Tampilkan postingan dengan label Berdana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berdana. Tampilkan semua postingan

Minggu, Oktober 16, 2011

Bhikkhu Jaya Manggala Pindapatta Keliling Kota Jambi

JAMBI - Ratusan umat Buddha di Jambi, hari Minggi (16/10) pagi berjejel di hlaman Yayasan Jaya Manggala Jambi yang terletak di jalan Gajah Mada, Nomor 23, Rt. 28, Kelurahan Lebak Bandung, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi.
Mereka datang untuk menyambut iringan-iringan para Bhikkhu yang dipimpin langsung oleh YM. Bhikkhu Atimedho Thera, sejak pukul 07.00 pagi mereka berdiri disisi kiri halaman Yayasan Jaya Manggala menanti dimulainya Pindapatta, Pindapata mulai pukul 08.00.

Pindapatta kali ini terkesan kurang tertib dan para panitia kurang sigap dalam menghatur jalannya Pindapatta, karena Pindapatta dilakukan dua sisi, sehingga membuat para Bhikksu kewalahan mau terima yang berada di sisi kanan apa yang berada di sisi kiri, ahirnya umat saling berusaha untuk berdana.

Pindapata yang terbagi tiga (3) kelompok (rute) dengan berjalan kaki dari satu rumah ke rumah yang lain dan diikuti ratusan umat, kelompok satu (1) meliputi rute Jalan HMO. Bafadha, Pasar Honh Kong, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Gatot Subroto, Jalan Veteran, Jalan Dr. Wahidin, Jalan Mr. M. Roem, Jalan Dr. Sam Ratulangi dan finis di Kebun Bungo, kelompok dua (2) dengan rute Stadiun Tri Lomba Juang Koni menelusuri jalan Panglima Polim, Jalan Brigjen Katamso, Lorong Kuningan, terus ke Jalan Orang Kayo Hitam dan finis di Lorong Budiman sedangkan kelompok ketiga (3) meliputi rute star Vihara Jaya manggala ke Jalan CokroAminoto, Jalan M. Yamin finis di Paman PKK Simpang Pulai, masing-masing kelompok diperkirakan menempuh perjalanan lebih kurang tiga kilometer (km).

Ujar Sekretaris Yayasan Jaya Manggala, dr. Erdiyanto, “Pindapatta adalah salah satu tradisi yang dilakukan oleh para Buddha terdahulu dan diikuti oleh para siswanya hingga kini,” Bhikkhu Sangha adalah ladang subur bagi kita untuk menanam benih kebajikan, maka kita memanfaatkan kesempatan emas tersebut dengan berdana kepada Bhikkhu Sangha.

“Pindapatta” berasal dari bahasa Pali, yang artinya menerima persembahan makanan, sedangkan yang disebut Patta/Patra adalah mangkok makanan yang digunakan oleh para Bhikkhu.

Tambah dr. Erdiyanto, bagaimana cara dan apa saja yang dapat kita berikan dalam upacara Pindapatta.? Diantaranta.

1. Persiapkanlah dana anda dengan sebaik-baiknya dan perasaan tulus dan ikhlas.

2. Dana yang diberikan berupa makanan, seperti : nasi, lauk-pauk, kue-kue (vegetaris/ ciak cai), buah-buahan, atau jenis makanan lainnya. Untuk kepraktisan bisa juga diberikan dalam bentuk dana uang (angpao), tetapi pada waktu memberikan anda harus membayangkan bahwa yang diberikan adalah makanan (dengan uang itu bisa dibeli makanan). Bahkan kalau ada umat yang tidak mampu berdana, memberikan sekantong air minum pun sudah dianggap dana yang baik.

3. Berdirilah dalam barisan yang rapi sesuai dengan petunjuk petugas/ panitia, jangan berebut tempat, berdesak-desakan, dan menimbulkan suara gaduh (ribut), selama pindapatta berlangsung suasana harus tenang dan hikmat.

