Tampilkan postingan dengan label Rumah Unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Unik. Tampilkan semua postingan

Rabu, Desember 14, 2011

Rumah Unik dengan Atap di Bawah

Rumah ini sungguh-sungguh unik karena posisinya terbalik: atapnya di bawah, lantainya di atas. Itulah rumah milik seorang pengusaha dari Polandia bernama Daniel Czapiewski.
rumah terbalik.
Rumah yang dikenal dengan nama “rumah terbalik” (The Upside Down House) itu terletak di desa kecil di Szymbark. “Rumah ini mewakili opini saya tentang era komunis dan akhir zaman,” Czapiewski menjelaskan tentang alasan pembangunan rumah yang memakan waktu 114 hari.

“Ini tantangan bagi kami,” kata Gerhard Mordhorst, tukang kayu yang mengerjakan rumah tersebut. “Kamar mandi adalah ruangan yang paling sulit karena banyak barang-barang berukuran besar,” tambahnya.

Seluruh furnitur di seluruh ruangan, mulai dari ruang tamu sampai kamar mandi, setinggi 7 meter ini pun terletak terbalik. Karena itulah rumah ini tidak untuk ditinggali.

Masih banyak rumah-rumah unik di seluruh dunia, di antaranya adalah rumah bengkok di Suweon, Korea Selatan, rumah berbentuk sepatu di Afrika Selatan, dan rumah mengambang di Ukraina.

http://blog.rumah.com/584/rumah-unik-dengan-atap-di-bawah.html

Minggu, Desember 19, 2010

Rumah Unik : Dapur di Malaysia, Ruang Tamu di Indonesia

Rumah Unik : Dapur di Malaysia, Ruang Tamu di Indonesia Bagaimana rasanya jika rumah yang kita tempati berada di antara dua negara? Inilah yang dialami keluarga Mappangara (45) dan Hasidah (37) . Ruang tamunya berada di Indonesia, namun dapurnya berada di wilayah Malaysia.
Rumah Mappangara tergolong biasa. Rumah panggung khas suku Bugis, yang didominasi oleh kayu dan seng. Namun yang membuat rumah ini istimewa karena letaknya persis di garis patok III Desa Aji Kuning, Pulau Sebatik, Nunukan, Kaltim, yang persis berada di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia.

Karena berada di garis batas, wilayah rumahnya pun ‘terbelah’. Di ruang tamunya, yang berukuran sekitar 3X4 masuk wilayah Indonesia, sedangkan dapurnya yang berukuran 2×3 telah masuk wilayah Malaysia. Pulau Sebatik satu-satunya pulau di perbatasan yang terbagi dua, Sebatik Induk milik Indonesia dan Sebatik Barat milik Malaysia.

“Gara-gara letak rumah saya ini, sudah banyak wartawan yang pernah datang,” ujar Mappangara.

Rumah Mappangara ini adalah satu-satunya rumah yang persis di tengah perbatasan, karena letak ruang tamunya yang menjorok dan tak selurus dengan rumah-rumah tetangganya. Rumah-rumah yang ada di samping rumah Mappangara keseluruhan telah masuk wilayah Malaysia.

“Meski rumah saya di perbatasan, saya adalah warga Indonesia, karena asal saya memang Indonesia. Tetangga-tetangga saya juga begitu, kami orang Indonesia,” terangnya.

Mappangara mempunyai KTP Indonesia, dan tidak mempunyai KTP Malaysia. Di rumah-rumah warga yang ada di perbatasan, di pintunya ditempel stiker merah putih berukuran kecil.

Kebanyakan warga di Desa Aji Kuning adalah warga keturunan perantau Bugis. Logat mereka pun percampuran antara dialek Melayu dan Bugis. Demikian pula dengan Mappangara, ia dan seluruh keluarganya adalah keturunan Bugis yang telah mendiami wilayah itu puluhan tahun.

“Saya baru sepuluh tahun di rumah ini, sebelumnya mertua saya yang menempati,” ucapnya.

Sebagian keluarga Mappangara juga sebagiannya tinggal di Tawao, pulau yang merupakan wilayah Malaysia. Sebagian keluarga di desa itu memang memilih tinggal di Tawao untuk mencari nafkah.

“Keluarga saya juga ada di Tawao,” ujar Anwar, tetangga Mappangara.

http://www.lintasberita.com/go/1537679