Tampilkan postingan dengan label Sam Kok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sam Kok. Tampilkan semua postingan

Kamis, Juni 09, 2011

Persekutuan Shu - Wu ( Sam Kok )

*KisahLegenda China Sam Kok/ Tiga Negara.
Pada tahun 208 M, Cao Cao memimpin 200.000 tentara, siap menyebrangi Sungai Yangtze untuk menyerang kerajaan Wu dari arah tenggara.

Ada dua kubu di pemerintahan Wu, kubu yang memihak untuk menyerah kepada Cao Cao dan kubu yang lain memutuskan untuk berperang.
Liu Bei yang masih memulihkan diri dari kekalahan yang baru dideritanya, mengirimkan ketua strateginya, Zhuge Liang ke kerajaan Wu untuk mendiskusikan ancaman Cao Cao. Baik kerajaan Wu dan Shu menganggap bahwa Cao Cao sebagai seorang pengkhianat yang menggunakan kaisarnya sebagai boneka untuk mencapai ambisinya. Zhuge Liang meyakinkan Sun Quan bahwa demi keselamatan kerajaannya, satu-satunya cara untuk mengalahkan Cao Cao adalah bergabung dengan Liu Bei, karena gabungan kekuatan dari Wu dan Shu akan memiliki kesempatan yang baik untuk mengalahkan tentara Cao Cao.

Liu Bei mengunjungi Jenderal Zhou Yu, kepala komandan pasukan Wu yang merupakan tangan kanan Sun Quan. Kedua negara tersebut lalu menjadi sekutu. Mereka menggabungkan kekuatan mereka di Tebing Merah, dekat kota yang sekarang ini bernama Wuhan di China tengah, untuk bertempur melawan Cao Cao.

Jumlah pasukan Cao Cao jauh lebih banyak daripada jumlah pasukan gabungan dua kekuatan Wu dan Shu yang hanya berjumlah 50.000 orang. Mereka ditempatkan di sebelah utara Sungai Yangtze. Kontak senjata awal dengan angkatan laut Wu menyebabkan kerusakan parah pada pasukan Cao. Kebanyakan pasukan Cao hampir tidak dapat berdiri dalam perahu yang bergoyang karena mereka adalah orang utara yang tidak mempunyai pengalaman berperang di air. Maka Cao Cao memerintahkan dua orang jenderal yang baru direkrut Zhang Yun dan Cai Mao, yang sebelumnya menjabat sebagai petinggi angkatan laut Wu dan berkhianat membelot ke pasukan Cao Cao dengan tujuan melatih orang-orang Cao Cao. Kompi angkatan laut lalu dibentuk; latihan militer dilaksanakan sepanjang hari; obor-obor yang dinyalakan untuk menerangi medan latihan menerangi langit.

Melihat langit yang diterangi obor dan pantulan cahaya di air dari sisi selatan, Jenderal Zhou Yu merasa tidak enak. Dia lalu berperahu untuk memata-matai pasukan Cao. Apa yang dilihatnya membuatnya khawatir: kedua perwira angkatan lautnya yang berkhianat benar-benar tahu apa yang harus dilakukan. Dia ketahuan oleh penjaga Cao, tetapi dia dan timnya berhasil kabur melalui sungai.

Penyelidikan Zhou Yu menggusarkan Cao Cao.

“Zhou Yu dan saya dulunya adalah rekan sejawat,” kata salah satu penasihatnya yang bernama Jiang Gan. “Jika saya pergi ke sebelah selatan, mungkin saya dapat memenangkannya.”

Cao setuju untuk membiarkan penasihatnya mencoba.
Komentar: Zhuge Liang berusia dua puluh delapan tahun ketika pertempuran di Tebing Merah terjadi. Pertempuran itu tidak akan dapat dimenangkan tanpa bantuan angin timur, yang terjadi berkat doa Zhuge Liang . Tujuan sebenarnya dari Zhuge Liang untuk membangun altar di Gunung Nanping adalah supaya dia dapat melarikan diri.

Seperti kita lihat dalam skenarionya “meminjam” panah dari Cao Cao, Zhuge Liang mempunyai pengetahuan yang baik tentang cuaca. Dia telah tinggal di daerah ini cukup lama dan mengetahui bahwa di musim dingin biasanya terjadi perubahan arah angin. Sejak dia datang di perkemahan kepala pasukan Wu, yaitu Jenderal Zhou Yu, dia selalu diawasi sang jenderal. Dia menyadari rasa iri hati Zhou dan bahaya yang dihadapinya. Berdoa meminta kedatangan angin timur adalah alasan sempurna untuk pergi ke Gunung Nanping, yang memberinya kesempatan untuk kabur.

Zhuge Liang (181-234 M) selalu dihormati oleh orang China sepanjang zaman sebagai ahli strategi dan taktik yang paling pandai dalam sejarah China kuno.

