Tampilkan postingan dengan label Ceng Beng 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceng Beng 2013. Tampilkan semua postingan

Minggu, April 07, 2013

Suka Duka Bagi Penziarah Ceng Beng Di Jambi

JAMBI, ayojambi.com - Perayaan Ceng Beng 清明 adalah untuk membersihkan makam orangtua, sanak famili maupun leluhur, agar para arwah orangtua, keluarga, maupun leluhur yang telah tiada dapat merasa tentram dan istirahat di tempat terakhir dan sambil berdoa dan sembahyang sesuai agama kepercayaan serta sesuai dengan caranya masing-masing.
Tenyata berbagai kendala dapat ditemuikan para penziarah, karena setiap orang yang hendak melakukan ziarah, wajib membeli kupon yang bervariasi harganya, sesuai dengan besar kecilnya makam yang akan di ziarah, mulai dari ukuran makam besar (type A) seharga Rp. 100.000, makam sedang (type B) Rp. 75.000, dan makam kecil dari keluarga tidak mampu (type C) seharga Rp. 30.000, uang tersebut untk membiayai para pekerja membersihkan makam, para pekerja keamanan dan konsumsi panitia.

Namun masih ada biaya yang mesti dikeluarkan oleh para penziarah di makam, seperti para pembersih meminta uang tambahan, uang parkir permotor Rp. 5000 dan anak-anak yang meminta-minta kepada penziarah seusai orang sembahyang, belum lagi kalau mau tambah tanah permakan bisa dipungut Rp. 100.000 sampai dengan Rp. 200.000 sesuai dengan nego penziarah dengan pekerja.

Jika penziarah tidak memberikan, takutnya makam orangtua/ keluarga dirusak mereka, semestinya Yayasan yang mengelola TPU Masyarakat Tionghoa mesti tegas kepada para pungutan liar saat warga lakukan Ceng Beng :Ziara” di kuburan kilometer 7,5, yang terletak di Jalan Kapten Pattimura, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi.
Menurut panitia Ceng Beng, hal itu tidak mungkin bisa diawasi pihaknya (panitia), diharapkan agar warga yang lakukan ziarah Ceng Beng dapat memberikan toleransi kepada mereka, “Apa salah setahun sekali berikan sedikit uang kepada mereka’ Ujar Mulyadi.

Sedangkan menurut Acai penziarah, makam orangtuanya yang kecil, membayar Rp. 75.000, pada hal biasa dia (Acai) hanya membayar tiket sebesar Rp. 30.000 (type C), dibelakang nisan ditulis “C”.

Bagi masyarakat Tionghoa, penghormatan kepada orang tua, baik kepada yang masih hidup maupun kepada yang sudah meninggal, merupakan sebuah kebudayaan sejak jaman dahulu kala.

Relasi antar manusia dalam tradisi Tionghoa tidak akan hilang, meskipun kematian telah memisahkan orang dari kehidupan di dunia ini. Karena itu tidak heran kalau dalam setiap keluarga penghormatan kepada leluhur menjadi bagian penting dalam kehidupan bersama.

Orang yang tidak lagi menghormati leluhur yang telah meninggal dianggap sebagai seorang anak durhaka, sebab mereka melupakan asal usul dan jasa dari para pendahulunya, bahkan melupakan akar kehidupannya sendiri. Maka suka atau tidak dengan sangat terpaksa mereka penziara merogoh kantong untuk membayar kepada para pungutan liar daripada makam orangtuanya dirusak.!!! Sebagian lagi warga mengkremasikan tulang-tulang jasad orangtua mereka, lalu disemayamkan di Vihara.

Yang tak kalah hebat adalah, pendopo atau tempat untuk istirahat sementara masyarakat yang datang ziarah, namun sangat memperhatinkan, karena pendopo sudah tidak terbentuk lagi bangunannya. Ujar salah satu penziarah yang datang dari luar daerah, “Pendopo ini sangat memprihatinkan, dimana atapnya seperti bekas terbakar dan tidak memiliki toilet” katanya sambil berlalu didepan pendopo. (Romy)

Kamis, April 04, 2013

Hujan Tidak Menghalangi Keluarga Robin Sembahyang Ceng Beng Di Jambi

JAMBI, ayojambi.com – Hujan deras yang menguyuri Kota Jambi sejak dini hari, tidak menyuluti niat warga Tionghoa Kota Jambi melakukan Ziarah (ceng beng 清明) ke makam orangtua, keluarga meupun leluhur mereka yang dimakankan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) masyarakat Tionghoa yang terletak dikawasan kilometer 7,5, Jalan Kapten Pattimura, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi. Mereka datang berziarah (ceng meng/qingming 清明) bersama istri dan anak, bahkan ada yang datang dari luar daerah/kota.
Bagi mereka tidak ada kata halangan untuk melakukan ziarah (ceng beng), dimanapun mereka berasa dan sesibuk apapun bagi mereka, setahun sekali mereka harus kembali ke kampung halaman untuk melakukan ziarah bersama di makam orangtua maupun sanak famili (leluhur) mereka.

