Senin, Februari 28, 2011

Ditemukan Tempayan Kuburan Kuno

JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Benda-benda peninggalan prasejarah ditemukan oleh Muhammad Busri (56) warga Desa Sungai Gelam, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, awal Januari lalu.

Satu buah tempayan yang digunakan sebagai kuburan kuno, terbuat dari tanah liat berwarna coklat dengan tekstur agak halus dan padat ditemukan Busri di belakang rumahnya saat mau menggali tanah untuk septictank.
Tempayan kuburan tersebut berbentuk badan bulat lonjong tanpa lingkar kaki, dengan bahu landai hingga batas leher, tinggi 37 cm dan berdiameter 33 cm. Bersamaan dengan tempayan kubur ditemukan juga 7 buah periuk, 2 buah kendi, 1 buah senjata berupa parang, dan 2 buah mata uang logam (koin).

Kepala Seksi Pelestarian Pemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi Rusmeijani Setyorini didampingi stafnya Novie Hari Putranto kepada Tribun, Minggu kemarin mengakui adanya temuan benda cagar budaya berupa tempayan kuburan, periuk, kendi, senjata dan uang logam.

Setyorini menduga, benda-benda cagar budaya tersebut berasal dari masa tradisi prasejarah. "Masa tradisi prasejarah itu terus berlangsung hingga sekarang. Pelestarian awal kita lakukan peninjauan lokai penemuan seperti yang dilaporkan oleh M Busri kepada kita," ungkap Setyorini.

Menurut dia, temuan ada kemiripan dengan Situs Lebak Bandung Jambi, dan Situs Sentang Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan.

Dikatakannya, temuan itu di belakang rumah Busri Jalan Bumi Perkemahan RT 02 Sungai Gelam, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi. "Kita sudah minta Balai Arkeologi Palembang untuk meneliti benda-benda cagar budaya itu. Dan Jumat lalu, tim dari Arkeologi sudah turun ke lokasi," ujarnya.

http://jambi.tribunnews.com/2011/02/28/ditemukan-tempayan-kuburan-kuno

Tempayan dari Tradisi Prasejarah

JAMBI, TRIBUNJAMBI.COM - Retno Purwanti tim peneliti dari Balai Arkeologi Palembang yang dhubungi Tribun via telepon Minggu (27/2) mengatakan, dia dan beberapa petugas Balai Arkeologi Palembang sudah meninjau ke Sungai Gelam. "Dugaan sementara, tempayan kuburan itu berasal dari tradisi prasejarah. Tapi kita masih meneliti," katanya.
Retno memperkirakan khusus tempayan digunakan untuk kuburan sekunder. Maksudnya, jasad yang sudah terkubur digali lagi dengan ritual tertentu, dan diambil tulang belulangnya. Lalu, dimasukkan ke dalam tempayan, kemudian dikuburkan lagi.

Muhammad Busri mengakui pernah menemukan tempayan, periuk, kendi, uang logam kuno dan senjata. Namun, dia lupa tanggal dan hari penemuan tersebut. Hasil temuan itu sangat di luar dugaan, karena membuat heboh desanya. Selain itu para pemburu harta karun pun berbondong-bondong datang ke tempatnya.

Kata Busri, benda-benda yang menjadi incaran pemburu harta karun itu ia temukan di belakang rumahnya saat mau menggali tanah untuk membuat septictank.

"Waktu itu saya mau menggali tanah, tiba-tiba ada seperti genteng. Padahal rumah saya tidak beratap genteng kok bisa muncul. Lalu kami gali lagi, dan rupanya muncul lagi di sebelahnya," ujar Busri kepada Tribun.

Lantas temuan tadi dia laporkan ke Museum Negeri Jambi. Namun, oleh petugas museum disarankan ke BP3 Jambi. "Ya, tentulah saya laporkan ke pihak yang berwenang. Dan petugas BP3 pun langsung turun ke lapangan dan memotret temuan saya tersebut. Sekarang benda-benda cagar budaya itu masih tersimpan di rumah saya," katanya.

M Busri mengatakan jerih payahnya harus diganti dengan imbalan yang wajar. "Saya tidak mematok tarif, namun upaya penemuan ini, dengan kerja keras menggalinya, mesti diganti dengan imbalan yang wajar," ujar Busri.

http://jambi.tribunnews.com/2011/02/28/tempayan-dari-tradisi-prasejarah

LP Nusakambangan Otak Bisnis Sabu di Jawa

JAKARTA, KOMPAS - Badan Narkotika Nasional (BNN) membongkar jaringan sabu yang dikendalikan dari Penjara Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Jaringan yang dipimpin "Jenderal Besar" Yoyo ini diduga mampu memasarkan 10 kilogram sabu senilai Rp 20 miliar, setiap harinya. Dia sudah menjalankan aksinya selama delapan tahun. Demikian diungkapkan, Direktur Narkotika Alami BNN, Brigadir Jenderal
Benny Joshua Mamoto, Senin (28/2/2011) siang.
Ia mengatakan, setelah beberapa pekan mengamati seluruh lingkungan penjara di Tanah Air terungkap, ada jaringan besar dari penjara Nusa Kambangan yang mengendalikan hampir seluruh perdagangan sabu di lingkungan penjara maupun pasar sabu di Pulau Jawa.

"Nama tersangka utamanya adalah Yoyo. 'Jenderal besar' ini dipenjara 22 tahun karena menjadi bandar Narkoba. Sementara ini baru kami ketahui, dia dibantu dua sipir penjara di Nusa Kambangan," papar Benny.

Kedua sipir kini masih diperiksa di BNN, sedang Yoyo masih dalam perjalanan menuju BNN. Benny menduga, ketiganya dibantu puluhan narapidana dan sejumlah sipir penjara di beberapa tempat.

Dengan bantuan mereka, Yoyo dan kawan-kawan memasarkan sabu ke tujuh penjara di lingkungan penjara Nusa Kambangan, ke hampir seluruh penjara di Tanah Air, dan pasar gelap sabu di Pulau Jawa. "Hasil penyelidikan sementara menghasilkan dugaan, jaringan ini sanggup memasarkan 10 kilogram sabu setiap harinya. Yoyo mengaku sudah delapan tahun menjalankan bisnis menggiurkan ini," tutur Benny.

Pada bagian lain Benny mengharapkan agar Presiden mempercepat proses hukuman mati kepada para terpidana Narkoba besar untuk mengejar target Indonesia bebas Narkoba.

"Memang Undang-Undang tentang Grasi sudah disahkan tahun 2010. Tetapi belum ditegaskan dalam Undang-Undang tersebut bahwa grasi tidak berlaku bagi terpidana Narkoba yang dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Itu yang kami inginkan," tandasnya.

http://regional.kompas.com/read/2011/02/28/1430558/

Sabtu, Februari 26, 2011

Tim Temukan Motif Ikan di Bata

BEBERAPA laki-laki terlihat menggali tanah di halaman Candi Kedaton, di Situs Candi Muaro Jambi, Jumat (25/2) siang. Lubang galian berbentuk kotak dengan kedalaman yang berbeda-beda. Bukan sembarang menggali, karena para pekerja tersebut ternyata sedang melakukan penggalian arkeologi.
Selama penggalian, tim menemukan sesuatu yang baru, yaitu motif ikan dan lingkaran pada bata dalam struktur bangunan. Keduanya masih berada dalam satu kotak galian dan hanya berselisih satu buah bata. Kotak tempat penemuan itu berada di sebelah utara Candi Kedaton.

Menurut ketua tim ekskavasi, Retno Purwanti, temuan motif ikan ini merupakan yang pertama di Jambi. Sebelumnya pernah ditemukan goresan pada batu bata, namun yang berbentuk motif ikan baru pertama kali.

Motif ikan ini, kata Retno, pernah juga ditemukan di Situs Bumiayu, Sumatera Selatan. "Tapi yang di Bumiayu ditemukan pada reruntuhan, jadi penemuan yang masih pada tempatnya ya di Jambi ini," jelasnya.

Retno mengatakan, bahwa goresan pada bata berbentuk ikan dan lingkaran berkaitan erat dengan ritual keagamaan. Kemungkinan tempat itu untuk meditasi atau tempat persiapan ritual.

Selain bata bermotif, tim juga menemukan fragmen jari arca. Fragmen ini ditemukan di kotak yang berada di sebelah barat candi Kedaton. Potongan jari arca tersebut berbentuk ibu jari, namun memiliki ukuran lebih besar dari ibu jari manusia dewasa. Panjangnya sekitar 10 centimeter.

Jika melihat ukuran potongan jari itu, dapat diperkirakan bahwa arcanya berukuran lebih besar dari ukuran manusia. Namun, sampai sekarang arca yang dimaksud belum berhasil ditemukan. "Bisa jadi stupa, namun untuk mengambil kesimpulan itu butuh penelitian lebih lanjut," kata Retno.

Tempat ditemukannya fragmen itu berada pada struktur bangunan yang diperkirakan adalah Candi Perwara yang mengapit candi utama. Dari penggalian yang dilakukan, Retno menduga bahwa struktur bangunan itu adalah candi apit seperti yang biasa terdapat di candi-candi di Jawa.

"Ada dua bangunan yang letaknya berada di samping candi utama, jadi kemungkinan ini adalah candi apit," katanya.

Penggalian atau dalam istilah arkeologi dikenal dengan ekskavasi merupakan bagian dari penelitian arkeologi. Kegiatan ini, kata Retno, akan berlangsung selama sepuluh hari dan telah dimulai sejak Sabtu (19/2). Sampai saat ini sudah 19 kotak yang dibuka dengan ukuran bervariasi antara 2x2 meter hinga 2x4 meter.

"Penggalian ini adalah program dari Balai Arkeologi Palembang bekerja sama dengan BP3 Jambi," ucapnya pada Tribun. Ekskavasi dilakukan untuk meneliti fungsi halaman candi Kedaton. "Candi Kedaton memiliki 11 halaman yang mengelilingi candi utama," katanya.