Melalui usahanya, keseimbangan kekuatan geopolitis antara ketiga negara yang terus berkompetisi setelah runtuhnya dinasti Han yang didirikan oleh Liu Bang pada 206 S.M. dapat tercapai. Liu Bei dipercaya sebagai keturunan asli dari keluarga kerajaan Han. Zhuge Liang menjadi perdana menterinya selama bertahun-tahun dan memenangkan banyak pertempuran untuknya. Zhuge Liang mengabdi dengan penuh ketekunan dan kesetiaan yang tidak dapat diragukan sampai kematiannya pada usia empat puluh tahun. Zhuge juga mempunyai kemampuan sastra yang sangat hebat. Surat-suratnya untuk Liu Bei dan anaknya merupakan suatu karya sastra yang besar.

Berikut ini adalah contoh lain dari kemampuannya yang luar biasa.

Pada suatu hari, sebuah batalion musuh yang kuat, yang terdiri dari 150.000 tentara, mendekati sebuah kota terpencil yang dijaga hanya oleh sejumlah tentara tua di bawah kepemimpinan Zhuge Liang. Zhuge memerintahkan semua bendera yang dipasang diturunkan dan semua pintu kota dibuka. Dia menyuruh dua puluh orang tentara untuk menyamar sebagai pemulung untuk menyapu jalan pada keempat pintu kota. Tidak seorang pun diizinkan bergerak ataupun bersuara. Kemudian dia sendiri dengan menggunakan pakaian putih yang biasa ia pakai duduk di tembok kota, menyalakan sebatang hio dan mulai memainkan sebuah musik yang lembut dengan kecapi.

Ketika komandan pasukan musuh melihat pemandangan ini, dia dengan segera menduga ada jebakan dan memutuskan untuk mundur. Zhuge memiliki reputasi terlalu berhati-hati untuk bermain-main dengan bahaya. Komandan pasukan musuh adalah seorang yang licik dan suka bermain curang dalam menyusun strategi, namun ia sering menjadi korban dari kecurigaannya sendiri. Zhuge berspekulasi dengan kecurigaan lawannya dan menang.

Contoh yang lain adalah kampanyenya melawan orang-orang Burma yang tamak dan kejam. Zhuge menangkap raja Mantse sebanyak tujuh kali dan sebanyak tujuh kali juga Zhuge melepaskannya untuk menyusun kembali kekuatannya dan berperang lagi. Ketika bawahannya protes, Zhuge Liang berkata, “Saya dapat menangkapnya seperti saya dapat mengambil sesuatu dari kantong saya. Apa yang saya lakukan adalah untuk mengalahkannya dan menaklukkan hatinya.” Ketika raja Mantse tertangkap untuk ketujuh kalinya, dia berlutut di hadapan Zhuge Liang.

“Meskipun saya tidak berbudaya, saya masih memiliki rasa malu. Saya tidak akan melawan lagi,” katanya.

Pada akhirnya, Liu Bei gagal mengembalikan kejayaan dinasti Han, dan ketiga kerajaan digantikan oleh dinasti lain, tetapi legenda Zhuge Liang tetap abadi. Namanya menjadi sinonim dari kebijaksanaan dan kreativitas.

http://www.confucian.me/group/hikayattiongkokkuno/forum/topics/persekutuan-shu-wu-sam-kok

Jumat, Desember 17, 2010

Legenda " Sam Kok " Yang Menggetarkan Dunia !

Novel Sam Kok atau Tiga Negara adalah salah satu novel klasik Tiongkok yang sangat terkenal. Sejak kemunculannya beberapa abad yang lalu, novel Sam Kok selalu digemari rakyat Tiongkok. Novel ini telah sejak lama menjadi tema penelitian banyak sarjana. Berikut ini akan kami perkenalkan Luo Guanzhong sebagai pengarang Sam Kok.
Luo Guanzhong hidup pada abad ke-14 Masehi. Ketika itu pemerintah Dinasti Yuan dari etnis Mongol sedang berkuasa di Tiongkok. Sejak kecil Luo Guanzhong suka membaca buku, khususnya buku sejarah. Kegemaran itulah yang sangat membantu karirnya sebagai pengarang karya sastra di kemudian hari.

Di masa hidupnya Luo Guanzhong merupakan masa di mana konflik antar etnis dan antar kelas meruncing tajam. Pemerintah Dinasti Yuan etnis Mongol itu melaksanakan kebijakan yang menindas rakyat etnis Han, yang merupakan penduduk mayoritas Tiongkok. Ini menyebabkan pemberontakan rakyat etnis Han terjadi di berbagai tempat. Pasukan pemberontak tidak hanya berjuang mati-matian melawan pasukan Dinasti Yuan, tetapi juga saling mencaplok satu sama lain dalam rangka persiapan untuk menyatukan kembali Tiongkok setelah menggulingkan pemerintahan Dinasti Yuan.

Luo Guanzhong pada masa muda bergabung dalam suatu pasukan dan memangku jabatan staf umum. Di masa kemudian, pasukan pemberontak pimpinan Zhu Yuanzhang meraih kemenangan terakhir setelah menggulingkan pemerintah Dinasti Yuan dan mendirikan pemerintah Dinasti Ming. Setelah itu Luo Guanzhong pun mundur dari satuannya dan memulai karirnya dalam menciptakan karya sastra.

