juni 1948 - Agustus 1950) di White Sands, NM adalah eksperimen pertama yang menggunakan primata. Albert, pertama diluncurkan pada tanggal 11 Juni 1948. Sayangnya dia tidak dapat bertahan hidup (sebenarnya, ia bahkan tidak sampai ke ruang angkasa). Barulah pada tanggal 14 Juni 1949, Albert II menjadi monyet pertama dalam ruang angkasa ketika ia mencapai ketinggian 83 mil.
Soviet lebih memilih untuk menggunakan sepasang anjing betina liar untuk eksperimen ruang angkasa mereka pada tahun 50-an dan 60-an. Kebanyakan dari penerbangan mereka berhasil, dan beberapa anjing telah terbang lebih dari sekali. Pada tahun 1951, Dezik dan Tsygan menjadi anjing pertama yang bertahan hidup di luar angkasa. Sayangnya, Dezik tewas dalam peluncuran berikutnya.
2 anjing dari Soviet, Belka dan Strelka (bersama dengan kelinci, dua tikus, dan spesimen biologi lainnya) pertama mencapai luar angkasa bersama Sputnik 5. Salah satu jenis anjing Strelka yang kemudian diberikan sebagai hadiah kepada anak Presiden Kennedy. 
http://isidunia.blogspot.com/2012/03/10-hewan-yang-pernah-menjelajahi-luar.html