Tampilkan postingan dengan label Anak Cacat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak Cacat. Tampilkan semua postingan

Minggu, Juni 15, 2014

Meski Tak Punya Tangan dan Kaki Bocah Kelas V SD Ini Tetap Bersemangat

TRIBUNNEWS.COM, BANYUMAS - SETIAP manusia yang hidup di dunia ini, masalah silih berganti selalu datang dan pergi dengan sendirinya. Baik masalah ringan sampai yang berat.
Karena masalah manusia menderita depresi, sakit bahkan sampai ada yang nekat menghentikan hidupnya dengan bunuh diri.
Tapi hal ini tidak berlaku bagi Ahmad Suroto (14), bocah kelas V SD Negeri 3 Sanggreman asal Desa Sanggreman Kecamatan Rawalo Banyumas, yang mempunyai kekurangan yakni tidak punya kaki dan tangan, namun tetap semangat untuk menjalani hidup meski dirinya mempunyai kekurangan fisik.

Kelainan yang dideritanya sejak lahir, membuat bocah laki-laki berambut cepak itu, dalam keseharianya untuk berjalan ke sekolah yang berjarak sejauh 1,5 kilometer ataupun bermain dengan teman sebayanya dia menggunakan kaki palsu dan tanpa tangan.

Lahir dengan keadaan cacat permanen tanpa ada kejelasan medis, tidak membuat orangtuanya patah semangat membesarkan Ahmad. Melalui kasih sayang orang tua dan saudara kandungnya, bocah yang akrab dipanggil mamat kecil itu tumbuh dan besar dalam limpahan cinta dari keluarganya.

Ibu Ahmad, Ruswati (38) menceritakan, sebelum putera keduanya lahir, dia tidak mempunyai firasat apapun itu terkait kelahiran putera keduanya yang mempunyai kekurangan kondisi fisik.

"Empat belas tahun lalu, selama 9 bulan mengandung Ahmad, semuanya berjalan dengan normal, tidak ada tanda-tanda kelainan yang saya alami, bahkan setiap periksa ke dokter, dinyatakan sehat bayinya. Memang dulu saya tidak pernah cek USG, namun setelah lahirnya dia (Ahmad) dengan kondisi yang mempunyai kekurangan, pertama kali saya melihatnya memang sangat sedih dan tidak tega untuk melihatnya,"kata Ruswati sembari mengusap kepala putra kedua kesayanganya itu.

Dia menambahkan, saat mengetahui putra keduanya yang lahir tanpa kaki dan tangan, selama beberapa saat, dia bertanya-tanya kenapa bisa terjadi kondisi hal tersebut.

Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter, keluarga dan beberapa orang dekatnya untuk tetap bersemangat dan mengasihi anak kandungnya itu pun, membuat ibu dari Ahmad lambat laun bisa menerima keadaan dari sang anak yang mempunyai kekurangan atau berkebutuhan khusus.

"Memang saya dulu sempat bertanya-tanya, ada apa dengan anak saya ini, apa yang membuat anak saya terlahir mempunyai kekurangan cacat fisik seperti ini. Namun, saya menerima anak ini sebagai titipan allah dan akan selalu merawat dan menjaganya hingga besar nanti,"ungkapnya.

Ahmad sudah 4 tahun berjalan dan beraktivitas dengan kaki palsunya. Menurut ibunya, Ahmad adalah anak yang paling berani dan luar biasa. Ahmad dalam keseharianya seperti anak-anak seumuranya, pandai bergaul dan tidak memiliki masalah dengan teman-temanya.

Bahkan, Ahmad yang sangat menyukai permainan sepakbola itu, sering kali setiap sore bermain bola ataupun bersepeda dengan teman-teman seumuranya di lapangan yang tidak jauh dari kediamanya.

"Walaupun saya tidak memiliki kaki tidak akan menghentikan saya untuk bisa bermain bola dan naik sepeda ," begitu ucap Ahmad dengan nada yang penuh ketegasan.

Ketika ditanya negara mana yang menjadi favorit dan keluar menjadi juara pada gelaran piala Dunia 2014 ini, Bocah yang merupakan penggemar tim sepakbola Brazil itu pun, dengan mantap menjawab, Argentina memang favorit saya, tapi Brazil bisa juara.

"Brazil itu banyak pemain bagus, ada neymar dan oscar, tapi saya paling suka sama pemain argentina messi,"jelasnya.

Ahmad sudah sejak empat tahun lalu sudah dilengkapi dengan kaki palsu baru yang diperoleh dari bantuan Rumah sakit Islam Purwokerto, dengan bergerak sendi lutut, yang benar-benar membantunya.

"Tanpa pakai kaki palsu, saya masih bisa lari kok, apalagi buat main bola, masih bisa untuk gocek bolanya itu,"kata Ahmad.

Namun, saat ini, satu pasang kaki palsu itu pun ukuranya mulai sesak. Maka dari itu, dia berharap kepada siapa saja yang bisa membantu untuk memberikan bantuan kepadanya.