Novel Sam Kok karya Luo Guanzhong menceritakan kisah sejarah yang berlangsung selama seratus tahun antara tahun 184 sampai tahun 280 Masehi. Dalam proses penciptaan novel itu, Luo Guanzhong mengumpulkan banyak bahan yang berguna, antara lain, catatan sejarah, catatan lepas, novel sejarah yang tidak terbukti dan dongeng rakyat. Dengan pengalamannya semasa berjuang melawan pemerintahan Dinasti Yuan ketika ia bergabung dalam pasukan pemberontak, Luo Guanzhong dengan amat hidup melukiskan pertarungan politik dan militer yang terjadi antara Negara Wei, Negara Shu dan Negara Wu.

Dalam novel Sam Kok, si pengarang dengan cara bertutur yang beraneka ragam menceritakan serentetan pertarungan politik dan militer yang menakjubkan. Ia juga melukiskan banyak figur yang memiliki karakter tersendiri. Dalam novel itu Luo Guanzhong mencatat lebih dari 400 tokoh. Puluhan di antaranya adalah figur utama yang dilukis oleh Luo Guanzhong secara panjang lebar. Figur-figur ini antara lain Cao Cao sebagai Raja Negara Wei yang karakternya penuh tipu muslihat, Zhu Geliang sebagai penasehat Negara Shu yang terkenal sebagai ahli militer, Zhang Fei sebagai jenderal gagah berani Negara Shu yang berwatak terus terang dan kasar tapi kadang-kadang bijaksana, serta panglima pasukan Negara Wu, Zhou Yu yang cerdas dan berambisi tapi berhati sempit.

Luo Guanzhong
Luo Guanzhong pandai menulis waktak seseorang melalui peristiwa-peristiwa sehari-hari. Misalnya mengenai Cao Cao yang cenderung curiga dan penuh tipu muslihat, dalam kisah Sam Kok Luo Guanzhong khusus menceritakan sebuah peristiwa yang antara lain sebagai berikut. Sebelum mendirikan Negara Wei, Cao Cao pada suatu peristiwa dikejar mati-matian oleh pasukan musuh. Dalam perjalanan melarikan diri, Cao Cao dan sahabatnya yang bernama Chen Gong mencari tempat persembunyian di Lv Boshe, teman ayah Cao Cao. Dalam novel itu diceritakan bahwa Pak Lv dengan senang hati menerima Cao Cao.

Ia khusus berbelanja ke luar untuk mentraktir Cao Cao makan. Setelah menunggu lama di rumah Pak Lv, Cao Cao dan sahabatnya Chen Gong tiba-tiba mendengar bunyi mendesah seperti ada orang yang sedang mengasah pisau. Karena mendengar suara ini Cao Cao dan Chen Gong segera lari masuk dapur dan membunuh 8 orang di lapangan. Setelah itu mereka baru menemukan seekor babi yang diikat di dapur untuk disembelih. Nyata sekali Pak Lv dan anggota keluarganya sedang bersiap menyembelih babi untuk dihidangkan kepadanya. Cao Cao dan Chen Gong yang sadar bahwa mereka telah salah membunuh orang buru-buru melarikan diri. Dalam perjalanan melarikan diri, mereka berdua bertemu dengan Pak Lv yang pulang setelah membeli arak dan lauk-pauk.

Cao Cao segera membunuh Pak Lv. Chen Gong yang terkejut bertanya kepada Cao Cao, "Tadi kita sudah salah membunuh orang yang tidak berdosa, kenapa membunuh orang lagi?" Cao Cao menjawab, "Apabila Pak Lv menemukan anggota keluarganya terbunuh setelah pulang ke rumahnya, maka ia pasti akan mencari orang untuk mengejar kita. Lebih baik ia dibunuh supaya kita terhindari dari resiko kemudian." Chen Gong mengatakan: "Sengaja membunuh orang setelah berbuat kesalahan benar-benar tidak berbudi." Mendengar jawaban Chen Gong, Cao Cao berkata "Lebih baik saya menyalahi orang lain, daripada orang lain menyalahi saya". Melalui cerita itu, watak Cao Cao sebagai figur yang cerdas tapi jahat dengan nyata dihadapkan pada pembaca.

Sam Kok karya Luo Guanzhong tidak hanya mempunyai nilai sastra yang tinggi, tetapi juga patut disebut ensiklopedia tentang masyarakat feodal zaman kuno karena telah menyajikan sebuah catatan yang menyeluruh terhadap berbagai aspek masyarakat zaman kuno. Di Tiongkok kini terdapat semakin banyak ahli dan sarjana yang meneliti karya besar Sam Kok sebagai profesi. Mereka menjajaki nilai budaya dan arti realistisnya dari segi sejarah, ilmu tenaga ahli, psikologi, hubungan masyarakat, ilmu strategi, ilmu manajemen, kemiliteran, kesenian dan etika. Sam Kok juga sangat populer di negara-negara lain dan telah diterjemahkan dalam banyak bahasa.

Baca Juga : 3 Strategi Perang China Yang Banyak Ditiru Koruptor Indonesia !

http://www.lintasberita.com/go/134821