JAMBI – Kota Jambi kemarin (19/12) diwarnai unjukrasa damai dari puluhan perempuan yang tergabung dalam Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia daerah Jambi. Mereka menuding bila sistem kapatalis tidak menjamin kesejahteraan dan menyengsarakan rakyat.Tak hanya itu, mereka mengklaim bila saat ini Indonesia sedang jadi 'sapi perah' Amerika Serikat dan sekutunya. Kekayaan Indonesia berlimpah tapi rakyatnya miskin.
"Tidak layak bila kita mempertahankan dominasi ideologi kapitalisme di Tanah Air. Kami menyerukan perempuan agar meninggalkan perangkap demokrasi yang menopang penjajahan kapitalisme global," kata koordinasi lapangan, Andi, dan juru bicara Endiyah Puji, saat berorasi di depan kantor gubernur Jambi.
Kaum hawa juga diharapkan agar memperjuangkan syariah Islam dan khilafah dalam setiap roda perekonomian di Indonesia, khususnya di Provinsi Jambi.
"Kami yakin syariat Islam mampu mereformasi berbagai penerapan hukum, ekonomi, politik dan pertahanan, serta sosial dan budaya," jelas Endiyah.
Hizbut Tahir, katanya, akan terus menggerakkan muslimat perempuan di 33 provinsi di Indonesia untuk terus bergerak mendesak pemerintah menerapkan itu.
Kapitalisme itu rentan terhadap krisis keuangan negara, karena sistem riba (Ribawi), pasar saham pun cenderung spekulatif berbau judi, serta nilai tukar uang yang tidak mendasarkan atas hitungan emas. Akibatnya membuat sistem keuangan dan ekonomi negara menjadi rapuh dan tidak bersaing secara kompetitif di pasar global.
Unjuk rasa puluhan perempuan muda yang mendapat pengawalan dari aparat kepolisian dan Satpol PP Kantor Gubernur Jambi berjalan damai. Mereka hanya menyampaikan orasi dan diakhiri membaca doa.
Menurut Andi, aksi lain yang dilakukan Tahrir Muslim adalah menerbitkan berbagai buletin, selebaran, majalah dan sebagainya yang berbau Islam.
"Kami juga bersosialisasi di acara-acara keagamaan dan menyebarkan selebaran ke masjid-masjid," katanya.
Sekedar diketahui, aksi ini dilakukan serentak di 20 kota di Indonesia yang terbagi dalam dua tahap. Pertama kemarin (19/12) dan kedua Minggu (21/12). (ndu)