Dari kesimpulan sementara, ucap Retno, halaman Candi Kedaton digunakan sebagai tempat berlangsungnya upacara. "Halaman candi digunakan untuk ritual keagamaan, baik meditasi maupun upacara," ucapnya. (kurnia prastowo adi)

http://jambi.tribunnews.com/2011/02/26/tim-temukan-motif-ikan-di-bata

Sebelum Mati, Harimau Langka Ini Dijerat

JAMBI, KOMPAS.com - Seorang warga Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, menemukan seekor harimau jantan mati di tengah kebun.

Dihubungi di Muarasabak, ibu kota Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jumat (25/2/2011) Kapolres Tanjabtim, AKBP Budi Wasono mengatakan, penemuan harimau mati itu terjadi pada hari Kamis.
Menurut dia, warga Tanjabtim bernama Aral, warga Parit I, Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, berhasil menemukan bangkai harimau saat dirinya tengah berada di kebun karet miliknya.

"Saat itu, dia (Aral, red) mencium bau busuk. Setelah dicari ternyata ditemukan bangkai harimau yang telah membusuk dan dipenuhi ulat," ujarnya.

Berdasarkan temuan itu, Kapolres memperkirakan harimau itu sudah mati selama tiga hari atau lebih.

Menurut Kapolres, dugaan penyebab harimau mati akibat terkena sejenis perangkap yang sengaja dipasang warga untuk menjerat babi yang kerap merusak kebun milik petani.
Meski begitu, Kapolres mengaku akan melakukan penyelidikan lebih lanjut atas temuan tersebut.

Untuk mempercepat proses penyelidikan, Polres Tanjabtim berkoordinasi dengan pihak Konservasi dan Sumber Daya Alam (KSDA) Provinsi Jambi.

"Dalam waktu dekat, pihak KSDA Jambi berencana mengambil tulang belulang harimau tersebut," ujarnya.

Ketua LSM Fokmades Tanjabtim, Arie Supriyadi sangat menyayangkan tewasnya salah satu hewan yang dilindungi badan dunia tersebut.

"Ini bukan kejadian yang pertama kali di Jambi. Perlu ada penanganan dan perlindungan lebih ketat akan habitat hewan yang dilindungi," ujarnya.

Belum lama ini sejumlah warga di Kecamatan Rantau Rasau juga telah membunuh seekor harimau lantaran kesal karena satwa dilindungi itu kerap memakan hewan ternak mereka.

"Dari satu sisi kita harus melindungi hewan ini. Namun, di sisi lain kita juga harus memahami kondisi masyarakat yang juga merasa dirugikan. Untuk itu perlu ditemukan solusi yang tepat," katanya.

http://regional.kompas.com/read/2011/02/25/22321947/

Kamis, Februari 24, 2011

Lapas Jambi Bakar Ratusan HP Sitaan

JAMBI – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Jambi menyita sebanyak 155 telepon genggam atau HP milik tahanan maupun narapidana yang sebagian besar pemiliknya merupakan pelaku kejahatan narkoba. Maraknya peredaran alat komunikasi tersebut diduga mendorong marak masuknya narkoba dalam lapas.

Hasil temuan tersebut langsung dimusnahkan di lapangan tenis yang berada disamping lapas, Rabu siang (23/2) oleh Kepala Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM Provinsi Jambi Rinto Hakim dan Kepala Lapas Jambi Bowo Nariwono. Selain HP, sejumlah peralatan yang dilarang masuk ke dalam lapas, seperti alat pengisi batre HP, kompor, dan mesin pemanas air, ikut dimusnahkan dengan cara dibakar.

Barang-barang hasil temuan akhirnya dimusnahkan, pemusnahan tersebut dilakukan sebagai bentuk pembinaan serta antisipasi tidak kriminal di dalam Lapas Klas II Jambi.

Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Jambi, Rinto Hakim, mengatakan, penggeledahan dilakukan terkait adanya penyalahgunaan handphone oleh warga binaan di Lapas Jambi. Hal itu jelas-jelas tidak dibolehkan berdasarkan aturan yang ada.

Meski seluruh HP ditarik, pihaknya ke depan akan menyediakan fasilitas telepon umum agar para narapidana dapat tetap berkomunikasi dengan kerabatnya, dan tetap dalam pantauan petugas. (rom-yul)

http://ayojambi.com/
http://www.banyurawa.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://multmedia.multiply.com/
http://multi-nusantara.blogspot.com/
http://komunitas-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://multi-video.blogspot.com/
http://www.videoku.tv/Multimedia/
http://www.youtube.com/my_videos

Rabu, Februari 23, 2011

Sister Site Untuk Muaro Jambi-Nalanda

JAMBI - Kawasan Percandian Muaro Jambi memiliki hubungan yang sangat baik dengan candi Nalanda, di India. Hal ini dikatakan ahli Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, disela-sela Diskusi Ilmiah Arkeologi, Selasa (22/02) di Grand Abadi Hotel, Jambi.
Lelaki yang akrab dipanggil Tomy ini menceritakan, beliau kunjung di India diutusan oleh The Society Of Muaro Jambi Temple (The SOMT), selama 10 di Nalanda Tomy mendapat sambutan baik dari pihak Nalanda. Diluar dugaan, pihak Nalanda tampaknya sudah mengenal baik Indonesia, melalui Candi Muaro Jambi. "Mereka lebih mengenal Sumateranya sebelum Indonesia," katanya kepada.

Hubungan baik itu tercipta saat salah satu raja Swarnadwipa (Muaro Jambi) memberikan dana bagi pembangunan di Nalanda pada abad ke-9. Jasa tersebut sudah dikenal luas di Nalanda dan sampai saat ini masih terasa jasanya.

Berdasarkan riset tersebut, terdapat kesamaan bangunan Muaro Jambi dengan Nalanda itu sendiri. Dari segi lokasinya sama-sama dekat jalur transportasi air. Dari segi bahan pembuatan candi, sama-sama menggunakan batu bata merah. Serta bentuk-bentuk kontruksinya juga memiliki kesamaan.

Tomy menjelaskan, Candi Muaro Jambi dahulu digunakan sebagai pusat pendidikan bagi warga yang ingin dikirim ke Nalanda. "Sebelum pergi ke Nalanda, mereka belajar dulu disini (Muaro Jambi)," tambahnya.

Biarpun demikian, Tomy menjelaskan bahwa Candi Muaro Jambi memiliki warna budayanya sendiri."Keadaan lingkungan dan masyarakat di India dan Indonesia jelas berbeda,".

Kedepannya, kemungkinan akan dilakukan 'sister site' untuk kedua candi ini. Hal ini dikatakannya sebagai wujud kerja sama antar kedua Candi. Bisa dalam penelitian maupun ziarah. "Selama ini belum pernah ada sister site," jelasnya.

Menindaklanjuti hal tersebut, rencananya tanggal 5 Maret mendatang The Society Of Muaro Jambi Temple (The SOMT) akan mengundang contact personnya yang ada di India untuk melakukan kunjungan formal ke Muaro Jambi. Yaitu Benoi Belt, seorang fotografer profesional dunia. Ia memiliki relasi yang cukup luas bahkan akrab dengan Direktur Nalanda, Nava Nalanda Mahawihara.

Kunjungan tersebut nantinya selain untuk menjalin hubungan silaturahmi antar kedua situs, juga untuk survey pembuatan video dokumenter tentang Candi Muaro Jambi.

Pembuatan video dokumenter itu sendiri rencana akan dilakukan awal Juli mendatang. Pada saat itu Direktur Nalanda, Dirjen Arkeologi India direncanakan hadir. "Benoi akan membawa dua kru film profesional," pungkasnya.

Diskusi Ilmiah Arkeologi ke-XXVIII

* Candi Muaro Jambi Sebagai Warisan Budaya
JAMBI - Diskusi Ilmiah Arkeologi ke-XXVIII yang sedianya akan dilaksanakan tahun 2010 kemarin, akhirnya terlaksana, Selasa (22/02) pagi. Bertempat di Kerinci Room Hotel Grand Abadi, Jambi, para ahli arkeologi se-Indonesia berkumpul untuk membahas agenda tahunan tersebut.
Pada kesempatan tersebut diskusi difokuskan untuk memberdayakan percandian Muaro Jambi sebagai warisan budaya.

Staff Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bidang Multikultur, Hari Untoro Drajat mengatakan, untuk mewujudkan warisan budaya ini ada tiga aspek yang harus dilakukan yaitu perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan situs.

Dalam hal ini pemberdayaan masyarakat menjadi prioritas. Sesuai dengan tema diskusi saat itu "Kawasan Percandian Muara Jambi Menuju Warisan Budaya: Pemberdayaan Masyarakat", maka dalam hal ini peran masyarakat sekitar penting.

Diharapkan masyarakat sekitar candi ikut terlibat dalam perlindungan, pengembangan, dan perawatan situs. Hal ini akan jauh lebih efektif, selain candi dapat terpantau, masyarakat sekitar juga akan mendapat lahan pekerjaan yang menjajikan.

Saat ini pemugaran candi masih terus dilakukan. Bahkan untuk komplek candi Kedaton sedang dilakukan penggalian situs di sekeliling candi utama. Penggalian dimulai Senin lalu (21/02) dan direncanakan selesai Sabtu depan.

Menurut staff BP3 Jambi, Agus, pemugaran akan terus dilakukan secara bertahap. Saat ini penggalian dilakukan disekitar candi Kedaton utama. "Sambil menggali, penelitian akan terus dilakukan," jelasnya.

Diskusi hari ini berlangsung selama lebih kurang lima jam, dimulai pukul 09.00. Setelah diskusi selesai peserta mendatangi kompleks percandian Muaro Jambi untuk menyaksikan langsung proses penggalian.

Acara kali ini dihadiri Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3), perwakilan Dinas Pariwisata Jambi, perwakilan Dinas Pemuda dan Olah Raga Jambi, serta Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Komda Aceh, Riau, Medan, Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Hadir pula komunitas Budhisme Jambi, Tokoh Pemuda Desa Muara Jambi, tokoh akademisi, serta The Society of Muaro Jambi Temple (The SOMT).