4. Bila Bhikkhu/Bhikkhuni yang menerima dana berjalan tanpa alas kaki, maka umat yang berdana pun harus melepaskan alas kakinya.

5. Dana diberikan dengan sopan dan penuh hormat, dengan jalan memasukkan dana tersebut langsung kedalam patta/ patra yang dipegang oleh sang Bhikkhu/ Bhikkhuni.

6. Setelah dana diberikan, umat bersikap anjali (kedua telapak tangan dirangkapkan di depan dada) dengan penuh hormat dan perasaan bahagia.

7. Tetaplah berdiri pada tempat anda sampai pindapatta selesai. (romy)

Senin, November 22, 2010

Kathina, Merupakan Hari Berdana

JAMBI - Gema Kathina telah tiba berkumandang sejak sebulan lalu, genta dan doa di setiap vihara maupun cetiya dimana-mana,
disetiap sudut kota besar maupun kota kecil umat Buddha telah mempersiapkan segalanya untuk puja bakti maupun perayaan ”Hari Sangha” tersebut, demikian juga dengan Cetiya Oenang Hermawan Jambi yang beralamat di Jalan Makalam No. 10A Rt. 17 Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, Minggu (21/11) sejak pukul 17.00 WIB ratusan umat telah berdatangan ke Cetiya Oenang Hermawa untuk mengikuti prosesi Perayaan Hari Kathina 2554.BE/2010.

Kathina diadakan setelah para bhikkhu/ bhikkhuni menyelesaikan masa Vassa selama 3 (tiga) bulan penuh. Vassa (baca wasa red) merujuk pada musim dimana pada musim tersebut para Bhikkhu/ bhikkhuni Sangha tidak diperkenankan keluar dari vihara maupun cetiya seperti pada hari-hari biasa. Para bhikkhu/ bhikkhuni, yang tinggal disuatu tempat dimana mereka bertekad untuk berVassa selama tiga bulan, harus menentukan tempat itu sebagai tempat tinggal selama Vassa.

Perayaan Hari Kathina tahun ini dipimpin langsung oleh Bhikkhu Sangha terdiri dari
Para bhikkhu agung terdiri dari Bhikkhu Phra Boonsuk Sukhapunyo, Phra Kamsai Pomsiri, Phra Hut Pantikto, Phra Rat Soon Sopin, Phra Suksanonwan, Phra Aus Sadanut Srisatittum, Phra Saksakol, Phra Maha Keattikun Chotirat, Phra Prapan Lukmun, prosesi dimulai pukul 18.00 WIB diawali Penyalaan lilin dan dupa oleh para Bhikkhu, Namaskara Hatha, Aradhana Pancasila, Pembacaan Paritta, Dhammadesana, Dana Kathina, Anomodana Kathina, Pemercikan air Paritta, Etavatta, Namaskara Gatha dan ramah tamah, acara berakhir sekitar pukul 21.00 WIB.

Hari Kathina merupakan suatu kesempatan baik bagi umat Buddha untuk menunjukkan rasa hormat dan terima kasih kepada Bhikkhu Sangha atas bimbingan Dhamma yang diberikan oleh mereka. Hari Kathina juga merupakan suatu momen yang baik bagi umat Buddha atau siapa saja untuk melakukan melakukan dana kepada Sangha yang merupakan ladang yang subur untuk menabur perbuatan baik. Pada Hari Kathina ini para umat bisa memberikan dana berupa: 1. civara (jubah) 2. ahara (makanan) 3. sena-sana (tempat tinggal) dan 4. besajja (obat-obatan).

Menurut Bhante Kamsai dengan mempersembahkan dana Kathina kepada Bhikkhu Sangha akan memperoleh usia panjang, kecantikan, kebahagian dan kekuatan.