"Sepatu ini sudah mulai sesak, memang masih bisa digunakan, saya harap ada yang bisa bantu,"jelasnya.

Bocah yang tinggal di lingkungan keluarga yang sederhana itu pun, dalam keseharianya juga menyukai memelihara beberapa jenis burung. Hal itu dilakukan juga untuk mengisi waktu luangnya setelah usai bersekolah.

"Saya memang suka pelihara burung kutilang dan dara ini, pelihara dari kecil sampai agak besar, nanti burung ini saya jual dan uangnya di tabung untuk beli perlengkapan sekolah," ungkapnya.

Menurutnya, meski dia tidak mempunyai tangan dan kaki, Ahmad masih bisa melakukan menulis, menggambar ataupun membantu mengangkat sesuatu.

"Saya tidak akan pernah menyerah dan akan berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam hidup saya. Saya  hanya ingin memberitahu kalian bahwa dengan keadan seperti saya ini bukanlah akhir segalanya,"jelasnya.

Dia mengakui, yang terpenting adalah bagaimana setiap orang mengakhiri sesuatu. Mengakhirinya dengan tegar. Dan setiap orang akan menemukan kekuatan untuk menjalani hidup di dunia ini, meski mempunyai kekurangan.

"Sejujurnya saya masih berdoa diberi Tuhan tangan dan kaki. Tapi saya tidak akan berkecil hati kalu Tuhan tidak memberinya untuk saya. Tidak berarti saya kecewa, saya akan tetap bahagia dan baik-baik saja untuk menjalani hidup,"jelas Ahmad. (*)

https://id.berita.yahoo.com/meski-tak-punya-tangan-dan-kaki-bocah-kelas-030528783.html

Selasa, Maret 11, 2014

Pria Ini Setiap Hari Gendong Anaknya yang Cacat 16 Km ke Sekolah

BEIJING, KOMPAS.com — Seorang pria asal Fengyi, Provinsi Sichuan, China, membuktikan bahwa dirinya adalah ayah yang sangat mencintai putranya meski putranya itu menderita cacat sehingga tak bisa berjalan.
Dengan segala keterbatasan putranya itu, Yu Xukang (40) tetap menginginkan putranya yang kini berusia 12 tahun itu mengenyam pendidikan. Sayangnya, selain kondisi putranya yang cacat, minimnya sarana transportasi dari desanya menuju sekolah terdekat menjadi kendala.

Sebagai solusi, Yu memutuskan untuk menggendong putranya menyusuri jalan tanah dan berbatu sejauh 8 kilometer untuk mengantar putranya bersekolah. Tak hanya itu, Yu juga menjemput dan kembali menggendong putranya saat sekolah usai. Jadi, dalam sehari Yu harus berjalan dan menggendong putranya hampir 16 kilometer.

"Saya tahu putra saya memiliki keterbatasan fisik, tetapi tak ada yang salah dengan otaknya. Sayangnya, tak ada sekolah yang bisa menerima dia di sini," kata Yu.

"Satu-satunya sekolah yang mau menerimanya hanyalah di SD Fengyi yang jauhnya sekitar 8 kilometer dari desa kami," ujar Yu.

Yu bercerai dengan istrinya sembilan tahun lalu saat Xiao, sang putra, baru berusia tiga tahun. Yu akhirnya memutuskan untuk membesarkan Xiao sendiri. Yu bertekad putranya tidak akan menderita meski hanya diasuh satu orangtua dan berusaha memberi yang terbaik untuk anaknya itu.

Karena tak ada bus sekolah atau transportasi publik yang bisa mengantar anaknya itu ke sekolah, maka Yu memutuskan satu-satunya alternatif adalah menggendong Xiao saat berangkat dan pulang sekolah.

Yu memperkirakan bahwa dia sudah berjalan lebih dari 2.500 kilometer naik dan turun bukit selama mengantar anaknya bersekolah.

"Putra saya tak bisa berjalan sendiri sehingga dia juga tak bisa naik sepeda. Dia sudah berusia 12 tahun, tetapi tingginya hanya 90 cm," ujar Yu.

"Namun, saya bangga dia kini menjadi salah satu murid dengan nilai terbaik di kelasnya dan saya tahu dia akan mencapai banyak hal hebat. Saya ingin dia bisa kuliah di universitas," Yu berharap.

Setelah kehidupan Yu Xukang dibahas banyak media China, kemudian pemerintah lokal memutuskan akan menyewakan rumah bagi Yu dan putranya di dekat sekolah sehingga Yu tak perlu menggendong putranya itu terlalu jauh.

Selain itu, sekolah Xiao juga akan memiliki asrama dan Xiao bisa menjadi penghuni asrama sehingga bisa mengurangi beban sang ayah.

http://internasional.kompas.com/read/2014/03/11/1814080/
* www.ayojambi.com/