Selasa, Februari 22, 2011

Anak Wali Kota Beri Kesaksian Berbelit

JAMBI, KOMPAS.com — Fanny Setiawan, anak Wali Kota Jambi Bambang Priyanto, memberikan keterangan berbelit saat bersaksi untuk ketiga rekannya di PN Jambi, Senin (21/2/2011). Seperti diketahui, Fanny Setiawan tersandung kasus narkoba jenis sabu.
Terdakwa Fanny dihadirkan jaksa penuntut umum sebagai saksi untuk tiga terdakwa lain, yakni Arifien Kho, Sonny Sumarsono, dan Ahmad, yang tertangkap bersama-sama seusai memakai sabu di sebuah ruko pada 19 Agustus 2010.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Sulthoni, Fanny memberikan keterangan berbeda dari berita acara pemeriksaan (BAP) kepolisian.

Majelis hakim sempat minta kepada Fanny agar tidak berbelit-belit dalam memberikan keterangan di persidangan. Hal ini diminta setelah hampir semua keterangan berbeda dari keterangan di BAP kepolisian yang menangkap mereka.

"Saudara saksi sudah disumpah, jadi jangan memberikan keterangan yang berbelit-belit. Jika memang mengetahui dan melihat, katakan yang sejujurnya karena ini bisa meringankan terdakwa juga," kata salah satu majelis hakim saat persidangan.

Fanny di persidangan itu tidak mengetahui ketiga rekannya memakai sabu pada satu jam sebelum mereka ditangkap. Padahal, saksi pada awalnya mengakui kepada saksi kepolisian bahwa dua hari mereka sudah memakai sabu.

Namun, keterangan itu berubah lagi saat ditanya dan dipastikan oleh anggota hakim lain sehingga ketua majelis hakim sempat meminta agar Fanny memberikan keterangan yang sebenarnya dan jangan membela orang yang salah.

Majelis hakim juga sempat menyatakan, keterangan Fanny yang juga terdakwa dalam kasus ini akan menjadi catatan tersendiri bagi hakim. Ini karena data pasti berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa urine keempat terdakwa, yakni Fanny, Arifien Kho, Ahmad, dan Sonny, mengandung methamphetamine golongan satu.

Keterangan tersebut diungkapkan saksi ahli dari Rumah Sakit Polri Jambi, dr Rita Halim, di persidangan terdakwa sebelumnya. Hasil pemeriksaan urine terdakwa Fanny dilakukan beberapa saat setelah ia ditangkap pada 19 Agustus 2010.

Seusai mendengarkan keterangan saksi, majelis hakim juga mengadili perkara terdakwa Fanny dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dari kepolisian dan ketiga rekannya saat ditangkap seusai pesta narkoba.

Terdakwa Fanny yang sempat menjalani perawatan dan operasi tulang punggung akibat kecelakaan sebelum ditangkap polisi akhirnya mendapat keringanan menjadi tahanan kota oleh majelis hakim.

Majelis hakim menyatakan, status terdakwa Fanny mulai Senin (21/2/2011) menjadi tahanan kota dengan alasan adanya uang jaminan senilai Rp 20 juta.

http://regional.kompas.com/read/2011/02/21/21513932/

Senin, Februari 21, 2011

Tuapekong, Keluar Setelah Dua Tahun

KOMPAS.com - Lima buah rumah kayu warna merah yang ramai dengan hiasan beraksara China diarak dengan cara dipanggul mengelilingi kawasan kota tua di Kota Padang, Sumatera Barat. Rumah-rumah kayu yang disebut kio itu bergerak maju mundur serta ke kanan dan ke kiri seperti mabuk, dengan pembuka jalan sepasang barongsai yang bergerak lincah .
Orang-orang dengan ikatan selendang kuning dan merah yang memanggulnya dibuat blingsatan. Sejumlah orang bahkan tampak harus beroleh perawatan di dalam ambulans yang mengiringi rombongan besar itu.

Kemacetan tak terhindarkan karena orang-orang berkerumun di pingir-pinggir jalan menyaksikan pawai akbar tersebut. Sejumlah pemanggul kio tampak saling bergantian di tengah gerakan-gerakan yang kacau tak beraturan.

Di sela-sela keruwetan itu, sejumlah orang tampak mengibas-ngibaskan dedaunan yang sebelumnya dicelup dalam seember kecil air. Percikan air itu membasahi para pemanggul kio yang beberapa di antaranya tampak kepayahan.

Hari itu Kamis (17/2/2011) pagi atau persis 15 hari setelah perayaan Tahun Baru Imlek. Sebuah pentas yang disebut tuapekong, toapekong, atau tepekong digelar untuk merayakan Cap Go Meh yang jatuh persis pada hari itu.

Adalah Himpunan Tjinta Teman atau Hok Tek Tong (HTT) Padang yang menggelar atraksi tersebut. HTT adalah perkumpulan sosial yang bergiat dalam bidang pemakaman dan sudah berdiri sejak 148 tahun lalu.

Soal penamaan perayaan itu, HTT yang beranggotakan sekitar 10 ribu orang di Indonesia itu punya pendapat. Sebetulnya, namanya itu tuapekong, kata Ketua HTT Padang Ferryanto Gani.

Hari itu adalah yang pertama kalinya lima kio dengan berat antara 100 kilogram hingga 470 kilogram itu diarak lagi, setelah vakum pada 2009 dan 2010 lalu. Kio terbesar dibuat di Jepara dan masing-masing yang lebih kecil langsung diimpor dari China.

Namun, pusat atraksi pagi itu bukanlah lima kio tersebut. Lima kio itu hanya menjadi semacam rumah untuk enam buah patung berbentuk manusia yang didewakan dan disebut sebagai lotjo.

Menurut Ferryanto, karena kekurangan kio, sebuah kio terberat diisi dengan dua lotjo. Ferryanto mengatakan, lotjo itu adalah seorang r aja dan pengawalnya yang dipercaya telah menjadi dewa.

Sementara empat kio lainnya, diisi masing-masing sebuah lotjo yang menurut Ferryanto adalah adik-adik dari raja lotjo yang berasal dari daratan China. "Lotjo ini sebelumnya memang seorang raja. Ia lalu meninggal dan digantikan saudaranya yang kejam, rakyatnya lalu ingat dan ramai-ramai sembahyang di kuburannya. Setalah itu turunlah hujan, dan sejak itu ia didewakan," katanya.

Karena itulah, sebagian warga keturunan Tionghoa menganggap lotjo sebagai semacam panduan harapan. Ferryanto menyebutkan, dengan dilakukannya perayaan dan atraksi tersebut, diharapkan segala bencana bisa jauh.

"Kalaupun ada, jangan sampai membuat terkejut," kata Ferryanto.

Karena itulah, lotjo kemudian diperlakukan spesial. Untuk mengeluarkannya dari tempat penyimpanan di lantai empat gedung HTT Padang, memerlukan ritual khusus.
Demikian pula untuk mengembalikannya. Ada syarat dan lelaku khusus yang mesti dijalani.

Bahkan, kata Ferryanto, keputusan untuk dilakukannya arak-arakan atau tidak, akan sangat tergantung dari keinginan lotjo yang dipercayainya bisa diajak komunikasi.

Termasuk menentukan rute perjalanan hari itu yang jauhnya sekitar tiga kilometer.

Lotjo juga punya semacam penjamin kesejahteraan bagi dirinya yang bertugas mencari uang. Namanya Ang O Bin yang dalam pentas itu dipersonifikasikan menjadi dua orang berpakaian ala pendekar warna hitam bergaris merah dengan sebagian wajah dicat hitam dan sebelahnya lagi dicat merah.

"Kalau selendang merah dan kuning buat yang memanggul, itu artinya hanya sebagai tanda untuk kio tertentu yang harus dipanggul," ujar Ferryanto.

Khusus bagi para pemanggul, sekalipun terkesan berat, namun saking terbawa suasana trance maka beban berat itu rupanya tak lagi dirasakan. "Saya justru tidak merasakan adanya beban berat," kata Tan U Hua Kepala Seksi Kebudayaan HTT Padang yang ikut memanggul salah satu kio.

Menurut Tan, seluruh gerakan kio terjadi dengan sendirinya, dan tidak digerakkan oleh para pemanggul. "Untuk pantangan agar bisa memanggul kio juga tidak ada," ujarnya.

Bagi sejumlah penonton, atraksi dalam keramaian pawai itu tetap menarik perhatian sekalipun terkesan mistis. Upik Rahmawati, yang hari itu menonton di pinggir jalan bersama dua anaknya mengaku sudah biasa dengan atraksi tersebut.

Upik yang suaminya juga ikut menjadi salah seorang pemain dalam atraksi tersebut mengatakan, warga sekitar relatif juga sudah biasa dengan tontonan tersebut. Ia mengatakan, tidak juga merasa takut dengan atraksi yang terkesan mistis itu.

Hari beranjak siang, perayaan Cap Go Meh pun diteruskan. Gambang HTT Padang dengan dua gitaris akustik, seorang violis, seorang pemain ukulele , seorang pemain bas betot, dan seorang pemain kolintang melagukan sejumlah nomor Mandarin. Sayangnya tidak ada kecapi dan suling, kata seorang pengunjung yang kemudian larut dalam dendang.

http://oase.kompas.com/read/2011/02/20/18564099/

Minggu, Februari 20, 2011

Kunjungan Team The SOMT Ke Nalanda

JAMBI – Salah satu langka yang pantas diacungkan jempol untuk Masyarakat Peduli Candi Muaro Jambi/ The Society Of Muaro Jambi Temple (The SOMT), sesuai dengan komitmen dan pengarahan Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus sebelum taem berangkat ke Nalanda.
Berikut hasil laporan team The SOMT kepada Gubernur Jambi, Kamis malam (17/2-2011) sebagai berikut:
Kaitan Budaya Nalanda dengan Muara Jambi (Nusantara)
1. Latar Belakang
Prasasti Nalanda merupakan sebuah prasasti yang dituliskan pada lempengan tembaga. Ditemukan di runtuhan wihara di Nalanda, Negara Bagian Bihar, Uttar Pradesh, India. Prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Dewapaladewa, seorang raja yang menggantikan Raja Dharmapala yang mangkat pada tahun 878 Masehi.