“Setelah tiga bulan masa Vassa selesai, maka umat datang ke Vihara atau Cetiya untuk mempersembahkan dana kathina, persembahan dana Kathina selama satu bulan dalam setahun, sedangkan pahala dari persembahan Kathina itu sangat besar bagi umat yang bersangkutan“ (rom).

http://www.ayojambi.com
http://www.banyurawa.com
http://www.media-nusantara.blogspot.com/
http://www.multmedia.multiply.com/
http://www.tradisi-jambi.blogspot.com/
http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://multi-video.blogspot.com/
http://youtube.com/my_videos
http://komunitas-jambi.blogspot.com/
http://cetiyaoenang.blogspot.com/

Minggu, November 21, 2010

Berpindapatta Kepada Bhikku Sangha

JAMBI – Sebanyak sembilan bhikku dari Thailand memakai jubah warna cokelat, Minggu (21/11) pagi menghampiri umat yang berbaris di halaman Maha Cetiya Oenang Hermawa di Jalan Makalan No. 10, Kelurahan Cempaka Putih,
Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, mereka telah berdatangan sejak pukul 07.00 di Maha Cetiya Oenang Hermawan untuk berdana kepada bhikkhu sangha agung.

Dalam pindapatta di Kota Jambi kali ini, para bhikku membawa patta yang dalam bahasa Pali (India,red) berarti mangkuk, menyusuri halaman cetiya untuk mendapat dharma berupa makanan, minuman, kebutuhan sehari-hari dari umat. Di sepanjang halaman, puluhan umat memberikan beraneka ragam keperluan makan ke pada bhikku yang telah melepas 'hidup' nya karena melayani umat.

Para bhikkhu agung terdiri dari Bhikkhu Phra Boonsuk Sukhapunyo, Phra Kamsai Pomsiri, Phra Hut Pantikto, Phra Rat Soon Sopin, Phra Suksanonwan, Phra Aus Sadanut Srisatittum, Phra Saksakol, Phra Maha Keattikun Chotirat, Phra Prapan Lukmun.

Pindapatta/ Pindapattra merupakan tradisi dikalangan umat Buddha di mana para bhikkhu Sangha Agung Indonesia berkeliling demi memperoleh persembahan dari umat berupa uang atau makanan. Para bhikkhu wajib berjalan kaki di bawah teriknya matahari tanpa alas kaki. Mereka membawa Patta (mangkok) sambil terus berjalan dengan kepala tertunduk.

Pindapatta, yaitu sebuah tradisi umat Buddha untuk melakukan dharma atau kebaikan kepada para bhikku yang merupakan pemimpin ibadat umat Buddha, dengan memberikan makanan atau obat-obatan dalam patta yang berada di tangan mereka.

Di Jambi ini masih belum banyak yang tahu mengenai hal itu. salah seorang pengurus cetiya, Darma Pawarta Oenang yang biasa disapa Hasan, mengatakan, sebenarnya di Thailand tradisi Buddhis semacam ini dilakukan setiap hari oleh penduduk setempat. "Ini adalah kewajiban harian, di Thailand setiap pagi umat melakukannya," kata Hasan.

Di negara Anchor Watt itu terdapat ribuan umat Budha yang melakukan tradisi itu sejak lama. Di sana bhikku hidup dari dharma umat.

Seusai berpindapatta, para bhikkhu melepaskan ratusan burung (fang shen) ke alam bebas diiringi pembacaan doa dan pemercikan air suci (bressing).

Tujuan pelepasan satwa kehabit asli tersebut, adalah untuk melestarikan serta mengembang biakan satwa-satwa dari kepunahan, hingga mereka (satwa) itu dapat hidup bebas dan berkembang biak.

“Jadi pengertian Fang Shen yang sebenarnya adalah membantu mahluk hidup melepaskan dari penderitaan/ keterikatan.”

Maka dari itu sikap mahluk hidup tak pernah lepas dari rasa tolong menolong termasuk tumbuh-tumbuhan. Seandainya mereka bisa berbicara, tentu mereka akan tolong, agar kita jangan menyiksa mereka.