Ziarah (ceng beng) merupakan salah satu sembahyang wajib bagi seluruh masyarakat Tionghoa untuk mengenang kembali kepada orangtua maupun leluhur dan memberikan penghormatan, baik kepada orangtua maupun para leluhur, prosesi sembahyang ceng beng dimulai dengan menyalakan sepasang lilin dan dupa, kemudian dilanjutkan dengan berlutut dan berdoa Tho Tie Kong (baca dewa Bumi). Setelah itu, barulah bersembahyang di makam leluhur atau orangtua dan berdoa didepan nisan.

Robin, salah seorang pengusaha dok kapal, PT. Naga Cipta Central pagi tadi bersama rombongan keluarga melakukan ziarah (ceng beng) tujuh makam leluhur yang dimakamkan secara terpisah.

Pada umumnya mereka datang membawa membawa aneka sesajian, diantaranya aneka jenis kue, buah-buahan dan makanan kesukaan almarhum-almarhumah, serta tidak ketinggalan membawa kertas sembahyang berwarna emas (kim cua) dan perak (gin cua) untuk untuk dibakar atau dikirim kepada leluhur.

Sedangkan dari pihak keluarga selalu memohon kepada orangtua/ leluhur agar diberikan berkah kesehatan, keselamatan dan keluarga aman sentosa, ada juga yang memanjatkan doa agar dipermudah rejeki dan dilancarkan usahanya, serta mendoakan arwah leluhur agar tenang dan bahagia di alam baka.

Setelah ziarah ke makam leluhur, keluarga besar Robin juga melakukan sembahyang di rumah masing-masing.

Tahun ini boleh dibilang cukup tertib dibanding tahun lalu, setiap kendara diatur sedemikian rupa agar jalan masuk mau keluar tidak mengalami macet total seperti tahun lalu.

Kata Mulyadi, “Tahun ini lebih bagus dari tahun lalu, karena tahun ini kita arahkan pintu utama untuk masuk kendaraan dan pintu dua, kita atur untuk keluar kendaraan,” tahun penziarah meningkat dibandingkan tahun lalu, pasalnya ceng beng tahun lebih bagus, maka yang datang berziarah hampir 70%. Total makam yang ada di TPU Masyarakat Tionghoa lebih kurang 6.000 makam. Kata Mulyadi (Romy)

Penghormatan Kepada Leluhur Di Hari Ceng Beng/ Qing Ming

JAMBI, ayojambi.com - Hari ini ratusan warga Tionghoa Jambi sejak pagi hari telah memadati tempat pemakaman umum (TPU) masyarakat Tionghoa di kilometer 7,5 yang berlokasi di Jalan Kapten Pattimura, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Kotabaru, mereka datang bersama keluarga untuk sembahyang Ceng Beng/ Qing Ming (Ziarah) yang tahun ini jatuh pada tanggal 4 April 2013, mereka datang bersama keluarga dengan membawa berbagai perlengkapan sembahyang maupun aneka sesajian kesukaan orangtua (leluhur).

Keluarga besar Sukirman Johan, sejak pagi hari telah datang bersama ibunda, istri serta saudara-saudaranya, walaupun di kota Jambi sejak dini hari turun hujan deras, namun hujan tidak menulutkan niat mereka untuk mengunjungi makam orangtuanya untuk melakukan sembahyang Ceng Beng (Ziarah), sebelum prosesi Ceng Beng dilakukan, terlebih dahulu mereka bersih-bersihkan nisan dan pelataran makam, ada yang diatas makam diletakkan kertas sembahyang jenis perak (gin cua) dan emas (kim cua) maupun kertas kuning kecil memanjang, selanjutnya disekeliling makam dikasih bunga-bunga segar yang sengaja di taman sendiri ibunda Sukirman Johan.

Sukirman Johan bersama istri dan kakak-kakanya lakukan sembahyang bersama didepan nisan orangtuanya Tju Bun Cheng, diatas meja nisan tersedia berbagai sesajian kesukaan almarhum orangtuanya Sukirman Johan.

Sukirman Johon mengatakan, sembahyang kubur merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur. “Setiap tahun, kita sekeluarga melakukan sembahyang di makam orangtua”, ungkapnya. (Romy)