Prasasti Nalanda ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan aksara Pallawa, dan tidak mempunyai angkatahun. Berdasarkan penyebutan nama raja yang mengeluarkannya, prasasti ini diduga ditulis sekitar abad ke-9 Masehi.

Isinya tentang pendirian bangunan biara di Nalanda oleh raja Balaputradewa, raja Sriwijaya yang menganut ajaran Buddha Mahayana. Selain itu disebutkan juga kakek Raja Balaputradewa yang dikenal sebagai raja Jawa dan bergelar Sailendrawamsatilaka Sri Wirawairimathana atau “permata keluarga Sailendra pembunuh musuh-musuh yang gagah perwira”. Ia mempunyai anak yang bernama Samaragrawira yang kawin dengan Tara, anak raja Dharmasetu dari Somawangsa. Disebutkan juga permintaan kepada Raja Dewapaladewa untuk memberikan tanah-tanahnya sebagai sima untuk biara yang dibangunnya.

2. Alasan
Berdasarkan isi prasasti tersebut, ada dua hal yang perlu dikemukakan, yaitu:
1. Pembangunan vihara atau biara.
2. Bidang tanah sima (tanah bebas pajak) yang hasilnya untuk kelangsungan hidup vihara yang dibangunnya.

Dari kedua hal tersebut, selanjutnya timbul pertanyaan, apakah vihara yang dibangun itu mempunyai teknik bangunan sama seperti cara membangun vihara-vihara yang terdapat di Jawa atau Sumatra, tempat Balaputradewa memerintah/ berasal. Demikian juga hiasan bangunan serta gaya seni arca yang mungkin terdapat dalam vihara tersebut.

Sebagaimana diketahui, Nalanda merupakan pusat pengajaran Buddha yang dikenal oleh berbagai kerajaan di Asia Tenggara hingga Tiongkok. Ke Nalanda para bhiksu belajar untuk memperdalam ajaran Buddha. Dapat dibayangkan bahwa di Nalanda terdapat banyak bangunan baik vihara maupun asrama. Seperti yang dilakukan Balaputradewa, boleh jadi raja-raja tersebut juga membuat vihara untuk bhiksu yang dikirimnya. Pertanyaannya, mengapa hanya kebajikan (dharma) dari Balaputradewa saja yang diabadikan dalam prasasti?

Berdasarkan data arkeologis dan data sejarah yang sampai kepada kita, di Indonesia tempat yang fungsinya agak mirip dengan di Nalanda dan kira-kira sejaman adalah Situs Muara Jambi. Di situs tersebut terdapat runtuhan bangunan suci dan terdapat petunjuk adanya pemukiman asrama.

Di Indonesia, khususnya di Jawa menghadiahkan tanah bebas pajak (sima) untuk kelangsungan hidup sebuah atau sekelompok bangunan suci, adalah hal yang biasa. Bahkan sampai sekarang pun, kebiasaan menghadiahkan tanah untuk kelangsungan hidup sebuah pesantren (tanah wakaf) masih dilakukan. Untuk kebiasaan seperti ini apakah ada di India pada waktu Nalanda masih berfungsi sebagai pusat pengajaran Buddha.

3. Tujuan Kunjungan
Berdasarkan alasan tersebut, maka kunjungan ke Situs Nalanda adalah berusaha mengetahui:

1. Adalah unsur budaya materi dari Nusantara yang “membekas” di Nalanda ataukah sebaliknya ?

2. Vihara/ asrama mana dalam kompleks Nalanda yang dibangun oleh Balaputradewa?

3. Bagaimana dengan unsur budaya materi yang terdapat pada bangunan vihara yang konon dibangun oleh Balaputradewa?

4. Apakah di Nalanda ada kebiasaan menetapkan bidang tanah bebas pajak untuk kelangsungan hidup vihara dan asrama.

5. Siswa atau bhiksu yang belajar ke Nalanda sudah barang tentu tidak “menyebarkan” budaya dari negeri asalnya, tetapi sebaliknya mereka kembali ke tempat asalnya meyebarkan budaya yang terdapat di tempatnya mereka belajar. Dari logika ini, budaya materi apa yang dibawa oleh para siswa/bhiksu yang pernah belajar di Nalanda.

Mengingat di Sumatra dan Jawa banyak ditemukan arca dari berbagai gaya seni di India, untuk itu perlu dilihat dan dikaji gaya seni arca yang terdapat di Nalanda. Melalui gaya seni ini dapat diketahui sampai seberapa jauh hubungan Nusantara dan Nalanda.

4. Sasaran Pengamatan
Guna mendapatkan data untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka tempat-tempat yang dikunjungi adalah:

a. Museum Nasional di Delhi untuk melihat berbagai gaya seni arca di India
b. Daerah sekitar Nalanda guna mengetahui tanah-tanah bebas pajak seperti yang disebutkan dalam prasasti.

c. Bodh Gaya (tempat Buddha mendapat Pencerahan) yang mestinya juga dikunjungi oleh para penziarah.

d. Kunjungan ke Museum Nalanda sangat diperlukan karena untuk melihat dan mengamati artefak-artefak yang ditemukan dari runtuhan vihara/asrama di Situs Nalanda.

5. Peneliti
Dalam rangka pengumpulan data arkeologi kaitannya hubungan budaya antara Muara Jambi dan Nalanda, peneliti yang akan ke Nalanda adalah:
1. Bambang Budi Utomo, peneliti arkeologi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Badan Pengembangan Sumberdaya, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

2. Nina Setiani, spesialis ikonografi (seni arca) dan staf Biro Kerjasama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

6. Waktu Pelaksanaan
Kunjungan pengumpulan data ke India (Delhi dan sekitar Nalanda) dilakukan selama 10 hari (termasuk perjalanan dari dan ke Nalanda) pada tanggal 5-14 Februari 2011.

Jakarta, 6 Januari 2011


Bambang Budi Utomo

http://ayojambi.com/
http://www.banyurawa.com/
http://tradisi-jambi.blogspot.com/
http://multmedia.multiply.com/
http://informasi-mediakita.blogspot.com/
http://multi-nusantara.blogspot.com/
http://komunitas-jambi.blogspot.com/
http://media-fotografers.blogspot.com/
http://multi-video.blogspot.com/
http://www.videoku.tv/Multimedia/
http://www.youtube.com/my_videos

Pusat Studi Tionghoa Melacak Sejarah

SURABAYA, KOMPAS.com — Pusat Studi Kajian Indonesia Tionghoa "Center for Chinese Indonesian Studies/CCIS" Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya menemukan sekitar 116 komunitas Tionghoa di Surabaya karena ingin menyusun sejarah yang hilang selama ini.
"Kebudayaan Tionghoa begitu beragam mulai dari kuliner, bahasa, tata busana, arsitektur, dan teknologi. Untuk itu, kami perlu menyusun missing link yang selama ini seolah hilang," kata Sekretaris Center for Chinese Indonesian Studies (CCIS) Elisa Christiana saat ditemui dalam seminar "Chinese Indonesians in Modern Indonesia" sekaligus pengenalan CCIS di kampus setempat, Jumat.

Menurut dia, selama ini, keberagaman kebudayaan Tionghoa semakin memperkaya kebudayaan Indonesia. Contohnya, budaya makan Lontong Cap Gomeh saat Tahun Baru Imlek.

"Budaya tersebut hanya diterapkan oleh masyarakat Tionghoa yang tinggal di Indonesia, apalagi idenya adalah merayakan Tahun Baru China dengan makanan khas Indonesia," ujarnya.

Untuk mempertahankan dan melestarikan budaya tersebut, ia mengajak, masyarakat Surabaya dan sekitarnya menginventaris apa pun yang selama ini menjadi identitas Tionghoa.

"Kami optimistis upaya ini dapat membuktikan bahwa Tionghoa bukanlah kaum minoritas melainkan bagian dari Indonesia," katanya.

Sementara itu, salah satu pembicara di seminar tersebut, Priyanto Wibowo, mengungkapkan, sebenarnya dalam setiap torehan sejarah bangsa Indonesia banyak jejak peran orang Tionghoa di dalamnya. Selain itu, keberadaan etnis ini di Indonesia sudah dimulai berabad lamanya.

"Mereka sudah menetap di Indonesia sebelum masa kemerdekaan," kata pria yang juga menjabat Ketua Departemen Sejarah Universitas Indonesia.

Kondisi tersebut, tambah dia, merupakan bentuk ungkapan etnis Tionghoa agar diakui sebagai bagian dari Indonesia tanpa pembedaan apa pun. Apalagi, pasca-era Reformasi (1998) adalah awal kebangkitan masyarakat Tionghoa di Indonesia.
"Situasi itu tampak berbeda ketika masyarakat Tionghoa hidup pada masa orde yang penuh tekanan," katanya.

Salah satunya, kata dia, pada masa Orde Baru, masyarakat Tionghoa dipaksa untuk melebur dengan warga pribumi dengan mengubah nama menjadi nama pribumi. Di sisi lain, adanya pembatasan gerak dalam dunia politik, pegawai negeri, dan pendidikan.
"Akibatnya masyarakat Tionghoa hanya bisa menempati posisi sebagai pedagang," katanya.

Di lain pihak, lanjut dia, kalau dianalisis komunitas Tionghoa di Indonesia berbeda dari komunitas Tionghoa di belahan dunia mana pun. Apalagi, selama ini sudah mengakar dengan Indonesia sehingga banyak budaya yang muncul saat ini bercampur dengan budaya Indonesia.

http://oase.kompas.com/read/2011/02/20/00284016/

Manfaat Menangis bagi Kesehatan

Menangis ternyata ada manfaatnya loh? Kalau kelamaan menangis memang bisa bikin mata merah dan bengkak. Tapi menangis dan mengeluarkan air mata juga bisa jadi obat ajaib yang berguna buat kesehatan tubuh dan pikiran. Masa sehhh?
Ada beberapa alasan manusia untuk menangis:
1. Menangis karena kasih sayang dan kelembutan hati.
2. Menangis karena rasa takut.
3. Menangis karena cinta.
4. Menangis karena gembira.
5. Menangis karena menghadapi penderitaan.
6. Menangis karena terlalu sedih.
7. Menangis karena terasa hina dan lemah.
8. Menangis karena mengikut-ikut orang menangis.
9. Menangis untuk mendapat belas kasihan orang.
10. Menangis orang munafik alias pura-pura menangis.

