Meniti Jejak Peradaban Dan Kejayaan Nusantara Di Masa Lalu
Jambi, Kompas—Tim ekspedisi Daerah Aliran Sungai Batanghari menempuh jejak Ekspedisi Pamalayu dari Dharmasraya, Sumatera Barat, menuju bagian hilir Sungai Batanghari di Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Kegiatan ekspedisi ini bertujuan meniti jejak peradaban dan kejayaan nusantara di masa lalu.
Penanggung jawab ekspedisi dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Kepurbakalaan, Yunus Arbi mengatakan, perairan telah dimanfaatkan sebagai alat mempersatukan nusantara. Pada Abad ke-14, penguasa Kerajaan Singosari, Kertanegara pernah mengirimkab tentaranya untuk menelusuri Sungai Batanghari dari hilir ke hulu hingga mencapai Dharmasraya. Sejumlah sumber menceritakan bahwa perjalanannya itu sebagai bagian upaya mempererat hubungan dengan Kerajaan Melayu. Cerita lainnya, perjalanan itu bertujuan menggalang dukungan kerjaan-kerajaan di wilayah pedalaman, untuk menahan serangan bangsa Mongol.
“Sungai Batanghari menjadi salah satu jalur utama yang ditempuh untuk sarana menyatukan nusantara,” tuturnya.
Masyarakat pada masa itu memanfaatkan sepanjang jalur sungai sebagai hunian. Pernghormatan terhadap sungai dilihat dari muka rumah-rumah warga yang menghadap sungai. Namun, seiring gencarnya pembangunan jalur transportasi darat, kini banyak rumah dibangun membelakangi sungai.
Ekspedisi yang diikuti oleh kalangan arkeolog, akademisi, sejarawan, dan mahasiswa ini, akan menelusuri tempat-tempat peninggalan Kerajaan Melayu, seperti situs Padang Roco, Pulau Sawah, dan Rambahan di Kabupaten Dharmasraya, situs Teluk Sumay di Kabupaten Tebo, dan situs Muaro Jambi di Kabupaten Muaro Jambi.
Kepala Balai Arkeologi Palembang, Nurhadi Rangkuti mengatakan, terdapat kesamaan struktur dan bahan yang digunakan pada situs-situs tinggalan Melayu Kuno ini. “Semuanya dibangun dengan menggunakan batu bata,” ujarnya.
Tim juga akan menelusuri kelompok-kelompok Suku Anak Dalam di Kabupaten Tebo. Ekspedisi ini tidak sekadar menilik peninggalan sejarah, namun sekaligus mengeksplorasi perubahan yang terjadi saat ini di sepanjang DAS Batanghari, misalnya saja mengenai perubahan sedimentasi sungai, longsor, faktor perubahan sosial, budaya, dan struktur pemukiman, hingga fenomena banyaknya penambang emas di sepanjang DAS.
Dari kegiatan ini, tim diharapkan memperoleh rekomendasi mengenai upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan peninggalan-peninggalan yang masih ada. Pelestarian ke depan tidak lagi dilakukan secara parsial. Pelestarian akan dilakukan pada kawasan itu sendiri sebagai satu kesatuan, tempat beradanya situs-situs di sepanjang DAS Batanghari (sumber: Kompas).
