Tampilkan postingan dengan label Ziarah Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ziarah Makam. Tampilkan semua postingan

Minggu, Maret 31, 2013

Memberi Penghormatan Kepada Leluhur Di Hari Ceng Beng

JAMBI, ayojambi.com – Hari ini ratusan warga Tionghoa memadati pekuburan di paal 7 yang berlokasi di Jalan Kapten Pattimura, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Kotabaru, mereka datang bersama keluarga untuk sembahyang Cheng Beng atau penghormatan kepada para leluhur yang tahun ini jatuh pada tanggal 4 April 2013, mereka datang dengan membawa berbagai perlengkapan sembahyang maupun aneka sesajian kesukaan orangtua (leluhur) .
Indonesia lebih dikenal sebagai Ceng Beng (bahasa Hokkien) adalah agenda tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang atau ziarah ke kuburan orangtua maupun leluhur sesuai dengan agama masing.

Seperti keluarga besar Tanoto Bersaudara, pengusaha Hotel Novita Jambi, sejak pagi hari mereka mengunakan puluhan kendaraan mengangkut berbagai sesajian atau makanan kesukaan almarhum/ almarhumah orangtuanya, tidak ketinggalan mereka membawa berbagai asesoris kebutuhan arwah leluhur, seperti kebutuhan orang-orang hidup diatas duniawi.

Seperti, pakaian jadi, sepatu, rokok, radio, televisi, alat dapur, emas batangan dan paspor yang dikemas dalam bentuk karton tebal serta sesajin kesukaan orangtua/ leluhur, Ujar Tanoto Kusumah, “Kita kirimkan berbagai kebutuhan orangtua (leluhur) kita yang berada dialam baka, disana mereka juga memerlukan apa yang kita pakai sehari-hari di dunia”.

Ujar Tanoto Yacobes, sebagai anak kita memiliki kewajiban untuk memberi hormat kepada orangtua kita yang telah wafat dengan cara menyembahyangi,” imbuhnya.

Ceng Beng bagi masyarakat Tionghoa, adalah penghormatan kepada orangtua, baik kepada yang masih hidup maupun kepada yang sudah meninggal dunia, ini merupakan sebuah kebudayaan sejak jaman dahulu kala. Relasi antar manusia dalam tradisi Tionghoa tidak akan hilang begitu saja, meskipun kematian telah memisahkan orang dari kehidupan di dunia ini. Karena itu tidak heran kalau dalam setiap keluarga penghormatan kepada leluhur menjadi bagian penting dalam kehidupan bersama.

Orang yang tidak lagi menghormati leluhur yang telah meninggal dianggap sebagai seorang anak durhaka, sebab mereka melupakan asal usul dan jasa dari para pendahulunya, bahkan melupakan akar kehidupannya sendiri. (Romy)

Ribuan Warga Tionghoa Merayakan Ceng Beng (Qing Ming)

JAMBI – Sejak dini hari, ribuan warga Tionghoa telah berdatangan ke tempat pemakaman umum (TPU) masyarakat Tionghoa di kilometer 7.5, mereka datang dengan berombongan ke kuburan untuk mengelar perayaan Ceng Beng atau berziara ke makam orangtua, keluarga maupun leluhur yang telah wafat, perayaan Ceng Beng untuk mengingatkan segala jasa-jasa almarhum-almarhumah dimasa lalu.

Perayaan Ceng Beng tahun tahun ini jatuh pada tanggal 4 April (Sa Swee Jie Se), pengertian Ceng Beng, adalah Ceng berarti bersih, Beng berarti terang. Dimana pada hari tersebut orang Tionghoa melakukan ziarah ke makam orangtua maupun leluhur mereka, dengan membersihkan makam, berdoa dan sembahyang sesuai agama kepercayaan dan dengan caranya masing-masing. Diatas makam diletakkan kertas kuning kecil memanjang maupun kertas sembahyang lainnya.

Minggu (31/3-2013), sejak dini hari, berduyun-duyun warga Tionghoa pada berdatangan ke pemakaman km 7 yang terletak di Jalan Pattimura, kelurahan Rawasari, kecamatan Kotabaru, Kota Jambi. Tahun ini terlihat lebih ramai dari tahun kemarin, pasalnya menurut beberapa warga yang berziarah, tahun ini bagus untuk berziarah.

Tampak yang datang berziarah, diantaranya tokoh tenganai masyarakat Tionghoa Lie Tiong Lam (Ramli) beserta keluarga datang dari Singapure, Pengusaha perhotelan Tanoto Kusumah (Tan Wan Kheng), Tanoto Yacobes (Jakarta) beberapa saudaranya segaja datang dari Singapure, selanjutnya Cucu dan Cicit Tjoa The Hok yang sengaja datang dari Jawa Timur (Surabaya) dan Jakarta. (Romy)