Berikut 7 manfaat menangis untuk kesehatan yang bisa kamu dapatkan setelah menangis dan mengeluarkan air mata.

1. Membantu penglihatan
Air mata ternyata membantu penglihatan seseorang, jadi bukan hanya mata itu sendiri. Cairan yang keluar dari mata dapat mencegah dehidrasi pada membran mata yang bisa membuat penglihatan menjadi kabur.

2. Membunuh bakteri
Tak perlu obat tetes mata, cukup air mata yang berfungsi sebagai antibakteri alami. Di dalam air mata terkandung cairan yang disebut dengan “lisozom” yang dapat membunuh sekitar 90-95 persen bakteri-2 yang tertinggal dari keyboard komputer, pegangan tangga, bersin dan tempat-2 yang mengandung bakteri, hanya dalam 5 menit.

3. Meningkatkan mood
Seseorang yang menangis bisa menurunkan level depresi karena dengan menangis, mood seseorang akan terangkat kembali. Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena emosi mengandung 24 persen protein albumin yang berguna dalam meregulasi sistem metabolisme tubuh dibanding air mata yang dihasilkan dari iritasi mata.

4. Mengeluarkan racun
Seorang ahli biokimia, William Frey telah melakukan beberapa studi tentang air mata dan menemukan bahwa air mata yang keluar dari hasil menangis karena emosional ternyata mengandung racun.
Tapi jangan salah, keluarnya air mata yang beracun itu menandakan bahwa ia membawa racun dari dalam tubuh dan mengeluarkannya lewat mata.

5. Mengurangi stres
Bagaimana menangis bisa mengurangi stres ? Air mata ternyata juga mengeluarkan hormon stres yang terdapat dalam tubuh yaitu “endorphin leucine-enkaphalin” dan “prolactin.”
Selain menurunkan level stres, air mata juga membantu melawan penyakit-2 yang disebabkan oleh stres seperti tekanan darah tinggi.

6. Membangun komunitas
Selain baik untuk kesehatan fisik, menangis juga bisa membantu seseorang membangun sebuah komunitas. Biasanya seseorang menangis setelah menceritakan masalahnya di depan teman-2′nya atau seseorang yang bisa memberikan dukungan, dan hal ini bisa meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan juga bersosialisasi.

7. Melegakan perasaan
Semua orang rasanya merasa demikian. Meskipun kamu didera berbagai macam masalah dan cobaan, namun setelah menangis biasanya akan muncul perasaan lega.
Setelah menangis, sistem limbik, otak dan jantung akan menjadi lancar, dan hal itu membuat seseorang merasa lebih baik dan lega. Keluarkanlah masalah di pikiranmu lewat menangis, jangan dipendam karena kamu bisa menangis meledak-ledak.

Nah,, dengan mengetahui 7 manfaat menangis untuk kesehatan, jadi kalo kamu pengen nangis, menangislah, karena nangis itu menyehatkan. Luapkan semua perasaan sedih atau marah kamu dengan menangis. Hokeehh..!! Selamat menangis ria sob..

http://id.mg60.mail.yahoo.com/dc/launch?.gx=1&.rand=6fl4l41jto8do&retry=1

Sabtu, Februari 19, 2011

Pesan "Dokter" Wayang Potehi

Tepat pada tanggal merah, perayaan Imlek 2562, Sukar Mudjiono duduk santai sambil memainkan lagu-lagu Mandarin di lantai dua Kelenteng Hong Tiek Hian di Jalan Dukuh, Kota Surabaya, Jawa Timur. Lagu-lagu yang dia mainkan itu rupanya bisa menghibur para peziarah kelenteng sehingga tanpa diminta, lembaran uang yang ditaruh peziarah di atas meja di depannya terus bertambah.
”Kalau pas Imlek, saya malah libur. Ini sudah tradisi. Tetapi besok, saya ada tanggapan (bermain) di Jakarta,” ujar Sukar saat ditemui awal Februari ini.

Sukar adalah dalang wayang potehi. Hari-hari menjelang dan pasca-Imlek menjadi hari sibuk baginya, kecuali pada hari Imlek itu ketika penanggalan berwarna merah. Sukar mendapat tanggapan untuk mendalang dari kelenteng hingga pusat perbelanjaan. Pengundangnya berasal dari beberapa kota, seperti Surabaya, Bojonegoro (Jawa Timur), Semarang (Jawa Tengah), dan Jakarta.

Pada saat libur itulah, ia mengajak teman-temannya dari grup wayang potehi Lima Merpati berkumpul. Kelenteng Hong Tiek Hian yang berada di daerah pecinan menjadi semacam tempat berkumpul kelompok ini. Mereka memilih berkumpul di kelenteng sambil mencoba memainkan lagu-lagu Mandarin yang baru dipelajari.

Siang itu, misalnya, Sukar kebagian memainkan olhu, sejenis alat musik gesek tradisional dari China. Alat-alat musik tersebut biasa mereka mainkan untuk mengiringi penampilan wayang potehi.

Dalam grup Lima Merpati, Sukar yang sudah menggeluti wayang potehi selama lebih dari 30 tahun berperan sebagai dalang utama. Meski demikian, dia juga mahir memainkan beberapa alat musik pengiring wayang potehi. Hal ini karena sebelum menjadi dalang, ia mengawali ”karier” dari bawah.

”Sebelum menjadi dalang itu kan biasanya kita jadi pemain musik dulu. Lalu, kita menjadi cantriknya dalang, baru jadi dalang,” tuturnya.

Dengan keahlian itu, seorang dalang wayang potehi bisa tampil secara fleksibel. Ketika tidak sedang kebagian jatah mendalang, Sukar bisa menjadi pemain musik, mengiringi temannya yang bertugas menjadi dalang. Begitu pun sebaliknya.

Sejak kecil
Sejak masih kanak-kanak, Sukar tertarik pada wayang potehi yang menyuguhkan legenda Tiongkok klasik. Waktu itu belum banyak hiburan seperti sekarang. Ia setia mengikuti kelanjutan cerita wayang potehi yang biasanya dipentaskan setiap hari hingga sebulan penuh di Kelenteng Hong Tiek Hian. Letak kelenteng ini relatif tidak jauh dari rumahnya. Ayah dan ibunya tidak pernah melarang Sukar kecil menonton di kelenteng.

Salah satu cerita favorit Sukar adalah kisah dua sahabat Sun Pin dan Ban Koan. Mereka menuntut ilmu militer bersama hingga mendapat kedudukan tinggi di kerajaan. Namun, persahabatan itu menjadi retak karena sifat Ban Koan yang serakah. ”Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari cerita itu,” ujarnya.
Suatu hari seusai menonton, seorang dalang wayang potehi memanggilnya. Sukar kecil diajak mendekat ke kotak merah yang menjadi panggung wayang potehi. Sejak saat itu, Sukar mulai bersentuhan dengan dunia di balik tonil wayang potehi.

Guru pertamanya adalah Gan Cao Cao, dalang wayang potehi dari Hokkian, China. Ia memulai pelajarannya dari memainkan berbagai alat musik, membaca buku cerita legenda China, lalu menjadi pembantu dalang, hingga kemudian memulai debutnya sebagai dalang pada usia belasan tahun. Sukar mulai rutin memainkan wayang potehi untuk mengiringi ritual di kelenteng tua Hong Tiek Hian.

Beranjak remaja, Sukar semakin asyik menggeluti wayang potehi. Selain karena memang hobi, penghasilan dari wayang potehi membuatnya semakin rajin terlibat dalam pementasan.

Uang dari pentas wayang potehi dia kumpulkan sehingga bisa meringankan beban orangtua dalam membiayai sekolah. Sukar bahkan bisa melangkah hingga menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya. Namun, kesibukan sebagai dalang wayang potehi membuatnya meninggalkan bangku kuliah.

Sukar adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Melihat dia bisa mengumpulkan uang, empat adik lelakinya ikut tertarik mendalami wayang potehi juga. Dua di antaranya kini menjadi dalang, sedangkan dua lainnya menjadi pemain musik.

Semakin dewasa, Sukar menyadari bahwa menjadi dalang wayang potehi bisa dikatakan profesi yang menjanjikan. Setiap kelenteng punya jadwal rutin pementasan wayang potehi, terutama berkaitan dengan hari ulang tahun kelenteng. Belakangan, Imlek dan Cap Go Meh juga membuat dalang wayang potehi kebanjiran tanggapan.

Bersama teman-temannya, Sukar lantas mendirikan grup wayang potehi Lima Merpati tahun 2005. Grup ini punya sekitar 20 anggota, yang terdiri dari dalang dan pemusik. Untuk sekali tampil, mereka dibayar minimal sekitar Rp 4 juta.

Grup ini sudah menyambangi hampir semua kelenteng di Pulau Jawa. Mereka juga telah mengantongi piagam penghargaan dari beberapa perkumpulan warga Tionghoa atas upayanya melestarikan wayang potehi.

Menurut Sukar, penghargaan memang menjadi salah satu faktor yang membuat orang tertarik mendalami wayang potehi. Maka, setiap kali mendapati anak muda yang tertarik mempelajari wayang potehi, ia mengajaknya pentas dan memberi mereka penghargaan berupa uang.

”Asal mereka terlibat dalam pentas, pasti dikasih. Anak baru pun langsung dikasih (uang). Jadi, mereka tahu kalau ini (wayang potehi) menjanjikan,” katanya.

Lingkungan
Saat mendalang, Sukar membebaskan diri dalam membawakan cerita. Ia menggunakan bahasa Indonesia dengan logat China. Namun, kadang-kadang dia juga melontarkan lelucon dalam dialek suroboyoan.

Di sela-sela cerita yang ditampilkan, dia juga sering menyisipkan nasihat. Hal itu, misalnya, tentang pentingnya menjaga lingkungan agar tidak terjadi banjir. Pesan-pesan seperti itu juga yang dia bawa saat diundang tampil mendalang di sebuah stasiun televisi lokal di Surabaya.

Nasihat seperti itu dia sebut sebagai pesan-pesan ”dokter”. Inspirasinya diambil dari keadaan di sekitar lokasi pementasan wayang potehi. ”Apa yang saya lihat di lingkungan, ya itu yang muncul di panggung. Kalau sebagai dalang kita enggak sampai ke situ, ya enggak usah jadi dalang,” ucapnya.

Ketika sedang mendalang, Sukar juga membebaskan penonton yang masih kanak-kanak untuk maju, bahkan melongok ke belakang panggung. Mereka diizinkan memegang boneka ataupun alat musik sepanjang tak mengganggu jalannya pementasan.

Dengan cara itu, Sukar merasa telah memperkenalkan wayang potehi kepada anak-anak. Perkenalan itu dia harapkan bakal berkembang seiring bertambahnya usia mereka sehingga wayang potehi pun tetap bertahan.

http://oase.kompas.com/read/2011/02/18/13202812/

Mengapa harus tunggu satu tahun kalau tahu kesalahan

Meng Zi : ”Mengapa harus tunggu satu tahun, kalau tahu tindakanmu itu salah?
Meng Zi adalah seorang filosof yang besar, mengenai Kong Fu Ze-isme beliau termasuk kedua dalam keahliannya sesudah Kong Fu Zi. Karena kebesarannya ini oleh ahli-ahli Barat nama beliau dilatinkan menjadi Mencius. Sebagai manusia Mencius seorang yang baik baik dan filosofinya juga berlainan dengan Confucianis. Yang besar lainnya Xun Zi,. Xun Zi adalah guru dari Han Fei Zi, beliau hidup pada periode yang sama dengan Mencius.
Xun Zi berhati keras dan perbedaan antara dua filosof yang besar ini mencerminkan karakternya masing-masing:

1. Mencius berpendapat bahwa sifat dasar manusia itu baik, meskipun seorang kriminil yang besar, kalau melihat seorang anak akan jatuh kedalam sumur, dia secara reflektoris lari untuk menolongnya.

2. Sebaliknya Xunzi mengatakan bahwa sifat dasar manusia itu adalah jelek, karena manusia mempunyai keinginan dan nafsu. Kedua faktor faktor ini mengakibatkan iri hati dan ambisi.

Namun kedua orang bijaksana ini berpendapat yang sama, bahwa manusia harus mendapat pendidikan agar menjadi baik. Sebaliknya kalau orang itu sedari kecil kumpulannya dengan orang-orang yang jelek, maka kemudian dia juga mempunyai sifat jelek.

Karenanya kedua pemikir yang besar ini menganjurkan agar pemimpin negara harus investasi di dalam bidang pendidikan, agar masyarakat yang dipimpinnya berbudaya dan aman.

Mencius seperti filosof-filosof Tiongkok lainnya banyak menulis essay pendidikan dan salah satu tulisannya ialah:

Dahulu ada orang yang malas tidak mau bekerja dan untuk mencukupi penghidupannya, berbuat sebagai pencuri, dan paling mudah baginya ialah mencuri ayam disekitar rumahnya. Orang ini sudah beken didaerahnya, karena waktu mudanya tidak mau sekolah dan sering dijalanan dengan anak-anak sebayanya yang bersifat sama.

Pada satu hari waktu dia mencuri ayam kepunyaan seorang guru sekolah, dan waktu mau dibawa pulang, ketahuan oleh sang guru yang kenal padanya. Guru itu mengatakan padanya:”Ambillah ayam ini, bawalah pulang. Tetapi untuk selanjutnya pikirlah baik-baik tentang pekerjaanmu ini. Menurut saya mencuri barang kepunyaan orang itu tidak etis, banyak urusannya. Bagaimana apabila ayammu dicuri oleh orang lain, apa perasahanmu? Disampingnya itu kau memberi contoh jelek pada anak-anakmu. Kerjakanlah tanahmu untuk penghidupan keluargamu. Bukankah ini baik buat kesehatan jiwamu dan keluargamu.”

Pencuri itu menjawab: ”Betul perkataan bapak, saya akan berangsur-angsur mengurangi kerjaan yang jelek ini. Dan aku berharep dalam satu tahun aku akan menghentikan sama sekali pekerjaan mencuri.”

Semua orang akan mengatakan: kalau dia tahu kelakuannya salah, merugikan masyarakat, mengapa harus menunggu sampai setahun?

Kesimpulan saya tentang artikel ini ialah:
Kalau kita tahu tindakan salah, kita harus berani merobahnya dan peribahasa Tionghoa mengatakan:” kesalahan adalah ibu dari sukses, kalau kita mau merobahnya.”

Janganlah berbuat sesuatu pada orang lain apabila kau sendiri tidak senang kalau apa yang kau kerjakan itu terjadi pada dirimu.

Sebagai kepala keluarga atau pimpinan negara berilah contoh yang baik pada anak-cucu dan masyarakat; kesalahan sejarah harus segera dirobah, negara harus invest untuk pendidikan, seperti yang kita lihat di Singapore, Korea Selatan, RRT, dan India. Kita tahu bahwa persaingan perdagangan pada jaman sekarang ini tidak lain ialah konkurensi antar “know how”, kepandaian dari perusahan-perusahan masing-masing.

Dr. Han Hwie-Song
Breda, 2 desember 2005 The Netherlands

Jumat, Februari 18, 2011

Laporan Team Ekspedisi The SOMT ke Gubernur Jambi

JAMBI – Setelah usai melakukan tugas selama 10 hari Team Ekspedisi The SOMT di Nalanda, Kamis malam (17/2-2011) secara resmi Team Ekspedisi menyampaikan laporan kepada Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus, selaku pembina The Society Of Muaro Jambi Temple (The SOMT) di rumah dinas Gubernur HBA.
Rombongan The SOMT langsung diterima oleh Gubernur HBA diruang kerjanya, dan Gubernur dengan seksama mendengar laporan hasil kerja team The SOMT di Nalanda.

Pada kesempatan ini, team The SOMT juga menyampaikan kehadapan Gubernur Jambi, jika tidak ada aral melintang dalam waktu dekat Benoy K Behl akan berkunjung ke Jambi untuk melihat secara dekat Candi Muaro Jambi. (rom-yul)

Sakyakirti Resmikan Patung Gupolu

JAMBI – Bertepatan dengan hari perayaan Cap Go Me, Vihara Sakykirti menggelar peresmian dua patung Gupolo yang berada di pintu masuk Vihara (17/2). Peresmian langsung dipimpin oleh tiga Bhikku.
Sebelum peresmin dimulai, ada serangkaian acara yang digelar. Dimulai dari pembacaan Paritta yang diikuti oleh para umat, Blessing dan dilanjutkan dengan peresmian patung Gupolo.

Menurut ketua Majelis Buddhayana Indonsia (MBI) Provinsi Jambi, Romo Balamitta, bahwa patung Gupolo merupakan patung yang selalu dijumpai dan diletakkan didepan pendopo, rumah atau bangunan. Memiliki perut dan bola mata yang sedikit besar. “Dengan kehadiran dua patung di depan pintu masuk Vihara, dapat memberikan kesan tersendiri bagi umat yang datang untuk bersembahyang,”ujarnya.

Berdasarkan filosofinya, patung Gupolo dipercaya mampu menjaga pengaruh-pengaruh buruk. Ini diibaratkan sebagai kekuatan yang mampu menjaga pemilik rumah atau bangunan dari pengaruh buruk dan jahat. Maka, pihak Vihara Sakyakirti meletakkan patung ini tepat dihalaman depan dan pintu masuk Vihara. “ Ini agar semua umat yang datang untuk bersembahyang bisa terlindung dari berbagai pegaruh buruk dari luar,”jelasnnya.

Prosesi dimulai sejak pukul 09.00 WIB, diawali pembacaan paritta di dalam Vihara. Sekitar setengah jam, dilanjutkan dengan blessing atau pemercikan air suci keseluruh bagian Vihara oleh Bhikku Girivirya dan YM Bhikku Sasana Bodhi Mahathera.

Cap Go Me Di Jambi, Dimeriahkan Atraksi Siksa Diri, Barongsai dan Liong

JAMBI – Tentu banyak warga yang pernah menyaksikan atraksi barongsai yang kian marak di setiap daerah, kesenian tersebut berasal dari negeri China yang kemudian dibawa ke berbagai pelosok dunia oleh para imigran Tionghoa, termasuk juga masuk ke Tanah Air Indonesia pada masa yang lampau.
Pertunjukan Barongsai biasanya dilakukan pada akhir penutupan tahun baru Imlek, yaitu tanggal 15 bulan I (Jia Gwee Cap Go), menurut penanggalan Tionghoa yang dikenal dengan sebutan malam Cap Go Me.

Karnafal Cap Go Me kali ini ditampilkan berbagai pertunjukan kesenian dan salah satunya kesenian Barongsai dan Liong. Selain pertunjukan kesenian Barongsai dan Liong, juga karnafal pasukan bendera kebesaran sin beng serta arak-arakan kim sin (patung dewa) dan juga disemarakan dengan pesta kembang api untuk menambah meriah suasana Cap Go Me.

Karnaval Cap Go Me dalam perayaan ini, mengarak sejumlah patung dewa dewi diantaranya Kim Sin “Hok Hie Te Sien, Go Hu Tua Lang Kong” dari klenteng Makin Sai Che Tien, terus Kim Sin “Che Liong Kong” dari Makin Leng Chun Keng, Kim Sin “Tai Sang Lau Chin, Go Lui, Mau San Co Se” dari rumah ibadah Lam Tien Tong serta Kim Sin “Cheng Cui Co Se, Kwan Seng Tai Te, Hien Tien Siong Te” dari Klenteng Hok Kheng Tong.

Penampilkan pawai barongsay dan liong dari sejumlah klenteng, arak-arakan tandu dewa dan atraksi siksa diri dengan berbagai senjata tajam di malam Cap Go Me yang diselenggarakan pada hari ke-15 perayaan imlek itu akan mengitari kawasan Koni di Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, menuju ke Klenteng Ceng Hong Lau di Kelurahan Budiman, Kecamatan Jambi Timur, yang jaraknya sekitar lima kilo.

Atraksi Barongsai di tengah suasana Cap Go Meh sangat meriah dibandingkan saat suasana lain. Atraksi Barongsai berikut Liong mengeliling desa biasanya diiringi dengan keahlian para pemain. Di hampir setiap pintu rumah, Barongsai datang memberi hormat dan tuan rumah menyambutnya. umumnya tuan rumah sering memberi ang pau (amplop merah berisi uang).

Acara Cap Go Me, juga di hadiri wakil Gubernur Jambi, Danrem 042/ Gapu, Kapolda Jambi, Walikota Jambi beserta undangan lainnya, namun sangat disayangkan bahwa salah satu pejabat kompeten di Jambi yakni Kanwil Departemen Agama Provinsi Jambi yang tidak diundang oleh panitia pelaksana.

Kamis, Februari 17, 2011

Sembahyang Goan Siao Cui

JAMBI – Banyak kalangan yang hanya mengetahui Malam Perayaan Cap Go Me, namun tidak tahu apa makna yang tergandung didalam perayaan Cap Go Me tersebut, istilah Cap Go Me nampaknya lebih akrab dan melekat sebagai sebutan di kalangan masyarakat Tionghoa di Indonesia.
Sedangkan asal dari China lebih dikenal dengan nama sebutan Goan Siao atau Goan Me artinya bulan purnama pertama pada tanggal 15 Imlek, Cap Go yang artinya 15 dan Me adalah malam.

Hari raya Cap Go Me merupakan rangkaian upacara sembahyang terakhir di tahun baru Imlek, pada hari itu keluarga yang merayakan imlek kembali menggelar sesaji di altar abu leluhur, maupun di klenteng. Sesaji untuk acara Cap Go Me lebih sederhana bila dibandingkan diwaktu tahun baru Imlek maupun Ceng Beng dan Cioko.

Di Klenteng Hok Kheng Tong Jambi, siang tadi (17/2), adakah sembahyang bersama menyambut datangnya Cap Go Me yang dipimpin oleh Lim Tek Chong Tau She dari Tiongkok.

Acara sembahyang Cap Go Me dilakukan saat siang, sore atau malam hari disetiap klenteng-klenteng, Cap Go Me di negeri Tirai Bambu, paling meriah saat menjelang malam tiba, lampion (lentera) kertas aneka bentuk dan warna yang didominasi warna merah dengan diterangi dian penuh sentuhan artistik makin berbinar dengan sinar keperakan sang rembulan bulat yang menyembul saat itu, sehingga memberi nuansa akan satu selebrasi yang hadir setahun sekali.

Bagaimana perayaan Cap Go Me di Jambi? pesta goan siao di Jambi selain pawai Lampion atau Tanglung, atraksi barongsai, liong dan arak-arakan Kim Sin Sin beng (patung dewa) keliling kampung-kampung, namun sebelum acara tersebut dilaksanakan, segari sebelumnya diadakan sembahyang Goan Siao (rom-yul)

Serba Serbi Cap Go Me

Cap Go Me adalah "perayaan malam hari di bulan pertama" - Yuan Xiao Jie, tetapi di Indonesia lebih dikenal dgn nama Capgome (Capgo = 15) sebab ini dirayakan pada tanggal 15 bulan pertama dari kalender Imlek. Semasa dinasti Han, pada malam capgome tersebut, raja sendiri khusus keluar istana untuk turut merayakan bersama dgn rakyatnya. Capgome mulai dirayakan di Indonesia sejak pertengahan abad ke 17, ketika terjadi migrasi besar dari China Selatan.
Di barat Capgome dinilai sebagai pesta karnevalnya etnis Tionghoa, karena adanya pawai yang pada umumnya dimulai dari Klenteng. Nama Klenteng sekarang ini sudah dirubah orang menjadi Vihara yang sebenarnya merupakan sebutan bagi rumah ibadah agama Buddha.

Hal ini terjadi sejak pemerintah tidak mengakui keberadaannya agama Konghucu sebagai agama. Sedangkan sebutan nama Klenteng itu sendiri, bukannya berasal dari bahasa China, melainkan berasal dari bahasa Jawa, yang diambil dari perkataan "kelintingan" - lonceng kecil, karena bunyi-bunyiaan inilah yang sering keluar dari Klenteng, sehingga mereka menamakannya Klenteng. Orang Tionghoa sendiri menamakan Klenteng itu, sebagai Bio baca Miao

Capgome juga dikenal sebagai acara pawai menggotong joli Toapekong untuk diarak keluar dari Klenteng. Toapekong (Hakka=Taipakkung, Mandarin=Dabogong) berarti secara harfiah eyang buyut untuk makna kiasan bagi Dewa yang pada umumnya merupakan seorang kakek yg udah tua.

Capgome tanpa adanya barongsai dan liong (naga) rasanya tidaklah komplit. Tarian barongsay atau tarian singa yg juga dikenal dengan nama Shiwu. Sedangkan nama "barongsai" adalah gabungan dari kata Barong dlm bahasa Jawa dan Sai = Singa dalam bahasa dialek Hokkian. Singa menurut orang Tionghoa ini melambangkan kebahagiaan dan kegembiraan.

Ada dua macam jenis macam tarian barongsay yg satu lebih dikenal sebagai Singa Utara yang penampilannya lebih natural sebab tanpa tanduk, sedangkan Singa Selatan memiliki tanduk dan sisik jadi mirip dengan binatang Qilin.

Seperti layaknya binatang-binatang lainnya juga, maka barongsai juga harus diberi makan berupa Angpau yg ditempeli dengan sayuran selada air yang lazim disebut "Lay See". Untuk melakukan tarian makan laysee ini para pemain harus mampuan melakukan loncatan tinggi, sehingga ketika dahulu para pemain barongsai, hanya dimainkan oleh orang2 yg memiliki kemampuan silat - "Hokkian = kun tao" yang berasal dari bahasa Mandarin Quan Dao (Quan = tinju, Dao = jalan), tetapi sekarang lebih dikenal dgn kata Wu Shu, padahal artinya Wu Shu sendiri itu adalah seni menghentikan kekerasan.

Didepan barongsai selalu terdapat seorang penari lainnya yg menggunakan topeng sambil membawa kipas. Tokoh ini disebut "Sang badut" yg tugasnya sebagai pemandu untuk menggiring Barongsai ketempat yg ada angpauwnya.

Dahulu tarian barongsai adalah upacara ritual keagamaan untuk penolak bala, tetapi sekarang ada aliran modern yang tidak mengkaitkan dgn upacara keagamaan sama sekali, mereka menilai barongsai hanya sekedar asesories untuk nari atau media entertainment saja, seperti juga halnya dengan payung untuk tari payung, atau topeng dalam tarian topeng.

Barongsai sebenarnya sudah populer sejak zaman periode tiga kerajaan (Wu, Wei & Shu Han) tahun 220 - 280 Masehi. Pada saat itu ketika raja Song Wen sedang kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah Raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Panglimanya yg bernama Zhing Que mempunyai ide yang jenius dengan membuat boneka-bonek singa tiruan untuk mengusir pasukan raja Fan. Ternyata usahanya itu berhasil sehingga sejak saat ini mulailah melegenda tarian barongsai tersebut hingga kini.

Tarian naga (liong) disebut "Lungwu" dalam bahasa Mandarin. Binatang mitologi ini selalu digambarkan memiliki kepala singa, bertaring serigala dan bertanduk menjangan.

Naga di China dianggap sebagai dewa pelindung, yg bisa memberikan rejeki, kekuatan, kesuburan dan juga air. Air di China merupakan lambang rejeki, karena kebanyakan dari mereka hidup dari bercocok tanam, maka dari itu mereka sangat menggantungkan hidupnya dari air. Semua kaisar di Cina menggunakan lambang naga, maka dari itu mereka duduk di singgasana naga, tempat tidur naga, dan memakai pakaian kemahkotaan naga. Orang China akan merasa bahagia apabila mendapatkan seorang putera yang lahir di tahun naga.

Kita bisa melihat apakah ini naga lambang dari seorang kaisar ataukah bukan dari jumlah jari di cakarnya. Hanya kaisar yg boleh menggunakan gambar naga dengan lima jari di cakarnya, sedangkan untuk para pejabat lainnya hanya 4 jari. Bagi rakyat biasa yang menggunakan lambang naga cakarnya hanya boleh memiliki 3 jari saja. Naga itu memiliki tiga macam warna, hijau, biru dan merah, dari warna naga tersebut kita bisa melihat kesaktiannya, merah adalah yang paling sakti.

Pada umumnya untuk tarian naga ini dibuatkan naga yg panjangnya sekitar 35 m dan dibagi dalam 9 bagian, tetapi untuk menyambut tahun baru millennium di China pernah dibuat naga yang panjangnya 3.500 meter dan dimainkannya di atas Tembok Besar China.

Terutama di Jakarta dan sekitarnya rasanya kurang komplit apabila arak-arakan Capgome ini tanpa di iringi oleh para pemain musik "Tanjidor" yg menggunakan instrument musik trompet, tambur dan bajidor (Bedug). Orkes ini sudah dikenal sejak abad ke 18. Konon Valckenier gubenur Belanda pada saat itu sudah memiliki rombongan orkes tanjidor yg terdiri dari 15 orang pemain musik. Tanjidor biasanya hanya dimainkan oleh para budak2, oleh sebab itulah musik Tanjidor ini juga sering disebut sebagai "Sklaven Orkest"

Sumber: Budaya Tionghoa http://www.confucian.me/profiles/blogs/serba-serbi-cap-go-meh

Gaji Kurang, 2 Polisi Bali Rampok 3 SPBU

DENPASAR, KOMPAS.com - Dua anggota Brigade Mobil yang pernah merampok tiga SPBU di Bali berdalih gajinya kurang. Menyandang pangkat brigadir polisi satu, mereka diketahui bergaji Rp 3,5 juta per bulan, namun merasa tak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup.
"Semuanya faktor ekonomi. Salah satu dari mereka orangnya bersahaja, dia memang menjadi tulang punggung keluarga hingga menghidupi keponakannya, sehingga gajinya tidak cukup,” ujar Kapolresta Denpasar, Kombes Pol Suryanbodo Asmoro, saat keterangan pers di Mapolda Bali, Rabu (16/02/2011) siang.

Sutia Aji (31) dan Eno Suyatno alias Enok (31) ditangkap jajaran Reskrim Polresta Denpasar, Minggu (13/02/2011). Kedua oknum yang berdinas di Brimob Polda Bali ini ditangkap setelah pengembangan dari komplotan mereka yang ditangkap sebelumnya.

Selain dijerat Pasal 365 KUHP dengan ancaman hukuman sembilan tahun, keduanya juga harus menjalani sidang disiplin dan kode etik Polri dengan ancaman pemecatan.

“Kemungkinan besar dipecat,” tegas Suryanbodo. Kini keduanya masih menjalani pemeriksaan intensif tim penyidik Reskrim Polresta, Denpasar sambil menunggu proses hukum selanjutnya.

http://regional.kompas.com/read/2011/02/16/23210671/

Kalangan UKM Jambi Khawatirkan Konversi

JAMBI, Kompas.com - Hingga dimulainya konversi minyak tanah ke gas, Jumat (4/2/11), belum ada kepastian mengenai keberlanjutan pasokan minyak tanah bagi kalangan usaha kecil dan menengah di Jambi. Padahal, Pertamina sudah akan menghentikan suplai minyak tanah paling lambat awal Maret mendatang.
Perajin kayu ukir di Desa Pulau Betung, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari, Jambi, Sulaiman merasa khawatir akan rencana konversi minyak tanah ke gas. "Kalau sudah konversi, apakah minyak tanah bakal hilang dari peredaran. Apa solusi bagi kami yang selama ini memanfaatkan minyak tanah untuk kegiatan produksi," tanyanya.

Kekhawatiran Sulaiman sangat beralasan. Selama ini ia memanfaatkan minimal 40 liter minyak tanah untuk proses produksi kayu ukir di bengkelnya. Bahan bakar ini dibutuhkan untuk memanaskan permukaan kayu sebelum dilakukan pengamplasan. Dalam keadaan panas, permukaan kayu menjadi lebih mudah halus.

"Kalau distribusi minyak tanah dihentikan, kami tidak tahu lagi harus bagaimana. Pemanasan kayu tidak mungkin menggunakan gas, karena belum ada ada alatnya," ujar Sulaiman.

Perajin batik di Kelurahan Olak Kemang, Danau Teluk, Kota Jambi, Edy Sunarto mengatakan, ada dua pilihan bagi perajin jika minyak tanah tak lagi beredar: kembali menggunakan arang atau memanfaatkan canting elektrik. Bagi perajin batik, penggunaan kedua alat ini kurang efektif. Butuh waktu lebih lama untuk menyalakan arang.

Sedangkan pada penggunaan canting elektrik, perajin harus menggunakan lilin yang berukuran kecil. Penggunaan canting elektrik saat ini belum umum digunakan perajin batik di Jambi.

Dalam kegiatan distribusi perdana paket subsidi gas elpiji di Desa Sungai Tenam, Kecamatan Muara Bulian, Jambi, Jumat (4/2), Manajer Elpiji dan Produk Gas PT Pertamina Region II Sumbagsel, Chairul Adin mengatakan, distribusi paket akan selesai pada akhir Februari. Tahap awal, sebanyak 478.000 keluarga di Jambi yang akan memperoleh bantuan paket tabung dan gas. Pihaknya juga masih akan menyalurkan tambahan paket bagi warga yang baru terdata belakangan.

Menurut Chairul, bersamaan dengan selesainya penyaluran paket elpiji, pasokan minyak tanah bersubsidi akan dihentikan. Seluruh agen minyak tanah di Jambi secara otomatis menjadi agen penyalur elpiji. Pada Maret nanti, seluruh agen tidak lagi menyalurkan minyak tanah subsidi, tetapi gas, ujar Chairul, di sela pendistribusian perdana.

Pihaknya berupaya untuk tetap memenuhi kebutuhan bagi kalangan usaha kecil dan menengah (UKM) yang memanfaatkan minyak tanah untuk kegiatan produksinya, namun dengan volume terbatas dan dengan harga ekonomi sekitar Rp 8.000 per liter.

Hanya saja, mengenai volume minyak tanah yang akan dipasok, pihaknya menunggu masuknya surat pengajuan dari pemerintah daerah masing-masing. Sejauh ini belum ada permintaan dari pemda mengenai jumlah minyak tanah yang dibutuhkan kalangan UKM, tuturnya.

Kebutuhan akan minyak tanah sebagai bahan bakar dianggap vital bagi kalangan usaha kecil dan menengah di Jambi. Di wilayah Kota Jambi saja, ada sekitar 300 UKM yang masih bergantung pada minyak tanah untuk kegiatan produksinya. UKM batik misalnya membutuhkan minyak tanah untuk proses pelilinan pada kain. Sedangkan pelaku usaha ketek (perahu mesin) membutuhkan minyak tanah dicampur solar sebagai bahan bakar sehari-hari. Sejauh ini, para pelaku usaha belum memperoleh alternatif pemanfaatan bahan bakar atas dilaksanakannya konversi minyak tanah ke gas.

http://regional.kompas.com/read/2011/02/15/16392590/

Rabu, Februari 16, 2011

3 Klenteng Adakan Karvanal Dewa, Menyambut Malam Cap Go Me


JAMBI – Menjelang Malam Cap Go Me (Jia Gwee Cap Go) yang jatuh pada hari Kamis, 17 Februari 2011 mendatang.
Tiga klenteng di Kota Jambi akan adakan parade para Sin Beng (baa kim sin/ patung dewa red), untuk memeriahkan acara malam Cap Go Me, MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) Leng Chun Keng, MAKIN Sai Che Tien telah mempersiapkan diri, seperti mempersiapkan umbul-umbul, lampion, tandu sin beng (kio).

Menurut penuturan Ketua MAKIN Sai Che Tien, Darmadi Tekun, untuk acara malam perayaan Cap Go Me seperti biasa gabungan dari tiga klenteng, yaitu MAKIN Sai Che Tien, MAKIN Leng Chun Keng dan Klenteng Hok Kheng Tong. masing-masing klenteng menurunkan sin beng utamanya. MAKIN Sai Che Tien akan turunkan Hok Hie Tee Sien (Sin Kong) dan dua sin beng pendamping, “Kita turunkan Kin Sin Hok Hie Tee Sien dan dua kin sin pendaping,” katanya.

Tambah Darmadi Tekun, selain itu juga kita sedang pasang penerangan dibeberapa sudut klenteng maupun jalan-jalan. Demikian juga disampaikan oleh pengurus MAKIN Leng Chun Keng, Lim Yong Siang.

Rencana kalvanal diawali dari MAKIN Leng Chun Keng, setelah tandu kin sim dirasuki roh sin beng kira-kira pukul 17.30 WIB, maka rombongan akan meluncur ke MAKIN Sai Che Tien, selanjutnya dua MAKIN menuju ke Klenteng Hok Keng Tong, lalu kanaval keliling dimulai dari Hok Kheng Tong.

Arak-arak Cap Go Me belangung di sepanjang Jalan Pangeran Diponegoro, Kelurahan Talangjauh, Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, menuju ke Klenteng Ceng Hong Lau di Kelurahan Budiman, Kecamatan Jambi Timur, yang jaraknya sekitar lima kilo.

Atraksi karnaval Cap Go Me tahun ini, mengarak sejumlah kin sin, diantaranya kim sin dari klenteng Makin Sai Che Tien, terus kim sin dari Makin Leng Chun Keng, kim sin dari rumah ibadah Lam Tien Tong serta kim sin dari Klenteng Khonghucu Hok Kheng Tong.

Selasa, Februari 15, 2011

Tingkatkan Layanan kepada Warga Tionghoa

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan agar Kementerian Agama dan pemerintah daerah meningkatkan pelayanan kepada warga Tionghoa di Indonesia. Kepada Menteri Agama Suryadharma Alie dan para gubernur, Presiden meminta agar mereka menuntaskan permasalah yang tersisa terkait perlindungan dan pelayanan kepada umat Khonghucu dalam tahun ini dan tahun mendatang.
"Sejumlah masalah teknis dan administrasi di beberapa daerah, saya minta dapat benar-benar dituntaskan," kata Presiden dalam sambutan pada Perayaan Tahun Baru Imlek Nasional 2562 yang digelar Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) di Balai Samudra, Jakarta, Senin (14/2/2011).

Pada kesempatan tersebut, Presiden kembali menegaskan agar rakyat Indonesia selalu menjauhkan tindak kekerasan dalam menyelesaikan perselisihan antarkomunitas dan antarumat beragama. Presiden meminta rakyat Indonesia selalu menjaga toleransi dan kerukunan.

"Kalau ada masalah akidah agama, mari kita carikan solusi yang tepat dengan mendengarkan pandangan dari para pemuka agama. Mari kita cegah dan jauhi tindakan kekerasan dalam mengatasi permasalahan itu. Sebab kalau kita mudah terjebak dalam praktik tindak kekerasan dan main hakim sendiri, maka sesungguhnya kita merusak nilai, norma dan kaidah negara hukum yang menjunjung tinggi multikulturalisme," tutur Presiden.

Pada perayaan tersebut, Presiden didampingi Wakil Presiden Boediono, Menteri Agama Suryadharma Alie, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, Menteri Pendidikan M Nuh, Menteri Peranan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Agum Gumelar, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, dan Kepala Polri Jenderal Timur Pradopo.

http://nasional.kompas.com/read/2011/02/14/21104788/